
Berjalan di dampingi kedua pelayan Yuki kembali ke kebun di depan bangunan dapur, rumah para pelayan, dan pelindung yang menikah dengan pelayan, sedangkan pelindung yang belum menikah atau menikah dengan sesama pelindung ada di bangunan lain.
Yuki mengamati setiap tumbuhan, beruntungnya ia bisa melihat para pelayan sedang merawat tumbuhan-tumbuhan itu.
Yuki di beri beberapa buah yang baru di petik untuk langsung di cicipi, dan itu sangat segar. Yuki meminta di antar semakin dalam ke belakang. Ia kembali terkejut ada rumah ayam berukuran sedang, Yuki singgah ke dalamnya. Menariknya di sana, sangat bersih dan tidak terlalu bau, hanya berisik karena kokokkan ayam. Leluhurnya benar-benar membuat peternakan sendiri.
Yuki melihat kandang lebih besar di sampingnya, Yuki mencoba masuk dan di sambut hewan berkaki empat berwarna putih bercorak hitam. Mereka mengeluarkan suara khas dari mulut besarnya.
"Mooooo."
Yuki terkejut, ini pertama kalinya ia melihat sapi berjejer rapi.
"Ojou sama, anda mau masuk?." Yuki melirik pelayannya.
"Ya." Jawab Yuki mantap, rasa ingin tahunya tidak bisa di tahan lagi.
"Anda harus memakai baju pelindung lebih dulu agar baju anda tidak kotor." Pelayan satunya menunjukan baju berwarna army dan sepatu boots selutut.
Yuki kembali lagi setelah melapisi bajunya dengan baju khusus. Kepala peternakan menyambut Yuki setelah mendengar nona muda mereka datang berkunjung.
Yuki mendengarkan penjelasan tentang sapi perah dan sapi potong dengan kushu, gadis itu juga penasaran dengan cara perawatan sapi-sapi itu dan ayam di kandang sebelah. Para petugas peternakan merasa tersentuh melihat nona muda mereka sangat tertarik dengan pekerjaan mereka.
"Ada domba juga di belakang kandang sapi." Yuki mengikuti dari belakang.
Tidak sengaja dari kejauhan Yuki melihat hewan bulat berwarna pink, dirinya langsung bergidik ngeri.
"Apa makanan empat hari ini salah satunya ada hewan itu?." Yuki menunjuk hewan bulat berkaki pendek.
"Tidak ojou sama. Karena anda tidak menyukainya koki tidak pernah memasak daging babi untuk meja keluarga utama." Jelas pelayan di belakang Yuki. Gadis itu bernafas lega.
"Jangan pernah sajikan daging hewan itu di meja makan." Yuki menekankan kalimatnya.
"Baik ojou sama."
Yuki melirik sebentar domba-domba yang berada di halaman kecil samping kandang. Yuki kembali tertarik, ia mendengarkan penjelasan kepala peternakan.
"Apa anda ingin berkuda ojou sama?." Yuki melirik pria paruh baya itu.
"Aku akan mencobanya." Jawab Yuki.
"Anda belum pernah berkuda?." Yuki hanya menjawab dengan senyum kecil.
"Saya akan membawa anda kepada penanggung jawabnya."
Yuki berjalan semakin dalam ke belakang. Yang ia kira hanya ada tujuh bangunan ternyata salah. Atap-atap pertenakan dan lainnya tidak terlihat dari kejauhan. Telinganya mendengar suara ringikan kuda, kandang sebesar kandang sapi itu sudah semakin dekat.
"Iwao!." Kepala peternakan memanggil pria lainnya yang sedang memandikan kuda.
"Aa ..!, Nobuo." Sapa balik pria yang Yuki yakini sebagai penanggung jawab kuda-kuda di sana.
"Ojou sama!." Mereka hendak berlutut namun Yuki mencegah dengan gerakkan tangannya.
"Iwao, ojou sama hendak berkuda untuk pertama kalinya. Bisa kau mempersiapkannya?." Jelas Nobuo.
"Benarkah?. Saya sangat senang mendengarnya. Mari ojou sama."
Yuki mengikuti pria kekar bernama Iwao itu.
"Kuda-kuda baru saja di lepaskan untuk berjemur. Yang tadi adalah kuda remaja, dia baru saja berguling di lumpur dekat kandang babi. Kuda itu suka sekali kabur." Tiba-tiba Iwao bercerita tanpa di tanya. Meski begitu Yuki tetap mendengarkan.
"Kita sampai ojou sama."
Yuki di hadapkan dengan padang luas rumput hijau yang menyejukan. Ada dua pagar luas berbentuk persegi saling berhadapan. Satu berisi para kuda yang di biarkan bebas, satunya lagi berisi arena latihan kuda berisi rintangan-rintangan yang di tata sedemikian rupa dari yang termudah hingga tersulit.
Yuki benar-benar merasa kampungan, hari ini ia baru melihat sapi hidup, domba hidup, babi hidup, dan kuda hidup, kalau ayam di jakarta ia sempat melihatnya. Ke empat hewan itu tidak ada di kebun binatang tempatnya pernah berkunjung.
"Ojou sama sebaiknya anda mengganti pakaian anda." Ucap Iwao. Pelayan Yuki entah sejak kapan sudah memegang pakaian baru di tangannya.
Yuki berjalan memasuki ruang istirahat para keeper (penjaga) mengganti bajunya di sana.
Kaos hitam pendek berkerah, celana putih panjang melekat pas di tubuh Yuki. Sepatu boots heels tiga senti khusus berkuda melengkapi penampilannya.
Seekor kuda berwarna hitam sudah di siapkan oleh Iwao, lengkap dengan tali kekang, dll. Pelayan memberikan helm kepada Yuki.
"Anda sudah siap?." Tanya Iwao.
"Boleh aku melihat caramu menaikinya?." Pinta Yuki.
"Tentu saja ojou sama."
Iwao langsung memegang tali kekang, kakinya masuk ke dalam sanggurdi/stirrup berbentuk pijakan kaki. Mengangkat tubuhnya hingga duduk di atas pelana.
"Aku ingin melihatmu membawanya berjalan." Iwao menganggukkan kepalanya memacu kuda dengan pelan.
Mata elang Yuki terus mengamati. Keeper kuda yang lain tiba-tiba menghampiri Yuki membungkuk singkat lalu mulai menjelaskan bagaimana cara membuat kuda berjalan lambat hingga memacu kuda dengan cepat, cara mengerem, berbelok, dll.
Iwao kembali tidak lama setelah itu. Turun dari kuda menuntunnya mendekati Yuki.
"Ojou sama silahkan." Yuki menghampiri kuda itu, berhenti tepat di depan kuda.
Maniknya mengamati hewan perkasa itu dari dekat. Bulu matanya sangat lebat, surai hitamnya mengayun pelan tertepa angin. Yuki mencoba menyentuh dahi kuda. Rasanya agak aneh. Seperti inikah kulit kuda?, batin Yuki.
Kuda perlahan melangkah mundur menekuk satu kaki depannya seperti orang memberi hormat. Yuki dan yang lain terkesiap, gadis itu meletakan tangan kanannya di dada sebelah kiri tangannya yang lain bergerak seakan mengangkat rok, menekuk kaki kirinya ke belakang membalas hormat. Saat Yuki berdiri tegap barulah kuda itu ikut berdiri.
Menarik!, jerit Yuki dalam hati.
"Dia adalah salah satu kuda keturunan leluhurnya. Kuda milik kepala pelindung terkuat yang pernah ada. Kami memberikan pelatihan seperti penghormatan tadi. Dia akan melakukannya kepada orang tertentu." Jelas Iwao.
"Hmmm, apa hanya tersisa satu?." Tanya Yuki.
"Tidak, ada empat termasuk kuda remaja yang tadi sedang di mandikan."
"Dia pejantan." Ujar Yuki melihat dari sorot mata kuda itu.
"Benar ojou sama, yang tiga betina dan yang remaja pejantan seperti ayahnya." Yuki menarik sudut bibirnya.
"Bagaimana dengan keturunan kuda milik kaisar terdahulu?." Yuki mengalihkan perhatiannya dari kuda hitam itu karena tidak kunjung mendapat jawaban.
"I itu ..," Iwao tertawa canggung.
"Hm?." Yuki menaikan satu alis.
"Mereka berada di dalam pagar. Kuda-kuda yang memisahkan diri dari kuda yang lain." Yuki menoleh mencari yang Iwao maksud.
Putih, hitam, coklat terang, dan perpaduan ke tiganya. Tubuh mereka terlihat lebih besar dan lebih tinggi dari yang lain.
Cantik, batin Yuki.
"Apa mereka memiliki masalah sehingga membuatmu cukup ragu?." Iwao menggaruk belakang kepalanya.
"Mereka sangat sulit di jinakan. Benci di perintah, dan mempunyai harga diri yang sangat tinggi." Yuki tertawa dalam hati mendengar jawaban Iwao.
"Aku akan naik sekarang." Ucap Yuki berdiri di samping kuda melakukan hal yang sama dengan Iwao, mengcopy pastenya.
Untuk seorang pemula naik tanpa di bantu sangat mengesankan. Yuki menghentakkan kakinya pelan, meminta kuda itu untuk berjalan. Iwao di bawah berjalan menuntun kuda dengan memegang tali kekangnya.
Yuki berputar sebentar lalu meminta Iwao untuk menghampiri empat kuda angkuh itu. Yuki turun dari kuda, menghampiri mereka dari pinggir pagar.
"Kemarilah." Ucap Yuki seraya membuka telapak tangan mengulurkannya ke depan.
Kuda berwarna putih bersih dengan warna rambut brown yang hampir mirip dengannya menatap Yuki dari samping.
"Tidak ada penolakan. Satu," Yuki tiba-tiba menghitung. Ke empat kuda itu meringkik keras tapi kaki mereka mendekat ke arah Yuki.
"Dua." Kuda berwarna putih berjalan menyundul tangan gadis itu.
"Gadis pintar ..." Ucap Yuki mengusap dahi seputih salju.
Iwao dan yang lain tidak terkejut jika Yuki bisa memerintah kuda itu dengan mudah. Karena memanglah kuda itu menunggu sang keturunan langsung menunggangi mereka, jika bukan pun pastilah penunggang itu sangat tangguh.
"Apa dia memiliki nama?." Tanya Yuki tanpa melirik Iwao.
"Namanya, ehem!." Iwao berdeham menyembunyikan kegugupannya.
"Yu .., he ehem!." Iwao kembali berdeham lebih keras.
"Ki." Lanjut Yuki mengusap-usap lembut rahang kuda bernama Yuki seperti namanya itu.
Yuki melepas helmnya memberikan helm itu kepada Iwao.
"Butuh tiga hari untuk mengelilingi semua tempat ini dengan berjalan. Aku akan meminjamnya." Ujar Yuki langsung memanjat pagar tinggi itu.
"Ojou sama, sangat berbahaya. Pakai helm anda kembali. Kudanya belum di pasangkan peralatan," kuda itu memotong kalimat Iwao dengan pergerakannya.
Seakan kuda Yuki tahu gadis itu akan melakukan apa, kuda Yuki bergerak merapat ke arah pagar memudahkan Yuki untuk naik di atas punggungnya.
"Gadis pintar." Puji Yuki menepuk-nepuk bangga leher kuda Yuki.
"Biarkan aku merasakan kebebasanmu." Ucap Yuki mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tunggu, OJOU SAMA!." Yuki menoleh ke samping terkejut dengan teriakan keras Iwao.
Pria itu segera melepas kekang kuda di sampingnya, lalu mencoba memasangnya pada kuda Yuki.
Kuda putih itu berdengus dan meringkuk tidak suka.
"Yuki diamlah sebentar." Kuda itu langsung patuh.
"Terima kasih ojou sama." Ucap Iwao. Tangannya bergerak gesit, tidak sampai dua puluh detik kekang kuda beserta talinya sudah terpasang dengan baik.
"Terima kasih." Ucap Yuki di tujukan kepada Iwao lalu memacu kudanya.
Yuki merasa sedikit aneh saat duduk tanpa menggunakan pelana tapi ia segera menyamankan dirinya. Kuda putih itu sepertinya sadar penunggangnya sudah mulai rileks diatas tubuhnya.
Untunglah Iwao segera membuka pintu pagar, telat sebentar saja kuda putih itu akan melompatinya.
Seperti permintaan gadis itu, kuda Yuki memacu cepat kakinya membawa Yuki terbang menantang angin. Gurat senyum terukir di wajahnya, manik biru berkilau berbinar cerah, pemandangan dari punggung kuda yang sedang berpacu cepat sangat mendebarkan, darah Yuki terasa panas merasakan sengatan adrenalin yang menantang.
Tubuh Yuki terangkat ke udara kala kudanya terbang melompati segerombol tumbuhan tulip di depan mereka.
Hup.
Lompatan cantik, batin Yuki.
Ia terlena dengan euforia bersama kuda putih sampai tak sadar kelakuannya membuat geger para pelayan dan pelindung yang lewat. Dari arah belakang beberapa kuda sedang mengejarnya.
Bagaimana Yuki tidak terlena, ia merasakan tubuhnya menjadi ringan, pikirannya seperti sedang diobati dengan pemandangan dari atas punggung kuda super cepat itu, ia merasa tenang.
Kepenatannya setelah bangun dari tidur panjang terobati seketika, merilekskan otot leher dan punggungnya setelah sibuk mencari informasi jaringan klan naga putih yang sudah empat hari empat malam ini ia selidiki diam-diam, belum juga menemukan hasil.
Rambut mocha light brown mereka berkibar, berkilau di terpa sinar matahari, kulit mereka seputih salju, manik keduanya menyorot akan kebebasan. Tiga pohon sakura yang berjejer melambai di atas kepala mereka. Para pelayan, pelindung, dan anggota keluarga terhormat yang baru saja datang hendak berlatih di dojo pun terdiam melihat pemandangan itu. Sangat cantik, apa lagi senyum dan wajah berserinya.
Yuki menarik tali kekang perlahan seraya memajukan tubuhnya untuk menepuk pelan leher kuda. Derap kakinya melambat hingga mereka berhenti di lahan kering tanpa tumbuhan. Yuki bingung, maniknya langsung menyapu seluruh tempat itu.
Benteng tinggi, bantalan pusat panah tertempel di dinding benteng dan di beberapa tempat. Segala jenis peralatan untuk bertarung berada di tengah agak ke samping. Tempat itu seperti arena, manik birunya menangkap sisi arena yang di khususkan untuk bertarung diatas kuda dengan jebakan-jebakan dan tipuan.
Punggungnya merasakan ada yang mengamati gerak-geriknya dari atas. Yuki menarik sebelah tali kekang membuat kudanya bergerak setengah memutar. Ia mendongak melihat lantai dua terbuka tanpa dinding dengan kursi-kursi berjejer dan meja kecil yang kosong. Yuki yakin tadi ada lima pasang mata sedang menatap ke arahnya.
Lagi, sesuatu menggelitik kepalanya memperlihatkan sebuah gambaran samar, Yuki mencoba melihatnya dengan jelas namun gambaran itu bergerak menjauh, Yuki mencobanya lebih keras namun gambaran itu malah bersembunyi. Yuki mengabaikannya, perasaan menggelitik itu malah kembali dan memperlihatkan gambaran sedikit lebih jelas meledek Yuki untuk mengintipnya.
Gila!, seru Yuki dalam hati.
Ia membuang muka ke samping dan tidak sengaja melihat wajah Will.
Drap. Drap. Drap. Drap. Drap.
Suara derap kaki kuda mendekatinya. Yuki menoleh. Iwao dan dua orang keeper lainnya menyusul Yuki dengan kuda masing-masing.
"Ojou sama, anda tidak apa-apa?. Syukurlah. Sangat berbahaya untuk pemula berkuda tidak menggunakan pelana." Wajah Iwao tertekuk, pria itu melompat turun mendekati Yuki.
"Maaf saya bicara terlalu banyak. Anda mau turun?." Tanya Iwao. Yuki mengedarkan pandangannya lagi sebentar.
"Tempat apa ini?." Tanya Yuki.
"Anda lupa ojou sama?. Ini adalah barak latihan terbuka para pelindung, anda dan para tetua sering melihat latihan waka (tian muda) dari lantai dua." Jelas Iwao.
Yuki paham.
"Maaf, ingatan masa kecilku samar-samar karena sudah terlalu lama." Dalih Yuki. Daren sudah memberitahunya bahwa kejadian ia yang mendapat hukuman harus di rahasiakan karena akan berdampak buruk nantinya jika pelindung yang lain tahu.
"Maafkan saya." Iwao membungkuk sebentar, Yuki menggeleng pelan.
"Apakah anda mau turun?." Tanya Iwao lagi.
"Aku ingin mencoba arena berkuda itu." Iwao menoleh ke belakang melihat apa yang di maksud Yuki.
"Tidak, anda tidak boleh." Ucap cepat Iwao. Yuki menaikan satu alisnya menatap pria itu.
"A aa. Maaf ojou sama. Maksud saya, arena itu." Suara Lusi menyelamatkan Iwao.
"Yuki ..!." Maniknya bergulir mendapati Lusi berdiri di depan Will.
"Ayo makan siang." Ajak neneknya. Yuki melirik ke bawah.
Gila, tinggi banget, batin Yuki.
Melihat jarak kakinya dan tanah sangatlah jauh. Yuki berpikir sejenak, mengukur posisi mendaratnya dengan gaya lompatan yang ia pilih. Sepasang lengan panjang dan kekar terulur di bawah Yuki agak ke samping.
Yuki melirik wajah Hotaru. Ia merindukan lengan itu memeluknya. Lengan Hotaru juga terlihat lebih panjang dari terakhir mereka bersama. Sabar, tahan, Yuki sudah bertekad dan ia harus kuat menahan keinginannya menerjang Hotaru dan melingkarkan lengannya erat-erat di leher saudara kembarnya.
"Aku akan menemui nenek di ruang makan." Ucap Yuki akhirnya. Ia membungkuk kecil memutar kudanya ke arah mereka datang.
Hap.
Yuki menjejak kakinya memacu kuda berlari cepat melewati para keeper. Kudanya meringik keras mewakili Yuki.
Yuki tidak langsung kembali ke tempat para kuda berada, ia memacu kudanya dengan kecepatan sedang mengunjungi bangunan-bangunan yang belum ia datangi. Menanyakan kepada pelayan yang lewat bangunan apa yang berada di hadapannya. Yuki mengingat dengan baik, kediaman utama juga memiliki perlindungan elektronik sendiri, Yuki tidak bisa membiarkan Je melayang ke atas dan mengambil gambar kediaman utama dari langit sana.
Setelah di rasa cukup Yuki mengembalikan kudanya ke padang rumput di belakang. Gadis itu bertumpu pada pagar saat menuruni punggung kudanya, ia terduduk sebentar di atas pagar untuk mengelus surai dan wajah kuda Yuki.
"Nama kita sama, hmmm?. Nama kita bertiga sama." Ralat Yuki mengingat kucing putihnya yang bermata biru di tokyo.
"Terima kasih sudah menunjukkannya padaku, tadi sangat menyenangkan." Lirih Yuki tangannya tidak berhenti mengusap lembut.
"Sampai jumpa lain waktu." Ucap Yuki memutar pinggangnya ke luar dan melompat turun.
"Silahkan di minum ojou sama." Dua pelayan Yuki memberikan segelas penuh es lemon dan handuk bersih.
"Terima kasih."
Dug. Dug. Dug.
Yuki hampir membasahi wajahnya dengan air es lemon dari gelas, ia menjauhkan bibir gelas dari mulutnya menoleh ke pelaku yang mendorong-dorong punggungnya.
Kuda Yuki meringik kecil, memajukan wajahnya mengendus wajah gadis itu.
"Kamu tidak ingin aku pergi?." Ucap Yuki mengusap kepala kuda. Kuda itu menjulurkan lidah menjilati wajah Yuki, gadis itu sedikit menghindar ke samping membiarkan pipinya yang di jilati.
"Hentikan, geli." Yuki memundurkan wajahnya namun kuda Yuki malah semakin menjulurkan leher panjangnya.
Cup.
Yuki mengecup kening kuda menepuk lehernya beberapa kali.
"Kapan-kapan kita berlari lagi." Kata Yuki, kuda itu meringik pelan menjawab gadis itu.
"Apa tidak ada alat transportasi agar bisa kembali dengan cepat?." Tanya Yuki kepada pelayannya.
"Tidak ojou sama."
Yuki cemberut. Jarak padang rumput dengan bangunan kamarnya sangat jauh. Yuki bukan kesal karena banyak berjalan ia kesal karena banyak waktu yang akan terbuang.
Kembali ke kamar, mandi lagi, mengganti bajunya dan berjalan ke ruang makan. Sepi, hanya ada neneknya.
"Kamu telat satu jam lebih." Yuki meminta maaf kepada Lusi.
"Setelah ini kamu ada pemilihan guru mengajar." Gadis itu melirik neneknya.
"Ada beberapa pelindung tingkat atas yang menawarkan diri untuk mengajarimu, kamu hanya perlu memilih dua dari mereka." Yuki mengangguk kecil.
"Yuki." Panggil Lusi.
"Hm?."
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan?." Tanya Lusi khawatir.
"Tidak nek." Gadis itu berbohong.
"Jangan ada yang di sembunyikan lagi di antara keluarga kita." Yuki menganggukkan kepalanya.
"Baik nek."
Lantai dua yang terbuka dan hanya dilindungi oleh atap, Yuki dan Lusi tengah duduk menonton pertarungan di bawah. Yuki mengalihkan perhatiannya, memilih sibuk mengamati tata kursi di lantai dua yang ia lihat beberapa jam lalu dari arena. Ia tertarik dengan ukiran pada tiang dan lantai batu. Bangunan itu masih menyisakan peninggalan-peninggalan jaman dahulu, mungkin memang belum di rubah.
"Kamu bosan?." Yuki kembali melirik ke bawah.
"Tidak ada yang menarik." Jawab Yuki. Dua pelindung tingkat atas yang sedang unjuk kebolehan itu tidak menarik perhatian Yuki.
Fumihiro yang berdiri di belakang kedua perempaun itu membuka mulutnya.
"Mereka baru beberapa bulan diangkat menjadi pelindung atas." Yuki tidak menanggapi.
"Siapa kepala pelindung?." Entah pertanyaan Yuki di tujukan untuk Lusi atau Fumihiro tapi Fumihiro lah yang menjawab.
"Saya ojou sama." Yuki tidak menanggapi lagi.
"Orang tua Hiro dulu adalah pelindung yang mendapat pengakuan dari kakek buyutmu. Lalu kakekmu mengakui kemampuan dan mempercayai Hiro, menugaskannya sejak kecil menjadi pelindungmu." Jelas Lusi, Yuki menganggukkan kepalanya pelan.
"Tersisa sedikit pelindung. Ara?, Hotaru juga bergabung." Lanjut Lusi. Yuki melirik ke bawah, tatapan keduanya bertemu.
"Hahaha, dia ikut pun tidak akan terpilih, pekerjaannya masih banyak." Celetuk Lusi.
Pekerjaan?, apa?, batin Yuki.
Hotaru sedang melawan Will. Anak itu dengan lincah menyerang Hotaru, Yuki melirik ponsel barunya mengabaikan yang di bawah sana.
Seharusnya aku berada di depan komputer sekarang, ucap Yuki dalam hati.
Trang!. Trang!. Sret!. Trang!.
Suara dentingan dua benda itu menarik perhatian Yuki. Laki-laki yang lengket dengan Hotaru memainkan pedangnya dengan santai. Mengalahkan empat lawan dalam sekejap.
"Apa mereka benar pelindung tingkat atas?." Yuki menatap empat pelindung yang dengan mudah di kalahkan.
"Benar ojou sama. Keahlian berpedang Fumio san sangat luar biasa." Jawab Fumihiro.
"Bagaimana denganmu?." Lusi melirik cucunya.
"Hiro, turunlah." Titah Lusi.
"Baik Lusi sama." Fumihiro berjalan mundur beberapa langkah lalu pergi menuruni tangga.
"Kamu tertarik?." Tanya Lusi.
"Hanya ingin memastikan nek."
Empat pelayan wanita menambahkan teh dan manisan di atas meja Lusi dan Yuki. Di bawah sana Fumihiro dan Fumio berdiri berhadapan.
"Ada apa?." Tanya Hotaru mengeraskan suaranya agar terdengar oleh kedua orang di tengah arena itu. Fumihiro membungkuk kepada Hotaru lalu menjawab pemuda itu.
"Ojou sama meminta saya melawan Fumio san." Hotaru melirik sahabtanya seraya mengangkat dagu seakan mengatakan.
'Jangan lengah atau adikku tidak akan melihatmu'. Fumio menatap Hotaru dalam, menjawab sahabatnya.
'Ini perangku, siapa yang mau mengalah padanya'. Hotaru menarik sudut bibirnya.
"Mulai." Ucap sang pewaris memerintahkan.
Fumihiro dan Fumio saling membungkuk, mereka bersiap dengan pedang kayu masing-masing. Ketenangan yang tercipta sangat menegangkan. Belum ada yang bergerak. Yuki melihatnya, gerakkan kecil dari kaki Fumio mengawali serangan pemuda itu.
Tontonan yang langka, bahkan para pelindung senior saling memberikan komentar.
"Pertarungan ini seharusnya tidak melibatkan kepala pelindung, tapi ojou sama malah meminta Fumihiro untuk melawan Fumio san, mungkinkah ojou sama sedang menguji calon tunangannya?."
"Bukankah seharusnya mereka melepas rasa rindu setelah terpisah puluhan tahun, tapi kenapa aku tidak pernah melihat mereka bersama?."
"Jangankan dengan Fumio san, kamu lihat sendiri ojou sama menghindari waka."
"Aneh. Apa ada sesuatu diantara mereka bertiga?. Jangan-jangan?."
"Hush!, tapi bisa juga terjadi."
"Ojou sama memiliki kekasih lain?."
"Ini tidak akan mudah. Lihat putra-putra keluarga terhormat di sana. Mereka sangat jelas mengincar ojou sama."
"Yaaah, kau lihat sendiri bukan. Pesona ojou sama sangat sulit untuk di hindari."
"Untung aku sudah punya anak istri."
"Kenapa kalau belum?."
"Aku akan sering memukul kepalaku agar tidak lupa posisi tempatku berada."
"Hahahaha, gadis kecil yang meramaikan kediaman utama kini terlihat seperti seorang ratu perang."
"Ung."
Manik setajam mata elang itu tidak melepaskan satu gerakkan pun dari keduanya. Yuki ingin bertanya kenapa mereka berdua mengganti senjata?, bukankah pertandingan tadi menggunakan pedang sungguhan kenapa sekarang menggunakan pedang kayu?, tapi Yuki mengenyahkan pikiran tidak penting itu.
Mau sekuat apa pun Fumio menyerang dan bertahan kemampuannya masih berada di bawah Fumihiro. Yuki bukan sedang menilai keduanya namun ia mengukur, membandingkan kemampuan kepala pelindung klan dengan pemimpin para bayangan. Bahkan untuk ukuran para pelindung tingkat atas masih lebih baik anggota para bayangan. Yuki mengibaskan satu tangan kepada wasit di bawah menyuruhnya menghentikan pertarungan.
"Anda harus memilih satu pelindung untuk mengajari bela diri, dan satu pelindung lagi untuk mengajari anda berpedang." Yamazaki berucap lirih, pria itu beberapa menit yang lalu sudah berdiri di belakang Yuki.
"Aku sudah memilih. Tapi bolehkah aku melihat pertarungan pelindung tingkat atas yang lebih senior?." Tanya Yuki.
"Tentu saja ojou sama. Saya akan mempersiapkannya." Jawab Yamazaki.
"Aku ikut." Lusi melirik cucunya.
"Pergilah, Takeru." Lusi menyisir rambut Yuki dengan lembut.
"Ya, Lusi sama." Jawab pria itu.
"Panggil Hotaru untuk menemaniku."
"Baik."
Yamazaki turun lebih dulu, Yuki dan kedua pelayannya menyusul dari belakang.
"Apa ada note kecil dan bolpoin?." Tanya Yuki.
"Saya akan segera mengambilnya ojou sama." Salah satu pelayan berjalan cepat ke arah yang berbeda.
"Apa kamu memiliki ikat rambut yang lain?." Yuki melirik pelayannya yang selalu mengikat setengah rambutnya.
"Tapi, ini sudah pernah saya pakai ojou sama, saya akan mengambilkan yang baru."
"Tidak apa, boleh aku minta?." Pelayan itu memberikan ikat rambut dari dalam saku bajunya dengan ragu-ragu.
"Ojou sama lebih baik saya," Yuki segera mengambil ikat rambut dari tangan pelayannya sebelum pelayan itu memasukkan kembali ke dalam saku.
"Terima kasih."
Yuki berbalik berjalan seraya mengikat rambutnya. Ia tidak ingin rambutnya mengganggu pengamatannya karena angin musim semi sering bertiup menerbangkan rambutnya.
Yuki sengaja memilih celana jeans dan hoody berwarna merah untuk aktifitas luarnya hari ini. Ia akan bekerja berkali-kali lipat, memahami dan mencari solusi untuk menghadapi klan naga putih. Yuki hendak melangkah masuk ke dalam arena ketika sebuah tangan menarik rambutnya dari belakang. Yuki menoleh dan sebuah jitakan pelan mendarat di atas poninya yang tipis.
Tak.
"Jangan mengikat rambutmu." Yuki menarik nafas pelan.
Tangannya kembali meraup semua rambutnya memasukkan rambut ke dalam tudung hoody, melirik Hotaru sekilas dan berlalu pergi.
"Sabar, sabar, sabar." Ucap Hotaru mengelus dadanya kembali berjalan menuju lantai dua.
Yamazaki sudah memilih dua pelindung senior. Yuki membungkuk sekilas membuat keduanya terkesiap.
"Ojou sama anda tidak boleh melakukan itu." Srobot mereka membungkuk lebih dalam.
"Boleh aku yang menjadi wasitnya?." Yamazaki membolehkan.
"Maaf, bisakah kalian bertarung tidak menggunakan baju?." Kaget, tentu saja tapi mereka mengikuti permintaan nonanya.
Yuki juga malu tidak terbiasa melihat tubuh telanjang orang lain kecuali Hotaru, tapi ini sangat di perlukan untuk melihat lebih jelas aliran otot mereka.
"Ojou sama, note yang anda minta." Yuki menerima note kecil dan bolpoin dari pelayan.
"Terima kasih." Pelayan itu membungkuk berjalan mundur beberapa langkah lalu pergi ke pinggir arena bergabung dengan temannya.
"Kalian boleh mulai." Ucap Yuki membuka note.
"Maaf ojou sama, bisakah anda sedikit mundur?. Jarak ini berbahaya untuk wasit." Yuki menatap pelindung itu.
"Aku baik-baik saja dengan jarak ini. Silahkan kalian mulai." Tegas Yuki.
Keduanya akhirnya bertarung dengan hati-hati, mereka tidak ingin ada pukulan nyasar mengenai wajah mulus nona mereka.
"Apa yang sedang Yuki lakukan nek?." Hotaru mencomot manisan dari piring.
"Tidak tahu, dari kelihatannya dia sedang mengamati tubuh bukan pertarungan pelindung." Hotaru melirik ke bawah.
"Kasihan Eiji. Mukanya sudah merah seperti tomat busuk." Lusi tertawa melirik ke arah pemuda itu.
"Nek."
"Ya?."
"Aku yakin Yuki sedang menyembunyikan sesuatu dan sedang menyusun rencananya." Lusi menarik nafas berat.
"Nenek dan ayahmu pun juga sudah mengira ini akan terjadi tapi Hotaru." Lusi mengusap kepala cucunya sayang.
"Kita harus bergerak lebih cepat dari Yuki. Keuntungan kita adalah mengingat semuanya, nenek yakin Yuki menghindarimu karena ada alasan besar di baliknya. Ia lebih tidak kuat tidak menempel padamu." Hotaru menjatuhkan cairan bening dari matanya.
"Aku sangat merindukannya nek. Bahkan setelah kita kembali bersama Yuki terasa sangat jauh." Lusi menepuk-nepuk pelan punggung Hotaru.
"Kita berdoa semoga Yuki segera kembali seperti biasa." Lusi menenangkan.
Kakinya melangkah ke belakang, kepalanya menoleh menatap Yamazaki. Yang di tatap segera menghampiri.
"Ada apa ojou chan?."
"Tolong suruh mereka lebih serius. Yang kalah akan aku beri hukuman." Yamazaki melebarkan matanya.
Ojou chan tidak akan melakukan eksekusi hukuman kan?, hanya karena masalah seperti ini?, batin Yamazaki.
Pria itu segera berbicara dengan pelindung. Yuki melirik jam tangannya, ia sudah membuang tiga puluh menit berharganya, notenya masih kosong. Yamazaki pergi ke tempatnya, pelindung-pelindung itu terlihat lebih serius. Yuki lebih maju untuk melihat dengan jelas setiap perubahan otot dan bekas pukulan dan serangan yang lain. Kakinya bergerak santai menghindar dari serangan yang berkemungkinan mengenainya, tangannya menulis apa yang ia dapatkan.
Bruk!.
Salah satu pelindung tersungkur jatuh ke tanah, darah mengalir di sudut bibirnya, pelindung yang berdiri menghentikan serangan di tengah jalan. Yuki mendekat berjongkok di samping kanan pelindung yang masih berusaha menetralkan nafasnya.
Gadis itu terlihat sangat kecil saat berjongkok di samping pria besar, manik birunya menjelajahi tubuh pelindung itu, wajah seriusnya terlihat sangat seksi, jari tangan yang memegang bolpoin memainkan benda itu memutar-mutarnya dengan cepat.
Grek!.
Bolpoin berhenti.
"Daratkan tinjumu di sebelah sini." Yuki menunjuk perut sebelah kanan.
"EH?!." Kagetnya.
"O o ojou sama?."
"Aku butuh tinjumu." Tegas Yuki, menyentuh titik yang ia minta dengan bolpoinnya.
"Di sini."
Kedua pelindung diam sebentar. Yuki kembali berdiri memberikan ruang untuk pelindung menyerang rekannya. Kepalan kuat dan besar itu melayang dan mendarat di titik yang Yuki minta.
"Uuaarrgghh!!."