
"Anda tidak enak badan?." Dazai segera meletakan barang bawaannya diatas meja hendak menyentuh Yuki.
"Aku tidak apa-apa." Jawab gadis itu menolak di sentuh.
"Apa yang kamu bawa?." Tanya Yuki mengalihkan pembicaraan seraya menarik tangan dan ponselnya, duduk tegak kembali.
"Es krim, dan beberapa makanan pinggir jalan." Jawab Dazai masih ragu hendak menanyai Yuki lagi atau mengikuti alur yang di buat gadis itu.
"Terima kasih." Yuki meraih es krim cup besar lalu membukanya.
"Anda yakin tidak apa-apa?." Dazai khawatir. Sangat. Nona mudanya terlihat sangat berantakan.
"Ung. Jangan khawatir." Jawab Yuki singkat.
"Duduk." Yuki mendongak untuk melihat wajah Dazai.
"Dai chan." Tegur Yuki, barulah pria itu duduk.
"Setelah ini kita langsung pulang ke jepang." Celetuk Yuki membuat pria itu terkejut.
"Libur satu harinya bagaimana?."
"Hari ini." Jawab Yuki singkat.
"Ojou chan, kita baru mendarat jam enam pagi tadi. Anda belum sempat istirahat." Dazai mengingatkan.
"Kita istirahat di pesawat nanti." Jawab Yuki.
"Baik jika itu yang anda inginkan." Yuki melirik Dazai yang terlihat acuh. Mungkin pria itu sudah lelah menghadapi Yuki.
"Setelah ini tidak ada waktu lagi untuk berlibur. Mereka sudah menemukan petunjuk besar di villa itu. Mereka akan semakin rakus mencari petunjuk lain untuk menemukan BD." Yuki mengecilkan suaranya kala menyebut inisial itu.
Dazai membalas tatapan Yuki.
"Iblis itu sudah mencuri start dariku. Aku harus mengejarnya. Selain itu, aku harus menyelesaikan masalahku sendiri. Bukan klan atau yang lain. Tapi masalahku." Yuki menghela nafas berat. Melirik pergelangan tangan kanan bagian dalam.
"Ojou." Panggilan Dazai terhenti karena Yuki yang melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak boleh lelah di sini. Apa pun itu, aku harus menyelesaikannya."
"Ojou ch." Yuki memotong lagi kalimat Dazai.
"Akhir-akhir ini aku berpikir. Ternyata aku juga manusia. Yang sulit menghilangkan rasa bersalah dan menyesal. Dai chan. Tsuttsun akan marah jika melihatku seperti ini." Yuki mengukir senyum membayangkan wajah tegas Mizutani, dan mereka akan beradu mulut yang akan di menangkan oleh pria itu.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan menghancurkan BD." Balas Dazai.
Yuki terkejut, ia mengedipkan matanya beberapa kali. Dazai terlihat seperti pria tangguh di depannya.
***
Setelah menyiapkan semua skenario untuk Lusi Yuki menaiki taksi menuju kediaman utama. Sedangkan Dazai sudah terbang kembali ke tokyo setelah memastikan Yuki aman sampai di stasiun terdekat dengan kediaman utama.
Perjalanan yang membosankan. Ia berhubungan dengan Daren lewat pesan. Ayahnya itu akan kembali dua hari lagi dan mereka akan membahas hasil dari negosiasi dengan kaisar bhutan dan menyusun rencana dari laporan Ame.
Di rentang waktu itu Yuki akan melacak para agen, dan efek dari keberhasilan misi mereka. Tugas Yuki masihlah sangat banyak.
Tidak terasa taksi berhenti di depan pagar besar kediaman utama. Yuki membayar tagihan taksinya barulah ia keluar. Setelah taksi sudah pergi jauh meninggalkan kediaman utama Yuki membalikkan badan yang di sambut para pelindung dan pelayannya yang tergopoh-gopoh berlari menghampiri Yuki.
"Anda sudah kembali ojou sama." Yuki tersenyum kecil.
"Maaf, biar kami yang membawanya." Kedua pelayan Yuki segera mengambil koper dan barang bawaan gadis itu.
Angin musim gugur berhembus pelan menyapa Yuki. Ia segera masuk dan mencari neneknya.
"Nenek!." Seru Yuki mengecup lembut dahi keriput Lusi barulah memeluk wanita itu.
"Kamu pulang hari ini?. Ayahmu tidak bilang apa-apa sama nenek." Yuki tersenyum manis.
"Aku ingin pulang lebih cepat. Hotaru sudah pulang?." Lusi tersenyum lembut mencubit kecil pipi cucunya.
"Saudara kembarmu itu tiga hari ini selalu pulang telat. Takeru bilang untuk persiapan pertandingan desember nanti." Jelas Lusi.
Yuki melirik jam tangannya. 06.00 p.m.
"Aku akan menjemputnya ke sekolah." Ucap Yuki mengecup sekilas pipi Lusi lalu berlari meninggalkan wanita itu.
"Ck ck ck. Mereka memang tidak bisa berpisah lama-lama." Komentar Lusi yang mengingat pagi tadi Hotaru uring-uringan karena Yuki tidak kunjung pulang.
Gadis itu segera masuk ke dalam mobil meminta pelindung mengantarkannya ke sekolah dengan cepat. Meninggalkan kedua pelayannya yang terkejut di lorong depan.
"Ojou sama, anda ingin berhenti di mana?." Tanya pelindung itu yang melihat tempat biasanya Yuki turun.
"Di depan gerbang." Jawab Yuki, pikirannya kembali ke pembicaraan Natsume dengan dirinya.
"Baik."
Haruskah aku mencoba berbicara lagi dengannya?, haruskah aku mencobanya?, batin Yuki yang tidak menyadari mobil sudah berhenti.
"Ojou sama, sudah sampai." Yuki melirik ke samping.
"Terima kasih." Ucapnya membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat. Ia melupakan ponsel dan tas kecilnya di dalam jok belakang mobil.
Tanpa pikir panjang Yuki berlari menuju gym. Entah kenapa hatinya menggebu-gebu dan jantungnya berdegup sangat cepat.
Yu chan, hubungan kalian sudah berhenti sejak dia pergi.
Tidak mungkin kamu berpacaran dengan dirimu sendiri.
Jangan melarikan diri dari perasaanmu. Dia datang untuk menjemput cintanya yang sudah lama pergi.
Bagaimana dengan kamu?. Apa kamu benar-benar tidak menyukai teman masa kecilmu itu?.
Bohong kalau aku tidak menyukainya. Hazuki, aku tersiksa karena aku sadar aku sangat menyukainya!, jerit Yuki dalam hati.
Tidak perlu ada yang di takutkan Yu chan. Mantanmu tidak akan murka jika kamu menerima laki-laki lain. Jangan menyiksa dirimu sendiri.
Kak Dimas, apa ini tidak masalah?. Apa kamu tidak akan membenciku?, tanya Yuki dalam hati.
Tiba-tiba perempuan yang sangat ia kenal memanggil namanya.
"Senpai!, ada apa?." Yuki spontan menghentikan kakinya menoleh ke asal suara.
"Sayuri, dimana Fumio?." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Yuki.
"Wakil kapten sedang mengambil data untuk latih tanding besok di kelasnya." Jawab Sayuri.
"Terima kasih." Ucap Yuki memutar badannya ke arah berlawanan.
"Senpai." Panggilan Sayuri di abaikan begitu saja.
Yuki berlari tanpa berpikir, gema-gema suara Natsume terus berputar di dalam kepalanya.
Mantanmu adalah cerita indah di masa lalu. Kini cobalah untuk melihat lembaran baru yang menunggumu untuk mengisinya. Jangan bohongi perasaanmu.
Eiji .., maafkan aku. Maaf. Membuatmu terluka dengan sikapku, batin Yuki.
Kakinya menaiki tangga secepat yang ia bisa. Jantungnya terasa hampir melompat keluar dari tempatnya hanya karena ia memikirkan bertemu dengan laki-laki itu.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Yuki melewati tangga lantai satu. Ia berbelok melewati tangga lantai dua dan kakinya tiba-tiba berhenti di depan tangga lantai tiga. Kakinya seperti di lumuri satu kilo gram lem perekat.
Nafas yang tadinya memburu tiba-tiba berubah pelan dan normal. Di suatu tempat di dalam sana. Yuki merasakan nyeri yang teramat sangat. Ia ingin menangis saat itu juga namun kepalanya berubah dingin, mengontrol dirinya.
Lengan terangkat untuk menghapus tetes keringat yang jatuh dari rahangnya. Tatapannya berubah dingin seketika.
Di hadapannya Fumio sedang duduk di tengah anak tangga memegang kertas yang Sayuri maksudkan tadi. Di samping pemuda itu duduklah seorang gadis, tidak!. Lebih tepatnya gadis itu sedang bersandar di lengan Fumio dengan wajah tenang, mata tertutup, deru nafas yang terlihat teratur. Aoki.
Kamu BODOH! Yuki, serunya dalam hati.
"Yuu?." Hati Yuki bergetar sangat cepat mendengar panggilan itu. Ia menahan bibirnya mati-matian agar tidak bergetar.
Dengan wajah datar dan tatapan dingin Yuki membuka mulutnya.
"Maaf, aku sedang mencari Hotaru." Ucapnya yang langsung mengangkat tangan menghentikan gerakkan Fumio.
"Maaf, sudah mengganggu." Yuki melangkah pergi dengan gaya khasnya. Ia memejamkan mata erat-erat dan terus menuruni tangga.
Kebodohan macam apa ini?, rutuk Yuki kepada dirinya sendiri. Namun goncangan di dalam dadanya sangatlah kuat. Untung hari sudah sangat sore, sekolah pun sudah sepi. Ia tak kuasa menahan tenggorokannya hendak mengeluarkan suara ringisan aneh. Cepat-cepat Yuki menutup mulutnya dengan tangan. Memaksa menelan kembali gumpalan yang sangat menyakitkan itu.
Seluruh isi kepalanya tiba-tiba berubah putih. Kakinya otomatis membawa gadis itu ke tempat yang selalu bisa membuatnya tenang, untuk menata kembali pikiran-pikirannya yang kacau.
Tangan Yuki terulur meraih pintu, menggesernya pelan. Kakinya melangkah masuk.
Sret!.
Pintu kembali tertutup. Ruangan itu sudah sepi. Ia perlahan melepaskan sepatu dan kaos kakinya.
"Siapa ini yang datang?." Suara yang tidak asing menyapa Yuki.
"Wajahmu berantakan sekali. Eeeiiittss, apa yang mau kamu lakukan?." Pemuda itu gelagapan melihat Yuki yang berjalan mendekati kolam renang.
"Setidaknya kamu harus ganti baju dulu." Protesnya. Dan.
Byuuuurrr ..!!.
Gaho menutup wajahnya melindungi dari cipratan besar yang akan Yuki buat namun lompatan gadis itu sangat tenang dan hanya menghasilkan gelombang kecil.
Gaho menatap gadis seputih salju, dengan kemeja hitam bermotif bunga-bunga kecil, serta celana jeans panjang berenang ke sana kemari. Pemandangan itu menyihir Gaho. Gerakkan seperti melakukan akrobat saat merubah arah, mengambil nafas, sedetik kemudian memutar punggung ke belakang, terakhir, menyisakan ujung jari kakinya tenggelam.
Gaho tanpa sadar membuka mulutnya. Setelah dua menit gadis itu tak kunjung menampakkan diri, Gaho segera menutup mulut dan menyelam untuk mencari gadis itu.
Gaho yang berniat berenang mendekati Yuki berhenti setelah melihat gadis itu duduk tenang di dasar lantai kolam dengan kaki yang tersilang. Gaho mengedipkan matanya, memastikan apa yang ia lihat.
Sangat cantik, batinnya.
Rambut gadis itu yang bergerak-gerak di dalam air, wajah tenangnya, postur yang sempurna. Gaho menelan salivanya kala pandangannya berhenti di bibir gadis itu.
Waktu seakan berhenti. Hanya ada mereka berdua. Di dalam air. Dengan cahaya matahari oren keunguan di atas permukaan. Gaho tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Badannya bergerak sendiri seakan tertarik oleh pesona mutlak gadis itu. Seperti alam semesta. Gaho ingin berputar mengelilinginya.
Jarak mereka masihlah jauh namun Gaho terkejut dan berhenti. Gadis itu tiba-tiba berdiri menjejak lantai seraya berputar seperti gasing. Sangat indah. Gaho bisa mati jika terus melihat pemandangan itu. Pikirannya tersadar. Ia segera ikut naik ke permukaan.
Pyuk.
Gaho mengeluarkan kepalanya dari dalam air dan kembali terserang pemandangan terindah di alam semesta, baginya. Yuki mendongak mengatur nafas, gadis itu tidak membenarkan helaian rambutnya yang menutupi wajah. Sinar matahari sore menerobos dari jendela di atas, jatuh tepat ke arah wajah itu. Gaho membeku.
Pyuk!.
Kecepatan gadis itu saat kembali menenggelamkan diri membuat Gaho tersadar. Ia mengusap wajahnya kasar lalu memilih berenang ke pinggir kolam. Ia keluar mengambil handuk dan kaos putihnya.
Gaho berniat mengeringkan tubuhnya lalu memakai baju, namun baru saja mengeringkan wajah dan rambut suara dari belakang membuatnya membalikan badan dan memakai kaos secepat kilat.
"Tidak bekerja?." Yuki meluncur ke pinggir kolam.
"Libur." Jawab Gaho cepat.
Yuki menendang dinding kolam, melakukan gaya punggung, telentang menggerakkan kaki-kakinya menendang air.
"Tidak ingin keluar dari sana?." Tanya Gaho.
"Aku baru masuk." Jawab Yuki kembali tenggelam melakukan gaya lumba-lumba menuju ke pinggir kolam.
Pyuk.
Yuki menyembulkan kepalanya. Mereka saling menatap penuh keheranan. Gadis itu menaikan satu alis.
"Jawab jujur. Kamu pasti manusia ikan." Celetuk Gaho membuat Yuki semakin menaikan alisnya.
"Aku tidak memiliki insang." Jawab Yuki polos.
"Putri duyung juga tidak memiliki insang. Tapi mereka manusia ikan." Jawab Gaho duduk di pinggir kolam, mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.
"Takhayul." Komentar Yuki kembali masuk ke dalam air.
Kolam renang semakin gelap karena matahari yang sudah tenggelam di ujung barat sana. Gaho berdiri untuk menyalakan lampu.
Cetik.
Pyuk.
Yuki melihat Gaho berjalan ke arahnya.
"Mau sampai kapan di sana?." Yuki mengedikkan bahunya.
"Bolos sekolah tiga hari dan tiba-tiba muncul dengan wajah berantakan dan baju seperti itu?." Gaho kembali duduk di pinggir kolam menekuk satu kakinya ke dalam.
"Berbohong tidak bisa berenang lalu tiba-tiba menerobos gym kolam renang melakukan aksi akrobatik di dalam air. Prestasi yang menakjubkan." Sindir Gaho.
"Hm?. Bukankah kamu juga sama. Tidak bergabung dengan ekskul mana pun. Kenapa ada di sini?." Yuki membalikan serangan telak mengenai Gaho.
"Hahaha, itu ... Aku pinjam gymnya sebentar." Jawab Gaho kikuk.
Untuk kedua kalinya Gaho melihat senyum tulus yang sangat manis dan cantik dalam waktu bersamaan.
"Kita sama rupanya. Suka berenang."
Gaho tidak mengalihkan pandangannya dari bibir itu sampai tidak menyadari tubuhnya sudah condong ke depan.
Yuki yang melihat itu terbersit ide jail. Biasanya pemuda itu yang selalu mengganggunya kini Yuki akan membalas perbuatan Gaho.
Grep.
Yuki menangkap tangan Gaho menariknya ke dalam air.
Byuuurr ...!!.
Yuki segera keluar dari dalam kolam renang setelah Gaho tercebur. Ia tertawa senang melihat Gaho yang gelagapan karena sempat melamun.
"Woi, kamu ngajak berantem ya. Awas kamu." Gaho langsung mencipratkan banyak air ke arah Yuki.
"Hahahaha ... Ahahaha ..." Yuki menutupi wajahnya dengan tangan dan bergerak menjauh. Gaho meluncur ke pinggir kolam mencoba mencipratkan lebih banyak air.
Yuki menghentikan tawanya hendak berpamitan namun manik sejatam elang itu menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
"Ada apa?." Gaho menatap alis Yuki yang terangkat. Kebiasaan gadis itu mudah sekali di tebak.
"Siapa namamu?." Pertanyaan tiba-tiba Yuki menimbulkan kerutan di dahi Gaho.
"Selama ini kamu tidak tahu namaku?. Ck ck ck, kejam sekali." Wajah itu menatap Gaho membuat pemuda itu mengalihkan tatapan.
"Kogawa Gaho. Itu namaku." Ucapnya.
Ini gila!, batin Yuki.
"Baiklah Kogawa san, aku pergi dulu. Sampai besok." Ucap Yuki berjalan ke arah pintu keluar.
"Kamu akan pulang seperti itu?. Basah kuyup?." Seru Gaho.
"Tidak hanya aku." Jawab Yuki menatap Gaho sebentar lalu hilang ke balik pintu.
Sret!.
Gaho menatap kebawah. Kaosnya juga basah kuyup. Ia tertawa kikuk sendiri.
Setelah selesai mendinginkan kepalanya kini ada bom waktu lagi yang ia dapat. Yuki menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Pandangannya menyapu seluruh sekolah. Gelap dan sepi. Yuki berjalan keluar gerbang mengintip pos satpam. Kosong. Mungkin satpam sedang berkeliling mengunci semua ruangan.
Yuki berjalan santai di pinggir trotoar. Ia mendongak untuk melihat bintang. Langit Hyuga lebih banyak taburan bintang dari pada langit Tokyo. Keadaan basah kuyup dan angin yang menerpanya tidak membuat gadis itu merasa dingin.
Cciiiiiittttt ....
BRAAKKK!.
Yuki terkejut dengan suara keras itu. Ia menundukkan wajahnya untuk melihat ke depan namun sebuah tubuh tegap melompat dari atas sepeda dan merengkuhnya dalam sekali ayunan tangan.
GREEPP!!.
Yuki merasakan kakinya melayang dari atas tanah. Ia tersenyum membalas pelukan itu.
"Kenapa basah kuyup?. Kenapa tidak ke gym?. Kenapa ponselmu tertinggal di dalam mobil?. Kenapa tidak menungguku?." Yuki menundukkan wajahnya menghirup wangi Hotaru yang bercampur dengan keringat.
"Aku merindukanmu." Jawaban yang tidak terpikirkan oleh Hotaru. Ia mengeratkan pelukkannya, menenggelamkan wajahnya di pundak basah Yuki.
"Aku juga." Balas Hotaru.
"Ayo pulang." Ajak Hotaru menurunkan Yuki lalu membuka jaket jerseynya.
"Ceritakan padaku kenapa bisa basah kuyup seperti ini di perjalanan pulang." Hotaru memakaikan jerseynya, memasang rislesting setelah itu mengambil sepedanya yang teronggok di tanah.
"Duduk sini." Hotaru menepuk bagian depan sepeda.
"Aku akan jatuh." Jawab Yuki menatap horor sepeda gunung Hotaru.
"Tidak akan. Kemari." Hotaru membalikkan sepedanya dan menghampiri Yuki.
"Hotaru." Lirih Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh." Hotaru meraih tangan Yuki mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat buku tulis.
Bruk.
Yuki terkejut sudah duduk di besi panjang tanpa pengaman. Tangannya segera mencari pegangan.
"Hotaru, turunkan aku." Pinta Yuki.
Hotaru mulai mengayuh sepedanya.
Cup.
Dengan lembut Hotaru mengecup pucuk kepala Yuki yang basah. Membuat saudari kembarnya tenang. Yuki melebarkan matanya mendapati sepeda itu terus bergerak.
Gila!. Hotaru gila!, rutuk Yuki dalam hati.
***
Setelah berendam merilekskan otot-ototnya. Yuki mengeringkan rambut yang mulai memanjang. Poninya juga sudah sampai di bawah matanya. Ia dengan telaten menata poninya membelah ke samping, membuatnya mengembang sedemikian rupa.
Setelah selesai, ia memakai bajunya. Bermain sebentar dengan Je lalu keluar dari ruang ganti. Mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang.
Sret.
Yuki keluar dari kamar tersenyum sebentar kepada pelayannya lalu berjalan menuju ruang makan untuk makan malam.
Setelah sampai, ternyata ia lebih awal dari semua orang. Yuki duduk menunggu, di susul oleh Lusi lalu Hotaru dan seseorang di belakangnya.
Yuki segera membuang wajahnya. Hotaru duduk di sebrang meja sedangkan orang itu duduk tepat di sampingnya. Yuki berusaha mengolah emosi di dalam sana agar tetap tenang.
"Ayahmu sudah memberitahu nenek kalau pekerjaan di sana sudah selesai berkatmu Yuki." Lusi membuka percakapan.
"Ayah terlalu berlebihan nek." Balas Yuki.
"Lain kali kamu boleh menolak permintaan ayah." Srobot Hotaru.
"Haruskah?." Tanya Yuki dengan senyum jail.
"Tentu. Dan jangan ulangi lagi, menceburkan diri ke kolam renang sekolah. Kolam renang di rumah masih banyak airnya." Yuki mengangguk patuh.
"Kamu ini, kenapa bisa berenang dengan pakaian seperti itu?. Kamu bisa pulang dulu Yuki." Lusi ikut menyerang gadis itu.
"Aku tidak bisa beralasan untuk itu. Nek, aku akan berenang dengan pakaian yang sedang aku pakai. Apa pun itu, benarkan Hotaru." Yang di panggil mengangguk membenarkan.
"Aku sangat terkejut saat Eiji berlari ke gym dan mencarimu. Yuki, ada yang ingin kamu jelaskan?." Curiga Hotaru. Yuki memutar bola matanya meski diam-diam ia mencengkeram lututnya di bawah meja.
"Ojou sama mencarimu. Aku pikir dia akan langsung pergi ke gym. Ternyata tidak. Mungkin saat itu ojou sama pergi ke gym renang." Fumio ikut membuka mulut.
"Fumio kun." Panggil Lusi.
"Ya, Lusi sama?." Hotaru melirik neneknya.
"Kenapa kamu masih memanggil Yuki seperti itu?. Dia calon tunanganmu, panggil saja dengan panggilan kecilnya."
Sontak Yuki semakin kuat meremas lututnya. Gejolak di dalam dadanya meletup-letup memberontak pertahanan yang sudah susah payah Yuki bangun.
"Saya akan memanggilnya seperti itu setelah ojou sama mau menerima saya."
BRAAKKK ...!!!.
Semua orang terkejut dengan sikap tiba-tiba Yuki yang berdiri mendorong kursinya.
"Yuki, ada apa?. Apa nenek sudah kelewatan?." Lusi segera meraih tangan Yuki namun gadis itu segera mundur dan membungkuk sangat dalam.
"Maaf nek, tiba-tiba aku ingin makan di kamar. Permisi." Yuki melangkah mundur beberapa kali barulah ia membalikan badan meninggalkan ruang makan.
Wajah Lusi berubah pucat pasi melihat kepergian Yuki.
"Hotaru, sepertinya nenek tidak seharusnya memojokan adikmu." Lirih Lusi.
"Aku akan membawa Yuki kembali. Nenek tenang saja." Hotaru yang sudah berdiri di cegah oleh Fumio.
"Maaf, kalau boleh biar saya yang mengejarnya Lusi sama." Lusi menatap Fumio semakin khawatir. Hotaru melihat itu.
"Nek." Panggilnya. Lusi beralih menatap Hotaru.
"Tidak apa-apa. Biarkan Eiji bicara dengan Yuki. Kita lanjutkan makan malamnya." Ucap Hotaru meraih kedua tangan Lusi.
"Hotaru, adikmu mungkin belum siap dengan ini." Lusi yang merasa sangat bersalah tak sengaja menitikkan air matanya.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja." Suara Hotaru penuh keyakinan membuat wanita itu mengizinkan Fumio untuk pergi.
"Terima kasih Lusi sama." Fumio membungkuk dalam sebelum pergi.
"Kemana ojou sama pergi?." Tanya Fumio kepada pelayan Yuki yang terdiam bingung di lorong menuju kamar si kembar.
"Ke bangunan belakang." Jawabnya.
"Terima kasih."
Fumio langsung berlari. Ia tahu kemana gadis itu pergi. Ia berbelok ke lorong terbuka di sebelah kiri. Benar dugaannya. Yuki menuju ke dapur.
Gadis itu terlihat membungkuk memukul-mukul dadanya. Perlahan, Fumio mendekat.
Fumio pov.
"Aku ingin bicara denganmu." Mendengar suaraku badannya langsung berdiri tegap.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Jawabnya dingin.
"Di hari ke tiga pemilihan aku ingin kita bicara, tapi sepertinya kamu masih menghindariku." Yuki melangkah menjauh. Aku tetap berdiri dan menatapnya.
"Yuu." Panggilan itu selalu dapat membuatnya berhenti.
"Apa kenangan kita menakutkan untukmu?." Tangannya terlihat menekuk di balik badannya.
"Aku tidak ingat apa pun." Jawabnya masih dingin.
"Lalu kenapa kamu takut melihatku?. Kenapa tidak acuh seperti biasanya?." Perlahan dalam keheningan aku mencoba mendekat.
"Pergilah. Jangan ganggu aku." Yuki kembali melangkah.
"Kenapa kamu memilihku?."
Suaranya berubah kesal.
"Karena semua orang memujamu. Memintaku untuk memilihmu. Semua orang. Bukan aku."
Aku menarik nafas dalam. Sakit tentu saja. Tapi di depanku ini adalah Hachibara Yuki, perempuan keras kepala yang tidak peka.
"Aku sudah mengatakannya. Jangan di ingat jika itu terasa sakit. Biarkan aku mendekatimu. Aku akan mengambil lagi hatimu, merebutnya lagi." Perlahan mengambil dua langkah ke depan.
"Sampai kapan pun hatiku tetap milik orang lain." Geram Yuki. Aku tersenyum lembut.
"Sejak awal hatimu milikku. Aku akan mengambilnya kembali." Yuki terkejut mendengar suaraku tepat di belakangnya. Sebelum Yuki menjauh aku melingkarkan kedua lenganku pada tubuhnya.
"Lepaskan!." Yuki menendang tulang keringku sangat keras. Menimbulkan rasa nyeri di sana.
"Dasar Gila!. Lihat siapa dirimu. Lepaskan!." Yuki masih memberontak. Aku tetap berdiri di belakangnya namun dengan sengaja mengendurkan rengkuhanku. Aku tidak suka melihatnya terluka.
Yuki segera membalikkan badan dan.
PLAAKK!!.
Para pelindung dan pelayan yang melihat pertengkaran kami segera pergi menjauh. Dari sudut mataku Yuki membalikan badannya hendak melangkah pergi.
"Yuu ..." Kaki itu berhenti.
"Biarkan aku mengatakannya." Imbuhku. Yuki mengeratkan kepalan tangannya.
Aku ingin menyentuh tangannya, jangan menyakiti diri sendiri Yuu, batinku.
Perlahan menyentuh kepalan tangan yang buku-buku jarinya sudah memutih.
Sret!.
Yuki mengangkat tangannya menyentak kuat namun tanganku yang dua kali lipat lebih besar darinya tidak melepaskan begitu saja. Membuat badannya sedikit memutar dan tatapan tajam manik biru itu menusuk tepat ke tengah manikku.
"Aku bilang lepaskan!. Eiji!!." Jeritnya.
DEG!.
Hening.
Yuki sepertinya tidak sengaja memanggil namaku yang artinya, tebakanku benar. Dia sudah mengingatnya.
Mataku sengaja menguncinya. Menjelajahi setiap warna itu. Menerobos masuk ke dalam lautan biru miliknya.
Puk.
Yuki yang tersadar mencoba melepaskan tanganku dengan tangannya yang lain.
"Lepaskan ... Ku mohon, pergilah." Suara lirih itu membuatku membeku. Ia menunduk dengan nafas yang memburu.
"Yuu ..." Panggilku.
Fumio pov end.
"Yuu ..." Panggilan halus yang berubah berat itu membuat tubuh Yuki bergetar.
"Aku tidak mengingatmu. Pergilah. Jangan dekati aku lagi." Ucapnya mencoba mendorong tangan Fumio.
"Kamu sudah berjanji jika aku memilihmu kamu akan melakukan apa yang aku minta!. Kamu tidak akan protes!. Jadi pergi dariku!. Sekarang!." Teriak Yuki frustasi.
Srek!.
Manik birunya melebar kala tubuhnya tertarik ke depan. Tangannya segera mendorong perut Fumio, menahannya agar tidak semakin mendekat.
Yuki menggerakkan kepalanya menantang manik itu. Ia mencoba untuk tetap waras meski sudah di ambang kemampuannya. Dan kalimat itu pun terlontar.
"Aku membencimu." Setelah kalimat menusuk yang gadis itu berikan Fumio masih tersenyum hangat kepadanya.
Tidak!. Berhenti kumohon!. Aku bisa gila karena ini!, jerit Yuki meronta-ronta dalam hati.
Eiji, aku merindukanmu, lanjut Yuki dalam hati.
Ini menyakitkan. Sangat. Kenapa bisa seperti ini?. Siapa pun tolong aku. Aku lelah dengan rasa sakit ini, agh!. Tidak!. Aku tidak boleh menangis!. Tidak!. Tidak!. Ucap Yuki dalam hati.
Ia menundukkan kepala, tangannya mulai lemas. Ia berusaha meraup oksigen.
"Hah ... Hah ..."
"Yuu!."
Merasakan tangan Fumio terlepas Yuki segera mundur namun kakinya yang tiba-tiba kehilangan tenaga membuatnya tersandung kaki sendiri, dan jatuh.
"Tetap di situh ... Hah!. Ukh, hah ... Hah ..." Yuki mencengkeram dadanya. Dan mulai memukul-mukulinya.
Bugh, bugh, bugh.
Jangan menangis!. Jangan. Pikirkan sesuatu yang menyenangkan, batin Yuki menutup rapat kelopak matanya.
Sial!, apa pun!. Pasti ada. Pikirkan lagi, lagi, batinnya semakin berusaha mencari memori yang dapat membuatnya tenang. Namun yang muncul adalah wajah Fumio kecil yang selalu tersenyum kepadanya.
"Aku membencimu." Lirih Yuki yang tiba-tiba mengatakannya lagi.
"Ung." Jawaban itu membuat hati Yuki semakin berkedut nyeri.
"Aku sangat membencimu." Bibirnya bergetar kala mengatakannya lagi.
"Ung."
Gadis itu terus mencoba agar air tidak mengumpul di pelupuk matanya. Ia perlahan menoleh ke depan. Mendapati Fumio sudah duduk bersimpuh, posisi sempurna di hadapannya.
Apa yang dia lakukan?. Tunggu, jangan-jangan dia, batin Yuki memutar memori yang sudah kembali beberapa hari yang lalu.
Fumio kecil dan Yuki kecil duduk bersimpuh saling berhadapan. Di saksikan oleh nenek Yuri, Lusi, kakeknya, paman Fumio, bibi Fumio, Hotaru, dan kedua orang tua Yuki. Kakek Ryuu dan beberapa pelindung tingkat tinggi pun ada di ruangan yang sama.
Mereka mendengarkan setiap kata dari nenek Yuri. Memberikan doa dan menjelaskan singkat tentang apa yang sedang mereka lakukan. Fumio adalah calon tunangannya. Akan mengemban tanggung jawab atas dirinya kelak setelah peresmian.
Yuki menundukkan kembali pandangannya. Tangannya yang tadinya memukul-mukul dada beralih menepuk-nepuknya pelan.
Jangan bohongi perasaanmu. Jangan sakiti dirimu. Jangan takut. Yuki mengulang kalimat Natsume di dalam kepalanya.
Perlahan gadis itu ikut bersimpuh. Menyempurnakan posisi duduknya meski dengan kepala yang tertunduk. Yuki belum pernah menunduk seperti ini sebelumnya. Hanya sekali, itu pun karena Fathur di dalam cafe empat tahun silam.
Yuki memaksakan bibirnya terbuka. Meski suaranya bergetar ia berusaha untuk bisa mengeluarkan suaranya.
"Eiji, aku ..." Yuki menelan salivanya kasar.
"Eiji ..." Tenggorokan Yuki tercekat. Ia memejamkan matanya sangat erat, kedua tangannya mencengkeram dress kasual yang ia pakai.
Perlahan namun pasti Yuki menarik nafas panjang semakin menegakkan punggungnya seraya mengangkat kepala bak bangsawan yang selalu diajarkan kepadanya.
Matanya lurus menatap ke depan. Tepat ke arah dada pemuda itu. Tangannya perlahan mengendur. Menumpu antara satu dengan yang lain.
"Aku bukan Yuki yang dulu. Kamu boleh melepaskan ikatanmu denganku yang sudah sangat lama meninggalkanmu." Yuki dapat mengatakannya dengan lancar.
"Jika aku masih harus menunggumu aku akan melakukannya. Sampai kapan pun." Jawaban tenang dari Fumio membuat Yuki gentar.
"Percayalah tidak ada wanita lain yang menduduki hati ini. Maaf kalau perbuatanku sore tadi menyakitimu."
Aku tahu. Jika ingatanku masih utuh pun aku akan melakukan hal yang sama, batin Yuki tetap berusaha untuk tenang.
"Yuu, lihat aku." Perlahan Yuki menggerakkan kepalanya. Menatap lurus hidung pemuda itu. Suara lembut, halus, dan beratnya membuat Yuki semakin goyah.
"Yuu .., lihat mataku." Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan paksa aku Eiji." Lirih Yuki
"Apa yang membuatmu enggan?." Tanyanya dengan tenang.
"Bisakah kita hentikan ini?." Tanya Yuki.
Karena di dalam tata krama klan Hachibara, tidak sopan jika seorang perempuan yang sudah menjadi calon tunangan pergi begitu saja tanpa izin si calon pria dalam posisi duduk sempurna seperti itu.
"Yuu ..." Bujuk Fumio.
"Lihat mataku sebentar."
Yuki membasahi bibirnya dengan menjulurkan sedikit lidah. Kebiasaan yang tidak diketahui oleh Yuki sebelumnya, namun tidak dengan pemuda itu. Fumio hafal jika Yuki sudah terpojok dan tidak bisa berkilah lagi, gadis itu akan membasahi bibirnya dengan gerakkan kecil seperti itu.
Perlahan dagu Yuki terangkat. Bola mata itu bergerak sangat pelan naik ke atas. Pandangan mereka saling mengunci satu sama lain.
Tatapan yang berbeda dengan sebelumnya. Lebih lembut, jernih, penuh kerinduan. Tubuh Yuki tiba-tiba bergetar kecil.
"Aku sangat merindukanmu." Kalimat itu langsung menyerangnya, meruntuhkan pertahanan terakhir Yuki.
Ia tidak menolak kala Fumio menunduk, mendekatkan wajah mereka.
Tuk.
Dahi mereka saling bersentuhan tanpa melepaskan tatapan masing-masing.
"Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu." Hembusan nafas Fumio sangat terasa di kulit Yuki.
"Maaf aku tidak bisa melindungimu." Yuki tenggelam ke dalam perasaannya.
"Maaf aku tidak berada di sampingmu saat kamu melewati masa-masa sulit." Yuki tidak kuasa kala melihat dua butir cairan bening di ujung mata Fumio.
Laki-laki yang tidak pernah menangis. Yang hanya menangis di malam setelah pemakaman ayahnya.
"Maaf, aku terlamb."
Yuki menggeser sedikit kepalanya membungkam Fumio dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengarnya lagi.
Fumio melebarkan matanya. Menatap mata biru itu yang menumpahkan perasaan yang sama. Tanpa sadar air mata kerinduan yang ia tahan selama hampir empat belas tahun ini kembali terjatuh ke pipi putih Yuki.
"Yuu ..." Lirih Fumio tanpa menggerakkan bibirnya. Manik biru itu terlihat berkilau karena selaput bening yang mulai menutupinya.
Yuki bertahan untuk tidak menangis, batin Fumio.
Fumio merasakan sesuatu memainkan jemarinya di bawah sana. Ia langsung meraup jemari panjang itu, menggenggamnya lembut namun tegas. Sedangkan tangan satunya menelusup ke sela-sela telinga Yuki sedikit memiringkan kepalanya.
Aku merindukanmu, batin Yuki.
Aku sangat merindukanmu Yuu, batin Fumio.
Perlahan manik keduanya tertutup. Membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Jauh di belakang sana Hotaru memeluk Lusi sambil menenangkan neneknya itu.
"Benarkan. Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Hotaru masih mengusap punggung neneknya.
"Saudarimu mengalami masa-masa yang sangat sulit. Berulang kali hampir meregang nyawa." Lusi mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di loroh itu menatap cucu laki-lakinya.
"Kamu juga. Bertarung melawan penyiksaan mengerikan dan racun di tubuhmu. Kalian cucu-cucu nenek yang sangat kuat. Maaf, nenek dan kakekmu ini tidak becus menjadi orang tua." Hotaru tersenyum hangat merengkuh Lusi ke dalam pelukkannya lagi.
"Tidak nek. Justru karena nenek, kakek, dan pendahulu-pendahulu keluarga Hachibara yang sangat kuat, gigih, dan hal-hal luar biasa lainnya. Darah mereka yang mengalir di tubuh kami membuat kami berdua bisa melalui semua ini." Kehangatan dalam kalimat Hotaru mengingatkan Lusi dengan mendiang suaminya.
"Kalian cucu berharga nenek."
"Ung."