
Yuki terus memperhatikan Masamune memilih barang belanjaan. Yuki mengira mereka akan ke mall besar untuk membeli baju tas atau benda-benda kesukaan perempuan lainnya, tapi ia salah. Masamune mengajaknya ke supermarket dan memilih bahan-bahan dapur.
"Malam ini kita makan spageti seafood bagaimana?." Tanya Masamune menunjuk sekantong udang kecil yang sudah dibersihkan didalam lemari pembeku. Yuki mengangguk sekilas. Lalu Masamune membawanya kembali berkeliling.
"Yuki." Panggil Masamune membuat Yuki mengalihkan perhatiannya dan menatap Masamune.
"Hm?."
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?." Tanya Masamune khawatir.
"Tidak, aku hanya sedang memperhatikan sekitar, berbelanja seperti ini ternyata cukup mengasyikan." Jawab Yuki.
"Kamu tidak pernah berbelanja sebelumnya?." Tanya Masamune.
"Tidak, ini pertama kalinya aku pergi ke supermarket dan berbelanja bahan makanan." Yuki tersenyum kecil menunjuk keranjang belanjaan mereka.
"Apa kamu menikmatinya?." Tanya Masamune dengan senyum diwajahnya.
"Hum."
Setelah berbelanja, Yuki diajak berkeliling menyusuri jalanan disekitar rumah mereka agar ia tidak bingung atau tersesat lagi.
Masamune memasak banyak sore ini, ia membungkus semua makanan dan hanya menyisakan untuk mereka berdua makan nanti malam .
"Untuk apa semua bungkusan ini?." Tanya Yuki.
"Ini untuk kita bagi-bagikan ke tetangga sebagai tanda perkenalan kita sebagai anggota baru di kompleks ini, sudah satu bulan kita pindah tapi belum sempat memberikannya." Jelas Masamune.
"Hmm, di jepang ternyata melakukan hal semacam ini." Yuki membantu membawa beberapa bungkusan.
"Tidak juga, itu tergantung pribadi masing-masing. Aku diajari oleh ibu untuk melakukannya." Yuki mengangguk sekilas.
"Ii hito (Orang yang baik), aku akan membantumu membagikan ini." Kata Yuki, Masamune tersenyum.
"Terima kasih."
Yuki berjalan mengetuk beberapa pintu tetangga, menyapa mereka dan memberikan bungkusan yang dibuat Masamune, ia bahkan diajak masuk kedalam rumah salah satu tetangga untuk ikut makan malam bersama mereka, tentu saja Yuki menolaknya. Ada sesuatu yang menggelitik hati Yuki saat melakukan itu semua, ia tidak paham apa itu. Gadis yang tidak pernah mengindahkan sekitarnya kini sedang mengetuk satu persatu pintu rumah dan memberikan senyum tulus.
"Rumah terakhir." Yuki menekan bel rumah yang berada tepat disamping rumahnya.
"Apakah tidak ada orang?." Yuki kembali menekan bel menunggu sebentar.
"Siapa?." Suara itu berasal dari belakang, saat Yuki membalikan badan ia mendapati anak laki-laki bertubuh tinggi tapi tidak setinggi dirinya, berbadan besar dan berkulit sedikit hitam berdiri dengan seragam sekolahnya.
"Rumahmu?." Yuki menunjuk pintu rumah dengan ibu jarinya.
"Ya."
"Aku datang untuk memberikan bungkusan ini, aku baru pindah satu bulan yang lalu tapi baru sempat menyapa. Itu rumahku." Yuki menghampiri anak laki-laki itu seraya menunjuk rumahnya.
"Ya." Jawab singkat anak laki-laki itu. Yuki hendak mengulurkan bungkusan namun ponsel didalam sakunya bergetar.
"Moshi moshi (Halo)."
"Aku tidak bisa pulang malam ini, besok aku tunggu di kantor." Suara Mizutani diseberang sana.
"Besok jemput aku, aku tidak mau berangkat sekolah sendirian. Mereka semua terlalu menyeramkan." Sergah Yuki.
"Aku tidak bisa. Setiap hari ada latihan pagi, aku tidak mungkin meninggalkan tugasku." Tolak Mizutani.
"Aku tidak akan berangkat sekolah." Ucap Yuki cepat.
"Huuft, berangkatlah lewat gerbang belakang, beberapa anak juga berangkat dari sana." Yuki diam sebentar.
"Nanti aku kirimkan rutenya." Lanjut Mizutani.
"Hm." Yuki langsung menutup ponselnya sepihak.
"Murid pindahan?, apa kamu dibully disekolah?." Tanya laki-laki didepan Yuki.
"Ya, aku murid pindahan dan aku tidak dibully, sangat sulit menyesuaikan sekolah dijepang, perbedaan budaya, sikap penduduknya, dan masih banyak lagi." Yuki mengulurkan bungkusan kepada laki-laki itu.
"Kamu pindahan dari mana?." Anak laki-laki itu menerima bungkusan dari tangan Yuki.
"Indonesia, aku Hachibara Yuki, salam kenal." Yuki membungkuk sopan. Ini ke enam kalinya Yuki memperkenalkan diri kepada tetangga yang diberinya bungkusan sesuai arahan Masamune sebelum Yuki pergi.
"Yuuki Keiji kelas 3-3 sekolah menengah pertama salam kenal." Anak laki-laki itu membalas membungkuk sopan.
"Heeeh,? anak smp?." Kata Yuki tidak percaya.
"Ya aku kelas tiga smp." Jawabnya.
"Kenapa anak smp bisa mempunyai badan tinggi besar seperti ini? apa yang kalian makan sebenarnya." Lirih Yuki pada kalimat terakhirnya.
"Kami makan nasi." Sahut anak laki-laki itu.
"Aku harus cepat terbiasa." Ucap Yuki kepada dirinya sendiri.
"Selamat menikmati makanannya Keiji kun, bye bye." Ucap Yuki berlalu pergi.
"Tunggu! kamu kelas berapa?." Seru Keiji.
"2-3 Oukami koukou (Sma Serigala)." Jawab Yuki dari depan rumahnya tidak kalah seru.
Setelah makan malam Yuki segera masuk kedalam kamarnya, mempersiapkan buku-buku yang besok harus ia bawa.
"Apa ini, aku melupakannya." Yuki mengambil amplop berwarna biru dari dalam tas membukanya perlahan.
"Surat? seperti ditahun tujuh puluhan saja." Ujar Yuki, di surat itu tertulis. Aku menunggumu besok pagi didekat gudang peralatan.
"Maaf, tapi aku tidak tahu dimana gudang peralatan." Yuki meletakan kepalanya diatas meja.
"Haruskah aku mencarinya besok?, kenapa tadi tidak mengatakannya sekalian, jika ada urusan denganku." Ucap Yuki frustasi.
***
Pagi hari yang cerah dengan cuaca yang bagus membuat banyak orang merasa senang, kecuali gadis dengan rambut sebawah bahu bersiap pergi ke sekolah.
"Jangan murung seperti itu, percaya, pasti hari ini akan baik-baik saja." Masamune menyemangati Yuki.
"Aku meragukannya Masa san." Jawab Yuki membuka pintu depan.
"Hush jangan pesimis, aku doakan dari rumah." Masamune mengantar Yuki sampai pintu gerbang kecil rumahnya.
"Aku berangkat." Pamit Yuki.
"Hati-hati..." Ucap Masamune melambaikan tangan. Yuki tersenyum, ia teringat Dila yang selalu perhatian kepadanya.
Untuk sampai digerbang belakang sekolah Yuki harus mengambil jalan memutar melewati persawahan dan sungai, setelah itu ia disambut dua lapangan luas yang dipisahkan oleh jalan, dipinggir jalan terdapat beberapa kursi. Untuk apa kursi itu?, pikir Yuki.
Yuki mengedarkan pandangannya, kedua lapangan itu dikelilingi jaring hijau yang menjulang tinggi disebelah kanan tertulis lapangan A sedangkan disebelah kiri tertulis lapangan B. Yuki tidak mau berpikir banyak ia terus berjalan memasuki halaman belakang sekolah.
Benar kata Mizutani, siswa yang lewat gerbang belakang sangat sedikit, Yuki bisa berjalan dengan tenang. Yuki memeriksa ponselnya melihat seksama foto denah sekolah yang ia minta kepada Mizutani tadi malam. Setelah menemukan gudang peralatan yang terletak didekat lapangan sepak bola Yuki mengedarkan pandangannya.
"Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)." Sapa seseorang dari samping.
"Ohayou gozaimasu." Jawab Yuki menoleh mendapati laki-laki yang kemarin memberikannya surat. Laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya seraya tersenyum canggung kepada Yuki.
"Ano.., aku berjalan dibelakangmu kemarin, waktu berangkat sekolah." Yuki menatap datar laki-laki didepannya.
"Hatiku bergetar saat melihatmu." Hah apa ini?, batin Yuki merasa djavu.
"Aku Daiki Atsushi kelas 3-5 dari klub sepak bola. Aku menyukaimu, jadilah pacarku!." Serunya yang langsung membungkuk membuat Yuki terkejut. Yang benar saja, batin Yuki.
"Mmm .., maaf, aku tidak bisa menerimanya." Jawab Yuki sopan. Laki-laki bernama Daiki Atsushi itu menegakkan badannya perlahan.
"Tentu saja kamu menolaknya, aku pasti terlihat aneh dimatamu." Guraunya tersenyum kaku.
"Maaf senpai (Senior)." Yuki membungkuk sekilas lalu pergi meninggalkan gudang peralatan.
Pagi yang buruk, batin Yuki melepas sepatunya membuka loker sepatu. Ia terdiam sejenak lalu menutup matanya berharap dia salah melihat namun setelah membuka mata pun benda itu masih ada didalam lokernya. Yuki menarik nafas berat mengambil tiga amplop dengan warna yang berbeda dari dalam loker memasukannya kedalam tas.
Sekarang aku tahu arti surat-surat ini, apakah ini sebuah tren cara mereka menyatakan perasaan?, bukankah sangat konyol menyukai seseorang yang baru dilihat dan belum dikenal, rutuk Yuki disetiap jalan menuju kelasnya.
"Hachibara san, ohayou." Sapa salah satu teman kelas Yuki.
"Ohayou." Disusul yang lain.
"Ohayou, Hachibara san."
Aneh, kenapa mereka tidak seliar kemarin? mereka hanya menyapaku tidak lebih, syukurlah .., batin Yuki menggantungkan tasnya dipinggir meja.
Brak!.
Yuki terdiam sejenak ia merasakan aura menyeramkan disekitarnya.
"Kamu tidak akan bisa kabur hari ini." Yuki hafal suara ini, ia menegakkan badanya membalas tatapan tajam Natsume.
"Hachibara Yuki desu, bisakah kamu menyingkir dari mejaku?." Ucap Yuki datar membuatnya menjadi pusat perhatian.
Natsume menarik tangannya dari meja lalu mengulurkan satu tangannya kepada Yuki.
"Mari kita berteman." Ucap Natsume dengan semangat.
"Tidak." Yuki memutus kontak mata diantara mereka.
"Hah?." Seru Natsume.
"Aku semakin bersemangat ingin menjadi temanmu, lihat saja nanti." Kata Natsume beranjak duduk dikursinya. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Hachibara san." Yuki melihat gadis yang kemarin memperkenalkan dirinya kepada Yuki. Ueno Tsubasa, batin Yuki. Gadis itu memakai kacamata dengan poni yang menutupi alis sedang tersenyum kepadanya.
"Kamu sangat keren." Ucap Ueno lalu kembali menghadap kedepan karena guru sudah masuk ke dalam kelas.
Yuki tidak mendapatkan kesulitan dengan pelajaran disekolah barunya karena semua pelajaran sudah ia pelajari di paviliun bersama masternya. Yuki tidak menyangka pelajaran yang dulu tak diindahkannya kini sangat membantu.
Waktu break / istirahat pertama 20menit, Yuki habiskan duduk didalam kelas memandangi bunga sakura di luar jendela, ia menyangga dagunya dengan telapak tangan. Setelah guru meninggalkan kelas tadi, Natsume sudah bersiap menyerangnya lagi namun beberapa anak perempuan membawanya keluar kelas membuat Yuki aman untuk sekarang.
Mizutani masuk dijam pelajaran berikutnya, ia mengajarkan tentang sejarah Jepang, terkesan tidak cocok bahwa dia juga seorang pelatih baseball.
Yuki termasuk sangat sensitif untuk membaca aura, sejak Mizutani masuk kelas suasana didalam kelas berubah menjadi serius, apakah Mizutani termasuk guru yang ditakuti? pikir Yuki. Pembawaan yang tenang namun tegas dari Mizutani adalah salah satu faktornya.
Bel istirahat berbunyi, Mizutani membereskan bukunya mengucapakan kata penutup.
"Hachibara san, bisa kemari sebentar." Panggil Mizutani. Yuki yang sudah membereskan bukunya berdiri maju kedepan.
"Kamu harus mengisinya." Mizutani memberikan selembar kertas kepada Yuki.
"Natsume san." Panggil Mizutani selanjutnya.
"Kamu juga harus mengisinya. Sebagai murid pindahan kalian wajib mengikuti ekstra kulikuler, kumpulkan kertasnya minggu depan kepada wali kelas kalian." Setelah mengatakan itu Mizutani meninggalkan kelas.
"Ayo kita masuk klub yang sama." Kata Natsume menatap penuh harap kepada Yuki. Tanpa memberikan jawaban Yuki berjalan kembali ke bangkunya diikuti oleh Natsume.
"Pasti seru kalau kita satu klub." Kata Natsume disamping meja Yuki.
"Kalian perlu pemandu untuk berkeliling melihat klub? aku bisa membawa kalian berkeliling." Suara seorang laki-laki mengintrupsi mereka.
"Tentu, kamu sangat membantu, ayo." Tiba-tiba Natsume menarik lengan Yuki hingga sang empu keluar dari mejanya.
"Cepat Takamoto kun!." Seru Natsume seraya menyeret lengan Yuki yang ia apit dengan tangannya.
"Maaf, bisakah kita melakukannya sepulang sekolah." Yuki menoleh kebelakang.
"Taka-moto san?." Lanjut Yuki membuat laki-laki itu menelan salivanya kasar.
"Ung (Penulisan yang benar adalah un \= ya, tapi untuk memudahkan dalam mengeja saya menambahkan satu huruf)." Setelah mendapatkan jawaban, Yuki menoleh menatap lengannya.
"Bisakah kamu melepasnya." Ucap Yuki.
"Eh?, apa?." Tanya Natsume masih tidak paham. Yuki mengangkat satu alis seraya memiringkan sedikit kepalanya menatap Natsume.
"Tangan ... Lepaskan." Natsume diam sebentar.
"Ah! gomen (maaf)." Natsume langsung melepaskan apitan tangannya. Yuki berbalik kembali berjalan ke meja mengambil tote bag kecil.
"Takamoto kun, kamu melihatnya?." Lirih Natsume.
"Ung." Jawab Takamoto.
"Kami juga melihatnya." Sahut teman-teman yang lain.
"Kenapa ada manusia seperti itu?." Lanjut Natsume.
"Dia bukan manusia, dia seorang dewi." Sahut yang lain.
Yuki berjalan melewati gerombolan teman-temannya, meninggalkan kelas.
Dimana-mana Yuki bertemu banyak siswa yang berlalu lalang, akhirnya ia menyerah dan duduk disalah satu bangku taman menikmati makan siangnya.
Sudah sembilan bulan berlalu semenjak Ega meninggalkannya, kini saat memori itu berputar Yuki sudah tidak tersiksa lagi, dan tidak merasakan sakit yang teramat sangat, butuh perjuangan untuk sampai ditahap itu. Sekarang pun Yuki masih sering terbangun ditengah tidurnya ketika memori menyakitkan itu masuk dan berputar didalam mimpi.
Ega, aku tidak menyerah. Ada sesuatu yang terasa janggal didalam diriku. Aku sedang berusaha menenangkan diri dan mencari sesuatu itu. Tunggu aku, dan saat kita bertemu lagi, aku akan memukulmu sangat keras, ujar Yuki didalam hati.
Bel pulang sudah sejak tadi. Yuki, Natsume, dan Takamoto sedang berkeliling mengunjungi setiap klub yang ada.
"Tolong menjauh sedikit." Pinta Yuki dengan sopan.
"Hm?." Natsume berpura-pura tidak mengerti apa yang dikatakan Yuki, lengan kanannya tetap menempel dilengan kiri gadis itu.
"Kamu membuatku sulit berjalan." Protes Yuki datar.
"Cuman perasaanmu saja, ayo." Natsume tidak mengindahkan Yuki ia mendorong pundak Yuki dengan pundaknya melanjutkan perjalanan mereka.
"Takamoto san, maaf, aku akan bersikap sedikit kasar kepadamu." Ijin Yuki melirik Takamoto yang berjalan didepan mereka.
"Ha?, oh ... Tidak masalaaaah." Ucap Takamoto terkejut karena tiba-tiba seragam belakangnya tertarik ke belakang.
Yuki yang menarik Takamoto menghindar dengan cepat agar laki-laki itu tidak menabraknya, begitu juga dengan Natsume gadis itu memiliki refleks yang bagus.
"Bisakah kita berjalan seperti ini saja?." Ucap Yuki yang diangguki oleh Takamoto.
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Takamoto berada ditengah-tengah sebagai penghalang Natsume menempel pada Yuki, siswa-siswi yang masih berada disekolah menatap takjub melihat Takamoto yang berjalan ditengah-tengah dua gadis cantik membuat laki-laki itu salah tingkah.
Sudah banyak tempat yang mereka lihat namun tidak ada satu pun yang menarik perhatian Yuki. Takamoto juga dengan baik hati menjelaskan setiap ruangan disekolah besar itu hingga tidak terasa langit biru sedikit berubah warna.
"Yang terakhir klub baseball." Kata Takamoto dengan semangat berjalan menuju kedua lapangan.
"Aku tidak tahu kalau dibelakang sekolah masih ada lapangan sebesar ini." Ujar Natsume.
"Sekolah kita juga memiliki asrama untuk anggota tim baseball." Jelas Takamoto.
"Waaah .., terus, kenapa banyak sekali orang-orang berkumpul disini?." Tanya Natsume yang melihat banyak sekali orang dari luar sekolah terutama pria-pria paruh baya bahkan sampai kakek-kakek sedang duduk menonton latihan anggota tim baseball.
"Tim baseball sekolah kita lumayan terkenal, para penduduk sekitar sering sekali menonton mereka, dan memberikan dukungan." Ucap Takamoto memasukan satu tangannya kedalam saku celana.
Suara teriakan susul menyusul didalam lapangan itu menunjukan semangat mereka. Anggota baseball sangat banyak, ada anggota yang sedang melatih pukulan, ada yang saling melempar bola?, Yuki tidak paham ia tidak pernah bermain atau membaca buku tentang baseball.
Seragam mereka terlihat menarik dimata Yuki. Warna putih untuk jenis olah raga yang sangat berpeluang untuk kotor. Kenapa tidak warna hitam saja, pikir Yuki matanya menangkap sosok yang sedang berdiri dipinggir lapangan dengan kedua lengan sedang bersedekap. Mizutani memakai seragam baseball membuatnya terlihat berbeda.
"Mau lihat lebih dekat?." Ajak Takamoto melihat Yuki yang sedikit tertarik.
"Aku akan berjalan kesana." Ucap Yuki meninggalkan kedua teman satu kelasnya.
Yuki berjalan ke sisi lapangan B yang tidak menarik perhatian siapa pun. Sekelompok orang dengan anggota yang tidak sedikit sedang berlari memutari lapangan dalam satu berisan, perhatian Yuki tertarik ke salah satu diantara mereka yang berlari diluar barisan.
"Yo." Tegur Yuki membuat laki-laki itu menoleh kepadanya yang spontan mengerem kakinya berhenti berlari.
"Aaaaa!! gadis bermata biru!." Teriakannya melengking sampai ke lapangan A disebrang sana.
"Kenapa kamu ada disini?! kenapa?!." Tanyanya dengan heboh dan menggerak-gerakan tangan kesana kemari membuat Yuki tertawa kecil.
"Bisa kecilkan suaramu." Ucap Yuki setelah berhenti tertawa namun yang ia lihat malah banyak orang sedang menatapnya.