Futago

Futago
Adik.



"Kalau Dazai, karena dia dokter." Jiwa keibuan Ame langsung sadar dan rasa khawatir menyelimutinya.


"Ojou san, sakit?!." Ucap cepat Ame.


"Ya, penyakitnya cukup parah." Mizutani membenarkan.


"Tunggu." Jojo yang sejak tadi diam mendengarkan kini buka suara.


"Bagaimana orang sakit bisa bergerak cepat dan memiliki tenaga untuk menghajarmu?, dan juga." Jojo menggantungkan kalimatnya menatap Yuki yang berdiri tidak jauh darinya.


Semua orang diam, yang dikatakan Jojo ada benarnya.


"Ojou san tidak suka belajar bela diri dia tidak bisa bela diri tapi yang sekarang berbeda?. Lihat, bahkan dia bisa melempar enam jarum tepat ke dada kita tanpa melihat. Orang pro pun banyak yang tidak bisa melakukannya." Ucap panjang Jojo, yang lain langsung menatap Mizutani menuntut jawaban.


"Kau meragukan ojou chan Jojo?." Dazai menatap lurus manik Jojo.


"Kenapa tidak?, fakta yang kita lihat membuat aku berpikir seperti itu. Apa hanya aku yang berpikir seperti itu?." Suara serak dan berat Jojo meninggi.


"Yang dikatakan Jojo benar." Chibi menimpali.


"Tch, aku juga setuju dengannya." Ogura melirik sinis Dazai.


"Faktanya, kalian sudah melihat tato di lengan ojou san." Sergah Dazai, ia merasa tersakiti dengan kecurigaan teman-temannya.


Tiba-tiba Hiza mengetuk keras meja dengan punggung jari telunjuknya untuk menarik perhatian yang lain.


Tuk!.


"Aku sudah memastikannya langsung dengan mata kepalaku." Kata Hiza setelah keheningan sesaat karena ulahnya.


"Aku juga beberapa bulan lalu berpikir sepertimu Jojo, Tsubaki sudah meyakinkanku kalau ojou san layak, dan aku tak usah khawatir dengan nyawaku. Karena pelindung bayangan akan melindungi ojou san dengan nyawa mereka."


Yuki diam-diam meringis dalam hati, ia tidak suka mendengar perihal nyawa, apa lagi untuk melindunginya, mereka membicarakan nyawa seperti membicarakan mainan.


"Karena aku ingin menguji kelayakan ojou san yang akan kita lindungi, aku menyusup malam-malam ke kamarnya." Hiza menopang dagu mengingat malam yang hampir membuatnya babak belur jika Mizutani tidak segera datang.


"Malam itu ojou san sedang sakit bahkan untuk berdiri pun ia memegang besi infusnya." Semua orang mendengarkan, Ogura yang tidak sabar dengan cara Hiza menceritakan pengalamannya beberapa kali mendecih kesal.


"Ojou san menyerangku, sama seperti serangannya kepada Tsubaki tadi. Ceritaku selesai." Hiza tidak menceritakan bagaimana dia bisa pergi dari kamar Yuki.


Masih ada keraguan di wajah mereka meski Hiza sudah menceritakan apa yang pernah ia alami. Yuki paham, ia menatap Mizutani lalu mengangkat tangan menyentuh topeng serigala yang menutupi wajahnya.


"Tolong jangan anda lakukan ojou san." Yuki tersenyum.


"Jangan buat masalah sepele ini menjadi rumit Mi chan."


Hening.


Para bayangan memeriksa telinga mereka lagi mungkin mereka salah dengar.


"Tapi ojou chan, Tsubaki benar. Jangan buka topeng anda." Srobot Dazai menatap Yuki seakan memohon. Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum, menoleh ke depan.


"Kalian terlihat hebat, nama pelindung bayangan juga terdengar sangat keren. Aku terus dibuat takjub oleh kenyataan-kenyataan yang tidak ku ketahui." Ujar Yuki.


Dazai dan Mizutani terus menatap Yuki, selain mereka was-was dengan apa yang akan di katakan nona mudanya mereka juga di buat kebingungan dengan suara yang keluar dari mulut gadis itu. Suara siapa yang keluar dari tenggorokan Yuki?.


"Jangan hiraukan aku." Lanjut Yuki melepas topengnya, ia sengaja menutup matanya tanpa menghentikan kalimat yang akan ia ucapkan.


"Aku membebaskan kalian untuk curiga, karena aku tidak memiliki hak atas kalian." Ucap Yuki meletakan topengnya di atas meja seraya membuka kedua kelopak matanya.


Biru, ya!, sebiru langit dan sedalam lautan. Manik yang sangat mereka kenal, namun dengan sorot mata yang amat sangat berbeda, menatap lurus mata keriput yang sudah meneteskan cairan bening.


Brak!.


Jojo langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai.


Brak!.


Brak!.


Di susul oleh Chibi dan Ogura.


"Ampuni kami ojou sama!. Kami layak mendapatkan hukuman." Seru mereka.


Yuki menghiraukan ketiga pria di lantai, maniknya tetap menatap dalam mata keriput yang masih meneteskan air mata. Yuki tersenyum hangat, mengirimkan perasaan menenangkan dari ujung meja.


Oh ya ampun!!, ojou san sangat mirip dengan Yuri sama!, seru Ame dalam hati.


Senyum itu .., senyum milik Yuri sama!, batin Akashi, Hiza, dan yang lain. Bahkan Mizutani dan Dazai pun berpikiran yang sama.


"Berdirilah." Pinta Yuki namun mereka masih tetap setia berlutut di lantai.


"Mi chan, bisa kamu suruh mereka untuk duduk kembali?." Pinta Yuki tanpa mengalihkan tatapannya.


Mizutani melirik Jojo lalu menganggukkan kepalanya. Hanya dengan anggukkan kepala Mizutani ketiga pria itu kembali duduk setelah membungkuk dalam kepada Yuki.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan tuan?." Tanya Yuki sopan, kakek Ryuuji segera menghapus air matanya dengan sapu tangan yang di sodorkan oleh Ame.


Mizutani melirik teman-temannya yang lain yang di abaikan oleh gadis itu, entah apa yang di pikirkan oleh teman-temannya tapi dengan ini mereka semua pasti sadar bahwa keturunan Hachibara keluarga utama tidak akan melirik sembarang orang (bawahan).


"Jangan panggil saya seperti itu ojou sama, mohon panggil seperti dulu, kakek Ryuu. Maaf jika permintaan saya membuat anda tidak nyaman." Kakek Ryuuji membungkuk di dalam duduknya.


Dulu ya, batin Yuki.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan kepada saya kakek Ryuu?." Tanya Yuki kembali. Sontak orang tua itu kembali menangis dengan tubuh bergetar.


"Ma maafkan saya ojou sama, tidak seharusnya saya membuat anda menunggu." Kakek Ryuuji menenangkan dirinya, tubuh bungkuknya berusaha untuk tegap.


"Jangan paksakan dirimu." Kata Yuki, kakek Ryuuji tersenyum lalu mengikuti perintah Yuki.


"Kakek Ryuu saya tidak memiliki banyak waktu apa anda ingin menanyakan sesuatu kepada saya?." Tanya Yuki untuk ketiga kalinya.


"Banyak yang ingin saya tanyakan kepada ojou sama, apa saja yang telah anda lalui selama ini?, apa ojou sama makan dengan teratur, bagaimana anda bisa tumbuh menjadi perempuan tangguh seperti sekarang, tentang penyakit ojou sama, dan masih banyak lagi tapi mungkin sekarang bukan waktunya." Yuki menganggukkan kepala membenarkan.


"Untuk sekarang, boleh saya tanyakan dua hal?." Yuki tersenyum kecil.


"Tentu." Jawab Yuki. Yang lain menyimak dalam diam, perlahan mengerti situasi mereka saat ini.


"Yang pertama, untuk apa anda membutuhkan baju serba hitam dan soft lens, anda harus tetap bersembunyi ojou sama." Tanya kakek Ryuuji namun kalimat terakhirnya penuh akan rasa khawatir.


Bersembunyi?, untuk apa?, batin Yuki.


"Ojou san!." Mizutani terkejut, Yuki tidak pernah membicarakan tentang ini dengannya.


Gadis ini, sudah bukan gadis kecil yang pernah mereka lihat, sorot matanya benar-benar sangat berbeda, bahkan mereka tidak bisa membaca pikiran atau gerak-gerik gadis itu. Padahal bertahun-tahun, siang malam mereka mempelajari ilmu itu.


"Yang kedua, apa rencana anda tentang penyerangan yang di lakukan pelindung kediaman utama?." Yuki tersenyum tipis, senyum yang bahkan nyamuk pun tidak dapat melihatnya.


Kakek satu ini sangat teliti rupanya, dia tidak membiarkan hal sekecil apa pun lolos dari pengamatannya. Satu pertanyaan tapi membutuhkan lebih dari dua jawaban, batin Yuki.


"Aku tidak akan berkomentar apa pun." Jawab Yuki yang membuat kaget para bayangan.


Kakek Ryuu tersenyum lebar.


"Anda sangat cerdas ojou sama, anda menyadari maksud terselubung saya. Tapi, kami perlu tahu apa yang anda pikirkan agar kami dapat melindungi anda." Yuki menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah Mizutani.


"Mi chan, kamulah pemimpin mereka. Lanjutkan apa yang ingin kamu lakukan, jangan hiraukan aku. Aku minta satu hal kepada kalian, kerjakan apa yang seharusnya kalian kerjakan, tentang diriku biarkan Mi chan yang mengurusnya." Yuki kembali menoleh ke depan.


"Maaf karena aku sudah tidak sopan masuk ke sini, memaksa Dazai untuk mempertemukanku dengan kakek Ryuu. Juga, sebuah kehormatan untukku bisa bertemu dengan pelindung rahasia klan, terima kasih untuk kesetiaan kalian." Yuki membungkuk empat puluh lima derajat.


Ame tidak terasa sudah menangis merasakan kehangatan setiap tutur kata yang keluar dari bibir remaja itu, inilah yang paling ia sukai dari keluarga utama keturunan-keturunan marga Hachibara, selalu menghargai para pelindung, pelayan, dan bawahan-bawahan yang lain. Sepertinya tidak hanya Ame yang berpikiran seperti itu.


"Maaf, karena sudah terlalu malam lain kali kita lakukan perkenalan dengan benar, memori balita ini sepertinya sudah lupa." Yuki mengulas senyum.


Mizutani dan Dazai lega Yuki menyembunyikan penyakitnya kepada para bayangan yang lain, akan berbahaya jika yang lainnya mengetahui penyakit di dalam tubuh Yuki yang tidak lain adalah sebuah hukuman, sudah di pastikan ketujuh bayangan itu akan mengamuk besar.


"Mi chan, Dazai boleh mengantarku pulang?." Tanya Yuki.


"Ya."


Yuki berjalan ke dekat pintu di ikuti Dazai di belakangnya. Lalu ia memutar tubuhnya mendapati semua orang sudah berdiri menghadap ke arahnya.


"Jangan menghukum Dazai terlalu keras Mi chan. Aku yang memaksanya." Nada suara Yuki berubah dingin, seakan mengancam Mizutani dan menggertak para bayangan yang sudah gatal ingin menyerang Dazai.


"Baik saya mengerti ojou san." Jawab Mizutani yang diangguki oleh Yuki.


Dazai dalam hati sangat bersyukur nyawanya masih melekat di dalam tubuhnya, ia membuka pintu menunggu Yuki.


Yuki membalikan badannya berjalan ke luar markas rahasia pelindung bayangan, sedangkan para bayangan membungkuk dalam memberikan hormat kepada gadis remaja selaku tuan mereka.


***


Dazai mengantarkan Yuki sampai di depan cafe menemani gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


"Dazai." Panggil Yuki, pria itu membungkuk ke dekat jendela mobil.


"Ya ojou chan?."


"Kamu bisa mengobati lukamu sendiri?." Yuki menatap wajah Dazai yang cukup mengerikan.


"Jangan khawatir ojou chan, perawat saya banyak hehe." Jawab Dazai terkekeh kecil.


"Terima kasih, juga maaf membuatmu jadi terpojok dan terluka." Dazai menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak ojou chan saya malah berterima kasih kepada anda, kalau anda tidak menolong saya malaikat pencabut nyawa sudah pasti lebih dulu membawa saya pergi." Ujar Dazai lalu kembali terpikirkan sesuatu.


"Sekarang sudah larut, jalanan juga nampak sepi apa tidak sebaiknya saya mengantar anda dari belakang?." Dazai menunjuk mobilnya dengan ibu jari.


"Tidak perlu, kamu segeralah pergi ke rumah sakit aku yakin lukamu cukup parah." Dazai menganggukkan kepala, melangkah mundur menjauh dari pintu mobil.


"Hati-hati di jalan ojou chan." Ucap Dazai membungkuk sembilan puluh derajat.


"Ung, kamu juga Dazai, hati-hati." Balas Yuki menghidupkan mobil lalu pergi meninggalkan parkiran depan cafe.


23 : 45 Yuki baru memasuki rumahnya melihat Masamune tertidur di sofa depan tv. Lagi, ada perasaan aneh yang mengusik hatinya. Yuki belum pernah mendapatkan perhatian seperti ini sebelumnya, mungkin. Setidaknya di dalam ingatannya sekarang ia tidak pernah, yah .., hanya satu orang yang selalu memberikan perhatiannya siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya.


Apa masa san menungguku?, batin Yuki hatinya merasakan kehangatan yang asing.


Yuki naik ke lantai dua mengambil selimut, handuk, dan baju tidurnya lalu kembali ke lantai satu menyelimuti Masamune. Kakinya mengarah ke dalam kamar mandi, ia banyak mengeluarkan keringat membuatnya risi tidak betah. Yuki tidak suka itu.


"Kamu baru pulang?." Suara serak bangun tidur menginterupsi telinga Yuki.


"Ung, satu jam yang lalu." Jawab Yuki menutup pintu kulkas, tangannya memegang botol lemon tea dinginnya.


"Kenapa Masa san tidur di luar?." Tanya Yuki memastikan.


"Aku menunggumu, apa semuanya baik-baik saja?." Yuki menghampiri Masamune duduk di samping wanita itu.


"Lain kali Masa san tidak perlu melakukannya lagi, tidurlah di kamar." Ujar Yuki, Masamune mengulurkan tangannya mengelus lembut kepala Yuki.


"Ung wakatta (Ya baiklah)." Yuki menatap manik Masamune mencari sesuatu di sana.


"Jangan sakit lagi." Yuki masih diam melihat senyum hangat di wajah Masamune.


"Ne, Yuki." Masamune menarik tangannya kembali membalas tatapan mata biru itu.


"Hm?."


"Dulu aku pernah memiliki adik perempuan tiga tahun lebih muda dariku, saat kecil dia sering tertawa dan bercerita kepadaku tapi semenjak masuk smp dia menjadi tertutup." Yuki mendengarkan dengan takzim. Masamune terdiam sebentar raut wajahnya berubah sendu.


"Aku menyesal karena terlalu sibuk dengan sekolah dan pekerjaan paruh waktuku. Kami sudah tidak memiliki ayah sejak kecil, untuk membantu perekonomian keluarga dan untuk meringankan beban ibu aku harus bekerja." Masamune menatap dalam manik Yuki.


"Kesibukanku membuat kami jarang bertukar cerita, hanya mengobrol seadanya, aku tidak tahu dan tidak sadar kalau adikku sedang mengalami masa-masa sulit, tahun pertama di bangku smanya adikku bunuh diri." Masamune menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Satu bulan setelah adikku meninggal aku menemukan buku catatan miliknya, catatan tentang dirinya selama ini. Dia terkena bully di sekolah, teman-teman smp yang selalu membullynya ternyata bersekolah di sma yang sama, pembullyan itu terus berlanjut sampai adikku memutuskan untuk mengakhiri hidupnya." Masamune mendongakkan kepala menatap langit-langit rumah.


"Aku sangat marah tapi ketimbang marah dengan para pembully aku lebih marah kepada diri sendiri, kenapa aku tidak menyadari kalau adikku sedang mengalami hal mengerikan seperti itu, kenapa aku tidak ada di saat dia membuatuhkanku, kakaknya. Kenapa aku tidak meluangkan waktu untuk bertukar cerita dengannya seperti dulu." Yuki menatap wajah sedih Masamune.


"Aku menuntut sekolah untuk masalah ini, tapi dengan bukti hanya buku catatan adikku masih tidak cukup bahkan sangat kurang, aku lemah, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya menangis, menangis, dan menangis." Masamune menutup matanya menahan air mata yang sudah ingin keluar.


"Aku tidak ingin kamu menyembunyikan semuanya sendiri Yuki, kamu mengingatkanku dengan adikku, maaf seharusnya aku tidak bersikap seperti ini karena aku hanya pengurus rumah tapi, aku --" Yuki menarik tubuh Masamune ke dalam pelukkannya, membiarkan kalimat Masamune menggantung.


Puk. Puk. Puk.


Yuki menepuk pelan punggung Masamune. Wanita itu tersenyum membalas pelukan Yuki membiarkan air matanya lolos begitu saja. Dari sikap dingin dan cueknya, Yuki memiliki empati besar dan kehangatan. Terbukti dari pelukkan yang gadis itu berikan memberikan kenyamanan dan kehangat padahal jika Masamune yang memeluk gadis itu Yuki tetap datar-datar saja.


"Terima kasih."


Dua kata yang Yuki ucapkan sukses membuat tangis Masamune pecah.