
Daren menunduk kala Yuki membisikan sebuah nama.
Hotaru terengah di ambang pintu. Maniknya bergerak cepat mencari keluarganya.
"Dengan ini calon tunangan Hachibara Yuki, putri dari klan Hachibara telah memilih ... Fumio Eiji sebagai calon tunangannya." Tegas Daren.
Suara gemuruh tepuk tangan menggema memenuhi udara. Hotaru membeku di tempat. Ia bingung. Hatinya senang juga sedih.
Fumio berjalan gagah menghampiri anggota keluarga utama. Daren menyuruh pemuda itu untuk berdiri di samping Yuki.
"Acara pertunangan akan diadakan pada musim gugur di bulan oktober. Selamat untuk Fumio Eiji san." Ucap Daren. Fumio membungkuk sopan sebagai balasan.
"Untuk para pelindung dan keluarga terhormat yang sudah mengikuti pilihan ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Kalian sudah berjuang keras. Silahkan nikmati pesta malam ini." Daren menjauhkan mic dari mulutnya.
"Fumio kun, selamat untukmu." Lusi memberikan pelukkan kepada Fumio.
"Terima kasih Lusi sama." Lusi beralih kepada Yuki.
"Kamu sudah melakukannya dengan benar." Lusi memeluk erat Yuki.
"Nenek, maaf. Aku pinjam Yuki sebentar." Hotaru yang sudah menemukan keluarganya segera merebut Yuki sebelum keadaan semakin buruk untuk saudarinya.
"Ya, kalian jangan terlalu lama. Tidak enak dengan tamu." Peringatan lembut dari
Lusi.
"Ung, aku usahakan." Jawab Hotaru. Meraih tangan Yuki mengaitkan ke lengannya sendiri.
Hotaru melirik sahabat karibnya sebentar lalu menuntun Yuki keluar dari pesta. Dua pelindung membungkuk kala melihat Hotaru dan Yuki keluar.
Hotaru terus menuntun Yuki masuk ke ruang kesehatan. Menyuruh orang yang berada di dalam sana meninggalkan ruangan.
Ia mendudukkan Yuki di pinggir ranjang kesehatan. Tangannya langsung meraih kedua tangan adiknya. Tangan kiri itu terlilit perban hingga ke jari-jari.
"Ada apa?." Hotaru mengusap-usap lembut permukaan perban.
"Jawab aku." Hotaru menarik tangan terluka Yuki, mengecupnya pelan.
"Kamu boleh tidak memilih Eiji. Kamu berhak memilih yang lain. Tidak akan ada yang marah." Ucap Hotaru.
"Yuki, katakan sesuatu." Lirih Hotaru memohon.
"Peluk aku, Hotaru."
Sontak Hotaru menatap wajah dingin adiknya. Tanpa membuat Yuki menunggu lama, ia beranjak duduk di samping adiknya meraih tubuh itu ke dalam rengkuhan lengan kokohnya.
"Maafkan aku. Istirahatlah." Hotaru menyandarkan kepala Yuki di dadanya.
Hotaru mengambil ponsel dari dalam saku jas menghubungi Daren. Ia memberi tahu ayahnya jika mereka berdua tidak bisa kembali ke pesta. Untunglah Daren tidak bertanya lebih jauh. Hotaru melirik Yuki yang sudah menutup mata.
"Kamu sudah tidur. Kita kembali ke kamar." Hotaru hendak meraup tubuh Yuki namun suara gadis itu menghentikannya.
"Nanti saja. Aku masih ingin di sini."
Hotaru mengusap lembut kepala saudarinya.
Satu dua jam berlalu, akhirnya Hotaru mengangkat Yuki ke kamar. Ia berpapasan dengan Fumio di lorong bangunan pribadinya.
"Maaf, mungkin dia terlalu terbebani karena aku." Ucap Fumio.
"Kau tahu Eiji. Aku merasa sangat buruk." Hotaru melirik wajah Yuki yang tertidur.
"Keputusan yang Yuki lakukan sudah benar. Tapi, itu juga menyakiti dirinya sendiri." Hotaru menarik nafas panjang beralih menatap Fumio.
"Aku rasa Yuki sudah menyadari hubungan kalian dulu. Tapi Yuki yang sekarang, masih sulit menerimanya."
***
Membuka kelopak mata yang masih berat. Pemandangan pertama terlihat adalah kemeja hitam milik Hotaru. Lengan saudara kembarnya masih memeluk Yuki erat, ia melihat sekitar. Mereka sudah berada di kamarnya.
Yuki perlahan melepaskan pelukkan Hotaru, setelah terlepas ia berguling hendak ke sisi ranjang satunya namun betapa terkejutnya Yuki melihat sosok lain tertidur di sana. Menghadap ke arahnya dengan kedua lengan yang terlipat.
Membeku.
Nafasnya juga tercekat.
Apa yang terjadi?, batin Yuki.
Ia segera melirik ke arah jam di atas komputer. Yuki tidak punya banyak waktu, ia sudah menyia-nyiakan waktunya.
Gadis itu bergerak sepelan mungkin, meluncur ke bawah. Masuk ke dalam selimut lalu keluar di depan ranjang. Ia melirik keduanya yang masih tertidur. Meremas kuat dadanya lalu menyelinap keluar.
Sunyi.
Yuki sesekali bersembunyi dari pelindung yang sedang berjaga. Ia berjalan lagi, menyelinap masuk ke dalam salah satu kamar.
Manik Yuki segera menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang di kamar itu.
"Kamu terlambat." Yuki menoleh ke samping.
Ayahnya sedang duduk sambil menyesap kopi. Yuki berjalan pelan menghampiri Daren.
"Maaf, aku ketiduran." Jawab Yuki duduk di kursi di samping Daren.
"Mau langsung membahas rencana besok?." Tanya Daren.
"Ung."
"Jelaskan."
Yuki mengeluarkan Je.
"Je rencana satu." Ucap Yuki.
"Di konfirmasi."
Je mengeluarkan layar hologramnya.
"Ayah sudah berhasil membuat janji dengan raja bhutan?." Tanya Yuki.
Sebelumnya Yuki langsung meminta Daren bertemu dengan raja negara bhutan itu kala Daren menawarinya bantuan.
Hanya Daren yang bisa mengurus orang-orang penting di tiap negara yang berbeda.
"Ya." Jawab Daren. Yuki mengangguk kecil menunjuk layar hologram.
"Kemungkinan tempat persembunyian BD ada di sini. Ame san, Jojo san, dan Chibi san akan menyamar menjadi wisatawan di sana. Mereka menunggu sinyal dari ayah, salah satu dari mereka akan mengikuti gerakkan ayah." Jelas Yuki.
"Lalu kamu?."
"Kita berpisah di bandara. Aku akan pergi ke Hawai. Kakek Ryuu bersamaku. Aku minta sepuluh hari. Dalam sepuluh hari kita buat klan naga putih kalang kabut." Jelas Yuki.
"Kamu akan bergerak sendiri?." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Para bayangan bersamaku. Setelah ayah selesai di bhutan, bisakah ayah membuat janji dengan perdana menteri russia?." Tanya Yuki.
"Apa yang terjadi di sana?." Daren menyeruput kopinya.
"Dugaanku, mereka melindungi BD dan klannya. Bisakah ayah melakukan sesuatu dengan perdana menteri ini." Daren melirik putrinya.
"Serahkan kepada ayah." Daren menjulurkan jarinya mencoba menyentuh Je.
"Kalau dugaanmu benar, perdana menteri russia diam-diam bergerak tanpa sepengetahuan petinggi yang lain." Kesimpulan Daren.
"Ung. Aku sudah menangkap dua kunci milik BD. Tahun baru nanti akan aku jadikan tahun baru terakhir pengejaran." Ujar Yuki.
Daren menjauhkan tangannya dari burung hantu itu menoleh menatap putrinya.
"Apa ada yang salah?." Tanya Yuki yang mendapatkan tatapan dalam penuh kecurigaan dari Daren.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan dari ayah?." Yuki mengangkat satu alisnya.
"Tidak." Jawab Yuki.
Daren mengangkat tangannya meletakan di atas kepala Yuki. Manik biru mereka saling mengunci.
"Eva." Yuki mengerutkan keningnya mendengar panggilan Daren.
"Kamu putri siapa?." Yuki di buat bingung oleh pertanyaan aneh ayahnya.
"Putri ayah." Jawab Yuki.
"Siapa?." Yuki memutar bola matanya lalu berhenti kembali menatap manik yang mirip seperti dirinya.
"Daren Augustin Ayhner." Jawab Yuki.
"Kamu tahu artinya?." Apa yang sebenarnya ingin ayahnya katakan?, batin Yuki.
"Daren, kami lahir malam hari. Augustin, sebenarnya, Augustav. Ayah memiliki saudari kembar yang meninggal di usia satu tahun." Yuki tertegun.
"Kami anak kembar yang saling memiliki kekurangan sejak di lahirkan. Jantung ayah lemah, paru-paru saudari ayah jauh lebih buruk. Dia tidak bisa bertahan." Daren meraih tangan Yuki tanpa melepas tangannya yang berada di atas kepala gadis itu, meletakkannya di dada sebelah kiri. Tepat di jantung Daren.
"Jantung ini bukan milik ayah. Itu miliknya. Setelah ayah mengetahui fakta itu dari surat yang di tinggalkan kedua orang tua ayah, ayah mengganti nama tengah ayah." Daren mengulum senyum.
"Daren Augustav Ayhner, lahir malam hari di bulan agustus. Altha Augustin Ayhner, penyembuh mulia lahir di bulan agustus. Arti Ayhner sendiri dari bahasa eropa adalah mulia." Yuki menelan salivanya dengan susah payah.
"Altha meninggal di bulan agustus tepat di usia kami yang baru menginjak angka satu tahun, memberikan jantungnya kepada ayah agar ayah tetap bertahan hidup. Bagaimana dengan kedua orang tua ayah?. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi, semua harta mereka sudah habis untuk pengobatan kami. Mungkin karena itu ayah di tinggalkan di panti asuhan." Daren meremas lembut tangan Yuki.
"Itu adalah cerita hidup ayah. Sebenarnya ayah tidak ingin menceritakannya lagi namun, ayah ingin kamu tahu. Kamu juga putri ayah. Bukan hanya putri Hachibara Ayumi." Sontak Yuki melebarkan matanya mendengar nama itu. Daren menegaskan dengan meremas lebih erat tangan Yuki.
"Kamu memiliki hak dari ayah bukan semata-mata hanya dari keluarga klan Hachibara. Kamu berhak hidup. Memilih jalan yang berbeda dari saudari ayah. Kamu putri ayah. Ayah memberikanmu nama Eva bukan tanpa alasan." Daren berhenti sejenak menepuk-nepuk pucuk kepala Yuki dengan lima jarinya.
"Eva dalam bahasa inggris adalah hidup. Eva dalam bahasa jerman, ibrani, dan beberapa negara yang lain adalah kehidupan, atau pemberi kehidupan. Eva juga memiliki arti lain. Menyukai perubahan, intuitif, penuh inspirasi, mandiri dan kritis kepada diri sendiri dan orang lain."
"Itulah kamu. Kamu berhak untuk hidup. Ayah tidak ingin kehilangan orang yang ayah cintai lagi. Kamu paham betul bagaimana rasanya kehilangan. Berjanjilah kepada ayah." Daren menatap dalam-dalam manik putrinya.
"Tetap hidup." Daren membawa tangan Yuki mendekati mulut.
Cup.
Daren mencium telapak tangan putrinya.
"Ayah sangat mencintaimu. Mencintai kalian." Ucap Daren membawa Yuki ke dalam pelukkannya.
"Apa pun yang kamu sembunyikan, ayah percaya kepadamu. Kita semua akan hidup bersama selama mungkin." Yuki terdiam. Ia merasa bersalah.
Maaf, ayah, batin Yuki membalas pelukan Daren.
"Istirahatlah, besok kita berangkat setelah sarapan." Daren melepas pelukkannya.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Yuki menatap manik Daren.
"Apa?."
"Seperti apa Altha itu?." Daren tersenyum berdiri mengambil dompetnya dari dalam laci nakas lalu kembali duduk di samping Yuki.
Daren membuka dompet mengambil selembar kertas memberikannya kepada Yuki. Gadis itu menerima kertas yang masih bagus dan terawat, perlahan membaliknya.
Foto dua bayi memakai baju yang sama persis, bahkan warnanya pun sama. Keduanya sedang memegang botol susu masing-masing. Bayi di sebelah kanan memiliki warna mata biru gelap yang Yuki tahu adalah ayahnya. Sedangkan bayi di sebelah kiri memiliki warna mata merah pudar hingga hampir terlihat seperti merah muda.
"Sangat cantik." Celetuk Yuki mengusap wajah bayi Altha dengan ujung telunjuknya.
"Ya, dia memang sangat cantik." Daren ikut tersenyum menatap foto satu-satunya miliknya.
"Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki warna mata seindah ini?." Yuki langsung jatuh cinta dengan manik itu.
"Ini mustahil bukan." Lanjut Yuki mendongak menatap Daren.
Cup.
Daren mengecup poni Yuki mengejutkan gadis itu.
"Siapa yang lahir lebih dulu?." Daren menunduk seraya menunjuk salah satu bayi.
"Altha lahir lebih cepat dua puluh detik dari ayah." Yuki tersenyum.
"Aku harus memanggilnya bibi Altha." Ujar Yuki.
"Hm."
"Kembali ke kamarmu, dan tidur. Ayah masih ada pekerjaan." Daren mengambil foto itu dari tangan Yuki memasukkannya kembali ke dalam dompet.
"Mau aku bantu?." Tawar Yuki.
"Tidak terima kasih. Kamu di larang berurusan dengan perusahaan sampai waktunya nanti." Jawab Daren.
"Boleh aku tidur di sini?." Daren melirik putrinya. Yuki dengan kesal meletakan satu tangan di atas meja, menyangga dagu.
"Hotaru membawa orang lain tidur di ranjangku. Aku tidak mungkin kembali ke sana." Daren mengingat pesan dari putranya tentang betapa kacaunya kamar Yuki.
"Kamu tidak perlu memilih antara Dimas dan Eiji kun." Yuki bergeming mendengar kalimat Daren.
"Kamu bisa bercerita kepada ayah tentang perasaanmu." Imbuh Daren.
"Jangan memaksakan diri membawa semua beban di pundakmu. Kamu putri ayah yang masih delapan belas tahun. Ada saudara kembarmu, ada ayah, berbagilah kepada kami." Yuki menegakkan posisi duduknya.
"Tolong jawab dengan jujur." Ucap Yuki tiba-tiba berubah serius.
"Jika aku membunuh iblis itu apa ayah akan membenciku?." Daren terkejut namun tidak dengan ekspresinya yang tetap tenang.
"Hm. Ayah akan membencimu."
***
Sinar matahari pagi mengganggu tidur nyenyaknya. Hotaru terkejut kala tidak merasakan tubuh ramping saudari kembarnya, ia memeluk udara kosong!.
Hotaru membuka matanya dengan cepat seraya duduk di atas kasur. Ia menoleh. Fumio sudah tidak ada.
"Ooh, dia sudah pulang." Hotaru menoleh cepat ke samping.
Cup.
"Ohayou." Manik coklat terangnya mengerjap-ngerjap mendapati Yuki sudah mandi dan berpakaian rapi, berdiri di samping ranjang.
"Mandi sana, bau." Celetuk Yuki membuka pintu kamar.
"Mau kemana?." Tanya Hotaru turun dari kasur.
"Sarapan. Kamu harus mandi dan segera menyusul." Jawab Yuki mengedikkan dagunya ke arah jam dinding.
Hotaru melirik jam yang di tunjuk Yuki. 07.15 a.m. Ia bangun kesiangan ternyata.
"Aku akan segera menyusul." Ucap Hotaru berjalan melewati Yuki.
Setelah mandi dan menemui beberapa pelindung Hotaru langsung pergi ke ruang makan. Mendapati semua orang sudah berada di sana, ia juga menemukan teman karibnya duduk di samping Yuki.
"Sudah lama kamu tidak ikut sarapan bersama kami." Sapa Hotaru kepada Fumio, ia menarik kursi di samping Daren.
"Daren dono yang mengundangku." Jawab Fumio. Hotaru melirik sekilas ayahnya.
"Ayo sarapan, kasihan Yuki sudah menunggu sejak tadi." Ucap Lusi tersenyum lebar. Wanita itu sedang bahagia melihat personil di meja makan bertambah.
Pelayan segera melakukan tugasnya. Tenggelam ke dalam keheningan menikmati makanan masing-masing.
Daren melirik Lusi dan yang lain pun sudah menghabiskan makanan mereka. Dengan tenang Daren membuka suaranya.
"Eiji kun, aku mengundangmu pagi ini untuk memberi tahu sesuatu. Aku pikir kamu perlu mengetahuinya." Ucap Daren menarik atensi semua orang.
"Pagi ini Yuki akan pergi menemaniku ke luar negeri, mengurus beberapa bisnis." Sontak Hotaru menoleh menatap Yuki tidak percaya.
"Aku tidak tahu tentang ini. Apa nenek juga tahu?." Tanya Hotaru tidak percaya. Bagaimana bisa tidak ada orang yang memberitahunya, apa lagi ini hal penting. Yuki tidak boleh pergi jauh dari para pelindung.
"Ayah sudah meminta izin kepada nenek Hotaru. Ayah dan Yuki akan berada di luar negeri selama sepuluh hari." Jawab Daren.
"Sepuluh?, apa aku tidak salah dengar?." Hotaru menatap ayahnya.
"Jangan terlalu khawatir. Ke luar negeri tidak seburuk itu. Tidak ada yang mengenal Yuki, BD hanya melihat wajah balitanya. Ayah perlu Yuki untuk membantu." Balas Daren.
"Biar aku saja." Hotaru masih menatap adiknya yang tanpa ekspresi itu.
"Klan membutuhkanmu tetap di sini. Sekolahmu juga di mulai tiga hari lagi bukan." Daren menepuk pundak putranya.
"Aku tidak percaya Yuki hanya akan membantu pekerjaan ayah." Tegas Hotaru.
"Hotaru." Panggil Lusi.
"Hotaru." Panggilan kedua barulah pemuda itu menoleh menatap neneknya.
"Perusahaan di australia dan di beberapa cabang lain, sedang mengalami kesulitan. Ayahmu akan kehabisan waktu dan tidak sempat datang di acara pertunangan Yuki jika tidak di bantu." Jelas Lusi sepenuhnya benar, keadaan perusahaan itulah yang Daren gunakan sebagai alasan. Sebenarnya pria itu bisa menanganinya sendiri dengan cepat.
"Maaf saya ikut bicara. Apa Daren dono bersedia saya bantu?." Tawar Fumio. Daren tersenyum hangat.
"Terima kasih, selain itu aku ingin membawa Yuki mencari suasana baru." Balas Daren.
Mendengar ucapan Lusi dan jawaban Daren kepada Fumio akhirnya Hotaru pun mengalah.
"Tidak bisa hanya pergi dua hari?." Tawar Hotaru.
"Tentu tidak." Jawab Daren.
"Boleh aku menyusul?." Hotaru masih berusaha membujuk.
"Hotaru." Tegur Daren tegas membuat putranya terdiam pasrah.
"Sudah waktunya." Ucap Daren melirik jam di tangan.
"Eiji kun, maaf ya paman bawa Yuki pergi dulu." Fumio tersenyum ramah.
"Anda tidak perlu seperti itu Daren dono. Saya bisa bertemu ojou sama setelah pulang nanti." Jawab Fumio dengan nada gurauan yang tetap memiliki unsur kesopanan. Daren tertawa lirih.
"Ibu, kami berangkat dulu." Pamit Daren membungkuk sebelum beranjak berdiri.
"Nenek, aku akan segera kembali." Sambung Yuki mengecup pipi Lusi dan berdiri menunggu Hotaru yang sedang berjalan ke arahnya.
"Aku akan mengantarmu sampai ke depan." Kata Hotaru menggandeng tangan Yuki.
Yuki berjalan di samping Hotaru, maniknya terus melirik ke arah pemuda itu. Keduanya tidak saling bicara sampai Hotaru membukakan pintu penumpang di samping Daren. Yuki ragu untuk masuk, ia kembali mendongak menatap Hotaru.
"Aku tidak marah. Segera kembali." Ucap Hotaru memeluk Yuki lalu mengecup kening gadis itu. Manik mereka saling bertemu. Hotaru menarik nafas berat.
"Aku akan merindukanmu." Imbuhnya.
"Ung. Aku juga." Balas Yuki mengecup pipi Hotaru.
"Aku pergi." Pamit Yuki masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati." Hotaru menatap adiknya sebentar lalu menutup pintu mobil.
Mobil perlahan berjalan pergi meninggalkan kediaman utama. Daren memberikan kotak permen kecil yang cukup berat kepada Yuki.
"Kamu sudah bisa mengukur penggunaan pilmu bukan. Tidak perlu orang lain mengingatkanmu. Perjalanan kita baru saja di mulai." Ucap Daren. Yuki menerima kotak permen penuh pil bundar di dalamnya.
"Ya, aku mengerti." Jawab Yuki.
***
Bandara. Gadis itu memakai kaca mata hitam, berjalan membaur ke barisan para wisatawan yang akan pergi ke hawaii seperti dirinya. Daren sudah masuk ke dalam jet pribadinya sejak lima menit yang lalu.
Chek in sampai duduk di pesawat Yuki melakukannya sangat santai meski sebenarnya ia juga waspada.
Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di hawaii. Pesawat sudah mendarat tiga menit yang lalu, kaki jenjangnya melangkah memisahkan diri dari rombongan. Kaos hitam dengan huruf Q besar di bagian belakang memudahkan kakek Ryuu mengenali Yuki.
Kakek Ryuu langsung saja berjalan di belakang gadis itu tanpa mengatakan apa pun. Keduanya memasuki taksi yang berbeda, dan mengarah ke tempat yang berbeda pula.
Yuki keluar dari taksi di pinggir jalan. Ia menyeret kopernya menuju halte namun tidak naik bus mana pun. Sebuah taksi berhenti di depan halte, Yuki langsung berdiri membuka bagasi belakang memasukkan kopernya ke dalam dan duduk di bangku penumpang.
"Sepertinya kita berhasil mengelabui kamera sekitar." Kakek Ryuu membuka percakapan.
"Ung, merepotkan." Balas Yuki.
Mobil memasuki halaman perhotelan di pinggir pantai. Yuki segera masuk ke dalam hotel di ikuti oleh kakek Ryuu di belakangnya.
Lift naik ke lantai enam, nomor kamar mereka adalah 606. Yuki dan kakek Ryuu menyeret koper mereka memasuki kamar hotel super mewah dengan tiga tempat tidur.
"Ojou sama, saya akan pindah kamar. Tidak sopan jika anda," kakek Ryuu terdiam seketika melihat Yuki mengangkat tangannya.
"Tidak lama. Kita juga tidak akan banyak menghabiskan waktu di sini." Jelas Yuki seraya melepas kaca mata hitamnya.
"Bersiap kakek Ryuu." Lanjut Yuki tersenyum manis kepada kakek tua itu.
"Baik ojou sama." Kakek Ryuu membungkuk sekilas lalu beranjak ke dalam kamar mandi.
Gadis itu berjalan mendekati jendela, menatap pemandangan indah di luar sana. Ia segera membuka koper mengambil tas koper miliknya dan beberapa pakaian.
Ceklek.
"Silahkan ojou sama." Yuki membalikan badan menuju kamar mandi.
Ia memasang lensa dan lapisan tipis di permukaan wajahnya, ia juga memberikan lemak buatan di sekujur tubuh. Sentuhan terakhir, wig pendek berwarna hitam. Yuki memakai jaket besar dan jeans kedodoran melangkah keluar dari kamar mandi.
"Kita berangkat sekarang, kakek Ryuu." Yuki melirik kakek Ryuu yang sudah siap dengan penyamarannya.
"Baik, ojou sama."
Keduanya meninggalkan kamar 606 masuk ke dalam lift menuju lantai teratas.
Ting!.
Lift terbuka. Mereka berjalan ke salah satu kamar mengetuk pintu dua kali.
Ceklek.
Hiza menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Silahkan." Hiza membuka lebar pintu hotel.
Yuki masuk ke dalam kamar hotel yang tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya di nomor 606. Ia menemukan Akashi sedang duduk di sofa bundar.
"Oj," Yuki segera menghentikan Akashi agar tidak memanggilnya.
"Maaf, saya refleks." Lanjut Akashi. Suara serak, berat, dan kasar itu mengalun keluar dari bibir tebal itu.
"Tidak masalah. Dimana wanita itu?."
Hiza mendekati Yuki, segera menuntun gadis gempal itu masuk ke dalam salah satu kamar.
Yuki menyapu pandangannya ke seluruh sudut kamar. Seorang wanita cantik duduk di kursi membelakangi pintu menatap keluar kaca besar.
"Kalian, masuk." Titah Yuki lalu berjalan ke meja bundar di kamar itu, meletakan tas kopernya.
Ceklek.
Akashi terakhir masuk ke dalam kamar setelah di panggil oleh Hiza. Mereka mengamati gadis itu yang berdiri di samping wanita yang tidak lain adalah sandra mereka.
"Apa yang sekarang kalian inginkan!." Jerit wanita itu kepada kaca di depannya.
"Maaf, membuat anda ketakutan dan berada jauh dari keluarga." Wanita itu berjengit menjauh dari suara menakutkan milik Yuki.
"Apa maumu?!." Teriaknya histeris.