Futago

Futago
Kecemburuan Yuki.



Tubuh kecilnya membeku. Cengkeraman di tangan dan lehernya tidaklah erat. Hanya sebatas memegang namun aura dan tatapan itu yang membuat Will terguncang.


Yuki menurunkan tangan Will dan menarik tangannya dari leher berpindah ke pucuk kepala anak itu. Yuki membungkuk untuk menatap manik yang bergetar karena ulahnya.


"Kamu sangat hebat. Aku tidak meragukanmu. Tapi misi kali ini sangat beresiko. Aku tidak ingin kehilangan bibit berlian klan sepertimu." Ucap Yuki sembari mengusap lembut kepala Will.


Rona merah muncul di telinga dan pipi Will. Bukan hanya karena kalimat manis dari Yuki, namun juga wajah gadis itu yang berada tepat di depan wajah Will.


"Apa kamu sudah mengerti?." Will tidak kuasa membuka mulutnya, ia segera mengangguk-anggukkan kepala untuk menjawab. Yuki tersenyum manis seraya menegakkan tubuhnya.


"Anak pintar." Ucap Yuki masih mengusap kepala Will. Ia mengedarkan pandangan ke pinggir arena.


"Apa masih ada yang ingin protes?. Cepat keluar, aku berikan kesempatan." Ujarnya.


Setelah mengatakan itu tak di sangka lebih dari sepuluh orang keluar dari tempat mereka. Berlutut kepada Yuki.


Yuki melepaskan tangannya dari Will menyuruh anak itu kembali duduk.


Gadis itu menatap satu persatu pelindung di kanan dan kirinya, menilai mereka. Niat Yuki adalah menggolongkan pelindung menjadi beberapa bagian. Lalu ia akan mengerahkan pelindung dengan mudah untuk misi-misi yang akan datang.


"Takehara san, bisa bergabung dengan kami?." Fumihiro membungkuk sebentar lalu berjalan mendekati Yuki.


"Lima belas lawan dua. Jangan sungkan-sungkan untuk melukaiku."


Lusi mencoba mengatur nafasnya. Ia masih tidak biasa melihat cucu perempuan yang dulu membenci kekerasan kini malah sering melakukannya.


"Maaf bu, aku yang membuat Yuki seperti itu." Ucap Daren.


"Tidak. Ayahmu yang memintanya. Kamu sudah benar melakukan tugasmu, hanya mata tua ini masih melihat tingkah lucunya." Pandangan keduanya lurus ke depan.


Mendengar itu para pelindung tingkat tinggi menyingkir memberikan arena lebih luas.


Yuki terlihat sedang melakukan peregangan kecil.


"Kami akan menyerang kalian lebih dulu." Ucap Yuki.


"Takehara san." Lirik Yuki kepada pria di belakangnya. Para pelindung segera bersiaga.


"Baik."


Yuki menghentikan peregangannya, berdiri diam bak patung. Hening. Tiba-tiba semuanya terdiam. Bahkan angin pun tidak berani berhembus. Aura intimidasi keturunan langsung klan memang tidak main-main. Meski yang ini sangat berbeda dengan sang pewaris.


Jika Hotaru menekan udara di sekitar menjadi sangat berat, panas, tubuh seperti di kuliti hidup-hidup. Lain dengan saudari kembarnya. Yuki seakan menyeret mereka masuk ke ruang hampa udara, dingin, mencekik.


Sebagai menantu dari keluarga besar penuh sejarah dan menganut tradisi kental zaman dahulu, Lusi sering mengalami tekanan seperti ini. Sebuah tangan besar menumpu pada tangannya.


"Nenek mau kembali ke kamar?." Kehangatan dari cucu laki-lakinya.


"Nenek akan menunggu cucu nenek selesai." Jawabnya.


"Nenek tidak perlu memaksakan diri." Lusi tersenyum.


"Obat yang Yuki berikan sangat membantu. Nenek sudah sehat sekarang. Nenek ingin di sini." Hotaru menganggukkan kepala paham. Mereka kembali melihat Yuki di tengah arena.


Mari lakukan dengan cepat, batin Yuki.


Ia mencoba untuk bergerak seperti para bayangan. Menghilangkan hawa keberadaan, sangat cepat, kuat, situasi ini bisa membantunya untuk berlatih juga.


Zwuuuuusshhh ...


Gadis itu tidak menggunakan bela diri klan. Setelah mendapatkan pembelajaran dari Miu, gurunya. Yuki lebih mengerti pentingnya aliran chi yang ia kagumi. Menguatkan otot-otot tubuhnya, Yuki memusatkan di dua ujung jari.


Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.


Sekarang ia bisa dengan mudah mendaratkan satu totokan di tubuh para pelindung. Tidak perlu menotok berkali-kali agar bisa berefek. Enam orang sudah di bereskan. Yuki melirik Fumihiro dari balik tubuh pelindung yang terdiam seraya mengangkat satu alisnya.


Apa yang dia lakukan?, menonton?, batin Yuki.


Sepertinya Fumihiro baru tersadar dan segera menyerang lawannya. Yuki segera mundur melihat dua serangan dari kanan dan kirinya.


Pak.


Set.


Zrug!.


Tok. Tok.


Sayuri tidak berkedip menatap ke tengah arena. Wajah kagum tak berujung terpampang jelas di wajahnya.


Mah, ojou sama kita sangat cantik. Dia seperti dewa perang .., terima kasih mah sudah mengirimku ke sini, batin Sayuri.


Morioka yang sudah melawan Fumihiro di awal tersenyum kecut melihat gaya bertarung Yuki yang sangat lincah. Sama persis seperti pertama kali mereka bertemu. Gadis itu menggagalkan misi pertama yang ia pimpin.


Buk. Buk.


Fumihiro menjatuhkan dua orang terakhir. Membalikan badan mencari nona mudanya yang kini sangat membuatnya takjub dengan kemampuan bela dirinya.


Yuki sedang sibuk mengecek nadi dan mengamati aliran chi para pelindung yang sudah di lumpuhkan. Gadis itu akan meminta pelindung mengingat jadwal latihan baru mereka. Setiap pelindung yang ia cek memiliki jadwal yan berbeda, beberapa orang ada yang sama.


Satu selesai di cek, ia akan melepaskan totokan, terus berlanjut sampai ke pelindung terakhir.


"Terima kasih untuk semangat kalian. Silahkan melanjutkan latihan." Ucap Yuki membalikan badan hendak kembali duduk namun desir angin dari depan membuatnya sangat terkejut. Siapa lagi yang bisa menandingi gerakkan para bayangan kalau bukan sang pewaris.


"Aku juga ingin pemanasan." Rayu Hotaru menunduk menatap adiknya yang sudah membuatnya ikut bersemangat.


"Kita ada rapat." Tolak Yuki.


"Sebentar." Hotaru menekuk lututnya mensejajarkan wajah mereka.


Puk puk.


Yuki menepuk pipi Hotaru pelan.


"Rapat." Tegas Yuki.


Namun Hotaru tidak mendengarkan dan langsung meninju ke depan.


Wush!.


Manik Yuki melebar. Untung saja ia bergerak cepat memiringkan kepalanya, kalau tidak sudah di pastikan ia akan terpental ke belakang dengan wajah yang menjadi samsak Hotaru.


"Kalau tidak sekarang, kapan lagi?." Setelah mengatakan itu Hotaru mengecup lembut kening Yuki.


Karena sudah di buat kesal gadis itu pun membalas pukulan Hotaru dengan bogeman tak kalah kuatnya mengarah ke perut Hotaru.


BUGH!.


PAKK!.


Zzzssssttt ...


Hotaru terdorong jauh ke belakang, bibirnya tersenyum lebar seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit menahan pukulan Yuki.


Gadis itu terlihat memutar bola matanya malas. Serangannya tidak berhasil.


"Jangan terlalu keras. Kamu bisa menyakiti dirimu sendiri." Gerutu Hotaru berjalan santai mendekat. Namun tiba-tiba bayangannya tertinggal di belakang dan pemuda itu sudah di depan Yuki.


Set!.


Yuki segera menunduk bergerak ke samping. Ia melindungi tubuhnya dari hempasan tangan Hotaru dengan lengannya.


Akh!, keras. Hotaru?, batin Yuki terkejut setelah menjaga jarak lagi.


"Kamu terkejut?. Bagaimana?, bukankah ototku bisa di andalkan?." Ucapan Hotaru membuat Yuki seketika tertawa lepas.


Jadi ini alasannya ngotot ingin pemanasan. Menunjukkannya padaku agar percaya, hahaha ... Lucu!, tentu saja aku percaya, batin Yuki wajahnya mengendur.


Tawa yang puluhan tahun silam hilang dari kediaman utama kini menggema mengisi dojo. Para pelindung dan pelayan tak sedikit yang menitikkan air mata.


"Hotaru!."


"Yuki!."


Panggil keduanya secara bersama-sama, di susul oleh senyum yang saling mengembang dan mengatakan kata yang sama.


"Move!."


Sruuaaakkk !!!.


Mereka saling menyerbu ke depan. Berkelit, menyerang, menghindar. Gerakkan tangkas cepat meski tidak sepenuhnya namun mampu membungkam semua orang.


Udara di dalam dojo tidak panas maupun dingin, terasa ringan dan menghipnotis. Keduanya saling tersenyum dan sesekali tertawa, menertawakan serangan masing-masing yang tidak berhasil mengenai sasaran.


"Indah." Celetuk Lusi menghapus air matanya.


"Cucu-cucu ibu sudah kembali." Sambung Daren.


"Ya. Andai ayahmu melihat ini, dia pasti sangat bangga." Daren mengulurkan sapu tangannya kepada Lusi.


"Ayah pasti melihat mereka bu." Lusi menghapus air matanya dengan sapu tangan Daren.


"Heee ...?, seharusnya kamu mengincar rahangku Yuki." Ledek Hotaru menangkis tangan Yuki dari perutnya.


WUSH!.


Tubuh Yuki berkelit memberikan pukulan samping ke leher Hotaru lalu tendangan ke pinggang. Hotaru bergerak menghindar dan langsung menyerang Yuki ke depan. Gadis itu mengecoh Hotaru dengan gerakkan kakinya, beralih berdiri di belakang Hotaru meletakan dua jarinya tepat di leher Hotaru.


"Tujuanku di sini. Skak!. Game over!." Seru Yuki senang lalu mengalungkan tangannya yang lain di leher Hotaru.


Bergelayutan di sana.


"Hahaha, baiklah satu kosong." Kata Hotaru menekuk kedua lututnya meraih kedua kaki Yuki.


Hup!.


Gadis itu sudah bertengger di punggung saudara kembarnya, melingkarkan kedua tangan di sekitar leher Hotaru. Hotaru menoleh ke belakang menatap Yuki.


"Es krim terdengar enak kalau di makan sekarang." Ujar Hotaru, wajah Yuki semakin cerah yang membuatnya terlihat sangat manis.


"Es kriiim ..!." Serunya setuju.


"Hahaha ..." Hotaru tertawa seraya berjalan meninggalkan arena.


"Sedikit mochi strawberry?." Imbuh Hotaru.


"Banyak mochiii ..." Seru Yuki mengacungkan satu tangan ke depan dan menggoyang-goyangkan kakinya.


Kebiasaan si kembar sejak kecil. Dunia seakan hanya milik mereka, bahkan Fumio kadang hanya menjadi piguran. Bayangan si kembar sudah menghilang di balik pintu dojo.


***


Di ruang rapat dengan anggota seperti biasanya tanpa Will. Yuki mulai membahas rencananya. Semua orang mendengarkan dengan seksama. Setelah itu ia juga memberitahu rahasia tato klan naga putih. Tentang kecurigaannya bahwa sudah lama klan naga putih mengincar klan Hachibara. Bukan hanya karena alat yang ia ciptakan namun masih ada alasan lain. Yuki sedang mencari pemecahan untuk masalah itu.


Yuki memilih Morioka yang kemampuannya sudah berkembang menjadi pemimpin misi di Afrika. Mereka akan pergi besok pagi-pagi. Setelah rapat panjang yang menguras tenaga Yuki mengumpulkan tujuh pelindung tingkat atas yang sudah ia pilih bersama Morioka. Menjelaskan rencana dan tugas mereka.


Memberikan bekal racun gas milik Hotaru dan senjata api lengkap untuk berjaga-jaga. Yuki juga tidak menutup-nutupi tentang kebusukan klan naga putih dan rahasia sebenarnya di masa lalu. Tujuannya untuk membakar semangat para pelindung. Mereka adalah satu di bawah payung yang sama, klan Hachibara.


Yuki selesai dengan para pelindung ia tidak kembali ke kamarnya meski jam sudah menunjuk angka dua belas. Ia berjalan ke ruang laboratorium penelitian, menyusul Hotaru dan Yamazaki.


Keduanya sedang sibuk membuat racun gas seperti yang Yuki minta. Sedangkan gadis itu membuat penawarnya. Berkutat tanpa bicara. Yuki takjub dengan penampilan Hotaru yang terlihat sangat berbeda.


Yuki sudah memutuskan ia akan lebih terbuka tentang menghadapi klan naga putih. Ia juga menerima saran dari orang lain dengan keputusan sepenuhnya ada padanya.


Pukul tiga dini hari mereka bertiga meninggalkan lab kembali ke kamar masing-masing. Yuki mengganti baju tidur dan duduk di depan komputer mengecek gerakkan para bayangan yang sudah berangkat tadi malam.


"Je."


"Ya."


Yuki menatap burung hantu itu lekat-lekat.


"Je aku bisa merasakan apa yang disebut bahagia lagi. Aku tidak sendiri. Perutku terasa dingin dan menggelitik saat bersama Eiji. Aku merasa jauh lebih baik." Aku Yuki.


"Itu bagus Yuki."


"Ung, untuk sesaat aku melayang di atas awan." Ucapnya menahan senyum.


"Tapi je, keberadaanmu mengingatkanku akan kenyataan yang telah aku lakukan." Yuki mendorong-dorong burung hantu itu dengan telunjuknya.


"Apa aku menyusahkanmu?." Yuki tertawa lirih.


"Tentu saja tidak. Kamu adalah pelindungku, sahabatku, aku bersyukur tidak menyerah saat membuatmu dulu." Jawab Yuki.


"Apa kamu sudah mengirimkan pesanku pada Tsuttsun?."


"Ya, mereka akan membawanya ke markas." Jawab Je.


"Yosh!, baiklah. Waktunya tidur." Yuki mematikan komputernya beranjak dari kursi.


"Je aku mau ke kamar Hotaru. Kamu tetaplah di sini." Titah Yuki membuka pintu kamarnya.


"Di konfirmasi."


Tidak di kunci, batin Yuki.


Yuki melangkah memasuki kamar. Lampu kamar terlihat redup, di atas ranjang sangat rapi, tidak ada penghuninya. Yuki mengedarkan pandangan menjelajahi setiap sudut kamar, kalau kamar Fumio terkesan lebih hangat kamar Hotaru lebih ke lembut yang misterius.


Maniknya menangkap cahaya dari ruangan di belakang kepala ranjang, Yuki segera menghampiri cahaya itu.


Jika meja bundar untuk menerima tamu ada di bagian depan ranjang di kamar Lusi, dirinya, dan Daren, tidak dengan Hotaru. Meja panjang yang lebih mirip meja kerja terletak di ruangan belakang ranjang, saling memunggungi. Ruangan itu cukup luas, penuh rak menjulang di kanan dan kirinya, sedangkan di depan sana bukanlah dinding polos atau penuh barang-barang melainkan akuarium besar dengan warna-warni tumbuhan di dalam air, berbagai jenis ikan berenang menyejukkan mata.


Yuki melirik Hotaru yang sibuk dengan sebuah kertas di kursi yang memunggunginya. Yuki berjalan pelan mengintip dari balik punggung Hotaru.


"Belum tidur?." Tanya Hotaru. Pemuda itu tidak terkejut dengan kedatangan saudarinya.


"Ini mau tidur." Jawab Yuki masih mengamati isi kertas.


"Ayo." Ajak Hotaru seraya menutup buku besar itu.


"Kamu belum menyelesaikannya. Aku akan menunggu." Tolak Yuki yang melihat Hotaru sedang mengerjakan pengeluaran kediaman utama enam bulan terakhir.


"Kamu harus banyak istirahat." Ujar Hotaru mengangkat tubuhnya namun Yuki mencegah Hotaru dengan memegang kedua pundaknya.


"Aku bantu?." Tawar Yuki.


"Tidak. Kamu sudah banyak memikirkan strategi untuk klan." Jawab Hotaru kembali membuka buku besar itu.


"Tumpukan ini juga harus segera di selesaikan?." Yuki menunjuk tumpukan di sebelah kiri.


"Tidak, besok bisa di lanjutkan." Hotaru tenggelam ke dalam pekerjaannya.


"Bohong. Kamu mengerjakan semua urusan klan?." Tanya Yuki.


"Sudah tugasku."


Yuki membuka satu buku yang berisi tentang hubungan klan dengan kaisar jepang sekarang.


"Kaisar sedang meminta bantuan klan?. Kamu juga mengurusi hal-hal seperti ini?." Yuki melirik Hotaru yang sangat fokus dengan pekerjaannya.


"Ung. Negara ingin membangun sekolah di lahan milik leluhur kita."


"Lalu?, mereka ingin merebut lahannya?. Memintanya kembali, karena itu lahan warisan leluhur?." Srobot Yuki.


"Hahaha tidak Yuki. Jangan berpikir negatif." Hotaru menyelesaikan satu tugas, ia beralih mengambil yang lain.


Yuki melihat dirinya yang dulu di diri Hotaru, selalu bergelut dengan dokumen dan proposal. Kebenaran dan fakta yang tidak bisa di ubah. Mereka sampai kapan pun akan terus bertemu dengan kertas-kertas itu.


Yuki memilih berjalan menghampiri akuarium. Ia mengamati setiap jenis ikan di sana.


Indah, batinnya.


Ia terus berdiri di sana tanpa bosan. Ingin rasanya ikut masuk ke dalam akuarium dan berenang bersama ikan-ikan itu.


Puk.


Tangan Hotaru mendarat di atas kepala Yuki.


"Ayo tidur." Yuki mengalihkan pandangannya dari akuarium.


"Ung." Yuki segera melompat ke punggung Hotaru yang segera di tangkap oleh saudara kembarnya.


"Bayi hulk sudah mengantuk rupanya." Ledek Hotaru berjalan menyebrangi ruangan.


"Hmmm." Gumam Yuki meletakan kepalanya di punggung Hotaru, tanpa sengaja melihat jam menggantung di dinding. Sudah jam empat dini hari.


Hotaru meletakan Yuki di atas ranjangnya menyelimuti adiknya dan ikut berbaring di samping gadis itu.


"Dulu kita hanya punya satu kamar." Celetuk Yuki mengingat potongan kenangannya.


"Ya, itu di kamarmu." Jawab Hotaru meraih tangan Yuki untuk di genggam.


"Kamu pindah?. Kenapa kita tidak satu kamar saja?." Hotaru yang sudah memejamkan mata sontak tertawa dengan pikiran Yuki yang terkadang seperti anak kecil jika sudah menyangkut hal sensitif seperti ini.


"Yuki, kita sudah besar. Kamu juga sudah punya calon yang akan di sahkan beberapa minggu lagi. Apa yang akan di katakan para pelayan jika kita masih satu kamar?." Jelas Hotaru.


"Dulu aku juga sudah punya calon. Ini tidak ada hubungannya dengan para pelayan." Gerutu Yuki menatap kesal ke arah Hotaru.


Pemuda itu mencubit gemas hidung kembarannya.


"Astagaaa, mereka nanti akan berpikir kita belum dewasa dan tidak bisa memimpin klan." Yuki melepaskan tangan Hotaru.


"Ih!, peluk." Hotaru tersenyum lebar.


"Utututuuu, bayi hulk manjanya kumat." Ledek Hotaru melepaskan tangan Yuki dan mulai memeluk saudarinya. Namun sebelum itu ia mendapatkan pukulan pelan di pundak.


"Sudah, jangan lukai dirimu." Lirih Hotaru mulai memejamkan mata. Hari ini sangat melelahkan, Hotaru sudah tidak bisa menahan kelopak matanya untuk terbuka.


Nyaman, aman, hangat, itu yang selalu Yuki rasakan pada pelukkan Hotaru. Percakapannya dengan Je satu jam yang lalu terbersit di dalam kepalanya.


"Hotaru." Panggilnya lirih. Suara serak yang menggantung terdengar di telinga Yuki.


"Hm?."


"Aku dan iblis itu. Kamu pilih siapa?."


"Hmmm ..?, pilih. Ungg .., pilih."


Yuki mengedipkan mata merasakan hembusan nafas teratur di pucuk kepalanya. Hotaru sudah tertidur.


Kamu pasti sangat lelah, batin Yuki menenggelamkan wajahnya dan ikut tertidur.


***


Sejak pagi si kembar terus menahan keinginan menguap. Yuki baru tahu ternyata selama ini yang jarang tidur bukan hanya dia, Hotaru pun sama.


Sayuri dengan bibir tersenyum terus mengekori Yuki kemana pun. Seperti sekarang Yuki sedang mengisi botol minum di bantu oleh gadis itu.


"Apa ada sesuatu yang baik terjadi hari ini?." Tanya Yuki.


"Ya, senpai." Jawab ceria Sayuri.


"Syukurlah." Balas Yuki melanjutkan kegiatannya.


Gadis itu akan ceria dan tersenyum jika bersama Yuki, kepada orang lain Sayuri memasang wajah biasa tanpa ekspresi berlebih.


"Mmm ..." Yuki menaikan satu alisnya mendengar gumaman dari Sayuri tanpa menoleh.


"Ada apa?." Akhirnya Yuki bertanya setelah tidak tahan mendengar gumaman-gumaman tidak jelas.


"I ..,tu. Sepertinya wakil kapten," Yuki yang mendengar Sayuri menggantungkan kalimatnya pun menoleh kepada gadis itu.


Wajah Sayuri terlihat pucat. Yuki akhirnya mengikuti arah pandang gadis itu.


Di sebrang sana, di bawah pohon momiji yang mulai berubah merah Fumio sedang memegang pundak Aoki. Keduanya saling berhadapan entah mengatakan apa.


"Hhah?!." Sayuri terpekik menutup mulutnya.


Yuki menatap datar tanpa ekspresi kedua sejoli di sebrang sana. Aoki berjinjit dan menarik kaos Fumio mencoba mendaratkan ciuman pada laki-laki itu. Fumio dengan tenang dan santai mendorong Aoki menjauh. Tentu saja laki-laki itu tidak bergerak kala Aoki menariknya, kekuatan mereka berada di level yang sangat berbeda.


"Ojou .., sama ..." Lirih Sayuri hampir seperti bisikan melirik Yuki ragu-ragu.


Yuki tidak mengalihkan perhatian dari menatap bibir Fumio dan Aoki yang terus bergerak, sampai pada Fumio yang tiba-tiba menoleh ke arahnya.


"Senpai. Sayuri." Ucap Yuki mengingatkan. Lalu menoleh kepada gadis itu.


"Anda tidak apa-apa?." Yuki segera menaikan satu alis.


"Ya." Jawab Yuki menyelesaikan tugasnya.


"Ayo, latihan sudah akan di mulai lagi." Ucap Yuki mengangkat box minuman. Sayuri segera membantu.


"Baik, senpai." Jawab gadis itu dengan senyuman.


Yuki sekarang sudah mengerti. Apa sebutan perasaan yang ia rasakan sekarang. Dulu, saat di kantin perusahaan di indonesia Yuki merasakan hal serupa kala melihat Dimas makan malam berdua dan tertawa bersama Ana yang ternyata kakak sepupu Dimas. Dan dua hari yang lalu saat mendapati Aoki tidur di pundak Fumio. Yuki cemburu.


Hotaru segera berlari ke arah Yuki saat latihan baru selesai. Gadis itu memberikan botol minum dan handuk, ia segera membantu Sayuri saat melihat Fumio berjalan mendekat.


Fumio menatap Yuki dari kejauhan.


"Masalah apa yang kamu buat sampai Yuki menghindarimu lagi?." Hotaru melempar botol minum kepada Fumio.


"Dia cemburu, dan salah paham." Jawab Fumio yang kembali menangkap handuk dari Hotaru.


"Cewek mana?. Aoki?." Tebak langsung Hotaru.


"Ung." Hotaru melirik gadis yang baru saja ia sebut namanya.


Kedua mata Aoki terlihat bengkak.


"Kamu sudah meluruskannya ternyata." Ucap Hotaru.


"Ya, aku tidak ingin Yuki salah paham lagi dan terluka, makanya aku memperjelasnya tadi." Jawab jujur Fumio.


"Dan Yuki melihat kalian." Tebakan tepat dari Hotaru.


"Aku akan bicara dengannya setelah ini." Fumio melihat Yuki yang kembali dingin kepadanya.


Sayuri terang-terangan menatap tidak suka kepada Aoki di dalam loker saat mereka berganti baju. Menanggalkan seragam training mereka berganti dengan seragam sekolah. Yuki menyentil dahi Sayuri menghentikan gadis itu terus menatap Aoki.


"Ayo pulang." Ajak Yuki keluar lebih dulu.


Sayuri berdiri di depan Aoki seakan menantang namun tidak mengatakan apa pun. Aoki yang moodnya sedang buruk hanya terdiam tidak menanggapi.


"Sayuri." Panggilan Yuki dari luar segera membuat Sayuri berlari menyusul.


"Ya, senpai."


Keduanya berjalan menuju gerbang. Sayuri sedang bercerita ia mulai berlatih lebih keras agar bisa seperti Yuki. Padahal Yuki mengagumi Ame dan ingin bisa bergerak seperti para bayangan.


Mereka berbelok ke tikungan terakhir, gerbang sekolah terlihat di depan. Namun pemandangan lain mengejutkan mereka. Tepat di depan mereka Fumio sedang berbicara dengan gadis lain, Hotaru terlihat bersama sepedanya di depan gerbang.


Gadis itu langsung tergagap kala melihat Yuki.


"A aa, maaf. Lupakan, aku." Gadis itu membalikan badan dengan cepat.


Puk!.


Tubuh gadis itu langsung membeku ketika merasakan sebuah tangan menahan pundaknya. Tangan itu menariknya memaksa untuk membalikan badan.


Mata biru yang sangat cerah dan indah, baru kali ini ia melihatnya dari dekat.


Tubuhnya kembali membeku menangkap tangan gadis yang terkenal di sekolah sedang terangkat. Seketika itu juga ia menutup kedua matanya.


Aku akan di pukul, aku akan di pukul, rapalnya dalam hati.


"Kenapa menutup matamu?." Suara itu menegur dengan merdu. Perlahan gadis itu mengintip, membuka matanya.


Tangan yang ia kira akan menamparnya ternyata masuk ke dalam saku seragam. Ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar.


Yuki mengeluarkan permen yang selalu Masamune beli untuk stok di rumah, kebiasaan itu ternyata masih terbawa sampai sekarang.


Yuki memberikan permennya kepada gadis antah berantah itu lalu mengepalkan satu tangannya di depan dada. Isyarat menyemangati gadis itu. Dan ia pun pergi meninggalkan mereka. Di susul oleh Sayuri.


Hotaru tertawa puas melihat wajah Fumio yang acak-acakan.


Ini pr untukmu, mencari cara menaklukkan sisi baru Yuki, batin Hotaru lebih ke menyumpahi teman karibnya.


Yuki membiarkan Hotaru menepuk pelan kepalanya dan kembali berjalan ke tempat penjemputan. Hotaru yang menolak di antar lebih memilih menggunakan sepeda, sedangkan Yuki tidak bisa naik sepeda dan lebih memilih di antar.


Mobil berjalan seperti biasa, namun karena naluri yang di asah sejak kecil membuatnya semakin bertambah tajam. Yuki memberhentikan mobil di pinggir jalan lalu menyuruh pelindung tetap kembali ke kediaman utama.


Tanpa menunggu mobil pergi Yuki sudah berlari menyebrang jalan. Dugaannya benar. Ia semakin mempercepat larinya. Ia tidak tahu harus bersembunyi di mana, otaknya tiba-tiba tidak berfungsi.


Dan saat itu seperti mukjizat, manik birunya melihat satu tempat. Yuki langsung berbelok dan masuk, berdiri di depan meja kasir.


"Oi ..?!. Ada apa ini?." Gaho melihat keadaan Yuki yang berantakan.


"Hah, hah, hah. Biarkan aku bersembunyi di sini." Pinta Yuki cepat, ia berusaha mengatur nafasnya.


Gaho melirik ke luar, melihat sekelebat bayangan ia langsung menarik Yuki masuk ke dalam tempat kasir. Menarik gadis itu ke dalam ruang staff. Untunglah sedang tidak ada pengunjung.


"Duduklah." Gaho menarik kursi dari dalam meja.


"Terima kasih." Jawab Yuki langsung menghempaskan tubuhnya di sana.


Ting.


Suara bel pengunjung.


"Aku akan segera kembali." Ucap Gaho membuka pintu untuk melayani pelanggan.


Yuki mengeluarkan ponselnya, lalu mematikannya dengan cepat. Ia tidak ingin bertemu Fumio. Ia tidak suka merasakan perasaan menyakitkan sekaligus menyebalkan ini. Yuki benci cemburu tapi ini di luar kendalinya, itu yang membuat Yuki benci.


Gadis itu membenci hal yang di luar kendali atasnya.