
Yuki melepas sabuk pengamannya hendak keluar dari mobil namun di cegah oleh Dazai. Pria itu keluar menuju bakasi mobil kembali dengan kotak besar dan sebuah besi panjang yang ia taruh di luar.
Dazai kembali masuk ke dalam mobil mengambil tangan kanan Yuki dengan hati-hati.
"Saya juga bawa ini, Ojou chan pasti lesu karena kehilangan darah cukup banyak. Apa anda merasa pusing?." Dazai dengan cekatan melakukan tugasnya sebagai dokter.
"Tidak." Jawab Yuki memegang kantung darah.
"Apa anda masih ingin batuk lagi?." Tanya Dazai memperhatikan hidung Yuki yang memerah karena sering di pencet untuk membersihkan darah.
"Tidak, ini sudah berhenti." Dazai mengangguk singkat lalu keluar mengangkat besi panjang ke samping pintu Yuki, tangannya membukakan pintu.
Yuki keluar dengan hati-hati, Dazai mengambil alih kantung darah dari tangan Yuki menggantungkannya ke atas besi panjang.
Mereka berjalan memasuki hotel berbintang lima, tujuan mereka adalah restoran mewah di atap hotel.
Setelah melihat-lihat dan merasa sangat puas dengan restoran terbuka itu Yuki segera memesan meja untuk nanti malam.
"Tunggu Ojou chan." Dazai mengambil kantung darah dari besi panjang lalu menggantungkannya di langit-langit mobil. Setelah itu mempersilahkan Yuki untuk masuk.
"Kamu sudah menyiapkan semua ini?." Dazai duduk di balik kemudi setelah menyimpan kembali besi panjang ke bagasi.
"Seorang dokter harus siap sedia untuk pasiennya." Jawab Dazai seraya menyalakan mesin mobil.
"Tujuan selanjutnya, butik." Imbuh Dazai mengeluarkan mobil dari parkiran.
"Ojou chan?." Yuki menyesap madu yang diberikan hotel kepadanya, tidak melirik sedikit pun ke arah Dazai, mungkin karena pihak hotel kasihan melihat remaja sakit membawa-bawa kantung darah kemana-mana jadi memberikan Yuki madu manis dengan kemasan lucu.
"Hm?."
"Kenapa anda tidak memilih restoran keluarga Hachibara?." Yuki mengedikkan bahunya acuh.
"Aku suka pemandangan dari atas hotel tadi." Jawab Yuki, Dazai menganggukkan kepalanya.
"Tidak saya sangka anda sangat romantis Ojou chan. Bahkan aku yang seorang pria tersentuh dengan kejutan yang anda persiapkan." Ucap Dazai tersenyum melirik Yuki, ia berniat untuk diam tidak ingin mengusik ketenangan Yuki yang sedang menikmati madunya.
Setelah singgah ke beberapa tempat akhirnya Yuki sudah kembali ke rumahnya. Sebelum keluar dari mobil, Dazai mengecek kondisi Yuki.
Dalam beberapa jam gadis itu sudah menghabiskan dua kantung darah, sudah lebih dari cukup untuk mengganti darah yang keluar.
"Apa anda masih pusing Ojou chan?." Dazai melepas jarum dari tangan Yuki.
"Tidak."
"Apa anda masih lemas?."
"Tidak."
"Meskipun begitu anda harus banyak makan, dan minum vitamin penambah darah. Malam ini jangan pulang terlalu larut, tubuh anda butuh istirahat yang banyak." Yuki menganggukkan kepalanya patuh.
"Sudah selesai, anda masuk saja biar barang-barangnya saya yang bawa." Ujar Dazai setelah selesai dengan Yuki.
"Terima kasih." Ucap Yuki berlalu ke dalam rumah.
***
Masamune yang hendak pergi ke dapur terkejut dengan dua kotak dan satu tote bag tergeletak di depan pintu kamarnya. Diatas kotak itu terdapat surat berwarna ungu yang elegan. Tangannya meraih surat, mulutnya ditutup dengan tangan yang lain agar senyuman lebarnya tak terlihat jelas. Padahal hanya ada dirinya di lantai satu.
Untuk nyonya Masamune Hinode,
Saya mengundang nyonya makan malam di hotel taka-taka, harap nyonya memakai baju yang sudah di sediakan.
Semoga nyonya menyukai hadiah kecil dari saya, sampai jumpa nanti malam nyonya Masamune Hinode, saya akan menjemput anda pukul 6 : 30 p.m.
Tidak tertulis nama pengirim tapi Masamune sudah bisa menebak dari tulisan rapi dan cantik itu, siapa gerangan yang memberikannya kejutan seperti ini.
Masamune yang hendak mempersiapkan makan malam urung dan kembali masuk ke dalam kamar bersama dua kotak dan tote bag di tangan.
Masih lima belas menit lagi dari waktu yang di tentukan. Masamune menatap pantulan dirinya di cermin, senyum bahagia terus menghias wajahnya. Masamune tidak menyangka ia mendapatkan keberuntungan besar bisa memakai gaun mewah dan cantik. Sepatu hak tinggi juga, terlihat indah membungkus kakinya. Masamune menyisir rambut panjang miliknya membentuk gelungan elegan yang cocok dengan pakaiannya, membiarkan leher putihnya terlihat. Sentuhan terakhir Masamune menyemprotkan parfum yang tersedia di dalam tote bag ke beberapa bagian tubuhnya.
Make up aman, semua sudah, tinggal berangkat, batin Masamune mengambil handbag bermerek yang berada di dalam kotak bersamaan dengan dressnya tadi.
Masamune membuka pintu dan betapa terkejutnya ia melihat penampilan Yuki.
Masamune tentu saja tahu yang mengajaknya makan malam tidak lain dan tidak bukan adalah gadis bermata biru itu, tapi melihat Yuki memakai dress berwarna coklat pastel dengan kerah melebar ke samping namun tetap menutupi pundak dan pangkal lengannya, dress sepanjang lutut dengan pita di bagian pinggang memperlihatkan bentuk tubuh dan kaki putihnya. Model dress Yuki sangat sederhana namun terlihat sangat cantik, benar. Gadis itu memakai apa pun tetap terlihat bagus dan cantik. Yuki tidak menata rambutnya, gadis itu membiarkan rambutnya tergerai begitu saja.
Lain dengan Masamune yang memakai dress warna putih dengan lengan jatuh ke samping, bagian depan dress lebih pendek lima senti diatas lutut sedangkan bagian belakangnya panjang sampai ke betis.
Yuki yang berdiri di samping mobil berjalan menghampiri Masamune, gadis itu berhenti memberikan jarak diantara mereka. Sudut bibirnya tertarik ke atas seraya sedikit mengangkat gaunnya ke atas dan menekuk kaki kiri ke belakang kaki kanan, tangan lainnya ia letakan di depan dada memberikan salam ala bangsawan eropa.
"Selamat malam nyonya Masamune, malam ini anda sangat cantik." Suara Yuki membuyarkan keterkejutannya, tanpa bisa menahannya lagi Masamune tertawa lalu mengikuti gerakkan Yuki dengan kaku.
"Terima kasih atas pujiannya nyonya Hachibara." Yuki menegakkan tubuhnya melihat betapa berbedanya Masamune yang selalu sibuk berada di dapur dengan Masamune yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Ada sesuatu yang ingin saya berikan kepada anda nyonya." Ujar Yuki mengulurkan tangannya ke depan.
Masamune yang melihat Yuki mengulurkan tangan kosong pun menjadi bingung.
"Lihatlah baik-baik nyonya." Kata Yuki, jarinya tertekuk menggenggam udara kosong. Masamune fokus memperhatikan tangan Yuki.
"Coba anda tiup." Pinta Yuki, Masamune pun mengikutinya, meniup kecil permukaan tangan Yuki.
BAM!.
Seketika setangkai bunga mawar muncul dari tangan Yuki, Masamune yang terkejut sedikit melangkah mundur. Wanita itu menatap bunga lalu beralih menatap Yuki dan kembali menatap bunga.
"Apa ini sihir atau sulap kalengan?." Celetuk Masamune menerima bunga itu. Yuki terkekeh kecil.
"Hmmm ..?, sulap kalengan lebih cocok." Balas Yuki.
"Tidak, tadi sangat menakjubkan, terima kasih banyak." Kata Masamune menyeka sudut matanya terharu. Yuki berjalan mendekati mobil membukakan pintu untuk Masamune.
"Terlalu cepat untuk menangis nyonya, makan malam kita sudah menunggu. Silahkan." Kata Yuki memberikan gestur pelayan pria menyambut tuannya masuk ke dalam mobil.
Masamune lagi-lagi tertawa mendekati Yuki. Wanita itu juga memberikan gestur terima kasih ala wanita eropa, mengangkat sedikit gaunnya dan membungkuk empat puluh derajat, barulah ia masuk ke dalam mobil.
Malam itu Yuki yang menyetir, Masamune masih bertanya bagaimana cara Yuki memunculkan bunga mawar asli dari tangannya. Sesekali ia juga bertanya mereka hendak makan dimana, apakah ada sebuah acara, kenapa tiba-tiba Yuki berperilaku aneh seperti itu, dan hanya dijawab senyuman tipis dari Yuki.
Yuki masuk ke dalam halaman hotel, sontak Masamune melebarkan matanya terperangah dengan pemandangan mewah di hadapannya. Yuki berhenti di depan lobby lalu keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Masamune, menyambut wanita itu.
"Apa kita akan menginap di sini?." Tanya Masamune di dalam lift.
"Tidak masa san, kita hanya akan makan malam." Jawab Yuki.
"Kenapa kita harus ke sini kalau cuman mau makan malam?, pasti mahal. Kita bisa makan di tempat lain." Bisik Masamune di telinga Yuki takut pelayan wanita di depan mereka bisa mendengarnya.
"Aku sudah memesannya Masa san, tidak usah mengkhawatirkan hal lain. Perutku sudah lapar." Jawab Yuki membuat Masamune pasrah dan mengikuti.
Ting!.
Pintu lift terbuka, mereka langsung di suguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu malam, dekorasi apik restoran terbuka itu mengusung tema elegan dan berkelas, ada pemain orkestra di ujung tengah, lampu-lampu, meja-meja di tata sedemikian rupa, pot-pot beraneka macam bunga mendukung suasana malam itu. Yuki menegur Masamune membuat wanita itu tersadar akan kenyataan yang ia lihat, bukanlah mimpi belaka. Makan malam yang selalu di impikan oleh para wanita, bagaimana Masamune tidak bahagia, dia salah satu wanita yang beruntung bisa menikmati makan malam mewah seperti ini.
"Maaf Masa san, makan malam hanya denganku. Aku tidak tahu apa Masa san punya kekasih atau tidak." Ujar Yuki melirik berbagai pasangan sedang menikmati makan malam mereka.
Masamune berhenti sejenak di tengah lantai yang dibiarkan kosong dari perabotan apa pun, menatap Yuki dengan senyuman hangatnya.
"Sayang sekali aku belum punya pacar. Jadi .., tema makan malam kita adalah dua jomblo anti merana!." Ucap semangat Masamune berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang terkesan sedih dan pasrah. Yuki mengulas senyum, berjalan mengikuti pelayan tadi.
Menu pertama di sajikan, pelayan menuangkan wine khusus yang di rekomendasikan oleh Dazai tadi siang. Wine langka, bahkan Yuki harus bernegosiasi dengan kepala manajer hotel agar mau menjual wine tersebut.
Yuki tentu saja dengan minuman favoritnya yang berbau lemon, lemon ginger honey. Toh Yuki juga belum cukup umur.
"Yuki, ini." Yuki menghentikan Masamune lalu membuka suaranya.
"Masa san, malam ini makan dan minumlah yang banyak." Ujar Yuki mulai menikmati hidangannya. Alunan musik yang tenang dan suasana yang sangat mendukung membuat wanita itu tenggelam ke dalam kemewahan beserta keindahan malam.
Setelah dessert mereka masuk ke dalam perut, Yuki mengelap mulut dan menengguk minumannya. Maniknya melihat senyuman terus terkembang di wajah Masamune, wanita itu sedang menatap gelas berisi wine lalu melirik ke pasangan yang sedang berdansa, beralih ke lampu-lampu di gedung-gedung sebelah, dan kembali lagi menatap gelas.
"Masa san." Panggil Yuki.
"Hm?." Yuki yakin Masamune sedikit mabuk.
"Masa san masih sadar?." Masamune tertawa pelan membalas tatapan Yuki.
"Tentu, aku salah satu wanita yang kuat minum, kau tahu." Yuki tidak memberikan tanggapan.
"Aku ingin meminta maaf karena terlalu banyak membuatmu khawatir Masa san." Kata Yuki.
"Benar, setidaknya kamu harus mengabariku agar aku tahu kondisimu." Sahut cepat Masamune. Yuki tersenyum tipis.
"Mungkin selanjutnya aku akan lebih sering membuatmu khawatir." Masamune terdiam, gadis di depannya sedang berbicara serius dengannya. Atensi Masamune sepenuhnya terarah kepada Yuki.
"Sakitku sedikit merepotkan. Aku harap Masa san tidak terkejut." Masamune ingin meraih tangan Yuki memberikan kekuatan kepada gadis itu tapi masalahnya tangan Yuki berada di bawah meja, Masamune tidak bisa meraihnya.
"Selain itu, aku bertanya-tanya apa benar orang yang sudah meninggal bisa melihat kita dari atas sana?." Yuki mendongak ke atas menatap langit dengan satu bintang.
Kalimat yang melenceng jauh dari topik awal membuat Masamune mengerutkan alisnya lalu mengikuti apa yang Yuki lakukan.
"Beberapa orang mempercayainya beberapa tidak." Jawab Masamune.
"Masa san yang mana?." Masamune menatap satu bintang yang menerangi langit gelap sendirian.
"Yang kedua." Yuki menurunkan pandangannya.
"Aku tidak tahu apakah dia melihatku di sini atau sudah bahagia di surga." Yuki menatap gelasnya yang tinggal setengah.
"Surga ya?." Gumam Yuki, meja mereka berubah sendu.
"Aku tahu perasaan Masa san, karena itu aku mengajak Masa san ke sini untuk melepas rasa sedih kita. Jadi," Yuki menggantungkan kalimatnya berdiri meninggalkan kursinya.
Masamune mengerjapkan matanya mengamati Yuki yang lagi-lagi memberikan hormat ala wanita eropa seraya mengulurkan tangan ke arahnya.
"Maukah nyonya berdansa denganku?." Ucap Yuki yang langsung memecah tawa Masamune.
"Hahaha, maaf." Masamune meninggalkan kursinya ikut memberikan hormat.
"Sebuah kehormatan bagi saya, dengan senang hati nona muda."
Dua orang itu berjalan ke tengah lantai dansa, Masamune yang tidak tahu cara berdansa orang-orang kalangan atas, membisikan ke telinga Yuki meminta untuk membantunya. Gadis itu hanya tersenyum kecil dan berkata untuk bergerak sesuai keinginan Masamune dan Yuki akan menyesuaikan.
Benar saja, Masamune bergerak ke sana kemari mengikuti musik pelan dari orkestra dan Yuki bergerak menyesuaikan tanpa menginjak atau menabrak tubuh Masamune.
Malam itu berakhir dengan Masamune yang mabuk, Yuki kembali kerumah dengan susah payah, ini pertama kalinya ia mengurus orang mabuk untunglah Masamune tidak mabuk berat yang harus memuntahkan isi perutnya.
Yuki menyelimuti Masamune setelah memastikan wanita itu sudah dalam keadaan baik-baik saja.
Cepat tanpa menimbulkan suara, Yuki sudah kembali ke dalam kamarnya dan bergegas mengganti pakaian, memakai softlens, meletakan chip di bawah lidahnya, memasukkan semua barang yang diperlukan ke dalam ransel tak lupa Je si burung hantu.
Yuki mengetik sesuatu di atas keyboard komputernya, menyadap pusat listrik di daerah sekitar. Tombol enter sebagai pemicu pemadaman listrik, tanpa menunggu lebih lama lagi Yuki berjalan meninggalkan rumah mengendarai mobil dalam kegelapan kota karena ulahnya.
Tujuannya adalah Prefektur Gunma, membutuhkan waktu dua jam dua puluh sembilan menit. Yuki melirik jam tangannya, tepat jam sembilan. Dirinya akan sampai di tempat tujuan pukul sebelas lebih dua puluh sembilan menit, itu tidak boleh. Mereka selalu beraksi pukul sebelas tepat, Yuki harus sampai sebelum jam sebelas apa pun yang terjadi.
Gadis itu membanting setir masuk ke dalam jalan tol, Yuki langsung menginjak gas lebih dalam berlomba dengan waktu.
***
Yuki memarkirkan mobilnya di tempat sepi, gadis itu mengambil topeng hitam elastis dengan gambar spid*rman, memakai sarung tangan berwarna senada, selesai!. Gadis berpakaian serba hitam terlihat sempurna. Yuki keluar dari mobil mengambil stiker besar dengan gambar plat no palsu miliknya. Dengan dua kali gerakan saja plat no palsu sudah menutupi plat no asli.
Yuki membiarkan Je terbang di antara atap-atap rumah, mode silent sudah di aktifkan, jarak radius jam tangan dan Je cukup jauh jadi Yuki tidak ingin ambil resiko membuat Je ikut bersama dirinya. Langkah kaki rampingnya berlari menaiki perbukitan cukup tinggi, ia tidak memilih jalan aspal yang tersedia Yuki lebih memilih jalanan hutan yang gelap.
Tidak perlu pencahayaan, sinar bulan sudah cukup bagi Yuki untuk bisa menghindari rintangan di depannya. Satu hal yang membuat gadis itu merutuki ingatannya, ia lupa fakta bahwa sekarang musim panas, dan di musim panas seperti ini banyak penghuni hutan bermunculan, tak terkecuali ular yang tiba-tiba menggelantung tepat di depan wajahnya, Yuki memundurkan kepalanya seraya menekuk punggung ke belakang, refleks yang bagus jika tidak!, sudah di pastikan ular itu melingkar di lehernya.
Yuki melempar jarum tepat mengenai kepala ular melumpuhkannya, ia tidak ingin selama perjalanan ia di kejar oleh ular itu. Sepertinya penghuni hutan ingin menyambut kedatangan Yuki, kini gadis itu di hadang oleh satu keluarga babi hutan, dan beberapa gagak yang berisik.
Zap. Zap. Zap. Zap. Zap.
Yuki menyayangkan jarumnya digunakan untuk hal yang tidak penting.
Rumah besar bercat putih sudah terlihat, gadis itu mempercepat kecepatan larinya, saat dirinya sudah dekat dengan tembok tinggi yang mengelilingi rumah itu Yuki melompat setinggi mungkin dan mendarat dengan mulus di sisi lain tembok.
Hening.
Yuki melirik jam di pergelangan tangannya 11 : 15 p.m.
Sial, terlambat!, rutuk Yuki dalam hati.