Futago

Futago
Kotak dan Lagu.



Mizutani dan Daren sudah pergi dua jam yang lalu, Yuki meletakan kotak peti aneh yang selama ini belum bisa dibuka.


Gadis itu terdiam diatas ranjang menatap lurus kotak tak bergerak di hadapannya. Dengan tarikan nafas panjang jarinya membuka kotak permen menggigit pil yang keluar dari kotak itu memasukkannya ke dalam mulut.


Sudah waktunya, jika tato bentuk koto dan lagu yang nenek Yuri ajarkan benar seharusnya ini bekerja, batin Yuki.


Ia berkonsentrasi mencoba mengingat memori masa lalu yang sempat hilang, ia pernah mengingatnya di dalam ruangan klub koto, Yuki hanya perlu mengingat kembali. Yuki perlahan membuka mulutnya menyenandungkan lagu yang nenek buyutnya nyanyikan di iringi musik koto.


Kening Yuki berkerut, menggali kenangan yang pernah ia lupakan tidaklah mudah, gadis itu terus berkonsentrasi, bibirnya bergerak kecil.


Krrrrrrrr. Krek.


Yuki menajamkan pendengarannya, kotak itu bereaksi, tanpa suara BIP seperti biasanya.


Seiring lagu yang di nyanyikan Yuki terus mengalun, kotak itu pun terus merespon. Perlahan tapi pasti sayap dan tubuh burung elang yang terpisah bergerak mengikuti garis ular yang meliuk-liuk. Yuki memperhatikan itu, matanya berbinar takjub. Tepat saat nada terakhir dinyanyikan akhirnya burung elang itu mendapatkan sayapnya.


KLIK!.


Yuki tersenyum.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini, burung elang adalah Eagle, Ega, Hotaru, tentu saja kuncinya ada padanya." Yuki terkikik geli mengingat tato di tubuh kembarannya.


"Selain itu, tato di pundak Hotaru lebih banyak, lebih banyak lagi yang harus di pecahkan." Gumam Yuki.


Hening.


Yuki tidak bergerak, masih menatap kotak di hadapannya. Gadis itu sedang sibuk dengan pikiran-pikiran di dalam kepalanya, apakah tidak masalah jika ia membuka kotak itu?, banyak kemungkinan penyakitnya akan kambuh ketika melihat sesuatu di dalam kotak itu, padahal ia sudah memakan satu pil tadi. Dia tidak menyimpan kantung darah di rumahnya jika hal itu terjadi.


Benar, aku akan meminta maaf kepada Dazai nanti karena membuatnya kembali lagi ke sini, batin Yuki mengambil kotak permen yang lain menggenggamnya erat.


Telunjuk ramping itu menekan simbol burung elang yang berada di tengah kotak.


Cetik!.


Kotak perlahan terbuka pelan, warna merah yang pertama kali Yuki lihat, busa merah dan lembut itu menghiasi dalam kotak, lalu warna emas. Kotak terbuka sepenuhnya, kain berwarna emas itu membungkus sesuatu.


Yuki membuka tutup permen membiarkan pil keluar setengah dan mendekatkannya ke mulut sedangkan satu tangannya yang lain terulur membuka kain emas itu mengintip isinya.


Untuk beberapa menit Yuki terdiam, matanya melebar, bibirnya mengatup rapat. Ia tersihir oleh benda antik, menawan, dan langka.


Cantik, batin Yuki.


Sebuah pedang pendek sepanjang 35 cm, sarungnya berwarna merah terang dengan ukiran unik berwarna emas yang menghiasi sarung itu, gagang / handle / pegangan pedang berwarna hitam terukir simbol yang tidak asing bagi Yuki. Simbol keluarga Hachibara.


Perpaduan warna merah dan hitam seperti warna baju yukata yang Yuki pilih tadi sore, bukan itu masalahnya. Perpaduan kedua warna itu sangat elegan, berani, dan misterius.


Jari-jarinya terulur menyentuh pedang itu, menyentuhnya dari ujung ke ujung, kedua sudut bibir Yuki terangkat matanya berbinar terang. Ia jatuh cinta dengan benda itu. Tanpa pikir panjang Yuki menutup kembali kotak permen menaruhnya di atas ranjang tangannya yang lain mengambil pedang pendek itu dari dalam kotak.


Ia membolak-balik pedang mengamatinya dari dekat, ukiran unik lainnya membangunkan rasa ingin tahu di dalam diri Yuki. Tangan kirinya memegang sarung pedang dan tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang, Yuki tidak sabar ingin melihat bilah pedang yang tersembunyi di dalam sana.


Srek.


Sungguh!, Yuki tidak bisa menahan senyumnya, bilah pedang berwarna silver mengintip sedikit ke luar. Jantung Yuki berdetak tak karuan karena perasaan senang yang tidak bisa ia bendung, matanya terkunci menatap bilah pedang yang perlahan tertarik keluar.


Sret.


Pedang pendek itu tertarik sempurna menunjukkan keindahan dan keagungan serta ketajamannya. Bukan hanya itu, yang membuat Yuki lebih takjub adalah mata bilah lain, pedang itu memiliki bilah bercabang di bagian atas.


Ini menarik!, jerit Yuki tertahan di dalam hati. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Tanpa pikir panjang gadis itu memutar-mutar gagang pedang memainkannya seperti sedang memainkan bolpoin.


"Waaaahhh ..." Yuki tidak henti-hentinya merasa takjub, pedang itu sedikit berat namun bilahnya terlihat tipis.


Sedetik kemudian kakinya melompat dari atas ranjang, ia berdiri di tempat yang kosong melakukan gerakkan berpedang yang sempat ia pelajari di salah satu kuil budha di china.


Gadis itu terus bergerak lincah. Menghunus, menangkis, bertahan. Maju, menunduk, mundur, berputar. Semua kegiatannya itu tanpa lepas dari senyum merekah di bibir.


Untuk beberapa saat ada hal lain yang membuatnya tertarik selain eksperimen tercinta. Pedang pendek itulah yang membuat Yuki tertarik.


Yuki kini bermain dengan sarung pedang, beberapa kali sarung itu terkena goresan pedang namun sama sekali tidak ada bekas goresan, sarung pedang tetap mulus tidak ada tanda-tanda telah tergores. Yuki melempar pedang dengan cara di putar ke atas membiarkan pedang melayang lalu ia membalikan badan menghadap ranjang, tangannya yang memegang sarung pedang terangkat sedikit ke atas.


Sret!.


Pedang masuk dengan sempurna ke dalam sarungnya. Yuki tertawa riang, gadis itu tertawa hanya karena bermain dengan pedang antik itu.


Jika penyakitnya tidak kambuh berarti Yuki belum pernah melihat pedang ini sebelumnya atau mungkin pedang itu bukan hal yang berarti banyak untuk Yuki. Gadis itu mengedikkan bahu karena pemikiran singkatnya, ia kembali ke ranjang menyimpan dengan hati-hati pedang ke dalam kotak.


Tuk.


Yuki menutup kotak, anehnya burung elang tidak berpisah lagi dengan sayapnya.


"Aku akan menjagamu." Ujar Yuki menyembunyikan kembali kotak itu.


Gadis itu menata tempat tidurnya bersiap untuk terlelap.


Yuki tidak tahu senyumnya tadi adalah senyum bahagia dan senyum lebarnya yang terakhir.


***


Seperti biasa, semenjak Masamune meyakinkan Yuki untuk tidak malu-malu kepada wanita itu, kini Yuki tidak lagi merasa risi saat memakai pakaian kurang bahan di dalam rumah. Ya, gadis itu selalu memakai celana hot pants dan crop top dengan tali kecil menunjukkan perut dan banyak kulit putihnya, kaki jenjangnya terlihat semakin panjang. Udara panas menyengat yang memaksa Yuki memakai baju mini itu, sungguh Yuki tidak nyaman jika harus berpanas-panas ria. Bukan karena sekarang dia di negeri empat musim lalu melupakan bagaimana panasnya kota jakarta, pasalnya panas di negeri sakura itu lebih panas dan menyiksa.


"Yuki, besok sudah mulai ujian bukan." Yuki melirik Masamune yang sedang sibuk di depan kompor.


"Ung." Gadis itu mengambil botol lemon dinginnya dari dalam kulkas.


"Mau aku antar ke sekolah?." Tawar Masamune menaruh masakannya ke dalam piring.


"Tidak usah." Yuki mendekati Masamune, melirik isi piring.


"Menu makan malam kita hari ini .., pasta!." Kata Masamune tersenyum riang kepada gadis pecinta pasta itu.


***


Hari yang di benci banyak siswa, apa lagi kalau bukan hari ujian. Yuki memasuki kelasnya yang tiba-tiba menjadi kelas yang hening, damai, tidak ada peperangan antara ketua kelas dan sekretarisnya, tidak ada celotehan Natsume dan para siswi-siswi lain. Semua sibuk dengan bukunya masing-masing.


Suasana ujian sangat terasa, berbeda dengan di sekolah Yuki dulu. Meski ada ujian pun masih banyak siswa yang bercanda dan ribut. Entah meributkan apa, oh! Yuki juga pernah melihat sekumpulan siswa yang sedang berkumpul untuk melakukan diskusi saling, contek.


Karena sedang ujian jam pulang sekolah pun di majukan, semua klub juga di liburkan. Yuki melangkah hendak ke toilet sebelum pulang, Natsume dan Ueno menunggunya di depan kelas untuk pulang bersama.


BRAK!.


Suara keras terdengar dari dalam toilet.


DAK!.


Yuki menaikan satu alisnya.


Ceklek.


Yuki sedikit mundur melihat empat gerombolan siswi tak dikenal keluar dari dalam toilet, mereka mengibas-ngibaskan tangan dengan raut wajah ji*ik.


Yuki menarik nafas panjang menebak apa yang telah mereka lakukan.


Kakinya masuk ke dalam toilet lalu menguncinya dari dalam. Maniknya langsung mendapati siswi terduduk lemah di pojok toilet dekat dengan jendela.


Rambut panjangnya berantakan, poninya menutupi mata, siswi itu basah kuyup dan berdarah di hidung. Yuki memungut kaca mata tebal dari lantai membersihkannya dengan sapu tangan miliknya. Ia berjongkok di depan siswi yang menangis tertahan itu.


Siswi itu langsung menarik kakinya menyembunyikan wajah dengan menunduk ketakutan, tubuhnya bergetar.


"Hachibara, siapa namamu?." Yuki memperkenalkan diri informal, ia sedikit kesal dengan hal yang berbau pembullyan.


Siswi itu mengangguk samar.


"Honda Toru." Cicitnya.


"Bersihkan dirimu." Ujar Yuki beranjak berdiri lalu melepas sweater miliknya. Melipat sweater dengan gerakan cepat meletakkannya di pinggir wastafel yang kering, ia juga meninggalkan sapu tangannya yang lain di atas sweater.


"Kaca matamu ada di dekat wastafel, cepat pergi dari sana sebelum masuk angin." Ujar Yuki berlalu meninggalkan toilet.


Bahkan jika dunia berganti era sekali pun pembullyan pasti tetap ada, geram Yuki berjalan di lorong mendekati kedua temannya.


"Yu chan, lama!." Protes Natsume.


"Gomen (Maaf)."


"Besok jadwal ujian matematika, fisika, sej." Kalimat Ueno terpotong oleh Natsume yang kembali protes.


"Hentikan!, kepalaku sudah berasap." Mereka bertiga berjalan menuruni tangga.


Yuki menikmati kehebohan Natsume yang tanpa henti.


"Siapa mereka?." Tanya Yuki kepada Natsume tanpa melirik gadis itu.


"Siapa?." Natsume menoleh ke tempat yang di maksud Yuki.


"Agh itu, mereka teman-teman Honda san dari smp. Keren bukan, Honda san memiliki teman satu angkatan yang selalu bermain bersamanya." Jelas Natsume.


"Kenapa dia ada di sini?." Natsume menatap Yuki tidak percaya.


"Dia teman satu kelas kita, apa kamu tidak ingat?." Yuki mengedikkan bahu acuh.


"Kamu tertarik dengan Honda san?." Yuki tidak menjawab.


"Lupakan Yu chan, kamu tidak bisa mendekatinya. Honda san selalu sibuk dengan teman-teman dari smp nya dulu."


"Kamu tidak jadi pergi?." Tanya Ueno yang melihat Yuki tetap berdiri diam.


"Aku pergi dulu." Yuki berjalan keluar menuju mesin penjual minuman otomatis.


Sepulang sekolah lagi-lagi Yuki tidak sengaja melihat pembullyan itu lagi di gedung belakang perpus. Kenapa ia selalu melihat hal yang seperti ini, Yuki menekan sebuah nomor lalu menunggu sang empu mengangkatnya.


Sepertinya pembullyan ini lebih parah dari kelompok yang membullynya waktu itu. Mereka suka sekali bermain kasar, entah mahluk apa yang merasuki mereka, sampai-sampai tidak ada rasa belas kasih melihat korban yang sudah tidak berdaya terus mereka pukuli.


"Ada apa Yuki?." Yuki melirik sebentar ke arah para pembully itu.


"Mi chan, bisakah kamu berteriak dan katakan 'siapa di sana' ?." Mizutani mengerutkan kening di dalam kantornya lalu berjalan keluar.


"Apa maksudnya?."


"Teriak saja." Pinta Yuki lalu membesarkan volume ponsel hingga maksimal.


Benar saja pria itu menuruti permintaan Yuki, Mizutani percaya kepada gadis itu, Yuki tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.


"SIAPA DI SANA!?." Suara menggelegar Mizutani terdengar oleh para pembully yang segera bubar meninggalkan korban.


"Terima kasih." Ucap Yuki lalu mematikan ponselnya.


Dari tempatnya berada Honda bergetar mencari guru yang meneriaki mereka tadi, tapi tidak ada yang datang, ia membersihkan kaca matanya lalu memasangnya lagi. Punggung ramping yang selalu ia lihat di dalam kelas sedang berdiri di balik dinding menjauh secara perlahan.


"Terima kasih." Lirihnya.


Pagi ini Yuki berangkat lebih awal, hari ujian terakhir setelah menjalani serbuan ujian dan besoknya ia akan pergi ke suatu tempat.


"Jelek!."


"Udik!."


"Sampah!."


Apa lagi sekarang?, batin Yuki. Ia hendak mengacuhkannya dan segera pergi dari sana tapi pikiran dan hatinya berlawanan.


Kenapa Honda san tidak melawan mereka?, batin Yuki.


Yuki mengambil tutup bolpoin dari dalam tas lalu melontarkannya dengan jempol dan jari tengahnya tepat mengenai pergelangan bagian dalam pembully yang hendak menampar Honda.


"Hachibara san!."


Siapa lagi sekarang?, batin Yuki menoleh ke belakang.


"Hai!." Laki-laki berperawakan kurus tinggi tengah tersenyum kepadanya.


Yuki mengangguk kecil. Tanpa aba-aba laki-laki itu menerjang Yuki mengungkungnya dengan tangan. Tubuh Yuki yang sejak tadi memang sudah menempel di dinding terjebak di sana.


"Hachi Hachibara san!, aku sudah lama menyukaimu!." Seru laki-laki kurus dengan wajah yang semerah tomat.


Lama?, belum genap satu tahun aku berada di sini, batin Yuki. Ia melirik gerombolan pembully yang sudah tidak ada, mungkin mereka pergi setelah mendengar teriakan laki-laki itu.


"Besok," sebelum laki-laki kurus menyelesaikan kalimatnya Yuki sudah menerobos gesit dari samping keluar dari kungkungan laki-laki itu.


"EEHH ...??!." Teriaknya menyadari Yuki sudah pergi.


Berakhirnya ujian banyak siswa yang tersenyum senang banyak juga yang mengeluh lelah. Natsume dan Ueno entah sejak kapan sudah pergi meninggalkan Yuki. Gadis itu sedang sibuk membalas pesan dari Dazai.


"M ma maaf, Hachibara san." Yuki tahu siapa pemilik suara ini.


"Hm?." Gumam Yuki masih mengetik di keyboard ponselnya.


"Aku i ingin mengemba likan ini." Yuki mendongak mengangguk kecil.


"Te terima kasih. Su sudah ma u men olongku." Honda berdiri menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Ung." Jawab Yuki meneliti setiap inci wajah Honda.


Gadis pendiam itu merasakan sedang di tatap sedemikian rupa membuatnya bergerak gelisah, ia membungkuk cepat lalu lari meninggalkan Yuki yang mengangkat satu alisnya tidak paham.


Yuki berjalan menuju lokernya, ia melihat banyak siswa segera pergi meninggalkan sekolah, ada juga yang sedang menenteng payung di tangan. Yuki berjalan ke teras sekolah, berdiri diam menatap ke atas.


"Kenapa belum pulang?."


"Hm."


"Awannya sudah gelap, sebentar lagi hujan."


"Hm."


Orang tak diundang bergabung dengan mereka, berdiri di sisi lain gadis itu.


"Senpai, bagaimana bisa kamu betah bicara dengan tuan putri ini." Sindir Kudo.


"Hm ..?, tuan putri?." Ulang Hajime.


"Kudo, mulutmu itu selalu tajam ya." Suara lain yang di kenali Yuki sebagai suara milik Hirogane.


"Senpaaaaiii !!."


Dak. Dak. Dak. Dak.


Suara langkah kaki terburu-buru menghampiri mereka.


"Senpai!, apa kamu siap untuk kamp pelatihan dua minggu lagi?." Inuzuka tanpa menghiraukan yang lain sudah berdiri di depan Yuki menarik perhatian gadis itu dari langit gelap di atas sana.


"Ung, bagaimana ujianmu?, pelatih tidak memperbolehkan pemain yang nilainya merah bergabung ke kamp." Balasan Yuki membuat Inuzuka menggaruk belakang kepalanya.


"Nilaiku akan baik-baik saja." Sahut seseorang tepat di belakang Yuki.


"Oi!!, Nakashima. Jangan berdiri dekat-dekat senpai!." Teriak Inuzuka.


"Kenapa, senpai milikku." Jawab Nakashima semakin maju ke depan memperpendek jaraknya dengan Yuki.


Hajime, Kudo, Hirogane, melirik Yuki sebelum menangani dua junior sengklek mereka.


"Lihat." Ujar Yuki membuat semua orang menoleh ke arah pandangan gadis itu.


"Hujan. Senpai bawa payung?." Tanya Inuzuka.


Apa dia sedang mengalihkan perhatian?, batin Kudo dan Hirogane.


Yuki tidak terganggu dengan Nakashima kun dan Inuzuka kun, batin Hajime.


"Pakai payungku saja." Nakashima mengulurkan payungnya dari belakang.


"Tidak, payungku saja." Inuzuka juga ikut mengulurkan payungnya.


"Terima kasih, tidak perlu." Jawab Yuki menggeser sedikit tubuhnya ke kiri menghindar dari hadapan Inuzuka hingga tak sengaja menyenggol lengan Hajime. Kakinya maju ke tepi teras.


"Aku tidak menerima penolakan." Ujar Nakashima teguh dengan pendiriannya, yang diabaikan Yuki.


Gadis itu mengulurkan tangan ke depan membiarkan air hujan menyentuh tangannya, manik biru itu menatap derasnya hujan saat ini, Yuki mengulas senyum tipis.


Hening. Tidak ada yang bersuara.


Dddddrrrrrrrrzzzzzzzz !!!.


Sudah lama tidak main hujan, batin Yuki. Gadis itu sengaja tidak segera pulang karena menunggu hujan turun.


"Aku duluan." Ujar gadis itu membuat semua orang di sana bergeming tidak paham dengan apa yang dilakukan Yuki.