Futago

Futago
Pertandingan Baseball, Lagi.



Yuki memegang lengan kiri Dazai lalu menggeser pria itu.


"Aku keluar sebentar." Ucap Yuki meraih tangan Keiji menggenggam tangan besar itu menariknya pelan.


Ceklek.


Dazai menatap Hajime meminta penjelasan setelah mendengar suara pintu tertutup.


"Keiji masih kesal, dia sepertinya sudah nyaman dengan Yuki dan menganggapnya seperti kakak sendiri. Mendapatkan semua fakta mendadak ini membuat Keiji tidak bisa mengontrol emosinya. Maaf atas sikapnya yang masih labil." Jelas Hajime membungkuk kepada Dazai.


"Agh, begitu rupanya." Dazai meletakan satu tangannya di atas pinggang.


"Waka (Tuan muda) aku kemari karena Tsubaki yang memintaku. Apa anda masih ingat saya?." Hajime dan Masamune yang berdiri di kejauhan menatap aneh Hotaru yang di panggil tuan muda oleh Dazai.


"Wajahmu terlihat tidak asing tapi aku tidak bisa mengingatnya." Jawab Hotaru. Dazai menganggukkan kepalanya sekilas lalu beralih menatap Hajime.


"Hajime aku bisa menjamin ojou chan dan Hachibara san benar saudara kembar. Orang tuaku bekerja di rumah mereka sejak dulu. Apa itu cukup untuk meyakinkanmu?." Kata Dazai.


"Ya, aku akan meyakinkan Keiji nanti."


"Sepertinya tidak perlu, ojou chan sedang melakukannya." Balas Dazai.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Maaf sudah membuat keributan." Hajime beranjak berdiri.


Puk.


Dazai menepuk pundak Hajime memberikan dorongan sebagai cara untuk menghibur pemuda itu.


"Hati-hati dan terima kasih." Ucap tulus Dazai, pasalnya Dazai tahu Hajime terus mencari Yuki di hari-hari yang dingin itu.


"Hm, permisi."


Semua orang menatap punggung Hajime yang hilang di balik pintu.


"Apa aku perlu keluar juga?, mungkin kalian ingin memiliki ruang untuk berbicara." Masamune berjalan mendekati Dazai.


"Maaf Masamune san." Kata Dazai tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Balas Masamune.


Kepekaan wanita itu patut di acungi jempol. Dazai memberikan kartu kredit miliknya untuk di gunakan oleh Masamune. Cukup lama keduanya berdebat tentang kartu itu akhirnya Dazai lah yang mengakhiri perdebatan dengan kekalahan dari Masamune. Dazai tidak bisa membiarkan Masamune mengeluarkan uang pribadi wanita itu karena nona muda dan tuan mudanya.


Dazai duduk di depan Hotaru, ia mulai memperkenalkan diri sebagai anak dari pasangan pelayan yang bertugas sebagai koki di kediaman utama, tempat yang sering Yuki datangi untuk bersembunyi. Dazai juga menjelaskan dirinya keluar dari kediaman utama untuk menjadi seorang dokter, pernah sekali menjadi dokter pribadi tuan besar sampai ia memutuskan menjadi dokter di salah satu rumah sakit di tokyo.


Dazai mendapatkan berbagai pertanyaan dari Hotaru tentang hukuman Yuki selama ini. Dazai pun menjawab tanpa ragu. Meski Hotaru sudah banyak bertanya kepada Jun Ho yang menangani Yuki sejak awal hukuman itu aktif sampai perjuangan Yuki membuat pil sambil mempertahankan diri untuk selamat dari maut yang berulang kali menjemputnya, Hotaru merasa itu belum cukup.


Ceklek.


Pintu terbuka. Semua orang melirik ke arah pintu. Yuki berjalan santai dengan es krim di tangan kanannya dan sekantung plastik berisi makanan yang sama.


"Dai chan, sudah makan?." Tanya Yuki lalu melirik Hotaru menyodorkan es krim yang sedang di makannya.


"Sudah ojou chan." Jawab Dazai.


"Apa urusanmu sudah selesai?." Tanya Hotaru setelah menggigit es krim Yuki.


"Ung." Yuki kembali memakan es krimnya.


"Keiji mengingatkanku dengan."


"Jaeha." Yuki menoleh terkejut kepada Hotaru.


"Bagaimana kamu bisa tahu?." Tanya Yuki.


"Dari Jun Ho si." Yuki memutar bola matanya mendengar nama pria itu.


Yuki berjalan ke ruang tengah meletakan belanjaannya tadi, kembali ke dapur untuk mengambil cemilan yang lain. Tangannya membuka kulkas mendapati Masamune masih membuatkan es lemon yang di simpan di dalam botol meski ia sudah tidak tinggal di sana lagi. Tangan Yuki penuh dengan makanan dan minuman membawanya ke ruang tengah.


"Kamu belum kenyang?." Hotaru beranjak membantu Yuki.


"Aku masih ingin makan." Jawab Yuki santai.


Mereka duduk di sofa, Dazai dan Fumio mengikuti. Diam-diam Dazai melirik Fumio yang duduk di single sofa, padahal dulu mereka bertiga selalu duduk bersebelahan dengan Yuki di tengah-tengah mereka.


Yuki menaikan kedua kakinya ke atas sofa, menyandarkan tubuhnya pada Hotaru, mulut gadis itu terus mengunyah.


"Ojou chan, saya kesini untuk berbicara dengan waka. Urusan saya sudah selesai jadi saya pamit pulang." Kata Dazai.


"Kenapa buru-buru?."


"Besok ada jadwal operasi saya harus istirahat lebih awal." Jelas Dazai.


"Hm." Yuki menganggukkan kepalanya.


"Waka, Fumio san, saya pamit pulang." Dazai membungkuk sopan.


"Terima kasih." Ucap Hotaru.


Ruangan itu hanya terdengar suara televisi yang memutar serial drama jepang.


"Kamu sudah berbaur dengan orang lain sekarang." Celetuk Hotaru.


"Aku belajar dari Jaeha." Jawab Yuki.


"Aku harus bertemu langsung dengan anak itu untuk mengucapkan terima kasih." Ujar Hotaru.


"Hotaru."


"Hm?."


Yuki menegakkan tubuhnya meletakan coklat yang ia makan untuk menengguk minumannya.


"Tunggu sebentar." Ucap Yuki berlari ke lantai dua dan kembali lagi dengan buku dan bolpoin.


Yuki terdiam sebentar melihat kucingnya mendengkur di atas pangkuan Fumio.


"Untuk apa buku itu?." Yuki melirik Hotaru tersadar dari lamunannya dan duduk di samping Hotaru menghadap saudara kembarannya.


"Bisa jelaskan ini?." Tanya Yuki membuka buku.


Hotaru terdiam cukup lama. Manik coklat terangnya bergerak menatap manik biru Yuki.


"Kamu dapat dari mana?. Ini." Hotaru menggantungkan kalimatnya. Fumio yang mendengar nada terkejut Hotaru ikut melirik ke dalam buku Yuki.


"Strategi penyerangan pelindung dalam penyerangan klan yakuza." Jawab Yuki enteng.


Fumio yang tidak tahu menahu tentang gambar itu langsung melirik Hotaru. Di saat mereka menyusun rencana penyerangan, Hotaru memang memegang bolpoin dan buku, mencoret-coretnya asal. Fumio kira itu hanya coretan tidak berguna. Coretan itu tidak jelas dan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah gambar.


"Apa kamu juga yang menggagalkan penyerangan," Yuki memotong kalimat Hotaru, melanjutkannya.


"Morioka san. Ya, itu aku." Jelas Yuki.


"Kamu mengetahui rencana kami?." Hotaru menatap lekat-lekat manik Yuki.


"Ya."


"Sejak kapan?."


"Kira-kira sejak penyerangan di osaka." Yuki kembali fokus.


"Itu tidak penting, jelaskan ini padaku. Bagaimana caramu melakukannya?." Yuki menunjuk coretan miliknya.


"Itu penting untukku. Kamu sudah mengetahui rencana kami, kenapa malah menghalangi kami di penyerangan terakhir?. Jika kamu muncul lebih cepat mungkin aku bisa menemukanmu saat itu juga." Yuki diam sebentar menarik tubuhnya yang sedikit condong ke depan.


"Hukuman sialan itu selalu muncul memutar potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap membuatku tidak ingin bertemu denganmu." Hotaru membeku mendengar jawaban Yuki.


"Kita juga sama-sama tidak tahu kalau kita ternyata sudah kembali ke jepang." Imbuh Yuki melirik Hotaru yang memasang wajah kaku, terluka karena jawabannya.


Yuki mengecup singkat dahi Hotaru menyadarkan saudara kembarnya sekaligus sebagai permintaan maaf.


"Aku harap kamu mengerti." Lirih Yuki.


Grep.


Bruk.


Hotaru menangkap tubuh Yuki menariknya sampai menubruk tubuhnya, memeluk erat Yuki.


"Maaf kamu harus melewatinya sendiri." Ucap Hotaru.


"Tidak, ada Tsuttsun dan Dai chan. Masa san juga selalu merawatku." Balas Yuki.


"Kalau begitu tolong jelaskan." Yuki kembali ke tujuannya.


"Tidak, jika aku memberitahumu pasti kamu akan berbuat sesuatu secara diam-diam lagi." Tolak Hotaru.


"Hotaru." Paksa Yuki.


"Tidak." Tegasnya.


"Hotaru." Yuki tidak menyerah.


"Tidak Yuki, kamu tahu betapa ketakutannya aku kehilanganmu. Jangan berbuat yang tidak-tidak." Yuki menggeliat di dalam pelukkan Hotaru mencari tempat yang nyaman.


"Aku merindukanmu." Aku Yuki tiba-tiba. Membuat Hotaru hampir menangis karena bahagia.


"Apa kamu sedang merayuku?." Hotaru tersadar akan kebiasaan Yuki.


"Apa menurutmu seperti itu?." Yuki sudah menemukan tempatnya, ia diam dengan tenang.


"Hm."


"Aku bukan Yuki bocah cilik lemah yang suka senyum-senyum kemana-mana, Hotaru." Hotaru tertawa lirih.


"Kamu akan tetap jadi bocah cilik di depan mataku." Sahut Hotaru.


"Hanya dua menit bukan dua tahun jarak kita lahir." Ada nada kesal di suara Yuki.


Hotaru mengecup lembut pucuk kepala saudari kembarnya.


"Aku tidak meremehkanmu, kamu lebih berbakat dariku Yuki. Tapi jangan memaksaku. Aku hampir gila malam itu. Melihatmu kesakitan, melihatmu yang perlahan menutup mata. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika aku benar-benar kehilanganmu." Lirih Hotaru seperti sebuah bisikan.


Yuki merasakan kepalanya basah, ia mendongak ke atas menghapus air mata Hotaru.


"Sejak kapan kamu jadi cengeng?." Hotaru menangkup tangan Yuki di pipinya.


"Sejak aku kehilangan jejakmu." Yuki menelan salivanya kasar.


"Tidak lagi, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Iblis itu sekali pun." Seperti ada yang menyayat luka di hati Hotaru yang masih basah.


Yuki benar-benar sudah membenci ibu mereka, meski dengan fakta yang sudah ada Yuki tidak memiliki niat sedikit pun untuk berdamai dengan ibunya.


Kenapa keluargaku jadi seperti ini?, batin Hotaru merindukan kehangatan keluarganya. Hotaru terkejut Yuki tiba-tiba memeluknya erat.


"Maaf, semua ini karena kesalahanku." Ucap Yuki. Hotaru mengecupi pucuk kepala Yuki berkali-kali.


"Ini bukan salahmu, ini salah BD." Tegas Hotaru.


Fumio menundukan wajahnya setelah melihat semua adegan dan mendengar pembicaraan kedua saudara kembar itu.


"Aku ngantuk." Lirih Yuki.


"Mau tidur sekarang?." Tanya Hotaru.


"Ung."


"Aku akan mengantarmu ke kamar." Tawar Hotaru.


"Gendong." Hotaru tersenyum hangat melihat tingkah manja Yuki lagi.


"Bayi hulk ku sudah tambah tinggi masih saja manja." Ledek Hotaru.


"Bodo." Balas Yuki.


Hotaru tertawa mengangkat Yuki membawa adiknya ke lantai dua, melirik Fumio sebelum ia meninggalkan ruang tengah.


"Tidurlah aku akan turun menemani Eiji." Yuki menahan tangan Hotaru.


"Dia bisa tidur di kamar sebelah. Kamu tetap di sini." Kata Yuki. Hotaru mengacak rambut adiknya sebentar.


"Kenapa kita bertiga tidak tidur bersama lagi seperti dulu." Tawar Hotaru.


"Jangan gila, aku tidak mengingatnya." Ketus Yuki.


"Hahaha, aku turun sebentar untuk memberitahunya." Barulah Yuki melepaskan tangan Hotaru.


Hotaru keluar dari kamar Yuki menuruni tangga mendapati Fumio yang sedang membereskan meja. Hotaru langsung membantu membuang sampah-sampah Yuki.


"Di lantai atas ada dua kamar. Kamar di depan tangga milik Yuki, kamu bisa tidur di kamar sebelahnya, aku akan tidur dengan Yuki." Jelas Hotaru.


"Selama ini Yuki tahu pergerakan kita." Celetuk Fumio.


Hotaru menyandarkan tubuhnya di dinding samping kulkas.


"Aku tidak terkejut lagi. Nenek sudah melakukan hal yang benar dengan melarang Yuki memegang komputer, tapi aku dengar beberapa bulan sebelum penyerangan kita yang ke dua Yuki mendapatkan komputer dari nenek." Fumio mengamati raut wajah Hotaru.


"Apa kamu baik-baik saja?."


"Tidak ada yang bisa membaca garis coretanku, hanya para pewaris yang bisa membaca dan menggambar itu. Yuki juga tidak, dia pasti menebaknya dengan benar." Kesimpulan Hotaru yang tepat sasaran.


"Apa ada sesuatu yang hanya di rahasiakan oleh para pewaris?." Tanya Fumio.


"Ya, sesuatu yang." Hotaru melebarkan matanya menghentikan kalimat yang hampir keluar.


"Ada apa?." Tanya Fumio yang melihat keterkejutan Hotaru.


"Jangan bicarakan hal serius lagi di sekitar Yuki. Kita tidak tahu dia bisa saja mendengar kita, atau tidak." Fumio mengangguk paham.


Sedangkan di dalam kamar Yuki cemberut seraya menendang selimut karena panas.


"Aku naik dulu." Ujar Hotaru.


"Ung, aku mau mengunci pintu sebentar."


Mereka berpisah. Hotaru kembali ke kamar Yuki melihat adiknya yang sedang bermain dengan ponsel.


"Katanya ngantuk?." Tanya Hotaru.


Yuki menepuk kasur di sampingnya. Hotaru merebahkan diri di samping saudari kembarnya. Yuki meletakan ponselnya dengan kasar di atas kasur memiringkan tubuhnya memeluk Hotaru.


"Apa menjadi pewaris bisa mengetahui semua tentang klan?." Tanya Yuki tiba-tiba. Hotaru membalas pelukan Yuki merapikan rambut gadis itu yang menutupi sebagian wajah.


"Hm. Dan menanggung tanggung jawab besar klan, itu kewajiban kami." Jawab Hotaru.


"Aku tidak ingin kamu melakukannya." Hotaru menghirup wangi tubuh khas Yuki.


"Belum mau tidur?." Yuki kesal karena ucapannya diabaikan oleh Hotaru.


"Hotaru!." Kesal Yuki.


"Itu takdirku Yuki, takdir para pewaris terdahulu." Jawab Hotaru.


"Aku janji, setelah semua ini selesai kita bersama klan akan hidup damai lagi seperti dulu. Sekarang tidurlah." Hotaru mengecup sekilas dahi Yuki.


***


Paginya Yuki bangun lebih awal karena mencium bau harum dari arah dapur. Dengan langkah goyah dan mata yang masih menutup setengah Yuki berjalan menuruni tangga. Duduk di kursi dapur seperti kebiasaannya di rumah itu. Meletakan kepalanya di atas meja.


"Masa san, lapar." Lirih Yuki tidak jelas seperti sebuah gumaman.


Fumio tersenyum melihat wajah bangun tidur Yuki. Ia sempat terkejut karena tiba-tiba Yuki berjalan dengan mata tertutup dan duduk di kursi meja makan.


"Kamu sudah bangun?." Suara Masamune menyambut pagi Yuki.


"Uungg .., apa belum matang Masa san?." Gumam Yuki.


Masamune yang baru keluar dari kamar mandi untuk membasuh wajahnya bingung mendapatkan pertanyaan itu dari Yuki.


Di belakang meja pantry Fumio memberikan kode untuk tidak mengatakan Fumio berada di sana dan menyuruhnya menjawab Yuki.


"Aa .., sebentar lagi." Jawab Masamune. Ia baru pulang beberapa menit yang lalu dan sudah mendapati Fumio berada di dapur.


"Hmmm?, Yuki. Kamu ada di sini?." Suara berat, serak Hotaru menghampiri kembarannya.


Hotaru duduk di samping Yuki menopang dagu dengan mata yang masih setengah terpejam hal itu membuat Masamune melihat salah satu kemiripan kedua saudara kembar Hachibara.


Lucu, batin Masamune bergabung dengan Fumio di dapur.


"Sudah selesai semua?." Lirih Masamune terkejut. Fumio lagi-lagi tersenyum seraya menganggukan kepala. Pemuda itu sedang menyiapkan minuman lemon dingin dan dua es kopi.


"Masamune san mau minum apa?." Tanya Fumio.


"Eeh ..?, air putih saja." Masamune terkejut, ia belum terbiasa melihat paras calon tunangan Yuki, mungkin tidak akan pernah bisa. Apa lagi melihat manik coklat terang kembaran gadis itu, sangat lembut dan manis.


Astaga!, apa yang sedang aku pikirkan. Aku wanita matang bukan anak remaja lagi, tegur Masamune dalam hati.


Masamune menyiapkan meja membantu Fumio yang sudah memasak sarapan untuk mereka.


"Yuki, ayo bangun." Ucap Masamune.


Gadis itu mengangkat kepalanya menoleh ke arah Hotaru membuka perlahan kelopak matanya.


"Ohayou." Cup. Sapa Yuki mendaratkan kecupan lembut di pipi Hotaru.


"Ohaaa hmm, you." Balas Hotaru menutup mulutnya yang menguap.


Yuki beranjak dari duduknya berjalan pelan ke dalam kamar mandi di ikuti oleh Hotaru.


"Mereka sangat manis." Celetuk Masamune kepada diri sendiri.


"Mereka selalu seperti itu." Masamune terkejut mendapatkan balasan dari Fumio, ia pikir tidak ada yang mendengarkannya.


"Kenapa kamu suka bolos sih, pokoknya tidak boleh." Tegas Hotaru. Keduanya keluar dengan wajah yang lebih segar.


"Ini hari sabtu, memajukan hari libur itu baik." Bujuk Yuki.


"Nakal sekarang, hm." Hotaru mencubit gemas hidung Yuki.


"Satu hari Hotaru, jangan berlebihan. Aku ingin pergi ke akuarium. Aku belum pernah ke sana." Ujar Yuki.


Hotaru menarik kursi untuk Yuki lalu ia menarik kursi di samping adiknya.


"Kamu sudah pernah waktu," Hotaru langsung menghentikan kalimatnya. Ia menepuk pelan kepala Yuki. Hotaru baru sadar Yuki mungkin tidak mengingat memori itu.


"Setelah latihan, kita pergi ke akuarium." Hotaru memutuskan.


Mereka sarapan dengan sesekali menjawab pertanyaan Masamune yang masih penasaran dengan hubungan darah Yuki dan Hotaru.


***


Latihan yang membosankan menurut Yuki. Sekarang Hotaru sering menjahilinya dengan mengajak Yuki ikut bermain voli. Istirahat sepuluh menit dua jam sebelum makan siang. Yuki yang di mintai tolong menejer tim sekolah lain untuk membantu membawakan keranjang minuman mereka berjalan kembali ke timnya namun sebuah tangan panjang berusaha memperangkap Yuki menyudutkan gadis itu ke tembok.


Yuki mengambil langkah mundur, ia merasakan tangan lain bergerak hendak menutup akses keluarnya, Yuki membungkuk menghindar lalu memutar tubuhnya melewati pemain salah satu sekolah. Hal itu tertangkap oleh dua pasang mata yang tengah duduk di lantai.


"Jadi seperti itu Yuki menghindari serangan laki-laki lain." Gumam Hotaru.


"Hm." Fumio membenarkan.


"Kamu tahu?." Tanya Hotaru.


"Aku sering melihatnya." Jawab pemuda itu.


"Hachibara san!, bisa kita bicara?." Seru pemain itu.


"Apa yang akan di lakukan Yuki setelah ini?." Tanya Hotaru melirik Fumio.


Mereka masih menonton. Anehnya Yuki melakukan apa yang Fumio katakan.


"Membungkuk." Ucap Fumio, Yuki benar-benar membungkuk.


"Tersenyum." Yuki menarik kedua sudut bibirnya.


"Membalikan badan dan kembali berjalan." Yuki membalikan badan dan berjalan santai ke arah mereka.


"Shuuuuttsss .. Seribu poin untukmu." Hotaru bersiul kecil.


"Yuki!." Gadis itu menoleh ke arah pintu gym.


Yamazaki memberikan isyarat untuk mendekat, Hotaru dan Fumio melihat sosok Mizutani berdiri di belakang Yamazaki.


"Ada apa?." Lirih Hotaru.


"Tidak tahu." Jawab Fumio.


Yuki berjalan menghampiri Yamazaki, berbicara sebentar lalu pergi bersama Mizutani.


Prok. Prok. Prok.


"Istirahat selesai." Seru Hara pelatih mereka.


Semua orang kembali berkumpul sebelum masuk ke dalam lapangan.


"Sensei, Yuki pergi kemana?." Tanya Hotaru kepada Yamazaki.


"Oh itu, pelatih baseball meminta izin meminjam Yuki satu hari ini untuk berlatih baseball bersama tim beliau. Untuk persiapan pertandingan semi final hari senin nanti." Jelas Yamazaki.


"Baseball?, itu berbahaya untuk perempuan." Kata Yuto terkejut.


"Haha, Yuki dulunya mantan menejer tim baseball mereka. Dia juga menorehkan prestasi untuk tim baseball di musim gugur tahun lalu." Jawab Yamazaki yang mendapatkan informasi itu dari Mizutani.


Wajah tidak percaya tercetak jelas di wajah para pemain.


"Kalian boleh menonton latihan baseball sekolah oukami setelah jam istirahat nanti tapi!, kalian harus memenangkan latih tanding dengan sekolah oukami selaku tuan rumah yang belum juga kalian kalahkan." Yamazaki menantang murid-muridnya.


Belum ada sekolah lain yang bisa mengalahkan tuan rumah yang memiliki spiker nomor satu di jepang, libero nomor dua sejepang, dan blocker terkuat di jajaran anak sma seluruh jepang. Sekolah oukami adalah pencetak rekor sebagai juara bertahan tingkat nasional selama sembilan tahun berturut-turut seperti tim basket dan tim-tim lainnya. Sekolah ternama itu sering mencetak rekor dalam segala bidang.


Dan tahun lalu tim baseball kembali menunjukkan taring mereka di lapangan koshien.


"Yo kalian," Hotaru terkejut dengan rekan-rekannya yang menyerobot penuh semangat.


"Kami akan mengalahkan sekolah serigala!." Seru mereka mengundang sekolah lain menatap ke arah mereka, tidak terkecuali sekolah tuan rumah itu sendiri yang memberikan senyuman miring.


Di lain lapangan, Yuki berjalan di belakang Mizutani menuju ke belakang sekolah.


"Chibi sudah keluar dari rumah sakit. Dia sudah pulih." Lapor Mizutani.


"Ung."


Yuki melarang mengirimkan pesan rahasia lewat ponselnya. Ia lebih berhati-hati. Harus menggunakan sandi untuk berbicara hal yang penting dengannya atau tidak usah mengirimkan pesan sama sekali. Karena para bayangan masih mencoba menyesuaikan kode baru Yuki jadi mereka memilih melaporkan langsung.


"FBI sedang menggeledah rumah sakit tempat Dazai bekerja setelah mendapatkan izin dari kepala rumah sakit." Mereka sudah dekat dengan lapangan. Jeritan suara pemain menyambut kedatangan Yuki.


"Dai chan sempat memberitahumu?." Tanya Yuki.


"Ya. Satu anggota BIN gugur tadi malam di tangan anak buah Youtaro." Yuki menaikan alisnya.


"Siapa nama anggota BIN yang gugur?." Yuki sedikit khawatir, meski sebentar tapi Arga yang menolongnya setelah di tabrak oleh Ayumi.


"Seseorang yang bernama Yogi." Yuki menghela nafas lega.


"Bersabarlah, setelah aku kembali ke kediaman utama aku akan segera menyusun ulang semua rencana. Kita tidak boleh gegabah." Titah Yuki.


"Baik." Jawab Mizutani.


Mereka memasuki lapangan A. Menarik perhatian para pemain. Inuzuka dan yang lainnya melihat kedatangan Yuki dan hendak berteriak menghampiri gadis itu namun raut wajah Mizutani yang datar mengurungkan niat mereka.


"Apa yang kalian lakukan?. Kembali berlatih." Titah Mizutani.


"Hai!." Seru mereka kompak.


Yuki mengedarkan pandangannya, ia menemukan Keiji yang fokus memukul lemparan bola dari mesin. Yuki mengingat kejadian tadi malam. Yuki memeluk tubuh bongsor Keiji seraya menjelaskan beberapa fakta untuk menenangkan anak itu, membuat Keiji mengerti.


Ada dua wajah asing yang menarik perhatian Yuki.


"Siapa kedua catcher itu?." Tanya Yuki.


"Mereka anak kelas satu. Kemampuan memukul mereka akan membantu tim, kemampuan menangkap mereka cukup untuk masuk tim inti." Jawab Mizutani.


"Heeee ... Kamu memuji mereka Tsutsun, membuatku penasaran." Balas Yuki memperhatikan latihan.


"Kami bertemu sekolah midori hari senin nanti." Yuki melirik Mizutani.


"Mau aku menyamar menjadi menejer kalian?." Tawar Yuki.


"Itu namanya pelanggaran." Yuki tertawa lirih.


"Aku akan membuat kalian pergi ke koshien di musim panas ini." Yuki bersemangat.


"Sudah lama kamu tidak sesemangat ini." Ujar Mizutani.


"Tidak, aku sangat bersemangat saat menunggangi Yuki." Mizutani menoleh bingung menatap Yuki.


"Kuda putih di kediaman utama." Mizutani baru paham.


"Tsuttsun aku ingin pergi ke lapangan B." Pinta Yuki.


"Kamu tidak puas dengan anggota ini?." Tanya Mizutani.


"Ung, sedikit. Rasanya masih ada yang kurang." Jawab Yuki.


"Aku akan melihat-lihat dari luar lapangan." Ujar Yuki berjalan keluar dari lapangan A.


Kemana senpai pergi?, batin Inuzuka yang tidak melihat Yuki di lapangan A.


Yuki berdiri menonton para pemain di lapangan B. Mengamati satu persatu pemain. Mata elangnya menyorot tajam mencari potongan kecil untuk melengkapi tim inti. Setelah menemukan yang ia mau Yuki melambaikan tangan kepada Sakura untuk mendekat.


"Senpai!, aku melihat senpai kemarin di atas panggung. Senpai tambah cantik dengan rambut baru senpai. Aku ingin menyapa senpai tapi senpai sudah menghilang. Suara senpai sangat bagus seperti dulu, aku sampai merekamnya." Ucap Sakura tanpa henti.


"Sakura, tarik nafas." Gadis itu seakan baru tersadar lalu segera melakukan yang Yuki katakan.


"Terima kasih untuk pujiannya. Aku boleh minta tolong?." Tanya Yuki.


"Ung!." Jawab Sakura semangat.


"Aku dapat izin khusus hari ini untuk membantu latihan tim baseball. Boleh panggilkan pemain yang menggunakan kacamata itu?." Pinta Yuki.


"Yang itu?." Sakura menunjuk pemain tinggi berkacamata.


"Bukan, yang berdiri di belakangnya." Jelas Yuki.


"Yang pendek itu?." Yuki hampir saja tertawa.


Bagaimana bisa pemain itu di bilang pendek padahal tingginya melebihi Sakura yang hanya setinggi pundak Yuki.


"Ya, yang itu." Jawab Yuki.


"Baik, senpai tunggu sebentar." Sakura langsung meluncur menghampiri pemain itu.


Yuki tidak melihat Suzune san, mungkin wanita itu sedang menonton pertandingan tim lawan yang mungkin akan menjadi lawan mereka di final nanti. Memata-matai tim lawan.


Pemain itu berlari kecil menghampiri Yuki tanpa Sakura, gadis itu langsung di sibukan oleh tugasnya sebagai menejer.


"Maaf kamu memanggilku?." Yuki tersenyum kecil membuat pemain yang tingginya sebawah telinga Yuki salah tingkah.


"Hachibara Yuki salam kenal." Mendapatkan perkenalan tiba-tiba semakin membuatnya bergerak kaku.


"Kazuo Ken, kochira koso yoroshiku onegaishimasu (Kazuo Ken, salam kenal juga)." Ucapnya.


"Tolong ikut denganku." Yuki melihat raut bingung di wajah Kazuo tapi pemuda itu tetap mengikuti Yuki.


Yuki kembali ke lapangan A bersama Kazuo di belakangnya.


"Kamu sudah mendapatkan yang kamu cari?." Tanya Mizutani.


"Ung. Kazuo kun, apa posisimu?." Tanya Yuki menoleh ke belakang.


"Penjaga base dua." Jawab Kazuo.


Meskipun Kazuo bingung karena perempuan tak dikenal itu terlihat akrab dengan pelatihnya ia tetap mengikuti perintah perempuan bak dewi Afrodit (dewi kecantikan dan cinta) itu.


"Kita memiliki Hirogane di base dua." Kata Mizutani.


"Tentu." Jawab Yuki lalu kembali menoleh ke belakang.


"Kemari, aku lelah harus memutar ke belakang." Yuki menunjuk tempat di sebelahnya.


Dengan malu-malu Kazuo berdiri di samping Yuki yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari para seniornya tanpa Kazuo ketahui.


"Apa kelebihanmu yang lain?." Tanya Yuki.


"Aku memiliki kaki yang cepat." Jawabnya.


"Hirogane juga memiliki kemampuan itu." Sahut Mizutani.


"Sma midori juga memiliki pemain yang tidak kalah cepat dengan Hirogane kun, si rambut merah." Yuki masih mengingat jelas pemain itu.


"Kita lihat kemampuan memukulmu." Ujar Yuki.


"Eh?." Kazuo terkejut.


"Kamu sangat menginginkannya?." Tanya Mizutani.


"Ung, sekalian kita lihat kemampuan catcher kelas satu yang sudah masuk ke tim inti di musim panas ini." Yuki berjalan menghampiri Nakashima yang sedang melempar berpasangan dengan catcher kelas satu.


Catcher itu memiliki warna rambut yang mencolok dan warna kulit yang mirip seperti Yuki.


"Kamu bersiaplah mengambil perlengkapan memukul." Pinta Yuki.


"H hai." Kazuo pergi secepat kilat dan kembali dengan cepat pula.


"Senpai, kenapa di sini?." Yuki menoleh ke belakang.


"Haruno kun, aku sedang bermain-main sebentar. Tsuttsun yang memintaku. Akh, maksudku pelatih." Yuki mengoreksi.


"Apa kita akan bermain bersama?." Haruno menyembunyikan nada riangnya.


"Mungkin." Yuki mengulas senyum.


"Aku menantikan lemparan senpai." Ucap Haruno dengan semburat merah di pipinya, laki-laki imut itu pergi bersiap masuk ke dalam kotak pemukul menggunakan mesin pelempar.


Kazuo yang mendengar pembicaraan Haruno, senior yang ia kagumi dengan perempuan itu dibuat semakin bingung.


"Sudah?." Tanya Yuki.


"H hai." Yuki menepuk pundak Kazuo menyemangati.


"Jangan gugup, aku tidak akan memakanmu." Ucapan Yuki itu malah membuat Kazuo semakin gerogi.


"Nakashima kun!, tolong melempar untuknya." Seru Yuki mengejutkan yang lain.


"E eeh?!." Kazuo seperti di hantam palu besar tiba-tiba di minta memukul lemparan pitcher utama tim inti.


"SENPAAAIII !!!." Jeritan melegenda itu membelah lapangan. Yuki melirik ke arah Mizutani membuat mereka langsung menghentikan jeritan itu.


"Apa kamu terkejut?. Pasti bingung, aku menejer tim baseball ini sebelum pindah sekolah." Jelas Yuki yang mendapati wajah pucat Kazuo.


"Pergilah." Pinta Yuki.


"H hai." Kazuo berjalan terseok-seok ke dalam kotak pemukul.


Yuki berjalan dan berdiri di belakang tali pembatas tepat di belakang catcher.


"Kazuo?." Panggil catcher kelas satu itu.


"Tsuchi, aku tiba-tiba di bawa kemari." Adu Kazuo.


"Kalian saling kenal?." Catcher itu terkejut dan membalikan badannya.


Yuki mendapati tatapan tajam yang sedikit arogan.


Plak.


"Agh." Lirih anak bernama Tsuchi itu. Inuzuka tiba-tiba memukul bagian atas pelindung kepala catcher.


"Menurutku tidak begitu." Jawaban Yuki mengejutkan yang lain.


"Eh?!."


"Sudah, jangan buang-buang waktu. Koshien menunggu kalian." Kalimat pendek Yuki membangunkan bara api di dalam tubuh Inuzuka.


"Siap senpai!." Seru Inuzuka dengan tubuh yang di tegapkan dan berlari layaknya prajurit membuat Yuki terkekeh geli.


"Yoroshiku na Tsuchi kun (Tolong kerja samanya ya Tsuchi)." Ucap Yuki. Mau tidak mau Tsuchi mengikuti perintah tamu asing itu.


Mereka bersiap-siap. Yuki berseru kepada Nakashima meminta bola yang cukup pelan untuk Kazuo. Nakashima sempat menolak tapi menurut juga kepada Yuki.


Kazuo berhasil memukul semua lemparan Nakashima.


"Kamu sudah cukup istirahat kan Tsuchi, sekarang lemparan yang sebenarnya." Tsuchi yang mendengar suara Yuki pun terkejut.


Bagaimana bisa orang asing ini tahu, batin Tsuchi.


"Nakashima kun, berikan lemparan penuhmu." Seru Yuki. Nakashima terlihat tersenyum senang, senyum yang pertama kali Yuki lihat di wajah datar pitcher itu.


Kazuo langsung bersiap, sorot matanya berubah tajam. Yuki tersenyum melihat respon anak itu, ia beralih menatap ke bawah.


Sekarang, bagaimana caramu menghentikan bola Nakashima kun?, batin Yuki yang menyadari sejak tadi Nakashima tidak melempar dengan serius. Mungkin karena pasangannya masih kelas satu. Di dalam pertandingan tidak ada kelas satu atau kelas dua, jika pemain itu masuk ke dalam tim inti mereka harus menyerahkan seluruh kemampuan mereka kepada tim.


Nakashima mulai melempar. Yuki cukup terkejut dengan peningkatan kecepatan bola Nakashima selama ia pergi. Bola membentur ujung sarung tangan Tsuchi dan melewati tubuh catcher itu.


Yuki melihat Tsuchi yang membeku, ia segera memberikan kode kepada Nakashima untuk melempar lagi. Kazuo semakin fokus, kini anak itu seperti hewan kelaparan.


Pukulan keras yang nyaring melambungkan bola cukup jauh. Semua pemain menatap Kazuo tidak percaya.


"Oooooo ..." Seru mereka terkejut. Kazuo bergerak salah tingkah.


"Tsuchi, apa kapten tidak mengajarimu?." Anak itu menatap jauh ke tengah lapangan tempat Kudo berada.


"Dia rivalku." Jawabnya menggeram.


"Kita sama kalau begitu, aku juga pernah di buat kesal karena dia." Tsuchi menatap cepat Yuki.


"Pergilah jika mau mempermalukanku. Meskipun para senior memanggilmu senior mereka kau tetap orang asing di klub baseball." Yuki menarik salah satu sudut bibirnya.


"Aku belum puas mempermalukanmu." Yuki menyulut perseteruan di antara mereka.


"Tcih." Tsuchi memunggungi Yuki.


Jadi ingat anak dari klub panah, apa suara panahku sudah berubah ya?, batin Yuki berjalan meninggalkan tempat itu.


Yuki menghampiri Mizutani berbicara dengannya sebentar, lalu pria itu mengumpulkan para pemain tim inti.


Semua sudah berbaris rapi di depan Mizutani, Yuki, dan menejer kelas tiga.


"Aku meminjam Yuki dari tim voli sekolah lain. Yuki akan menemani kalian berlatih." Kata Mizutani. Semuanya terlihat bersemangat dan hanya ada satu anak yang berani mengeluarkan suara keras di depan Mizutani.


"Yes!." Siapa lagi kalau bukan Inuzuka.


"Ekhem." Deham Mizutani.


"Yuki akan menjadi pemukul untuk berlatih dengan pitcher, lalu setelah istirahat siang nanti akan ada latih tanding tim inti dengan tim A dan tim B yang di pimpin oleh Yuki." Jelas Mizutani, lagi-lagi Inuzuka berteriak.


"Yes!." Yuki mengulas senyum karena melihat kelakuan pemuda itu yang selalu berhasil membuatnya tersenyum dan tertawa.


"Sekarang kalian kembali ke tempat, kecuali para pitcher. Bagaimana dengan Kazuo?." Mizutani melirik Yuki.


Tsuchi yang merasa aneh pun ikut menatap Yuki dengan tatapan tidak bersahabat.


"Aku ingin dia mencoba memukul lemparan Inuzuka kun, dan catcher mungil itu untuk memukul lemparan Tora san." Manik Yuki tertuju kepada catcher kelas satu yang lain.


"Baik, kalian mendengarnya bukan. Segera pergi ke posisi masing-masing." Titah Mizutani.


"Hai!." Seru mereka kompak.


Yuki memasang pelindung lengkap dan mengambil pemukul. Ia masih mengenakan kaos putih pendek dan celana training berjalan di box pemukul sebelah kanan.


"Apa yang di lakukan perempuan di tempat para laki-laki. Tanganmu bisa saja patah." Kata Tsuchi yang sudah berjongkok.


"Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?." Balas Yuki membuat Tsuchi naik darah.


"Nakashima kun, berikan lemparan terbaikmu. Anggap aku pemukul ke empat sma midori." Pinta Yuki, Nakashima menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak berkomentar?." Tanya Yuki tanpa melirik Tsuchi.


"Tidak perlu, sebentar lagi juga kamu diangkut ke rumah sakit." Yuki mengulas senyum kecil.


Tang!.


Satu pukulan melayang.


Tang!.


Dua pukulan home run.


Tang!.


Tiga pukulan ke arah pojok kiri lapangan.


"Nakashima kun, lebih serius. Apa kamu akan membiarkan sma midori menang?!." Seru Yuki.


"Tidak!." Balas Nakashima. Yuki menganggukkan kepala.


"Berikan aku lemparan menukikmu." Pinta Yuki.


"Sebaiknya arahkan pasanganmu dengan baik atau kamu akan menghancurkan pitchermu." Kalimat Yuki menohok Tsuchi.


Nakashima melakukan semua arahan Yuki. Gadis itu juga melatih Nakashima menghadapi pemukul bertangan kanan dan juga kidal. Anak-anak kelas satu yang tidak mengenal siapa Yuki dibuat terpana oleh ketegasannya dan ke akuratannya dalam mengajari para pemain. Latihan di lapangan B sempat terhenti karena para pemain menonton latihan di lapangan A.


Yuki beralih ke Inuzuka. Melirik Kudo yang berjongkok dengan pelindung lengkapnya.


"Yo, kapten." Sapa Yuki.


"Menejer, akhirnya kita bertemu kembali." Yuki menatap Inuzuka yang berteriak dan melompat-lompat di sebrang sana.


"Senpai!, senpai!, aku sudah menguasai banyak lemparan berubah arah!." Seru Inuzuka antusias.


"Kamu telah menghajar habis-habisan catcher kelas satu itu. Kasihan dia." Celetuk Kudo.


"Dia mengaku sebagai rivalmu. Pelatih terlalu lembut kepadanya." Kazuo yang berdiri di dalam box sebelah kanan bergerak gelisah mendengar obrolan dua orang itu.


"Berapa kali bola Inuzuka kun yang dapat kamu pukul?." Tanya Yuki yang berdiri di dalam box sebelah kiri.


"Du dua puluh, di lima puluh lemparan." Jawab Kazuo.


"Kamu menemukan berlian yang tersembunyi menejer." Kudo memuji Kazuo.


"Aku memiliki mata yang tajam kapten." Balas Yuki.


"Kazuo kun, pergilah ke lapangan tim B katakan kepada Sakura chan untuk memilih tiga pemain untuk pertandingan nanti." Pinta Yuki.


"Eh?, hanya tiga?. Aku kira kamu akan memilih tujuh." Sergah Kudo.


"Empat dengan Kazuo kun, tidak terlalu banyak pemain di tim B yang memiliki kegigihan untuk berlatih. Sepertinya kamu akan kesulitan musim gugur nanti." Jawab Yuki.


"A aku pergi dulu." Pamit Kazuo.


"Ung." Jawab Yuki lalu bersiap memukul.


"Berapa banyak lemparan yang Inuzuka kun kuasai?." Tanya Yuki.


"Tidak sebanyak dirimu tapi cukup banyak bagi orang normal." Jawab Kudo.


"Terima kasih untuk pujiannya."


Yuki meladeni Inuzuka. Dari delapan jenis lemparan Yuki kesulitan memukul satu jenis lemparan pada awalnya namun saat lemparan itu di lakukan berulang kali terlihat jelas kelemahan pada lemparan itu.


"Lemparan baru ini bisa menjadi senjata juga titik lemah Inuzuka kun." Ujar Yuki setelah berhenti.


"Benar sekali, apa kamu mau mengajarinya?." Kudo sedikit melembutkan suaranya yang membuat Yuki kesal.


"Kapten, itu tugas anda sebagai catcher." Jawab Yuki tapi ia malah berjalan menghampiri Inuzuka.


Yuki meminta Haruno untuk menggantikannya di kotak pemukul.


"Senpai." Panggil Inuzuka dengan senyum lebar khas dirinya.


"Aku ingin melihat caramu memegang bola di lemparan terakhir." Pinta Yuki.


"Seperti ini." Inuzuka menunjukkan kepada Yuki.


"Coba geser sedikit ibu jarimu."


"Ke sini?." Inuzuka menggeser ibu jarinya.


"Ya di situ."


"Kamu memiliki tubuh yang lentur, coba angkat lebih tinggi kakimu lalu melangkah lebih jauh." Inuzuka segera melakukan arahan Yuki.


Gadis itu berjalan mundur memberi ruang kepada Inuzuka. Diam-diam Yuki memberikan kode pelatih yang pernah ia pelajari kepada Haruno.


Senpai menyuruhku mengincar pojok kiri rendah, batin Haruno mengartikan kode Yuki.


Woooosshhh.


Swiiiinggg.


Booom!.


"Yoshaaa ...!!." Inuzuka menjerit bahagia.


Haruno dan Kudo tercengang beberapa detik. Yuki tersenyum dan memuji Inuzuka yang cepat tanggap.


"Kapten, apa senpai memberikan kode yang salah?." Tanya Haruno kepada Kudo.


"Tidak, kodenya sangat akurat." Jawab Kudo.


Mereka melihat Yuki yang menghampiri Tora. Dan berbicara serius dengan catcher kelas satu.


"Kalau sudah seperti ini menejer kelihatan menakutkan." Komentar Kudo.


"Ya, senpai tidak akan melepaskan pemain begitu saja."


"Kapten." Kudo melirik Haruno.


"Apa?."


"Bagaimana kalau kita culik saja senpai dari sekolahnya." Ajak Haruno yang polos dan imut itu.


"Hahaha ... Ide bagus."


Selama istirahat Yuki makan bersama Mizutani sambil menonton video terbaru pertandingan sma midori.


"Kamu akan melempar menggunakan tangan yang mana?." Tanya Mizutani.


"Kiri." Jawab Yuki, di dalam kepalanya sedang menyusun strategi untuk menghadapi sma midori.


"Lemparan Chizuru kun lebih tajam dari tahun lalu." Ujar Yuki.


"Ya, dia lebih menakutkan. Sekolah yang sudah menghadapinya tidak di berikan satu poin pun." Yuki mengangguk paham.


"Aku juga akan melakukan yang sama." Kata Yuki. Membereskan sisa makanannya.


"Aku ganti dulu." Pamit Yuki meninggalkan kantor pelatih.


Yuki mulai bersemangat, ia akan bersenang-senang bermain dengan mereka. Mizutani memberikan sarung tangan kidal kepada Yuki kala gadis itu sudah mengganti bajunya dengan seragam pemain baseball.


"Senpai, ini." Yuki melirik telapak tangan Sakura.


"Terima kasih." Ucap Yuki menerima ikat rambut berwarna biru muda yang lembut.


"Itu untuk senpai." Ucapnya.


"Aku hanya akan meminjam ini." Tolak Yuki tidak enak.


"Tidak senpai. Aku sudah lama ingin memberikan ikat rambut itu." Yuki tersenyum seraya mengikat rambutnya.


"Terima kasih, aku suka warnanya." Sakura tersenyum senang.


"Ayo."


Yuki berjalan memakai topi berwarna putih itu menuju lapangan. Seperti biasa semua pasang mata menatap ke arahnya. Yuki memilih tujuh pemain dari tim A secara mendadak, tiga di antaranya sebagai pemain cadangan.


"Aku tidak ingin mengalah kepada tim lawan." Hanya kalimat sederhana dari Yuki telah membakar semangat para pemain.


"Bagaimana kalau kita mempermalukan tim inti?." Senyum jail terukir di wajah cantiknya.


Sang dewi!, jerit mereka dalam hati.


"Ayo tunjukan kehebatan kalian di depan pelatih."


"Woooaaaahhh ...!!!." Seru mereka menantang tim lawan.


"Bunuh mereka!. Jangan biarkan kita kalah untuk yang ke dua kalinya!." Jerit Kudo menabuh genderang perang.


"Aaaaaarrrggghhh ...!!!."


Yuki berdiri di depan timnya tersenyum mengejek Kudo. Begitu pun Kudo yang berdiri di depan timnya memasang wajah tengil. Diam-diam ada yang sedang kebakaran jenggot melihat Yuki memakai pakaian pemain lengkap.


Tim Yuki mendapatkan giliran menyerang pertama. Yuki menempatkan dirinya menjadi pemukul ke tiga. Tebakan Yuki benar, dua pemukul urutan teratas tidak berhasil memukul bola Nakashima.


Yuki berjalan memasuki box pemukul.


"Home run pertama dariku." Ucap Yuki.


"Silahkan kalau bisa." Tantang Kudo.


Dua lemparan Nakashima di biarkan begitu saja oleh Yuki. Gadis itu mempermainkan Kudo. Kudo balik meminta lemparan di luar zona strike untuk memancing Yuki memukul balik mempermainkan gadis itu. Ketegangan di rasakan oleh para pemain.


TANG!.


Yuki sengaja memukul lebih keras melambungkan bola sampai menabrak pagar luar lapangan.


"Hwaaaaa ... Home ruuuunn ..!!." Kubu Yuki bersorak memeriahkan satu poin yang mereka dapat.


Yuki berlari santai memutari lapangan. Gadis itu melempar senyum cerah kepada Keiji yang menjaga lapangan luar.


"Home run." Lirih Yuki di depan Kudo. Pemuda itu balas tersenyum masih bertekad mengalahkan Yuki.


Mereka berganti posisi. Tim Yuki bertahan, gadis itu masih meminta Kurokawa dari tim inti cadangan untuk menjadi partnernya. Yuki tidak yakin catcher lain bisa menangkap lemparannya. Hanya dua catcher yang Yuki percayai, Kurokawa dan Kudo, selain itu Sato alumni mereka.


Tiba-tiba Mizutani menghentikan permainan. Membawa Tsuchi untuk menggantikan Kurokawa. Yuki yang terkejut pun tidak terima, ia berlari kecil menghampiri home plate.


"Pelatih. Apa maksudnya ini?." Tanya Yuki.


Mizutani memegang pundak Tsuchi.


"Ini untuk dia berlatih." Jawab pria itu.


"Bercanda ya, menangkap lemparan Nakashima kun saja dia tidak bisa." Jawaban Yuki menggores hati Tsuchi.


"Aku juga keberatan menangkap lemparan lembek perempuan." Balasan Tsuchi membuat para pemain tercengang, apa lagi Inuzuka yang hampir menerjang anak itu jika tidak di tahan Hirogane.


"Heee ..?, tiga lemparan. Jika dia tidak bisa menangkap ke tiganya kembalikan Kurokawa kun." Tegas Yuki berbalik kembali ke gundukan tanpa menunggu jawaban Mizutani.


Permainan berlanjut, Kazuo yang melihat temannya duduk di depan sana mulai khawatir. Perempuan itu ternyata menejer yang selalu para senior mereka bicarakan. Menejer yang membawa mereka ke koshien, menejer yang sudah menjadi legenda klub baseball.


Yuki bersiap, Hirogane menatap tajam Yuki, ia sangat fokus.


Wooooossshhh ...


Bak!.


Lemparan pertama.


Tsuchi menelan salivanya kasar, ia sempat terpesona dengan penampilan Yuki tapi tidak ingin mengakuinya. Dan bola gadis itu lebih mengerikan dari semua bayangannya. Tsuchi terkejut, tangannya di dalam sarung tangan bergetar cepat.


Tsuchi kembali bersiap namun tiba-tiba bola itu sudah berada di depan matanya. Tiga lemparan Yuki menghancurkan Tsuchi. Anak itu berjalan kembali ke bangku cadangan dengan kaki yang gemetar.


Kurokawa menatap iba juniornya. Ia memukul pelan punggung Tsuchi menyemangati.


"Dia menejer yang selama ini kami bicarakan. Pelatih ingin membuka matamu, menunjukkan seperti itulah sosok Chizuru dari sma midori." Ujar Kurokawa lalu berlari ke lapangan bersiap di tempatnya.


Kurokawa pun terkejut, lemparan bola Yuki semakin tajam dan kuat dari tahun lalu. Sama persis dengan lemparan Chizuru saat ini. Gadis itu tidak memberikan satu poin pun kepada tim inti. Bahkan Haruno yang selalu imut menekuk wajahnya karena tidak berhasil memukul bola Yuki.


Di luar lapangan, tim voli Hotaru lengkap dengan menejer mereka berdiri menonton pertandingan seru itu.


"Hachibara san sangat keren." Lirih Yuto.


"Dia terlihat sangat menikmatinya." Sambung yang lain.


"Atmosfir pertandingan mereka sampai ke sini." Sahut yang lain.


Hotaru dan Fumio menjadi pendengar dan penonton.


Yuki sedang menggelengkan kepalanya beberapa kali menolak lemparan yang di inginkan catchernya. Pemukul ke empat tim lawan menyeringai dengan sikap santainya. Akhirnya Yuki menganggukkan kepala.


Dua lemparan Yuki di biarkan begitu saja sampai lemparan ke tiga. Pemukul itu mengayunkan tongkatnya menghantam bola.


Tang!.


Buk!.


Hotaru dan Fumio tertawa lirih melihat tingkah jail Yuki yang menangkap dengan santainya bola yang mengarah ke dirinya, jangan lupa senyum dan satu alis yang terangkat meledek si pemukul.


"Out!." Seru wasit.


Laki-laki yang mengangkat tubuh Yuki di hari pertama sudah bersiap di kotak pemukul. Yuki mengangkat kedua tangannya, mengangkat satu kaki, melepaskan bola.


"Wow!, cutter ball." Pekik Yuto.


Yuki melempar bola ke dua.


"Bola menyelam!. Sinker." Seru rekan Hotaru.


"Aku kira Hachibara san tidak suka berolah raga." Sebuah komentar meluncur.


"Astaga!. Change up." Para penonton heboh.


Keiji berjalan memasuki box pemukul. Yuki menarik sudut-sudut bibirnya.


"Apa menurutmu Yuki akan mengalah?." Tanya Fumio.


"Mungkin." Jawab Hotaru.


Tebakan Hotaru salah, gadis itu tidak memberikan belas kasihan sama sekali. Tim Yuki berganti menyerang. Dan mendapatkan tiga out dengan cepat. Yuki sudah berdiri di atas gundukan.


Suara berisik mengiringi pemain itu masuk ke dalam kotak pemukul.


"Senpai!, aku tidak akan kalah. Kapten memang tidak bisa diandalkan, aku akan menggantikan posisinya!." Jerit Inuzuka merendahkan kapten sendiri.


Tawa Yuki pecah, tapi ia tetap profesional melempar dengan cerdik dan kuat.


Dua out Yuki dapatkan. Tiba-tiba ada pergantian pemain. Tsuchi masuk bersiap di kotak pemukul.


Yuki menatap datar anak itu.


Kita lihat bagaimana kemampuan memukulmu, batin Yuki.


Yuki hanya melempar bola lurus dengan kecepatan yang sama seperti milik Nakashima.


TANG!.


Tsuchi memukul di lemparan ke dua. Tidak terlalu jauh tapi cukup untuk sampai di base pertama.


"Whooooaaaaa ...!!!." Sorakan keras menggema dari kubu tim inti.


Yuki pikir Tsuchi akan terguncang cukup lama dengan lemparannya tapi anak itu bisa memukul bola Yuki.


Out ke tiga tanpa mencetak poin. Yuki mulai mengarahkan pemukul dengan kode dari bangku cadangan.


Tanpa di duga pemukul itu melakukan bunt yang sukses. Yuki kembali memberikan arahan. Pemukul ke delapan memukul bola super cepat itu dengan mengayunkan sedikit pemukulnya membuat bola terbentur dan menggelinding ke bawah.


Dua pemain berada di base pertama dan ke dua. Kazuo terlena dengan arahan Yuki, perempuan itu hanya mengatakan tiga kata sebelum mereka bersiap memukul. 'Giliran kita menyerang'. Hanya itu dan benar-benar terjadi.


Dengan pikiran yang masih berpikir Kazuo berjalan menuju kotak pemukul.


"KAZUO!." Teriakan keras dari rekannya mengagetkan Kazuo.


Ia berbalik dan mendapati semua pemain menatap ke arahnya. Yuki menyuruhnya mendekat.


"Ma maaf, aku tidak dengar." Lirih Kazuo.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengatakan. Jangan terlalu di pikirkan pukul saja home run ke dua." Kata Yuki.


Bukankah itu sama saja menambah beban pikirannya?, balas yang lain dalam hati. Mereka tidak berani mengatakannya langsung.


"Eh?, itu mustahil." Balas Kazuo.


"Tentu saja tidak. Pilihanku tidak pernah salah." Jawab Yuki penuh keyakinan.


Kazuo seperti mendapatkan pujian tidak langsung dari Yuki.


"Nikmati peranmu menjadi hero (pahlawan) tim." Ucap Yuki membalikan tubuh Kazuo dan menepuk pelan pundak anak itu.


Kazuo kikuk berdiri di kotak pemukul, lemparan Nakashima membuatnya terkejut. Kazuo menatap wajah Nakashima yang terlihat menahan emosi dan manik Nakashima yang sangat fokus.


Getaran kuat Nakashima tersalurkan kepada Kazuo. Sorot mata anak itu pun tiba-tiba berubah.


TANG!.


"Oooooo ..." Seruan kagum dari bangku cadangan tim AB dan tim inti di tambah para pemain yang bertahan.


Kazuo langsung menundukkan wajahnya terus berlari mengelilingi lapangan menyembunyikan wajah merah tomatnya.


"Pukulan yang bagus." Suara Yuki membuat Kazuo mengangkat kepalanya.


Prok.


Kazuo menerima tos Yuki. Permainan di lanjutkan. Pergantian pitcher!. Nakashima di tarik ke bangku cadangan di gantikan oleh Inuzuka.


Dua out begitu cepat, Yuki berjalan masuk ke dalam kotak pemukul.


"Empat kosong kapten." Ledek Yuki.


"Senpai!. Aku akan memaksamu keluar dari kotak pemukul!." Seru Inuzuka.


"Junior kesayanganmu sudah tidak sabar." Komentar Kudo.


"Baiklah ayo kita mulai." Ujar Yuki bersiap.


"Ini tidak sama seperti latihan senpai!." Jerit Inuzuka lalu bersiap melempar.


Yuki memutar otaknya mencoba membaca pikiran Kudo, lemparan apa yang akan laki-laki itu lakukan.


"Strike!." Yuki mengedipkan matanya.


Apa barusan?, batin Yuki.


"Inuzuka menyimpan lemparan ini khusus untukmu." Celetuk Kudo.


"Ini seperti." Yuki berpikir.


"Lemparan aneh yang kalian latih setelah kekalahan di koshien. Dua minggu sebelum kamu menghilang." Jelas Kudo.


Yuki menatap Inuzuka yang berkacak pinggang dengan senyum lebar di wajahnya.


"Inuzuka selalu melatih lemparan ini seratus kali setiap hari. Dan hari ini ia menunjukkannya padamu." Yuki mengulum senyum. Menunjuk Inuzuka dengan pemukulnya.


"Berikan lagi padaku." Ucap Yuki tanpa berteriak.


"Aku berhasil senpai!." Seru Inuzuka lalu bersiap melempar. Yuki menajamkan matanya.


"Strike!."


Yuki melirik ke bawah, tepat ke sarung tangan Kudo.


"Apa perlu aku memintanya melempar ke luar zona strike?." Tawar Kudo.


"Tidak perlu." Tolak Yuki bersiap.


Inuzuka mengangkat kedua tangannya.


Zwoooosshh.


Tang!.


"Foul!." Yuki berhasil menyentuh bola.


Zwoooosshh.


Tang!.


"Foul!."


Persaingan sengit terjadi antara Yuki dan Inuzuka. Tidak ada yang terlihat mengendurkan kewaspadaan. Hingga.


Tang!.


Yuki segera berlari cepat, pukulannya tidak melambung jauh, bolanya mengarah ke base ke tiga.


Woooosshh.


Bola di lempar ke base pertama, Yuki melakukan sleding.


Hap!.


Yuki langsung berdiri melirik wasit.


"Save!." Teriak wasit.


"Whoooaaaa !!!." Yuki terkejut dengan teriakan keras dari belakang punggungnya.


Gadis itu membalikan tubuh mendapati suporter dadakan.


"Apa yang kalian lakukan?. Bagaimana dengan latihannya?." Yuki menatap Hotaru menuntut jawaban namun suara wasit menyadarkan ia.


"Ball!."


Sial, batin Yuki.


Gadis itu bersiap untuk lari. Diam-diam memberikan tanda untuk melakukan bunt. Kurokawa melakukan bunt yang baik, Yuki secepat kilat berlari ke base ke dua.


Pemukul selanjutnya bersiap. Manik Yuki menatap lurus seseorang yang duduk menghadap ke arahnya. Tidak bisa sembarangan melakukan steel (mencuri base) dari Kudo. Yuki juga sulit memberikan kode di situasi seperti ini.


"Aku akan membuat home run!, untukmu Hachibara san!." Pernyataan terang-terangan membuat seluruh orang terkejut.


Tang!.


Home run abal-abal yang rendah cukup untuk Yuki berlari sampai ke home plate.


"Lima kosong. Kapten." Ucap Yuki berjalan melewati Kudo dengan gaya sombong yang di buat-buat malah menjadikan pemandangan itu lucu tanpa Yuki sadari.


Setelah itu tim Yuki terkena tiga out. Ternyata putaran itu adalah titik balik serangan tim inti. Garis pertahanan Yuki yang di jaga oleh anak-anak kelas satu pun jebol dan membuat tim inti membalikan keadaan.


"Kami lebih lama berlatih denganmu senpai!. Anak-anak kelas satu belum pernah merasakannya!." Seru Inuzuka.


Haruno berhasil sampai di base pertama, tersenyum senang setidaknya ia bisa memukul bola Yuki meski sangat buruk.


Hari itu Yuki habiskan bermain dua putaran penuh dan di putaran terakhir ia berpasangan dengan sang kapten, Kudo. Tsuchi yang tadinya sempat terpuruk akhirnya menikmati permainan juga.


Teriakan demi teriakan, sorakan demi sorakan. Yuki berakhir sangat kotor dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Keiji juga terlihat sangat senang.


"Arigatou gozaimasu!."


Yuki melirik ke kanan. Mendapati para pemain membungkuk kepadanya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh lapangan. Semua orang membungkuk kecuali Mizutani.


"Jangan seperti ini, tegakkan tubuh kalian. Tadi permainan yang seru." Ujar Yuki namun tidak ada yang bergerak sedikit pun.


"Arigatou gozaimasu menejer san!." Yuki terdiam, ada perasaan hangat menyelimuti tubuhnya.


"Ung." Jawab Yuki.


"Kami pastikan melaju ke koshien, sebagai hadiah kami untuk menejer!." Kini Hirogane yang berseru.


"Ung, aku menantikannya." Jawab Yuki.


Mereka satu persatu menegakkan tubuh. Yuki melihat Inuzuka menangis di ikuti oleh yang lain.


"Terima kasih, padahal aku bukan menejer yang baik." Mereka langsung menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Waktunya istirahat. Isi energi kalian lagi." Yuki melirik Sakura. Gadis itu langsung membagikan botol.


Hotaru berjalan hendak menghampiri Yuki namun saudari kembarnya terlihat asik berbicara dengan salah satu pemain. Keduanya terlihat serius. Hotaru memutuskan menunggu Yuki.


"Kapten, Chizuru tidak akan membiarkan itu terjadi, harusnya." Yuki menjelaskan rencana yang ia susun.


"Menarik, mereka pasti tidak menduganya."


"Ung."


"Senpai."


"Hm?." Yuki menoleh.


"Ada apa Inuzuka kun?." Yuki melihat Keiji yang berjalan lewat di belakang Inuzuka.


"Keiji kun berhenti." Yuki beranjak menangkap Keiji.


"Kamu mau mengatakan apa tadi?." Tanya Yuki yang sudah melingkarkan tangannya di lengan Keiji, menjaga anak itu agar tidak pergi.


"Apa benar senpai mengajak kencan anak basket?." Tanya Inuzuka.


"Siapa yang mengatakan itu?." Tanya balik Yuki.


"Beritanya sudah tersebar. Senpai apa benar?." Ulang Inuzuka.


"Tidak, senpai milikku." Nakashima melepas tangan Yuki dari Keiji berdiri di antara mereka berdua.


"Ara ara, menejer sepertinya sedang kebingungan." Ledek Kudo.


"Benar juga kapten. Kita masih perlu membicarakan strategi cadangan." Yuki menarik seragam bagian depan Kudo, menyeret pemuda itu menjauh dari kerumunan yang mulai banyak.


"Melarikan diri lagi." Kudo semakin menyudutkan Yuki.


"Melayani mereka sangat melelahkan." Balas Yuki.


"O ow, ada yang menunggumu menejer." Yuki melirik ke depan.


"Haruno kun?." Lirih Yuki.


"Ya?." Balas Haruno ikut bingung.


"Bukan Haruno, di samping Haruno." Kudo memperjelas.


Yuki menggeser maniknya.


"Hotaru."


"Apa kamu belum selesai?." Tanya Hotaru. Yuki mendekati kembarannya.


"Aku ganti baju dulu." Pamit Yuki langsung pergi.


"Tolong kembalikan senpai kepada kami." Kata Haruno tiba-tiba. Laki-laki imut itu melakukan sesuatu di luar karakternya.


"Yuki lebih aman berada di rumahnya." Jawab Hotaru memberikan senyum ramah kepada Haruno lalu berjalan pergi.