Futago

Futago
Takut di Cintai.



Setelah drama panjang melelahkan selesai. Seluruh anak-anak kelas 2-1 naik ke atas panggung memberikan hormat kepada para penonton yang telah menyaksikan drama mereka. Gemuruh tepuk tangan menggema di penjuru aula, teriakan dan sorakan para penonton bersahut-sahutan. Yuki melihat Keiji dan beberapa temannya duduk di bangku penonton, sepupu Ueno melambaikan tangannya penuh semangat untuk menarik perhatian Yuki.


Belakang panggung ramai oleh anak-anak yang mengemasi properti, Yuki sejak tadi ingin mengganti bajunya namun dilarang oleh Takamoto, tidak ada yang boleh mengganti baju mereka sampai acara di tutup, seperti itulah pesan wakil kepala sekolah. Yuki meminta izin melepas wignya, jika baju di larang setidaknya wig itu boleh di lepas. Dan, berhasil. Yuki melepas wignya memberikan wig itu kepada Ueno.


Beberapa anak sudah pergi meninggalkan belakang panggung termasuk Natsume yang akan tampil dengan bandnya, namun gadis bermanik biru itu masih setia bersandar ke dinding. Yuki sedang beristirahat mengumpulkan tenaganya, saat ini ia tidak yakin akan berjalan normal tanpa terjatuh. Sosok tinggi tegap berjalan cepat ke arahnya.


"Dai chan." Lirih Yuki tersenyum kepada pria itu.


Dazai mengambil kursi di dekat sana membawanya kepada Yuki.


"Duduk dulu ojou chan." Dazai membantu Yuki duduk.


"Silahkan di minum." Yuki menerima botol berisikan lemon madu hangat yang dibawakan khusus oleh Dazai.


"Minum juga obat penambah darahnya." Lirih Dazai memberikan kapsul berwarna merah.


"Terima kasih." Dazai menerima botolnya kembali.


"Mau makan apa?." Yuki menggeleng pelan.


"Ke kelas dulu." Ujar Yuki.


"Bisa jalan sekarang?, atau perlu saya gendong?." Yuki menahan senyumnya.


"Apa kamu tidak malu Dai chan?."


"Tidak, saya senang membuat mereka kepanasan karena cemburu." Yuki terkikik geli.


"Tidak akan ada yang cemburu, ayo." Yuki berusaha berdiri.


Yuki dan Dazai berjalan berdampingan, keramaian lorong kelas membuat Yuki kesusahan, Dazai melindungi nona mudanya dengan gerakkan kecil agar tidak menimbulkan gosip tidak enak, meskipun sudah seperti itu, beberapa anak membicarakan Yuki yang berjalan dengan om-om.


Mereka memasuki kelas 2-1, gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya diatas kursi mengatur nafasnya yang terengah, keringat sudah membasahi dahi dan lehernya.


"Ojou chan, mau pulang?." Tawar Dazai mengelap keringat Yuki.


"Tidak, Hazuki sebentar lagi tampil." Jawab Yuki menunjuk tasnya.


"Ambilkan tas kecil warna hitam di sana." Dazai mengambil barang yang di minta.


"Tolong suntikan itu Dai chan." Pinta Yuki tangannya mengelap keringat di leher.


Dazai bersiap menyuntikan cairan yang di bawa Yuki.


"Ojou chan, anda berkeringat sangat banyak apakah tidak sebaiknya pulang saja?." Rayu Dazai.


"Setelah kamu menyuntikan itu aku akan baik-baik saja." Ucap Yuki, meletakan sapu tangan sebentar di atas meja untuk memasukan dua kotak permen ke saku celana putihnya.


Srek.


Seseorang menggeser pintu memergoki Dazai yang sedang menyuntik tangan Yuki, untuk beberapa detik Hajime hanya menatap tangan Yuki lalu menutup pintu di belakangnya.


"Yo. Kita bertemu lagi anak muda." Sapa Dazai, menjauhkan jarum suntik dari tangan gadis itu. Hajime berjalan menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Yuki Dazai san?." Tanya Hajime.


"Hm?, kamu mengingat namaku ternyata." Hajime mengangguk kecil.


"Saya tidak menyangka orang yang menjemput Yuki di kolam renang ternyata dokter pribadinya."


"Hahaha, begitulah. Ojou chan baik-baik saja, hanya tubuhnya yang masih lemah." Jelas Dazai.


"Apa seharusnya dia tidak boleh keluar rumah?." Yuki mengabaikan kedua laki-laki itu, ia sibuk mengelap keringatnya.


"Ya, tapi ojou chan memaksa pergi ke sekolah. Dia juga tidak mau diajak pulang." Hajime menoleh kepada Yuki.


"Kamu sedang curhat kepada senpai, Dai chan?." Dazai tersenyum lebar menatap Yuki.


"Betul ojou chan, mungkin anak muda ini bisa membujuk anda." Balas Dazai.


"Yuki." Panggil Hajime.


"Aku akan mencari Keiji kun, maaf pesan senpai belum sempat aku buka." Ujar Yuki segera berdiri namun ia lagi-lagi kehilangan keseimbangan.


"Ojou chan!."


"Yuki!."


"Oops." Celetuk Yuki yang berhasil berpegangan pada punggung kursi di belakangnya.


Brak!.


Dazai terkejut dengan aksi pemuda itu, namun ia juga tidak bisa menahan senyum di wajahnya. Dazai perlahan pergi keluar dari kelas.


Kedua tangan Hajime mencengkeram pinggiran meja di belakang Yuki mengurung gadis itu. Ia menunduk menatap wajah Yuki yang datar, gadis itu terlihat tidak terkejut. Yuki mengangkat wajahnya menatap manik Hajime seraya menaikan satu alisnya.


Pemuda itu menutup rapat mulutnya, membalas tatapan Yuki. Wangi khas gadis itu menyeruak masuk ke dalam penciuman Hajime.


Aku tidak ingin mendengar teriakan kesakitanmu lagi, aku ingin kamu istirahat dirumah, aku ingin kamu tidak memaksakan diri, aku ingin kamu lebih mementingkan dirimu sendiri, Hajime ingin mengatakan semua itu kepada Yuki namun apa daya ia mengatakannya dalam hati karena ia tahu, gadis itu sudah memutuskan untuk tetap berada di sekolah dan tidak akan merubah keputusannya.


Hajime menghela nafas panjang menarik tangan kanannya meletakkan tangan besar miliknya di pucuk kepala Yuki tanpa melepaskan kontak mata mereka. Perlahan Hajime mengusap kepala Yuki pelan. Kalimat yang keluar dari bibir Yuki mengejutkan Hajime.


"Senpai, kamu sudah berjanji." Pemuda itu tersenyum mengingat janjinya kemarin.


"Senpai, jangan lakukan ini." Hajime masih tersenyum. Raut wajah Yuki berubah serius namun ada sorot kesedihan di sana.


Kenapa dia seperti ini?, apa yang membuatnya takut untuk di cintai?, batin Hajime menyimpulkan sikap Yuki pada saat situasi seperti saat ini.


"Aku tidak lupa." Yuki diam setelah mendengar suara Hajime, pemuda itu mendekatkan wajahnya kepada Yuki menyisakan jarak diantara mereka. Maniknya dengan tegas menatap Yuki.


"Aku tidak akan menyukaimu, Yuki." Lirih Hajime. Membuat tubuh gadis itu sedikit bergetar.


"Tidak, tanpa seizinmu." Lanjut Hajime menjauhkan wajah dan tubuhnya.


"Aku harus kembali ke kelas, mereka pasti sedang mencariku. Mampirlah jika kamu sudah merasa lebih baik. Jangan lupa banyak istirahat, nanti malam aku ingin mengajakmu menari mengelilingi api unggun." Kata Hajime seraya menghapus keringat di dahi Yuki dengan jari besarnya sebelum pergi.


Srek.


Dazai melirik ke samping melihat Hajime keluar sendirian.


"Kamu tidak berhasil membujuknya anak muda?." Hajime menghadap pria yang sedang bersandar di dekat pintu itu. Membungkuk sopan.


"Maaf, saya tidak bisa. Anda bisa memanggil saya Hajime, Dazai san." Dazai tersenyum.


"Ya, ojou chan memang memiliki sifat keras kepala. Maaf, aku lebih suka memanggilmu anak muda." Ucap Dazai mengangkat satu tangannya di depan dada.


"Baiklah, saya harus kembali ke kelas. Sampai nanti Dazai san." Ujar Hajime berlalu pergi.


"Heee ... Pemuda yang sopan dan berpikiran dingin. Huuufftt, sayang, kau masih jauh dari sainganmu yang sebenarnya." Gumam Dazai.


Srek.


Dazai menoleh ke arah pintu melihat wajah Yuki yang di tekuk. Dazai terkesiap, berdiri cepat di depan Yuki membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis itu.


"Apa anak muda itu melakukan hal aneh di dalam, ojou chan?. Apa dia berubah menjadi hewan buas?. Katakan pada saya biar saya hajar wajah kalemnya." Srobot Dazai panjang.


Puk.


Yuki meletakkan tangannya di pundak Dazai menatap wajah pria itu.


"Lapar." Ucapnya cemberut.


"Pffttt ..." Dazai hampir saja menyemburkan suara tawanya di depan wajah Yuki jika ia tidak menahannya.


"Mari berburu makanan." Ajak Dazai menegakkan tubuh.


Mereka berjalan ke lantai dasar, tujuan mereka adalah stan-stan makanan yang berjejer di halaman depan sekolah. Manik Yuki berbinar cerah tatkala hidungnya mencium wangi makanan. Gadis itu berhenti di setiap stan, membeli setiap jenis makanan yang di jual oleh siswa kelas lain, saking sibuknya ia melupakan niatnya untuk mencari Keiji.


"Ojou chan, tangan saya sudah penuh." Intrupsi Dazai, Yuki meliriknya lalu melemparkan senyum lebar dengan puppy eyes ciri khas saat gadis itu merayu. Dazai ikut tersenyum, ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan nona muda satu ini.


"Baiklah, silahkan nikmati waktu berbelanja anda." Ucap Dazai lembut, sopan.


Setelah dirasa membeli semuanya Yuki menikmati makanan itu di sepanjang jalan ke arah halaman tengah tempat dimana panggung lain berada. Tak di sangka tempat itu dipenuhi lautan manusia, rencana Yuki melihat penampilan klub band sambil makan sirna sudah. Dazai menuntun Yuki menyingkir dari lautan manusia, memintanya untuk makan dengan tenang dan gadis itu pun setuju, toh sepertinya Natsume belum akan tampil.


"Kenyang." Ujar Yuki tersenyum kepada Dazai.


"Kalau begitu sekarang minum kapsulnya." Yuki menerima kapsul merah dari Dazai memasukkannya ke dalam mulut.


"Dai chan, kamu tidak makan?."


"Tidak, saya sudah kenyang ojou chan." Jawab Dazai lalu membatin, melihat anda makan sangat lahap semua makanan tadi tanpa bersisa sudah membuat perut saya kenyang.


"Ayo kembali ke sana." Ujar Yuki berjalan kembali ke dalam lautan manusia.


Di saat Yuki sedang menerobos ke depan dengan bantuan Dazai sebagai perisainya ia berpapasan dengan orang yang ia cari.


Grep!.


Keiji sangat terkejut tiba-tiba tangannya di genggam oleh orang asing, ia hendak menyentaknya dan pergi dari sana. Ia tidak suka musik ribut seperti sekarang, ia harus pergi.


"Mau kemana?."


Deg!. Suara itu?. Tidak salah lagi, meski suara musik masih menggema keras Keiji hafal suara itu, ia melirik ke belakang. Tiba-tiba lengkingan gitar memenuhi lautan itu mengubur suara tetangganya, namun Keiji bisa menebak kalimat yang keluar dari bibir Yuki.


"Aku mencarimu, ayo." Yuki yang tidak mendapat respon dari Keiji menarik lemah tangan itu.


Untunglah Keiji tidak berontak dan mengikuti Yuki kalau tidak sudah di pastikan gadis itu tersungkur dan terinjak-injak oleh para penonton.


Dazai berhenti di barisan depan, memberikan tempat itu kepada Yuki dan ia berpindah ke belakang gadis itu agar nona mudanya tidak berdesakan atau terdorong oleh orang di belakang. Dazai juga melihat gadis itu sudah menggenggam tangan pemuda yang berani melawan Mizutani kemarin. Pemuda itu mengangguk kecil kepada Dazai sebagai sapaan. Dazai menunduk sedikit untuk membisikan sesuatu kepada Yuki.


"Ojou chan, jangan lupa ini tempat umum." Bisik Dazai menjauhkan kepalanya.


"Agh, benar." Lirih Yuki melepaskan tangan Keiji.


Penampilan band kelas sebelah sudah selesai dan digantikan anak-anak klub band sesungguhnya. Teriakan menggema memecah udara, Yuki tidak suka tentu saja tapi ia harus berada di sana karena sudah berjanji kepada Natsume setelah gadis itu membantunya menjadi model pasangan Yuki saat mengajari Honda berdansa.


Manik Natsume langsung tertuju kepada Yuki, gadis itu melebarkan senyumnya. Mereka memiliki vokalis perempuan tetap setelah Yuki pernah mengisi posisi itu selama beberapa menit. Abe sang kapten klub memberikan pidato seperti biasanya. Panas, ramai, berisik, sesak, lengkap sudah.


Lagu baru Natsume memang tidak pernah membuat Yuki kecewa, selalu bisa menyentuh hati dan membangunkan adrenalin Yuki. Yuki mengabaikan para penonton yang berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik keras itu, di saat Yuki menikmati lagu ia melirik Keiji yang terlihat gelisah.


Apa Keiji kun tidak menyukainya?, sepertinya begitu, dasar maniak baseball, batin Yuki tertawa dalam hati.


Musik berhenti, lagu pertama selesai. Yuki tak menyangka klub band sekolahnya ternyata sangat populer di sekolah lain, terlihat dari banyaknya seragam asing yang membawa spanduk mini bertuliskan nama-nama anggota band itu. Abe sedang berbicara, Yuki hendak menanyakan Keiji apakah anak itu ingin pergi dari sana namun tertunda karena sebuah suara yang menyebutkan namanya.


"Saya akan menunjuk salah satu penonton beruntung untuk ikut bergabung bersama kami di atas panggung. Hachibara san, silahkan naik ke atas panggung." Yuki sontak menatap tajam Natsume.


Oh ternyata ini rencanamu, Hazuki, batin Yuki geram.


"Maaf panitia, tolong jemput Hachibara san. Saya tidak ingin dia kabur." Gerakkan Yuki terhenti karena kalimat yang di ucapkan Natsume hendak ia lakukan.


Dua panitia perempuan berjalan cepat memegang kedua lengan Yuki, gadis itu yang tidak suka di pegang oleh sembarang orang menyuruh mereka melepaskan pegangan mereka dengan sebuah isyarat yang mudah dipahami. Untunglah panitia itu paham dan melepaskan Yuki. Dengan langkah khas gadis itu berjalan menaiki panggung. Teriakan melengking dari siswa siswi sekolahnya memenuhi udara, tapi tidak dengan sekolah lain yang bergeming menatap gadis itu.


"Hadirin semuanya, perkenalkan Hachibara san dari kelas dua satu. Dia akan menyanyikan lagu yang pernah kami tulis bersama." Kata Natsume semangat.


"Eh!!?." Teriak kaget penonton.


Dasar Hazuki gila!, seru Yuki dalam hati.


Salah satu panitia tadi memberikan Yuki sebuah mic. Gadis itu mengikuti skenario yang Natsume buat. Abe memberikan sedikit gambaran tentang lagu yang akan di bawakan. Natsume menunjukkan kertas berisi lagu yang pernah mereka buat kepada Yuki, takut gadis itu melupakannya. Yuki melirik kertas itu sebentar tanpa menyentuhnya, lalu ia mendekatkan mic di depan mulut seraya menatap Keiji yang berdiri tepat di barisan depan.


"Apa kamu mau mendengar aku bernyanyi?." Di bawah sana Keiji menggelengkan kepalanya tegas. Yuki menutup rapat bibirnya menahan tawa yang hampir saja keluar.


"Maaf Hazuki, aku tidak bisa melakukannya." Banyak penonton kecewa. Terutama Natsume sendiri, rencana yang ia persiapkan sesempurna mungkin tidak akan ia biarkan hancur begitu saja.


"Keiji kun!. Apa yang kamu lakukan, anggukkan kepalamu!." Teriak kesal Natsume. Membuat suasana menjadi aneh. Yuki mencubit kecil pinggang Natsume agar berhenti menatap Keiji, berbahaya jika Keiji mendapatkan amukan masa.


"Ow." Lirih Natsume.


"Kamu akan menyesalinya, kamu akan menyesal." Lanjut Natsume masih menatap Keiji, kegilaannya sudah kambuh. Yuki menutup rapat matanya sejenak menjauhkan mic dari mulutnya.


"Hentikan Hazuki, atau aku akan marah." Seketika itu juga Natsume berhenti, wajahnya berpaling menatap Yuki yang berubah datar.


"Aku akan memainkan harpa sebagai gantinya." Ujar Yuki berjalan mendekati harpa putih tanpa pemilik, alat musik itu seperti sebuah pajangan di antara alat-alat musik lainnya.


Abe segera mencairkan suasana dengan memberikan penjelasan bahwa musik mereka akan dimainkan setelah permainan harpa dari Yuki sebagai penonton yang terpilih satu panggung dengan mereka.


Dazai yang melihat Yuki mendekati harpa hendak melompat naik ke atas panggung untuk menghentikannya, namun wajah itu menoleh ke arahnya seakan menyuruhnya untuk tidak mendekat. Dazai sebagai seorang bayangan tentu saja memiliki mata yang tajam, menangkap gerakkan halus Yuki yang membuka kotak permen mengunyah sesuatu dari dalam sana.


Apa ojou chan mengingatnya?, apa ia mengingat melodi itu?, batin Dazai gugup.


Langkah kakinya bergerak mundur namun maniknya tak sedikit pun bergerak dari Yuki.


Gadis itu berdiri menyamping, mengambil sebelah rambutnya membawanya ke samping memperlihatkan separuh leher putih pucat bak susu itu. Kelopak matanya terpejam sesaat, menarik nafas pelan.


Semua gerakkan yang di lakukan Yuki sangat lembut dan anggun menghipnotis seluruh pasang mata, jantung mereka berdegup keras tak sabar menunggu apa yang akan terjadi.


Yuki menaikan kedua tangannya seperti selendang yang tertiup angin, menempatkan jari-jari rampingnya pada senar harpa. Seakan memeluk alat musik itu, Yuki memetik senar pertama mengirimkan nada indah bak ketukan lembut kepada setiap hati pemiliknya.


Hening.


Yuki mendengarnya, melodi yang pernah ia dengar sebelumnya, melodi yang selalu mengalun setiap pagi untuk membangunkannya. Yuki mengingatnya, orang yang memainkan harpa di pagi hari di dalam kamar luas penuh lukisan indah dengan pintu tradisional kamar yang terbuka lebar membiarkan angin pagi dan sinar mentari masuk, pemandangan taman dan kolam kecil memberikan kesejukan tersendiri, burung-burung hinggap di teras kamar. Yuki mengingatnya, rambut panjang, kumis sedikit tebal, dan jenggot panjang bergerak tersapu angin. Yuki mengingatnya, dua pasang kaki kecil goyah dengan mata yang masih tertutup bergerak menuju pemilik melodi, anak perempuan menelusup dari bawah lengan kokoh itu mencari posisi nyaman di atas pangkuannya, anak laki-laki meletakkan kepalanya di atas paha besar itu, mereka kembali tertidur diiringi melodi indah bak di taman bidadari.


Tubuh Mizutani membeku seketika, kala pendengarannya menangkap melodi sakral memecah seluruh udara, mengalun menembus seluruh dimensi yang ada. Jantungnya seakan terhenti, air matanya jatuh tanpa permisi, ia hanyut untuk beberapa saat namun logika di dalam kepalanya menghantam dirinya untuk segera menghentikan orang yang memainkan melodi itu.


Dazai tidak sanggup menggerakkan tubuhnya, begitu juga semua orang di sana, beberapa burung dan kupu-kupu hinggap di atas harpa seakan ikut terhanyut dengan melodi itu. Sebuah suara gaduh langkah kaki menyadarkan Dazai, ia menoleh namun terlambat. Mizutani sudah berada di atas panggung dan merebut mic menghentikan permainan.


"Maaf permainan harus di hentikan. Siswi ini ditunggu dikantor sekarang juga. Terima kasih untuk pengertiannya." Suara Mizutani menghentikan Yuki.


Pria itu menoleh sekilas kepada Yuki, ingin sekali Mizutani mendekati gadis itu dan membawanya pergi dari sana karena khawatir, tapi kondisi dan situasi dirinya sebagai seorang guru menghalangi semua itu. Mizutani berjalan menuruni panggung menunggu Yuki mengikutinya.


Acara kembali berlanjut berkat Abe yang berhasil mengkondisikan suasana festival dengan pidato kecilnya.


Bukan jalan ke arah kantor yang Yuki lewati tapi jalan ke ruangan pelatih yang sedang mereka tuju. Yuki menghentikan langkah kakinya di lorong dekat asrama, kondisi di sana sepi jadi Yuki tidak khawatir akan ada yang mendengar mereka.


"Tsuttsun." Mizutani berhenti mendengar panggilan itu, lalu berbalik menghadap Yuki.


"Kamu kesakitan." Celetuk Mizutani.


"Hm, air mata ini sangat merepotkan." Jawab Yuki enteng.


"Masih berputar?." Yuki mengangguk kecil.


"Berapa lama lagi efek obatnya bekerja?." Yuki sejak tadi tidak menatap Mizutani, gadis itu lebih memilih membalikan tubuhnya ke samping, menatap jauh ke sebuah gedung berukuran sedang.


"Tiga puluh empat menit lagi." Jawabnya.


"Kapan ingatan itu berhenti?." Yuki mengedikkan bahu.


"Tidak tahu."


"Ayo kita pulang." Ajak Mizutani berjalan mendekati Yuki.


"Aku ingin menikmati hidup normalku sebagai pelajar Tsuttsun."


Deg!.


Krak!.


Hati Mizutani kembali retak seketika itu juga, kakinya terasa berat untuk melanjutkan langkahnya.


"Aku akan menenangkan pikiranku sebentar, mungkin itu bisa membantu menghentikan ingatan ini." Ujar Yuki berjalan menjauh namun langkahnya terhenti sebentar.


"Katakan kepada Dai chan untuk menungguku di lantai empat." Pinta Yuki tanpa membalikan badannya.


"Tsuttsun." Panggil Yuki lembut.


"Ya, ojou san?." Panggilan lembut itu adalah tanda kalau Yuki dalam mode putri klan. Diluar kendali Mizutani, ia merasa sangat senang mendengar panggilan itu kembali. Yuki telah mengingatnya.


"Aku ingin mengunjungi kakek buyut." Merinding!. Seluruh bulu kuduk Mizutani berdiri, kulitnya merinding dari kaki menjalar ke kepalanya. Dengan segenap keberanian dan menekan semua emosi yang menggumpal di dadanya Mizutani menjawab sang putri klan.


"Nanti, tahun depan, ojou sama." Yuki diam-diam tersenyum lembut dari balik punggungnya.


"Ung, aku menantikan hari itu." Ucap Yuki melangkah meninggalkan Mizutani yang sudah merosot ke lantai dengan tatapan kosong.