Futago

Futago
Rapat.



Tembok kasar dan tebal berdiri kokoh di depan Yuki, ia iseng untuk mengetuk dinding beberapa kali. Gadis itu menatap datar dinding lalu menoleh ke belakang melihat jalan gelap di sana.


Kedap suara, siapa pun yang berhasil masuk dan melewati semua penghalang di atas sana tidak akan bisa kembali, bahkan jika ada pertempuran besar di bawah sini tidak akan ada yang dapat menolong, gumam Yuki dalam hati.


Dazai menunggu gadis itu yang sedang sibuk mengamati ruang rahasia ini, tidak menunggu lama Yuki menatapnya lalu mengangguk menyuruh Dazai untuk melanjutkan.


Lagi-lagi hanya ada satu pintu menunggu mereka. Dazai membuka pintu yang tidak di kunci menarik Yuki masuk ke dalam ruangan selanjutnya.


Cahaya terang menyerbu manik Yuki setelah kegelapan yang ia lewati tadi, Yuki menyipitkan mata menyesuaikan cahaya.


"Yo!, Dazai. Sudah lama kau tidak kemari." Suara berat dan serak memecah kesunyian. Yuki masih berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya.


"Jojo san, bagaimana kabarmu. Aku terlalu sibuk dengan pasien akhir-akhir ini." Balas Dazai.


"Berhenti mengatakan omong kosong, pecat saja anak belagu satu ini." Suara halus mengalun bagaikan sabit itu.


"Ogura san .., jangan keras-keras kepadaku." Penglihatan Yuki mulai jelas.


"Tch." Balas orang itu.


Yuki melihat ada tiga orang di ruangan besar itu. Satu sedang bermain bilyard sendiri, tubuh besar otot besar dan tubuh tinggi yang Yuki pastikan si pemilik suara pertama. Satu lagi sedang duduk di sofa memegang konsol game memiliki tubuh ramping rambut panjang sebahu. Dan satunya lagi sedang sibuk duduk di depan meja yang berserakan, rambutnya seputih salju punggungnya sedikit bungkuk. Yuki pikir orang itu lebih tua dari kakeknya jika kakeknya masih hidup.


"Apa yang membawamu kemari dengan wanita. Dazai?." Tanya orang tua itu tanpa melihat ke arah Dazai. Yuki diam, suara kakek itu terdengar pelan namun sangat mengintimidasi.


Kedua orang lainnya langsung mengarahkan pandangan mereka tepat ke arah Yuki.


Suasana berubah dingin, hening, tidak ada yang berbicara tidak ada yang bergerak.


Berat, Yuki sulit bernafas, entah kenapa oksigen di ruangan itu terasa menipis.


Apa ini aura para pelindung bayangan, batin Yuki yang berusaha tetap tenang.


Dazai menguatkan genggamannya di tangan Yuki tanpa melirik gadis itu.


Baiklah, kita coba. Toh jika tidak berhasil aku akan mati di sini, batin Dazai meringis.


"Ryuuji san, aku menemukan gadis menarik. Sepertinya dia akan cocok denganmu." Suara Dazai menggema di ruangan itu.


"Hahahahaha ..." Suara tawa khas orang tua itu membalas kalimat Dazai.


"Kau mengantarkan nyawa ke sini, Dazai?." Yuki tidak mengira untuk berbicara dengan kakek-kakek itu ternyata sesulit ini. Yuki bertemu dengan orang-orang yang mirip dengannya.


Inikah para anggota klan, Yuki tersenyum dalam hati. Ada perasaan rindu menelusup ke dalam hatinya.


"Ryuuji san aku tidak akan membawa orang biasa ke sini. Tentu, belum ada orang asing masuk ke sini. Tapi percaya lah, dia bukan orang biasa. Sungguh!, mana berani aku membawanya ke mari dengan nyawaku sebagai taruhannya." Kata Dazai panjang lebar.


"Tapi kau sudah menunjukkan semua rahasia tentang ruangan ini Dazai. Itu sama saja kau meminta kami membunuhmu." Suara halus dari Ogura pria yang mengabaikan konsol gamenya.


Dazai sudah berkeringat dingin sekarang. Aku akan mati sekarang, batin Dazai.


"Aku tidak bisa membantumu, kau sudah mengkhianati klan." Kini suara berat dan serak Jojo menekan Dazai.


Udara semakin berat dan panas, Yuki masih tidak bergerak dari posisinya.


"Dengarkan aku, hanya seb." Kalimat Dazai terpotong karena sebuah stik bilyard melayang ke arah wajahnya.


Wuuusshhh ...


Dak!.


Dazai menghindar lalu menarik Yuki ke belakang tubuhnya. Hanya dalam sepersekian detik Dazai di serbu oleh Jojo dan Ogura, mereka terlibat dalam pertempuran sengit. Yuki melihat betapa kuatnya Jojo dan betapa tenangnya Ogura mengirim serangan-serangannya.


Untuk sesaat Yuki mengamati perkelahian mereka, melihat Dazai yang masih bisa bertahan Yuki berjalan mendekati kakek Ryuuji.


Yuki membungkuk sembilan puluh derajat di samping kursi Ryuuji lalu menunjukkan kertas panjang berisi gambar miliknya di depan tubuhnya.


Perlahan Ryuuji menoleh ke arah Yuki mengerutkan kening.


Betapa lancangnya anak kecil itu mendekati dia, pikir Ryuuji. Topeng yang menyembunyikan wajah sampai ujung hidungnya memperlihatkan senyum manis yang terukir di sana. Ryuuji menatap tajam Yuki.


Yuki tetap tenang menunggu Ryuuji mengamati dirinya, lama Ryuuji menatap Yuki lalu melirik gambar miliknya, seketika raut wajah orang tua itu berubah datar.


"Kau ingin aku menjahit baju untukmu?." Yuki menganggukkan kepala, lalu meletakan kertas itu di atas meja mengambil kertas yang lain dari dalam ranselnya, membentangkan kertas di depan Ryuuji.


"Kau yang merancang ini?." Ryuuji terlihat tertarik dengan gambar Yuki. Gadis itu kembali menganggukkan kepalanya.


"Apa kau juga ingin aku membuatnya?." Yuki kini menggelengkan kepalanya lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Apa kau yakin?." Yuki mengangguk.


"Kau tidak bisa bicara?." Yuki hanya tersenyum.


"Untuk apa kau ingin membuat lensa mata, banyak toko yang menjualnya." Yuki menggelengkan kepala pelan.


Suara gaduh masih terdengar di belakang Yuki.


Seharusnya dua rancangan baju dan lensaku bisa meyakinkan kakek ini, batin Yuki.


"Kenapa kau memerlukannya?." Yuki diam menunjuk matanya yang tertutup topeng, orang lain tidak bisa melihat matanya karena topeng yang di rancang sedemikian rupa namun Yuki bisa dengan mudah melihat semuanya.


"Kau bisa mencari orang lain kenapa harus Dazai?." Yuki menggerakkan tangannya melakukan bahasa isyarat.


"Orang lain akan menyepelekanku dan menganggapku menjijikan, Dazai mempunyai teman yang baik katanya, aku ingin meminta tolong kepada teman Dazai." Ucap Ryuuji mengeja gerakkan tangan Yuki.


"Aku bukan orang baik, tapi karena kamu sudah sampai di sini aku akan sedikit membantumu." Ujar kakek Ryuuji.


Orang tua itu berusaha berdiri lalu meraih tongkatnya, berjalan pelan dibantu dengan tongkat. Yuki tersenyum kecil berjalan di belakang kakek Ryuuji melewati meja di tengah-tengah ruangan itu.


"Oi! kalian. Berhenti." Suara kakek Ryuuji menghentikan pertarungan ketiga pria.


"Ryuuji san, terima kasih banyak!." Seru Dazai yang nafasnya sudah pendek-pendek.


"Tch!, kau selamat untuk sekarang." Ogura melepaskan tangan Dazai kasar.


"Dazai, jangan senang dulu. Aku tidak tahu satu jam ke depan apa yang akan aku lakukan padamu." Jojo menghempaskan tubuh Dazai.


Dazai hanya diam merapihkan bajunya.


Yuki tidak menyangka ada ruangan seperti ini di samping ruangan tadi. Bengkel besar yang rapi dengan peralatan komplit. Yuki ingin segera berlari menulusuri setiap barang-barang di sana namun Yuki menahannya, tujuannya saat ini adalah membuat lensa mata dan chip perubah suara.


"Kau bisa menggunakan peralatan di sini?." Yuki tersenyum kecil lalu menganggukkan kepala.


"Baiklah, silahkan gunakan apa pun yang kamu perlukan tapi, jangan sampai kau merusak barang yang ada di sini." Kakek Ryuuji memperingatkan Yuki. Gadis itu membungkuk dalam sebagai ucapan terima kasih.


"Aku akan keluar untuk menjahit bajumu." Ucap kakek Ryuuji berjalan pelan meninggalkan Yuki.


Kakek Ryuuji keluar menutup pintu, tongkat di tangannya berbunyi keras mengiringi setiap langkahnya. Mata itu terlihat tenang namun sorotnya sangat tajam tidak ada yang berani menatap kakek Ryuuji, ketiga pria itu menunduk.


Suara tongkat keras itu pertanda sang pemilik sedang tidak main-main. Dazai berkeringat dingin di sekujur tubuhnya.


Hening.


Tok. Tok. Tok. Tok.


Hening.


Tok. Tok. Tok. Tok.


Hening.


Suara itu berhenti tepat di depan Dazai, wajah pria itu sudah pucat pasi, bahkan ia lupa untuk bernafas. Jantungnya berdegup keras dengan ritme menggebu yang terasa menyakitkan.


Inilah akhir hidup Dazai, ia dan Yuki tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Mereka berdua akan tewas di tempat misterius itu tanpa ada seorang pun yang tahu. Mungkin, ada satu orang, Mizutani. Memikirkan pria itu Dazai merutuki kebodohannya, seharusnya ia menolak permintaan Yuki dengan embel-embel bukan perintah tapi meminta pertolongan, seharusnya ia tidak melanggar perintah Mizutani, seharusnya ia lebih tegas dengan gadis itu, tapi apa daya. Dazai tidak pernah menolak nona mudanya, sejak kecil Dazai selalu melakukan apa yang Yuki minta, tidak pernah mengecewakan Yuki tapi sekarang apa?. Dazai merasa bahwa dia adalah manusia terbodoh di dunia.


"Dazai." Panggilan pelan dan rendah itu cukup membuat jantung Dazai berhenti sepersekian detik.


"Maafkan saya Ryuuji san." Ucap Dazai lirih, suaranya mantap sudah siap dengan hukuman yang akan ia dapat.


DUG!. DUG!. DUG!. DUG!.


Bahkan bunyi pukulan genderang tidak sebanding dengan suara jantungnya.


Kenapa dia tidak tahu, pikir Dazai.


"Dua puluh menit yang lalu pesan itu masuk." Seperti membaca pikiran Dazai Ryuuji mengatakannya.


Dua puluh menit yang lalu?, ia terlalu sibuk mendampingi Yuki sampai melupakan ponselnya yang berada di dalam saku celana belakang.


"Bukan aku yang akan memberikanmu hukuman, biar Tsubaki yang melakukannya." Setelah mengatakan itu kakek Ryuuji berjalan ke arah mejanya.


Agh, ini skenario terburuk, tidak ada yang bisa aku lakukan, setidaknya ojou chan bisa keluar dari sini bersama Tsubaki, batin Dazai pasrah.


"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otakmu itu." Celetuk Jojo.


"Apa gunanya belajar tinggi-tinggi dan menjadi dokter kalau kau SEBODOH! ini." Sambung Ogura.


"Tck. Kau menyedihkan." Imbuh Ogura berjalan ke arah sofa yang ia duduki tadi dan kembali memainkan game konsolnya.


Ck krrrr ....


Suara mesin jahit di pojok ruangan itu mengisi keheningan, Jojo juga kembali bermain dengan bilyardnya.


Cdak!. Cdak.


Sedangkan Dazai duduk memejamkan mata.


Ruangan itu hening tanpa ada yang berbicara tapi cukup berisik karena suara aktifitas dua orang itu.


Dazai mengingat saat Yuki meminta sebuah bengkel dan menjelaskan benda apa yang ingin ia buat, gadis itu juga menginginkan sebuah baju dengan rancangan simpel namun detail-detail yang sulit. Pikiran Dazai langsung tertuju kepada kakek Ryuuji, Dazai tidak mungkin membawa Yuki ke bengkel orang lain karena pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan dari si pemilik bengkel, itu tidak boleh terjadi.


Di saat Dazai sibuk dengan pikirannya ada yang masuk ke dalam ruangan itu.


"YAHOOOI ...!!!." Jeritan melengking membuat semua pria di sana menutup telinga kecuali kakek Ryuuji.


"Ame!, suaramu menyeramkan seperti biasanya." Tegur Jojo.


"Tch!." Ogura mendecih kesal.


Wanita itu berjalan girang ke arah Jojo memeluk pria bertubuh kekar itu.


"Aku jauh-jauh dari hokkaido loh, sambutan kalian kenapa seperti ini." Kata wanita bernama Ame. Jojo menepuk beberapa kali punggung Ame.


"Bagaimana kabarmu?." Ame melepas pelukkannya.


"Baik seperti biasa." Jawab Ame lalu beralih menerjang Dazai.


"Waaahh Dazai chiin, kamu sudah tambah dewasa sekarang." Ame memainkan rambut Dazai.


"Ame san, hentikan." Dazai berusaha menjauhkan kepalanya.


"Kenapa wajahmu kusut begitu?. Gajihmu tidak naik ya?." Dazai tersenyum kecut menimpali ucapan Ame.


"Ogu-ogu!." Jerita Ame yang melihat Ogura.


"Tch!." Pria itu wajahnya berubah masam ketika Ame hendak mendekatinya dan memberikan pelototan maut saat Ame hendak menyentuhnya.


"Kau tidak pernah berubah ya." Ujar Ame tidak jadi menyentuh Ogura.


"Tidak biasa saja. Kau saja yang terlalu sibuk, tidak pernah berkumpul." Ame mengedikkan bahunya.


"Bocah itu mengirimkan email tadi pagi mengadakan rapat dadakan. Apa yang lain juga akan datang?, biasanya cukup hanya kalian yang rapat. Aku sampai meninggalkan pekerjaan dan buru-buru terbang ke sini." Ame melirik Ogura menuntut jawaban.


"Semuanya akan berkumpul malam ini, jangan tanyakan ada apa, tanyakan saja pada bocah itu." Ame melirik jam di tangannya masih lima belas menit dari jam rapat.


"Kakek Ryuu ..." Ame mendekati kakek Ryuuji membungkuk hormat lalu melirik apa yang sedang orang tua itu lakukan.


"Baju siapa ini?." Kakek Ryuuji tersenyum hangat.


"Bagaimana kabar anak dan suamimu Ame?." Tanya kakek Ryuuji masih sibuk dengan kegiatannya.


"Mereka sehat, suamiku masih sibuk bekerja dan tahun depan putriku menginjak usia enam belas tahun sudah waktunya untuk belajar di dojo." Kakek Ryuuji kembali tersenyum.


"Kenapa tidak kau sendiri yang mengajarinya?." Ame berdiri di samping mesin jahit menyandarkan tubuhnya ke dinding hingga posisi wanita itu menghadap ke pintu masuk.


"Sudah, menurutku belum cukup. Dia harus belajar tata krama dan semua aturan-aturan klan."


Ceklek.


Pria lainnya sudah datang, kakek Ryuuji menghentikan kegiatannya, sedangkan Ame dan para anggota duduk menempati kursi masing-masing yang berada di tengah-tengah ruangan dengan meja panjang di depan mereka.


Terakhir, Mizutani memasuki ruangan dan duduk di kursi paling ujung dekat pintu. Kakek Ryuuji berjalan dengan tongkatnya, menarik kursi di ujung satunya.


"Lama tidak bertemu Ryuuji san." Ucap Mizutani berdiri lalu membungkuk diikuti oleh yang lain.


"Kau masih saja merendah kepada orang tua seperti ini Tsubaki." Kata kakek Ryuuji.


"Anda adalah guru kami Ryuuji san." Jawab Mizutani yang mendapat kekehan kakek Ryuuji.


"Jika kita berdebat tidak akan ada habisnya, terserah kepadamu saja, duduklah." Semua orang duduk serempak.


Mizutani menyapu semua orang yang duduk di sana, hanya ada delapan masih kurang satu lagi. Mengerti apa yang di pikirkan Mizutani Ame yang duduk di dekat kakek Ryuuji buka suara.


"Sepertinya dia telat." Mizutani melirik jam tangannya.


"Tidak, kitalah yang datang lebih awal." Baru saja di bicarakan pintu dibuka secara kasar.


CEKLEK!.


"Huh hah huh hah, yo!. Apa aku terlambat?." Pria itu menutup pintu lalu menarik kursi kosong satu-satunya.


"Tch." Ogura yang duduk di hadapannya berdecih tidak suka.


"Sepertinya bocah ini masih saja tidak berubah." Pria bernama Akashi itu menatap Ogura dengan seringai lebarnya.


"Kamu tidak terlambat Akashi san, masih ada waktu satu menit lagi." Pria dengan luka panjang di wajahnya mengalihkan perhatian kepada Mizutani.


"Baik, pertama terima kasih kalian sudah datang meski undangannya mendadak." Atensi semua orang kini beralih ke Mizutani. Mereka sangat penasaran ada masalah apa hingga Mizutani mengumpulkan semua orang. Ini tidak biasanya.


"Kalian sudah dengar tentang penyerangan dari pelindung kediaman utama?." Mizutani tidak membuang waktu untuk berbasa-basi.


"Berita itu sudah menyebar di kalangan yakuza dan para gengster yang lain." Sahut Akashi.


"Bahkan penyerangan di akita sangat brutal." Sambung Ame.


"Mereka menyerang akita juga?!." Seseorang berhoodie hitam terkejut.


"Mustahil, kenapa?. Itu terlalu jauh." Jojo yang tidak mengetahuinya pun kaget.


"Ame san, apa kamu melihat penyerangan itu?." Tanya Mizutani, semua mata menatap wanita itu menunggu jawaban.


"Ya, aku memperhatikan mereka dari jarak yang aman."


"Matamu memang tajam, tidak di ragukan lagi." Suara lirih terdengar dari pria bertubuh kecil.


"Chibi chan (Pendek / si pendek) benar." Sambung Akashi.


"Terima kasih untuk pujiannya." Balas Ame.


"Ada berapa orang penyerang Ame san?." Tanya Dazai


"Empat. Dan mereka di tingkat pelindung kelas atas."


Hening.