
"Bocchama." Panggil Takehara lirih.
Hotaru menghapus air matanya menatap wanita empat tahun lebih tua darinya, yang masih menunduk takzim. Hotaru berusaha menenangkan dirinya.
"Rin neecchan, boleh aku memelukmu?." Takehara bergeming ditempat, ia sangat terkejut.
" H hai'." Jawabnya terbata-bata.
Hotaru mendekati Takehara melingkarkan kedua lengannya memeluk Takehara yang masih berlutut takzim.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih." Ucap Hotaru terus menerus.
"Bocchama." Lirih Takehara.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih." Lanjut Hotaru menangis memeluk Takehara.
"Bocchama jika ojou chan melihat anda menangis dia akan sangat sedih." Ujar Takehara mengingat nona mudanya yang tidak bisa melihat air mata kakak kembarnya itu.
"Terima kasih sudah hidup, terima kasih telah melindungi kami, terima kasih untuk semua pengorbananmu." Takehara melepas pelukan Hotaru.
"Saya merasa senang juga merasa terhormat mendapatkan ucapan tulus dari anda, tapi bocchama kita tidak boleh terlalu lama disini. Banyak orang-orang Daren dono mengawasi kita."
Hotaru menghapus air matanya beranjak berdiri.
"Berdiri Rin neecchan." Titah Hotaru. Takehara berdiri mengikuti perintah tuannya.
"Sesuai perjanjian sebelumnya. Saya sudah membunuh orang yang anda minta, mulai dari sekarang bocchama harus menuruti kata-kata saya." Ucap Takehara.
"Hm, baik."
"Ikuti saya." Pinta Takehara menuntun Hotaru keluar dari ruangan masuk ke dalam lift naik ke lantai lima.
Takehara membuka salah satu pintu kamar, menyuruh Hotaru masuk. Gedung itu memiliki tiga lantai restoran dan empat lantai hotel diatasnya.
"Silahkan duduk, saya akan menjelaskan." Ujar Takehara berdiri bersandar di meja menghadap Hotaru yang duduk ditepi ranjang.
"Pertama, mulai dari sekarang saya adalah kakak perempuan anda Hachibara Rin." Hotaru mendengarkan dengan baik.
"Kedua, kita tidak memiliki orang tua dan kita hanya tinggal berdua saja. Ke tiga, saya akan mengajari anda jenis bela diri yang lain. Ke empat, anda tidak boleh berhubungan dengan perusahaan cabang mana pun. Ke lima, berhenti mencari ojou chan. Ke enam, saya akan berbicara informal dengan anda. Mengerti, Hotaru?." Takehara kini menatap manik Hotaru.
"Kamu terlihat menyeramkan jika seperti ini Rin neecchan." Ucap Hotaru.
"Panggil aku neecchan tidak pakai Rin, apa kamu paham semua yang aku katakan Hotaru." Hotaru menelan salivanya kasar.
Gadis yang dulu selalu menjahilinya dan menjunjung tinggi kesetiaan kini berubah menjadi wanita yang seakan menyuruhmu untuk tunduk kepadanya. Hotaru tersenyum menatap Takehara.
"Tentu saja, semua peraturan itu adalah cara untuk melindungiku. Kau ingin menyembunyikanku neecchan?." Kata Hotaru menebak dengan tepat. Takehara mengangguk mantap.
"Mulai dari sekarang kamu kembali menggunakan nama aslimu." Hotaru terkejut, ia tidak menyangka akan sejauh ini.
"Apa kamu tahu apa yang barusan kamu katakan?." Sergah Hotaru.
"Tentu saja." Jawab Takehara.
"Kamu sudah gila, katakan siapa yang menyuruhmu?. Kamu ingin memancing mereka semua keluar?!." Geram Hotaru. Musuh-musuhnya tidak akan tinggal diam jika mendengar nama aslinya.
"Sudah cukup kejadian di indonesia. Tunggu!." Hotaru berdiri menatap tajam manik Takehara.
"Kau tahu tentang Yuki bukan, Rin." Ucap Hotaru dengan nada rendah mengintimidasi, peraturan melarangnya mencari adiknya, memakai nama aslinya, pasti banyak yang disembunyikan oleh Rin, pikir Hotaru.
Tuk.
"Argh!."
Takehara memukul kepala Hotaru dengan gerakan karatenya.
"Bicara yang sopan dengan kakakmu, tatapan apa itu tadi. Dimana sopan santunmu Hotaru." Takehara memarahi Hotaru, wanita itu benar-benar melakukan perannya sebagai seorang kakak.
"Maaf." Lirih Hotaru mengelus kepalanya yang sakit.
"Karena itu aku berpura-pura menjadi kakakmu Hachibara Rin untuk membingungkan mereka, sudah waktunya untuk keluar dari persembunyian dan melawan."
"Sisanya akan aku jelaskan nanti setelah kita sampai ditempat tujuan, sebelum itu dilarang bertanya. Mengerti, Hachibara Hotaru?!." Tegas Takehara.
"Ha-i'." Jawab Hotaru.
Tuk.
"Jawab yang benar." Koreksi Takehara.
"Hai'." Dia berubah menjadi beruang betina, batin Hotaru.
"Ganti bajumu dengan itu, pesawat kita dua jam lagi." Hotaru melirik baju diatas ranjang meraihnya dan berjalan ke toilet.
"Kita mau kemana?." Tanya Hotaru berjalan melewati Takehara.
"Kampung halaman." Sontak Hotaru menoleh menatap Takehara.
Rin cari mati, batin Hotaru.
"Dilarang bertanya." Takehara menekankan setiap kalimatnya.
Hotaru menarik nafas panjang sambil memegang dadanya agar bersabar.
Dua orang berjalan mantap di bandara yang ramai, penampilan dan kharisma kedua orang itu menarik perhatian banyak orang untuk melihat ke arah mereka. Baju kasual dengan celana jeans, kaca mata hitam dan masker menutup sebagian wajah mereka.
Takehara yang lebih pendek dari Hotaru menyerahkan kopernya kepada pemuda itu berjalan dibelakang dengan santai.
"Neecchan mengaku saja, kamu memanfaatkan kesempatan ini bukan." Sergah Hotaru dengan dua koper dimasing-masing tangannya.
"Tentu saja, sekarang sudah tidak ada yang membelamu lagi, jadi aku bebas." Jawab Takehara.
"Neecchan ..." Protes Hotaru.
"Check in check in." Takehara melangkah ringan meninggalkan Hotaru dibelakang.
***
Setelah perjalanan yang cukup lama dan melelahkan Takehara dan Hotaru akhirnya sampai didepan rumah baru mereka.
"Aku kira kita akan kembali ke kampung halaman." Gumam Hotaru.
"Ini jepang, bukankah kampung halamanmu." Sahut Takehara.
"Aku rasa kampung halaman kita, tidak. Maksudku adalah, kampung bukan negara." Jelas Hotaru.
"Kampung kita dua jam naik mobil dari sini." Jawab Takehara.
Syukurlah, aku hanya perlu tidak dekat-dekat, batin Hotaru. Hotaru menatap rumah khas jepang dengan lahan yang luas dan tanaman-tanaman hijau mengelilingi rumah itu.
"Dan kenapa rumah kita berada di tengah-tengah sawah seperti ini?, sendiri. Tetangga kita cukup jauh." Hotaru melihat sekitar dengan teliti.
"Memang ini yang di butuhkan, tetangga kita tidak akan bisa dengar teriakanmu." Takehara tersenyum miring berjalan memasuki halaman rumah.
"Tunggu neecchan." Hotaru menyeret koper mereka mengekori Takehara.
Hotaru masuk ke dalam rumah yang terlalu besar untuk ditinggali mereka berdua. Ia mengangkat koper ke dalam ruang tengah. Menunggu Takehara mengecek seluruh ruangan.
"Kita memiliki dapur kosong, kamar mandi, toilet, satu ruang santai dan tiga kamar. Aku akan memilih kamar terdekat dari dapur." Kata Takehara memutuskan.
"Aku akan memilih kamar pertama." Pilih Hotaru.
"Baiklah sudah diputuskan, bawa koper itu ke kamarku. Karena hari sudah malam, dapur juga kosong, dan rumah kita jauh dari supermarket. Untuk malam ini kita harus menahan lapar." Kenyataan pahit apa lagi yang menimpa Hotaru.
"Bertahan hidup dalam kelaparan lagi ya." Gumam pemuda itu mengingat masa lalunya saat di kurung dipulau terpencil. Takehara menepuk dua kali pundak Hotaru.
"Nasib kita memang penuh banyak perjuangan." Ucap Takehara dengan entengnya.
"Ya ya ya, neecchan sepertinya sangat menikmatinya." Celetuk Hotaru.
"Tentu saja, aku tidak akan menyerah dengan kekejaman dunia ini." Hotaru tersenyum simpul mendengar jawaban Takehara.
***
Bunyi kicauan burung, angin pagi yang menyusup masuk dari sela-sela ventilasi, sinar hangat matahari menerobos gorden kamar. Hotaru membuka matanya menghirup udara banyak-banyak, bangun dari tidur nyenyaknya berjalan membuka jendela besar membiarkan udara pagi menerpa dirinya, masuk ke dalam kamar.
Beberapa burung berterbangan dihalaman rumah, dan beberapa kupu-kupu yang hinggap di kelopak-kelopak bunga, bentangan sawah hijau yang menjadi pemandangan Hotaru di pagi hari.
Brak.
"Hotaru, bangun! mau sampai kapan kamu tidur." Seru Takehara membuka pintu secara kasar.
Takehara terdiam melihat Hotaru yang memandang ke luar dengan khidmat. Pemuda itu menoleh pelan ke arahnya dan tersenyum hangat.
"Aku sangat merindukan kampung halaman. Bukankah kampung halaman kita sangat indah." Ucap Hotaru kembali menatap keindahan alam dari kamarnya.
Takehara menghampiri Hotaru berdiri agak jauh dari pemuda itu.
"Ung, sangat indah." Balas Takehara.
"Aku sedang mengingat bagaimana hari-hari dimana keluarga kita masih utuh, bahkan sekarang aku seperti mendengar suara manja Yuki saat membangunkanku, hahaha." Takehara melirik Hotaru yang tersenyum dengan tatapan menerawang jauh.
"Jangan terlalu lama mengingat masa lalu, kenyataan pahit kita masih menunggu untuk diselesaikan. Pagi ini kita tidak sarapan." Kata Takehara berlalu pergi.
Plak.
Hotaru menepuk dahinya cukup keras.
"Kenyataan yang sangat pahit, pagi ini juga kelaparan lagi. Dunia ini benar-benar kejam, betapa bahagianya dunia melihatku menahan lapar." Gumam Hotaru membereskan tempat tidurnya dan segera ke kamar mandi.
"Baik sepertinya sudah semua. Hotaru ayo berangkat, berhentilah memasang wajah pucat seperti itu." Takehara menunjuk wajah Hotaru.
"Aku tidak memasangnya dengan sengaja!, ini karena sejak kemarin pagi aku tidak makan." Sergah Hotaru sedikit kesal.
"Bagus, mari kita berangkat mencari barang-barang dan makanan agar kita bisa bertahan hidup." Hotaru menggelengkan kepalanya menatap punggung Takehara.
Hotaru pikir mereka akan langsung ke restoran atau setidaknya membeli makanan setelah perjalanan jauh menggunakan taksi pesanan Takehara, tapi fakta menyakitkan lagi-lagi datang kepadanya.
Takehara berhenti di serum mobil, sudah dua puluh menitan wanita itu memilih mobil dan belum juga membelinya. Ah, dia sedang mengisi dokumen pemilik mobil baru berarti sebentar lagi Rin selesai, pikir Hotaru senang membayangkan sebuah restoran.
Dan benar saja beberapa saat kemudian mereka pergi menggunakan mobil baru itu. Bukannya ke restoran Takehara malah mengunjungi toko perabotan rumah memborong banyak barang.
"Hotaru, kamu pilih salah satu." Pinta Takehara, Hotaru pun menatap sederet sepeda yang berjejer.
"Aku? untuk apa?." Tanya Hotaru, ia pikir tidak memerlukan benda itu.
"Untukmu berangkat ke sekolah, memangnya kamu mau naik apa heh?." Takehara mengejek pemuda itu.
"Mobil." Jawab Hotaru enteng.
Tak.
"Tidak ada." Tolak Takehara, Hotaru mengelus kepalanya yang mendapat jurus karate dari Takehara.
"Yang ini." Hotaru menunjuk sepeda pilihannya seraya mengusap kepalanya yang sakit.
"Apa sekolahku dekat?." Tanya Hotaru.
"Ya, sangat dekat. Karena itu kamu sangat memerlukan benda ini." Jawab Takehara.
Hotaru merasa sedikit aneh dengan jawaban wanita itu.
Takehara sudah membeli semua keperluan rumah dan lain-lain, ia segera menancap gas pergi ke restoran terdekat. Restoran saat itu cukup ramai karena bertepatan dengan jam makan siang.
Takehara dan Hotaru sudah memesan makanan segera setelah mereka duduk, menunggu seraya mendengarkan celotehan-celotehan beberapa orang yang duduk di meja dekat dengan mereka.
"Aku tidak pernah membayangkan secepat ini kembali ke sini." Hotaru membuka percakapan.
"Aku sudah berencana kembali bersama Yuki, ibu, ayah, dan nenek." Hotaru menaruh dagunya ditangan menatap sebuah keluarga yang menikmati makan siang bersama.
"Jadi, jelaskan semuanya sekarang." Hotaru beralih menatap Takehara.
"Hmm .., coba kita pikir dulu. Haruskah aku mulai dari menghubungimu?." Hotaru mengangguk mengiyakan.
"Setelah aku meninggalkan paviliun aku pergi ke hawai dan mulai menghubungimu dari sana. Dari mana aku tahu?, tentu saja dari Ayumi dono." Hotaru memperhatikan penjelasan Takehara dengan serius, wanita didepannya ini memiliki banyak sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Untuk lebih mudah kita kembali ke dua belas tahun yang lalu." Kata Takehara tersenyum simpul.
Ingatan Hotaru kembali ke saat usianya empat tahun satu minggu lagi menuju ke lima tahun. Seharusnya anak seusianya ingatannya masih sedikit kabur tentang memori kenangan yang sudah terlewati tapi tidak dengan dia dan saudari kembarnya. Bagaimana dia bisa melupakan memori mengerikan itu.
"Aku sejak kecil memiliki firasat yang tinggi. Enam jam sebelum penyerangan aku membujuk ojou chan (Yuki) dan bocchama (Hotaru) untuk menginap dirumah teman tapi bocchama menolaknya karena ingin berlatih dengan Hachibara sama (Kakek Hotaru dan Yuki)." Takehara menyandarkan punggungnya di sofa.
"Aku menceritakan kegelisahan hatiku kepada ibu, untuk sejenak ibu tidak menghiraukan kekhawatiran tak beralasan dari anak sembilan tahun. Karena aku kesal dengan ibu, aku pergi menemui ayah yang menyuruhku untuk menggantikan posisi ojou chan dikamarnya." Takehara melirik pemuda tujuh belas tahun didepannya.
"Memindahkan bocchama yang tertidur ke kamar Lusi sama (Sama adalah gelar penghormatan yang tinggi). Jam sebelas malam penyerangan terjadi dengan sangat cepat, aku tidak mengira akan ada penyerangan sebesar itu, tidak ada yang menyangkanya. Apa kamu masih mengingat kejadian malam itu?." Hotaru mengangguk sekilas, ia terlihat tenang tapi sebenarnya tidak.
"Berarti anda tahu semua yang terjadi di malam itu."
"Hm." Jawab Hotaru.
Takehara mengangguk sekilas, mulai melanjutkan.
"Aku yang babak belur dibawa oleh mereka, ke markas menjijikan itu. Aku tidak tahu mereka yang bodoh atau mereka yang sial telah membawaku ke dalam inti markas."
"Karena rasa gelisah yang berjam-jam aku rasakan sebelumnya membuatku mempersiapkan semuanya. Aku membawa pisau kecil, jarum, dan kawat tipis buatan ojou chan, hahaha entah kenapa sebelum penyerangan itu aku teringat trik penyerangan yang diajarkan oleh ojou chan." Takehara menutup mulutnya agar suara tawanya tidak mengganggu pengunjung lain.
Hotaru juga mengingatnya. Saat itu mereka bertiga sedang duduk dibawah pohon sakura dekat kolam, kakek dan nenek mengawasi mereka dari teras samping rumah. Yuki tiba-tiba berlari dari belakang rumah membawa bungkusan besar yang hampir menutupi wajahnya mendekati mereka.
"Minna mitte! (Semuanya lihat!)." Ucap Yuki dengan mata berbinar dan wajah yang berseri tidak ketinggalan senyum indah yang selalu menghiasi wajahnya. Yuki meletakan bungkusan itu membukanya dengan semangat membuat pipi gempalnya bergerak naik turun.*
"Tada-.., peralatan rahasia!." Kata Yuki girang.
"Ojou chan, itu hanya pisau kecil, jarum, dan kawat. Maaf apanya yang istimewa?." Tanya Takehara.
"Rin memang tidak tahu tentang seni." Balas Yuki berkacak pinggang.
"Ehehe." Takehara hanya bisa tersenyum canggung.*
"Apa yang kamu lakukan pada kawatnya, Yuki?." Tanya Hotaru yang sudah memegang kawat mengusap dengan hati-hati. Bola mata Yuki semakin melebar mendekati Hotaru.
"Aku yang membuatnya!, aku mencoba menjadikannya lebih tipis agar mudah dibawa tanpa mengurangi panjang kawat dan tidak juga mengurangi kekuatannya, lalu,"*
Hotaru paling senang melihat wajah Yuki yang bersemangat dan matanya yang berbinar, sangat indah. Mata biru itu telihat bercahaya, bibirnya yang terus bergerak imut, dan pipi gembulnya yang bergerak-gerak tidak mau diam. Hotaru sangat bahagia, hanya melihat kembarannya seperti itu membuat hatinya seakan ikut melayang ringan didalam sana.*
"Lalu, saat ada puluhan musuh disekitarmu kamu tidak perlu takut." Lanjut Yuki tangan pendeknya terulur ke depan seakan memegang pisau.*
"Kenapa begitu ojou chan?." Tanya Takehara.
"Ckckck ... Rin, aku akan memberitahumu cara menggunakan peralatan rahasia ini." Ucap Yuki setelah menggelengkan kepalanya.
"Tiga benda ini sangat kecil menguntungkan tubuh kita yang belum tumbuh." Yuki mulai menjelaskan.
"Yuki, kamu hanya perlu mengatakan kalau badan kita pendek." Celetuk Hotaru merubah ekspresi Yuki menjadi kesal.*
"Kita tidak pendek Hotaru, tinggiku akan mencapai seratus tujuh puluh senti. Kita hanya belum tumbuh saja." Sergah Yuki menatap tajam Hotaru, bibirnya mengerucut kesal.
"Hai hai (Iya iya), Yu pasti akan setinggi itu, aku hanya perlu tumbuh lebih tinggi darimu, jadi tidak ada masalah." Hotaru menoleh malas.
"Kamu terlalu memanjakannya." Protes Hotaru.
"Benarkah, hahaha."
"Kau ini."
Yuki yang mendapat pembelaan tersenyum senang dan melanjutkan penjelasannya.*
"Ikat pisau diujung kawat, lalu bergerak cepat dan lincah seperti seekor cheetah, melilitkan kawat dileher musuh satu persatu lalu sedikit menariknya melanjutkan ke musuh berikutnya. Kalau ada musuh yang datang aku lumpuhkan titik vital mereka dengan pisau dan dengan cepat melilitkan kawat dilehernya mencari poros untuk meringankanku menarik kawat, tarik sekuat tenaga dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa." Jelas Yuki tangannya seakan-akan melakukan semua gerakan itu.*
"Seperti menjala, dengan satu jaring bisa mendapatkan puluhan ikan." Yuki tersenyum menang.
"Ojou chan membuatnya terdengar mudah." Celetuk Takehara.*
"Kalau ada musuh yang bisa melonggarkan lilitannya bagaiamana?." Tanya Hotaru.
"Karena itu pergerakan kita harus cepat, jangan berhenti, kawat juga akan terus tertarik. Itulah pentingnya bergerak seperti seekor cheetah. Cheetah sebelum menyerang akan memperhatikan pergerakan lawan dan menguncinya." Ketiga anak itu mengangguk-angguk mulai paham.
"Kuncinya adalah orang pertama, jika orang pertama berhasil akan mudah melanjutkan ke orang kedua, saat orang kedua bergerak mengejarku dan orang pertama masih sibuk melepaskan lilitannya dia akan tertarik oleh orang kedua menghemat tenagaku saat menarik mereka nanti. Oh, ini juga penting." Yuki mengambil kawat tipis itu membuat sebuah ikatan.*
"Aku tidak boleh membuat simpul yang longgar atau musuh akan mudah melepaskannya." Gumam Yuki.
"Tada .., jadi." Yuki tersenyum puas.*
"Yuki ... Kemari!. Kakek punya manisan untukmu." Seru kakek. Yuki melempar kawatnya begitu saja dan berlari menghampiri kakek.
"Apa cara ini akan berhasil." Gumam Hotaru.
"Saya meragukannya bocchama." Sahut Takehara.