Futago

Futago
Play.



Yuki keluar dari dalam kamar mandi memakai manset panjang hitam seragam kaos pendek berwarna putih dan celana panjang dengan warna yang sama, ia menyisir rambutnya terdiam sebentar.


Hotaru, sepertinya aku akan membuatmu marah lagi, batin Yuki.


"Suzune san, sepertinya aku membutuhkan ikat rambut." Ucap Yuki sedikit tidak enak.


Suzune yang sedang menata makanan menyuruh Yuki untuk duduk disampingnya. Tanpa banyak bicara Yuki mengikuti perintah wanita itu.


"Aku akan mengikatkan rambutmu, jadi nikmati sarapannya dan dengarkan aku hm?." Yuki mengangguk mengambil sumpitnya.


Suzune duduk dibelakang Yuki menyisir rambut hitam lurus dan lembut milik gadis itu.


"Kamu boleh tetap menggerai rambutmu jika mau." Ujar Suzune, insting wanitanya menyadari jika Yuki enggan untuk mengikat rambutnya.


"Ung, akan aku lakukan nanti, tapi untuk sekarang aku harus melakukan pemanasan. Aku pikir rambutku akan sedikit mengganggu." Jelas Yuki.


"Baiklah, sebelum bertanding panaskan lenganmu agar terhindar dari cedera yang tidak di inginkan. Hati-hati dengan bola terbang." Suzune memperingatkan.


"Baik." Jawab Yuki.


"Pelatih semalaman mencari seragam untukmu, itu size yang paling kecil. Syukurlah pas dibadanmu." ujar Suzune.


"Ung."


"Tapi tidak tahu dengan sepatunya, kalau kebesaran katakan padaku nanti aku carikan lagi, dan untuk glovenya kamu boleh meminta tolong Hajime kun untuk menyesuaikan dengan tanganmu." Yuki meletakan sumpitnya diatas cawan.


"Aku sudah belajar tadi, dari seseorang." Jawab Yuki tangannya bergerak seakan-akan memegang bola." Suzune berdiri berjalan ke sisi lain.


"Kamu sudah mencoba memegang bolanya?." Yuki mengangguk.


"Berarti kamu sudah tahu bola baseball sma, jangan paksakan dirimu." Ucap Suzune, Yuki tahu wanita itu mengkhawatirkan dirinya.


"Aku tidak akan kalah dengan Mi chan." Jawab Yuki optimis.


"Aku tidak tahu apa hubungan kalian berdua, tapi kamu sepertinya ingin sekali masuk klub karya ilmiah." Tangan Yuki bergerak-gerak melakukan berbagai pegangan pada bola sesuai yang ia baca semalam.


"Karya ilmiah sangat penting buatku." Jawab Yuki tersenyum tulus kepada Suzune.


"Mm, Mi chan hanya waliku disini. Tidak ada yang spesial diantara kita." Ucap Yuki dengan nada menggoda mengangkat satu alisnya membuat Suzune salah tingkah.


"I itu bukan berarti aku penasaran atau pun apa." Sergah Suzune terbata.


Yuki menahan senyumnya, ternyata wanita dewasa seperti Suzune bisa salah tingkah juga.


"Ya, aku mengerti." Jawab Yuki.


"Terima kasih untuk sarapannya." Ucap Yuki menangkupkan tangannya didepan dada.


"Biarkan piringnya disana saja, kamu harus bersiap-siap." Kata Suzune.


"Maaf Suzune san dan terima kasih." Yuki segera merapihkan seragamnya.


Memasukan baju ke dalam celana, memakai kaos kaki panjang. Menyesuakan glove di tangannya dan melepaskannya lagi.


"Aku akan memberikan sarung tangan yang kamu minta nanti sebelum pertandingan dimulai." Kata Suzune.


"Hai'." Jawab Yuki meletakan buku berukuran kecil disampingnya, ia berusaha mengikat tali sepatu dengan benar.


"Bagaimana ukuran sepatumu?." Tanya Suzune.


"Ini pas sekali Suzune san." Jawab Yuki. Suzune melihat Yuki sangat fokus dengan tali sepatunya, gadis itu tersenyum puas saat talinya berhasil diikat dengan sempurna.


Imut, batin Suzune.


"Kamu mau melakukan pemanasan dimana?." Tanya Suzune.


"Di depan asrama perempuan, lorong ini sepertinya jarang ada yang melewati." Jawab Yuki berdiri menatap Suzune.


"Aku tidak ingin banyak orang tahu aku melakukan pertandingan dengan para anggota klub baseball. Karena itu pasti akan membuatku kerepotan nantinya." Ucap Yuki mengingat para hatersnya.


"Hachibara san, sepertinya pelatih akan membuatmu melawan anggota tim inti. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran pelatih, aku tidak pernah menyangka dia bisa berbuat sejauh ini." Kata Suzune suaranya terdengar sedikit frustasi.


"Saat aku menentang keputusan pelatih ia mengatakan, jangan meremehkannya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi untuk membalasnya." Keluh Suzune memberitahu Yuki.


"Maka dengarkan dia." Sahut Yuki.


"Eh?." Suzune bingung.


"Kamu memiliki rencana?." Suzune menatap manik biru Yuki. Yuki tersenyum dan mulai menjelaskan rencananya.


"Maaf karena ke egoisanku kalian semua terlibat." Yuki membungkuk sedikit.


"Aku pergi pemanasan dulu." Pamit Yuki membuka pintu.


"Aku akan menyuruh seseorang untuk menangkap lemparanmu nanti." Sergah cepat Suzune.


"Onegaishimasu! (Mohon bantuannya)." Seru Yuki berlari pergi.


Yuki meregangkan seluruh tubuhnya mulai melakukan pemanasan kecil selama lima belas menit setelah itu ia berlari bolak-balik di tempat yang sepi itu. Hampir dua jam ia terus berlari, telinganya mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari belakang, lalu suara itu berhenti.


"Kamu .., perempuan." Lirihnya setelah memberi jeda cukup panjang.


Yuki membalikan tubuhnya menatap laki-laki dengan perlengkapan catcher lengkap membungkus tubuhnya.


"A a aku diminta kesini untuk menemani pitcher melakukan pemanasan oleh Suzune san. Da dan aku," Yuki membungkuk empat puluh lima derajat.


"Yoroshiku onegaishimasu (Mohon kerja samanya)." Ucap Yuki. Laki-laki itu terdiam sebentar.


"E e eeh?. Ha hai'." Jawabnya tergagap.


Yuki berjalan mendekat, mengulurkan tangannya meminta bola. Laki-laki itu memberikan bola dengan canggung. Setelah menerima bola Yuki mengecek jari-jarinya pada bola memastikan meletakannya dengan benar.


"Aku yang meminta berpasangan dengan catcher berpengalaman," Yuki yang tiba-tiba angkat suara mengejutkan laki-laki itu.


"Aku juga tidak bisa melakukan pemanasan di bullpen (tempat para pitcher melakukan pemanasan dan mencoba melatih berbagai lemparan) karena banyak pitcher sesungguhnya disana." Wajah laki-laki itu yang tadinya terkejut berubah bingung.


"Aku baru belajar tentang baseball tadi malam maaf kalau banyak membuat kesalahan. Ayo kita mulai." Ucap Yuki berjalan menjauh.


Pitcher sesungguhnya?, baru belajar semalam?, dia tidak tahu tentang permainan baseball dan tiba-tiba mau menjadi pitcher?!, apa gadis cantik ini sudah gila, batin laki-laki itu.


"Aku pernah melihat lemparan kedua pitcher kelas satu yang memiliki gaya melempar yang berbeda, apa kamu pernah menangkap lemparan mereka?." Tanya Yuki bersiap di posisinya.


"Ya, aku menangkap lemparan mereka di bullpen." Jawab laki-laki itu beranjak duduk didepan Yuki bersiap menerima lemparan gadis itu.


"Bagaimana menurutmu lemparan mereka?." Yuki memposisikan jari-jarinya pada bola.


"Nakashima memiliki lemparan lurus yang sangat cepat, kecepatannya hampir mencapai seratus empat puluh tujuh kilo meter per jam." Jelas laki-laki itu.


Yuki mengangkat kakinya.


"Siap, aku lempar." Seru Yuki, laki-laki itu tergagap karena ia sejak tadi fokus menjelaskan tentang juniornya dan tiba-tiba Yuki sudah melempar bola ke arahnya.


***


Tepat saat inning (babak) ke tiga atas Yuki dengan laki-laki yang menjadi catchernya tadi berjalan menyusup dari belakang bangku cadangan tim B. Para pemain tim B sedang bertahan dan tim A sedang melakukan penyerangan. Yuki berdiri di belakang Suzune yang berperan sebagai pelatih tim B.


"Suzune san, sepertinya kita ketinggalan dua angka." Lirih Yuki, Suzune tidak terkejut akan kehadiran Yuki mereka sudah membicarakannya tadi pagi, tapi lain hanya para pemain yang ada dibangku cadangan. Mereka menatap Yuki seakan menatap hantu.


"Ya, aku sangat bersyukur pemain kita bisa menahannya di dua angka. Kamu yakin tidak ingin melakukan pemanasan lagi?." Tanya Suzune.


"Tidak. Aku ingin melihat tim A memukul dan mempelajarinya, aku belum sempat membaca cara memukul yang baik." Yuki menyunggingkan senyumnya kepada Suzune yang meliriknya dibelakang.


Hah ..?, apa yang dia maksud mempelajari, dan kenapa dia disini memakai seragam pemain?, batin orang-orang yang berada di bangku cadangan.


Yuki memperhatikan pemain-pemain tim A mengayunkan batt (pemukul) mereka. Otak Yuki bekerja cepat mempelajari seisi lapangan. Mereka kecolongan dua angka lagi dan selisih mereka sekarang menjadi empat angka.


Yuki melirik bullpen di pinggir lapangan yang sangat berisik, ternyata ada Inuzuka yang sedang melakukan pemanasan. Seperti biasa Inuzuka tidak mau diam baik tubuhnya maupun mulutnya yang terus berteriak menyemangati senior-seniornya.


Akhirnya tim A terkena tiga out, para pemain segera berlari kembali ke bangku cadangan. Yuki sedikit gugup berada disana, ia semakin menyembunyikan tubuhnya dibelakang Suzune.


"Kalian semua berkumpul, dan kecilkan suara kalian." Ucap Suzune tegas.


"Hai'." Jawab mereka serempak.


"Sebelum pertandingan aku sudah mengatakan akan ada pitcher pengganti di babak ke empat nanti, dan yang akan menggantikannya adalah dia, Hachibara san." Jelas Suzune, Yuki menarik nafas panjang lalu keluar dari tempat persembunyiannya.


"Hah ...!?." Seru mereka.


"Kecilkan suara kalian!." Geram Suzune.


"Tunggu sebentar, dia perempuan, apa yang dia pikirkan." Sergah laki-laki berbadan besar dan sedikit pendek dari Yuki.


"Ini keputusan pelatih, kamu ingin membantahnya?." Tanya Suzune datar.


"Ti tidak."


"Bertanyalah kepada Kurokawa tentang lemparannya, Kurokawa sudah menangkap lemparan Hachibara san tadi." Sontak semua mata tertuju kepada laki-laki bernama Kurokawa itu.


"Ano ... Maaf, mungkin harga diri kalian terluka karena bermain dengan perempuan lemah sepertiku. Aku juga baru belajar tentang baseball tadi malam dan dua kali melihat pertandingan yang sesungguhnya, tapi ... Aku tidak ingin menjadi kelemahan tim ini. Aku akan memukul home run walau pun hanya pernah menyentuh batt sekali (untuk menghancurkan piano sialan itu, lanjut Yuki dalam hati) tapi aku pasti akan melakukannya, jadi .., mohon kerjasamanya!." Tegas Yuki membungkuk dalam.


Gadis gila, dia gila tapi imut, cantik tapi nggak w*ras, batin para pemain.


"Apa yang sedang kalian lakukan, cepat pemukul selanjutnya!." Seru Mizutani dari lapangan.


"Aku tidak ingin kalah, tim ini harus menang. Maukah kalian menunjukanku cara memukul yang baik?." Tanya Yuki berharap, entah gadis itu sadar atau tidak matanya membentuk puppy eyes. Tentu saja hal itu membuat gempar jantung para pemain tanpa terkecuali dan Suzune yang menatap gadis itu dari samping.


"Ayunkan yang benar, jangan berharap lebih." Teriak teman-temannya dari bangku cadangan. Yuki tersenyum kecil memperhatikan anggota timnya.


Tidak ada yang menegur Yuki gadis itu sangat fokus ke para pemukul membuat pemukul selanjutnya semakin bersemangat karena sadar mereka diperhatikan.


"Kurokawa kamu sudah menjelaskan semuanya kepada Sato?." Tanya Suzune.


"Ya." Jawab Kurokawa lalu melirik Yuki.


"Senpai, kamu harus berhati-hati. Dia sepertinya tidak main-main dengan ucapannya." Kurokawa mengingat beberapa menit yang lalu.


Flashback.


Bum!.


Suara sarung tangan saat menangkap bola terdengar keras dan indah.


"Bagaimana dengan lemparan milik Inuzuka kun?, lemparan seperti apa yang dia lakukan?." Tanya Yuki tanpa mengindahkan ekspresi laki-laki itu.


"Di dia, lem ekhem." Laki-laki itu berdeham dan diam sebentar, melempar kembali bola kepada Yuki.


"Lemparannya tidak cepat tapi dia memiliki bola pemecah atau bisa disebut dengan breaking ball (bola berubah arah setelah dilempar, biasanya ke samping/ke bawah bertujuan agar sulit dipukul), lemparannya juga konsisten selalu tepat ke arah mitt (sarung tangan cather / penangkap, ukurannya lebih besar dari sarung tangan pemain lain)." Jelas laki-laki itu lagi.


"Aku akan melakukan forkball (lemparan bola yang tiba-tiba jatuh didepan pemukul sebelum sampai ke sarung tangan catcher)." Seru Yuki lalu melempar bolanya.


Bum!.


Uussoo ... Jyoudan jyanai yo, (Bbohhoongg ... Jangan bercanda), batin laki-laki itu.


Flashback off.


Sato beralih duduk disebelah Yuki, melirik gadis itu sebentar. Badannya kecil, mustahil dia bisa melempar cepat dengan bola keras, batin Sato.


"Aku catcher cadangan di tim inti, Sato kelas tiga. Suzune san yang memintaku menjadi catcher tim B dalam pertandingan ini." Ujar Sato masih melirik Yuki.


"Aku hanya meminta tidak berpasangan dengan anak baru, tidak menyangka bisa berpasangan dengan senpai, aku merasa terhormat." Jawab Yuki menoleh sebentar kepada Sato dan kembali menatap ke depan.


"Catcher tim utama Kudo Kotaro kelas dua satu." Yuki terkejut ia langsung menoleh ke Catcher yang sedang duduk di lapangan.


"Apa kau yakin bisa mengalahkan otak strategi tim inti?." Tanya Sato sedikit meremehkan.


"Bukankah itu tugas senpai?, aku hanya akan memberikan lemparan yang senpai mau. Tapi," Yuki melirik Sato melanjutkan kalimatnya.


"Kalo senpai tidak keberatan dengan strategiku, dengan senang hati aku akan melakukannya." Ucap Yuki tersenyum.


"Lemparan apa saja yang kamu miliki?." Tanya Sato. Yuki mengeluarkan buku kecilnya memberikan buku itu kepada Sato.


"Semua yang ada disana." Jawab Yuki kembali memperhatikan lemparan super cepat milik Nakashima.


"Bercandamu terlalu jauh Hachibara san." Kata Sato menutup buku.


Para pemukul kembali, semua orang berdiri bersiap-siap untuk kembali ke lapangan. Yuki menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga memakai topi berwarna putih.


"Maaf kami tidak bisa mencetak angka." Ujar salah satu dari pemukul.


"Aku tidak berhasil memukul home run." Ucapnya lesu.


Plak.


Pemain yang lain memukul keras belakang kepala laki-laki itu.


"Sudah ku bilang jangan berharap lebih." Celotehan mereka membuat para pemain yang lain tertawa.


"Masih ada kesempatan berikutnya." Ucap Yuki mengalihkan perhatian mereka kepada dirinya.


"Aku akan menahan mereka untuk tidak mencetak angka di inning ini, dan di inning berikutnya kita berikan serangan balasan." Kata Yuki optimis.


Para pemain tidak tahu harus merespon apa.


"Senpai, kita lihat apakah bercandaku terlalu jauh pada lemparan pertamaku." Yuki tersenyum kecil memasang sarung tangannya.


"Baik kalian semua silahkan pergi ke lapangan dan lakukan yang terbaik." Suzune menyemangati.


"Hai'." Seru mereka kompak.


Suzune memberi kode kepada Mizutani selaku wasit.


"Pergantian pitcher!." Seru Suzune.


"Tim B pergantian pitcher!." Ulang Mizutani.


Dia datang, batin Hajime.


Sudah waktunya ya, batin Kudo.


Yuki mengikuti para pemain berlari kecil di belakang mereka. Untunglah tidak ada penonton hari itu, Yuki bisa leluasa melakukan apa yang ia rencanakan. Yuki berjalan menaiki mound (gundukan tanah ditengah lapangan tempat pitcher melempar bola).


Yuki menekan-nekan tas rosin(benda empuk kecil berbentuk persegi guna membuat jari kesat) agar jarinya tidak licin.


"S s senpai!." Yuki menoleh mendapati raut wajah Inuzuka yang shock, bola matanya hampir keluar. Yuki melayangkan senyumnya kepada Inuzuka.


Lucu, batin Yuki.


"Se ap tung." Inuzuka tergagap tidak jelas.


Apa yang ingin dia katakan, batin Yuki menaruh tas rosin ke dalam saku belakang.


"Apa yang kamu lakukan disana!." Teriak Inuzuka, akhirnya dia bisa bicara dengan benar.


Yuki tidak menjawab pertanyaan Inuzuka ia meniup ujung jarinya bersiap, terdengar banyak kehebohan di bangku cadangan tim A. Mereka protes dengan suara kecil, mereka tidak berani dengan pelatih karena pelatih terlihat biasa-biasa saja.


Yuki menatap lurus ke sarung tangan Sato yang terbuka menunggu bola darinya, ia mengangkat kakinya menekuk ke dalam lalu melepaskan bola dari tangannya.


Bum.


Suara indah dari sarung tangan Sato meredam kehebohan beberapa detik yang lalu, Yuki melemparnya tidak terlalu cepat hanya untuk pemanasan. Sato melemparkan bola kembali pada Yuki, lemparan panjang yang pelan.


Aku tidak bisa protes jika mereka meremehkanku, padahal di lempar seperti biasa saja tidak masalah, batin Yuki menatap Sato sejenak. Yuki kembali melakukan pemanasan.


"Ini tidak secepat tadi." Gumam Kurokawa yang terdengar oleh Suzune.


"Apa maksudmu?." Tanya Suzune.


"Eh, itu .., saat bersamaku bolanya dua kali lipat lebih cepat. Aku sempat takut tidak bisa menangkapnya." Lapor Kurokawa. Suzune memiringkan kepalanya.


Lemparan seperti tadi untuk pemula sudah sangat bagus tapi catchernya mengatakan hal yang lebih mengejutkan, apa mungkin yang seperti itu ada?, batin Suzune.


"Sato senpai harus fokus, tidak baik jika meremehkannya." Lanjut Kurokawa.


Jangan meremehkannya ya, batin Suzune mengingat kata-kata Mizutani tadi malam.


Sato berlari meghampiri Yuki ke tengah lapangan, di ikuti beberapa pemain penjaga base pertama, kedua, dan ketiga.


"Pemanasanmu sudah cukup. Jujur saja aku terkejut dengan lemparanmu." Ujar Sato.


"Masih terlalu cepat untuk terkejut senpai." Balas Yuki melirik pemukul lawan yang sedang bersiap-siap.


"Senpai sering menangkap lemparan Nakashima kun dan Inuzuka kun bukan." Sato mengangguk.


"Bagaimana jika kita melawan mereka dengan senjata andalan mereka masing-masing, pasti seru." Ucap Yuki membuat keheningan di tengah lapangan.


Dia kebanyakan makan, atau kebanyakan tidur, kenapa melantur tidak jelas, batin mereka.


"Di inning ini aku hanya akan melempar bola cepat. Senpai, jangan lepaskan bolaku."


Deg.


Mereka tertegun dengan kata-kata Yuki yang terdengar serius.


"Mari kita mulai." Ucap Yuki bersemangat.


"O ouh (Ya)." Mereka bergerak kembali ke posisi masing-masing.


"Sato senpai!." Seru Yuki menghentikan langkah laki-laki berbadan besar itu menoleh menatapnya.


"Senpai boleh melemparkan bola seperti biasanya kepadaku, tidak perlu menahan diri." Ucap Yuki sedikit tersenyum. Sato berbalik tanpa mengatakan apa pun.


Ada kekuatan aneh yang menyeret kami untuk mengikutinya, batin Sato.


Baiklah kalau begitu, Kurokawa juga sudah memperingatkanku. Tidak biasanya anak itu gemetaran setelah menangkap lemparan seseorang. Jadi .., biarkan aku menangkap lemparanmu, batin Sato duduk bersiap.


"Senpai! turun dari gundukan itu. Hachibara senpai! dengarkan aku. Apa yang kamu lakukan!?." Teriak Inuzuka memperkeruh suasana.


Tuk.


"Diam bodoh." Hirogane teman sekelas Yuki memukul kepala Inuzuka.


"Tapi senpai, aku tidak mengerti apa yang dia lakukan disana." Inuzuka menatap seniornya menuntut jawaban.


"Kami semua juga seperti itu, lihat para senpai kita, mereka juga bingung." Inuzuka melirik anak-anak kelas tiga.


"Kita bukan anak kecil lagi yang bermain dengan perempuan." Kata Hirogane menatap Yuki teman sekelasnya itu.