
"Yuri sama .., nenek dari Ay." Jawab ragu-ragu Dazai yang di potong langsung oleh Yuki.
"Dilarang menyebut nama itu di depanku." Titah Yuki. Dazai menelan salivanya dengan kasar.
"Maafkan saya ojou chan." Ucap Dazai sedikit menunduk.
"Siapa kamu?." Mizutani sedikit melirik Dazai.
"Saya adalah dokter di rumah sakit ini yang dulu pernah belajar di dojo keluarga Hachibara." Mizutani sedikit menghela nafas lega. Setidaknya Dazai tidak bodoh untuk membaca perilaku tersembunyi Mizutani selama ini.
Respon aneh yang dilakukan Yuki membuat Dazai sedikit gelisah. Yuki tersenyum kecil mendengar jawaban dari Dazai.
"Aku berikan satu kesempatan lagi." Mizutani mengerutkan kening.
"Dimana dojo milik keluarga Hachibara, Dazai san?." Tanya Yuki masih dengan nada intonasi yang sama.
"Jauh tersembunyi ojou chan." Yuki lagi-lagi tersenyum kecil.
"Je, lumpuhkan." Mizutani dan Dazai bingung perintah Yuki entah ditujukan kepada siapa.
"Argh!." Erang Dazai tiba-tiba memegang belakang lehernya, menarik sesuatu yang menancap di leher.
"Jarum kecil?." Dazai menatap jarum sepanjang satu senti di tangannya.
"Dari mana benda ini da,"
BRUK!.
Belum sempat Dazai menyelesaikan kalimatnya mendadak ia tidak bisa merasakan seluruh anggota tubuhnya, ia terjatuh berdebum keras. Mizutani yang shock langsung menghampiri temannya.
"Kenapa?." Tanya cepat Mizutani melihat raut wajah ketakutan Dazai.
"Aku tidak bisa merasakan tubuhku. Tsubaki, kenapa dengan diriku?." Dazai menatap khawatir Mizutani, ia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Mizutani membantu Dazai untuk duduk, menopang punggung laki-laki itu dengan pundaknya.
"Yuki." Tegur Mizutani menguatkan dirinya agar berani menatap manik biru milik gadis itu.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan. Dan kamu tetap berbohong, itu yang akan kamu terima." Dazai takut tapi rasa bangga juga terselip di hatinya.
"Maafkan saya ojou chan, silahkan tanyakan apa pun yang anda inginkan." Mizutani menoleh cepat menatap Dazai tidak percaya.
"Tsubaki, berpikirlah lebih jernih." Dazai ingin menoleh ke samping untuk membalas tatapan temannya tapi dia tidak bisa, lehernya tidak mau bergerak.
"Ojou chan tahu sejak awal aku berbohong, kecuali tentang Yuri sama." Dazai melirik ke atas melihat betapa berwibawanya gadis kecil yang kini sudah beranjak remaja.
"Kamu bisa membohongiku dan yang lain, tapi tidak dengan ojou chan. Aku heran kenapa ojou chan tidak membuatmu lumpuh sepertiku untuk mendapatkan informasi yang ojou chan inginkan." Mizutani diam-diam setuju dengan argumen Dazai.
"Aku berniat melakukannya jika Mi chan tidak mau bekerja sama." Dazai tersenyum.
"Aku akan sangat berterima kasih jika itu terjadi, sudah sejak lama aku ingin membuatnya kesal." Balas Dazai.
"Tidak." Tolak Yuki.
"Eh ..?." Dazai bingung, Mizutani hanya diam mendengarkan.
"Aku akan membuatnya tertidur selama tiga minggu agar aku bisa menjalankan semua rencanaku."
"Heeeehhh ...!?." Seru Dazai terkejut.
"Setujuu ..!." Lanjut Dazai tersenyum lebar.
"Berhenti mengkhayal." Sergah tegas Mizutani.
"Apanya yang mengkhayal apa kau lupa betapa jeniusnya ojou chan saat berada di kediaman utama?!." Protes Dazai mencoba melirik Mizutani.
"Itu karena tuan besar bersamanya." Balas Mizutani.
"Ojou chan melakukan semuanya sendiri, tuan besar hanya membantu sedikit." Dazai masih tidak terima nona muda yang dikaguminya di remehkan.
Yuki menatap kedua pria dewasa itu yang terus saling beradu mulut.
"Je, kemari." Panggil Yuki lirih.
Je si burung hantu melayang dari balik gorden menghampiri Yuki, burung hantu kecil itu melayang-layang di samping kanan kepala Yuki.
"Je aktifkan mode suara." Ting, burung hantu kecil mengeluarkan bunyi lirih.
"Je bersiap menyerang." Titah Yuki, kedua pria itu masih saja sibuk beradu mulut.
"Baik, dikonfirmasi." Suara Je yang terdengar jelas di ruangan itu membuat kedua laki-laki di lantai melirik cepat ke arahnya.
Mendapati sebuah mainan kecil melayang di samping kepala nona muda mereka, bergerak melakukan transformasi. Perut si burung hantu tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan moncong bulat seperti moncong pistol namun dalam ukuran yang lebih kecil.
Apa itu?, batin kedua pria di lantai.
"Siap menyerang." Pemberitahuan dari si burung hantu membuat Mizutani dan Dazai terkesiap.
Yuki dengan tenang mengangkat tangannya yang bebas dari selang darah, jarinya membentuk sebuah pistol mengarahkannya ke kepala Mizutani.
Apa lagi?, ada apa?, mahluk apa itu?, batin Dazai mengeluarkan keringat dingin.
"Shoot." Bibir seksi itu bergerak tipis.
DAAARR!.
Dazai melebarkan matanya, meskipun dia tidak bisa bergerak tapi dia masih bisa merasakan detakan jantungnya yang sedang maraton.
Apa Tsubaki mati?, batin Dazai gelisah. Jika Mizutani mati seharusnya ia sudah ikut terkapar di lantai sekarang karena tidak ada yang menahan belakang tubuhnya.
Mizutani diam, pandangannya tidak lepas dari Yuki dan si burung hantu, ia terlihat tenang tapi sebenarnya ia juga merasa takut tadi. Gadis itu tidak bisa di remehkan, Yuki menggertaknya tanpa ragu.
Pecahan vas bunga berserakan di belakang Mizutani.
"Nice shoot Eva." Je berkomentar, Yuki menarik kedua sudut bibirnya tersenyum manis menoleh menatap Je.
"Mereka pikir kamu dan peluru itu adalah mainan." Ucap Yuki mendorong pelan Je dengan ujung telunjuknya.
"Apa kamu butuh mengganti senjata?." Yuki terkikik geli mendengar komentar robot kecil miliknya.
"Tidak perlu, yang tadi sudah cukup. Simpan lagi pistolnya Je." Titah Yuki.
"Dikonfirmasi." Moncong pistol masuk kembali ke dalam, perut Je menutup dengan cepat.
Kedua pria itu mengeluarkan keringat dingin cukup banyak, mereka masih membeku.
Mustahil, batin keduanya.
Tapi kereen!, lanjut Dazai dalam hati.
"Apa kalian masih akan membodohiku?." Tanya Yuki yang sedang bermain-main dengan Je, mendorong lalu di saat Je sudah berada di posisi awalnya Yuki kembali mendorong, terus begitu.
"Tidak, tentu saja tidak." Jawab cepat Dazai.
"Mi chan, aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku." Yuki menghentikan jarinya lalu menoleh menatap lurus manik Mizutani.
"Bekerjasama denganku atau tidur selama tiga minggu. Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan semua rencanaku."
Tuan besar, dia benar-benar cucu anda, batin Mizutani.
"Apa kamu tidak takut aku melaporkan semua ini kepada nyonya besar dan Daren dono?."
"Itu masalah gampang, aku akan membunuh kalian jika berani buka mulut." Dazai semakin melebarkan matanya. Nona mudanya mengerikan.
Yuki hanya menggertak, ia tidak akan membunuh siapa pun, seperti saat melawan orang-orang yang menculik Hotaru, tidak ada yang meninggal kecuali hukuman dari polisi.
"Ayah, nenek. Mereka tidak tahu jika putri dan cucunya yang telah membuat obat untuk penyakitnya sendiri, menciptakan mahluk kecil ini." Dazai mengerjapkan matanya.
"Ap ha? maks?, tolong jelaskan saya tidak paham." Pinta Dazai kepalanya tidak sanggup menyimpulkan apa yang sedang dikatakan Yuki.
Bagaimana bisa, selalu ada pelindung untuk mengawasi dan menjaga ojou chan, banyak dari mereka yang menyamar, seperti kami. Meski pekerjaan kami benar adanya, batin Dazai.
"Itu tidak perlu." Dazai kecewa, ia sangat mengagumi otak nona mudanya itu.
"Apa keputusan kalian?." Mizutani berpikir.
"Bagaimana jika aku menolak?."
Tsubaki kau gila, rutuk Dazai.
Apa ini lebih berbahaya dari siap menyerang tadi?, batin Dazai cemas.
Benar saja robot kecil itu setelah menjawab Yuki langsung berubah menjadi robot petarung, dengan banyak moncong pistol yang siap menembakkan peluru.
Nah kan, Tsubaki sudah tidak w*ras, kesal Dazai.
Melihat itu Mizutani menarik nafas panjang.
"Lakukan apa pun yang kamu inginkan, tapi aku tidak akan melewati batas." Kata Mizutani pada akhirnya.
Itu lebih dari cukup, batin Yuki. Keputusannya untuk menggunakan Je sangat tepat, ia tidak bisa memaksa Mizutani buka mulut dengan cara-cara biasa. Yuki butuh jawaban sekarang, ia tidak akan bersabar lagi.
"Je, kembalilah seperti semula." Titah Yuki. Je mematuhi perintah penciptanya.
"Je, tembakan obat penawar."
"Di konfirmasi."
Dazai dan Mizutani was-was burung hantu itu akan kembali merubah bentuknya.
Shhuuut.
Je mengeluarkan jarum yang sama dari paruh melengkungnya, menusuk leher sebelah kiri Dazai.
"Agh." Rintih Dazai ketika merasa seperti tersengat sesuatu.
"Yuki." Tegur Mizutani lagi.
"Dazai kau," Mizutani menggantungkan kalimatnya melihat tangan Dazai yang bergerak.
"Lumayan sakit." Komentar Dazai mencabut jarum dari lehernya.
"Ojou chan, beritahu aku apa resepnya?, ini sangat menakjubkan." Kata Dazai beranjak berdiri.
"Disini aku yang bertanya." Yuki menolak terang-terangan.
"Benar, maafkan saya. Mari kita mulai." Dazai menarik kursi lain menaruhnya di samping kursi Mizutani.
"Jadi, kita mulai darimana ojou chan?." Mizutani kembali duduk di kursinya, tubuh mereka menghadap gadis remaja itu.
"Sudah berapa kali pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa mengingat diriku sebelum meninggalkan jepang."
Hanya satu kenangan yang masih aku ingat, bermain dengan Tiara saat masih di taman kanak-kanak, lanjut Yuki dalam hati.
"Bahkan aku baru sadar kalau aku juga tidak mengingat Hotaru sebelumnya." Yuki tetap tenang, padahal ia sedang berusaha menelan rasa pahit di dalam hatinya.
Dazai dan Mizutani menunggu sampai Yuki menyelesaikan kalimatnya, mereka sedang berusaha sekuat mungkin menahan rasa sedih ketika melihat remaja tujuh belas tahun itu berjuang melawan sakit dan kenyataan yang perlahan mendatanginya.
"Jika penyakit ini penyebabnya, bagaimana caranya agar aku bisa sembuh?, bahkan penelitian yang aku buat dengan susah payah hanya bertahan selama empat puluh menit." Yuki menatap Dazai yang seorang dokter.
"Ojou chan, tidak ada obat untuk penyakit yang anda derita." Yuki menaikan satu alisnya.
"Di masa lalu kau mengenalku dengan baik bukan, berarti kau juga mengenal kakek. Tidak mungkin tidak ada obat atau cara menyembuhkannya." Dazai menarik nafas sebentar.
"Tidak ada yang pernah sembuh dari penyakit itu selama beribu tahun yang lalu, sampai sekarang." Yuki menunggu, tapi Dazai tidak kunjung melanjutkan penjelasannya.
"Baiklah, apa yang terjadi dengan mereka yang terkena penyakit ini?."
"Mati kehabisan darah, mati bunuh diri, atau menjadi gila." Dazai melirik Yuki ingin melihat ekspresi gadis itu tapi tidak ada ekspresi apa pun di sana.
"Lalu kenapa penyakit ini baru muncul hampir dua tahun yang lalu?." Dazai yakin ia tidak masalah menjelaskan penyakit ini, Mizutani belum memberikan sinyal larangan.
"Karena anda berada di indonesia, jauh dari kenangan masa lalu anda." Yuki menaikan satu alisnya, otaknya berputar cepat.
"Apa boleh saya bertanya?." Yuki diam menunggu, yang diartikan 'boleh' oleh Dazai.
"Kapan pertama kali penyakit itu datang ojou chan?, tepatnya apa yang anda lakukan dan pikirkan saat itu?." Yuki memutar memorinya. Kenangan ia mengamuk menghancurkan piano berputar cepat.
"Saat itu aku dalam keadaan menyedihkan, menghancurkan piano yang mengingatkanku kepada Hotaru." Jawab Yuki.
"Kenapa anda menghancurkannya?." Tanya Dazai, gadis kecil yang dulu sangat anggun bisa berubah menjadi mengerikan seperti itu, pikir Dazai.
"Hotaru meninggalkanku, memilih pergi dengan iblis itu, melihat piano membuatku," Yuki sengaja menghentikan kalimatnya ia tidak ingin melanjutkannya. Tapi suara Dazai menarik kesadaran Yuki.
"Itu pemicunya, ojou chan mengalami kejadian yang sama seperti dulu, membuat penyakit itu langsung menyerang." Yuki paham sekarang.
"Kesimpulannya, penyakit ini akan kambuh ketika aku yang sekarang mengalami kejadian yang sama seperti kejadian yang aku lupakan dulu." Dazai mengangguk.
"Penyakit itu akan memaksa anda untuk mengingat memori yang anda lupakan, semakin anda mengingat semakin sakit dan semakin banyak anda kehilangan darah." Yuki menarik nafas kecil.
"Sebelum ke jepang, jika aku mengingat kejadian Hotaru meninggalkanku penyakit itu akan langsung bereaksi, dan aku tidak mengingat apa pun." Dazai kembali membuka mulutnya.
"Itu baru awal Ojou chan, banyak yang tidak bisa bertahan." Dazai menatap wajah gadis itu yang terus menatap si burung hantu melayang.
"Sungguh aku tidak mengira anda berhasil bertahan selama ini setelah penyakit itu menyerang anda. Tidak pernah ada yang berhasil membuat pil seperti anda dan tidak ada yang pernah berhasil melalui penyakit ini lebih dari sepuluh bulan." Yuki membuka telapak tangannya membiarkan Je hinggap di sana.
"Karena itu ayah memberikan batas waktu satu tahun." Gumam Yuki.
"Dazai ..." Panggil Yuki.
"Apa nama penyakit ini?." Yuki menoleh menatap laki-laki itu.
DEG!.
Apa yang harus aku katakan, batin Dazai melirik Mizutani. Yang di tatap hanya duduk diam tidak bergerak.
Tsubaki, sialan kau!, rutuk Dazai.
Hening.
"Berapa usiaku ketika Hotaru meninggalkanku dulu?." Yuki membuka suaranya, ia tahu Dazai takut untuk menjawab pertanyaanya jadi Yuki sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Lima tahun." Jawab Dazai.
"Mi chan." Yuki beralih menatap Mizutani.
"Aku tidak akan mencari ingatan itu, biarkan mereka mendatangiku sendiri. Jangan khawatir aku tidak akan mencari-carinya." Mizutani membalas tatapan Yuki.
"Kamu terlalu khawatir aku menghabiskan pasokan darah dari rumah sakit." Dazai menahan senyumnya.
"Aku akan membantu menjawab jika bisa." Kata Mizutani.
"Jelaskan padaku keluarga seperti apa keluarga Hachibara itu." Mizutani mencoba menenangkan dirinya, mulai membuka mulut.
"Keluarga Hachibara adalah keturunan langsung kaisar pertama jepang." Yuki menaikan alisnya, ia sangat tetarik untuk mendengar.
"Bukan dari selir beliau tapi keturunan permaisuri langsung. Yang uniknya, sejak dari permaisuri sampai Lusi sama (nyonya besar), hanya memiliki satu keturunan, menjadi pewaris klan. Ay, ekhem." Mizutani segera mengerem mulutnya.
"Sampai seorang anak kembar lahir memecahkan keunikan itu, meskipun begitu kalian tetap satu."
"Jiwa kalian seakan terhubung." Imbuh Dazai.
Yuki mengerti, kontak batin antara dia dan Hotaru sangat kuat.
Perlahan satu persatu pertanyaan di dalam kepala Yuki mulai terjawab. Ia tidak pernah menyadari jika leluhurnya adalah pejuang yang sangat hebat. Kaisar?, pemimpin negara, Yuki tidak pernah membayangkan ia memiliki darah serumit itu.
"Sampai kedudukan kaisar pertama di gantikan oleh kaisar selanjutnya, kaisar hanya memiliki permaisuri dan satu selir saja. Klan kaisar pertama terus hidup tanpa ikut campur kekaisaran lainnya meski mereka meminta bantuan karena klan kaisar pertama memiliki banyak keunikan dan sangat di hormati, klan lebih memilih tidak."
"Apa saja keunikan itu?." Dazai dan Mizutani saling melirik.
"Apa sulit menjawabnya?."
"Apa kamu yakin dengan ini?." Tanya Mizutani menatap lembut Yuki.
"Apa kamu pernah merasakan kebingungan ditengah-tengah keramaian Mi chan?." Yuki mengalihkan pandangannya, menatap Je yang kembali melayang.
"Apa kamu pernah berdiri di bibir tebing dan melihat jurang yang tak terlihat ujungnya?." Yuki kembali menelan rasa pahit di hatinya.
Jangan, jangan menangis, Hotaru tidak boleh merasakan sakit, ucap Yuki menguatkan hati.
"Apa kamu pernah tidak bisa membedakan warna di depanmu, yang mana yang baik dan yang mana yang buruk?."
"Semua itu sangat mengerikan, ketidaktahuan adalah hal yang mengerikan. Seperti berenang di dalam kolam dan tidak tahu bahwa kolam itu berwarna hitam, di huni hewan-hewan berbahaya, yang tidak memiliki dasar."
"Aku bahkan mengira kalau aku bukan diriku, dan mengira aku memiliki kepribadian ganda." Yuki akhirnya mengatakan apa yang beberapa bulan ini ia rasakan.