
"Sebentar lagi musim panas." Celetuk Hotaru ia sedang istirahat setelah dua jam bergelut dengan latihan rutinnya.
"Hm. Mau ke festival?, sudah lama kamu tidak melihat festival kembang api bukan." Ajak Fumio.
Kedua pemuda itu duduk di atas rerumputan menengadah menatap sekumpulan awan gelap yang bergerak melewati bulan purnama malam itu.
"Ya, lama sekali."
Sudah tiga bulan berlalu sejak pembicaraan Hotaru, Fumio, dan Yamazaki malam itu. Waktu bergerak begitu cepat. Rencana-rencana mereka bertiga pun berjalan dengan lancar bahkan tak disangka Fumihiro mau membantu mereka setelah mendengar semua penjelasan dari Yamazaki. Mereka akan mulai melancarkan serangan pertama bulan depan.
***
Tokyo, tiga bulan yang lalu.
Setelah puas berjalan-jalan di Harajuku Natsume mengajak Yuki untuk menginap di apartemennya. Di tengah jalan kedua gadis itu memutuskan untuk mampir ke restoran kecil yang mereka lewati untuk mengisi perut kosong mereka.
"Gyuudon di sini sangat enak kamu harus coba." Ucap Natsume langsung memesan dua porsi tanpa menunggu lama.
Gyuudon adalah makanan jepang jenis donburi berupa semangkuk nasi putih yang di atasnya diletakkan irisan daging sapi dan bawang bombay yang sudah dimasak dengan kecap asin dan gula.
Jam makan malam membuat restoran kecil itu di penuhi pengunjung, Natsume dan Yuki yang sedang menikmati hidangan mereka tidak menghiraukannya.
"Apartemenku tidak jauh dari sini." Kata Natsume.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan restoran gyuudon di belakang sana.
"Hm." Yuki hanya bergumam menjawab Natsume.
Natsume melihat minimarket di depan mereka melirik Yuki sebentar.
"Mau mampir?, mungkin ada yang ingin kamu beli?." Tanya Natsume menunjuk minimarket di depan mereka.
"Tidak." Jawab Yuki, Natsume mengangguk singkat.
Barang-barang keperluan mandi masih di dalam ranselnya, baju ganti ia membelinya tadi di Harajuku, cemilan juga ia membelinya di sana, tidak ada barang yang perlu di beli lagi, pikir Yuki.
Setelah beberapa menit Natsume tiba-tiba berbelok memasuki lobby sebuah apartemen, Yuki mengikuti dalam diam.
Lift naik dan berhenti di lantai tiga, pintu ke empat dari lift. Natsume menekan sandi apartemennya lalu mengajak Yuki untuk masuk.
Dia tinggal sendiri, batin Yuki setelah mengedarkan pandangannya di sekitar apartemen itu.
"Aku tinggal sendiri di Tokyo, anggap saja ini rumahmu." Ucap Natsume.
"Baiklah, boleh aku jual." Celetuk Yuki membuat Natsume terperanjat kaget.
"Bukan seperti itu juga Yu chan ..." Balas Natsume.
"Itu kamarku kamu masuk saja aku mau mandi dulu." Lanjut Natsume meninggalkan Yuki sendirian.
Apartemen Natsume cukup mewah dengan satu kamar yang luas, Yuki perlahan membuka kamar gadis itu meneliti setiap incinya. Kamar Natsume terlihat agak aneh dimata Yuki, banyak barang-barang kecil yang tertata rapi di rak lemari, karpet berwarna ungu muda, ada meja kecil dan bantal duduk cukup besar berwarna merah muda. Gorden, tempat tidur beserta selimut dan bantalnya pun berwarna merah muda, di tambah boneka-boneka yang tertumpuk rapih di pojok tempat tidur.
Yuki memasuki kamar Natsume membiarkan pintu tetap terbuka, ia meletakan ranselnya di dekat tempat tidur, mata birunya menangkap sebuah keyboard piano dan komputer cukup besar, disebelahnya tergantung gitar akustik.
Meja belajar dan rak buku kecil melengkapi kamar itu, cukup lama Yuki memperhatikan kamar Natsume.
"Apa ada yang aneh?." Suara Natsume dari ambang pintu kamar.
"Ung, kita sangat .., berbeda." Ucap Yuki, perbedaan yang sangat kontras melihat dari kamar mereka yang jauh berbeda.
"Haaah?, maksudnya?." Natsume berjalan menghampiri Yuki melihat gadis itu sedang sibuk menata barang-barangnya.
"Kamu sudah berniat kabur?." Lagi-lagi pertanyaan Natsume di abaikan oleh Yuki.
"Aku pinjam kamar mandinya." Kata Yuki seraya memeluk erat barang-barang yang diambil dari dalam ransel dan berjalan keluar kamar.
Dasar .., pelit. Jawab sebentar juga tidak ada ruginya, batin Natsume memajukan bibirnya kesal.
Natsume membuka ponselnya, membalas pesan-pesan yang masuk. Sesekali ia tersenyum lalu membalas dengan cepat.
"Sudah selesai?." Tanya Natsume, hidungnya menangkap bau manis khas seseorang ia melirik Yuki yang berjalan memasuki kamar dengan handuk di atas kepalanya.
"Ada sesuatu yang menarik?." Yuki balik bertanya menunjuk ponsel Natsume.
"Pesan dari teman lama. Kemari, aku akan mengeringkan rambutmu." Natsume menepuk tempat di depannya.
Dua gadis itu duduk di atas karpet kamar, Yuki hanya diam saat Natsume mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, tangannya meraih bungkusan yang ia beli di Harajuku, membuka bungkusan dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Rambutmu sangat halus, belum di sisir saja sudah sehalus ini. Perawatan apa yang kamu lakukan?." Yuki menggeleng kecil.
"Tidak ada."
"Heee ..?, enaknyaa." Natsume melirik ponsel Yuki yang teronggok di dekat ransel.
"Yu chan, sebaiknya kamu buka dulu ponselnya takut Mizutani sensei sedang mencarimu kemana-mana." Saran Natsume.
"Hmm, biarkan saja." Yuki kembali memasukan cemilan ke dalam mulut.
"Tidak baik begitu Yu chan." Tegur Natsume.
"Hazuki." Panggil Yuki menghentikan omelan gadis itu.
"Apa?." Tanya Natsume, kini tangannya menyisir rambut hitam Yuki.
"Kenapa pindah sekolah?." Pertanyaan Yuki menghentikan tangan Natsume sebentar, gadis itu tersenyum simpul lalu melanjutkan kegiatannya.
"Di sekolah lama aku menghindari musik, tapi percuma saja." Yuki diam menunggu.
"Di hari pertama masuk sekolah baru, niat dan pertahananku sekejap runtuh begitu saja. Saat melihat mata birumu semua not-not balok bermunculan di dalam kepalaku, ketika menyentuh kulit halus dan menatap wajahmu puluhan melodi terdengar oleh telingaku memaksaku untuk." Natsume berhenti sebentar.
"Menuliskan mereka. Pada akhirnya aku kembali bermusik lagi." Jelas Natsume. Yuki masih sangat ingat bagaimana Natsume menatapnya dan jari gadis itu yang tanpa permisi menyentuh pipinya.
"Orang tuaku masih ada kok, mereka sedang sibuk bekerja di kampung halaman." Sergah cepat Natsume, ia mengira Yuki penasaran dengan fakta itu.
"Aku juga tinggal berdua dengan Masa san." Ucap Yuki mencairkan kecanggungan Natsume.
"Siapa?."
"Bibiku." Setidaknya Yuki menganggap wanita itu sebagai bibinya, ketulusan dan kejujuran Masamune membuat Yuki nyaman bersama wanita itu.
"Orang tuamu sibuk juga ternyata." Ujar Natsume.
"Hm."
"Kenapa tidak kembali ke sekolahmu yang dulu, setidaknya kamu tidak tinggal sendiri." Natsume menyimpan peralatan yang baru ia pakai ke tempatnya semula.
"Sepertinya akan sangat berbeda jadinya." Jawab Natsume, Yuki mengulurkan cemilannya kepada gadis itu yang diterima dengan senang hati.
"Karena tidak ada kamu di sana, mungkin aku akan membenci musik lagi." Yuki memutar bola matanya malas.
"Hahaha .., mau main game?." Yuki menggelengkan kepalanya.
"Nonton film?." Yuki masih menggelengkan kepalanya.
"Mau main musik?." Natsume melirik alat musiknya lalu kembali menatap Yuki.
"Tidak." Tolak Yuki.
"Tidak asik ih Yu chan." Protes Natsume.
"Aku keluar sebentar." Ujar Yuki menyambar ponselnya.
"Hm, jangan lama-lama, nanti ada om-om pedo." Yuki tersenyum kecil mendengar lelucon Natsume yang diucapkan dengan nada kesal.
Yuki menutup pintu pelan berjalan mendekati balkon apartemen. Jalanan mulai terlihat sepi, Yuki menghidupkan kembali ponselnya mendapati puluhan panggilan tidak terjawab. Belum seberapa dibandingkan dengan beberapa orang yang Yuki kenal, apalagi ayahnya. Gadis itu tiba-tiba termenung mengingat dalam sehari hampir enam kali Daren menghubunginya, sekarang satu pesan pun tidak ia dapatkan dari laki-laki yang ia panggil ayah itu.
Yuki menarik nafas pelan kembali mengecek ponselnya, Hajime dan Keiji menghubunginya juga, apa kakak beradik itu mengkhawatirkannya, bahkan ada beberapa pesan dari Masamune. Yuki membalas pesan Masamune mengatakan kepada wanita itu ia hanya bermain ke rumah temannya tidak ada yang perlu Masamune khawatirkan.
Balasan dari Masamune datang dengan cepat, mengatakan bahwa wanita itu akan kembali besok saat makan malam. Yuki membalas pesan Masamune segera setelah ia selesai membaca.
Zzzz ... Zzzz ...
Yuki menatap nama yang muncul di layar ponselnya.
"Moshi-moshi (Halo)." Helaan nafas berat dari seberang sana terdengar sangat jelas.
"Akhirnya ponselmu aktif."
"Hm."
"Sudah pulang?."
"Belum."
"Sekarang dimana?."
"Rumah teman. Aku menginap di rumahnya."
"Perempuan?."
"Hm." Yuki mendengar suara kendaraan lewat.
"Ya, aku sedang berjalan ke minimarket."
Hening.
Terdengar pintu minimarket yang bergeser dan suara khas pelayan toko, lalu suara pintu yang terbuka. Seseorang di sebrang sana sedang menengguk minumannya.
Hening.
Yuki tidak tahu mau mengatakan apa, tapi ia juga merasa tidak enak. Ini pertama kalinya ia merasa tidak enak kepada orang lain, biasanya ia acuh tak acuh dan tidak seceroboh ini membuat orang lain kerepotan.
"Sudah malam kenapa masih di luar?." Yuki sadar akan lamunannya ia menaikan satu alis bingung. Terdengar suara tawa yang lembut menyapu telinganya.
"Di bawah." Yuki segera menurunkan pandangannya menatap laki-laki dengan baju dan jaket serba hitam.
"Aku turun." Ucap Yuki hendak melangkahkan kakinya namun di cegah oleh orang itu.
"Tidak usah, sudah malam kamu masuk saja, besok aku jemput."
"Aku turun." Ucap Yuki lagi berjalan menuju lift.
Laki-laki itu duduk di besi pembatas jalan dengan sekaleng minuman isotonik, Yuki sedikit berlari menghampirinya.
"Maaf, sepertinya aku kelewatan." Kalimat yang pertama kali Yuki ucapkan kepada laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja."
"Maaf terlalu kekanak-kanakkan." Ucap Yuki lagi.
"Ung."
"Masih marah?." Yuki melirik laki-laki yang fokus memandangi bangunan apartemen di depannya.
"Hm."
"Kalau memang tidak mau, kamu tidak perlu menjadi manajer klub."
"Tapi aku tidak suka mengingkari janji."
Hening.
"Bagaimana dengan Keiji?." Tanya Yuki. Kalau kakaknya saja masih mencarinya Yuki takut kalau adiknya juga masih mencari dia.
"Aku menyuruhnya pulang satu jam yang lalu." Jawab Hajime. Hajime melirik Yuki yang diam seribu bahasa.
"Aku sudah menghubunginya barusan, kamu sudah ketemu dan aman. Tidak perlu memikirkannya." Lanjut Hajime.
"Hm."
"Pelatih juga sudah aku kabari," Yuki memotong kalimat laki-laki itu.
"Suzune san?." Hajime mengalihkan perhatiannya dari Yuki dan kembali menatap gedung bertingkat itu.
"Dia mencarimu sebentar. Tidak ada yang tahu kalau kamu pergi dari rumah kecuali kami ber empat dan Keiji." Jelas Hajime. Empat orang yang dimaksud adalah Mizutani, Suzune, Kudo, dan Hajime sendiri, orang-orang yang melihat pertengkaran Yuki dan Mizutani malam itu.
Hening.
"Maaf, saat permainan aku merasa ingin sekali memukul bolamu." Yuki melirik Hajime.
"Senpai memukulnya." Ujar Yuki mengingatkan.
"Itu karena kamu melakukan kesalahan. Aku tidak memikirkannya, betapa kamu ingin sekali masuk klub karya ilmiah." Hajime balas menatap Yuki.
"Maaf tidak bisa membantumu." Lanjut Hajime.
Si Kudo yang menyebalkan, batin Yuki mengingat Kudo yang tidak mau mengalah sama sekali kepadanya bahkan menyerang balik timnya dengan pertahanan yang kuat.
"Mungkin aku memang sudah kalah sejak awal, Mi chan sepertinya sudah tahu dia tidak akan kalah." Jawab Yuki.
"Aku akan membantu membujuk pelatih untuk membiarkanmu masuk klub karya ilmiah." Tawar Hajime.
"Tidak senpai, terima kasih untuk bantuannya tapi .., aku sudah kalah." Tolak Yuki.
"Sepertinya kamu masih butuh waktu untuk sendiri." Yuki mengangguk pelan.
"Besok aku jemput." Yuki kembali mengangguk kecil.
Hening.
Yuki melirik Hajime yang sedang menunggu sesuatu, Yuki berpikir sebentar.
"Jam sembilan." Ucap Yuki yang diangguki oleh Hajime.
"Aku akan datang lagi besok, sekarang masuklah aku akan menunggu di sini." Kata Hajime masih di dalam posisinya yang tidak bergeser sedikit pun.
Yuki menarik nafas panjang, ingatannya kembali berkelana.
Hanya dalam waktu satu tahun lebih ia mendapatkan banyak sekali orang yang peduli kepadanya, tidak memandang dari mana mereka berasal, entah saling menyembuhkan atau sekedar Yuki mendapatkan ketulusan mereka.
Dunia begitu luas dengan berbagai mahluk hidup yang mengisinya, bermacam-macam keindahan dan kegelapannya, kedua hal itu selalu berdampingan di bumbui oleh berbagai rasa sakit, senang, terpuruk, bangkit, putus asa, semangat. Matanya baru terbuka akan hal itu, sudah berbagai negara ia datangi namun ia baru sadar akan hal itu sekarang, di saat ia hanya sendiri tanpa ada yang harus ia lakukan. Ia terlalu fokus dengan pekerjaan-pekerjaannya bahkan mengabaikan sesuatu yang sangat indah bernama ketulusan.
"Yuki ..." Panggil Hajime pelan.
Tubuh Yuki bergetar mendengar namanya yang dipanggil dengan lembut, bahkan suara Hajime terdengar seperti suara Hotaru sekarang, cairan-cairan bening mulai berkumpul di matanya. Yuki tersenyum manis seraya menahan cairan itu agar tidak jatuh.
"Ung, aku masuk dulu. Terima kasih." Yuki langsung membalikan badannya berjalan kembali ke apartemen.
Hajime terus menatap gadis yang baru ia kenal. Hajime tidak buta, ia melihat mata biru itu berkaca-kaca namun, senyum tadi mengisyaratkan hal yang berbeda. Tiba-tiba Yuki membalikan badan menghadap Hajime dan melambaikan tangannya.
"Senpai !." Panggil gadis itu dengan kedua sudut bibir yang sedikit terangkat.
"Hati-hati di jalan." Imbuhnya, Hajime mengangguk kecil.
Gadis itu pergi dan beberapa detik kemudian muncul di lantai tiga melambai sebentar kepada Hajime dan masuk ke dalam pintu silver itu. Setelah merasa semuanya baik-baik saja Hajime beranjak dari duduknya ia mulai berlari kembali ke rumahnya.
Di dalam apartemen Natsume sedang duduk di depan komputer besarnya, Yuki memilih duduk di ujung ranjang memperhatikan yang dilakukan temannya itu.
"Aku kira kamu benar-benar di culik om-om pedofil itu." Celetuk Natsume, melirik Yuki yang berada di sampingnya.
(Pedofil / pedo \= pria yang menculik anak-anak perempuan di bawah umur).
"Kamu lama sekali di luar." Lanjut Natsume yang hanya mendapatkan ekspresi datar dari Yuki.
"Semuanya baik-baik saja?." Imbuh gadis itu.
"Hm." Jawab Yuki tangannya meraih gitar di depannya.
"Mau membuat lagu baru?." Tanya Yuki mengangkat kakinya ke atas ranjang menyilangkannya. Tangannya bersiap dengan gitar di tangan. Natsume tersenyum cerah.
"Tentu." Jawabnya dengan riang.
Yuki mulai memetik senar gitar di tangannya, mulutnya mulai bersenandung, buru-buru Natsume menekan tuts-tuts keyboard menciptakan harmonisasi dua alat musik itu.
Malam yang ramai untuk kedua gadis di dalam apartemen lantai tiga, mereka saling bertukar ide untuk melengkapi potongan-potongan musik mereka, Yuki mengikuti instruksi dari Natsume melakukan apa pun yang disuruh oleh gadis itu, ia juga mengamati bagaimana caranya Natsume membuat sebuah lagu.
"Akan lebih menarik jika ada drum di sini." Ujar Yuki masih menatap layar komputer.
"Kamu bisa memainkannya?." Tanya cepat Natsume.
"Ung." Yuki menunjuk salah satu bagian lagu mereka.
"Di sini, dengan ketukan drum yang cepat, dan di sebelah sini." Yuki kembali menunjuk bagian yang lain.
"Bukankah lebih menarik jika ada suara harpa di akhir?, memberikan kesan bahagia yang lembut di saat k*i*aks musik yang bersemangat." Saran Yuki.
"Sugoi ... Yu chan," Yuki melirik Natsume yang tiba-tiba menunduk menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Yuki menaikan satu alisnya.
"Apa aku melakukan kesalahan?." Tanya Yuki, Natsume menggelang pelan.
"Hiks .., hiks .., hiks ..." Natsume terus menangis membuat Yuki semakin bingung.
"Ok, aku tidak akan mengatakan apa pun lagi." Ucap Yuki berdiri tegak.
"Bukan begitu ... Hiks!." Yuki menatap datar temannya itu.
Maunya apa sih nih anak, batin Yuki.
"Kamu bisa bermain harpa?." Yuki memiringkan kepalanya heran, kenapa Natsume menanyakan itu.
"Ada yang salah jika aku bisa bermain harpa?." Lagi-lagi Natsume hanya menghapus air matanya.
"Ternyata kamu juga pemusik." Ucap Natsume mendongakkan kepalanya untuk melihat raut wajah Yuki yang terlihat kesal itu.
"Bukan. Aku seorang ilmuan." Kata Yuki mantap.
"Ilmuan yang menyukai musik." Sambung Natsume.
"Sepertinya kamu salah paham disini. Aku ilmuan yang menyukai mesin." Natsume tersenyum mendengar jawaban Yuki.
"Bukankah musik itu indah .., Yu chan."