Futago

Futago
Perlawanan Yuki.



Brak!.


Pintu terbuka secara kasar menampakan gadis remaja yang berteriak memanggil namanya, seketika menarik perhatian ke tiga orang didalam ruangan itu. Aroma manis dan lembut menyeruak menyebar ke seluruh ruangan membekukan empat mahluk hidup disana.


Gadis itu tanpa merasa bersalah berjalan melewati dua orang yang berdiri menatapnya.


Mi chan?!, dia memanggil pelatih Mi chan, batin shock kedua orang itu.


"Mi chan, aku akan masuk klub karya ilmiah." Kata Yuki mendekati Mizutani yang duduk di sofa.


"Tidak. Aku akan memasukanmu menjadi manajer klub baseball." Kata Mizutani. Yuki merubah raut wajahnya yang tadinya ceria menjadi datar.


"Aku tidak mau. Biarkan aku masuk klub karya ilmiah." Tolak Yuki dan berharap Mizutani mau mendukung keputusannya.


"Tidak." Mizutani juga menolak keinginan Yuki.


"Mi chan!." Seru Yuki kesal.


"Aku menyuruhmu datang jam delapan, sekarang kembali ke asrama." Perintah Mizutani. Yuki berjalan semakin mendekat menatap lurus Mizutani dan berhenti disamping sofa.


"Sekarang jam tujuh lima puluh sembilan menit. Aku tidak perlu keluar." Ujar Yuki. Mizutani membalas tatapan gadis itu.


"Keputusanku sudah bulat." Ucap Mizutani tegas namun tetap tenang.


"Begitu pun denganku." Balas Yuki.


"Kamu tidak akan bisa masuk klub karya ilmiah tanpa tanda tangan dariku." Fakta yang Mizutani ingatkan membuat Yuki kesal.


"Mi chan!." Seru Yuki untuk yang kedua kalinya.


"Aku harus masuk ke sana." Desak Yuki.


"Tidak." Tolak Mizutani dengan tegas.


"Kamu akan membuatku gila jika tidak membiarkanku masuk klub karya ilmiah." Sergah Yuki mengepalkan tangannya.


"Aku hanya perlu membawamu ke dokter." Jawaban menyebalkan dari Mizutani membuat Yuki jengkel.


"Kamu benar-benar tidak akan mengabulkan keinginanku?." Tanya Yuki menatap tajam manik Mizutani.


"Tidak."


"Mi chan!." Geram Yuki menunduk menatap pria yang sedang duduk itu, ia kesal benar-benar kesal.


"Tidak Yuki." Ulang Mizutani.


"Aku akan tetap masuk." Ucap Yuki tegas.


"Dan kamu akan ditendang pergi oleh guru pembimbing mereka."


"Mi chan!." Yuki mengeraskan rahangnya. Mizutani lebih parah dari Daren ayahnya, setidaknya Daren masih bisa diajak bernegosiasi dan saling menguntungkan.


Krriiuuukkk.


Suara cukup keras sampai terdengar oleh telinga Mizutani berasal dari perut Yuki. Mizutani melembutkan tatapannya dan sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Kamu belum makan?." Tanya Mizutani. Yuki tidak menjawab ia masih menatap tajam Mizutani. Pria itu menoleh ke arah Suzune meminta penjelasan.


"Aku meninggalkannya dengan bahan-bahan lengkap di kulkas." Jelas Suzune, Mizutani kembali menatap Yuki intens. Sang empu melangkah mundur dan menyilangkan tangannya didepan dada.


"Bagaimana caraku menggunakan benda-benda itu." Jawab Yuki dingin seraya menaikan satu alisnya.


Mizutani menutup sebelah wajahnya dengan tangan, ia baru ingat gadis remaja itu tidak bisa memasak.


"Makanlah di kantin asrama, sepertinya makanan disana masih ada." Titah Mizutani.


"Tidak, disana berbahaya untukku." Jawab Yuki.


"Mereka tidak akan memakanmu, Yuki." Balas Mizutani.


"Tapi mereka akan menusukku dengan tatapan lapar mereka." Srobot Yuki, ia teguh dengan pendiriannya.


"Mereka semua anak-anak baik jika kamu mengenalnya nanti." Kata Mizutani.


"Tidak ada kata nanti. Aku tetap dengan keputusanku." Yuki dan Mizutani mulai bersitegang lagi.


"Apa keputusanmu Mi chan?." Tanya Yuki lirih dan tegas.


"Tidak." Jawab Mizutani.


Kamu benar-benar ingin membuatku menjadi pelayan mereka, batin Yuki. Yuki membenarkan posisinya berdiri membungkuk empat puluh lima derajat.


"Maaf telah membuat keributan, selamat malam." Ucap Yuki menegakan punggungnya berbalik menuju pintu keluar.


Untuk sesaat ia terdiam ditempat, Yuki sejak tadi tidak menghiraukan keberadaan dua manusia dengan seragam klub berdiri berjejer melihat semua keributan tadi. Yuki memutus kontak mata dengan Hajime mengangkat kakinya kembali berjalan.


"Yuki." Panggil Mizutani menghentikan langkah gadis itu.


Dia pasti tersiksa, tidak bisa melakukan banyak hal yang ingin dia lakukan, keadaannya sekarang seperti terpenjara di ruang yang sangat luas dijauhkan dari segala yang ia sukai, karena itu dia pasti merasa tidak berdaya sekarang, tapi ini yang di inginkan oleh neneknya, batin Mizutani.


"Aku akan menandatangani formulirmu jika besok kamu menang dalam pertandingan baseball." Kalimat Mizutani membuat Suzune dan kedua siswanya terkejut tidak percaya dengan apa yang dikatakan pelatih mereka. Yuki membalikan badannya menatap pria itu.


"Jika aku kalah?." Tanya Yuki.


"Kamu menjadi manajer tim kami." Jawab Mizutani.


"Kamu sengaja melakukan negosiasi yang menguntungkanmu, Mi chan." Ujar Yuki.


"Maaf, saya tidak sopan bergabung dalam pembicaraan ini tapi pelatih, Hachibara san tidak paham tentang baseball. Dan, baseball sma sangat berbahaya." Hajime spontan membuka mulutnya.


"Kamu dengar Yuki, mau mundur dan menjadi manajer dengan tenang?." Kata Mizutani. Yuki menatap lurus manik Mizutani.


"Jelaskan peraturannya." Tantang Yuki ia tidak mau menyerah saat ada peluang didepan matanya.


Hajime melirik Yuki ingin menghentikan gadis itu tapi ia tidak bisa. Baseball sma sangat keras karena itu tidak memperbolehkan ada anggota perempuan bermain dan Yuki tidak tahu tentang itu.


"Ada dua tim yang akan bermain besok, kamu akan bergabung dengan salah satu tim di inning (babak) ke tujuh."Jelas Mizutani.


Kamu ingin mengelabuiku Mi chan, batin Yuki.


"Tidak ada sembilan inning, hanya sampai lima inning dan aku akan masuk di inning ke tiga." Nego Yuki.


"Baik, tapi kamu harus menjadi pitcher (pelempar)." Semua orang terkejut termasuk Yuki.


Kamu bermain licik Mi chan, sebegitunya kamu ingin aku menjadi manajer tim, batin Yuki.


"Pelatih, itu tidak mungkin. Dia perempuan, bola baseball sangat keras. Pelatih apa ini tidak kelewatan." Srobot Suzune yang tidak setuju dengan keputusan Mizutani dan ingin membela Yuki.


"Yuki, bagaimana?." Tanya Mizutani tidak mendengarkan Suzune.


"Tentu." Jawab Yuki.


Orang ini sadar tidak sih apa yang dia katakan, batin ketiga orang disana melirik Yuki.


"Kita sepakat." Ucap Mizutani.


"Pelatih, kalau begitu biarkan Hachibara san masuk di inning ke empat." Sergah Suzune cepat.


"Baik, kamu masuk di inning ke empat. Kamu bisa bertanya tentang pitching (lemparan bola) kepada Kudo." Kata Mizutani.


Yuki menoleh menatap Hajime yang melirik ke samping, Yuki mengikuti arah mata Hajime melihat laki-laki berkacamata yang membalas tatapannya.


"Doumo (Salam)." Ucap laki-laki itu.


Yuki kembali menoleh ke depan, ia merasa sangat aneh dengan semua yang dikatakan Mizutani.


"Dia adalah catcher (penangkap) tim inti, kamu bisa bertanya berbagai hal kepadanya." Lanjut Mizutani.


"Tidak perlu, pinjamkan aku semua buku tentang baseball." Jawaban Yuki membuat kaget Suzune, Hajime, dan Kudo.


Dia sombong atau bodoh, batin Kudo.


Mereka berdua memang diluar kepala, batin Suzune dan Hajime.


"Dan aku punya satu permintaan." Ucap Yuki.


"Katakan."


"Berikan aku catcher selain anak baru." Pinta Yuki.


"Baik, besok jam sembilan pagi pertandingan dimulai."


"Kalau begitu sampai jumpa besok." Yuki melangkah pergi, baru dua langkah Mizutani kembali memanggilnya.


"Yuki, pergi ke kantin perutmu harus di isi." Ucap Mizutani.


"Tidak perlu, aku akan pulang." Jawab Yuki.


"Masamune san sedang pulang ke kampung halamannya, besok siang dia baru kembali. Kamu tidak bisa menemukan makanan dirumah." Jelas Mizutani.


"Aku akan membeli di minimarket." Ujar Yuki kekeh dengan keputusannya.


"Sudah sangat malam berbahaya, bisakah kamu tidak keras kepala kali ini, dan menurut?." Tanya Mizutani.


"Senpai akan menemaniku tidak masalah bukan?." Yuki melirik Hajime, meskipun Yuki tidak dekat dengan Hajime seperti ia dekat dengan adiknya Keiji, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada harus ke kantin.


"Aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Kata Suzune cepat sebelum Yuki pergi, ia merasa tidak enak membiarkan gadis itu kelaparan.


Yuki tersenyum sekilas dan pergi meninggalkan ruangan Mizutani.


Langit malam dipenuhi bintang, angin berhembus menerbangkan rambutnya.


"Tidak kembali ke asrama?." Suara berat dan tenang itu berasal dari belakang Yuki.


"Senpai tidak tinggal di asrama?." Tanya balik Yuki menoleh ke belakang.


"Tidak, rumahku dekat." Jawab Hajime membuat Yuki tersenyum kecil.


"Rumah kita." Hajime ikut tersenyum melihat wajah Yuki yang lebih tenang dari beberapa menit yang lalu.


"Karya ilmiah sangat penting?." Tanya Hajime.


"Ung, aku ingin menyibukan diri. Keiji tidak bisa bermain terus-terusan denganku dia perlu istirahat juga." Hajime terkejut, gadis itu ternyata memikirkan adiknya.


"Kamu bisa bermain game." Ujar Hajime.


"Aku tidak suka, menonton tv juga tidak terlalu suka. Jika terus seperti ini aku bisa mati bosan." Kata Yuki.


"Band." Lirih Hajime.


"Hm?." Yuki melirik Hajime lalu berpikir sebentar.


"Aku tidak membencinya tapi juga tidak menyukainya. Sekedar bisa." Jawab Yuki.


"Menurutku tidak seperti itu." Sanggah Hajime.


Yuki berjalan diikuti Hajime disampingnya.


"Ya tidak buruk, tapi aku tidak akan melakukannya." Ucap Yuki.


"Kamu pindahan dari mana?." Tanya Hajime membuat Yuki sedikit terkejut. Ia jarang sekali memberitahukan kepada orang lain tentang negara yang ia tinggali sebelumnya.


"Salah satu sma di indonesia." Jawab Yuki.


"Apa yang kamu lakukan di indonesia?." Hajime yang menyadari Yuki berhenti berjalan ikut menghentikan langkahnya menatap kebawah untuk melihat gadis itu, ternyata Yuki sedang menatapnya, tatapan yang tidak bisa laki-laki itu artikan.


"Untuk mengisi waktu luangmu?." Lanjut Hajime menegaskan apa yang ia maksud.


"Hm ..?, belajar, mungkin." Jawab Yuki kembali berjalan.


"Ayo, aku akan mengantar senpai sampai tiang listrik didepan." Ujar Yuki.


"Tidak perlu, kembalilah. Pelatih dan Suzune san pasti mencarimu." Ucap Hajime.


"Hm, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau Keiji kun tidak mau bermain denganku, pastinya sudah sejak lama aku mati karena bosan." Yuki mengalihkan pembicaraan. Hajime tersenyum menatap punggung Yuki.


"Anak kecil." Lirih Hajime mengikuti Yuki dari belakang.


***


Sudah satu jam yang lalu Yuki kembali ke asrama, ia disuguhkan setumpuk buku tebal tentang baseball. Ia membacanya tanpa henti meskipun sedang makan malam buku tetap berada ditangannya.


Saat Yuki kembali, Suzune benar-benar membuatkannya makan malam dan mengatakan bahwa ia terkejut perempuan secantik Yuki tidak bisa memasak. Pukulan telak dari wanita yang sudah matang.


"Hachibara san, aku akan tidur jika perlu apa-apa bangunkan saja." Kata Suzune sebelum ia terlelap tenggelam ke dalam alam mimpi.


Dari buku satu ke buku lainnya, Yuki terus membaca mengurangi tumpukan buku-buku itu hingga pada buku terakhir Yuki menguap lebar, matanya melirik jam dimeja Suzune lalu menutup Buku.


Yuki bersiap-siap keluar.


"Nghh Hachibara san." Gumam Suzune menguap berusaha membuka matanya.


"Maaf aku membangunkanmu." Ucap Yuki, Suzune melirik jam dimejanya.


"Ini jam lima pagi, kamu mau kemana?." Tanya Suzune setengah sadar.


"Aku ingin berlari sebentar untuk pemanasan nanti, Suzune san silahkan lanjutkan tidur. Aku pergi."


Ceklek.


Yuki berlari cukup jauh bahkan ia sampai didepan rumahnya melihat tidak ada satu penerangan pun disana, berarti apa yang dikatakan Mizutani benar Masamune tidak ada dirumah.


Mi chan menyuruhku untuk menginap di asrama karena tidak ingin aku sendirian dirumah, tapi kenapa Masa san tidak mengatakan apa pun padaku, batin Yuki berlari kembali ke sekolah.


Dilapangan B Yuki mendengar suara derap kaki, ia melirik ke samping melihat siapa yang membuat suara itu pagi-pagi buta begini. Seketika Yuki tersenyum menghampiri laki-laki itu.


"Yo, ohayou." Sapa Yuki.


"Senpai .., ohayou gozaimasu." Balas Inuzuka dengan ceria.


"Jam segini kamu sudah berlari, apa tidak terlalu pagi?." Tanya Yuki yang tidak melihat orang lain disekitar mereka.


"Aku tidak bisa tidur karena sangat bersemangat untuk pertandingan hari ini." Yuki tersenyum simpul.


"Pertandingan?." Ulang Yuki pura-pura tidak tahu.


"Ya, pelatih sendiri yang akan menjadi wasit." Jawab Inuzuka bersemangat.


"Senpai juga sepertinya tidak bisa tidur?." Inuzuka melihat keringat Yuki yang mengucur.


"Ung, kamu benar. Ngomong-ngomong Inuzuka kun." Yuki melirik ruang peralatan yang tidak jauh dari mereka.


"Aku ingin mencoba melakukan lepar tangkap, apa kamu mau mengajariku?." Tanya Yuki melirik kohainya (junior).


"Tentu, aku akan mengajari senpai." Jawab Inuzuka tersenyuman lebar.


Inuzuka berlari cepat ke asrama dan kembali dengan dua glove (sarung tangan) dan bola ditangannya, berlari kecil mendekati Yuki.


"Aku meminjamnya dari senpai yang sekamar denganku." Ucap Inuzuka seraya menyerahkan glove berwarna coklat kepada Yuki.


"Apa senpaimu tahu kamu meminjamnya?." Tanya Yuki sedikit curiga, dan benar saja Inuzuka tertawa canggung memegang belakang kepalanya.


"Dia akan memarahimu nanti." Ucap Yuki menerima glove tersebut.


"Tidak akan kalau senpai tidak memberitahunya." Balas Inuzuka menatap manik Yuki mengkode agar ia tutup mulut. Yuki sontak tertawa.


"Baiklah, jadi..?, bagaimana cara memakai ini?." Tanya Yuki.


"Begini." Inuzuka tanpa ragu memakaikan glove itu kepada Yuki. Yuki memperhatikannya dengan seksama.


"Selesai." Inuzuka tersenyum bangga.


"Terima kasih." Ucap Yuki.


Inuzuka memakai glove nya sendiri, ditangan kanannya. Kidal, batin Yuki memperhatikan Inuzuka.


"Senpai aku tidak memiliki softball (bola yang lebih lunak terbuat dari karet), di sma semua memakai hardball (bola keras). Aku akan berhati-hati melemparnya." Ujar Inuzuka.


"Onegaishimasu (Mohon bantuannya)." Kata Yuki.


Mereka berjalan menjauh memberi jarak setelah dirasa cukup Inuzuka berteriak memberi aba-aba.


"Senpai! aku akan melempar, senpai hanya perlu menangkapnya dan melempar kembali kepadaku." Jelas Inuzuka.


"Aku mengerti." Jawab Yuki.


"Ok, aku mulai." Ucap Inuzuka melempar bola perlahan.


PAK.


Yuki dengan mudah menangkapnya, Yuki melempar kembali bola itu kepada Inuzuka. Untuk beberapa kali lemparan, Yuki menyadari sesuatu bahwa lemparan Inuzuka meskipun pelan tapi tepat kearah dadanya. Yuki meminta Inuzuka untuk melempar lebih cepat.


"Inuzuka kun bisa kamu lempar lebih cepat?." Seru Yuki.


"Tapi itu akan menyakiti tangan senpai." Balas Inuzuka.


"Tidak masalah, aku ingin mencobanya." Pinta Yuki.


"Baik, jika terasa sakit segera katakan padaku." Inuzuka menyetujui.


"Ok."


PAK!.


Yuki sejenak terdiam. Bola ini memang sangat keras dan berat, Yuki merasakan tangannya sedikit ngilu tapi itu tidak sebanding dengan kursus yang selama ini ia lakukan dengan masternya. Ini bukan apa-apa, batin Yuki tersenyum dalam hati.


"Senpai, tanganmu sakit?." Tanya Inuzuka.


"Sedikit, tapi aku masih ingin melemparnya." Jawab Yuki melempar bola ke arah Inuzuka lebih cepat.


Akhirnya mereka berdua kembali melakukan lempar tangkap, lemparan mereka sama-sama terarah tepat ke arah dada masing-masing. Lemparan yang konsisten.


***


Ceklek.


"Kamu sudah kembali." Tanya Suzune berdiri didepan kompor dengan celemek yang melekat ditubuhnya.


"Ya, Suzune san bolehkah aku meminta sesuatu?." Tanya Yuki berjalan menghampiri Suzune.


"Tentu, apa itu?." Yuki melirik setumpuk peralatan baseball beserta kaos seragam dan sepatu.


"Aku ingin glove untuk tangan kidal dan mungkin akan sedikit merepotkan Suzune san." Pinta Yuki.


Aku tidak akan memberikan kemenangan tanpa perlawanan. Tunggu kejutanku, Mi chan, batin Yuki menatap seragam putih diatas ranjang.