Futago

Futago
Ayo Pacaran.



Musim panas ... Ya, kalian bisa bayangkan betapa panasnya itu. Bahkan angin pun terasa panas, udara panas, aspal jalanan menguap karena panas, tenggorokan kering, keringat terus bercucuran, kulit rasanya seperti terbakar. Yuki tidak suka semua itu. Ia tidak tahan dengan musim panas.


Musim panas ternyata lebih panas dari negara tropis yang pernah lama ia tinggali, setidaknya di negara itu anginnya terasa sejuk bukan panas, bisa di katakan di sana masih ada angin di hari yang panas. Yuki mengerutkan kening menunggu angin untuk menerpanya sejak tadi, bahkan pepohon di sampingnya tidak bergoyang sedikit pun. Penantian sia-sia, karena tidak akan mungkin ada angin lewat.


Puk!


Sebuah tangan besar hinggap di pundak rampingnya. Yuki menoleh, tanpa gadis itu sadari sorot matanya berubah seperti kucing yang sedang meminta makan.


Laki-laki itu tersenyum hangat membuat Yuki berubah kesal, ia sedang kepanasan dan tidak ingin mendapatkan senyuman yang membuatnya semakin bertambah panas.


"Pulang." Rajuk Yuki.


"Kata Masamune san kamu belum pernah ke pantai, kita sudah di sini kenapa pulang." Mizutani melepas topi di kepalanya memakaikan topi itu ke kepala Yuki.


"Panas, tidak suka. Aku bisa pulang sendiri." Ujar Yuki membalikan badannya hendak pergi namun di cegah oleh Mizutani.


"Jangan seperti anak balita." Yuki langsung menoleh ke belakang menatap lurus manik Mizutani.


"Apa kamu tidak melihat keringatku yang begitu banyak?. Anak balita?!, terserah, aku mau pulang." Mizutani masih menahan tangan Yuki.


"Kamu tidak perlu ikut ke pantai, tetap di sini, berteduh." Mizutani menarik Yuki ke depan toko kecil yang menjual berbagai aneka minuman.


"Duduklah, aku masuk sebentar." Mizutani pergi ke dalam toko setelah membuat Yuki duduk diam.


Maja itu memiliki payung lebar ditengahnya melindungi pengunjung dari terik matahari. Sepertinya Yuki salah, ia memakai celana pendek diatas lutut dengan kaos biru tanpa lengan, mengekspos kulit putih susunya memberikan kesempatan sang mentari membakar kulitnya.


"Ini diminum, aku sudah bilang ke pelayan toko untuk melayanimu, nanti biar aku yang bayar." Yuki melirik es lemon di hadapannya, tanpa ba bi bu lagi Yuki langsung menyeruput minuman itu.


Mizutani tersenyum sekilas.


"Ada apa denganmu?." Tanya Yuki yang menangkap sikap aneh Mizutani sejak sampai di tempat itu.


"Dengar." Ucap Mizutani dengan tenang.


"Musim ini adalah permulaan untukmu, mungkin penyakitmu akan sering kambuh, aku tidak tahu bagaimana memicu penyakit itu kambuh." Mizutani menarik nafas pelan.


"Dua hari yang lalu aku menguji adegan yang sama dengan kenanganmu yang dulu tapi tidak menghasilkan apa-apa. Penyakitmu tidak kambuh." Mizutani memberikan kotak permen kepada Yuki.


"Ini, untuk berjaga-jaga." Yuki menerima pil yang diberikan kepadanya.


"Nikmati harimu, meskipun kamu tidak suka, berusahalah untuk menikmatinya. Kamu terlalu memaksakan tubuhmu setelah pulang dari rumah sakit." Yuki mendengarkan dengan wajah datar.


"Aku pergi." Pamit Mizutani, baru beberapa langkah suara Yuki menghentikannya.


"Apa maksud perkataanmu?, berusaha menikmati hariku sebelum aku mati begitu maksudmu?." Mizutani menatap Yuki dengan wajah shock.


"Yuki!." Tegur Mizutani.


"Aku hanya ingin kamu tidak terlalu fokus dengan urusan klan." Imbuh Mizutani.


Benar, klan, batin Yuki mengingat sesuatu.


"Ada yang ingin aku katakan kepada kalian, bisa kalian datang ke rumah nanti malam?." Mizutani terlihat sedang mempertimbangkan ajakan Yuki.


"Ung." Yuki tersenyum kecil lalu mengibaskan tangannya mengusir Mizutani.


"Semangat." Ucapnya seraya mengepalkan tangan dengan malas.


Hari itu Yuki hanya memandangi ombak dari pesisir pantai, melihat anak-anak klub sedang di hajar habis-habisan oleh pelatih mereka, sedangkan para manajer sibuk memberikan dukungan. Sudah gelas ke lima yang Yuki habiskan dan sekarang gelas ke enam datang untuknya.


Panas, batin Yuki lalu menaikan kedua kakinya ke atas kursi menekuk lututnya sampai ke dada.


Saatnya waktu makan siang, anak-anak berhenti berlari dan duduk di tepian, para manajer sigap melakukan tugas mereka.


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini." Yuki melirik ke samping, secara otomatis salah satu alisnya terangkat.


"Dan!, kenapa tiba-tiba lari sih!." Seseorang sedang protes, lalu duduk di hadapan Yuki tanpa izin seperti temannya yang seenaknya duduk di sana.


"Oh!, hai." Laki-laki di hadapan Yuki terkejut melihat gadis yang pernah ia lihat sedang duduk menggigit sedotan yang terselip di antara mulutnya.


"Aku tahu sekarang, kenapa kamu berlari tiba-tiba." Yuki melirik ke samping melihat anak kecil menekuk wajahnya.


Ah!, mereka preman di bengkel waktu itu, batin Yuki yang mengingat perkelahian di dalam bengkel.


"Apa kamu masih mengingat kami?." Tanya pemimpin preman yang bertubuh kecil dan pendek melirik ke arah Yuki.


"Mungkin." Jawab Yuki kembali memesan minuman.


"Maaf, saya juga pesan \~." Laki-laki di hadapan Yuki langsung memberikan pesanannya tanpa rasa malu.


"Kita belum berkenalan, namaku Dan." Ujar laki-laki kecil seraya menyangga dagunya menatap Yuki.


"Aku Chika." Laki-laki di hadapan Yuki memperkenalkan diri lalu sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Lalu?." Tanya Yuki yang tidak tertarik berkenalan dengan mereka.


"Kamu tidak perlu memberitahukan namamu karena kamu akan aku panggil Aome, seperti matamu yang sebiru langit."


Tak!.


Chika sangat terkejut sampai-sampai ponselnya terjatuh dari tangannya.


Dan sudah gila, batin Chika.


"Bukankah itu tidak sopan, aku lebih tua darimu." Ujar Yuki datar.


"Aome san." Ucap Dan, Yuki tidak merespon sama sekali.


(Ao \= Biru, Me \= Mata. Aome \= Mata biru.)


"Aome san, ayo pacaran."


Duk.


Sret.


Pelayan yang mengantarkan minuman mereka terkejut mendengar adegan penembakan tiba-tiba membuat pelayan itu menabrak kakinya sendiri dan hampir menjatuhkan nampan minuman kalau tidak Yuki tarik baju belakangnya.


"Maaf, terima kasih." Pelayan itu menunduk dan segera meletakan pesanan.


"Sekali lagi saya minta maaf." Ucapnya sebelum pergi.


"Bisa bawakan es krim jumbo rasa coklat yang ada di gambar itu?." Tanya Yuki menunjuk gambar spanduk di samping pintu toko.


"Baik, tolong tunggu sebentar." Kata pelayan berlalu pergi. Yuki meraih gelas baru lalu meminumnya.


"Aome san, apa jawabanmu?." Dan menatap Yuki dengan wajah bersemu merah.


"Dan?." Lirih Chika tidak percaya.


Sebelumnya bosnya itu tidak pernah tertarik dengan perempuan. Dan terkenal sebagai orang sadis dan tidak mempunyai belas kasih, yang ditakuti oleh geng-geng lain.


Sekarang sedang bersemu merah menatap perempuan yang baru dua kali bertemu tanpa sengaja dengan malu-malu. Apa yang akan dikatakan oleh teman-temannya yang lain jika mereka melihat ini.


"Diam pertanda setuju. Baik, mulai sekarang kita pacaran." Pernyataan tiba-tiba dari Dan membuat Chika terjatuh dari kursinya.


Dan benar-benar sudah kehilangan akalnya, rutuk Chika dalam hati.


"Jika kamu menyatakan cinta kepada kucing di sana, apa itu berarti kamu pacaran dengan kucing itu?."


Gubrak!!.


Chika yang berusaha bangkit dan hendak duduk kembali terjatuh mendengar balasan dari gadis bermata biru itu.


"Tentu saja tidak, kucing dan kamu itu berbeda."


Ya ampun, ada apa dengan situasi ini, batin Chika.


"Untuk merayakan hari jadi kita mau jalan-jalan ke sana sebentar?." Tanya Dan yang tanpa permisi hendak meraih tangan Yuki.


Wuussh!.


Grep!.


Yuki melempar kencang gelas kosong di dekatnya ke wajah Dan tanpa melirik ke samping namun anak smp itu menangkapnya dengan mulus.


Chika memelotot ke arah Dan, ia yang baru saja berdiri, terkejut dengan gelas yang tiba-tiba terbang.


"Aku membenci laki-laki yang tidak sabaran." Ucap Yuki tanpa menoleh.


"Pfftt ..." Chika menutup mulutnya.


"Baik, besok ayo berkencan."


Gubrak!.


Chika kini terjungkal ke belakang kaget dengan jawaban Dan, perempuan itu sudah menolaknya kenapa Dan tidak sadar juga sih!?.


"Aku tidak membalas pernyataan perasaanmu, aku juga mengusirmu, itu artinya aku menolak. Kamu tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti ucapanku bukan." Chika berdiri tegap, ia berniat untuk tidak terjatuh lagi.


"Ayo kita pacaran lain waktu."


Gubrak!!.


Pertahanan Chika roboh, ia benar-benar terjatuh lagi.


"Berhenti membuat lelucon. Lihat, temanmu sudah berkali-kali jatuh mengenaskan." Dan dengan malas melirik Chika yang berusaha untuk berdiri.


"Lain kali aku akan menembakmu lagi, sampai jumpa Aome san."


Dan berdiri meletakan selembar uang nominal tertinggi diatas meja. Niatnya untuk membayar minumannya, minuman Chika, dan untuk mentraktir Yuki.


"Ambil kembali." Titah Yuki.


"Tidak, ini untuk membayar minumanku dan minuman Chika." Tolak Dan.


"Ambil atau aku akan menghindarimu jika kita bertemu kembali." Ancam Yuki.


Tentu saja Dan tidak ingin Yuki menghindarinya, dengan berat hati Dan mengambil uangnya kembali.


"Aku pergi, sampai jumpa." Kata Dan berjalan menjauh dengan Chika disampingnya.


Semoga itu tidak akan terjadi, batin Yuki.


"Kamu tidak apa-apa?!." Yuki mendongak ke atas, melihat Hajime yang bernafas tersengal-sengal.


"Kenapa lari-lari?." Hajime menunduk menatap Yuki mengalihkan perhatiannya dari dua orang asing yang berjalan pergi.


"Aku melihatmu di ganggu oleh dua orang itu, tapi sepertinya aku terlambat. Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?." Hajime menatap lurus manik biru yang berkilau karena tertimpa cahaya matahari musim panas.


"Tidak, sini duduk." Yuki menarik kursi yang di duduki Dan tadi.


"Apa kamu mengenal mereka?, sepertinya mereka salah satu preman di tokyo, jaket mereka menunjukan itu." Hajime duduk sembari mengatur nafasnya.


"Benarkah." Ujar Yuki tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Jika mereka datang lagi kamu harus pergi dan cari tempat yang aman." Kata Hajime penuh kekhawatiran.


"Baik." Jawab Yuki mengulurkan sapu tangan kepada Hajime. Laki-laki itu melirik tangan Yuki sebentar.


"Tidak usah, kamu lap keringatmu saja." Tolak Hajime.


"Silahkan." Pelayan datang menaruh es krim mewah yang menggugah selera, Yuki tersenyum dan berterima kasih.


"Boleh minta satu sendok lagi?." Tanya Yuki kepada pelayan.


"Baik, saya akan ambilkan."


"Terima kasih."


Yuki menaruh paksa sapu tangannya ke tangan Hajime.


"Yang lain kemana?, bukannya tadi ada di sana ya?." Yuki melirik tempat terakhir yang ia lihat sebelum Dan datang.


"Mereka ke lapangan dekat sini untuk berlatih." Jawab Hajime.


"Ada lapangan baseball di dekat sini?." Yuki tidak percaya.


"Ung."


Yuki menerima sendok yang diberikan pelayan lalu memberikannya kepada Hajime.


"Ini tidak akan habis, perutku sudah menghabiskan semua minuman di gelas." Hajime melihat gelas kosong yang memenuhi meja.


"Gigimu akan rusak jika makan makanan manis terlalu banyak." Ujar Hajime menerima sendok yang diberikan Yuki.


"Hm." Gumam Yuki acuh, ia memasukan es krim ke dalam mulut.


***


Malam hari yang ramai, Yuki berjalan menulusuri setiap toko di dalam mall. Sore tadi setelah Yuki kembali dari kegiatan klub Masamune mengajaknya untuk mencari baju musim panas, wanita itu akhir-akhir ini selalu melihat Yuki yang tidak nyaman dengan bajunya, gadis itu juga selalu bolak-balik ke kamar dan ke dapur mengambil air minum dari dalam kulkas.


"Maaf Yuki, seharusnya aku mengajakmu ke sini dua minggu yang lalu. Kamu perlu baju yang lebih sejuk." Ujar Masamune memasuki sebuah toko.


"Aku juga tidak menyangka musim panas di sini bisa sepanas ini." Balas Yuki.


"Benarkah?." Masamune sedikit terkejut.


"Ung."


"Ya sudah, kamu lihat-lihat dulu pilih yang kamu suka."


"Ung." Jawab Yuki maniknya memindai semua barang sekilas lalu ia duduk di salah satu sofa kecil yang terletak di dekat deretan baju.


Ini pertama kalinya Yuki menginjakkan kaki di dalam toko baju, ia tidak tahu harus memilih baju yang seperti apa?, kalau di pikir-pikir tidak ada baju yang Yuki suka di dalam tumpukan bajunya di indonesia, korea, bahkan di jepang, semua baju menurutnya sama, Yuki hanya mematutkan bajunya saat dia pakai, mencari yang serasi lalu menggabungkannya.


Yuki menarik nafas panjang mengingat bahwa selama ini Ronggo lah yang selalu membelanjakan baju, tas, sepatu, dan alat kosmetiknya. Yuki kecewa Ronggo lebih memilih pergi dengan iblis yang berkedok sebagai ibunya dari pada Yuki yang selalu bersama Ronggo sejak gadis itu masih kecil.


"Kenapa melamun di sini?." Yuki mendongak dan tersenyum tulus kepada Masamune membuat wanita itu membeku sesaat.


"Tidak, hanya bingung mau pilih baju yang mana?." Jawab Yuki jujur.


"Kemari, aku akan mencarikan untukmu." Masamune menarik pelan tangan Yuki.


Yuki pasrah ditarik ke sana ke sini oleh Masamune, wanita itu akan mengambil lima baju sekaligus lalu menempelkan baju itu ke tubuh Yuki, berpikir sebentar lalu mengembalikannya lagi ke tempat semula. Beberapa yang menurut Masamune cocok ia masukkan ke dalam tas belanjaan.


"Yang ini kamu pakai di dalam rumah." Kata Masamune menempelkan baju yang ia pilih ke tubuh Yuki, Yuki segera menurunkan tangan wanita itu dan berkata lirih.


"Masa san, baju ini terlalu kecil, lihat. Bahannya saja kurang." Masamune yang melihat wajah panik Yuki tersenyum kecil.


"Kan aku bilang kamu pakai di dalam rumah Yuki, tidak perlu malu denganku. Toh aku sudah melihat perut seksimu itu." Masamune membisikan kalimat terakhir di dekat telinga Yuki.


Blush.


Pipi itu merona merah, Masamune tertawa puas melihat ekspresi gadis itu.


"Masa san." Tegur Yuki.


"Hahaha, maaf. Tapi kamu membutuhkannya kan, ac di rumah masih kurang dingin untukmu."


Benar apa yang dikatakan Masamune, akhirnya Yuki menurut saja.


Masamune memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda Yuki dengan baju dan celana super mini membuat wajah Yuki berkali-kali merona.


Lucu banget sih, siapa yang tahu kalau gadis cantik, cuek, datar, dan realistis itu memiliki sisi imut seperti ini, batin Masamune.


Dari toko satu ke toko lainnya, Yuki mengangkat satu alisnya melihat Masamune yang terlihat senang memegang sebuah kain atau mungkin baju berwarna hitam dengan motif bunga lotus yang elegan, dan di tangan satunya lagi baju pink dengan motif bunga sakura yang memenuhi seluruh baju.


Indah, itu yang ada di dalam pikiran Yuki. Masamune yang melihat Yuki mengangkat satu alisnya menjelaskan baju yang ia pegang.


"Ini namanya yukata, kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (festifal) atau untuk menari pada perayaan obon (upacara perayaan tradisi di jepang). Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah." Jelas Masamune panjang lebar.


"Hm ..." Gumam Yuki.


"Kamu pilih yang mana?." Yuki melihat kedua yukata yang di pegang Masamune lalu beralih ke yukata yang menarik perhatiannya.


"Aku ingin yang itu." Masamune menoleh ke belakang mencari yukata yang Yuki maksud.


"Yuki, itu bagus sekali." Ujar Masamune mengambil yukata pilihan Yuki mengangkatnya tinggi-tinggi.


Yukata merah dan warna hitam di bagian bawahnya terlihat anggun, misterius, dan menawan. Ditambah motif bunga-bunga dan tangkai yang menjalar di sisi kiri baju.


Masamune langsung mengabaikan dua pilihan bajunya, ia memilih tas kecil merah untuk mencocokkan dengan warna yukata, bahkan sampai aksesoris pun dibabat habis oleh wanita itu.


Yuki menggelengkan kepalanya.


Apa seperti ini wanita kalau berbelanja, mengerikan, batin Yuki yang tidak ingat bahwa dirinya juga salah satu wanita di dunia ini.