
Daren membawa Yuki melewati jalan memutar penuh kerlip lampu, Yuki mendongak menatap wajah amerika ayahnya. Apa yang akan terjadi jika mereka tahu kebenaran yang Yuki simpan rapat jauh di dalam dirinya?. Daren yang merasakan atensi Yuki mengarah kepadanya melirik gadis itu.
"Ada apa?." Tanya Daren tersenyum menawan.
"Aku mirip siapa?." Tanya acak Yuki.
"Mmm?, mari kita lihat. Mendiang permaisuri, dengan mata dan hidung mirip ayah." Jawab jujur Daren.
"Bagaimana bisa?." Yuki membuang wajah ke depan.
"Kamu belum pernah melihat lukisan wajah permaisuri?." Tanya Daren.
"Memang ada?." Tanya balik Yuki.
"Hm. Di ruang musik, cobalah ke sana." Jawab Daren.
Ruang musik?, ruangan dengan alat musik koto?, batin Yuki.
"Kita sudah sampai. Kamu siap?." Daren memecah lamunan Yuki melihat dua pintu besar yang di jaga beberapa pelindung.
"Bahkan para pelindung tidak berkedip menatap putri ayah." Bisik Daren tanpa merendahkan bahunya.
Yuki tersadar dan langsung memutar bola matanya.
"Terima kasih untuk dna ayah yang membuatku kurang nyaman." Celetuk pedas Yuki.
"Hahaha, sama-sama." Daren menarik Yuki berjalan mendekati pintu. Para pelindung terkesiap membungkuk, yang lain membukakan pintu.
Lampu terang langsung menyerang kornea matanya. Seperti biasa, Yuki menyeimbangkan langkahnya dengan Daren, mengangkat sedikit dagunya agar tidak turun ke bawah, tangan yang lain ia angkat sedikit di depan perut. Suara musik berhenti kala kedua orang itu memasuki ruangan luas penuh orang.
Daren mendekati Lusi dan Hotaru yang berpasangan, wanita tua itu melingkarkan tangan di lengan cucunya.
Daren menghentikan langkah begitu juga dengan Yuki, gadis itu melepaskan tangannya dari lengan Daren, keduanya berdiri tegap lalu membungkuk dalam kepada Lusi. Yuki meletakan satu tangannya di depan dada melindungi kulit yang terekspos. Dalam hitungan tiga detik Daren dan Yuki menegakkan tubuhnya kembali.
Daren mengulurkan tangan kepada Lusi, Hotaru mengulurkan tangan kepada Yuki. Kedua wanita itu menerima uluran tangan yang di arahkan kepada mereka. Daren berdiri di ujung kanan di ikuti oleh Lusi, Yuki, dan terakhir Hotaru. Para tamu langsung membungkukan badan kala keluarga utama berdiri di hadapan mereka.
Lusi membuka suara meminta para anggota klan menegakkan tubuh mereka. Memberikan pidato sambutan kecil, tidak. Sepertinya agak lumayan panjang. Di lanjutkan oleh Daren yang membuka pesta pemilihan calon tunangan. Yuki ingin sekali memutar bola matanya namun ia tetap tenang menjaga wibawa. Oh, yang benar saja.
Kalimat terakhir Daren membuat Yuki merasa seperti barang di tempat pelelangan.
"Kalian semua berjuanglah, saya harap perjuangan kalian mendapatkan hasil yang memuaskan." Suara tawa tertahan terdengar di sana-sini. Yuki ingin mencubit ayahnya saat itu juga tapi sayang jarak mereka terhalang oleh Lusi.
"Silahkan nikmati pesta malam ini." Lanjut Daren lebih serius. Suara musik kembali mengalun.
Sentuhan halus di tangan Yuki membuat gadis itu menoleh ke samping mendapati Lusi tersenyum hangat kepadanya.
"Cucu nenek selalu cantik. Malam ini terlihat lebih dewasa." Suara Lusi begitu tenang dan menenangkan.
"Kalau boleh jujur nek, aku sudah sering berpenampilan dewasa saat bekerja dengan ayah." Balas Yuki membuat Lusi tertawa lirih.
"Sayang nenek tidak melihatnya." Balas Lusi, Yuki ikut tersenyum kecil.
"Maaf mengganggu tapi ibu, mari kita ke sana." Daren menghentikan percakapan nenek dan cucunya.
"Ayah." Tegur Yuki menatap ayahnya seakan mengatakan 'jangan tinggalkan aku'.
"Ada Hotaru, kakakmu akan menemanimu." Ucap Daren menjawab isi pikiran Yuki.
"Baiklah, nenek pergi dulu. Kalian bersenang-senang lah." Ucap Lusi melingkarkan tangannya di lengan Daren. Ibu mertua dan menantu itu menghampiri salah satu keluarga terhormat.
"Baik. Jadi, kenapa kamu diam saja sejak tadi?." Tanya Yuki menghadap saudara kembarnya yang berpenampilan sangat elegan dan menawan dengan jas lengkap sampai ke ujung kaki. Tatanan rambut bagian depan yang di biarkan ke belakang menambah kesan manly.
"Aku tidak suka gaunmu." Jawab Hotaru datar.
"Jangan salahkan adikmu ini karena nenek sendiri yang meminta seseorang merancangnya." Jawab Yuki yang baru kali ini mengakui dirinya lebih muda dari Hotaru.
"Apa tidak bisa rancangannya di buat menutupi seluruh pundakmu?. Lihat bagian belakang, terlalu rendah." Protes Hotaru.
"Apa yang akan kamu lakukan jika para pelayan jadi menggelung rambutku." Gumam Yuki yang di dengar oleh Hotaru.
"Aku akan memberikan pelajaran kepada mereka. Lihat, riasanmu kenapa seperti ini?." Yuki menghela nafas.
"Apa tidak ada lipstik lain?. Ya ampun Yuki .., apa yang harus aku lakukan?." Hotaru menghela nafas berat.
Terbersit ide jail di kepala Yuki, ia memiringkan kepalanya menatap wajah Hotaru yang tepat berada di atasnya.
"Apa sebaiknya aku meminta rancangan yang lebih terbuka?, sepertinya aku belum pernah mengekspos perutku." Celetuk Yuki mendapatkan pelototan dari Hotaru.
"Jangan coba-coba." Yuki terkikik geli sampai seseorang menghentikan momen mereka.
"Selamat malam waka, ojou sama. Maaf mengganggu anda." Yuki dan Hotaru menoleh ke depan mendapati pemuda bersurai hitam dengan poni agak panjang menutup separuh dahinya membungkuk sopan.
"Eden san, selamat malam." Jawab Hotaru.
Pemuda itu menegakkan tubuh mengulas senyum manis menunjukkan gigi gingsulnya. Yuki malah tertarik dengan gadis kecil yang bersembunyi di belakang tubuh jangkung Eden. Yuki memiringkan tubuhnya mencuri pandang kepada gadis dengan rambut dark brown itu.
"Eden." Cicit gadis kecil itu menarik jas belakang kakaknya menyembunyikan wajah bak boneka.
"Ellen, princess wants to see you. (Ellen, putri ingin melihatmu)." Ucap Eden mencoba membujuk adiknya untuk keluar dari persembunyian.
"Kenapa dia takut?." Tanya Hotaru.
"Maaf waka, Ellen sempat melihat ojou sama memberikan hukuman kepada putra dari keluarga Hoshimi san." Jawab Eden.
Yuki yang paham ketakutan gadis kecil itu segera melakukan sesuatu.
"Hai Ellen, have you seen magic? (apa kamu pernah melihat sihir?)." Tanya Yuki. Berhasil, gadis kecil itu mengintip dari balik punggung kakaknya untuk melihat Yuki.
"I can show you something beautiful (Aku bisa menunjukanmu sesuatu yang cantik)." Ucap Yuki seraya membuka tangannya lalu menggenggamnya sebentar, memberikan tiupan halus dan. Boom!. Bunga mawar kuning tiba-tiba muncul di tangannya.
Ellen terkesima melihat sihir di depannya. Mimik wajah gadis itu membuat Yuki tersenyum gemas.
"For you (Untukmu)." Yuki mengulurkan bunga mawar itu kepada Ellen. Gadis kecil itu merapatkan tubuhnya pada Eden mengintip Yuki seraya mengulurkan tangannya takut-takut. Yuki tertawa lirih saat Ellen berhasil meraih bunga mawarnya.
"Wait, there's more (Tunggu, masih ada yang lain)." Ucap Yuki tiba-tiba menjentikkan jarinya di depan satu mata yang mengintip itu.
Cetik!.
Boom!.
Sebuah permen coklat muncul di tangan Yuki.
Ellen terkesiap bibir tipis itu tersenyum lebar, tangannya menarik-narik jas belakang Eden.
"You want to try it? (Kamu ingin mencobanya?)." Tanya Yuki menghentikan tarikan Ellen di jas Eden.
Yuki menutup kembali tangannya yang berisi permen.
"Try blowing (Coba kamu tiup)." Yuki melirik tangannya yang tergenggam seraya tersenyum lembut.
Ellen dengan takut-takut mengeluarkan wajahnya dari tempat persembunyian mendekatkan bibir tipis itu ke tangan Yuki.
"Huuuuffff ..." Yuki tersenyum senang melihat Ellen meniup tangannya. Perlahan Yuki membuka satu persatu jarinya.
Hilang!. Permen di dalam tangannya tiba-tiba hilang. Wajah Ellen kembali takjub, bibirnya membentuk huruf O. Yuki mengulum senyum menahan rasa gemasnya.
"Where did the candy go? (Kemana permennya pergi?)." Tanya Yuki.
"A!, what's this? (apa ini?)." Yuki mengambil sesuatu dari belakang telinga Ellen mengejutkan gadis itu.
"Here ... (Di sini ...)." Ucap Yuki riang. Suara tawa Ellen akhirnya pecah, dengan mata yang berbinar tangannya menerima permen itu. Melirik malu-malu kepada Yuki.
"Thank you ..." Ucapnya lirih.
"Just for you princess." Balas Yuki tersenyum manis. Ia menegakkan tubuhnya. Ellen meraih tangan Eden berdiri di samping kakaknya.
"Ojou sama anda sangat hebat." Komentar Eden.
"Bagaimana kamu melakukannya?." Tanya Hotaru.
"Rahasia pesulap." Jawab Yuki.
"Saya belum memperkenalkan diri dengan benar. Saya putra sulung dari keluarga Fujita dari new york, Fujita Eden. Sebuah kehormatan, saya dapat bertemu dengan anda." Eden membungkuk sopan.
Yuki balas membungkuk sopan.
"Maafkan ketidak sopanan saya kemarin yang tidak sempat menyapa anda Fujita san. Senang bertemu dengan keluarga terhormat dari new york." Balas Yuki.
Ellen tiba-tiba ikut membungkuk kepada Yuki.
"Sorry, I can't speak Japanese. I'm Fujita Ellen sister of Edden. (Maaf, saya tidak bisa berbahasa Jepang. Saya Fujita Ellen adik dari Edden.)." Yuki tersenyum hendak membalas perkenalan Ellen namun suara kecil yang menyerbu ke arahnya membuat Yuki menoleh ke asal suara.
"Onee chaaann ...!"
"Waaaahhh ...!!!, onee chan sangat cantik!. Bulu matanya tebal, Ai selalu menyukai mata biru onee chan!." Riang gadis cilik itu membuat Ellen terkesiap mendekat semakin erat kepada kakaknya.
"Ai!, tidak sopan." Tegur seorang wanita.
"Ai boleh mencium pipi onee chan tidak?." Bukannya menjawab anak itu malah mengabaikan ibunya.
"Ung." Gadis itu tersenyum senang lalu mendaratkan kecupannya di pipi Yuki.
"Ai ..." Panggilan lembut dengan nada teguran itu langsung membuat Ai turun dari gendongan Yuki.
Fumio berjalan mendekati adiknya. Bocah cilik itu langsung merapikan gaun pink manisnya dan membungkuk sopan kepada Yuki.
"Maafkan saya ojou sama. Ojou sama sangat cantik malam ini." Ucap Ai memamerkan gigi-gigi kecilnya.
"Pfftt." Yuki langsung menutup mulutnya yang hampir tertawa.
Ya ampuuun, lucu sekali, batin Yuki tangannya gatal ingin mencubit pipi Ai.
"Terima kasih untuk pujian anda hime chan, anda juga sangat menawan malam ini." Balas Yuki membungkuk sopan.
"Maafkan putri saya ojou sama. Senang melihat anda malam ini." Ibu Ai memberikan sapaan hangat kepada Yuki, gadis itu membungkuk lebih dalam.
"Tidak apa-apa Kimura san saya tidak keberatan. Terima kasih sudah mau datang ke pesta sederhana ini." Eiko menyembunyikan senyum sedihnya dibalik senyum ramah dan cerah miliknya.
"Waah, bunga yang bagus. Boleh aku melihatnya?." Mereka semua melirik Ai yang menyerbu Ellen yang lebih tinggi darinya.
Ellen mencoba bersembunyi kepada Eden namun Ai terus mengejarnya. Yuki tertawa dalam hati, keduanya mirip sekali seperti Natsume dan dirinya.
"Kenapa kamu diam saja?." Tanya Ai kembali mendekati Ellen.
"Sorry, I don't know what are you saying (Maaf, aku tidak tahu apa yang kamu katakan)." Cicit Ellen.
Ai terdiam mengedipkan matanya beberapa kali.
Yuki yang tidak bisa menahan rasa gemasnya meraih tangan Hotaru meremasnya kuat-kuat.
"Want to eat chocolate over there? (Mau makan coklat di sebelah sana tidak?)." Ai menunjuk salah satu tempat.
Yuki terkejut, Ai bisa berbicara bahasa inggris dengan lancar. Ellen menganggukkan kepalanya pelan, melirik kakaknya yang tersenyum memberinya izin. Kedua bocah cilik itu bergandengan tangan menuju meja penuh kue dan coklat.
"Waka, ojou sama, saya permisi." Eiko membungkuk sekilas lalu mengejar putrinya begitu juga Eden.
"Hotaru, haruskah aku meminta ayah menikah lagi?." Celetuk Yuki mengejutkan Hotaru.
"Untuk apa?." Srobot Hotaru.
"Biar punya adik lucu seperti mereka." Jawab Yuki membuat Hotaru bergeming sejenak.
"Kenapa tidak anak sendiri?, ini kan kamu sedang mencari calon ayah dari anakmu nanti." Jawaban Hotaru gantian membuat Yuki bergeming menatap tidak percaya saudara kembarannya.
"Ngaco. Tapi kamu benar, aku akan kabur di waktu yang tepat nanti." Ucap Yuki yang baru menyusun ide pelariannya.
"Dengan senang hati saya akan menangkap anda ojou sama." Yuki menoleh cepat ke asal suara.
Sial, aku melupakan kalau dia masih di sini, gerutu Yuki dalam hati.
"Jangan bercanda dengan saya Fumio san. Anda tidak akan mampu." Balas Yuki tajam.
Hotaru yang sempat was-was Yuki akan sedih lagi saat bertemu Fumio malah ini yang ia dapat.
"Anda," kalimat Fumio di potong oleh kedatangan gadis berambut pirang panjang.
"Selamat malam ojou sama. Anda sangat cantik malam ini." Yuki meliriknya sebentar tanpa membalas sapaan sopan gadis itu.
"Saya putri ketiga keluarga Kumori dari prancis, Kumori Clara. Senang bertemu dengan anda." Yuki menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Gadis itu melirik Hotaru memberikan salam dan beberapa kata pujian. Mereka terlibat percakapan sebentar lalu Hotaru mengulurkan tangannya kepada Clara yang di sambut hangat oleh gadis itu. Mereka berjalan menjauhi Yuki membuat gadis itu menahan kesal.
"Ojou sama anda,"
"Diam." Srobot Yuki. Tersadar akan sikapnya Yuki menoleh mendongak untuk melihat ekspresi orang yang sempat ia bentak.
"Maafkan saya. Saya tidak sengaja." Ucap Yuki yang langsung terdiam mendapati senyum khas pemuda itu dengan tatapan hangat yang tak asing.
"Anda tidak menyukai Clara san, ojou sama." Yuki membuang wajah ke depan menatap para lautan tamu yang sibuk dengan obrolan masing-masing.
Hening.
Yuki tidak menjawab, membiarkan alunan musik lembut mengisi kekosongan mereka.
"Yuu." Panggilan itu membuat Yuki merinding.
"Mau berdansa denganku?." Yuki menghela nafas sebentar.
"Fumio san, beberapa wanita di sebelah sana sepertinya sedang menunggu bertukar sapa denganmu." Yuki mengalihkan perhatian Fumio.
"Saya akan pergi menyapa Lusi sama dan Daren dono, tapi sebelum itu saya meminta maaf atas kelancangan saya." Yuki menaikan satu alis tanpa menoleh kepada Fumio.
Pertanyaan Yuki terjawab dengan kedua tangan Fumio yang menyisir rambut Yuki menariknya ke depan pundak.
"Seperti ini lebih baik, aku tipe laki-laki yang tidak suka berbagi Yuu." Lirih Fumio tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan patung boneka bermanik biru itu.
Apa katanya?, berbagi?. Sudah gi, Yuki menghentikan geramannya di dalam hati mengingat fakta yang ia ingat beberapa jam yang lalu.
"Ojou sama, apa saya mengganggu pikiran anda?." Yuki melirik orang yang menegurnya.
"Tidak Morioka san. Apa anda menikmati pestanya?." Tanya Yuki. Morioka memberikan Yuki segelas jus jeruk karena usia mereka yang masih di bawah umur.
Mereka pun saling melempar pertanyaan sebagai sopan santun pada awalnya yang berubah menjadi sebuah percakapan. Sesekali Yuki menganggukkan kepala, menggelengkannya, tersenyum kecil. Hal itu tertangkap oleh manik Hotaru.
"Clara san, mau berdansa dengan saya?." Ajak Hotaru.
"Sebuah kehormatan waka, saya tidak mungkin menolaknya." Jawab Clara.
Hotaru menuntun Clara bergabung ke dalam lantai dansa dengan para pasangan yang lain.
Di sisi yang lain, setelah berbicara dengan Morioka Yuki mendapatkan sapaan dan perkenalan dari putra keluarga terhormat yang lain. Dengan sabar dan telaten Yuki menghadapi mereka, melawan kebosanannya.
Yuki bukan kesal melihat Hotaru dengan perempuan lain, gadis itu kesal karena dari banyaknya perempuan cantik yang hadir di pesta kenapa harus Clara gadis pirang panjang yang berdansa dengan saudara kembarnya.
Yuki berjalan mendekati meja penuh makanan. Mencicipi beberap kue di sana. Ia kembali bertemu dengan putra keluarga terhormat yang lain. Gadis itu juga selalu menolak ajakan berdansa dari siapa pun. Hingga laki-laki pirang yang Yuki tahu adalah adik dari Kumori Zizi kekasih Jack dan kakak dari Kumori Clara menghampirinya. Kumori Sam.
Laki-laki itu mengutarakan permintaan maaf atas sikap kakak perempuannya. Meminta Yuki juga untuk tidak membenci keluarganya. Yuki menanggapinya dengan profesional. Selain itu Yuki juga tidak ingin terlalu memikirkan masalah itu.
Yuki berjalan menghampiri Daren yang tengah asik membicarakan pekerjaan dengan beberapa orang di sana.
"Selamat malam ojou sama. Anda sangat cantik." Puji salah satu kepala keluarga terhormat yang melihat ke datangan Yuki. Daren menoleh kepada putrinya.
"Terima kasih." Balas Yuki.
"Eiji kun, bisa tolong ajak Yuki berdansa sebentar?. Aku akan mencari ibu, beliau pamit ke toilet sejak tadi tapi belum juga kembali." Pinta Daren dan mendapatkan tatapan datar dari putrinya yang hendak mengajaknya bicara.
Sial, kenapa dia ada di sini?, geram Yuki dalam hati.
"Baik Daren dono." Ucap Fumio menghampiri Yuki mengulurkan tangannya.
"Yuki, berdansalah dengan Eiji kun sampai ayah datang." Tegas Daren berjalan pergi dari tempat itu.
Yuki yang tidak mungkin menolak Fumio di hadapan kumpulan kepala keluarga terhormat pun akhirnya menerima uluran tangan itu.
Fumio membawanya ke tengah lantai dansa. Pemuda itu meminta izin akan menyentuh Yuki yang tidak di jawab oleh gadis itu. Fumio dengan sabarnya meraih tangan Yuki meletakkannya di kedua pundak sedangkan ia meletakan tangannya mengambang di pinggang gadis itu.
"Gerakkan kakimu Yuu." Yuki membuka kecil kakinya melangkah ke samping kanan lalu ke samping kiri.
Fumio menahan senyum menatap pucuk kepala Yuki yang tidak menunduk atau pun mendongak untuk menatap wajahnya.
Musik mengalun lebih lembut, lampu-lampu juga di buat redup. Entah apa yang di letakan di gaun Yuki, saat lampu redup muncul lah warna biru air laut di bagian belakang gaun.
"Yuu." Suara itu kembali menerobos telinga Yuki.
"Aku tahu kamu menyadari sesuatu tentang kita." Lirih Fumio.
"Apa itu membuatmu malah semakin kesakitan?." Yuki bungkam. Rasanya Fumio ingin langsung menangkup pinggang Yuki menariknya ke dalam pelukkan, menumpahkan segala rasa rindu miliknya.
"Aku akan memenangkan pemilihan ini. Jangan menghindariku agar aku gagal, biarkan pemilihan terjadi dengan semestinya. Jika aku berhasil berakhir menjadi pemenang, kamu boleh menghindariku lagi. Melakukan apa pun yang kamu inginkan." Fumio menundukkan kepalanya di atas kepala Yuki. Badan mereka masih bergerak mengikuti alunan musik.
"Aku akan tetap menunggumu. Sampai kamu melihatku lagi. Tapi aku juga tidak membiarkan laki-laki lain menyingkirkanku. Bahkan mahasiswa tokyo itu sekali pun, Yuu" Ucap Fumio.
"Dulu, sekarang, dan yang akan datang. Aku akan selalu memperjuangkanmu."