
Sebelum semua orang bangun, Yuki sudah berjalan ke bangunan di samping bangunan kamarnya. Menyebrangi sungai yang berakhir di danau samping kamar. Melewati jembatan berwarna merah terang.
Yuki menyempatkan untuk berhenti, menatap ke arah danau lalu teras samping kamarnya. Langit yang masih gelap dan embun pagi menutupi sebagian kecil jalan.
Ia pernah melihat jembatan dan sungai dangkal ini. Ingatan empat anak kecil dan satu remaja laki-laki berdiri tidak jauh dari pinggir sungai. Kenangan masa kecilnya yang kabur. Kaki itu kembali melangkah mendekati bangunan megah, memiliki banyak ukiran aneh.
Yuki menaiki tangga kayu menuju teras bangunan. Tangannya meraba pintu mengamati, perasaan rindu yang menggelitik membuat Yuki segera mendorong pintu tak terkunci itu.
Wangi khas nenek buyut dan aroma kuat dari tubuh kakek buyutnya melemaskan sepasang kaki ramping Yuki.
Maniknya bergerak menyapu seluruh ruangan itu. Ruangan yang penuh alat musik koto. Lukisan-lukisan pendahulunya tergantung rapi, berurutan. Yuki menghampiri lukisan tertinggi. Maniknya tak berkedip menatap lukisan permaisuri kaisar. Kemudian ia beralih ke lukisan selanjutnya. Lukisan selir kaisar.
Lukisan permaisuri sangat memukau, beliau sangat cantik dengan rambut hitam super panjangnya yang hampir menyentuh lutut. Bibir menawan dan kulit seputih salju. Namun lukisan selir kaisar juga tidak kalah cantiknya. Wajah manis, bentuk mata yang lembut dan lesung pipi di kedua sisi.
Yuki beralih menatap lukisan kaisar. Garis tegas, mata sipit. Keras, tanpa rasa takut. Sangat gagah. Yuki mengambil tiga langkah mundur menatap lukisan kakek dan nenek buyutnya. Tangan Yuki terulur hendak menyentuh lukisan wajah Yuri namun terhenti, ia menangkap lukisan kakeknya di samping lukisan Yuri. Lalu lukisan Lusi, iblis itu, Daren, dan Hotaru.
Apa maksudnya ini?, batin Yuki menjauhkan tangannya.
Apa hanya sang pewaris dan pasangannya yang boleh di lukis?, lanjut Yuki dalam hati.
Gadis itu menarik nafas panjang menjernihkan pikiran. Terlalu banyak teka-teki yang datang susul menyusul, ia harus tenang menghadapinya. Yuki memilih berjalan ke pintu samping, melewati sisi luar ruang musik.
Jalan itu membawanya kepada taman bunga yang mengelilingi pohon-pohon sakura. Ada berderet-deret pohon sakura di halaman.
Teras berubah lebih luas dari yang sebelumnya, Yuki ingat tempat ini. Ia sudah sampai di kamar tetua klan. Yuki mendekati pintu menggesernya perlahan. Gadis itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Sreeeettt ...
Bibir Yuki tersenyum manis, ia merindukan suasana kamar megah ini, aroma kamar, nuansa kamar. Kakinya melangkah memasuki lantai kayu yang mengkilap bagai lantai marmer. Gorden-gorden tipis berwarna merah menggelantung sebagai pembatas meja bundar dengan ranjang di depan sana.
Yuki terus masuk hingga menemukan harpa berwarna emas yang tergeletak di atas nakas panjang di sisi kiri tempat tidur mewah itu. Yuki mengambil harpa, membawanya ke teras samping, duduk di sana.
Danau kecil memiliki air terjun buatan di samping kamar, bebatuan unik mengkilap mengitari pinggiran danau, terdapat dua pohon sakura berdaun hijau di sana. Yuki tersenyum lembut, ia mengenang kenangannya saat menghabiskan waktu di bangunan itu.
Yuki membenarkan posisi harpa menempel di depan tulang keringnya yang tertekuk menyamping. Ia menarik nafas panjang dan perlahan menikmati udara pagi yang mulai beranjak terang. Jari-jarinya terangkat anggun, lengannya sudah memeluk harpa dengan lembut. Yuki menutup matanya mengingat melodi yang dulu sering ia dengar.
Satu petikan dari jari telunjuk lentik itu melanjutkan petikan yang lain. Keindahan melodi yang berbaur dengan suara alam.
Seperti sebuah lonceng pagi menggema menyebar ke mana pun yang dapat di jangkau. Gadis itu tidak tahu apa yang ia lakukan telah membuat seluruh penghuni kediaman utama menangis, menumpahkan rasa rindu mereka.
Burung-burung sedikit demi sedikit hinggap di dahan-dahan pohon sakura, menikmati alunan yang lembut dan menyentuh bak melodi dari langit. Dua burung dengan jenis yang berbeda hinggap di teras memiringkan kepala menatap alat musik itu.
Yuki merasa sangat damai, nyaman, tenang. Suasana sejuk namun penuh kehangatan penghuninya. Yuki sangat menyukai tempat dimana ia di lahirkan. Ya, ia merasa seperti itu sekarang. Mungkin karena dulu ia merasakan kebahagiaan di setiap harinya, alam bawah sadarnya seakan ingin menyampaikan itu.
Ke sepuluh jarinya menari lembut menghayati setiap petikan.
Di dalam kamar bernuansa misterius dan romantis, dinding paletnya yang berwarna netral di dominasi dengan warna coklat dan sentuhan warna hitam membuat semakin manly tanpa meninggalkan kesan pertama, elegan.
Penghuninya sedang menikmati mimpi yang sangat indah. Ia tidak ingin terbangun sekarang. Ia merindukan suara merdu yang turun dari khayangan. Isakkan dari luar kamar membangunkan mimpi indahnya dalam sekejap.
"Apa maksudnya?." Gumam Hotaru berusaha mengumpulkan nyawa.
Musik itu tidak berhenti meski ia sudah terbangun. Seketika itu juga kesadaran menghantam dirinya. Ia menyibakkan selimut berlari keluar kamar. Matanya menangkap dua pelayan Yuki yang berdiri di depan kamarnya menangis terduduk. Hotaru tidak menghiraukannya ia berlari melewati lorong kamar.
Banyak pelindung dan pelayan yang Hotaru temui sedang tersenyum dengan air mata di wajah mereka. Ia berlari melewati jembatan, menerobos ruang musik, langsung menuju jalan di samping ruangan itu.
Hotaru berhenti mendadak, ia menarik nafas perlahan menenangkan diri. Melihat dua daun pintu kamar terbuka lebar tidak salah lagi Yuki pastilah pelakunya. Ia berjalan pelan tanpa menimbulkan suara memasuki kamar, bergerak ke teras samping.
Cantik, indah, sangat mirip dengan nenek Yuri. Keanggunannya, senyuman manisnya, mata yang berkilat indah kala memainkan alat musik. Hotaru menekuk lutut duduk di belakang tubuh itu, melingkarkan tangan di sekeliling perut adiknya.
Grep.
Hotaru tidak merasakan keterkejutan dari Yuki, ia meletakan dagunya di atas pundak saudari kembarnya.
"Masih ngantuk?." Tanyanya.
"Hm." Gumam Hotaru menikmati alunan harpa. Ia bergerak melepas pelukkan beralih ke samping, meletakan kepalanya di atas kaki Yuki. Matanya kembali terpejam.
Lima belas menit Yuki memainkan harpa, ia memindahkan tangan kirinya dari senar ke atas kepala Hotaru. Menyisir pelan helaian rambut laki-laki yang memiliki separuh bagian dari dirinya.
"Apa kamu tidak akan terlambat?." Tanya Yuki.
"Sebentar lagi." Jawab Hotaru.
"Apa kamu bisa membaca ukiran-ukiran di depan bangunan ini?." Tanya Yuki lagi.
"Hm." Yuki melirik wajah Hotaru yang khas orang bangun tidur.
"Ayo bersiap, sebentar lagi sarapan, jadwalmu hari ini sangat sibuk bukan." Ucap Yuki mengecup dahi Hotaru.
"Apa yang akan kamu lakukan hari ini?." Tanya Hotaru.
"Mengunjungi Agung." Hotaru membuka matanya perlahan.
"Kalian jadi dekat sekarang." Ujar Hotaru beranjak duduk.
"Ya, kemampuannya harus kita manfaatkan sebaik mungkin." Hotaru mengacak-acak rambut Yuki seraya tersenyum gemas.
"Aku harap kita saling melindungi, dan aku bisa menjadi seseorang yang kamu andalkan lagi." Lirih Hotaru membuat Yuki bergeming menatap manik coklat terang itu.
"Hotaru." Panggil Yuki meraih kedua tangan saudara kembarnya, menggenggam lembut.
"Apa?." Mereka saling mengunci manik satu sama lain.
"Aku akan sedikit jujur padamu."
"Hm?." Hotaru menunggu kalimat selanjutnya.
"Aku tahu kamu menahan kemampuanmu karena kesalahan yang telah aku lakukan, kamu selalu menyembunyikannya. Menjadi yang lahir lebih dulu bukan berarti kamu menanggung semuanya sendiri. Kita sama. Kamu dan aku, kita adalah sepasang pedang. Bukan pedang dengan perisai. Kamu bukan perisaiku." Ucap Yuki panjang.
Hotaru trenyuh dengan ungkapan Yuki, ia yang selama ini selalu berpikiran untuk melindungi saudarinya apa pun yang terjadi, menjadi yang berdiri paling depan jika adiknya melakukan kesalahan kini adiknya menyuarakan keinginannya, kalau mereka sama. Seperti harapan yang ia katakan tadi, saling melindungi, dan akan berdiri di garis tempur yang sama.
"Terima kasih, kita akan mencobanya bersama." Hotaru menarik tangan Yuki untuk berdiri.
"Tidak sembarangan orang boleh masuk ke bangunan ini. Kamu menyelinap diam-diam." Ujar Hotaru mengambil harpa meletakkannya di tempat semula.
"Sepertinya aku masuk ke dalam pengecualian." Jawab Yuki.
***
Menjadi orang lain, berkamuflase, membutuhkan biaya lumayan besar. Dari kanada terbang ke spanyol. Untuk melihat orang-orang kaya jalur haram, anehnya mereka sangat bangga dengan apa yang mereka miliki.
Dan lihat apa yang Akashi temukan, mayat seorang pria tanpa jari. Akashi melewati mayat itu berjalan masuk lebih dalam ke lorong bawah tanah.
Gelap.
Tidak ada cahaya. Untunglah ia sudah di latih bergerak dalam kegelapan penuh. Rupanya latihan menyakitkannya dulu sangat berguna hari ini. Akashi tiba-tiba langsung menempel di dinding, sekelebat cahaya berjalan di belokan lorong.
Wooooozzzhhh.
Kakinya seakan tidak menyentuh lantai dingin. Ia mengejar cahaya tadi dalam kegelapan, menjaga agar tidak ada yang melihatnya.
Akashi berhenti kala sebuah cahaya terang memberikannya batas. Telinganya mendengar jerit tersiksa dari ujung lorong. Ia mengambil dua langkah mundur, menyandarkan punggungnya ke dinding. Akashi bukan seorang pahlawan, ia tidak berkeharusan menolong orang-orang di ujung lorong.
Pagi dini hari, pesan dari ojou sama memerintahkannya untuk segera terbang ke sini. Memburu satu anggota klan naga putih. Hanya satu, dan binasahkan yang lain.
Baru saja di pikirkan, cahaya senter menyorot keluar dari lorong. Akashi mengeluarkan bola hitam yang lebih kecil dua kali lipat dari bola ping pong. Ia menunggu hingga mangsanya mendekat.
Sepuluh detik kemudian maniknya menangkap tujuh orang berpakaian serba hitam, ia mengunci salah satunya. Dengan seringaian lebar Akashi melempar bola hitam itu.
Ding. Ding. Ding. Ding. Ding.
"Suara apa itu?." Tanya salah satu dari mereka. Merasa sudah menghabisi semua penduduk markas ini membuat mereka lengah akan bahaya.
Sebelum sempat melihat benda yang menggelinding di antara kaki mereka benda itu meledak mengeluarkan kepulan asap hitam pekat, yang bahkan menyerap cahaya dari senter mereka.
"Brengs*k!. Waspada!. Ada baj*ngan lain di sini!." Jerit orang yang tadi bertanya.
"Aghk!." BRUK.
"OGHK!." BRUK.
"Siaghhkk!." BRUK.
BRUK. BRUK. BRUK!.
Sret!.
Satu orang tersisa. Tidak bisa berkutik atau pisau tajam mengkilat itu mengiris lehernya. Bahkan kedua tangannya sudah terkunci ke belakang.
"Apa maumu?." Akashi menyeringai santai.
"Mauku kau diam." Setelah menjawab Akashi menusuk leher orang itu dengan jarum panjang khusus.
BRUK!.
"Mudah." Komentar Akashi menaruh tubuh itu di pundaknya.
Akashi berjalan santai seraya menjatuhkan kotak persegi panjang yang menyala merah dan berkedip-kedip.
Ojou sama memang yang terbaik dari yang terbaik. Dengan ini jika mereka di temukan pun tidak akan ada yang bisa mengenali wajah mereka, batin Akashi senang.
Langkahnya tetap santai meski ia baru saja meninggalkan bom.
***
"Apa yang kamu temukan?."
"Pembicaraan rencana-rencana sadis yang tidak berperikemanusiaan." Yuki melirik komputer Agung.
"Siapa kalian sebenarnya?. Kenapa mencari urusan dengan para mafia?. Jangan-jangan?!." Yuki melirik Agung yang menatap serius dirinya.
"Apa?."
"Kalian terlilit hutang dengan para mafia itu, lalu mereka meminta kamu sebagai bayarannya. Karena itu nenek Lusi berusaha menjagamu, karena nenek tidak sudi memberikan cucunya sebagai tumbal demi melunasi hutang." Agung menjelaskannya dengan sangat berapi-api.
Yuki tanpa berekspresi memalingkan wajahnya menatap layar komputer.
"Tebakanku benar kan." Ucap Agung penuh kebanggaan.
"Putarkan percakapan mereka." Pinta Yuki menghiraukan pria itu.
"Dengar ini." Kata Agung.
Entah sejak kapan Agung sudah tidak memakai gaya bahasa gue, lo.
***
Yuki berjalan tergesa-gesa menuju padang rumput di bangunan paling belakang kediaman utama. Ia juga menghiraukan sapaan para pelindung dan pelayan yang ia jumpai.
Sekelebat bayangan tiga paragraf yang pernah ia baca di salah satu buku perpustakaan kediaman utama muncul di dalam kepalanya. Tentang siulan bernada yang memiliki arti panggilan kepada hewan peliharaan mereka.
"Sshhhhuuuuu ... SHUUU ... Sshhhuuuuu \~ …"
Yuki tetap berlari hingga dari arah berlawanan terdengar derap kaki kuda. Ia melihat gumpalan besar warna putih melayang cepat ke arahnya.
Buku itu bukan hanya berisi mitos belaka, batin Yuki yang merasa berhasil.
Keduanya berhenti tepat di jarak dua meter, Yuki mengatur nafasnya sedangkan kuda putih itu mengangkat kedua kaki depan sambil meringkik keras menyambut Yuki.
"Kita pergi sekarang." Ucap Yuki. Kuda itu berhenti meringkik menatap manik biru itu lalu bergerak menyamping menunggu Yuki untuk menaikinya.
Yuki sedikit mundur lalu melompat tinggi hingga berhasil duduk di punggung kuda miliknya.
"Jangan buang waktu lagi, ayo." Kata Yuki mengusap lembut leher kuda lalu menghentakkan kedua kakinya.
Kuda itu kembali meringkik sebelum mengayuh ke empat kakinya. Yuki memegang pangkal leher kuda, kuda itu yang tidak pernah mau di pakaikan peralatan apa pun membuat Yuki berhati-hati menungganginya.
Yuki mengangkat satu tangannya di sepanjang perjalanan, isyarat agar tidak ada yang mengikutinya. Akashi sudah berhasil menangkap buruan Yuki, ia beralih strategi kala menemukan villa terbengkalai itu.
Kuda terus berlari keluar dari pintu depan kediaman utama. Yuki tidak akan melewati hutan di belakang padang rumput. Ia akan mengambil jalan memutar.
Gadis bermanik biru itu tidak akan memakai mobil, jika ia menggunakan roda empat itu, kemungkinan besar Hotaru akan heboh karena Yuki pergi mendadak tanpa ada satu orang pun yang mengetahui tujuannya. Mungkin Lusi juga berpikir ia kabur dari percalonan yang secara tersirat juga sebagai perjodohan. Jika ia memakai kuda, mereka akan berpikir Yuki tidak akan pergi jauh.
Yuki memelankan kecepatan kuda kala berpapasan dengan pejalan kaki lalu ia kembali memacu kudanya.
Setelah perjalanan cukup panjang Yuki berhenti di depan anak tangga yang menjulang tinggi. Untunglah salah satu biksu cilik sedang membersihkan tempat di sekitarnya jadi Yuki meminta biksu cilik itu untuk mengurus kuda sampai ia kembali.
Kaki jenjangnya langsung menaiki anak tangga dua sekaligus. Berlari menuju kuil di atas sana.
"Ojou sama. Selamat datang." Dua biksu penjaga gerbang kuil membungkuk dalam kala melihat kedatangan Yuki.
"Terima kasih." Ucap Yuki berjalan melewati mereka.
Biksu-biksu cilik langsung berkerumun menatap Yuki dari kejauhan. Gadis itu berjalan terus melewati gerbang ke dua menuju makam.
Ia terus melewati deretan makam-makam dan berhenti di depan makam teratas, menghela nafas sejenak. Benar dugaannya, makam selir kaisar tidak ada di sana.
"Ojou sama." Yuki menatap kedua makam di hadapannya.
"Bagaimana keadaan kalian?." Tanya Yuki membalikan badan. Chibi, Jojo, Ame, dan kakek Ryuu membungkuk hormat.
"Kami baik-baik saja ojou sama." Jawab mereka.
Yuki mengulurkan tangan kepada Chibi.
"Ojou sama, maaf?." Tanya pria itu.
"Mendekatlah. Letakan tanganmu di sana." Titah Yuki.
Chibi membungkuk sekilas lalu melangkah mendekati Yuki, meletakan tangannya dengan ragu di atas tangan gadis itu tanpa berani menyentuhnya.
Yuki langsung meraih pergelangan tangan Chibi, membalik, dan mencari nadi pria itu.
"Maaf, aku butuh waktu sebentar." Ucap Yuki melirik ketiga bayangan yang lain lalu kembali kepada Chibi.
"Silahkan ojou sama."
Yuki meletakan telunjuk di bawah hidung, menarik nafas panjang, menghembuskannya seraya menutup mata.
Hening.
Kesiur angin menerpa mereka bahkan suara serangga menyelimuti keheningan itu. Beberapa menit kemudian Yuki membuka matanya, melepaskan kedua tangan, menariknya kembali.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Ujar Yuki menatap Chibi yang lebih pendek darinya.
"Terima kasih sudah bertahan." Ucap Yuki tulus. Chibi langsung membungkuk lagi.
"Tidak ojou sama, ini berkat anda." Balas Chibi. Yuki tersenyum lega lalu membuang wajahnya menatap ke atap-atap rumah di bawah sana yang terlihat dari tempatnya berdiri.
"Akashi san sedang pergi ke tempat Hiza san bersama salah satu anggota penting klan naga putih." Ucap Yuki.
Ke empat bayangan berbaris di depan Yuki saling berhadapan. Tidak ada yang melirik ke arah gadis itu, menunggu kelanjutan informasi atau perintah yang akan mereka dapatkan.
"Lusa, aku akan menyusul mereka. Kakek Ryuu, aku ingin anda bersamaku." Kakek Ryuu membungkuk sekilas.
"Sebuah kehormatan bagi saya." Jawab kakek Ryuu.
"Kita bertemu di bandara tujuan. Penyamaran dengan kode 'Q' bergerak ke pintu barat." Lanjut Yuki.
"Dimengerti ojou sama." Yuki beralih kepada yang lain.
"Aku mengambil alih kasus ini di kediaman utama. Mereka tidak akan bergerak tanpa perintahku." Yuki berhenti sejenak.
"Kalian tidak bisa bertarung bersama mereka bukan. Aku juga tidak bisa memberikan tugas penting ini kepada para pelindung. Maaf menempatkan kalian di tempat yang berbahaya." Para bayangan menoleh kepada Yuki membungkuk empat puluh derajat.
"Kami merasa senang anda mempercayakan tugas penting ini kepada kami, ojou sama." Ucap kakek Ryuu mewakili yang lain.
"Terima kasih. Dan untuk kalian bertiga, pergilah ke negara bhutan. Jadilah wisatawan di sana. Aku yakin BD menyembunyikan sesuatu di negara itu. Lindungi ayah. Lusa, dia juga akan berada di sana." Jelas Yuki.
"Baik, ojou sama." Jawab ke tiganya.
"Saya dengar, sedang ada pemilihan calon tunangan di kediaman utama ojou sama." Yuki melirik kakek Ryuu. Ya, tidak ada yang berani menyinggung hal sensitif kepada Yuki kecuali kakek Ryuu, Mizutani, dan Dazai.
"Aku tidak mengerti kenapa itu harus. Meski nenek sudah menjelaskan, tapi itu masih tidak bisa di terima dengan akal sehat." Balas Yuki. Kakek Ryuu tersenyum.
"Jika tidak ada yang menarik perhatian anda bolehkah saya memberikan saran?." Tanya kakek Ryuu.
"Tentu saja." Jawab Yuki.
"Pilihlah Fumio san." Gadis itu sontak mengangkat satu alis.
"Beliau adalah pejuang yang sangat hebat. Tuan besar sangat menghormati mendiang ayahnya, tuan besar juga sangat senang dengan pilihan tetua. Selain itu, Fumio san sudah lolos dari ujian tetua Yuri sama." Jelas kakek Ryuu.
"Kenapa kamu menyarankan dia kakek Ryuu?." Tanya Yuki datar, hembusan angin menerpa mereka menimbulkan keheningan sejenak.
"Tidak ada laki-laki lain yang pantas bersanding dengan pemimpin kami yang hebat, selain laki-laki yang hebat pula. Saya adalah saksi dari proses ujian yang tetua Yuri sama berikan kepada Fumio san." Jawab kakek Ryuu.
"Terima kasih untuk saranmu. Aku ingin menanyakan sesuatu." Balas Yuki.
"Silahkan ojou sama."
"Kenapa makam selir tidak ada di sini?." Pertanyaan Yuki membuat yang lain melirik ke arah makam di belakang tubuh gadis itu.
"Ojou sama, di banyak negara, yang bersanding dengan raja atau kaisar pastilah sang permaisuri. Para selir tidak memiliki kursi di samping raja, mereka akan duduk agak di belakang atau di bawah." Jawaban kakek Ryuu membuat Yuki membalikan badan, memutari makam kaisar.
Ini aneh, batin Yuki.
Gadis itu melihat satu makam agak di bawah, dengan taman kecil yang mengitarinya. Makam itu tidak jauh berbeda indahnya dengan makam kaisar dan permaisuri.
"Kenapa di sana?." Tanya Yuki.
"Menurut cerita. Selir sendiri yang memilih tempat peristirahatan terakhir beliau." Jawab kakek Ryuu. Yuki langsung menatap kakek tua itu.
"Seberapa banyak cerita tentang selir yang kakek Ryuu tahu?." Srobot Yuki mengejutkan para bayangan.
"Apa ada sesuatu dengan mendiang selir, ojou sama?." Tanya Ame.
"Tentu. Melingkarlah sekarang." Setelah titah dari Yuki terucap mereka berempat membentuk lingkaran rapat, seakan menyembunyikan sesuatu. Yuki membuka tangannya mengeluarkan Je.
"Je, tunjukan data selir." Titah Yuki, burung hantu itu tidak menjawab melainkan menunjukkan layar hologram.
Data garis keturunan keluarga dari selir terpampang jelas di hadapan mereka. Yuki menunjuk salah satu nama.
"Kakak laki-laki selir, sekaligus pendiri klan naga putih." Celetuk Yuki mengejutkan Ame dan Jojo.
"Saya pernah mendengar ini ojou sama, tapi beliau membubarkan klan karena ada beberapa anggota yang tidak menurut, diam-diam merencanakan pembunuhan permaisuri agar tahta berpindah kepada selir." Ucap Chibi membuat Yuki menatapnya lamat-lamat.
"Dari mana kamu tahu soal ini?." Tanya Yuki. Ia yang sudah banyak membaca buku-buku di perpustakaan tidak dapat menemukan apa pun. Dan jawaban yang ia cari ternyata berada sangat dekat.
"Profesor." Yuki beralih menatap kakek Ryuu.
"Profesor adalah keturunan dari salah satu anggota klan naga putih terdahulu yang ikut menentang rencana keji itu." Lanjutnya.
"Dalam kata lain, klan naga putih sudah terbentuk sebelum klan Hachibara?." Tanya Yuki.
"Benar, klan Hachibara di bentuk beberapa tahun setelah klan naga putih di bubarkan. Klan kita di buat saat periode kaisar pertama selesai, dan kaisar beserta keluarga keluar dari istana. Kami para pengikut setia kaisar pertama meminta izin untuk di perbolehkan mengabdi seumur hidup kami dan ikut bersama beliu." Jelas kakek Ryuu.
Yuki terdiam dengan informasi yang ia dapat. Dari sini tidak ada alasan untuk klan naga putih berkonflik dengan keluarga kaisar. Toh kaisar sudah turun tahta. Lalu apa?.
"Apa benar, selir tidak memiliki keturunan?." Tanya Yuki.
"Benar ojou sama." Jawab kakek Ryuu.
"Bagaimana kalian tahu cerita-cerita terdahulu?. Kenapa profesor menceritakannya kepada kalian?." Yuki semakin di buat penasaran.
"Cerita perjuangan kaisar sampai dengan keturunan-keturunannya selalu orang tua kami ceritakan, seperti dongeng wajib setiap harinya. Itu untuk mengingat jasa dan keagungan kaisar kami, bahwa leluhur kami dulu juga bergabung dalam perjuangan jepang, menanamkan kesetiaan kepada sang kaisar." Yuki kembali terdiam.
Mereka sangat konsisten bercerita, di zaman yang sudah modern seperti sekarang, batin Yuki.
Jadi .., siapa BD ini?, batin Yuki lagi.
Klan naga putih yang ingin melengserkan permaisuri di bubarkan. Beberapa tahun setelah itu kaisar turun tahta, klan Hachibara terbentuk. Berpuluh-puluh tahun kemudian, tidak!. Mungkin ratusan tahun. Klan naga putih baru di bentuk kembali. Pikir Yuki.
"Ojou sama." Yuki menghela nafas kecil.
"Bergerak layaknya bayangan. Aku ingin bisa seperti itu." Celetuk Yuki tiba-tiba.
"Ojou sama, butuh latihan bertahun-tahun agar bisa melakukannya. Belajarlah kepada waka." Jawab kakek Ryuu. Yuki menyimpan Je ke dalam tas selempangnya.
"Apa tidak bisa di tempuh dalam waktu tiga bulan?." Tanya Yuki.
"Mustahil ojou sama." Yuki menatap para bayangan satu per satu.
"Hotaru dan iblis itu, mana yang lebih menyusahkan?." Mereka tertegun.
"Para pewaris, saya tidak yakin ojou sama." Yuki menerawang jauh ke depan setelah mendengar jawaban itu.
"Begitu ya." Yuki tersenyum simpul.
"Ojou sama, saya akan selalu berada di barisan paling depan untuk anda." Seru Jojo.
"Terima kasih." Ucap Yuki.
Aku hanya ingin melawan iblis itu secara adil, tanpa bantuan dari Je atau yang lain, batinnya.
"Berhati-hatilah dalam tugas, mari kita selesaikan semua ini sebelum musim semi datang." Kata Yuki.
"Baik!."