
Natsume masih terus menceremahi Yuki soal sikapnya beberapa jam lalu. Yuki tidak menanggapi gadis itu, ponselnya sejak tadi terus bergetar mengusik dirinya.
"Apa hubunganmu dengan sensei?." Tanya Natsume.
"Waliku, dia terus menelphon." Yuki mengambil ponselnya dari dalam tas menatap nama yang muncul pada layar.
"Sensei pasti khawatir, lebih baik kamu angkat." Saran Natsume.
"Aku tidak ingin bicara dengannya." Yuki langsung mematikan ponselnya.
"Ya sudah, aku antar kamu pulang." Ujar Natsume, Yuki memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Aku tidak ingin pulang." Ucap Yuki.
"Hmm .., bagaimana kalau kita jalan-jalan ke harajuku." Natsume tersenyum lebar, terlihat dari wajahnya dia sangat bersemangat.
"Bukannya kamu ada kegiatan klub?." Jawab Yuki.
"Aku sudah meminta ijin Abe senpai saat melihatmu di lapangan tadi, jadi hari ini aku bebas!." Natsume berjalan ke depan lalu berbalik menghadap Yuki dengan senyum manisnya.
"Baiklah, ayo ke harajuku." Kata Yuki pada akhirnya, mungkin tidak ada salahnya jika ia bermain-main di luar.
"Yeyy!, mari berangkat!." Seru Natsume melompat-lompat kecil.
Di dalam bengkel Yamada.
"Dan, mereka semua sudah pergi."
"Hm."
"Apa kau yakin mereka tidak akan macam-macam lagi dengan kita?."
"Tentu saja, Dan sudah mengalahkan mereka. Mereka tidak sayang nyawa jika membuat keributan di wilayah kita."
"Apa yang kamu pikirkan Dan?."
"Perempuan itu, mereka anak sma. Apa mereka mengganggu pikiranmu?."
Bola mata Dan menerawang jauh.
"Tidak."
***
Di hari libur seperti ini jalanan sangat ramai, orang-orang dewasa, pelajar, hingga anak-anak memenuhi toko-toko yang terdapat disepanjang jalan. Sifat Natsume yang ceria dan bersemangat menular kepada Yuki. Kedua remaja itu memasuki toko-toko yang menarik perhatian mereka.
Beberapa orang juga mendekati Yuki dan Natsume, meminta berkenalan dengan keduanya, Yuki menanggapi orang-orang itu dengan membungkukan badan dan berlalu pergi.
"Boleh aku memotretmu?." Ijin Natsume. Yuki berpikir. Ia baru menyadari jika selama ini dirinya belum pernah sama sekali mengambil foto, selain untuk keamanannya tidak pernah terpikirkan oleh Yuki untuk melakukan hal itu.
"Ayolah ... Mumpung kita lagi di tempat yang bagus." Bujuk Natsume tersenyum.
"Lakukan sesukamu." Jawab Yuki.
Mungkin tidak masalah jika aku mengambil foto saat ini, aku sudah terbebas dari urusan perusahaan, tidak perlu ada yang disembunyikan bukan, ayah?, batin Yuki.
Natsume beberapa kali meminta Yuki untuk menghadap ke ponselnya namun gadis itu selalu acuh, jadilah ia memotret secara candid (tanpa rekayasa).
"Yu chan, mau makan crepes?." Tawar Natsume.
"Tentu." Jawab Yuki.
***
Hyuga prefecture Miyazaki.
Hotaru dan Takehara Rin sedang beristirahat setelah seharian membereskan rumah baru mereka.
"Rin neecchan, kamu belum menyelesaikan ceritamu." Tegur Hotaru menuntut, pasalnya di mobil saat perjalanan pulang dari restoran Takehara mengulur janjinya.
"Kamu mandi dulu, aku akan membuatkan minuman dingin." Ujar Takehara.
"Aku tidak bisa menunggu lagi." Jawab Hotaru menarik kursi, menghempaskan p*nt*tnya dengan kasar.
Takehara melirik sekilas ke arah Hotaru, pemuda itu sangat serius. Tangannya mengambil dua cangkir yang diisi air putih memberikan salah satunya kepada Hotaru.
Takehara menarik kursi di sebrangnya melanjutkan cerita yang terputus.
"Di dalam pertengkaran itu Daren dono terlihat sangat marah, kedatangan ojou chan menghentikan pertengkaran Daren dono dan Ayumi dono." Takehara kembali mengingat saat-saat itu.
"Ojou chan sangat terkejut dengan tumpukan mayat-mayat dan genangan darah yang memenuhi lantai, meskipun begitu." Takehara menatap manik coklat terang Hotaru.
"Ojou chan mendekati Ayumi dono, mengambil katana dari tangan Ayumi dono dengan lembut, membersihkan tangan yang berlumuran darah dengan sapu tangan kecilnya."
Yuki .., batin Hotaru.
"Di malam itu juga Ayumi dono mengirimku ke dokter pribadinya, kami berpisah. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu sampai dua tahun kemudian Daren dono mencariku, membawaku secara diam-diam ke rumahnya yang baru. Memintaku untuk menjadi guru kursus Ojou chan, merahasiakan semua kejadian di masa lalu dan berpura-pura tidak mengenalnya."
"Cerita selanjutnya kamu sudah tahu." Ucap Takehara menengguk air dari cangkir miliknya.
"Mustahil Yuki tidak mengenalmu." Mata Hotaru menelisik perempuan dari masa lalunya.
"Sayangnya saat aku bertemu dengannya lagi, ojou chan sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tidak mengenalku, untuk menarik perhatiannya saja membutuhkan banyak usaha keras." Jawab Takehara.
Apa yang seperti itu bisa?, ada akibat pasti ada sebab, batin Hotaru.
"Ibu tidak tahu kamu berada di paviliun itu?." Tanya Hotaru.
"Tidak, aku tidak pernah meninggalkan paviliun." Jawab Takehara.
"Lalu kenapa kamu menjadi pembunuh bayaran?." Hotaru menatap penuh selidik.
Beberapa bulan yang lalu Hotaru memasuki situs ilegal mencari seorang pembunuh bayaran yang kebetulan pembunuh bayaran itu mengetahui tentang kelompok yang terlupakan. Karena itu Hotaru memilihnya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu dan Ayumi dono pikirkan tapi aku bisa menebak rencanamu." Hotaru menunggu penjelasan dengan tenang.
"Kamu pasti akan mencari seseorang yang bisa membunuh dengan sangat rapih tanpa meninggalkan jejak, untuk melindungi Ojou chan. Dan aku langsung mendaftar menjadi pembunuh bayaran untuk menunggumu mencariku."
"Tentu saja aku menolak semua permintaan, sampai kamu menghubungiku." Jelas Takehara.
"Kenapa ayah membiarkanmu pergi dari paviliun?." Hotaru menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Itu perintah dari nyonya besar." Jawaban Takehara membuat Hotaru kaget.
"Nenek?." Ulang Hotaru. Takehara mengangguk mengiyakan.
"Setelah ojou chan membawamu kembali ke rumah, nyonya besar mengetahui keberadaanku dari Daren dono. Bahkan nyonya besar tidak tahu apa yang dipikirkan dan direncanakan Ayumi dono. Tugasku adalah mencari tahu apa yang direncanakan Ayumi dono." Kini Takehara menatap tajam Hotaru.
"Kenapa kalian pergi secara diam-diam, kenapa Ayumi dono sampai ceroboh menabrak putrinya sendiri?." Nada mengintimidasi Takehara menekan Hotaru. Wanita itu mengeluarkan salah satu keahliannya.
Hotaru tetap tidak bergerak, pikirannya kembali ke saat dimana ia sangat hancur, bayangan wajah kembarannya yang terluka sangat terlihat jelas dimatanya, membuat rasa rindu dihatinya membuncah. Tak sadar air mata lolos begitu saja dari bola matanya.
"Ibu tahu aku sakit, dia membawaku pergi untuk menyembuhkanku." Jawab Hotaru tetap tenang meski air matanya tak kunjung berhenti.
"Aku sudah tahu itu sejak anda menyusup ke paviliun, bocchama." Tatapan Takehara menelisik.
"Apa ada yang kalian sembunyikan?."Hotaru menghapus air matanya pelan.
Pemuda itu menarik nafas panjang, mengingat apa yang telah diajarkan kakeknya selama ini. Tata krama keluarga Hachibara.
Ia menegakkan punggungnya, duduk dengan sikap sempurna, perlahan kelopak matanya terangkat menatap tepat manik Takehara membuat wanita itu terkejut.
Sikap penegasan bahwa ia adalah putra pertama keluarga Hachibara yang terhormat.
Jaga sikapmu, Takehara. Itulah yang diartikan oleh Takehara saat melihat perubahan sikap Hotaru, dan sikap serta aura seperti itulah yang hanya dimiliki keluarga terhormat untuk menegur pengikutnya maupun bawahan mereka.
Tubuh Takehara secara otomatis bergerak menyempurnakan posisi duduknya, menurunkan tatapan mata yang tadinya menatap tajam majikannya.
"Ada racun didalam tubuhku." Ucap Hotaru tenang.
"Racun yang aku buat sendiri, tubuhku pula yang menguji racun tersebut." Takehara menelan salivanya kasar.
"Apa kau lupa?, aku dan Yuki adalah tombak dan perisai." Hotaru menarik salah satu ujung bibirnya ke atas.
"Sepertinya tombak dan pedang lebih cocok untuk menggambarkan kami." Ralat Hotaru.
"Bukankah kau mengajar Yuki jauh sebelum aku kembali, apa kau hanya mengajarinya dan tidak menghiraukan apa yang terjadi dengannya?." Suara Hotaru seakan menggema diruangan sederhana itu.
"Jawab aku." Tegas Hotaru.
Takehara berusaha untuk tetap tenang meski ia harus berusaha semaksimal mungkin.
"Ojou chan sangat tertutup, ia sangat cerdas. Terkadang aku tidak bisa membaca pikirannya." Jawab Takehara lirih.
"Apa kau juga lupa kenapa sejak kecil aku berusaha mati-matian belajar bela diri dengan kakek?." Takehara dipaksa berpikir oleh Hotaru.
Apa?, kenapa?, kenapa bocchama selalu berada di dojo bersama para penjaga?, apa aku melupakan sesuatu yang penting?, batin Takehara.
"Kau benar-benar melupakannya." Takehara merasa tidak enak, ia semakin berusaha keras mengingat sesuatu yang ia lupakan.
"Apa kau tahu jika aku diculik oleh rival kakek?." Takehara menggeleng pelan.
"Aku mengira anda masih bersembunyi bersama nyonya besar, tidak ada yang memberitahuku tentang hal itu." Jawab Takehara.
"Sepuluh hari setelah ayah dan ibu pindah ke indonesia aku diculik oleh mereka. Tepat satu minggu sebelum hari ulang tahunku yang ke enam." Bola mata Takehara bergetar.
"Dua tahun setelah itu, delapan tahun usiaku saat kau juga dibawa ke paviliun. Mereka menyiksa dengan cambuk, pukulan, dan pisau, memaksaku untuk membuat racun yang mereka inginkan." Perasaan campur aduk melanda Takehara.
Ia adalah salah satu penjaga mereka tapi ia merasa sangat menyedihkan, tidak berguna disaat calon penerus keluarga utama membutuhkannya.
"Hingga dihari Yuki menyusup untuk mencariku, bermodalkan nekat, tidak ada foto atau pun informasi yang bisa membantunya menemukanku." Lanjut Hotaru.
Ojou chan, pergi, sendiri?, melawan mereka yang dua belas tahun lalu menyerang kediaman utama?, pikiran Takehara kalut sekarang.
"Apa kau tahu artinya?. Apa kau sudah ingat sekarang, alasanku berlatih mati-matian?." Hotaru menatap Takehara yang masih diam, pundak wanita itu bergetar kecil.
"Cambukan, pukulan, sayatan, bahkan menahan efek racun didalam tubuh. Aku berlatih tiga kali lipat dari Yuki untuk melindungi tubuhku." Pancing Hotaru.
Takehara tersadar, dengan cepat ia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya, bola matanya membulat penuh menatap manik coklat terang Hotaru. Ia baru ingat.
"Ojou chan merasakan sakit yang sama." Gumam Takehara suaranya bergetar.
"Akhirnya kau mengingatnya." Ucap Hotaru tersenyum miring.
"Aku berusaha membuat racun yang tidak berbahaya agar mereka mengurangi siksaanku, untuk melindungi Yuki. Latihan yang selama ini aku lakukan bersama kakek sangat membantu untuk menahan racun tidak menyebar. Sampai pada rencana pembunuhan disekolah." Jelas Hotaru.
Takehara berpikir, menebak rencana Hotaru.
"Anda pergi karena pembunuh berhasil kabur, karena bisa saja mereka kembali untuk melakukan aksi mereka yang gagal dan menculik anda. Ojou chan tidak boleh tahu atau, ia tidak akan membiarkan anda pergi. Setelah pembunuh tewas, anda kembali mencari ojou chan karena keadaan sudah aman." Takehara mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Tapi dua pembunuh itu berasal dari kelompok yang berbeda dengan kelompok penyerangan kediaman utama, ada musuh lain yang mengincar keluarga utama. Apakah mereka tahu apa yang disembunyikan tuan besar?." Jantung Takehara berdegup kencang.
"Bukan." Takehara menatap nanar manik Hotaru.
"Mereka mengincar si pembuat racun. Kelompok yang menculikku telah menggunakan racun itu untuk membunuh pemimpin mereka. Karena ilmu bela diri yang kakek ajarkanlah yang membuatku bisa hidup sampai saat itu." Takehara tertegun.
"Sepertinya informasi yang Fitri bocorkan hanya sebatas itu. Ternyata dia lumayan pintar untuk tidak membocorkan informasi penting lainnya." Takehara menurunkan tangannya.
"Jadi, apa rencanamu membawaku kembali kemari dan membuatku menggunakan nama ini?." Tanya Hotaru tegas.
"Ini rencana nyonya besar dan Daren dono, untuk mengajari anda jenis bela diri yang lain. Bukankah anda hanya belajar bela diri turun temurun keluarga terhormat." Jawab Takehara.
Bahkan aku pun tidak bisa belajar ilmu itu, batin Takehara.
"Bukan karena aku meragukan ilmu itu, aku juga ingin mempelajarinya tapi tidak bisa. Untuk penjaga sepertiku harus mendapatkan pengakuan lebih dulu oleh kepala kediaman agar bisa mempelajarinya." Kata Takehara.
"Tapi, kemampuan anda masih jauh dari ojou chan." Takehara ragu-ragu melirik Hotaru untuk melihat ekspresi pemuda itu.
"Aku tahu." Jawab cepat Hotaru.
"Lalu?." Lanjut Hotaru.
"Anda harus berlatih lebih banyak, mempelajari cara membaca pikiran lawan, sambil menunggu mereka terpancing keluar dari persembunyian dan kita mulai menyerang." Hotaru menautkan kedua alisnya.
"Itu alasannya kau menyuruhku menggunakan nama ini, untuk memancing mereka. Apa kau sudah gila?, menyerang heh!." Hotaru meninggikan suaranya.
"Ini rencana nyonya besar dan Daren dono, bocchama." Sergah cepat Takehara sebelum Hotaru benar-benar marah.
Meskipun pemuda didepannya empat tahun lebih muda darinya namun fakta bahwa kedudukan pemuda itu yang jauh lebih tinggi dibanding Takehara sebagai penjaganya membuat wanita itu merasakan takut didalam hatinya.
"Apa yang nenek dan ayah pikirkan?." Gumam rendah Hotaru.
"Nyonya besar memutuskan bahwa kini saatnya menyerang balik, waktu bersembunyi sudah habis, nyonya besar juga diam-diam melakukan sesuatu yang besar, diluar yang aku dan semua orang ketahui. Bahkan Daren dono sempat menolak." Jelas Takehara.
"Ayah?." Hotaru bingung.
"Sepertinya ini rencana dadakan setelah melihat keadaan ojou chan, Daren dono terlihat sangat kacau, beliau tidak pernah terlihat sangat mengkhawatirkan ojou chan setelah pembantaian kedua dulu. Bocchama, ini seperti perlombaan intern. Akankah nyonya besar yang mendahului Ayumi dono atau Ayumi dono yang lebih dulu melakukan rencananya. Yang jelas mereka seperti bertindak berlawanan." Akhirnya ada orang yang bisa Takehara ajak berbicara tentang apa yang ia duga dan pikirkan selama ini.
"Bagaimana dengan Ayumi dono?, apakah anda akan melaporkan informasi ini?." Tanya Takehara hati-hati.
"Tidak, aku kabur dari ibu setelah mendengar Yuki menghilang. Apa nenek dan ayah juga tahu kalau sekarang aku bersamamu?." Hotaru balik bertanya.
"Ya, aku sudah melaporkannya. Nyonya juga yang memilih rumah ini, sedikit jauh dari kediaman utama namun tidak terlalu jauh untuk bala bantuan datang." Hotaru menyilangkan lengannya didepan dada.
"Nenek sudah merencanakan ini dengan matang, tidak ada alasan untuk menolak rencananya. Aku juga berpikir hal yang sama beberapa bulan belakangan." Hotaru memutar otaknya.
"Tapi, masih ada masalah besar yang selama ini belum terpecahkan olehku." Takehara fokus mendengarkan.
"Aku tidak tahu apa yang direncanakan ibu dan om Ronggo."
"Ronggo?." Tanya Takehara tidak tahu siapa orang yang dimaksud.
"Orang yang ayah percaya untuk melindungi dan mengurus semua keperluan Yuki. Ia bersama ibu sekarang, tidak. Entah sejak kapan ia menjadi orang kepercayaan ibu." Takehara memberikan tatapan aneh kepada Hotaru, Hotaru yang menyadarinya mendengus kecil.
"Bukan hubungan aneh seperti yang kau pikirkan. Ibu sangat menjunjung tinggi martabatnya. Martabat seorang istri, seorang ibu, dan seorang pemimpin yang diturunkan kepadanya." Jelas Hotaru memotong pikiran aneh Takehara.
"Maafkan saya, saya juga tahu itu bocchama." Balas Takehara cepat. Hotaru hanya membuang nafas panjang.
"Apa kau tahu salah satu rahasia yang disembunyikan ibu?." Tanya Hotaru.
"Tidak." Jawab Takehara singkat dan jelas.
Aku tahu ibu melakukan semua ini untuk melindungiku dan Yuki, tapi kenapa otak ini memintaku untuk berpikir lebih dalam, batin Hotaru.
"Jadi, kita akan mengikuti rencana nenek." Hotaru sudah memutuskan.
"Kalau begitu seperti rencana awal, saya berperan sebagai kakak perempuan anda untuk mengecoh mereka membuat mereka bingung." Ujar Takehara. Hotaru mengangguk setuju.
"Berarti kita harus memerankan peran ini semeyakinkan mungkin, anda mengerti bocchama?." Takehara kembali tegas setelah Hotaru memberikan keputusannya.
"Hai Rin neecchan." Jawab Hotaru tangannya meraih gelas dan menenggak isinya hingga tandas.