
"Bagus, berarti Fumihiro melakukan tugasnya dengan benar." Suara kakek Ryuuji memecah keheningan.
"Mereka sudah setengah bergerak. Dan kita tidak bisa diam saja. Para petinggi Yakuza pasti mencari tuan muda, bagaimna kalau tuan muda tertangkap lagi." Hiza laki-laki berhoodie hitam membuka suaranya.
"Itu bukan urusan kita Hiza, situasi kita juga tidak menguntungkan. Kita masih tidak tahu dimana ojou chan berada." Suara serak Jojo mengisi meja.
Hening.
"Ojou chan dalam keadaan berbahaya, kita harus segera menanyakan keberadaan ojou chan kepada Daren dono." Ame menatap Mizutani.
"Bukan itu masalahnya." Semua orang diam menunggu Mizutani melanjutkan.
"Kecurigaan kita selama ini benar, ada orang lain di balik yakuza, karena pelindung kediaman utama sudah bergerak dan menunjukkan diri membuat kelompok yakuza dan gengster lain waspada. Orang itu kini pasti sedang bersiaga menunggu waktu untuk menyerang kembali." Jelas Mizutani.
"Hahahahaha ..." Kakek Ryuuji tertawa lepas, dan yang lain tersenyum sinis, ada juga yang tersenyum lebar.
"Inilah klan kita, mereka harus di tampar yang keras agar membuka matanya dengan benar." Ucap kakek Ryuuji lalu terdiam, ada kilatan di mata keriputnya.
"Siapa yang dulu berhasil melindungi, berjuang di garis depan, klan kita. Kaisar pertama. Melukai keluarga utama sama saja mengibarkan bendera perang untuk kita." Kalimat panjang kakek Ryuuji membangunkan api kecil menjadi besar, berkobar-kobar di dalam nadi setiap anggota bayangan.
"Maaf, sepertinya semangat mudaku sedang bangun." Kakek Ryuuji mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kami juga seperti itu Ryuuji san." Ame tersenyum yang di setujui oleh yang lain.
"Ryuuji san, masalahnya kita harus segera menemukan orang di balik yakuza sebelum orang itu menyerang kita." Dazai buka suara yang diangguki oleh Mizutani.
"Benar, itu masih sebuah misteri sampai sekarang." Chibi menggaruk ujung hidungnya.
"Selain itu, pola aneh yang digunakan pelindung kediaman utama untuk menyerang sangat menggangguku." Ogura yang sejak tadi diam membuka suaranya.
Dazai diam, ia melirik Mizutani yang tetap duduk dengan tenang.
Hanya ojou chan yang tahu maksud pola serangan itu, tapi kenapa Tsubaki tidak mengorek informasi dari ojou chan, informasi itu sangat dibutuhkan di saat-saat seperti ini, agar kami bisa menebak rencana orang misterius itu, batin Dazai.
"Aku punya rencana." Mizutani mulai menjelaskan rencananya. Semua anggota mendengarkan tanpa terlewat satu kata pun.
Rapat itu berlangsung cukup lama, sudah tiga jam terlewat, argumen-argumen terus di lontarkan, penolakan, penambahan rencana, perubahan, sampai suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka semua.
"Apa ini?." Akashi yang pertama bicara.
Mizutani yang sedari tadi sibuk dengan sketsa di atas meja melihat semua orang menatap ke arah lain, ia pun menoleh ke samping kirinya.
Seorang perempuan berdiri tegap dengan topeng menutupi wajahnya. Mizutani tahu siapa orang itu, ia hafal pemilik tubuh itu. Seperti bensin yang terbakar, darah Mizutani mendidih seketika.
Di saat semua orang masih terkejut dengan adanya orang asing kecuali Jojo, Ogura, dan kakek Ryuuji, Mizutani menghempaskan tangan kanannya ke samping kanan mengenai dada Dazai cukup keras, lalu tangannya meraup kasar baju depan Dazai menariknya sekonyong-konyong.
Kedua pria itu kini berdiri, ralat. Hanya Mizutani yang berdiri tegap Dazai doyong ke depan menabrak meja.
"DAZAIII !!!." Suara berat Mizutani seperti sambaran petir di dalam ruang bawah tanah itu.
Untuk pertama kalinya Yuki gentar, ia tidak menyangka Mizutani yang selalu sabar, tegas, dan tenang bisa menjadi mahluk buas seperti itu. Aura para pemilik kursi juga tidak main-main.
Beberapa orang menatap Mizutani dan Dazai, beberapa hanya duduk dengan santai tapi ada dua orang yang enggan mengalihkan perhatiannya dari Yuki. Akashi dan kakek Ryuuji.
"Tsubak."
BUGH!.
Pukulan keras dari tangan kiri menghempaskan tubuh Dazai hingga tersungkur di lantai. Mizutani menendang kursinya ke belakang hingga remuk menabrak pintu, ia melangkah murka mendekati temannya.
Dazai berusaha berdiri menatap lurus manik Yuki.
Maaf ojou chan, inilah akhirku, batin Dazai.
Mizutani mengangkat tangan kirinya hendak melayangkan serangan kedua.
ZAP!.
Mizutani melebarkan matanya melihat sebuah jarum menancap di punggung tangannya.
Yuki yang melihat suara pukulan Mizutani tersadar, adrenalinnya terbangun, pukulan itu sangat keras, Yuki yakin Dazai pasti terluka parah. Manik Dazai menatap Yuki, sorot mata yang sama seperti Dimas menatapnya untuk yang terakhir kali, agak berbeda tapi memiliki satu kesamaan, perpisahan.
Yuki mengeraskan rahangnya, dia tidak akan membiarkan satu orang pun mati lagi.
Wuuuusshh.
Yuki melempar jarum miliknya yang tersembunyi, tanpa menunggu lagi ia berlari ke depan secepat kilat. Akashi menyeringai lebar menatap Yuki tanpa berkedip.
Yuki tidak menurunkan kecepatan, kedua tangannya memegang pundak Jojo dan Ogura yang duduk bersebelahan membuat kedua orang itu terkejut, pundak dua orang itu Yuki jadikan tumpuan, ia melakukan salto ke depan lalu mendarat dengan menekuk kaki kanannya sedangkan kaki kiri ia gunakan untuk menendang wajah Mizutani. Mizutani yang mendapatkan serangan tiba-tiba menarik kedua tangannya untuk menahan tendangan Yuki, pria itu mundur beberapa langkah.
"Shoooiiiiittt ..." Akashi bersiul.
Yuki melompat turun berdiri di depan Dazai.
Prok. Prok. Prok. Prok.
Akashi bertepuk tangan.
"Apa ini?, ada pengkhianat di sini." Celetuk Chibi.
"Tch!." Ogura menatap sinis Dazai.
"Dazai chiin!." Seru Ame tidak percaya.
Hiza menatap tajam perempuan bertopeng, ia sepertinya tidak asing dengan tendangan seperti itu.
"Minggir!." Geram Mizutani, apinya masih berkobar panas.
"Ini salahku, tidak apa-apa." Ucap Dazai keluar dari balik punggung Yuki berjalan menghampiri Mizutani.
Apa dia gila!?, seru Yuki dalam hati.
Mizutani yang melihat Dazai berjalan ke arahnya langsung menyerbu ke depan tentu saja Yuki tidak tinggal diam. Yuki menarik lengan Dazai seraya berputar menendang leher Mizutani sebagai incarannya. Mizutani menekuk tangan kirinya menahan tendangan Yuki, Yuki tahu serangannya tidak akan berhasil karena itu ia segera menarik kakinya dan merangsek ke depan memberikan pukulan-pukulan merepotkan.
Mizutani terus bertahan tanpa berusaha menyerang. Karena muak Yuki mengeluarkan sebuah jarum menodongkannya di leher Mizutani. Mizutani diam, menatap mata topeng berusaha melihat manik biru yang tersembunyi.
"Aku tahu dia salah tapi akar permasalahannya adalah aku." Lirih Yuki yang hanya bisa terdengar oleh kedua orang itu.
"Apa kamu pikir aku bisa menyamar menjadi siswa dan putri Daren dengan warna mataku ini." Mizutani berusaha mengatur emosi yang ada di dalam dirinya.
Para rekan-rekan Mizutani yang melihat raut terkejut pemimpin mereka sontak bergerak ingin membantu kecuali Dazai dan kakek Ryuuji.
Zap. Zap. Zap. Zap. Zap. Zap.
Langkah mereka terhenti, menghindari jarum-jarum yang melayang ke dada mereka masing-masing.
Apa ini?!, seru mereka dalam hati.
Aku sudah yakin sekarang, dia adalah ojou chan. Jarum, tendangannya, sama persis seperti malam saat aku menyusup ke kamarnya, batin Hiza menatap punggung Yuki.
"Waaaahhh, kenapa bisa sangat akurat. Padahal dia membelakangi kita." Akashi terkesan.
"Tch. Mungkin dia memiliki mata di belakang kepalanya." Sahut Ogura.
"Mau sampai kapan main kucing-kucingan seperti ini?." Yuki menyimpan kembali jarumnya.
Mizutani menarik nafas berat, gadis di depannya ini benar-benar nekat dan keras kepala.
Puk.
Mizutani meletakan tangan kanannya di pucuk kepala Yuki.
"Are ..?!." Seru Akashi dan Ame.
"Apa kita sedang shooting film action romance?." Celetuk Jojo.
"Tsubaki sebaiknya kau cepat jelaskan kepada kami." Cicit Chibi dengan suara lirihnya.
"Tch. Tersangka keributan berpura-pura tidak bersalah." Ogura menyindir Dazai.
Mizutani menatap dalam mata topeng serigala.
"Jangan buka topengmu, cukup tunjukan tato di lengan. Belum waktunya wajahmu terlihat." Kata Mizutani menurunkan tangannya.
"Tunggu." Mizutani melirik ke bawah melihat Yuki mengeluarkan benda aneh lalu memasangkannya di bawah lidah.
Benda apa lagi itu?, batin Mizutani.
Setelah dirasa aman Mizutani menuntun Yuki berdiri di ujung meja tempat seharusnya kursinya berada. Pria sekaligus pemimpin itu menarik nafas dalam menahannya selama dua detik lalu perlahan ia hembuskan.
Mizutani tidak mengira Dazai lancang membawa Yuki ke markas pelindung bayangan tanpa izin darinya, kalau sudah begini teman-teman bayangan yang lain tidak akan membiarkan Yuki keluar hidup-hidup meski Mizutani dan Dazai melindunginya. Jalan satu-satunya adalah mengungkapkan identitas Yuki.
Hening semua orang menunggu, Dazai yang masih kesakitan mencoba berdiri tegap ia tidak mungkin duduk kembali karena kesalahan yang telah ia perbuat, selain itu kursinya juga sudah rusak.
Mizutani berdiri tegap di samping kanan Yuki, matanya berubah serius namun sudah kembali tenang.
"Maaf seharusnya saya membawa beliau setelah kita berhasil menangkap dalang di balik penyerangan kediaman utama, agar beliau tetap aman dan identitasnya tetap tersembunyi." Kata Mizutani tegas dengan bahasa yang sangat sopan. Yuki yang mendengar pun teringat pelajaran tata krama bangsawan oleh masternya dulu.
Yuki bisa melihat dengan jelas raut wajah bertanya, meremehkan, dan bingung. Manik birunya menangkap siluet seseorang yang pernah ia lihat menyusup di kamarnya. Mizutani melanjutkan kalimatnya.
"Ojou chan sudah kembali ke jepang."
Glek!.
Mereka semua terkesiap kecuali Mizutani, Dazai, dan Hiza.
Yuki mengerti ia harus meyakinkan semua orang di sana, perlahan tangannya membuka jaket jeans sebelah kiri, kaos hitam tanpa lengannya tak menutupi tato hitam kecil di atas kulit seputih salju, terlihat sudah tato yang tidak pernah Yuki tunjukan kepada orang lain, hanya Hotaru dan keluarga Fathur yang pernah melihatnya.
Hening.
Hening.
Hening.
Srek!.
Kakek Ryuuji mendorong kursinya, menyadarkan kembali kenyataan yang terasa terhenti beberapa detik lalu. Orang tua itu menggeser tubuhnya keluar dari kursi, melangkah mundur dua jengkal. Anggota lain yang sudah tersadar segera mengikuti kakek Ryuuji keluar dari kursi mereka, bahkan Mizutani yang tadinya berdiri di samping Yuki menjauh sedikit lalu menghadap gadis itu.
Seperti di terpa angin kencang di tengah taman penuh bunga musim semi. Memberikan perasaan yang Yuki sendiri tak ingat namun penuh kerinduan. Itulah yang Yuki rasakan ketika suara mereka semua menerobos masuk ke dalam gendang telinga miliknya.
"SELAMAT DATANG DI MARKAS PELINDUNG BAYANGAN, OJOU SAMA!." Mereka serentak menjatuhkan lutut kanan mereka ke lantai menekuk lutut kiri untuk menopang tangan kiri mereka yang terlipat.
Yuki menutup rapat mulutnya, sekonyong-konyong air matanya memberontak ingin keluar. Kedua tangan di samping tubuhnya terkepal kuat hingga ujung jari memutih menahan gejolak emosi yang bahkan Yuki tidak ingat apa yang ia rindukan.
Dalam diam Yuki menatap satu persatu ke sembilan bayangan itu, dari samping kanannya. Mizutani dengan khidmat menundukkan pandangan, Dazai juga sama, pria dengan luka panjang di bawah matanya, kursi kosong lalu pria bertubuh kecil dan pendek, bahkan kakek Ryuuji meletakan tongkatnya di lantai tepat di samping tubuh tua itu, wanita dengan potongan rambut pendek membuatnya terlihat seperti wanita muda, hoodie hitam penyusup kamarnya, pria dengan rambut sebahu, dan terakhir pria kekar.
Yuki menarik sudut bibirnya entah karena alasan apa namun cepat-cepat ia hilangkan, terikan nafas pelan untuk menenangkan hati, kepalan tangannya mengendur.
"Terima kasih, tapi aku tidak pantas mendapatkan penghormatan kalian. Berdirilah." Suara tenang namun terdengar anggun berkharisma membuat para bayangan yang baru mengetahui fakta dadakan itu merasa yakin bahwa gadis di depan sana adalah tuan mereka.
"Tidak ojou sama, anda sangat layak mendapatkan penghormatan kami. Bahkan nyawa kami juga milik anda." Yuki kini menatap lurus punggung tua di sebrang meja.
"Terima kasih, aku sangat menghargainya. Sekarang berdirilah." Mereka berdiri mengikuti perintah tuannya.
"Silahkan duduk kembali." Mereka membungkuk kecil lalu kembali duduk kecuali dua pria yang mengenal Yuki lebih lama.
Yuki menoleh menatap Mizutani menunggu pria itu mengambil alih. Yang di tatap untunglah peka, Mizutani berdiri kembali di samping Yuki.
"Ku harap kalian semua mengerti situasi sekarang, Daren dono sebelumnya tidak setuju mengirim kembali ojou san ke jepang namun keputusan nyonya besar tidak bisa diganggu gugat. Karena itu, Daren dono memberikan perintah kepadaku untuk melindungi dan mengawasi ojou san, aku juga di berikan batasan memberikan informasi ini kepada anggota bayangan." Jelas Mizutani.
Yah, Yuki masih mengingat perdebatan ayah dan neneknya saat di korea, tapi waktu itu Yuki tidak tahu kenapa ayahnya melarang keras ia kembali ke jepang dan baru beberapa bulan yang lalu Yuki mengerti dan paham akan kekhawatiran sang ayah. Bahkan Yuki sangat terkejut ayahnya ternyata selama ini mengkhawatirkannya dan berusaha untuk melindunginya dari ingatan masa lalu. TUNGGU!, ingatan masa lalu?!.
Yuki seketika itu tersadar akan kecerobohannya yang kurang teliti menyusun semua tumpukkan informasi yang ia dapat. Jika apa yang dipikirkan Yuki benar tentang ayahnya, berarti sang ayah mengetahui penyakitnya!, kesimpulan yang tepat. Lamunan Yuki terhenti karena suara wanita di ujung sana.
"Siapa saja yang kau beri tahu, bocah?." Terdengar nada kesal dari suara Ame karena dia tidak tahu sama sekali tentang informasi penting itu.
"Dazai dan Hiza san." Jawab Mizutani yang menutupi fakta dua orang kepercayaannya yang selalu siap menghilangkan jejak penyakit Yuki seperti membersihkan noda darah di atap sekolah.
"Tch!." Ogura memalingkan wajah kesalnya, sama seperti Ame ia kesal karena tidak tahu soal ini.
"Kenapa Daren dono membatasi informasi penting ini?. Selain itu kenapa mereka berdua yang kau beri tahu Tsubaki?." Akashi menunjuk Hiza dan Dazai dengan kedua telunjuk tangannya.
"Akashi, ini akibatnya jika kamu terlalu lama mengurus ladangmu. Isi kepalamu hanya ada padi dan sayuran." Celetuk Chibi membuat Akashi memicingkan matanya menatap pria pendek di sebelahnya itu.
"Akashi san." Panggilan Mizutani mengalihkan perhatian Akashi dari Chibi, menatap pria yang memanggilnya.
"Aku memilih Hiza san karena Hiza san adalah salah satu donatur sekolah. Ojou san bersekolah di tempatku mengajar." Mizutani melirik Dazai.