Futago

Futago
Pil Obat.



Tangannya berpegangan ke pinggiran wastafel, kepalanya menunduk hingga dahinya hampir menyentuh kran air. Darah terus keluar dari mulut dan hidungnya.


TOK. TOK. TOK. TOK.


Ketukan keras dari pintu membuat Yuki memutar kran membiarkan darah dan air bercampur jadi satu.


"Yuki!, buka." Mizutani semakin kesal ketika mendengar suara batuk dari dalam dan ia tidak bisa membuka pintu itu.


"Tidak ada pilihan." Gumam Mizutani tangannya mengeluarkan sesuatu memasukannya ke dalam lubang kunci.


CEKLEK.


Mizutani langsung menerobos masuk dan menutup pintu kembali, menguncinya. Yuki tetap menunduk tidak merasa terganggu dengan kedatangan Mizutani.


"Cepat makan ini." Mizutani mendekatkan pil ke depan bibir Yuki. Yuki segera memakan pil itu mengunyahnya cepat-cepat sebelum darah kembali keluar.


Hening.


"Berikan kepadaku pil itu." Kata Yuki setelah merasa lebih baik.


"Tidak." Tolak Mizutani. Yuki membersihkan darah di sekitar mulutnya dengan air.


"Kamu mengambil pil yang dikirimkan untukku." Yuki mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang lain.


"Ya." Mizutani menjawabnya dengan santai.


"Kembalikan."


"Tidak."


"Mi chan!." Yuki menaikan suaranya.


"Kembali ke kelas, pulang latihan datang ke kantorku." Mizutani pergi meninggalkan Yuki yang mulai kesal.


Jun Ho si mengirimkan pil itu untukku. Menyebalkan!, kenapa Jun Ho si mengirimkannya saat aku sakit, gerutu Yuki.


Yuki berjalan kembali ke kelas, ia merasakan tatapan tajam dari belakang bangku Natsume.


Di setiap pelajaran Yuki tidak fokus, pikirannya terus melayang ke bayangan yang ia lihat di ruang klub koto. Yuki kesal, ia benci, perasaan tidak percaya membuatnya meragukan apa yang ia lihat dan dengar.


Yuki melihat bayangan sebuah ruangan dengan gaya khas jepang tradisional, dua lukisan besar tergantung di dinding kayu itu. Seorang perempuan duduk di belakang koto wajahnya terlihat tidak jelas, tangan cantiknya bergerak pelan mengeluarkan suara indah. Seorang anak kecil memiliki warna mata yang sama seperti milik Yuki, tidur telungkup di depan koto menyangga dagu dengan kedua tangan mungilnya, kaki kecil itu terus bergerak naik turun dengan gembira.


Okaa san ..! (Ibu ..!), panggil anak kecil itu dengan senyuman di wajahnya, mata birunya berkilat penuh rasa kagum.


Nani ..? (Apa ..?), suara lembut dan dalam keluar dari bibir perempuan itu.


Perlahan wajahnya mulai terlihat.


Seperti sebuah layar yang terangkat, dagu lancip nan putih mulai terlihat jelas, lalu naik ke atas, bibir tipis yang tersenyum cerah membuat Yuki merasakan dingin di sekujur tubuhnya, hidung, mata, dan keseluruhan wajah itu terlihat jelas sudah.


Yuki merinding hebat, jantungnya seakan di pukul dengan palu besar berkali-kali, hatinya teriris perih tidak ingin menerima apa yang baru ia lihat.


Suara anggota klub koto membuat Yuki kembali ke kenyataan, ia menahan sesuatu yang bergejolak di dalam kepalanya sekuat mungkin dan pergi dari ruangan itu.


Sampai saat ia melaksanakan tugasnya sebagai manajer Yuki tetap tidak bisa fokus, emosi yang bergejolak di dalam dadanya terus bergemuruh memberontak. Tanpa pikir panjang Yuki meletakan papan di tangannya mengulurkan tangannya kepada Sakura.


"Boleh meminjam ikat rambutmu?." Pinta Yuki menghiraukan bahwa Hotaru tidak suka ia mengikat rambutnya.


"A ah, ini .., silahkan." Yuki menerima ikat rambut Sakura.


Yuki tidak pernah semarah ini, bahkan saat mengetahui Hotaru membohonginya ia lebih merasa kecewa dan terluka dari pada marah. Yuki berjalan ke lapangan A seraya mengikat rambutnya.


"Mi chan, pinjamkan aku glove (sarung tangan)." Pinta lirih Yuki tepat di samping Mizutani, pria itu melirik raut wajah Yuki yang terlihat datar.


"Mau kanan atau yang kiri?." Mizutani tahu Yuki dalam situasi hati yang buruk, pengamatannya selama satu bulan lebih ini sangat membuahkan hasil. Selain itu Yuki yang mau terjun ke lapangan akan menguntungkannya dan tim.


"Kanan." Jawab Yuki. Mizutani mengambilkan glove memberikannya kepada Yuki.


"Pakai perlengkapanmu." Mizutani juga memberikan topi, pelindung siku dan lutut.


Tanpa banyak bicara Yuki memasang perlengkapan di tubuhnya. Lapangan yang sedang ramai untuk berlatih memukul itu mendapat tamu tak di undang. Mizutani meneriakan nama seseorang menyuruhnya bertukar tempat.


Catcher yang lain akan terkejut menangkap lemparannya dalam kondisi seperti ini. Kudo kun, aku serahkan kepadamu, batin Mizutani.


Yuki mengambil salah satu bola dari dalam box lalu meletakannya lagi, ia menekuk tangannya ke belakang melakukan sedikit pemanasan, mengecek glove di tangannya.


Oooh .., apa ini?, tuan putri turun ke medan perang. Bukankah dia sedang sakit, batin Kudo mengerutkan dahinya. Kudo menatap lurus masker Yuki mengingat bercak merah siang tadi.


Inuzuka yang sudah lama tidak melihat Yuki dengan gembira berlari ke arah gadis itu namun langkahnya terhenti ketika melihat mata biru yang fokus dan wajah serius seniornya.


BUM!.


BUM!.


BUM!.


Pemanasan yang mengejutkan, batin Kudo ia sedikit gentar saat menangkap bola yang seolah-olah diarahkan kepadanya.


Ada apa denganmu?, tanya Kudo dalam hati.


Yuki kembali mengambil bola dari box menunggu batter (pemukul) memasuki kotak pemukul.


Seseorang yang Yuki tahu adalah kelas tiga dengan wajah garangnya menantang Yuki.


"Oii .., kemari kalau berani!." Serunya, Yuki tidak merespon ia hanya melirik Kudo yang memberikan arahan jenis bola yang akan di lempar seperti yang pernah diajarkan laki-laki itu kepada Yuki.


Yuki dengan tangan kirinya bersiap melempar.


Wuuuusshhh ...


Buumm!!!.


Kenapa wajah sialan itu yang muncul!, seru Yuki dalam hati tangannya terus bergerak memberikan lemparan demi lemparan.


Siapa anak kecil itu!, jangan katakan bahwa dia adalah aku?!!, teriak Yuki terngiang nada manja anak kecil itu saat memanggil Ayumi.


Iblis itu bukan ibuku ..!, lanjut Yuki.


BUUMM !!.


Bukan ..!, aku pasti salah lihat, itu pasti hanya halusinasi, geram Yuki.


WUUSSH!.


BUM!.


Itu bukan Aku ..!. Sialan !!, Yuki mengayunkan tangannya semakin kencang.


BUUUUMMM !!!.


Entah sudah ke berapa puluh kali Yuki mengambil bola dari dalam box, ia menunggu pemukul selanjutnya masuk sambil memainka bola di tangannya.


"Apa yang membuatnya sangat fokus seperti ini?." Tanya Hirogane kepada Kudo.


"Apa kau pikir aku tahu." Balas laki-laki itu.


"Oi, kalian akhir-akhir ini sering bersama bukan." Sergah Hirogane.


"Dan kau pikir kami membicarakan diri masing-masing?." Kudo melirik Yuki yang sudah ingin melempar.


"Kami hanya membicarakan baseball." Hirogane menatap ke bawah, melihat wajah Kudo di balik pelindung wajahnya.


"Kamu lihat semua lemparannya tadi, itu adalah lemparan seriusnya." Kata Kudo bersiap menerima bola dari Yuki.


"Jadi, di pertandingan waktu itu hanya main-main heh." Hirogane bersiap dengan pemukulnya.


"Dia seorang perempuan, dan Gun senpai tidak dapat memukul bolanya. Harga dirinya pasti terluka." Hirogane bersiap.


"Setidaknya aku harus menyentuh bolanya." Ujar Hirogane sudah siap, maniknya menatap tajam Yuki.


"Lihat baik-baik, jangan kedipkan matamu." Kudo memperingati.


Hirogane yakin ia tidak mengalihkan matanya dari tangan Yuki tapi tiba-tiba bola itu terbang ke arahnya dengan sangat cepat dan berbelok tajam masuk ke dalam zona strike.


Buuum !!!.


"Lihat." Hirogane terkejut, suara Kudo membuyarkan lamunannya.


"Bahkan aku sendiri tidak bisa lengah."


Okaa san ..! (Ibu ..!).


Nani ..? (Apa ..?).​


Keluar dari kepalaku !!!, teriak Yuki di dalam pikirannya.


Keringat mulai membasahi wajah Yuki, gadis itu sudah menghabiskan satu box bola dan mengambil bola dari box yang lain. Ia tidak menyadari sudah berapa pemain yang berdiri di kotak pemukul maniknya hanya fokus melihat arahan Kudo dan sarung tangan laki-laki itu.


"Baik."


Panas di dalam dadanya mulai mereda tapi, bayangan menjijikan itu terus berputar di dalam kepala Yuki.


Yuki tidak ingat pernah mendapatkan senyuman seperti itu, suara lembut seperti itu. Tidak!, memikirkannya saja Yuki merasa jiji.


TAANGG ...!.


Yuki melebarkan matanya, suara itu seperti menyadarkan dirinya dari gemuruh di dalam kepala. Manik Yuki mengikuti pergerakan bola yang melayang di atas kepalanya, bola itu membentur keras jaring pembatas lapangan.


Braakk ...


Semua orang tertegun, beberapa detik kemudian riuh sorakan gembira menyelimuti lapangan. Yuki mengedarkan pandangan melihat para pemain melakukan gerakan seremoni, tepuk tangan bahagia juga mereka lakukan. Yuki membalikan badannya untuk melihat siapa pelaku yang telah melakukan homerun dari lemparannya.


Hajime tersenyum kalem kepada Yuki tapi respon gadis itu malah memiringkan kepalanya lalu mengangkat satu alis. Hajime semakin menarik sudut bibirnya mengarahkan pemukul ke arah Yuki, seperti menunjuk gadis itu, lalu empat jari tangan yang lain telentang bergerak-gerak menekuk ke dalam, menantang gadis itu.


Untuk pertama kalinya Yuki tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk bulan sabit, sayang bibir itu tertutup masker, meski begitu wajahnya tetap terlihat sangat manis.


Hajime bergeming beberapa detik, bibirnya ikut tersenyum membalas senyuman indah itu.


Betapa bodohnya aku, terlalu marah hanya karena iblis menjijikan itu sampai-sampai tidak menyadari pemain hebat di depan sana, batin Yuki tertawa meremehkan diri sendiri.


Yuki melempar bolanya kembali, tidak membiarkan Hajime memukulnya. Laki-laki itu juga tidak mau kalah, ia menikmati setiap ayunannya, walaupun hanya melambungkan sedikit bola tapi setidaknya menjadi latihan memukul yang sangat langka.


Yuki duduk di sofa kantor Mizutani, tangannya menekan nama kontak di ponselnya.


"Moshi-moshi (Halo)." Suara berat nan lembut menyapu telinga Yuki.


"Senpai."


"Hm?."


"Jangan menungguku, aku akan pulang telat." Kata Yuki, menebak seniornya pasti sedang menunggu di luar gerbang.


"Siapa?." Yuki melirik Mizutani yang membawa dua nampan makanan sekaligus.


"Senpai." Jawab Yuki, Mizutani mengerutkan keningnya lalu meletakan nampan dengan hati-hati.


"Senpai yang mana?." Hajime mendengarkan percakapan kedua orang di sebrang telepon.


"Benar juga, aku selama ini hanya memanggilnya senpai." Gumam Yuki tidak tahu telah membuat orang di luar sana tersenyum kecil.


"Berikan padaku, kamu makan dulu." Titah Mizutani meminta ponsel Yuki.


Tanpa protes Yuki memberikan ponselnya kepada Mizutani.


"Halo?."


"Ya pelatih." Jawab Hajime.


"Ah, Yuuki ... Kamu bisa pulang sekarang, biar nanti aku yang mengantar Yuki pulang."


"Baik."


"Hati-hati."


Mizutani mematikan telepon dan bergabung dengan Yuki menikmati makan malam yang telah ia bawa dari kantin.


Setelah selesai Mizutani membawa nampan keluar ruangan, Yuki lagi-lagi hanya mengecek ponselnya sambil menunggu Mizutani.


Yuki mendengar pintu di kunci, ia meletakan ponselnya ke dalam tas karena Yuki tahu Mizutanilah yang mengunci kantor. Pria itu membawa tas koper kecil di tangannya meletakan tas koper itu di atas meja.


"Ini barang-barang yang doktermu kirimkan." Mizutani membuka tas koper memperlihatkan isinya kepada Yuki.


Jun Ho si mengirimkanku hasil penelitian yang lain, apa dia juga punya firasat aku akan bertarung?, batin Yuki menatap beberapa botol cairan.


Mizutani menutupnya kembali.


"Aku tidak akan memberikan pil ini, maupun barang-barang yang lain." Yuki menaikan satu alisnya.


"Di dalam surat dari doktermu tertulis, jangan biarkan dia memegang pil itu, dia bisa nekat kapan saja." Yuki memutar bola matanya.


"Aku membutuhkan pil itu Mi chan." Mizutani menatap lurus manik Yuki.


"Untuk apa?."


"Ada sesuatu yang sedang aku cari, bukankah kamu yang menyuruhku untuk mencarinya sendiri." Mizutani dengan tenang menghadapi Yuki.


"Aku akan memberikanmu satu pil setiap hari."


"Satu pil tidak cukup." Sergah Yuki tegas.


"Kamu tahu konsekuensinya bukan." Yuki tersenyum miring.


"Kamu kira siapa yang menemukan dan membuat pil itu." Mizutani diam, Daren tidak memberitahukannya tentang hal ini.


"Doktermu juga melarang penggunaan lebih dari satu pil setiap harinya."


"Aku tahu batasan tubuhku." Yuki menatap lurus manik Mizutani.


"Dua pil setiap hari." Lanjut Yuki.


"Tidak, berapa kantung darah yang kamu butuhkan karena itu." Tolak Mizutani.


"Dua pil tidak akan membuatku kehilangan banyak darah." Yuki bersikeras.


"Yuki dengar." Tegas Mizutani.


"Apa pun yang kamu rencanakan jangan biarkan tubuhmu memakan dua pil itu dalam satu hari, mengerti?." Yuki memutar bola matanya.


"Mi chan, aku tidak tahu harus memulainya dari mana." Lirih Yuki, semua yang ada di kepalanya tiba-tiba terasa sangat rumit seperti benang kusut.


Misteri kotak dari kakeknya, Hotaru yang entah berada di mana, apakah saudara kembarnya bisa selamat dari racun mematikan itu, sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan kepada ayah dan neneknya, di tambah bayangan-bayangan aneh yang membuat Yuki gelisah.


"Berikan aku dua pil untuk besok." Lanjut Yuki, pada akhirnya ia tidak bisa mengatakannya.


"YUKI." Tegur Mizutani menaikan volume suaranya.


"Sudah kukatakan kamu harus bertahan selama satu tahun di sini atau ayahmu akan,"


"Aku tahu!." Yuki memotong kalimat Mizutani.


"Aku tahu kelebihan dan kekurangan pil itu, aku tahu efek samping pil itu, karena aku yang membuatnya!."


Yuki mencoba mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur. Mizutani tentu saja shock dengan apa yang ia dengar.


"Jadi, berikan padaku dua pil itu." Imbuh Yuki lebih tenang.


"Dan membiarkanmu terbaring seperti kemarin. Apa kamu sedang membodohiku?." Yuki mengepalkan tangannya, manik biru miliknya tertuju kepada tas koper di atas meja. Jawaban dari Yuki mengejutkan Mizutani.


"Kepercayaan diri dari mana yang kamu dapatkan sampai membuatmu berani mengatakan hal itu kepadaku?." Yuki melirik pergelangan tangan kanan bagian dalam miliknya.


"Sudah berkali-kali aku hampir mati," Mizutani diam membisu.


"Bahkan dua jarum tidak pernah meninggalkan tanganku ini." Yuki mengangkat tangan setingga dada menunjukkan kedua punggung tangannya kepada Mizutani.


"Kanan selang infus, kiri selang darah," lalu Yuki menunjuk hidungnya.


"Dua lubang hidungku di sumbat dengan kapas, satu-satunya pernafasku adalah oksigen dari mulut." Yuki menurunkan tangannya.


"Lalu, bagaimana jika aku kembali batuk?. Apa kamu bisa membayangkan aku akan bertahan hidup jika setiap hari kejadian seperti di atap terus berulang?." Tanpa Yuki sadari Mizutani mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja.


"Sampai pil itu berhasil di buat." Mizutani berusaha mengontrol panas di tubuhnya.


Satu pil akan mengobati semua rasa sakit dan menghentikan darah yang keluar tapi rasa lemas karena rasa sakit tadi masih terasa ditubuh pasien, jika dihari yang sama rasa sakit itu datang lagi pil kedua akan di berikan namun, hanya meredakan rasa sakit tidak menghentikan darah yang keluar. Dan jika pil ketiga diberikan di hari yang sama, pasien akan sembuh total tubuhnya terasa segar bugar. Hanya bertahan selama empat puluh menit, menit ke empat puluh satu jantung pasien tidak bisa menahan efek obat, pembuluh darahnya akan rusak, dan pasien akan hilang kendali.




Hindari pil ketiga, jangan biarkan Yuki memakannya APA PUN YANG TERJADI. Gadis nakal itu pasti akan memaksamu, jadilah lebih keras kepala darinya. Kuserahkan Yuki kepadamu sahabat tak dikenal :).*



Mizutani mengingat isi pesan surat dari dokter yang menangani Yuki sebelum datang ke jepang.


"Apa kamu sedang mengingat pil ke tiga Mi chan." Yuki menyunggingkan senyum puasnya karena telah benar menebak.


"Kita buat kesepakatan." Yuki menaikan satu alisnya.


Mi chan sedang merencanakan sesuatu?, jika ayah mempercayainya dia pasti memiliki kelebihan tersendiri, batin Yuki. Sebuah ide muncul di kepalanya.


Yuki mengangkat sebelah kakinya seperti hendak menyilang tapi tiba-tiba.


DAK!.