Futago

Futago
Firasat.



Inuzuka terdiam, ia tidak menyalahkan jawaban seniornya tapi bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan.


"Duduk Inuzuka kun." Inuzuka yang hendak bertanya lagi mengurungkan niatnya dan menuruti Yuki.


"Istirahatlah, lain kali kita bicara lagi." Ujar Yuki bola matanya menangkap sesuatu. Yuki mengambil botol minum dan handuk lalu berjalan ke samping Inuzuka.


"Temanmu sangat bersemangat." Ujar Yuki seraya mengulurkan kedua benda di tangannya.


Haruno laki-laki bertubuh kecil dari rata-rata pemain lain yang lebih terlihat imut dan cantik itu terkejut melihat Yuki berdiri di depannya.


"Siapa yang kamu maksud senpai?." Tanya Inuzuka, entah dia bingung atau berpura-pura bingung. Yuki menoleh menatap Inuzuka.


"Kamu, Inuzuka kun." Jawab Yuki.


"O ouh .., terima kasih." Balasnya tersenyum senang.


"Kamu juga harus minum." Yuki kembali menyodorkan benda di tangannya.


"Terima kasih." Lirih Haruno seraya menundukkan kepala.


"Senpai, tolong ajari aku melempar sepertimu." Srobot Inuzuka tiba-tiba.


"Tidak, dia milikku sekarang." Suara asing yang tidak diundang membuat aura di sekitar bangku cadangan berubah hening yang aneh.


Siapa yang berani-beraninya mengaku aku miliknya!, kesal Yuki dalam hati.


"Ka kamu, woi!. Bilang apa kamu tadi!." Teriak Inuzuka langsung melompat berdiri dari kursinya.


"Dia milikku." Ulang suara itu.


Wajah Inuzuka mengeras ia menatap tajam laki-laki di belakang Yuki.


"Senpai, apa benar?." Tanya Inuzuka dengan nada rendah. Haruno yang kebingungan dengan situasi mendadak itu hendak berdiri namun di cegah oleh Yuki.


"Minum dulu, nanti ada latihan lagi bukan." Lirih Yuki menatap manik Haruno, yang ditatap menelan salivanya kasar namun tetap menurut.


"Inuzuka kun, aku ... Jomblo." Jawab Yuki sengaja menggunakan kalimat itu. Inuzuka menyeringai.


"Dengar itu!, senpai bukan milik siapa pun. SIAPA PUN." Ulang Inuzuka.


Yuki menarik nafas panjang. Baiklah apa lagi sekarang, batin Yuki membalikan badan menghadap pemilik suara.


Yuki mendongakkan kepalanya karena tinggi yang dimiliki pemilik suara di luar perkiraannya.


"Ada yang ingin kamu katakan?." Tanya Yuki yang mengenali laki-laki itu sebagai salah satu pitcher kelas satu, siapa lagi kalau bukan Nakashima pemilik asli lemparan lurus super cepat yang di tiru Yuki.


"Senpai milikku jadi senpai yang harus mengajariku melempar seperti senpai." Celetuk Nakashima membalas tatapan Yuki lekat-lekat, pipinya mulai berubah merah.


Nglantur nih anak, batin Yuki.


Tak!.


Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Nakashima.


Buk!.


Sebuah tendangan mendarat di pantat Nakashima.


"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan Nakashima." Ucap seseorang yang Yuki tidak kenal.


"Jangan menakutinya." Hirogane keluar dari belakang tubuh Nakashima.


"Senpai, dia yang meniru lemparanku berarti dia milikku." Balas Nakashima membela dirinya sendiri.


"Haaahh ..?." Seru semua orang di bangku cadangan itu kecuali Yuki.


"Kamu harus mengajariku." Sergah Nakashima


cepat.


Tak.


Buk.


Tak.


Sreeeet!.


Setelah mendapatkan beberapa pukulan dan tendangan Hirogane menyeret Nakashima pergi, laki-laki yang tidak di kenal tersenyum kalem kepada Yuki.


"Kami yang akan mengurusnya, permisi." Ucap laki-laki itu berjalan santai menyusul Hirogane.


"Terima kasih." Lirih Yuki, ia masih tertegun dengan pemandangan yang baru ia lihat bahkan Inuzuka sudah mengikuti Hirogane menyemangati seniornya untuk lebih menganiaya Nakashima.


"Itu?." Tanya Yuki menoleh menatap Haruno dengan jari menunjuk ke depan. Haruno tersenyum canggung.


"Hehe, para senpai sudah biasa seperti itu. Salah satu cara mereka menunjukkan kedekatan dengan juniornya." Jelas Haruno. Yuki menaikan satu alisnya.


"Nyawa anak-anak kelas satu terancam." Celetuk Yuki memikirkan semua anak kelas satu di perlakukan seperti itu.


"Ahahaha, tidak senpai, hanya kepada mereka berdua saja. Mereka adalah harapan untuk tim sekolah kita." Yuki ikut tersenyum.


"Dan karena itu mereka terobsesi untuk berlatih melempar." Haruno mengangguk kecil.


"Kebanyakan dari kami di sini adalah orang-orang yang menyukai baseball tapi mereka berdua berbeda, mereka sudah sangat menyukai."


"Maniak." Haruno tersenyum mengangguk setuju dengan julukan yang Yuki berikan.


"Senang berbicara denganmu, aku pergi dulu." Ucap Yuki tersenyum lalu melangkah pergi.


Aku telah berbicara dengannya, aku melakukannya, batin Haruno tidak percaya.


Setelah istirahat sebentar mereka kembali melanjutkan latihan, kini Yuki di suruh untuk mengurus para pemain di lapangan B, beberapa pemain yang sempat bermain dengan Yuki tempo hari menyapa gadis itu.


Pukul setengah enam sore latihan baru selesai, Mizutani melakukan briefing untuk memberikan arahan, masukan, dan kesimpulan latihan hari ini. Di saat para pemain membubarkan diri Yuki membantu para manajer merapihkan peralatan seperti handuk, kotak pendingin, dan lain-lain.


"Mau di bawa kemana senpai?." Tanya Yuki melihat Nana yang membawa satu keranjang penuh handuk.


"Mau mencucinya." Hah?!, gila, batin Yuki melirik handuk bekas para pemain. Tapi Yuki tetap mengulurkan tangan membantu membawa sisi keranjang yang lain.


"Terima kasih, padahal kamu sudah boleh pulang loh, hari ini tugasku mencuci handuk." Kata Nana.


"Ung." Jawab Yuki.


Mereka berjalan ke lorong depan lapangan in door melewati Gym lalu berbelok ke kanan, ada sebuah lorong kecil dengan banyak jepit gantungan baju tergantung. Nana membuka satu-satunya pintu di ujung lorong. Ruangan kecil dengan satu mesin cuci, dua lemari tinggi, dan satu rak berisi detergen, mungkin. Yuki tidak pernah mencuci.


"Letakkan di sini Hachibara san, terima kasih." Ucap Nana menunggu Yuki pergi namun gadis bermata biru itu sibuk menyusuri ruangan dengan matanya.


"Boleh aku menemani senpai di sini?." Tanya Yuki, setidaknya ia harus tahu cara mencuci handuk sebelum gilirannya datang nanti. Nana tersenyum.


"Tentu, kamu bisa duduk di kursi itu." Yuki menoleh ke samping ada dua kursi dan meja kecil di sana.


Untuk apa ada kursi dan meja di tempat cuci seperti ini, batin Yuki.


"Tidak, aku akan membantu senpai." Nana mengambil sarung tangan plastik dari kotak memberikan satu pasang kepada Yuki.


"Pakai ini." Yuki menerimanya dan memasang dengan hati-hati.


Nana membuka mesin cuci, ia mulai memasukkan handuk ke dalam mesin, Yuki segera membantunya.


"Aku rasa seharusnya ada lebih banyak handuk." Ujar Yuki.


"Yang satu kranjang lagi sudah aku cuci, sudah kering dan sudah aku lipat." Jawab Nana.


"Sendiri?." Tanya Yuki.


"Tidak, tadi aku dibantu Akiko." Yuki mengamati tangan Nana menakar detergen memasukannya ke dalam mesin lalu memencet tombol start.


"Kita tunggu dulu." Yuki melepas sarung tangannya memasukan ke dalam tempat sampah yang ada di pojok ruangan.


"Apa menjadi manajer berat?." Lanjut Nana bertanya kepada Yuki.


"Ya." Jawab Yuki singkat, ia duduk di sebelah Nana.


"Kamu tidak menyukainya?."


Apa ini introgasi, batin Yuki.


"Lama-kelamaan nanti kamu akan merasakan bagaimana semangat para pemain mempengaruhimu, menjadi salah satu bagian dari mereka, menyemangati di tribun penonton." Sambung Nana setelah Yuki tidak kunjung menjawab.


"Ikut senang jika mereka senang dan tim memenangkan pertandingan, ikut sedih jika melihat mereka sedih. Selain itu." Nana tiba-tiba menoleh menatap Yuki.


"Apa senpai?." Tanya Yuki yang mendapatkan tatapan tiba-tiba. Nana tersenyum kepadanya.


"Bukankah para pemain sangat kocak dan asik, aku melihat Nakashima kun mengganggumu tadi." Yuki mengingatnya.


"Untung ada anak kelas tiga dan kelas dua yang datang, kalau tidak mungkin Nakashima kun terus memaksamu."


Hm .., kelas tiga, pantas terlihat lebih dewasa, batin Yuki mengingat laki-laki tak dikenal.


Yuki dengan tenang mendengarkan penjelasan dan cerita tentang klub baseball sekolahnya, juga tentang kamp pelatihan musim panas yang akan diadakan setelah ujian. Tidak terasa mesin cuci sudah berhenti berputar membunyikan suara biip .., biip .., pertanda sudah selesai.


Nana mengambil keranjang bersih membuka mesin cuci mengambil handuk dari dalam mesin. Yuki ikut membantu, setelah handuk berpindah semua ke keranjang mereka mengangkatnya keluar. Yuki melihat Nana mulai menjepit satu persatu handuk, tangannya mulai meniru Nana.


Lorong kecil di depan ternyata tempat untuk menjemur handuk yang sudah di cuci, atap yang rapat tidak memungkinkan air hujan bisa masuk.


Setelah beberapa saat Yuki dan Nana kembali ke ruang ganti, rumah senior Yuki ternyata lumayan jauh, Nana menggunakan kreta sebagai alat transportasinya. Bahkan Nana harus berjalan dari sekolah menuju stasiun, jarak waktunya sama seperti rumah Yuki ke sekolah.


Yuki kembali mengulas dirinya.


"Hachibara san, aku duluan, terima kasih untuk bantuannya." Kata Nana sebelum keluar dari ruang ganti.


"Sama-sama senpai, aku juga belajar banyak hari ini berkat senpai." Balas Yuki dengan sopan. Nana tersenyum lalu pergi.


Me.


Bagaimana keadaan Jaeha?.


Yuki mengirimkan pesan kepada Jun Ho, ia teringat anak yang ditinggalkannya di korea. Yuki sadar ada orang lain yang berjalan di sampingnya, tanpa menoleh Yuki mengajukan pertanyaan.


"Sudah lama menunggu?." Yuki masih sibuk dengan ponselnya.


"Tidak." Jawab Hajime.


"Senpai tidak perlu menungguku." Balas Yuki.


"Arah rumah kita sama."


"Hm."


"Apa hari pertama sangat sulit?."


"Hm." Yuki memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Bahkan aku diteror dua pitcher maniak untuk mengajari mereka." Lirih Yuki.


"Aku juga ingin menerormu untuk melempar kepadaku, bolamu waktu itu masih sangat terasa di tanganku." Sambung Hajime menatap tangan kanannya. Yuki memutar bola matanya.


"Senpai juga maniak baseball?."


"Mungkin." Jawab Hajime.


"Kakak beradik sama." Hajime tersenyum kecil.


"Mungkin."


Mereka berjalan dalam keheningan malam itu, jam menunjuk angka tujuh.


"Aku tidak berpikir bisa bertahan lebih lama lagi." Hajime melirik Yuki, angin malam menerbangkan sedikit rambut hitamnya.


"Kenapa?."


"Besok para manajer mau membuat onigiri (nasi berbentuk segitiga dengan beragam isian) untuk para pemain." Hajime tahu keresahan Yuki.


"Mau aku beritahu Nana, kamu tidak bisa memasak?." Yuki melirik Hajime sebentar.


"Tidak usah." Jawab Yuki lalu ia berpikir kembali.


"Tapi kalau nanti aku menghancurkan dapur kantin bagaimana?." Raut wajah Yuki berubah serius.


"Pelan-pelan saja." Hajime memberikan masukan. Yuki menggeleng pelan.


"Aku sudah membuat kekacauan di dapur Hazuki kemarin." Yuki membuka kedua tangannya menatap lekat-lekat telapak tangan itu.


Apa bedanya memegang pisau bedah dan pisau dapur, hanya beda ukuran. Aku tidak pernah membayangkan memasak sesulit ini, gerutu Yuki dalam hati.


Yuki mengalihkan pandangannya dari tangan menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Aku akan kabur besok." Ucap Yuki penuh keyakinan.


"Pfff." Hajime segera menutup mulutnya.


"Apa yang bisa di harapkan dari tanganku." Hajime menatap Yuki dari samping, wajah Yuki sudah tidak terlihat sendu lagi.


"Apa Shinichi bisa menghiburmu?." Yuki mengangkat satu alisnya, kenapa senpai tiba-tiba bertanya seperti itu?, batin Yuki.


"Kamu terlihat lebih baik dari kemarin." Imbuh Hajime.


"Maaf untuk yang kemarin, aku tidak bermaksud melakukan itu kepada senpai."


Aku benar-benar tidak bermaksud memeluknya, lanjut Yuki dalam hati.


"Hm, Keiji murung setelah latihan kemarin. Dia menyesal telah meledekmu."


"Tidak, sama sekali bukan kesalahan Keiji kun, itu sudah hal biasa kita lakukan. Bisa senpai beri tahu dia."


"Hm."


"Aku dan Keiji tidak akan bertanya apa yang mengganggumu, tapi jika ada apa-apa kamu boleh meminta bantuan kami." Kata Hajime, laki-laki itu terlihat sangat dewasa, tidak hanya sikapnya namun tutur katanya juga. Yuki tersenyum kecil menoleh membalas tatapan Hajime.


"Hm, aku akan mengandalkan kalian." Balas Yuki, Hajime ikut tersenyum setelah melihat senyum kecil Yuki.


Besoknya Yuki masih memaksa Kudo untuk melanjutkan penjelasan laki-laki itu, Natsume yang merasa kehilangan terus-terusan menatap Yuki dari bangku Ueno.


"Natsume chan kenapa tidak ikut duduk di sana saja." Ujar Ueno melihat wajah cemberut Natsume.


"Aku tidak ingin mengganggu mereka." Jawab Natsume.


"Kamu hanya duduk tidak mengganggu." Ueno meyakinkan.


"Aku tidak akan meninggalkanmu Ueno chan." Ueno tertawa kecil.


"Apa yang lucu?." Sewot Natsume.


"Tidak ada." Ueno menghentikan tawanya.


"Sudah jangan cemberut lagi, makan siang nanti kan Hachibara san bersama kita." Kata Ueno.


"Hmm .., lihat." Natsume menunjuk jendela kelas dengan dagunya.


"Kenapa?." Ueno menoleh ke arah yang di tunjuk Natsume.


"Sepertinya bukan hanya aku yang cemberut." Lirih Natsume.


Beberapa anak laki-laki dari kelas sebelah dan anak perempuan dari kelas Natsume maupun kelas-kelas lain berkasak-kusuk sesekali melirik Yuki dan Kudo.


"Aaah, aku kenal salah satu perempuan di sana." Natsume langsung melirik Ueno.


"Siapa?."


"Salah satu juniorku di smp, dia anak cheerleader. Mungkin mereka menyukai Kudo san." Natsume kembali menatap punggung Yuki.


"Hmm .., aku dengar Kudo kun masuk majalah sport remaja. Apa dia seterkenal itu?." Tanya Natsume.


"Ung. Saudara sepupuku sering bercerita tentang Kudo san."


"Sepupumu anak klub baseball juga?." Tanya Natsume.


"Ya, sepertinya mereka sudah menjadi rival sejak smp." Jelas Ueno.


"Wow, menarik."


Natsume melihat Yuki berjalan ke arah mereka.


"Sudah kembali?." Tanya Natsume setelah Yuki sudah duduk di bangkunya.


"Aku mau ke toilet sebentar." Ucap Yuki mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Mau aku temani?." Tawar Natsume.


"Aku tidak akan tersesat Hazuki." Natsume mempautkan bibirnya kesal.


Yuki pergi ke toilet untuk mencuci tangannya lalu ia berjalan menaiki tangga menuju atap sekolah.


Setelah melihat tidak ada orang Yuki menempelkan ponselnya ke telinga.


"Ya gadis nakal."


"Bagaimana keadaan Jaeha?." Tanya Yuki yang tidak mendapatkan balasan dari pesannya kemarin.


"Ah mian (maaf) aku baru membuka ponselku beberapa menit yang lalu. Dia baik-baik saja, tiga hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu di jalan." Jawab Jun Ho.


"Bagaimana dengan anak panti yang lain?."


"Mereka juga baik-baik saja, jangan khawatirkan mereka pengawalmu melakukan tugasnya dengan baik."


"Karena tidak bisa mendapatkan laporan apa pun, sedikit membuatku kesal." Yuki menatap lapangan sepak bola yang ramai oleh siswa yang bermain di sana.


"Berkatmu anak-anak semangat belajar, apa lagi Jaeha. Anak itu tumbuh tinggi, bertambah lima senti sekarang." Yuki tersenyum.


"Gadis nakal." Panggil Jun Ho.


"Hm."


"Aku sudah membuat beberapa pil tambahan, berikan aku alamatmu. Akan segera ku kirim." Yuki menatap lurus besi penghalang di depannya.


"Apa karena sibuk membuat pil kamu baru membuka ponselmu Jun Ho si." Terdengar kekehan Jun Ho di sebrang sana.


"Ya, selain itu aku sedang belajar sesuatu tentang penyakitmu." Yuki menaikan alisnya.


"Kita sudah mempelajarinya, aku juga sudah sembuh, tidak ada yang perlu di pelajari lagi." Ucap Yuki datar.


"Gadis nakal, dengarkan aku." Suara Jun Ho berubah serius.


"Firasat baikku tidak selalu benar tapi, firasat burukku pasti terjadi."


"Apa maksudmu?." Tanya Yuki.


"Ingat, dulu dua kali aku menghubungimu memberitahukan mimpi burukku bukan, dan dua-duanya benar. Dua kali kamu dalam bahaya." Yuki mencerna kata-kata Jun Ho.


"Dan sekarang?." Jun Ho melepas seragam dokternya berjalan ke buku catatan kecil milliknya, membuka data-data hasil penelitian penyakit Yuki yang mereka berdua lakukan. Jun Ho membuka suara menjawab Yuki.


"Firasat burukku tentangmu muncul lagi." Yuki memutar bola matanya malas.


"Sepertinya hal-hal buruk menyukaiku."