Futago

Futago
Di Balik Rasa.



Pemakaman di negara mana pun pasti menguarkan aura mistis yang tidak mengenakan. Namun di sanalah berdiri lima pria serba hitam. Wajah mereka tertutup rapat oleh kain, menyisakan sepasang mata tajam.


"Move!."


Wooooossshhh .....


Wooooossshhh .....


Wooooossshhh .....


Wooooossshhh .....


Wooooossshhh .....


"Halo .., ojou chan. Apa anda bisa mendengarku?." Suara dari headphones di telinga Yuki. Gadis itu membenarkan letak bulatan hitam di depan mulutnya.


"Ya." Jawab Yuki.


"Apa mereka sudah bergerak?." Tanya Dazai. Yuki menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.


"Ya. Mereka mulai masuk ke dalam villa. Persiapanmu sudah selesai?." Yuki sedang menyusup ke beberapa jaringan setempat sekaligus.


"Ya. Saya sudah mengecek ke otomatisannya." Dazai membalikan badan untuk melihat pintu dan tangga yang sudah ia persiapkan.


Kalau begini tidak memerlukan orang lain untuk membuka pintu dan mengulurkan tangga, batin Dazai kembali ke posisinya.


"Kapan kita terbang, ojou chan?." Dazai mengecek sabuk pengamannya.


"Sepuluh menit lagi." Jawab Yuki, jarinya semakin lincah, maniknya tidak berkedip sama sekali.


Di lain sisi, di dalam villa yang gelap gulita. Kakek Ryuu dan Mizutani bergerak sangat halus namun tegas mendekati pintu terakhir yang belum mereka periksa.


Mizutani mengangkat lima jarinya memberikan kode kepada kakek Ryuu untuk berhenti. Yang lain juga menunggu aba-aba. Mizutani menekuk kedua lututnya berjongkok memeriksa lantai.


Bekas kursi roda, batinnya.


Sesuai dengan penjelasan Yuki, ada wanita tua masuk ke dalam villa dengan kursi roda. Mizutani menganggukkan kepala pelan. Ia kembali beranjak berdiri, membuka perlahan pintu itu.


Krriiieettt ...


Mizutani menajamkan penglihatannya di tempat gelap gulita itu.


Swwwiiiitttzzz ...


Je si burung hantu menerobos masuk. Matanya yang berwarna hijau berkelip redup, memudahkan para bayangan melihat posisi burung itu.


Je turun ke tengah-tengah lantai, kembali terbang menuju sisi dinding. Terdiam sebentar. Jari-jari kecil robot itu keluar dari dalam perut.


Duuuuzzzzhh ...


Lantai jatuh ke bawah. Pintu besar dengan tangga kecil di masing-masing sisi, sedangkan tengahnya datar yang di yakini sebagai jalur kursi roda.


Je melayang di tengah jalan rahasia itu.


Untuk kali ini para bayangan bersyukur atas kehadiran burung hantu itu.


Flashback.


Di dalam bus sebelum mereka berpencar Yuki mengeluarkan Je melayang ke langit-langit bus.


"Nanti malam Je akan ikut dengan kalian. Dia akan membantu untuk membuka pintu rahasia dengan cepat. Je juga memiliki sensor perangkap atau apa pun yang berbahaya." Jelas Yuki.


"Data lengkap Tsuttsun sudah di input, tidak perlu khawatir. Je tidak akan terbang jauh dengan Tsuttsun kecuali jika ia merasa harus bersembunyi." Yuki melirik Mizutani.


"Akan sulit jika aku terbang dan mengoperasikan Je sekaligus. Aku titip Je padamu." Ucap Yuki menatap lurus manik Mizutani.


"Aku mengerti. Aku akan melindunginya." Jawab Mizutani.


Flashback off.


Wooooossshhh .... !!!


Mereka bergerak serempak bak hembusan angin. Terus meluncur ke bawah. Mizutani yang bergerak paling depan mengangkat tangan kirinya ke atas. Lalu.


Grep!.


Tiba-tiba ia menggenggam udara kosong. Itu adalah tanda.


Wooooossshhh ....


Wooooossshhh ....


Wooooossshhh ....


Wooooossshhh ....


Wooooossshhh ....


Mereka berpencar. Kecepatan lari mereka sedang di uji sekarang. Manik yang terus siaga memperhatikan apa pun yang mereka lewati namun tetap fokus dengan tujuan.


Tuk.


Mizutani meletakan bola ping pong hitam di pojok lorong. Ia langsung berbalik mengayuh cepat kakinya, menuju lorong selanjutnya. Data panjang lorong dan jumlah waktu yang harus di tempuh sudah di hitung oleh Yuki dengan sangat akurat. Memudahkan tugas para bayangan.


"Apa kamera cctv masih bermasalah?." Mizutani mendengar suara dari kejauhan.


Pria itu menajamkan indera pendengarannya.


Dua orang, batin Mizutani.


Ia langsung melontarkan dua jarum sekaligus dari moncong pistolnya setelah memperhitungkan letak kedua orang itu akan muncul.


"Ap yang gkh!."


BRUK!.


BRUK!.


Dua orang itu ambruk sebelum menyadari apa pun.


Wooooossshh ...


Mizutani dengan lompatan lebar melewati tubuh tergeletak di lantai. Setelah kakinya menapak kecepatan kayuhannya pun semakin kuat. Langkah tanpa suara, dan kecepatan, itu adalah kedua hal yang sangat penting harus di miliki para bayangan.


Mizutani melirik sebuah ruangan kaca yang ia lewati. Sekelebat pikiran muncul di kepalanya. Di tempat itu banyak sekali benda canggih, BD juga pernah berada di sana. Tapi kenapa gadis itu membiarkannya begitu saja untuk di ledakan?. Apakah gadis itu tidak ingin mencari jejak BD atau sesuatu yang bisa menjadi petunjuk?.


Aneh, batin Mizutani.


Kenapa ojou san membiarkan para agen-agen itu yang masuk ke sini?, lanjutnya dalam hati.


Di saat ke lima bayangan sibuk menyusup gadis bermanik biru itu menutup laptopnya lalu melemparkan laptop itu ke luar jendela. Tangan yang lain mengacungkan pistol peredam suara.


Boom ..!.


Laptop meledak menjadi serpihan-serpihan kecil. Ia melakukannya untuk mengecoh jaringan keluarga utama yang pernah meretas villa itu tujuannya membuat bingung anggota klan naga putih. Setelah meretas kamera cctv mereka beberapa menit yang lalu, pasti sudah memancing kecurigaan mereka.


Yuki memakai jaringan setempat. Jadi, ada dua jaringan yang meretas mereka. Untunglah kemarin Yuki meminta Agung menghapus jejak jaringan kediaman utama dan menyisakan sedikit jejak abstrak yang sulit di tebak.


"Dai chan. Kita terbang sekarang." Yuki memberikan aba-aba.


"Di mengerti." Jawabnya.


Kedua helikopter itu membumbung tinggi ke langit malam. Yuki melirik jam tangannya. Sepuluh menit yang di butuhkan untuk sampai ke sana. Untunglah villa itu berada di kaki gunung tepat di belakang pemakaman. Hanya ada dua tetangga yang cukup jauh dari villa. Itu sangat menguntungkan Yuki. Suara bising helikopter mereka tidak akan terdengar.


Membelah langit malam Yuki melirik ke bawah, menurunkan ketinggian helikopter. Tinggal dua menit lagi sebelum menit ke dua puluh delapan. Ia sengaja menyisahkan dua menit untuk memberikan waktu efek ledakan dan kedatangan para agen.


Je memberikan sinyal pada jam tangan Yuki. Gadis itu segera menghubungi Dazai yang berada di helikopter lainnya.


"Dai chan, mereka akan segera keluar. Hitung mundur. Lima," Yuki melirik ke lampu-lampu di bawah sana.


"Empat." Dazai sudah bersiap di tempatnya.


"Tiga."


"Dua."


"Satu."


Greekkk!!.


Dazai dan Yuki mendorong tuas di pundak sebelah kanan mereka yang terhubung dengan pintu. Rancangan dadakan dari gadis itu.


Wuuuussshhh ...


Angin malam menerobos masuk. Terbukanya pintu belakang helikopter menarik tangga terlontar ke luar. Bersamaan dengan itu lampu-lampu di bawah sana seketika padam.


Zzzzztttsss ... Zzzzztttsss ....


Suara aliran listrik. Setidaknya itu akan menghambat para agen barang satu menit. Yuki melirik ke bawah, para bayangan berlari menggapai tangga. Yuki segera menarik tuas kemudi. Satu detik kemudian. Tanah-tanah di sekitar villa bergetar hebat karena guncangan.


Boom!. Boom!. Boom!. Boom!.


Suara bom-bom itu teredam dari bawah. Yuki menambah kecepatan helikopter melambung semakin ke atas. Maniknya melirik tajam ke atap villa yang mengepulkan asap. Dan saat itu, kala penghuni villa bawah tanah keluar terbirit-birit, mereka langsung di sambut oleh kedatangan para agen dari beberapa negara sekaligus. Agen-agen itu keluar dari segala penjuru. Mereka tidak sempat untuk terkejut. Karena musuh mereka berada tepat di depan mata.


Brak!.


Pintu tertutup dengan keras oleh penumpang terakhir. Mereka langsung melepas kain yang menutupi wajah. Je melayang di atas pundak kiri Yuki.


"Ojou sama. Tadi hampir saja. Agh, gila. Itu menegangkan." Komentar Akashi dengan senyum lebarnya.


"Perhitungan waktu yang sempurna, ojou sama." Sambung kakek Ryuu tersenyum bangga kepada Yuki.


"Kalian menikmatinya, tuan-tuan?." Balas Yuki.


"Ya, orang tua ini kembali merasa muda setelah merasakan adrenalin seperti tadi." Balas kakek Ryuu. Yuki tersenyum manis.


Di dalam helikopter lain pun tak kalah ramai.


"Wooooww ...!. Dazai kamu lihat tadi!. Ini benar-benar gila." Hiza yang biasanya tidak berteriak kini sedang menggebu-gebu mengomentari apa yang telah mereka lakukan beberapa menit yang lalu.


"Mereka di bawah kakiku. Saling menyerang. Bagaimana bisa para agen itu datang tepat waktu?." Komentar Ogura menatap kaki gunung di belakang mereka yang semakin menjauh.


"Pemadaman tadi ulah ojou sama. Memberi sinyal kepada para agen kalau apa yang mereka cari sudah dekat. Bukankah pemadaman listrik tiba-tiba akan menimbulkan kecurigaan?. Saat para agen berhenti untuk memutuskan maju atau menyebar di saat itulah tanah bergetar hebat. Bergetar tak lazim. Susul menyusul. Dan," Dazai menggantungkan kalimatnya.


"Meyakinkan mereka kalau ada yang tidak beres. Memutuskan maju untuk memeriksanya." Lanjut Hiza ikut berpikir.


"Dan saat itu bertepatan dengan klan naga putih yang keluar dari sarang mereka." Sambung Ogura. Dazai tersenyum sangat lebar.


"Rencana yang sangat matang bukan. Hahaha, sekaligus pelarian yang sukses!." Seru Dazai gembira.


Kembali ke helikopter Yuki. Gadis itu di serbu pertanyaan oleh Mizutani.


"Kenapa kamu tidak menyelidiki markas mereka?." Senyum bahagia Akashi yang masih memikirkan aksi mereka tadi segera luntur mendengar pertanyaan Mizutani.


"Tidak perlu. Tidak ada yang penting di bawah sana." Jawab Yuki.


"Lalu kenapa kamu menggiring para agen ke villa itu?." Tanya Mizutani lagi. Kakek Ryuu juga penasaran dengan ini.


"Kalau mereka lain cerita. Di sana kemungkinan besar ada petunjuk kejahatan klan naga putih kepada negara-negara itu. Aku hanya membantu mereka menemukannya." Jawab enteng Yuki.


"Jika hanya salah satu agen yang datang kemungkinan klan naga putih akan lolos. Dan salah satu tangan kanan BD akan melarikan diri lagi." Lanjut Yuki.


"Di hutan belakang villa kalian tidak melihat sesuatu?." Tanya Yuki.


"Tidak." Jawab Akashi.


"Ada bayangan bergerak. Mungkinkah masih ada agen yang belum keluar?. Apa mereka melihat kita?." Sambung kakek Ryuu tenang.


"Mereka bukan agen mana pun. Mereka yakuza yang hendak membalas dendam. Kedatangan terlambat mereka sangat menguntungkan karena tangan kanan BD sempat berlari ke arah mereka." Jawab Yuki.


Mizutani memijat dahinya. Bagaimana bisa mata indah itu mengamati sejauh itu?, batinnya.


"Tenang saja, mereka tidak melihat kita. Kalian semua tepat waktu. Sangat luar biasa. Membuatku iri ingin memiliki kaki seperti kalian." Jujur Yuki.


Ketiga bayangan menyandarkan punggung masing-masing.


"Kakek Ryuu, anda baik-baik saja?." Tanya Akashi yang melihat kakek tua itu memejamkan mata.


"Berikan aku waktu istirahat. Aku sempat menendang tiga naga putih kurang ajar itu."


Yuki tersenyum lembut. Dengan ini misi mereka sukses.


***


Negara yang terkenal dengan keromantisannya. Gadis bermanik biru itu sedang menikmati lemon tea dan angin musim panas terakhir di salah satu bangku restoran terbuka.


Pemandangan laut dan musik lembut dari pemain orkestra tidak mampu menenangkan pikirannya. Mizutani segera kembali ke osaka untuk pertandingan final di koshien. Para bayangan yang lain juga segera berpencar setelah helikopter mendarat. Tersisa Dazai bersamanya.


"Ekhem!. Ada urusan apa kalian dengan gadisku?." Suara berat tajam itu berasal dari pria yang berdiri di sampingnya.


"What?!. Ough sorry bro, i think she's single." Balas pria hidung belang yang hendak duduk di samping gadis itu.


Dazai terus menatap pria yang berjalan menjauhi meja mereka.


Srek.


Ia menarik kursi di samping Yuki seraya menggerutu.


"Sudah empat pria mata keranjang yang mencoba mendekati anda ojou chan. Apa mereka tidak melihat kalau anda sedang bersama orang lain." Yuki tersenyum tipis.


Sudah empat kali juga Dazai mengaku Yuki sebagai gadisnya untuk menjauhkan gadis itu dari para predator.


"Sepertinya enak." Yuki mengalihkan perhatian Dazai dengan menunjuk dua piring burger beserta kentang goreng dan satu piring ayam pedas.


"Akh, benar. Aku tidak sabar dengan para pelayan, makanya mengambil ini langsung tadi." Dazai tersadar lalu menyodorkan satu piring lebar itu kepada Yuki meletakan ayam pedas di tengah meja.


"Terima kasih." Yuki mengambil gigitan pada burgernya.


Dazai tersenyum simpul. Ikut menikmati makanannya. Sesekali ia melirik Yuki lalu menatap pemandangan laut di depan mereka.


Para bayangan sudah mendengarkan cerita dari kakek Ryuu kalau ada yang tidak beres dengan ketua mereka. Mungkin karena guncangan jiwanya yang baru membunuh secara langsung. Menurut Dazai dan Mizutani bukan hanya karena alasan itu ketua mereka terlihat berantakan.


Pasti ada yang lain. Tapi melihat sifat tertutup gadis itu membuat mereka sulit mencari tahu. Mizutani sejak kemarin juga mencoba untuk membuat gadis itu membuka mulut namun pertahanan Yuki sangat rapat. Dazai yang melirik Yuki sudah menghabiskan burgernya, dengan cepat sudah beralih menikmati kentang goreng.


Dazai sedikit lega, setidaknya gadis itu sudah kembali bernafsu makan.


"Ojou chan." Panggil Dazai meletakan sisa burgernya di atas meja.


"Hm?." Yuki bergumam, manik biru itu terus menatap jauh ke lautan.


"Apa anda tidak mempercayai kami?." Dazai mencoba untuk menatap wajah datar gadis itu.


"Aku percaya." Jawab Yuki memasukan kentang goreng ke dalam mulut.


"Rencana anda memang sangat berlian. Tapi, tidak ada salahnya meminta kami untuk ikut membantu." Gadis itu melirik sekilas ke samping, manik mereka sempat bertemu sebentar.


"Kalian sangat membantu. Tidak ada yang salah dengan itu." Yuki beralih mengambil ayam pedas dari piring.


"Dai chan." Dazai terkejut tiba-tiba namanya di panggil.


"Y Ya, ojou chan?."


"Kamu masih mengingat memori yang aku perlihatkan satu tahun lalu?." Tanya gadis itu seraya menunjuk kepalanya sendiri.


"Ya." Gadis itu membersihkan tangannya untuk menyesap minumannya.


"Begitu juga saat aku menerobos masuk ke dalam ingatan orang lain. Itu yang membuatku terus membayangkannya." Jelas Yuki tidak sepenuhnya berbohong.


"Aku baik-baik saja. Hanya perlu waktu sebentar untuk mengolah emosi dan melakukan sesuatu dengan ingatan-ingatan itu." Yuki tersenyum sekilas.


"Anda terlalu memaksakan diri." Yuki meletakan gelasnya.


"Daren dono juga berhasil melakukan negosiasinya dengan kaisar negeri bhutan. Anda bisa istirahat sebentar." Lanjut Dazai yang juga mendapatkan laporan dari Ame.


"Ung. Mungkin satu hari liburan tidak masalah. Kita masih banyak pekerjaan setelah mendapatkan kabar baik itu bukan." Yuki menanggapi dengan tenang.


"Kami," Yuki segera memotongnya.


"Dai chan, terima kasih. Aku masih membutuhkan kalian." Dazai menganggukkan kepalanya sekilas lalu kembali memakan burgernya.


Setelah dari restoran mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kota paris. Beberapa kali Dazai menawarkan untuk memotret Yuki namun gadis itu menolaknya. Akhirnya sore itu mereka memutuskan duduk di salah satu bangku bundar di depan taman penuh bunga. Dazai berpamitan kepada Yuki untuk mencari minum dan sesuatu untuk di makan.


Yuki memutar ponselnya seperti gasing di atas meja. Pikirannya kembali melayang. Kepada siapa ia harus bertanya?. Bagaimana caranya mengatasi yang sedang ia rasakan?. Yuki merasa dirinya berubah menjadi orang bodoh dan idiot.


Saat itu layar ponselnya menyala dan bunyi notifikasi lirih tertangkap oleh telinganya. Ia menghentikan putaran ponsel. Yuki menatap nama itu cukup lama. Jarinya bergerak membalas pesan itu. Bunyi notifikasi kembali terdengar. Ia menekan nomor itu lalu menempelkan ponselnya di telinga.


"Yu .., chaaaannn !!." Yuki menjauhkan ponselnya sebentar sebelum kembali menempelkannya.


"Hazuki." Tegur gadis itu.


"Hahaha maaf maaf, soalnya aku sangat senang kamu menelfonku." Suara riang itu tidak berubah. Yuki memutar bola matanya.


"Jangan memutar matamu." Bagaimana Hazuki tahu?, batin Yuki. Suara ceria gadis itu tiba-tiba berubah serius.


"Ada apa?. Apa ada yang menyakitimu?. Apa menejer junior voli itu membuat masalah lagi?." Pertanyaan beruntun dengan nada tenang itu membuat Yuki merinding. Tidak biasanya gadis gila yang tidak bisa diam itu berubah tenang.


"Tidak." Jawab Yuki.


"Lalu?. Siapa?. Hotaru?." Yuki menggelengkan kepalanya yang tentu saja tidak bisa di lihat oleh lawan bicaranya.


"Benar-benar ya Hotaru. Minta aku tampar lagi." Natsume menggebu-gebu di sebrang sana.


"Bukan Hotaru." Seketika hening. Tidak ada suara dari sebrang.


"Aku akan mendengarkan. Apa pun itu. Yu chan, jangan pendam semuanya sendiri." Suara Natsume kembali tenang. Yuki menghela nafas panjang.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana?." Jujur Yuki. Sedangkan gadis di sebrang sana bisa merasakan bahwa temannya itu sedang dalam kegelisahan.


Natsume keluar dari ruangan band, mencari udara segar dan tempat yang nyaman untuk mendengarkan.


"Pelan-pelan saja." Ucap Natsume. Mendengar itu Yuki semakin frustasi. Ia mengepalkan tangannya.


"Yu chan?." Panggil Natsume setelah lama tidak mendapatkan jawaban.


"Kamu ingat saat aku mengatakan pernah kencan dengan seseorang?." Yuki berusaha untuk menceritakannya kepada Natsume.


"Ung. Kalian sudah resmi pacaran?." Yuki menatap lurus bunga yang bergoyang karena kupu-kupu yang hinggap.


"Dia meninggal empat tahun yang lalu. Setelah aku menerima perasaannya." Tenggorokan Natsume tercekat. Bahkan ia sempat lupa untuk bernafas.


"Dua tahun kemudian aku kembali ke jepang. Sebenarnya aku tidak memiliki penyakit leukimia." Gadis bermanik biru itu menghela nafas sebentar sebelum menjelaskan lagi.


"Aku hilang ingatan." Yuki sedikit berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Apa karena itu kamu tidak langsung pulang ke rumahmu di hyuga miyazaki?. Karena sakit kepalamu?." Suara Natsume kembali meski lirih.


"Ung. Kamu ingat laki-laki yang selalu bersama Hotaru?." Tanya Yuki.


Tentu saja!, mana bisa ia melupakan laki-laki setampan itu, bahkan banyak siswi sekolah mereka yang diam-diam menggosipkan laki-laki itu, batin Natsume.


"Ya. Kenapa dengan dia?." Natsume bersabar menunggu Yuki menjawabnya.


"Apa kamu pernah dengar kalau dia teman masa kecil kami?." Natsume langsung memutar otak, menebak arah pembicaraan mereka.


"Yu chan, jangan-jangan. Teman masa kecilmu itu menyatakan perasaannya padamu tapi ingatanmu belum kembali. Dan kamu merasakan perasaan yang mengganjal di hatimu tapi kepalamu tidak bisa mengingat apa-apa?. Benar begitu?." Yuki sontak terkejut.


Kenapa Hazuki berubah pintar kalau masalah seperti ini, batin Yuki menghela nafas panjang.


"Salah?." Lirih Natsume.


"Tidak sepenuhnya." Jawab Yuki jujur.


"Aku akan mendengarkan." Balas Natsume.


Yuki mengedarkan pandangannya menatap pasangan-pasangan yang berjalan bersama. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Hazuki." Lirih Yuki yang di jawab cepat oleh sang empu.


"Hm?."


"Akan mudah jika ingatanku belum kembali." Pengakuan lemah Yuki membuat hati Natsume bergetar.


"Aku sudah mengingatnya. Kenangan bahagia kami bersama. Yang sekarang berubah menyiksaku. Hazuki .., rasanya sangat menyakitkan." Yuki tanpa sadar meremas hoodynya tepat di dada.


Natsume bergeming. Ini pertama kalinya gadis datar, cuek, dingin itu berbicara dengan suara llirih yang menyayat hati. Kini giliran Natsume memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu namun hanya panggilan lirih yang keluar dari mulutnya.


"Yu chan ..."


"Hazuki, apa yang harus aku lakukan?." Natsume kembali tercekat.


"Sekarang kamu masih menyukainya?." Natsume berusaha membuka suaranya meski terasa sulit.


"Aku tidak tahu." Jawaban lirih Yuki membuat Natsume ingin berlari memeluk gadis itu.


"Kamu belum mengikhlaskan dia yang sudah pergi?. Seseorang yang pernah mengisi hatimu." Natsume memperjelas.


"Aku tidak akan pernah bisa melupakannya." Jawab Yuki tegas.


Tidak mungkin aku melupakan kak Dimas, batin Yuki.


"Dia akan sedih jika melihatmu terus terjerat dengan hubungan kalian yang sudah sangat lama berakhir." Yuki terdiam dengan jawaban Natsume.


"Yu chan, hubungan kalian sudah berhenti sejak dia pergi. Tidak mungkin kamu berpacaran dengan dirimu sendiri." Yuki masih diam.


"Jangan melarikan diri dari perasaanmu. Dia datang untuk menjemput cintanya yang sudah lama pergi. Bagaimana dengan kamu?. Apa kamu benar-benar tidak menyukai teman masa kecilmu itu?."


Hening.


"Hazuki, aku ..." Natsume menyerobot Yuki.


"Tidak perlu ada yang di takutkan Yu chan. Mantanmu tidak akan murka jika kamu menerima laki-laki lain. Jangan menyiksa dirimu sendiri." Diam-diam Yuki menelan salivanya kasar. Gadis itu menggigit kuat bawah bibirnya.


"Mantanmu adalah cerita indah di masa lalu. Kini cobalah untuk melihat lembaran baru yang menunggumu untuk mengisinya. Jangan bohongi perasaanmu." Sejak tadi Natsume yang mulai paham apa yang di rasakan Yuki memberikan sedikit pencerahan dengan nada lembut.


"Terima kasih Hazuki, aku akan menghubungimu lagi nanti." Ucap Yuki menahan suaranya agar tidak bergetar.


"Ung. Telfon aku kapan saja Yu chan."


Tuuuuttt ...


Bruk!.


Gadis bermanik biru itu langsung telungkup di atas meja, menyembunyikan wajahnya. Tangan kanannya mencengkeram erat benda pipih itu, sedangkan tangan kirinya memukul-mukul dadanya. Ia dengan rakus meraup udara sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru yang sempat kosong.


Jangan menangis. Jangan menangis. Jangan menangis, batinnya.


Tapi bibirnya tidak mendengar seruan hati gadis itu. Bibirnya bergetar hebat, paru-parunya semakin terasa sesak. Suara yang selalu ia tolak kembali menggema di gendang telinganya.


"Yuu ..!, kamu tidak apa-apa?."


Byuuurr ...


Kaki pendek itu tanpa ragu masuk ke dalam danau, berlari menghampirinya. Suara anjing terus menyalak menggonggongi mereka semakin membuat Yuki ketakutan.


Grep!.


Lengan kecilnya memeluk lembut memberikan kenyamanan kepada Yuki, menenangkannya dengan suara tenang yang halus.


"Anjingnya sudah aku ikat. Dia tidak akan kemari." Lengan Yuki yang lebih kecil langsung meraup punggung yang membuatnya selalu merasa aman.


"Dia mengejarku. Hiks!. Aku hampir di gigit olehnya. Hiks!." Tangan kecil itu menepuk-nepuk punggung Yuki.


"Aku sudah memukulnya untukmu." Mendengar itu manik birunya melebar dan mendorong kuat tubuh Fumio.


Yuki melihat baju robek-robek dan darah yang merembes keluar bercampur dengan air danau. Yuki baru tersadar Fumio telah bergulat dengan anjing gila itu untuk menolongnya.


"Rabies. Racun. Eiji!. Kamu tidak akan mati kan?!." Jerit ketakutan Yuki.


"Hahahaha ..." Suara tawa Fumio membuat Yuki lebih tenang.


"Aku seorang pelindung tidak akan mati karena gigitan anak anjing." Jawabnya.


Gadis itu tentu saja tidak percaya. Suara dari belakang mereka membuat semuanya lebih aman.


"Yuki ..!. Astaga. Eiji!." Hotaru datang bersama Fumihiro yang sempat kehilangan Yuki.


Yuki berusaha menenangkan deru nafasnya. Mencoba mengambil oksigen secara perlahan-lahan. Ingatannya kembali melayang.


"Aku mau anggur yang lebih besar." Celetuk Yuki melirik anggur merah yang di pegang Fumio. Fumio tersenyum lembut dan langsung memberikannya kepada Yuki.


"Waaa, terima kasih."


Hotaru menyangga sebelah pipinya dengan tangan, melirik Fumio.


"Ayo beli coklat. Hotaru, aku ingin makan coklat." Seru Yuki bersemangat.


Fumio dengan santai mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya memberikan kepada Yuki. Manik biru itu berkilat indah bak melihat harta karun bajak laut.


"Waaaaa ..." Pipi chubby itu bergoyang naik turun.


"Eiji. Sejak kapan sakumu berubah menjadi kantung ajaib?." Gerutu Hotaru. Fumio menyodorkan coklat yang lain kepada sahabat karibnya itu.


"Kamu sudah tahu sejak kapan Hotaru." Hotaru mendengus kecil menerima jawaban Fumio dan mengambil coklat untuknya.


"Eiji yang terbaik!." Seru Yuki yang mendapatkan cubitan kecil di hidungnya dari Hotaru.


"Aku ini kakakmu. Aku jauh lebih baik dari Eiji." Geram Hotaru.


"Ih!, lepas." Yuki menjauhkan hidungnya dari tangan Hotaru.


"Kamu tidak bisa menghindar dariku Yuki." Hotaru berusaha mengejar hidung Yuki lagi.


"Hotaru awas ih!." Yuki mengerutkan keningnya mencoba melindungi diri dari serbuan Hotaru.


"Bilang Eiji lagi yang terbaik hm ..?." Ancam Hotaru.


Fumio duduk dengan tenang menonton perkelahian saudara kembar itu sambil memakan coklat miliknya. Bibirnya terus tertarik ke atas.


Ingatan lain berputar di dalam kepala Yuki.


"Eiji ..." Tangan kecilnya memainkan jemari-jemari Fumio. Membujuk anak itu.


"Hiks!. Ayo makan. Bibi sangat khawatir padamu. Aku juga. Hiks. Hotaru di bawa kakek ke kamarnya. Hiks." Perlahan kepala tertunduk itu terangkat bersamaan dengan tangannya yang menghapus air mata Yuki.


"Jangan nangis, Hotaru akan mengkhawatirkanmu." Yuki menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya ikut terulur menghapus air mata Fumio.


"Paman, paman, Eiji ..." Bibir itu tidak bisa mengatakannya dengan benar. Yuki merengkuh leher Fumio menariknya kuat ke dalam pelukkan kecilnya.


Mereka berbagi tangis. Kedua anak kecil itu bersimpuh di pojok dojo yang gelap.


Yuki tidak bisa menghentikan ingatan itu yang terus berputar menyiksanya.


"Hotaru ...!." Yuki berlari mengejar kakeknya.


"Kalian mau kemana?!. Kenapa bawa banyak barang-barang?." Yuki memeluk erat kaki kakeknya.


"Kakek, nenek, dan Hotaru mau pergi sebentar. Nanti pulang lagi. Yuki jadi anak baik sama ayah dan ibu di rumah." Gadis kecil itu tidak termakan alasan manis kakeknya.


"Yuki ikut. Kalau Hotaru pergi Yuki juga pergi!." Serunya kekeuh.


"Tobi." Panggil kakeknya.


Yuki langsung kelabakan melihat Hotaru yang menangis di tuntun oleh neneknya masuk ke dalam mobil. Tangan yang lebih besar itu memegang kedua lengan Yuki, menahannya.


"Ji chan .., bohong. Ojii chaaann ... Jangan bawa Hotaru!. Hotaruuu ...!!!. (Kakek .., bohong. Kakek ...)." Yuki meronta hebat pada cengkeraman pelindung.


"Hotaru. Jangan pergi!. Kakek!, Yuki ikut!. Jangan ... Maaf kalau Yuki berbuat salah maaf!. Kakek kembaaliii ..!." Manik itu semakin melebar kala kakeknya sudah masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke belakang lagi.


"Tidak!. Jangan!. Lepaskan!. Hotaru!." Yuki kesetanan menendang asal-asalan yang mengenai tulang kering pelindung bernama Tobi itu.


Set.


Tobi yang sempat melepaskan Yuki karena tendangan itu segera berlari mengejar Yuki yang sudah berlari ke arah mobil yang mulai bergerak.


"Hotaruuu ...!. Hotaruuu ...!."


Grep!.


"Lepaskan!. Lepaskan!. Hotaru!. Hiks!. Jangan tinggalkan Yukiii ..!." Yuki mencondongkan tubuhnya ke depan berusaha lepas dari tangan Tobi. Maniknya tidak sedetik pun lepas dari mobil itu.


Buk!.


Teriakan Yuki terhenti karena menubruk badan yang sangat ia hafal. Fumio sengaja menutup pandangan Yuki dari mobil yang sudah jauh dan tidak mungkin untuk di kejar.


Lengan kecil Fumio menelusup meraih punggung Yuki dan tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan Tobi. Fumio mendongak ke atas menatap lurus manik pelindung dewasa itu.


"Kamu menyakitinya." Lirih, sangat jelas, penuh tekanan.


Tobi segera melepaskan Yuki. Merasa tidak ada yang menahannya lagi gadis cilik itu menubruk Fumio menenggelamkan wajahnya.


"Hiks! ... Hiks ... Hiks! ..." Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya cairan bening yang terus keluar dari mata mereka.


Fumio pun tidak tahu alasan kenapa Hotaru, tuan besar, dan nyonya besar pergi mendadak setelah tiga hari penyerangan. Dan kenapa meninggalkan Yuki yang tidak bisa berpisah dengan saudara kembarnya.


Pemandangan itu pun membuat para pelayan dan pelindung menitikkan air mata.


Semenjak hari itu Yuki selalu bermimpi buruk, mengigau memanggil-manggil saudara kembarnya. Fumio yang kala itu masih berkabung atas kepergian ayahnya pun selalu berada di samping Yuki memeluknya saat tidur. Memegang erat tangan gadis itu saat di meja makan kala Yuki hanya menangis menatap makanannya. Di setiap saat gadis itu menangis lagi dan lagi.


Menyakitkan. Bagaimana mungkin anak lima tahun bisa setegar itu. Tidak masuk akal, aku membencimu Eiji, rutuk Yuki dalam hati. Namun suara Natsume tiba-tiba lewat di kepala Yuki.


Jangan bohongi perasaanmu.


"Ojou chan?."