Futago

Futago
Lapangan & Minimarket.



Yuki sudah empat kali mengecek ponselnya tapi masih belum ada balasan dari tetangganya itu. Hari belum terlalu malam seharusnya laki-laki itu belum tidur. Kereta berhenti, Yuki segera melangkahkan kakinya menuju salah satu taksi, ia ingin segera sampai ke rumah.


Sepuluh menit jarak waktu tempuh sampai ke tujuan, namun gadis itu merasakan lebih dari satu jam berada di dalam taksi. Yuki memencet bel, Masamune membukakan pintu dan terkejut mendapati Yuki pulang lebih cepat satu hari dan tidak memberitahunya lebih dulu. Gadis itu terlihat terburu-buru memasuki kamar lalu kembali turun, meneguk botol lemonnya dari kulkas sebentar lalu hendak pergi lagi.


"Yuki tunggu!. Ada apa?." Srobot Masamune mengejar gadis itu sampai ke pintu depan.


"Maaf Masa san. Aku melihat berita klub baseball kalah di final hari ini jadi aku buru-buru pulang dari kyoto tanpa membawa oleh-oleh. Maafkan aku." Ucap Yuki, tangannya meraih tangan Masamune meremasnya pelan.


"Masa san aku pergi dulu." Pamit Yuki berlalu pergi.


"Menemui Hajime?!." Teriak Masamune agar terdengar oleh gadis itu.


"Uungg ..." Masamune tersenyum lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Yuki bela-belain langsung pulang dari kyoto karena mengkhawatirkan Hajime, batin Masamune terkikik geli.


Dua kali Yuki memencet bel tetangganya tapi belum ada tanda-tanda pintu akan di buka. Yuki menyentuh bel lagi hendak menekannya namun wajah Keiji tiba-tiba keluar dari balik pintu.


"Cari aniki? (kakak?)." Tanya anak itu, tumben langsung paham.


"Ung."


"Aniki belum pulang." Ucap Keiji. Yuki menaikan satu alisnya.


"Sejak tadi siang?." Ulang Yuki.


"Ya."


"Terima kasih Keiji kun." Ucap Yuki menyempatkan diri untuk mencubit kedua pipi gembul itu sebelum pergi.


Hari ini penuh dengan berlari, kaki cepat Yuki berderap melewati jalanan yang setiap hari ia lewati. Pukul setengah sembilan malam jalanan di kompleks rumah sudah sepi hanya beberapa orang yang terlihat pulang dari lembur kerja mereka, mungkin. Yuki semakin mengayuh kakinya lebih cepat. Di sana, Yuki melihatnya. Gadis itu mengatur nafas yang terengah menatap siluet bayangan laki-laki yang masih memakai seragam baseball berwarna putih, mengayunkan pemukul tanpa henti di tengah lapangan gelap, sendirian.


Gadis itu pergi ke ruang ganti manajer mengambil kotak p3k dan beberapa barang lainnya. Yuki berjalan pelan mendekati Hajime, laki-laki itu sangat fokus dengan latihannya. Yuki tahu, laki-laki ini pasti sedang menumpahkan kekesalannya karena tidak bisa menyokong tim lolos final. Beban seorang kapten. Jadi seperti inikah cara pemain menghukum dirinya sendiri karena kalah dalam pertandingan?. Langkah gadis itu terhenti sebentar, ia melupakan fakta bahwa pertandingan musim panas adalah pertandingan resmi terakhir anak kelas tiga. Jika mereka kalah di pertandingan itu maka, akhir mereka sebagai seorang pemain.


Yuki menghela nafas pelan kembali mendekati Hajime. Bahkan saat Yuki sudah berada di samping laki-laki itu Hajime masih tidak menyadarinya.


Wooosshhh.


Grep.


Ayunan Hajime berhenti di depan tubuhnya ketika sebuah tangan ramping menyentuh sarung tangan miliknya. Hajime menoleh pelan mendapati Yuki yang berdiri di dekatnya, untung saja gadis itu tidak terkena sabetan ayunan pemukulnya.


"Yuki." Panggil Hajime, manik gadis itu masih menatap tangannya.


Tangan senpai sangat panas, batin Yuki.


Yuki menggerakkan tangan kirinya memegang tangan kiri Hajime melepas tangan itu dari pemukul, lalu tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan Hajime sedangkan tangan kanannya yang berada di punggung tangan beralih menarik pemukul dari genggaman laki-laki itu. Tangan kiri Yuki merambat pelan menelusupkan jari-jari rampingnya kepada jari-jari besar Hajime mengaitkan mereka.


"Yuki." Panggil Hajime lagi.


Gadis itu tetap bungkam menarik lembut tangan Hajime menuju bangku cadangan, menyandarkan pemukul lalu berbalik menghadap laki-laki itu. Tangannya yang bebas mendorong pelan pundak Hajime hingga terduduk di bangku panjang itu. Yuki mendudukan dirinya di samping Hajime melepas satu persatu sarung tangan biru tua yang membungkus tangan laki-laki itu hampir seharian penuh ini.


Yuki memegang punggung tangan Hajime menatap bagian dalamnya yang sudah membiru dan sangat panas. Yuki dengan telaten membersihkan tangan Hajime dan mengobatinya, tidak lupa menutupnya dengan perban putih. Yuki sudah selesai dengan tangan Hajime ia menutup kotak p3k, mengambil handuk yang sudah di siapkan.


"Yuki." Panggil Hajime masih di abaikan oleh gadis itu.


Yuki mulai mengelap keringat Hajime dengan handuk putih di tangannya. Pemuda itu memutuskan untuk diam dan mengamati setiap perlakuan Yuki kepadanya. Tangan gadis itu turun mengelap keringat di leher, lalu beralih ke mata dan hidungnya. Yuki menyimpan handuk diatas kotak p3k mengambil botol isotonik memberikannya kepada pemuda itu. Hajime menerima botol dan meminumnya.


Yuki terus mengamati wajah pemuda itu. Hajime menjauhkan botol yang isinya sudah habis, tangan kanannya hendak mengelap air yang menetes di sudut bibirnya namun sebuah tangan lembut sudah bertengger di sana. Mengelap sudut bibirnya dengan ibu jari, Hajime melirik Yuki, ia tidak bisa mengartikan ekspresi gadis itu saat ini. Tiba-tiba Yuki terdiam begitu juga dengan tangannya, Hajime tahu kemana arah pandangan gadis itu.


"Kenapa?." Tanya Hajime kalem. Ekspresi Yuki berubah datar menjauhkan tangannya seraya membuang wajah ke samping.


"Tidak, hanya teringat kapten cheerleaders." Jawab Yuki jujur.


Hajime terkekeh pelan mengerti maksud Yuki.


"Mau menghapuskan bekasnya?." Yuki menaikan satu alis menatap bingung Hajime.


"Senpai belum menyikat gigi sejak malam festival?." Ucap cepat Yuki menutup mulutnya tidak percaya.


Hajime lupa gadis ini sangat payah dalam hal seperti itu. Tangannya mengacak rambut Yuki sambil tertawa ringan.


"Hahaha ... Mau aku ajari?." Tawar Hajime menarik tangannya dari kepala Yuki. Manik itu mengerjap menatap Hajime bingung.


"Ajari me," Suara laki-laki itu menghilang kala Yuki memajukkan wajahnya mendekat, maniknya bergerak-gerak pelan mengamati maniknya.


"Senpai menangis." Lirih Yuki, jarinya menyentuh sebelah mata Hajime.


"Maaf." Lanjut Yuki mengusap-usap pelan.


Wajah pucatnya terlihat murung, manik birunya tidak lepas dari manik Hajime.


"Bukankah besok malam kamu baru pulang?." Hajime mengalihkan pembicaraan.


"Ung. Aku mendapat pesan dari Ueno san tentang hasil pertandingan. Aku baru sampai di rumah lima belas menit yang lalu." Jawab Yuki tangannya beralih mengusap manik sebelah Hajime.


Hening.


"Harusnya aku lebih bekerja keras lagi membantu kalian, setidaknya aku berada di setiap latihan. Aku benar-benar manajer yang payah." Ujar Yuki.


Hajime diam, menatap dengan satu mata wajah gadis itu yang mendongak tepat di bawah wajahnya.


"Maaf, pasti sulit untuk menerimanya." Melihat mata bengkak dan kering Hajime membuat Yuki merasakan rasa tidak suka dan juga kesal kepada diri sendiri karena tidak melakukan pekerjaannya sebagai manajer dengan benar.


"Eh?." Lirih Yuki bingung.


Hajime tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Laki-laki itu menatap Yuki dalam. Bukan tatapan penuh damba atau pujaan, tatapan itu seperti Hajime sedang mencari sesuatu di balik birunya manik Yuki. Posisi itu membuat Yuki bisa merasakan hembusan panas nafas dari hidung Hajime.


"Senpai ingin menangis lagi?." Tanya Yuki.


"Tidak."


"Senpai masih frustasi?, marah?."


"Sedikit."


"Mau pergi keluar?. Mungkin itu bisa membuat senpai lebih baik." Ujar Yuki yang masih merasakan panasnya nafas Hajime di kulitnya.


"Yuki." Panggil Hajime menurunkan tangan Yuki dari matanya.


"Hm?."


"Aku memiliki dua permintaan apa kamu mau mengabulkannya?." Yuki tersenyum tipis.


"Apa itu?."


Bukan jawaban berbentuk kalimat yang Yuki dapat melainkan sebuah tindakan besar membuat Yuki diam menatap laki-laki di depannya datar.


Hajime semakin mendekatkan wajahnya kepada Yuki menatap kalem manik biru itu.


"Boleh?."


Yuki bukan gadis polos yang bodoh yang tidak tahu apa maksud dari pertanyaan Hajime. Yuki dibuat tidak paham oleh pemuda itu, jika Hajime ingin menciumnya kenapa manik laki-laki itu mengatakan hal yang jauh berbeda?. Bahkan tatapannya lebih condong meminta Yuki untuk menceritakan sesuatu yang selama ini gadis itu sembunyikan.


"Tidak." Jawab Yuki lalu menghembuskan nafas pelan melirik ke bawah.


Hajime di buat terkejut, saat ia menarik dirinya menjauh dari gadis itu tiba-tiba dua lengan melingkar di lehernya menarik dirinya kembali lebih dekat dari sebelumnya. Suara Yuki lirih tepat di samping telinga Hajime.


"Apa yang ingin senpai tanyakan?. Setelah itu kita pulang, aku belum sempat makan malam, senpai pasti juga belum kan." Hajime mengulas senyum kecil.


"Kamu memiliki orang yang kamu sukai?." Yuki terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu yang keluar dari mulut Hajime.


"Ung." Jawab Yuki singkat menahan senyum.


"Siapa?." Yuki sedikit mendongak ke atas, maniknya menerawang jauh memutar kembali kenangannya bersama Dimas.


"Seseorang dari indonesia." Hajime terdiam sebentar.


"Hubungan jarak jauh?." Yuki kembali terkekeh pelan.


"Hm!, sangat jauh. Hubungan beda alam mungkin." Yuki tertawa pelan, hanya sebentar lalu maniknya kembali menatap langit gelap.


"Dia sudah meninggal?."


Deg!.


Meski Yuki sudah sangat paham akan hal itu namun hatinya masih terasa sakit mengingat fakta Dimas tidak akan pernah kembali, apalagi pesan terakhir dari Dimas di ponselnya. Kata-kata rindu yang selalu pemuda itu katakan, dua kata yang berhasil membuat hatinya goyah. Aku merindukanmu, kangen, agh! .., betapa manisnya itu masih jelas membekas di relung hati Yuki.


Yuki mengontrol rasa sesak di dadanya, mengatur pernafasan, menenangkan diri. Kedua lengannya bergerak mengeratkan pelukkannya hingga telinganya dan telinga Hajime bersentuhan.


"Ya, dia sudah meninggal, hampir tiga tahun yang lalu." Hajime ingin membalas pelukan Yuki namun ia merasa tidak pantas, jadilah ia hanya diam tanpa melakukan pergerakan.


"Kamu terdengar sangat mencintainya." Yuki terkikik geli menyebabkan Hajime sedikit terkejut karena merasakan deru nafas tak beraturan Yuki mengenai lehernya.


"Mungkin senpai belum tahu tapi aku memiliki hati yang keras seperti batu, tidak kalah saing dengan tingkat keras kepalaku." Yuki mengendurkan pelukkannya menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi Hajime yang tetap kalem. Manik mereka bertemu.


"Dan dia satu-satunya yang mampu mengalahkan itu. Bahkan setelah ratusan kali ku abaikan dengan segala sikap burukku, dia tetap bertahan. Dia gila seperti Hazuki, tidak!, tapi lebih gila Hazuki." Lanjut Yuki tersenyum sedikit menunjukkan giginya.


"Jika kamu bertemu laki-laki seperti itu lagi apa hatimu akan luluh?." Yuki kaget tapi tak ia tunjukkan.


"Senpai." Yuki menatap dalam manik Hajime menguncinya, tidak membiarkan manik itu bergerak mengalihkan pandangan.


"Tidak ada laki-laki seperti dia di dunia ini, bahkan jika wajah atau suara mereka sama mereka tetap orang yang berbeda. Karena setiap orang memiliki ciri khas masing-masing, dan hatiku masih miliknya."


DEG!.


Jantung Hajime terasa sakit tapi ia sudah terlanjur tenggelam ke dalam manik penuh kehangatan lembut dari sisi lain Yuki yang mencintai orang lain. Betapa indahnya manik biru itu saat menceritakan tentang orang yang ia cintai, kilat cerah yang lembut, seperti gadis jatuh cinta pada umumnya, sangat manis.


Hajime sebenarnya sedang terpuruk sekarang, karena rasa kecewa yang begitu besar kepada diri sendiri. Teman-temannya sangat berharap dan mengandalkannya di lapangan namun taktik lawan membuat ia tidak bisa berbuat banyak. Mengecewakan mereka, tidak bisa membuat harum nama pelatihnya yang sudah sangat bekerja keras untuk mereka, era baseballnya sudah selesai. Tapi, entah kenapa ia menginginkan jawaban Yuki tentang isi hatinya yang sesungguhnya sekarang, alhasil membuat dirinya semakin merasakan sakit.


Tuk.


Hajime melebarkan matanya, ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari wajah mereka sangat dekat, bahkan ujung hidung Yuki menyentuh hidungnya. Yuki menempelkan dahinya dengan dahi Hajime.


"Maaf telah menyakiti hati senpai, aku tidak bisa membalas perasaan siapa pun bukan karena aku masih menyukainya." Yuki menggantung kalimatnya menatap manik Hajime yang sangat dekat. Agh!, itu mengingatkan Yuki dengan Hotaru.


Hajime menelan salivanya kasar, manik yang beberapa detik lalu sangat lembut, manis, dan indah itu kini tiba-tiba berubah sendu. Hajime mengamati setiap garis warna, pantulan dirinya di dalam manik itu, mata Yuki besar dan memiliki garis tegas pada ujungnya yang belum pernah Hajime lihat ada pada orang asia yang sering mengunjungi jepang. Bulu mata hitam lebat dan panjang.


"Yuki." Lirih Hajime yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Bahkan jika aku menyukai seseorang yang baru, aku tidak akan mengungkapkannya, akan aku pendam sendiri perasaan itu dan perlahan menghancurkannya. Karena aku adalah orang yang tidak pantas untuk di cintai, tidak oleh siapapun. Maaf senpai, aku harap senpai tidak membenciku." Ujar Yuki menjauhkan dirinya dari Hajime beralih membereskan kotak p3k, handuk, dan botol minum, beranjak dari tempat duduknya.


"Aku akan mengembalikan ini, setelah itu kita pulang." Ucap Yuki tanpa melihat ke arah Hajime dan berlalu pergi.


Hajime berdiri di luar lapangan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Yuki masih menyembunyikan sesuatu, ada potongan cerita yang gadis itu sembunyikan, tapi untuk sekarang setidaknya Hajime sudah tahu alasan Yuki yang sesungguhnya kenapa melarang ia untuk menyukai gadis itu. Memaksa Yuki untuk buka mulut tidaklah mudah, mungkin karena situasi sekarang ini membuat gadis itu mau mengatakannya.


"Ayo pulang." Hajime melirik ke bawah, ia lagi-lagi tidak menyadari kehadiran gadis itu. Hajime tersenyum mengelus pelan pucuk kepala Yuki.


"Aku tidak apa-apa, jangan menyalahkan dirimu. Itu adalah pilihanmu dan aku menghargainya." Yuki menarik nafas panjang.


"Tapi aku masih memiliki satu permintaan." Kata Hajime tersenyum lebar.


"Apa?." Tanya Yuki.


"Pergi ke festival kembang api minggu depan, di kuil dekat rumah, hanya kita berdua." Yuki berpikir sebentar.


Mizutani jelas-jelas melarangnya pergi melihat kembang api, pada malam puncak festival sekolah saja ia langsung di bawa pulang tepat sebelum kembang api di nyalakan. Tapi ia juga sudah terlalu sering menolak Hajime, laki-laki itu sedang frustasi karena kekalahan tim dan cerita menyakitkan darinya, jika ia menolak lagi ... Yuki tidak suka melihat Hajime sedih, meski selalu laki-laki itu tutupi dengan wajah kalemnya.


"Ung." Jawab Yuki.


Mereka berjalan pulang pukul sembilan malam. Di perjalanan Yuki bertanya tentang pertandingan tadi siang, dan sesekali berhenti untuk memastikan Hajime baik-baik saja, perlakuan Yuki yang seperti itu membuat Hajime tertawa dan mengatakan dia baik-baik saja, Hajime bukan anak kecil lagi yang harus di perhatikan setiap beberapa menit.


Hajime mengantarkan Yuki sampai di depan rumah, memastikan gadis itu sudah masuk ke dalam rumah barulah ia pulang ke rumahnya sendiri.


Di balik pintu itu Yuki bersandar memikirkan kembali sikapnya. Apakah dia telah berlebihan kepada Hajime?, seharusnya ia tidak memeluk laki-laki itu, seharusnya ia tidak memberikan perhatian di saat ia sudah menolak perasaan laki-laki itu. Itu hanya karena rasa khawatirnya.


Senpai terus mengayunkan pemukulnya, jika aku tidak menghentikan senpai, entah kapan laki-laki itu berhenti, batin Yuki.


Duk, duk, duk, duk, duk.


Bodoh!. Bodoh!. Bodoh!, aku seperti menarik ulur senpai. Dasar gadis bodoh!. Tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, aku pastikan itu, tidak lagi. Yuki no BAKA!, rutuk Yuki dalam hati. Getaran dari ponselnya menghentikan ayunan kepalanya di dekat pintu.


Zzzz ... Zzzz ...


"Hm, Hazuki?. Baru bangun?."


"Aku tidak apa-apa. Aku pulang karena khawatir dengan senpai."


"Hm, dia sudah tidak apa-apa."


"Hm."


***


Pagi-pagi buta Yuki sudah memacu mobil Masamune ke apartemen Dazai, di tengah jalan perutnya membutuhkan amunisi makanan, tangannya pun membanting setir ke minimarket dua puluh empat jam.


Yuki melirik jam di tangannya, pukul empat dini hari, tiga puluh menit lagi matahari pasti menampakkan dirinya, musim panas membuat pagi lebih cepat dan malam lebih lama. Gadis bermanik hitam itu melangkahkan sepatu heels 3cm jenis stiletto yang terbuka dan hanya ada dua tali tipis melingkar di ujung punggung kakinya dan yang melingkari pergelangan kakinya, stiletto warna putih dengan bling-bling kecil itu melekat di kaki indah Yuki.


Ia menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam minimarket. Kasir yang hendak memberikan sapaan sopan kepada Yuki membeku seketika.


Skinny jeans hitam slim-fit 5cm di atas mata kaki itu memperlihatkan kaki jenjang Yuki membuatnya semakin menawan, kemeja putih dimasukkan, lengan kemeja tiga perempat, dan kerah lebar kemeja memperlihatkan setengah pundak gadis itu, panjang kerah sampai ke dada, tank top hitamnya sebagai pengaman meski begitu tulang selangkanya masih bisa terlihat. Belum lagi riasan tipis dan segar di wajahnya. Kasir sukses dibuat bungkam oleh penampilan Yuki.


Tanpa menunggu lama berbagai cemilan sudah masuk ke dalam keranjang mini, Yuki juga mengambil dua botol dingin minuman rasa lemon membawanya ke kasir.


Yuki yang sudah lima detik berdiri di depan meja kasir masih belum juga dilayani.


"Maaf, bisa tolong di hitung?." Tanya Yuki sopan.


"Eh!. Cantik!!." Yuki menaikan satu alisnya mendengar teriakan si kasir.


"Terima kasih, anda lebih cantik nona." Balas Yuki kepada perempuan berumur dua puluh tahunan itu.


"Agh, maafkan saya." Ujarnya langsung menghitung belanjaan Yuki.


"Terima kasih, silahkan kembali lagi nona cantiiik!." Seru perempuan kasir mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat Yuki yang sudah di ambang pintu. Gadis itu sedikit membalikan badan mengulas senyum simpul yang sukses membuat kasir itu menjerit kegirangan.


Dengan riang dan mata melirik ke dalam kantong plastik Yuki berjalan kembali ke mobil ia sudah tidak sabar ingin menghilangkan cemilan-cemilan itu ke dalam perutnya.


Klontang!.


Yuki menoleh ke asal suara.


Klontang!. Klontang!. Klontang!.


Tidak jauh darinya seseorang sedang sibuk mengumpulkan minuman-minuman kaleng yang berjatuhan, melihat dua kantung plastik besar yang sudah sobek Yuki kembali ke dalam minimarket untuk membeli yang baru.


Fumio mengutuk Hotaru yang memintanya ikut bermain game dengan perjanjian yang kalah harus membelikan minuman untuk semua anggota tim sekolahnya dan tim sekolah lain yang satu kamar dengan mereka. Mentang-mentang hari ini hari minggu dan pelatihan kedua mereka di tokyo libur anak-anak memutuskan tidak tidur dan bermain game, keberuntungan Fumio hari ini sedang buruk.


"Maaf?." Lirih Fumio melihat tangan lain ikut mengumpulkan kaleng-kaleng itu dan memasukkannya ke dalam plastik.


"Ini."


Deg!.


Fumio mengabaikan plastik yang mengarah padanya, ia melirik kaki putih dengan jari dan kuku rapi, sedikit mengangkat wajah mempertemukan dua pasang manik hitam. Entah kenapa hatinya sangat kecewa, ia seakan mengharapkan orang lain.


"Terima kasih." Ucapnya menerima kantung plastik dari tangan Yuki.


"Senpaaaiii !!!."


Drap. Drap. Drap. Drap.


Yuto sang libero kelas satu itu menunduk memegang erat lututnya, terengah-engah.


"Kamu menyusulku Yuto?." Tanya Fumio menatap adik kelasnya.


"Ya, aku tak tega membiarkan senpai pergi sendirian. Kamu tahu senpai, tokyo itu menyeramkan bisa saja ada pemabuk di pinggir jalan dan melukaimu. Berita pembunuhan di tokyo akhir-akhir ini meningkat ja," Yuto membeku manatap leher putih dan tulang selangka indah di hadapannya.


"Ini. Lain kali hati-hati." Ujar Yuki memberikan kantung plastik yang sudah penuh. Fumio menerimanya membungkuk empat puluh derajat.


"Terima kasih banyak."


Yuto menatap tak berkedip punggung perempuan dengan segala kesempurnaannya itu.


"Bidadari ... Senpai, apa dia seorang artis?." Tanya Yuto menatap Yuki yang memasuki mobil.


"Mana aku tahu." Jawabnya yang juga menatap mobil yang mengarah ke arah mereka. Kenapa matanya enggan untuk berpaling?, kenapa debaran jantungnya juga tidak mau berhenti?, ia yakin hatinya hanyalah milik orang itu.


Perempuan di balik kemudi mengangguk sekilas kala melewati mereka.


Wooosshhh.


"Senpai, sepertinya aku jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Kita tidak mungkin bisa bertemu dengannya lagi." Kedua pundak Yuto merosot, meraih salah satu kantung plastik di tangan seniornya.


"Ayo kembali."


***


"Cepat bangun Dai chan." Yuki berdiri di depan ranjang besar berisi gundukan kusut.


"Baiklah kalau kamu tidak mau bangun." Yuki berjalan ke depan tv melakukan sesuatu dengan ponselnya lalu keluar kamar.


Di dapur Yuki duduk memakan cemilannya dengan santai, satu tangan menekan ikon bulat berwarna merah pada ponselnya. Seketika itu juga suara kasar permainan bass memekakkan telinga menggema dari dalam kamar Dazai membuat pria itu berlari keluar hingga terjatuh.


Yuki tersenyum menyeringai menoleh ke arah Dazai sambil memasukkan bulatan coklat almond.


"Ojou ... Chan?!." Yuki mematikan suara berisik itu dan menunjuk kamar mandi.


"Mandi, kita harus berangkat sekarang sebelum dokter jaga pagi datang. Kamu juga sudah janji mau mengajakku pergi ke kebun binatang Dai chan." Sergah Yuki menatap tajam Dazai.


"Maaf, ojou chan. Tadi malam aku minum terlalu banyak." Dazai beranjak berdiri.


"Aku yang menyetir jadi cepatlah."


Setelah Yuki menyelesaikan urusannya di rumah sakit mereka berjalan-jalan ke kebun binatang. Penampilan agak dewasa bak seorang mahasiswa yang ia sengaja untuk mengimbangi Dazai agar pria itu tidak terlihat seperti seorang pedofil. Ini pertama kalinya dalam seumur hidup Yuki pergi mengunjungi kebun binatang. Langkah ringan Yuki terus menarik lengan Dazai dari tempat satu ke tempat lainnya. Melihat dan mengamati setiap hewan yang mereka temui.


"Boleh aku menyentuhnya?." Tanya Yuki menunjuk kandang harimau.


"Tidak." Jawab tegas Dazai. Yuki mengedikkan bahunya kembali menatap sang harimau.


"Ayo pergi." Ajak Dazai.


"Tidak." Jawab Yuki datar.


"Ojou chan, kita sudah sangat lama di sini." Yuki tetap diam.


Apa ojou chan sedang merajuk?, batin Dazai.


"Kita lihat singa di sebelah sana. Mungkin kamu bisa menyentuhnya." Bujuk Dazai. Akhirnya membuat Yuki mau pergi dari sana.


Manik Yuki terpesona dengan tiga singa betina dan satu singa jantan yang berjalan mengelilingi pagar. Yuki berjongkok seraya terus menatap mata sang raja hutan yang perlahan mendekati Yuki. Singa itu menggeram pelan, Yuki senang mendengar suara geraman itu.


"Ojou chan jangan terlalu dekat." Dazai memperingati.


Namun bukannya Yuki yang mendekat melainkan sang raja hutanlah yang menempelkan wajahnya pada pagar mendongak pelan terus menatap Yuki.


"Dai chan, dia sangat lucu. Mau satu." Dazai bergetar sebentar merasakan sengatan listrik di tubuhnya kala mendengar suara datar Yuki yang berubah imut dan sangat menggemaskan.


"Ayo lihat anak-anak mereka." Yuki tersenyum lebar hingga matanya menyipit.


Dazai sedang berbicara dengan salah satu penjaga di sana, meminta izin untuk menyentuh singa-singa balita. Dazai mengangguk kepada Yuki sebagai tanda gadis itu boleh menyentuh mereka. Yuki mengikuti penjaga kebun binatang masuk ke dalam kandang singa kecil. Betapa senangnya Yuki sampai ia mengepalkan tangan menahan rasa gembira di hatinya.


Singa-singa itu langsung waspada akan kehadiran Yuki, gadis itu pun berjongkok lalu menepuk-nepuk pelan lantai karpet di depannya, Yuki mengeluarkan desisan pelan secara naluriah tanpa pedoman apa pun, ia mengincar seekor singa yang sangat waspada kepadanya. Yuki perlahan mendekat seraya terus mengeluarkan desisan pelan. Yuki mengulurkan tangan, dan perlahan singa itu menjulurkan lehernya mengendus tangan Yuki.


"Hei, kemarilah. Aku tidak akan menggigitmu." Ucap Yuki dengan suara yang dibuat kecil.


Duk!.


Yuki melirik ke kaki kirinya, seekor anak singa sedang menggesek-gesekkan kepalanya di kaki Yuki.


Hup.


Yuki mengangkat singa itu memangkunya.


"Kamu berat juga ya, hehe." Ucap Yuki menggesekkan hidungnya pada hidung anak singa. Singa itu langsung bergelung di atas pangkuan gadis itu.


Beberapa singa yang penasaran mendekati Yuki mengajaknya bermain. Si penjaga kebun binatang dibuat kaget oleh interaksi Yuki dengan anak-anak singa. Anak singa yang Yuki dekati tadi kini mulai menghampiri Yuki, gadis itu menunduk mensejajarkan wajahnya dengan si singa yang mulai mengendus bibir Yuki, Yuki pun ikut mengendus hidung si singa.


"Sudah tidak jual mahal lagi hm ... Hehe." Yuki menyentuh pipi singa menggeseknya pelan lalu menggendongnya membawa singa itu mendekat ke Dazai yang terhalang kaca tebal.


"Dai chan, boleh bawa pulang?." Dazai menggeleng pelan.


"Dai chan memang pelit." Gerutu Yuki menatap singa itu.


"Nanti kita beli singa versi mini." Yuki memicingkan mata melirik Dazai.


"Saya janji ojou chan."


Yuki terus berkeliling, Dazai yang merasa haus meninggalkan Yuki di dekat bangku untuk membeli minuman.


"Ya seperti yang aku katakan Tsubaki. Ojou chan meminta seorang pengacara kepadaku. Ojou chan terlibat kasus di kyoto kemarin." Jelas Dazai kepada Mizutani lewat telepon.


" ... "


"Aku rasa tindakannya benar. Bagaimana dengan Ogura san si mulut pedas?. Kamu bisa mengirimnya ke kyoto untuk bekerja, dan aku yang akan mewakilkan ojou chan."


" ... "


"Hm. Baik, kalau begitu masalah ini beres."


" ... "


"Ya, ojou chan sangat menikmati liburan musim panasnya."


" ... "


"Hm."


Dazai memasukkan ponsel ke dalam saku celana menghampiri Yuki dengan dua botol lemon dingin di tangannya.


"Bukankah dia perempuan tadi pagi senpai?." Fumio melirik ke arah yang di tunjuk Yuto.


"Agh!, dia sudah punya pacar ternyata." Fumio melihat perempuan itu sedang mengobrol di tengah keramaian pengunjung kebun binatang bersama seorang laki-laki yang terlihat tidak asing, Fumio meragukkan ingatannya.


"Yo!, Yuto. Apa yang kamu lihat?, kenapa murung?." Hotaru melingkarkan lengannya di leher Yuto.


"Perempuan yang aku ceritakan tadi pagi, ternyata sudah punya pacar. Dia di sana." Yuto kembali menunjuk.


"Hatiku hancur senpai." Rengek Yuto.


Hotaru memperhatikan perempuan itu. Ia mengerutkan kening karena tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, banyaknya orang berlalu lalang menghalangi pandangannya.


"Senpai melihatnya sampai seperti itu, pasti senpai juga terpesona kan." Ujar Yuto. Fumio masih sibuk mengingat seseorang yang mungkin ia lupakan mengabaikan manajer kelas satu yang berdiri di samping dirinya.


Hanya sekelebat, angin menerpa rambut itu, memperlihatkan separuh wajah dengan manik hitam dan senyum tipis.


DEG!.


BRUK!.


Hotaru menghempaskan Yuto dengan kasar, ia langsung berlari menyibak kerumunan orang-orang di depannya. Seperti orang kesetanan Hotaru terus menghindar, menyibak, menghindar, tanpa melepaskan pandangannya dari perempuan yang kini berjalan menjauh dengan pria di sampingnya.


"YUUKKIIIII ... !!!."