Futago

Futago
Pikiran dan Hati Yuki yang Tak Sejalan.



Yuki tidak tuli dan bisa mendengar semua yang Fumio katakan. Kenyataan dan isi pikirannya berkecambuk di dalam kepala.


Setelah ingatan yang berputar di dalam mimpi nama pemuda di depannya ini selalu terngiang-ngiang olehnya. Awalnya ia ragu itu hanya sekedar mimpi namun saat ia menceritakannya kepada Hotaru dan respon yang di berikan saudara kembarnya memberikan Yuki jawaban bahwa itu adalah benar bagian dari ingatannya bukan sekedar mimpi belaka.


Setelah ingatan pagi mengerikan itu ingatan lain ikut berputar. Ya, ingatan yang membuat Yuki merasakan sakit kepala karena terjebak di situasi sekarang.


Belum lama setelah Fumio di tinggalkan ayahnya disusul Yuki yang di tinggalkan kakek, nenek, dan saudara kembarnya. Fumio yang saat itu masih berjuang untuk tegar malah menghabiskan tenaga dan seluruh waktunya untuk menenangkan Yuki, menghibur gadis itu yang selalu menangis dan bermimpi buruk. Selalu berada di samping gadis itu dua puluh empat jam. Padahal dirinya juga masih merasakan kehilangan sosok sang ayah, tapi tidak sedikit pun terlihat rapuh di mata Yuki dan selalu kuat melindungi gadis itu.


Fumio, Fumio yang membantunya dari kesedihan dan keterpurukan, di saat untuk pertama kalinya Yuki berpisah jauh dengan saudara kembarnya tanpa bisa bertukar kabar. Saat kepergian Hotaru tidak ada satu orang pun yang memberitahunya kemana?, kenapa?, sampai kapan?, semua orang berbohong. Saat Yuki berteriak mencoba menghentikan kakek dan Hotaru, tidak ada yang membuka suara untuk menjelaskan keadaan kepadanya. Fumio lah satu-satunya, Daren dan Ayumi pun tidak.


Fumio yang membuatnya tersenyum lagi setelah kepergian Hotaru namun!. Setelah semua usaha besar yang Fumio lakukan berhasil dan Yuki bisa tersenyum lagi, gadis cilik itu di bawa pergi begitu saja meninggalkan Miyazaki tanpa sempat berpamitan dengan anak laki-laki itu.


Dan sekarang, ia kembali bersama sikap dingin, kasar, dan dengan kejamnya mengabaikan pemuda itu. Apa hatinya sudah berubah?, BUKAN. Apa yang telah ia lakukan?. Apa yang harus ia lakukan?. Segalanya sudah berbeda. Yuki tidak bisa!. Ia tidak bisa!.


Suara berkharisma itu menyadarkan pikiran Yuki yang kacau.


"Eiji kun terima kasih."


Kaki mereka berhenti. Yuki merasakan tatapan dua orang itu mengarah kepadanya. Dengan wajah datar Yuki bergerak mundur. Ia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa. Padahal sekarang bukan saatnya ia memikirkan hal lain tapi. Otaknya tidak mau bekerja sama.


"Bukan hal besar Daren dono, saya merasa beruntung bisa berdansa dengan ojou sama." Kini panggilan itu terasa asing dan aneh di telinga Yuki, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa tidak suka. Tapi jauh di dalam kepalanya ia lebih memilih panggilan itu. Lagi, ia kembali berperang dengan dirinya sendiri.


"Berdansa dengan ayah?."


Yuki mendongak untuk menatap Daren, lalu melirik tangan yang terulur di depannya. Ia mengangkat perlahan tangannya meletakan di atas tangan Daren.


"Eiji kun nikmati pestanya." Ucap Daren lalu menarik pelan tangan Yuki menuju tengah-tengah lantai dansa.


Daren melirik ke bawah melihat raut wajah putrinya yang datar tanpa bisa terbaca. Mereka berhenti tepat di bawah lampu besar ruangan itu. Daren menghadap putrinya lalu berujar.


"Sudah tiga tahun lebih kita tidak berdansa bukan." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.


"Lima tahun ayah. Terakhir kita berdansa di pesta perayaan keberhasilan perusahaan di Australi." Jawab Yuki.


Daren berpikir sebentar lalu tertawa pelan.


"Ya kamu benar. Saat itu kamu membantu ayah memilih partner bisnis yang kompeten. Bisnis di Australi berjalan baik dengan kenaikan grafik yang memuaskan." Daren mengingat saat itu usia Yuki masihlah tiga belas tahun.


"Semuanya akan berjalan lancar. Ayah akan membantumu untuk memotong jalur memutar ini." Yuki yang mendengarnya langsung menengadahkan wajah ke atas, menatap mata biru gelap Daren.


"Setelah pemilihan calonmu selesai. Kita lakukan sesuai rencanamu. Ayah sudah melonggarkan jadwal ayah." Manik Yuki bergerak menyelami sesuatu yang mungkin Daren sembunyikan di balik mata birunya.


"Kamu sudah banyak menunjukkan hasil usaha dan perjuanganmu kepada ayah. Sekarang giliran ayah membantumu." Daren membalas tatapan Yuki dengan ketegasan yang tulus.


"Ayah mempercayaimu. Seperti ayah percaya kamu akan selamat dari hukuman itu." Baru kali ini Yuki melihat kehangatan di manik Daren.


"Lakukan yang menurutmu benar, jangan ragu untuk memberitahu ayah rahasiamu. Seluruh dunia berada di tangan putri ayah ini." Daren membalik tangan Yuki menengadah ke atas.


"Eva." Yuki menaikan satu alis mendengar Daren memanggilnya dengan nama itu.


"Apa menjadi Hachibara Yuki terlalu berat untukmu?. Ayah pikir menjadi Eva Augustin Ayhner lebih membosankan bagimu." Spontan Yuki tersenyum geli mendengar pernyataan Daren. Daren ikut tersenyum.


"Malam ini adalah perdana kita berdansa sebagai Hachibara Daren dan Hachibara Yuki. Lantai dansa ini milik kita." Yuki tersenyum lebih lebar.


"Aku akan melupakan sejenak semua isi kepalaku." Balas Yuki meletakan kedua tangannya di atas tangan Daren.


"Terdengar menarik. Ayah juga sudah memilih lagu untuk kita." Ucap Daren, tepat setelah itu musik berganti.


Pemain orkestra memulai melodi dengan alunan piano yang indah mengiringi kelembutan malam. Langit-langit ruangan memunculkan bintang-bintang kecil dan aurora buatan.


"Tidak buruk." Komentar Yuki.


"Ayah dulunya salah satu pria romantis di kampus." Yuki terkikik geli membayangkan ayahnya yang tegas, berkharisma, penuh wibawa tiba-tiba mengutarakan kalimat-kalimat puitis.


"Itu menggelikan ayah. Hmmm ..?, sepertinya DNA satu itu mengalir di tubuhku." Yuki mengakui.


Setelah mengatakan itu. Yuki melangkah mundur masuk ke dalam melodi, tangannya ia lepaskan dari Daren, memutar tubuh tiga ratus enam puluh derajat. Ia mengulas senyum tipis begitu pun Daren, mereka berjalan memutar saling menatap.


Alunan biola menggema lembut, gadis itu mengambil satu langkah lebar lalu memutar tubuhnya di tempat, mengangkat kedua tangannya ke atas. Sepatu high heelsnya sama sekali tidak mempengaruhi gerakkan Yuki.


Daren melangkah anggun mendekati putrinya, melingkarkan kedua tangannya di perut kecil itu, mengimbangi gerakkan berputar Yuki. Yuki mengangkat satu kakinya dengan gerakkan anggun menekuknya menempel di samping lutut di susul dengan melengkungkan punggungnya ke belakang yang di tahan oleh tangan ayahnya.


Daren berhenti berputar memegang satu tangan putrinya yang masih melakukan putaran kecil berangsur melambat. Mereka mulai berdansa anggun dan elegan. Menyita semua perhatian mengarah kepada mereka.


Yuki, gadis sebelas tahun di salah satu ruangan penuh kaca di dalam rumahnya berpikir bahwa. Ayahnya menekankan pelajaran balet dan berdansa hanya untuk menemani pria itu di acara-acara penting dengan rekan kerjanya. Namun hari ini Yuki berpikiran yang berbeda. Ia menikmati berdansa dengan ayahnya, menyingkirkan pikiran-pikiran yang berkecambuk jauh di sana.


Baru kali ini selain musik Natsume Yuki tenggelam ke dalam sesuatu yang lain. Mengabaikan tatapan orang-orang, yang ia lihat hanya ayahnya yang berdiri tegap ikut bergerak dengannya. Bahkan saat berdansa pun ayahnya masih terlihat tegas dan berkharisma.


Dasar pengusaha gila kerja, batin Yuki tersenyum dalam hati.


Daren mengangkat tubuh Yuki, gadis itu melakukan gerakkan berjalan di udara lalu kakinya menyentuh tanah berputar sekali, meraih kedua tangan Daren melakukan gerakkan yang sama.


Musik selesai di lanjutkan dengan melodi yang lain. Yuki berhenti dengan memegang satu tangan Daren dan tangan lain di pundak ayahnya. Mata biru mereka saling menatap seakan tersenyum satu sama lain.


"Aku penasaran ayah mendapatkan mata biru ayah dari siapa." Ujar Yuki.


"Dari kakekmu. Nenekmu memiliki warna mata hijau emerald. Ibu panti yang memberi tahu ayah." Jawab Daren. Yuki terdiam.


"Maaf, aku terlalu egois padahal ayah juga tidak pernah merasakan kehangatan orang tua." Ucap Yuki.


"Tapi ayah mendapatkan segalanya saat kalian lahir." Jawaban Daren membuat Yuki terkikik pelan.


"Ayah."


Keduanya menoleh mendapati Hotaru berdiri di belakang Yuki dengan raut wajah yang samar.


"Saudara kembarmu cemburu kepada ayah." Celetuk Daren.


"Hmm?. Padahal siapa yang tebar pesona dengan perempuan dari prancis?." Imbuh tajam Yuki. Daren melirik putranya.


"Bagaimana dengan ketiga bersaudari keluarga Watabe san?." Tanya Daren.


"Siapa?." Tanya Yuki.


"Mereka yang dua hari ini berada di lantai dua barak. Ketiganya sedang menempuh pendidikan di amerika. Kakak sulung mereka yang mengajakmu bicara di dekat meja tadi." Jelas Daren.


Yuki tidak ingat, ia banyak bertemu orang tadi.


"Saran ayah bagus juga. Aku bisa mendapatkan tiga istri sekaligus." Celetuk Hotaru bercanda.


"Apa tiga istri cukup?. Tidak tambah satu perempuan prancis?." Ejek Yuki berjalan menghampiri Hotaru.


"Benar juga, aku akan pertimbangkan saranmu." Balas Hotaru dengan senyum tanpa dosa, melihat Yuki yang memutar bola matanya.


"Aku akan menendang perempuan prancis itu jika kamu berani memasukkannya ke dalam keluarga kita." Balas Yuki datar.


"Hahaha, kekerasan pada saudara ipar tidak baik Yuki." Hotaru mengulurkan tangan kepada Yuki.


"Bodo amat." Balas gadis itu menerima uluran tangan Hotaru.


"Ayah, kami permisi." Pamit Hotaru melirik ayahnya.


"Hm, ayah mau mengajak nenek kalian berdansa." Jawab Daren menghampiri mertuanya.


Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi Yuki. Ia tertidur di kamar setelah membersihkan diri.


***


"Ojou sama ..."


Tok tok tok.


"Ojou sama ..."


"Maaf, kami akan masuk."


Srek.


Kedua pelayan Yuki menghampiri ranjang nona muda mereka.


"Ojou sama, anda sudah telat menghadiri perlombaan." Ucap salah satu pelayan. Gadis yang terbaring di ranjang itu tak bergerak sedikit pun.


"Ojou sama, anda sudah di tunggu nyonya besar."


"Ojou sama." Kedua pelayan itu malah terkesima dengan wajah damai Yuki yang tertidur.


"Apa Yuki sakit?." Kedua pelayan segera membalikan badan dan membungkuk hormat.


"Waka." Hotaru berjalan ke samping ranjang Yuki, duduk di pinggiran ranjang.


"Siapkan air untuk Yuki mandi dan bawakan sarapan ke sini, biar aku yang membangunkannya." Titah Hotaru.


"Baik waka." Mereka bergerak terpisah.


Hotaru menoleh menatap wajah saudari kembarnya. Tidak biasanya Yuki bangun sesiang ini, apa semalam hukuman Yuki kambuh lagi?, batin Hotaru. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Yuki.


"Bangun, sudah jam sembilan. Tidak sopan jika kamu tidak datang di perlombaan." Lirih Hotaru. Tidak ada tanggapan. Ia menaruh punggung jari telunjuknya mengusap-usap pelan pipi Yuki.


"Bayi hulk. Bangun. Aku dari barak lari ke sini loh." Hotaru menarik nafas panjang.


"Yuki."


Srek!.


Hotaru terkejut!. Tubuh adiknya tiba-tiba terduduk dengan mata yang terbuka.


"Apa kamu mimpi buruk?." Hotaru mengusap kepala Yuki. Gadis itu menoleh menatap mata coklat terang itu.


"Hotaru ..." Rengek Yuki meletakkan kepalanya di pundak Hotaru.


"Mimpi buruk apa?." Tanya Hotaru membenarkan rambut Yuki yang menutupi wajahnya.


"Mimpi yang sama." Jawab Yuki berbohong.


"Jam berapa sekarang?." Yuki melingkarkan tangannya di pinggang Hotaru.


"Sembilan." Jawab Hotaru.


"Aku sudah telat rupanya." Lirih Yuki.


"Waka, airnya sudah siap." Lapor pelayan Yuki keluar dari ruang ganti.


"Terima kasih, kamu boleh keluar." Balas Hotaru.


"Aku akan bersiap dengan cepat." Ujar Yuki mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukan.


"Kamu bisa istirahat dulu sebentar." Yuki tersenyum tipis mengecup pipi Hotaru.


"Nenek akan memarahi kita nanti." Jawab Yuki beranjak dari atas ranjang menuju ruang ganti untuk pergi ke kamar mandi.


Hotaru menatap punggung adiknya dalam diam. Semua ini pasti berat untuk Yuki.


Tidak selama kemarin, adiknya sudah keluar dengan baju biru bergaris, lengan tiga perempat dengan kerutan, tanpa kerah yang mengekspos pundak hingga tulang selangka, di padukan dengan straight leg jeans sepanjang mata kaki. Untunglah Yuki memilih jeans yang tidak ketat kalau tidak, Hotaru akan menyuruh Yuki menggantinya sekarang juga.


"Sarapan dulu." Hotaru melirik adiknya yang sedang menguncir setengah rambut bagian atas tanpa melihat cermin, dan hasilnya cukup bagus dan rapi.


"Aku tidak sarapan. Ayo, nenek pasti sudah menunggu." Jawab Yuki.


Grep. Hotaru menahan tangan adiknya.


"Makan atau kita tidak pergi." Ancam Hotaru.


"Baik." Yuki lebih memilih menurut pagi ini.


Hotaru sedang mengirim pesan kepada Lusi melaporkan kalau mereka akan datang sebentar lagi. Ia kemudian melirik adiknya yang sedang memasukkan suapan ke dalam mulut.


"Kamu tidak memakai make up?." Tanya Hotaru yang baru tersadar.


"Haruskah?." Tanya balik Yuki.


"Aku tidak masalah tapi bagaimana dengan para putri dari keluarga yang lain?. Apa kamu tidak akan di bicarakan oleh mereka?."


"Jangan di hiraukan. Aku sedang tidak ingin melukis wajah." Jawab Yuki.


"Aku juga suka wajahmu tanpa riasan." Hotaru setuju.


"Kenapa?." Yuki menengguk lemon dinginnya.


"Tidak tahu. Aku tidak suka kalau kamu berdandan seperti tadi malam. Banyak singa yang tiba-tiba kelaparan." Yuki terkekeh kecil.


"Kamu sepertinya juga tidak sadar, tadi malam banyak harimau betina yang mendadak kelaparan." Balas Yuki beranjak berdiri.


"Singa tidak memiliki hubungan baik dengan para harimau." Jawab Hotaru ikut berdiri dan berjalan keluar kamar.


Yuki duduk di samping Lusi meminta maaf atas keterlambatannya. Ia juga sudah meminta maaf kepada Daren dan beberapa kepala keluarga terhormat yang hadir.


"Apa kamu baik-baik saja?." Tanya Lusi.


"Aku baik-baik saja nek." Jawab Yuki maniknya melirik ke beberapa pelindung tingkat atas yang duduk di depan mereka agak di bawah, karena lantai yang mereka tempati lebih tinggi dari biasanya.


Lantai dua barak sudah di siapkan sedemikian rupa. Yuki kembali melirik meja di depan pelindung. Nama, dan beberapa tulisan tentang peserta ada di kertas yang mereka pegang. Yuki melihat tangan salah satu pelindung menuliskan sesuatu tanpa mengalihkan perhatian mereka dari peserta di bawah sana.


"Memanah dan bela diri klan." Jawabnya.


Yuki mengamati salah satu pelindung dan seorang peserta sedang berhadapan.


"Hmmm, kenapa mereka menggunakan senjata yang berbeda?."


"Mereka di bebaskan menggunakan senjata apa pun." Jawab Hotaru.


Yuki melirik sebentar ke bawah, kebosanan langsung merayapinya. Tidak ada yang istimewa hingga ia menoleh ke samping mendapati Ellen duduk di samping ayahnya. Yuki ingin mengajak gadis cilik itu duduk di pangkuannya tapi nanti akan menimbulkan desas-desus yang tidak baik. Ia beralih melirik layar ponsel. Membalas cepat beberapa pesan yang masuk.


"Selesai. Silahkan Fujita Eden di mohon memasuki arena." Yuki melirik wajah Ellen yang berubah semangat melihat kakaknya berjalan memasuki arena.


"Will, anak muda. Lakukan dengan baik." Yuki melirik ke samping melihat ayahnya menepuk pundak bocah tiga belas tahun itu.


"Kenapa Will?." Tanya Yuki.


"Peserta memilih lawan mereka sendiri. Kamu lihat kotak hitam di sebelah sana." Hotaru menoleh ke satu tempat, Yuki mengikutinya.


"Di dalamnya ada nama-nama para pelindung tingkat tinggi. Mereka wajib mengambil satu kertas untuk menjadi lawan mereka." Jelas Hotaru.


"Aku tidak yakin dengan pasangan ini." Kata Yuki.


"Siapa yang tahu. Eden san juga sangat berbakat." Hotaru tidak setuju dengan Yuki.


Yuki melirik Will mengeluarkan sebuah tali tipis, mengayunkannya dengan gerakkan kecil. Tali itu otomatis memutari pembatas, memilin lalu mengunci. Will melompat ke bawah dengan tali itu. Yuki mengerutkan kening cukup kuat, berdiri hendak meraih tali itu namun Hotaru lebih dulu menahannya.


"Jangan, aku tidak ingin hukuman itu kambuh lagi." Yuki menatap Hotaru sebentar lalu kembali duduk.


"Aku pernah melihatnya." Ujar Yuki.


"Ya, kamu yang membuatnya." Balas Hotaru.


Hening.


Yuki melihat lilitan tali itu mengendur dan tertarik dengan cepat.


"Kenapa Will tidak menggunakan tali itu untuk melawan Fujita san?." Yuki heran melihat Will mengambil tombak.


"Tali itu tidak bisa untuk menyerang." Jawab Hotaru.


"Kamu salah." Hotaru menoleh cepat kepada Yuki.


"Tali itu alat yang menarik. Apa kamu pikir benda itu hanya bisa di gunakan untuk berayun naik dan turun?." Ejek Yuki.


"Kamu ingat?." Hotaru was-was.


"Tidak. Melihatnya saja sudah tahu." Diam-diam Hotaru menarik nafas lega.


Yuki kembali memperhatikan ke bawah. Will memilih bertarung jarak jauh sedangkan Eden terlihat berusaha bertarung dengan jarak dekat.


Bosan.


Yuki bermain dengan ponselnya menghubungi Agung, mereka membahas perkembangan villa terbengkalai dan para agen luar negeri. Yuki meminta Agung mengganti lokasi ke bali untuk para agen itu. Ia juga membalas pesan Jun Ho yang kebetulan masuk.


"Nenek punya mochi untuk mengusir kebosananmu." Yuki melirik pelayan yang sedang menaruh empat piring besar sekaligus di atas meja.


"Terima kasih." Ucap Yuki meletakan ponselnya di atas pangkuan, mengambil satu mochi berwarna hijau.


"Kamu tidak malu dengan Ellen. Dia saja sejak tadi memperhatikan kakaknya di bawah sana." Ledek Hotaru.


"Mau?." Bukannya menjawab Yuki malah menyodorkan mochi di tangannya kepada Hotaru.


Hap.


Dalam sekali lahap mochi itu raib dari tangan Yuki. Gadis itu hanya tersenyum dan mengambil mochi warna kuning.


"Eiji sedang melawan Hiro san di bawah." Komentar Hotaru.


"Heee .., pemimpin para pelindung boleh ikut andil dalam perlombaan?." Ucap Yuki tidak tertarik.


"Hiro san melawan Eiji sebagai peserta bukan pelindung." Jawaban Hotaru membuat Yuki menghentikan kunyahannya.


"Ada pengecualian ternyata." Balas Yuki seakan tidak peduli.


Lusi hanya tersenyum melihat Hotaru yang mencoba bersabar dan Yuki yang fokus dengan mochinya.


"Bagaimana dengan Morioka san?. Apa dia sudah selesai sejak tadi?." Tanya Yuki.


"Di bawah sana ada Eiji yang berusaha mengalahkan Hiro san kamu di sini malah menanyakan pria lain." Yuki menengguk minumannya.


"Jadi ...?." Yuki melirik Hotaru.


"Morioka san melawan Tekkecchan di awal pertandingan." Jawab Hotaru tidak berselera membahas itu.


"Siapa yang menang?." Tanya Yuki.


"Morioka san." Jawab singkat Hotaru.


"Bagaimana dengan Fujita san?." Yuki mengambil mochi berwarna putih.


"Eden san yang menang." Yuki menaikan satu alisnya.


"Will sedang sakit?, atau dia tidak serius menghadapi Fujita san?." Yuki tidak percaya dengan hasil itu.


"Makanya kamu lihat sendiri tadi. Bahkan sekarang kamu juga tidak melihat Eiji yang sedang terpojok." Jawab Hotaru meletakan dagunya menatap ke bawah.


"Wajar saja. Dia melawan pemimpin para pelindung." Komentar Yuki.


Zzzzzeeeeetttttssss.


Yuki melebarkan matanya menjauhkan gelas yang sudah menempel di bibir. Maniknya langsung mengarah ke bawah.


Fumihiro mengeluarkan pedang bergagang biru dan bilah hitam dengan garis merah di setiap pinggir bilah, menyelimuti bilah itu.


"Apa perlombaan ini di perbolehkan membunuh?." Pertanyaan aneh Yuki membuat Hotaru mencubit pipi saudarinya.


"Tidak ada pertumpahan darah, hanya menilai sejauh mana kemampuan mereka." Jawab Hotaru seraya melepas tangannya dari pipi Yuki.


"Tapi dia akan membunuh Fumio san. Dan menghancurkan sisi barak yang sedang kita duduki." Balas Yuki datar.


"Apa maksudmu?." Hotaru berubah serius.


"Hentikan dia sekarang." Ucap Yuki.


Melihat wajah saudarinya yang sedang tidak bercanda Hotaru segera berdiri mendekati salah satu pelindung sebagai juri pertandingan membisikan sesuatu.


"Hotaru, terlalu lama." Pemuda itu langsung menoleh ke belakang. Maniknya melebar kala melihat Yuki sudah berdiri jauh di belakang.


"Yuki, apa yang akan kamu lakukan?." Seru Lusi.


"Yuki. Kembali ke kursimu." Perintah Daren.


"Will!, Hotaru!, lindungi para keluarga terhormat." Seru Yuki. Berlari melompat ke udara.


"Ojou sama!, taliku!." Will terkejut tiba-tiba talinya menghilang dari pinggangnya.


Yuki melompat sangat jauh, menarik kecil tali yang melilit pinggangnya melepaskan kuncian dari balkon lantai dua mengayunkannya menangkap pergelangan tangan Fumihiro yang memegang pedang.


Ssrreeeettt.


Yuki menghentakkan ke atas, membuat pedang itu menghadap langit biru sekaligus memberikan tarikan di pinggang Yuki semakin cepat mengarah kepada Fumihiro.


Zzzzzeeeeetttttssss ... Darrr!. Zzrriiittt.


Kilatan merah membelah langit bagaikan petir di tengah hujan deras. Semua mata terbelalak kaget. Sebelum Fumihiro sadar apa yang sedang terjadi tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terhantam keras.


BRRUUUKKK!!!.


"Ojou sama?!." Suara terkesiap dari Fumihiro.


GREP!!!.


Yuki menahan lengan Fumihiro tetap mengacungkan pedang ke atas. Maniknya menatap pria itu.


Fumihiro tidak bisa berbuat apa-apa. Kaki kanan Yuki ada di atas dadanya, lutut gadis itu ada di perutnya sedangkan tangan kanan menarik tali milik Will. Membuat tali itu kembali menjadi gulungan kecil.


"Apa kamu pernah memakai pedang ini sebelumnya?." Pertanyaan itu keluar dari bibir Yuki.


"Ya, ojou sama." Yuki menatap lebih dalam manik Fumihiro.


"Apa kamu pernah mencoba tombol tadi?." Selidik Yuki.


"Belum." Jawaban ke dua sudah cukup untuk Yuki.


Gadis itu menggerakkan tangannya ke atas. Menyelimuti tangan besar Fumihiro dengan tangannya. Ibu jari dan jari telunjuk Yuki segera menekan dua tombol di masing-masing sisi gagang pedang secara bersamaan. Tiba-tiba cahaya garis merah yang menyelimuti pinggiran pedang menghilang.


Barulah Yuki beranjak dari atas tubuh Fumihiro mengambil pedang itu dari tangan Fumihiro.


Berdiri menghadap ke lantai dua barak namun fokusnya tetap pada pedang di tangan.


"Berikan sarungnya padaku." Pinta Yuki mengulurkan tangan kiri.


Fumihiro berdiri dengan sigap, kejatuhan Yuki sepertinya tidak berefek apa pun pada Fumihiro.


"Silahkan ojou sama." Yuki menerima sarung pedang dan langsung menyarungkan pedang hitam itu.


"Apa masih ada benda lain buatanku yang ada pada kalian?." Tanya Yuki melirik Fumio yang berdiri tanpa ekspresi di depannya.


"Ada ojou sama."


"Siapa yang memegangnya?." Tanya Yuki namun maniknya masih menatap Fumio datar.


"Yamazaki san."


Yuki langsung mengalihkan perhatiannya mendongak ke lantai dua menatap Yamazaki. Tangan kanannya mengeluarkan ponsel dari dalam saku.


"Maaf mengganggu pertandingan kalian. Silahkan di lanjutkan." Ujar Yuki berjalan ke sisi pinggir arena.


Zzz ... Zzz ... Zzz ...


"Ojou sama, anda harus segera kembali." Yuki sedang berjalan ke lantai dua.


"Kembalikan benda penelitianku segera setelah aku sampai di sana." Ucap Yuki dingin lalu menutup telfonnya.


"Apa yang Yuki katakan?." Srobot Hotaru.


"Saya di minta untuk mengembalikan ini." Jawab Yamazaki mengeluarkan sebuah benda serba hitam yang mirip dengan pentungan satpam.


"Kembalikan Takeru. Yang tadi sangat berbahaya." Titah Lusi.


"Baik Lusi sama." Yamazaki membungkuk dalam.


"Ojou sama anda baik-baik saja?." Seru salah satu pelindung. Semua mata mengarah kepada gadis itu.


Yuki memberikan senyum ramah, lalu berdiri di depan menghadap para tamu yang datang.


"Maaf karena sudah mengganggu perjalanan pertandingan. Petir merah tadi adalah sebuah kecelakaan, dan tidak nyata. Karena itu sangat memalukan saya mencoba menghentikannya. Dan kebetulan Takehara san tidak mengetahui hal itu. Untuk menjawab rasa penasaran anda sekalian, pedang mainan itu dulunya adalah buatan kakek untuk membujuk saya agar mau belajar bela diri. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya." Ucap Yuki sangat panjang lalu membungkuk sembilan puluh derajat.


Daren, dan Lusi, tersenyum bangga dengan gerakkan cepat Yuki menangani kehancuran yang akan membahayakan mereka semua. Penanggulangan cepat, solusi yang cepat. Mereka diam-diam berterima kasih kepada gadis itu.


"Silahkan untuk melanjutkan menonton perlombaan yang tertunda." Ucap Yuki melirik salah satu pelindung memberikan kode.


Pelindung itu segera menyuruh pelindung di bawah untuk melanjutkan pertandingan, sedangkan Yuki kembali duduk di kursinya menaruh pedang di samping lalu menengadahkan tangan.


Melihat Yuki yang meminta, Yamazaki segera meletakan pentungannya di atas tangan gadis itu.


***


"Yuki, ada yang ingin menemuimu." Seru Hotaru.


"Aku tidak ingin bertemu siapa pun." Balas Yuki ikut berseru.


"Baiklah." Balas Hotaru.


Yuki membolak-balik mengganti halaman satu ke halaman berikutnya.


Aku yakin, garis-garis aneh itu memiliki arti yang penting. Bagaimana caraku membujuk Hotaru?, batin Yuki.


Angin malam menyapu lembut poninya, Yuki meletakan buku di tangan dan meraih buku yang lain. Setelah waktunya yang padat Yuki tidak bisa pergi ke pandora jadilah ia memboyong buku-buku itu ke kamarnya.


Suara berat dan dalam itu menyentuh gendang telinganya menghentikan tangan yang sudah separuh membuka halaman.


"Aku kalah." Yuki mengedipkan kelopak matanya terkejut.


"Aku masih belum bisa mengalahkan Fumihiro san." Yuki bungkam.


"Sejak dulu aku cemburu padanya karena bisa selalu bersamamu." Bayangan itu semakin mendekat.


"Terima kasih sudah menyelamatkan kami. Oyasumi (Selamat malam)."