Futago

Futago
Diskusi 2 Bayangan.



Satu jam berlalu, waktu yang cukup lama. Yuki terlihat mulai tenang, tubuhnya terkulai lemah di pelukkan Mizutani.


"Aku akan memeriksanya di kamar, sebentar lagi seharusnya Masamune san sudah kembali." Ujar Dazai mengambil tubuh Yuki dari Mizutani.


"Aku akan membereskan yang di sini."


Kedua pria itu membagi tugas masing-masing. Mizutani segera membersihkan genangan darah di lantai, lalu mencuci kain yang digunakan untuk membersihkan.


Sedangkan di kamar, Yuki terbangun karena sentuhan jarum suntik dan bau yang sangat amis mengganggu dirinya.


"Ojou chan, anda sudah bangun. Apa sakit?." Tanya Dazai suaranya sangat serak, terlalu banyak menangis.


Dazai tersenyum menatap Yuki, keadaan gadis itu sangatlah lemah, bahkan untuk sekedar membuka mata pun tidak bisa terbuka sempurna.


"Je." Lirih Yuki seperti sebuah bisikan.


Burung hantu itu terbang diatas kepala Yuki.


"Detak jantung lemah. Kondisi tubuh sangat buruk. Yuki butuh penanganan segera." Laporan burung hantu itu setelah menscan tubuh Yuki. Dazai menatap takjub robot itu.


"Ambilkan cairan pemulihan tubuh Je." Ucap Yuki masih seperti bisikan.


"Baik. Di konfirmasi." Je langsung terbang ke dalam lemari setelah mengeluarkan tangan robot kecilnya.


"Ojou chan, maaf pakaian anda belum saya ganti, menunggu Masamune san sebentar lagi apa tidak masalah?." Yuki tersenyum sebagai jawaban.


Je kembali melayang diatas kepala Yuki membawa botol kecil yang tutupnya berwarna kuning.


"Dai chan, tolong suntikan cairan itu kepadaku." Lirih Yuki.


"Apa anda yakin?." Lagi-lagi Yuki tersenyum sebagai jawaban.


Dazai tidak banyak bertanya, ia mengambil botol dari Je menyuntikkannya ke lengan Yuki.


"Yuki!." Masamune berjalan cepat mendekat ke arah ranjang, tangannya menghapus air mata dengan kasar.


"Masa s."


"Aku akan menyiapkan air hangat dan bajumu. Kamu harus segera mandi." Potong Masamune ingin segera keluar dari sana agar Yuki tidak melihat air matanya.


"Lima menit lagi aku akan membawa Ojou chan turun." Ucap Dazai sebelum Masamune pergi.


"Dia wanita yang baik." Komentar Dazai seraya menatap manik Yuki.


Senyuman lemah pada bibir pucat itu terukir tipis.


Dazai menggendong Yuki ke lantai satu membawanya masuk ke dalam kamar mandi, di sana sudah ada Mizutani, duduk di pinggir bathup dengan handuk lebar terbentang di atas kakinya sampai ke seluruh badan di tambah pria itu memakai jas hujan.


"Seharusnya aku membawa satu suster kemari." Gerutu Dazai yang terdengar oleh Mizutani dan Yuki.


"Ini bukan yang pertama kalinya." Balas Mizutani.


"Siap kapten." Jawab Dazai memberikan Yuki kepada Mizutani.


"Permisi." Masamune ikut masuk setelah Dazai pergi.


"Maaf, merepotkanmu Masamune san." Ucap Mizutani kepada wanita itu.


"Aku merasa ini juga tanggung jawab saya." Masamune dengan lihai membuka baju Yuki satu persatu, sedangkan Mizutani sejak tadi sudah menutup rapat matanya.


Tubuh gadis lemah itu tidak bisa di lepaskan barang sedetik pun atau Yuki akan terjatuh, seperti sebuah benang yang akan bengkok jika tidak di pegang dengan benar. Hanya saat tidurlah Yuki tidak perlu penjagaan.


Wajahnya lebih pucat dari saat pertama kali Mizutani san membawa Yuki pulang, bahkan ia tidak bisa membuka matanya dengan benar. Deru nafasnya sangat lemah. Lihat tangan ini, batin Masamune menggantung kalimatnya.


Mau seberapa kuat ia menahannya air mata itu jatuh juga. Masamune membersihkan lengan Yuki dengan sangat hati-hati seakan sedang mengelap gelas kaca yang sudah retak.


Bahkan Mizutani san dan Dazai san .., mata mereka bengkak, siapa yang akan kuat melihat gadis baik seperti Yuki mengalami hal buruk seperti ini, keluh Masamune dalam hati.


Yuki mendengarnya, meskipun ia tidak bisa menggerakkan kepala untuk menatap Masamune tapi ia mendengarnya. Suara isakkan tertahan Masamune, tetesan air mata wanita itu yang mengenai kulitnya. Yuki tersenyum tipis.


"Terima kasih Masa san." Gerakkan tangan Masamune terhenti melirik Yuki yang berusaha membuka lebih lebar kelopak matanya, namun nihil. Gadis itu terlalu lemah.


"Sudah menangis untukku." Lanjut Yuki membuat Masamune menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan suara tangisnya.


"Ekhem. Aku akan membasuh rambutmu." Masamune mengalihkan pembicaraan.


Mizutani yang mendengar itu menggerakkan tangannya ke leher belakang Yuki tanpa membuka mata dan tanpa salah sasaran, latihan rahasia seorang bayangan 'bergerak bebas dalam kegelapan' membuat gadis itu menengadah ke atas agar Masamune lebih mudah melakukan pekerjaannya.


Wanita itu mulai membasahi kepala Yuki menemukan keganjilan di sana.


Tes. Tes. Tes.


Air matanya jatuh di kening gadis itu. Perlahan Masamune melanjutkan mencuci rambut Yuki.


Pasti perih sampai kulit kepalanya semerah ini, batin Masamune melirik Yuki yang tetap diam tanpa ekspresi.


Membutuhkan waktu lama di dalam kamar mandi karena tempatnya yang tidak memadai. Sekarang gadis itu terlihat lebih segar tanpa bau amis. Mizutani membawa Yuki keluar dari kamar mandi setelah penampilan gadis itu sempurna. Harum wangi yang sudah sangat lama tidak tercium oleh Yuki membuat gadis itu membuka matanya lebih lebar.


"Tsutsun, berhenti." Mizutani berhenti di antara dapur dan ruang tengah.


"Aku ingin duduk di dapur." Pintanya.


Mizutani melirik Masamune yang berdiri di belakangnya.


"Maaf Masamune san, bisa tolong ambilkan bantal sofa?."


"Baik."


Mizutani berjalan ke arah meja dapur menarik salah satu kursi.


"Tolong letakan di atas kakiku." Pinta Mizutani kepada Masamune.


Wanita itu menaruh bantal sofa di atas paha Mizutani, barulah pria itu mendudukan Yuki di sana.


"Terima kasih." Masamune mengangguk kecil lalu pamit membersihkan kamar mandi yang masih ada noda darah Yuki.


"Dai chan, sudah sangat lama ya tidak melihatmu memasak." Lirih Yuki.


"Ojou chan, saya tahu anda merindukan masakan koki handal ini kan." Balas Dazai membalikan tubuhnya melirik Yuki.


"Hahaha, berikan aku yang terbaik Dai chan."


"Siap! ojou sama." Yuki tersenyum menatap punggung lebar Dazai. Dulu ia selalu menatap punggung kurus pria itu di dapur kediaman utama, dan sekarang terlihat sangat berbeda.


Yuki mendapatkan kembali separuh ingatan yang di hapus saat ia terbangun dari mimpi alam bawah sadarnya, meski begitu rasa sakit yang ia rasakan di alam bawah sadar masih sangat jelas terasa saat ia sudah terbangun.


"Apa kamu ingin melihatnya lebih jelas?." Tanya Mizutani, Yuki tersenyum sebagai jawaban.


Mizutani menggeser kursi menghadap ke arah dapur, mengangkat sedikit tubuh Yuki agar menghadap Dazai lalu perlahan tubuh Yuki ia sandarkan di dadanya. Yuki melihat bekas luka panjang di lengan Mizutani saat pria itu bergerak membenarkan posisinya.


"Apa seperti ini sudah lebih baik?."


"Hm."


"Maaf untuk luka di tanganmu." Mizutani terkejut.


"Seharusnya kamu menolak kakek saat memintamu sparring (latih tanding) denganku." Mizutani tersenyum mendengar Yuki sudah mengingatnya.


"Tsutsun."


"Hm?."


"Aku ingin bertemu nenek Yuri dan kakek Go." Dazai menghentikan gerakkan tangannya di depan sana.


"Ung, nanti. Tahun depan." Yuki tersenyum miris.


"Untuk sampai tahun depan aku harus bisa lolos dari kematian lagi?." Dazai mengeratkan pegangannya pada telinga panci.


"Benar, Ojou chan. Untuk sampai tahun depan kita juga butuh makan." Ucapnya seraya mengangkat panci berisi berbagai sayuran dan daging ayam membawanya ke atas meja.


Yuki refleks memejamkan matanya menghirup aroma masakan khas klan mereka, kebiasaan yang dulu selalu ia lakukan.


"Wangi." Lirih Yuki.


"Tunggu sebentar, masih ada yang lain. Menu favorit anda, ojou chan." Dazai kembali ke dapur mengambil dua piring besar penuh pasta, bukan! tampilannya saja yang mirip pasta namun rasanya sangat berbeda.


Yuki tersenyum senang, ia baru sadar ia sangat merindukan masakan kediaman utama. Orang tua Dazai yang notabennya koki kediaman utama menurunkan keahlian mereka kepada putra semata wayangnya. Dazai juga menyiapkan minuman lemon madu hangat favorit Yuki. Melihat minuman itu membuat Yuki teringat dengan nenek Yuri, dari beliau lah Yuki pertama kali mencicipi minuman itu dan langsung jatuh cinta kepada minuman berbau lemon.


"Biar saya yang menyuapi anda." Ucap Dazai menggeser kursi dan duduk di depan Mizutani dan Yuki.


"Masamune san, mari makan." Ajak Mizutani yang melihat Masamune sudah selesai dengan pekerjaannya.


Masamune duduk di sebrang meja melihat interaksi ketiga orang itu. Yuki terlihat seperti seorang putri dari kerajaan besar dengan kedua pelayannya.


"Kenapa ojou chan, anda bisa makan semuanya." Balas Dazai hendak mengambil mie dari piring namun terhenti karena ucapan Yuki selanjutnya.


"Aku tidak memiliki tenaga untuk mengunyah mienya." Raut wajah Dazai berubah sendu. Ia paling tahu kalau nona mudanya sangat menyukai kedua masakan itu.


"Aku juga tidak bisa makan sayuranmu, Dai chan." Suara Yuki terdengar sedih persis seperti Yuki kecil yang merajuk tidak bisa memakan makanan kesukaannya.


"Masih ada kuahnya, apa tidak masalah dengan itu?." Mizutani menunduk melihat wajah Yuki.


"Hm, itu terdengar lebih baik."


"Baiklah untuk saat ini nasi dan kuah, lain kali saya akan memasakannya lagi untuk anda ojou san." Ucap Dazai mulai menyuapi Yuki.


Gadis itu hanya bisa membuka sedikit mulutnya, berusaha menelan makanan itu tanpa di kunyah lebih dulu.


Sorot mata Mizutani dan Dazai terlihat sangat lembut, bahagia, dan sedih. Belum selesai Yuki menghabiskan makanannya gadis itu jatuh terlelap di pangkuan Mizutani.


"Ojou chan kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan energi untuk bicara." Kata Dazai membersihkan bibir Yuki dengan tisu.


"Hm." Mizutani setuju, tangannya membenarkan rambut Yuki yang terjatuh.


"Tsubaki, kamu belum makan, biar aku yang mengantar Ojou chan ke kamar." Ujar Dazai.


"Kamu juga belum makan Dazai. Siapkan saja kantung darah dan yang lainnya." Balas Mizutani membawa Yuki ke lantai dua.


"Maaf Masamune san, kami tinggal sebentar." Dazai menoleh kepada wanita yang sejak tadi mereka hiraukan keberadaannya.


"Y ya, emm ..." Masamune ragu untuk mengatakan isi pikirannya.


"Ada apa?."


"Apa anda juga keluarganya Yuki?, seperti Mizutani san?." Akhirnya pertanyaan itu terucap juga.


"Ya."


"Kalau begitu tidak akan ada masalah jika saya pergi malam ini."


"Eh?!." Dazai terkejut.


"Besok pagi-pagi saya pulang, maksud saya." Masamune menarik nafas sebentar.


"Malam ini saya akan menginap di tempat teman, besok pagi saya pulang. Mengetahui Dazai san juga keluarga Yuki membuat saya tenang meninggalkannya." Jelas Masamune.


"Hahaha, jadi begitu. Tenang saja, Ojou chan adalah keluarga paling berharga untuk kami." Masamune ikut tersenyum mendengar jawaban Dazai.


"Kalau begitu saya pergi sekarang." Pamit Masamune.


Sebenarnya wanita itu hanya beralasan menginap di rumah teman, Masamune tidak memiliki teman di tokyo kecuali ibu kakak beradik tetangganya, Masamune hanya tidak ingin mengganggu suasana hangat keluarga itu, ia juga tahu mereka butuh privasi untuk membicarakan sesuatu. Wanita itu termasuk wanita yang sensitif dengan lingkungan sekitarnya.


Baiklah .., malam ini aku akan menginap di motel dekat rumah agar besok bisa cepat pulang, batin Masamune.


***


Piring kotor sudah Mizutani cuci, ia membawa dua kopi ke meja makan menyodorkan satu cangkir kopi ke pria yang sudah menjatuhkan kepalanya di atas meja sejak tadi.


"Jadi, Ojou chan bisa selamat." Lirih Dazai.


"Belum pernah ada yang selamat. Ditahapan itu banyak yang bunuh diri atau menjadi gila." Sambung Mizutani.


"Ojou chan satu-satunya yang bisa selamat, untuk kali ini keberuntungan berpihak kepada kita." Balas Dazai menatap kalender besar yang tergantung di dinding.


"Bagaimana dengan selanjutnya?. Semua tergantung pada ojou san." Mizutani mendekatkan gelasnya ke bibir.


"Selanjutnya akan mustahil." Kata Dazai, tangannya bergerak meremas belakang kepalanya.


"Tadi aku sangat ketakutan, lebih dari apa pun. Aku sangat ketakutan." Sambung Dazai, membayangkan situasi beberapa jam yang lalu.


Tak.


Mizutani menaruh gelasnya di meja.


"Aku juga."


"Bahkan aku sempat berpikir untuk merubah rencana kita." Mizutani membayangkan dirinya dan para bayangan bergerak untuk balas dendam.


"Aku pikir, aku tidak akan sanggup melihat yang lebih dari ini." Celetuk Dazai.


"Kita harus." Jawab Mizutani.


"Ya, kamu benar. Tapi," Dazai mendongak menatap Mizutan.


"Apa mungkin, orang yang memberikan hukuman itu .., aaarrgghh!. Sial!." Dazai mengacak rambutnya.


"Dazai."


"Hah?."


"Bagaimana caranya kita membuat ojou san memberitahukan kepada kita seberapa banyak yang ia ingat?." Pertanyaan itu mengingatkan Dazai akan masalah yang sebenarnya.


Dazai menegakkan tubuhnya menyesap kopi miliknya.


"Ini lebih sulit. Kita bicarakan dengan bayangan yang lain."


"Ide buruk."


"Tapi mungkin kakek Ryuu memiliki solusi." Sergah Dazai.


"Apa kamu sudah pikirkan apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui bahwa ojou san mendapatkan hukuman." Dazai kembali menyesap kopinya frustasi.


"Akan ada peperangan, karena itu kamu menyembunyikan semua ini sendiri. Jujur padaku Tsubaki." Dazai menatap tajam Mizutani yang duduk di sebrang meja.


"Darimana kamu mendapatkan semua informasi ini?." Mizutani menarik nafas panjang.


"Ketua." Jawab Mizutani.


"Sekarang lebih jelas. Nyonya besar tidak mengetahui tenang hukuman di tubuh ojou chan, Daren dono satu-satunya yang mengetahui keberadaan kita, para bayangan. Daren dono bergerak sendiri di belakang nyonya besar, jadi masalah lainnya sekarang," Dazai menggantungkan kalimatnya menatap serius Mizutani.


"Ada kemungkinan nyonya besar bergerak di luar sepengetahuan Daren dono. Dan dimana Ayumi dono sekarang?. Kenapa beliau bersembunyi ..." Tiba-tiba Dazai melebarkan matanya bergeming di tempat.


"Kamu benar." Ucap Mizutani.


"Tidak mungkin!." Dazai mengepalkan tangannya.


"Kalau begini jika ojou chan tidak bisa bertahan dia satu-satunya yang menjadi korban heh!." Dazai semakin frustasi.


"Kita tidak bisa melakukan apa pun kau tahu benar itu. Kunci kita hanyalah ojou san. Tanpanya kita tidak bisa bergerak, dan Daren dono lah yang memerintahkan untuk tidak bertindak di luar batas untuk menjaga ojou san dari,"


"Hukumannya." Srobot Dazai cepat.


"Kau paham bukan, pergerakan kita akan berpengaruh dengan hukuman ojou san. Para pelindung dan keluarga terhormat juga sangat berpengaruh dengan ini. Jika ojou san di paksa mengingat semuanya kau tahu apa akibatnya, selain itu ada baiknya ojou san tidak ingat." Jelas Mizutani. Dazai mengusap wajahnya kasar.


"Mengingat tidak mengingat semuanya sama saja, tidak ada yang lebih baik untuk ojou chan." Geram Dazai.


"Benarkah?." Lirih Yuki di dalam kamarnya. Ia sedang memegang jam tangan yang terhubung dengan Je. Burung hantu itu diam-diam sedang menguping pembicaraan kedua bayangan.


Brak!.


"Tsubaki!." Mizutani menarik nafas berat.


"Jangan teriak, kamu bisa membangunkan ojou san." Protes Mizutani.


"Akh. Gomen (Maaf). Tapi dengar." Dazai membenarkan posisi duduknya.


"Jika Daren dono sudah mengetahui tentang hukuman di tubuh ojou chan kenapa ojou chan di kirim kembali ke sini?. Bukankah selama ini ojou chan di jauhkan dari semua yang berhubungan dengan jepang, lalu kenapa?." Mizutani menyeruput kopinya sebelum menjawab.


"Nyonya besar, hanya ada satu alasan kenapa Daren dono tidak bisa menolak." Jawab Mizutani.


"Benar, Daren dono tidak bisa menolak keputusan nyonya besar. Daren dono juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Kalau tidak, mungkin akan ada perpecahan besar pada klan." Ujar Dazai.


Hening.


"Tunggu, sepertinya kita melewatkan sesuatu?. Bagaimana dengan waka? (tuan muda)?." Dazai mengernyitkan dahi.


"Daren dono menjaga ojou chan. Berita yang kita dengar terakhir kali, Ayumi dono pergi bersama tuan muda, menghilang bersembunyi?." Gumam Dazai menatap cangkir kopinya.


"Apa kamu juga berpikir mereka berdua sedang bertengkar dan membawa satu diantara anaknya." Celetuk Dazai, tangannya langsung menepuk dahinya sangat keras.


Plak!.


"Daren dono bukan tipe laki-laki seperti itu walaupun beliau asli orang amerika." Lanjut Dazai.


Di dalam kamarnya Yuki tersenyum getir. Efek cairan miliknya yang disuntikan beberap jam yang lalu sudah mulai bekerja. Yuki bisa bergerak sendiri namun, hanya gerakkan kecil, ia masih memerlukan dua botol cairan pemulihan tubuh agar bisa berjalan sendiri.