
Berangkat sekolah seperti biasa, melakukan tugas manajer, dan pulang. Laki-laki yang sejak festival kembang api lalu tidak berbicara lagi dengan Yuki karena kesibukan masing-masing kini berdiri di dekat pagar tempatnya selalu menunggu gadis itu.
Yuki menghampiri Hajime dengan seulas senyum tipis.
"Kenapa belum pulang?." Tanya Yuki.
"Mengerjakan tugas dengan Ryou tadi." Yuki melirik ke belakang punggung Hajime.
"Mereka sangat serasi." Celetuk Yuki yang melihat Ryou dan mantan manajer kelas tiganya Nana.
"Pulang?." Yuki beralih menatap manik Hajime.
"Hm." Mereka mulai berjalan beriringan.
"Sudah lama tidak pulang bareng." Celetuk Hajime.
"Apa rencana senpai setelah lulus?. Aku dengar senpai menolak direkrut bergabung menjadi pemain pro?." Tanya Yuki yang mendengar kabar itu dari Mizutani.
"Aku ingin menjadi seorang guru dan pelatih baseball nantinya." Jawab Hajime.
"Dikampus masih bermain baseball?."
"Ung, maniak baseball sepertiku tidak bisa lepas dari pemukul dan sarung tangan." Yuki setuju dengan jawaban Hajime.
"Senpai ingin pergi ke Universitas mana?."
"Universitas tokyo."
Yuki menghentikan langkahnya menatap Hajime. Universitas nomor satu di jepang, dan universitas yang sama dengan Heru cs.
"Aku mendapatkan undangan masuk ke sana." Lanjut Hajime yang melihat Yuki tetap diam.
"Aku kira senpai hanya seorang maniak baseball." Ledek Yuki, mereka kembali berjalan.
"Maniak baseball ini selalu menempati nomor dua paralel." Balas Hajime.
Mereka terus mengobrol sampai di rumah masing-masing. Yuki segera membersihkan diri dan mengambil koper kecil miliknya yang sudah ia siapkan kemarin malam, berpamitan kepada Masamune hendak menginap di rumah teman. Gadis itu memakai topi hitam untuk menutupi kepalanya, syal yang melilit leher sampai sebatas hidung. Yuki sudah memesan taksi untuk mengantarnya ke stasiun.
Tokyo-kyoto memerlukan waktu dua jam lima belas menit. Yuki turun dari kereta mampir ke restoran cepat saji di dekat stasiun, membeli makanan untuk dimakannya di dalam hotel. Ia segera masuk ke dalam taksi menuju hotel yang sudah ia booking.
Cek in, kamar 413. Yuki segera membuka koper, merakit semua keperluannya, membiarkan Je melayang-layang di dalam kamar hotel. Yuki mengistirahatkan dirinya sambil mengisi perut, melihat pemandangan jantung kota kyoto dari jendela hotel.
Ia memiliki waktu istirahat yang sangat sedikit. Segera menghabiskan makanannya dan mulai bersiap.
***
Rok panjang, jaket tebal, sepatu high heels. Yuki merental mobil membawanya menuju Fukuchiyama kyoto, bagian selatan kota kyoto memerlukan satu setengah jam menggunakan mobil. Fukuchiyama kyoto memiliki banyak kastil-kastil dan kuil-kuil peninggalan jaman dahulu yang kini masih sangat apik karena penduduk sekitar yang merawatnya dengan telaten, rumah-rumah model tradisional yang sangat luas dan estetik, alam yang sangat indah dan asri.
Jauh dari daerah penduduk dan keramaiannya, sebuah kastil berdiri megah di kelilingi alam dan danau yang sangat indah.
***
Helikopter terbang di atas kastil itu, mengudara cukup tinggi. Tangannya memegang ponsel memantau keadaan di bawah sana, burung hantunya yang pintar bersembunyi dan melindungi sinyal milik sendiri dengan cepat mengirimkan gambar-gambar yang di inginkan penciptanya.
"Sudah mulai."
Gadis bermanik biru itu mengarahkan burung hantunya ke arah lima ratus meter dari tkp. Melihat para bayangan sudah mulai bergerak. Ia akui para bayangan sangat keren dalam bergerak, bahkan mereka tidak meninggalkan jejak kaki mereka, apa ada jenis bela diri meringankan tubuh?, pikirnya.
Fokus Yuki beralih kepada kelompok yang menjadi targetnya, naga putih. Ia menyadap sekaligus merekam video mereka. Pembicaraan tentang betapa bodohnya kedua klan yang mereka tipu dan mereka jadikan kambing hitam untuk para intelejen negara-negara lain, menutupi kebusukan mereka sendiri. Kedua sudut bibir itu tertarik ke atas, melihat sebenarnya yang bodoh itu siapa?, mereka atau klannya?.
"Lihat ke arah jam dua, ojou sama benar-benar predator buas." Celetuk Chibi memberikan teropong canggih buatan kakek Ryuu kepada Ame. Wanita itu mengarahkan teropong ke arah jam dua.
"Wow!, betapa gilanya ini. Bukankah mereka CIA amerika (Central Intelligence Agency), bukan hanya FBI ternyata. MI-6 inggris (dinas intelejen rahasia), bukankah mereka badan intelejen tertua di dunia?. BND jerman! (Bundesnachrichtendienst), yang mengandalkan penyadapan dan pengawasan elektronik dari komunikasi internasional baru mengevaluasinya kenapa bisa hadir di sini?. Mereka semua badan intelejen internasional. Apa yang kelompok naga putih ini lakukan sampai menarik perhatian para intelejen mengerikan?." Ame tak habis pikir.
"Ame chan yo." Ame langsung menoleh menatap kakek Ryuu.
"Ini semua sudah menjawab alasan mereka menghasut klan Yakuza dan menyerang kita." Ame bingung.
"Aku tidak mengerti kakek Ryuu?." Kakek Ryuu menengadah ke atas, ke langit gelap malam dengan sebuah siluet bayangan.
"Kita harus melindungi ojou sama dan waka (tuan muda), apa pun yang terjadi. Giliran kita sudah di mulai. Seperti bayangan, bergerak dalam diam, tanpa suara, tidak meninggalkan jejak, cepat, dan menghilang. Kalian mengerti?." Ucap kakek Ryuu berwibawa.
"Hai!."
Ceklik.
"Move!." Titah kakek Ryuu setelah mengeluarkan pistol dari sakunya.
Wooooozzzzz ...
Ame dan Chibi langsung bergerak cepat bagaikan angin. Kakek Ryuu memendekan tongkat di tangannya menyelipkan tongkat itu pada tali di punggungnya. Tubuh yang sedikit bungkuk itu tidak menghalangi gerakkan gesit dan cepatnya, kakek tua sudah berubah menjadi predator bayangan.
Mizutani diam mendongak menatap langit malam. Dazai menggulirkan teropong dari tangannya kepada Jojo.
"Mereka BIN (Badan Intelejen Indonesia), naga putih kelompok yang tidak waras." Gerutu Dazai memberikan informasi itu kepada kedua rekannya.
"Senpai, aku ingin penobatan segera di lakukan." Dazai melirik Jojo yang menatap Mizutani dengan serius.
"Agar kita bisa membantu ojou sama sepenuhnya, aku ingin membantunya tidak hanya menerima informasi utuh tanpa usaha seperti ini. Aku malu, aku adalah bayangan, seharusnya akulah yang melakukan semua tugas ini." Geram Jojo.
"Bersabarlah sebentar lagi, kita akan sepenuhnya menjadi milik ojou san." Jawab Mizutani menundukkan pandangannya tepat ke arah manik Jojo.
Ceklik.
"Untuk sekarang kita lihat, sehebat apa calon pemimpin kita." Kata Mizutani dengan pistol di tangannya.
"Target sudah menunggu. Kalian paham?." Dazai dan Jojo mengangguk mantap.
"Move!."
Woooooozzz!.
Bersandar di balik pohon besar, memandangi langit kosong. Akashi dan kedua rekannya memikirkan hal yang sama.
"Aku tidak menyangka ojou sama memilih mengudara." Celetuk Hiza.
"Strateginya tidak bisa di tebak." Balas Ogura.
"Fbi di sebelah kanan, kalian yang mengurusnya, aku sudah tidak sabar melumpuhkan naga-naga itu." Titah Akashi pria terkuat setelah kakek Ryuu.
"Tidak adil." Gerutu Ogura.
"Lakukan dengan cepat, kalian mengerti?." Kata Akashi dengan nada rendah.
"Hai!."
"Move!."
Wooooozzzz!.
Di sisi lain. Di area kastil, penyerangan sudah di mulai. Para pelindung melemparkan botol-botol gas beracun ke udara lalu menembaknya hingga pecah. Musuh yang sudah bersiap sejak penyerangan terakhir segera berlindung dari kepulan asap ungu gelap, mau berlindung kemanapun jika tempat itu masih memiliki celah kecil asap akan masuk dan menewaskan orang yang menghirupnya.
Bruk.
Bruk.
Bruk.
Suara tubuh berjatuhan, para pelindung menerobos masuk ke dalam kastil. Suara tembakan langsung menggema memenuhi udara. Jeritan, teriakan amarah, pukulan, perang sudah di mulai.
Yuki menghitung jumlah pelindung yang ikut dalam penyerangan, ada sebelas orang. Salah satunya adalah anak kecil yang pernah ia operasi, Yuki yakin dari ukuran tubuh anak itu, ia lah yang paling pendek dari yang lainnya. Tak di sangka Yuki tersenyum gemas dengan cara anak itu memukul, mengayunkan pisaunya, tangan dan kaki pendeknya bergerak cepat seperti seekor monyet bergelantungan di atas pohon.
Yuki menggeser layar ponselnya melihat sebuah bangunan kaca berada di tengah halaman kastil yang sangat luas. Yuki memperbesar gambar di ponsel, memastikan tetua pemimpin klan musuh berada di sana, sedang duduk dikursi berwarna putih di temani teh hangat, para pengawal terbaiknya tersebar di setiap sudut ruangan dan di mana-mana. Lima belas orang, dan dua pelayan wanita. Sedangkan ratusan orang menjaga di depan bangunan kaca yang Yuki sebut rumah kaca penuh tumbuhan. Mereka seakan menunggu para pelindung jikalau mereka berhasil sampai ke sana dan itu benar sekali. Lima pelindung sudah berdiri tegap menatap barisan lautan musuh.
"Lima, seharusnya lebih." Komentar Yuki mematikan ponselnya.
Gadis itu segera melepas jaket, rok, dan sepatu high heelsnya di dalam helikopter. Baju serba hitam miliknya sudah sejak dari hotel ia pakai, tangannya memasang topeng spider woman. Sempurna.
"Terima kasih untuk tumpangannya." Ucap Yuki seraya memasang ransel di punggung. Pilot mengangguk kaku bak robot.
"Baik." Yuki tersenyum lalu membuka pintu helikopter.
Hup.
Tubuh itu sudah melompat keluar. Mengapung di udara akhir desember yang sangat dingin. Di bawah sana tidak ada yang menyadari seseorang sedang melayang mengintai mereka kecuali satu kelompok.
Tuan putri kita sudah turun, batin Hiza.
Sangat cantik, batin Ame.
Sobat, kamu seharusnya melihat cucumu sekarang, batin kakek Ryuu.
Mizutani dan ke delapan bayangan sudah berkumpul di titik selatan kastil, mereka mendongak menatap putri klan jatuh dari langit, tugas mereka sudah selesai, sekarang waktunya melihat bagaimana putri klan menangani pertempuran ini.
"Naik ke atas pohon." Titah Mizutani dan di ikuti oleh yang lain.
Tangan mereka memegang teropong masing-masing, mengamati dari jauh. Terlihat Yuki membuka parasut kecil lalu memutus tali parasut ketika atap rumah kaca dan dirinya berjarak tujuh meter.
"Waw!. Ojou sama sudah benar-benar berubah!." Celetuk Akashi.
"Kedatangan yang meriah!." Sambung Ame.
"Aku mulai bersemangat." Imbuh Ogura yang tak biasanya.
Di lain sisi Yuki memutar tubuhnya di udara lalu melempar peledak kecil ke atas atap kaca.
DAR!.
TAP!.
DOR!.
SRET!.
"Aarrgh!!."
Tangan kiri Yuki melepas tembakan mengenai lengan salah satu anak buah pemimpin yakuza yang sudah membidiknya sejak suara ledakan itu terdengar. Tangan kanannya sudah bertengger di leher pemimpin yakuza, pisau tajam mengkilat itu membuat semua anak buah tak berkutik.
"Kep*rat!." Seru salah satu dari mereka.
Grek!. Grek!. Grek!. Suara pistol terangkat, mengarah kepada Yuki.
"T tuan," cicit pelayan. Mereka bergetar ketakutan.
"Tunggu!. Dia orang yang menolongku!." Seru sebuah suara.
"Pemimpin, dia yang menyelamatkan nyawaku, yang saya ceritakan dua bulan yang lalu." Jelas pria yang pernah Yuki selamatkan dalam penyerangan sebelumnya.
"Doumo (Salam)." Ucap Yuki. Orang tua itu tersenyum.
"Kamu ingin bicara denganku?." Tanya suara serak lirih itu.
"Apakah anda berkenan mendengarkan saya?." Balas Yuki.
"Kenapa tidak. Ada wanita cantik yang sangat sopan memintanya padaku." Yuki mengulas senyum tipis di balik topengnya.
"Kalian turunkan semua senjata, aku mempunyai tamu. Bersikap sopanlah." Anak buahnya jelas sangat tidak setuju tapi pemimpin mereka sudah memberikan perintah.
"Hai!." Semua senjata sudah di turunkan.
Yuki turun dari meja menyimpan kembali pisaunya. Ia membungkuk dalam kepada pemimpin yakuza.
"Maaf untuk semua sikap tidak sopan saya." Orang tua itu tersenyum dan memberikan kode kepada pelayannya untuk mempersiapkan kursi di sebrang meja bundar berwarna putih itu untuk Yuki.
"Tidak apa-apa nona, silahkan duduk." Yuki duduk di sebrang meja.
"Maaf juga, saya memberikan pemandangan tidak menyenangkan ini." Yuki ikut melirik ke samping, melihat barisan kokoh manusia.
"Karena alasan itu juga saya berada di sini." Balas Yuki.
"Ya saya sudah mendengar dari salah satu bawahan saya, nona mencari BD." Orang tua itu meminum tehnya.
"Saya juga sedang mencarinya. Orang itu menghilang setelah saya mengirimkan satu pasukan penuh untuk mengejar pewaris klan Hachibara beserta suaminya." Yuki mengingat penyerangan kedua yang merenggut ingatannya.
Iblis itu menodai gelar pewaris klan, geram Yuki.
"Orang-orangku tidak ada yang kembali begitu juga dengan BD dan pasangan suami istri klan Hachibara. Di saat klan Hachibara membalaskan dendam nyawa yang telah kami renggut secara paksa, BD tidak berniat mengirimkan bantuan kepada kami." Jelas Youtaro Taiki.
"Lalu nona berasal dari mana?." Youtaro menatap manik di balik topeng.
"Kita tidak memiliki waktu banyak Youtaro san. Nyawa anggota klan kita bergantung dengan hasil diskusi ini." Setelah mengatakan itu semua orang mengarahkan pistolnya kepada Yuki.
Gadis itu tersenyum miring yang tertangkap oleh manik tua Youtaro. Yuki mendorong tubuhnya ke belakang bersama kursinya hingga telentang mengadap ke atas tanpa menyentuh lantai, kakinya menahan tubuh pada pembatas meja dalam, dan tepat saat itu sebuah peluru lewat di atasnya.
DOR!.
BRUK!.
"Tahan." Lirih Youtaro.
Yuki menarik tubuhnya kembali ke posisi semula.
"Jika kalian pikir sudah memerangkapku di sini kalian salah besar." Ucap Yuki menyilangkan kakinya.
"Kalianlah yang tidak di untungkan di sini. Shoot!." Yuki menekankan kalimat terakhirnya.
Sebuah peluru tiba-tiba menembus perut anak buah Youtaro yang berdiri di belakang Yuki. Orang-orang terkesiap namun mereka tidak melonggarkan kewaspadaan mereka.
"Terserah kalian, mati di tanganku atau mati di tangan mereka yang menyerang di luar sana. Ikat perutnya. Sebelum dia kehabisan darah." Yuki menoleh ke samping seakan memberikan perintah kepada anak buah Youtaro yang berdiri di sana.
Setelah orang itu bergerak mengikuti perintah Yuki gadis itu menoleh menatap Youtaro.
"Saya adalah bagian dari klan Hachibara yang mengetahui bahwa anda telah di hasut oleh klan naga putih untuk menyerang kami."
DEG!.
Youtaro melebarkan matanya.
"Tapi mereka yang berada di luar sana tidak mengetahui fakta ini, mereka akan terus menyerang kalian tanpa henti. Saya tidak ingin memperpanjang pertempuran. Jadi, bisakah kita bicara dengan tenang Youtaro Taiki san?."
Ekspresi Youtaro berubah tenang namun serius menggerakkan satu jarinya. Anak buahnya pun paham dan bergerak agak menjauh.
"Biarkan beberapa dari mereka mendengar pembicaraan kita Youtaro san." Pinta Yuki. Youtaro menganggukkan kepalanya kecil. Tiga orang mendekat.
"Aaaarrrggghhh!!!." Jerit melengking dari luar menembus kaca tebal itu.
"ARGH!!." Sahutan jeritan yang lain.
"Anak buah anda mulai berguguran." Ujar Yuki.
"Yah, kami sedang tidak di untungkan." Jawab Youtaro tersenyum miris.
"Silahkan anda lihat ini." Yuki menaruh sebuah ponsel di atas meja.
Pelayan wanita mengambilnya dengan takut-takut lalu memberikannya kepada Youtaro.
"Semoga anda bisa sadar setelah melihat video itu." Ucap Yuki.
Youtaro pucat pasi melihat video berisikan niat busuk naga putih yang menjadikan klannya sebagai kambing hitam untuk menyelamatkan klan naga putih sendiri, mereka di tusuk dari belakang!. Itu penghinaan terbesar bagi klannya. Youtaro memberikan ponsel itu kepada salah satu anak buahnya.
"Apa yang anda inginkan nona?. Saya akan mengabulkan semua permintaan anda." Anak buah Youtaro hendak protes tapi mereka tidak berani.
"Saya tidak meminta banyak Youtaro san." Yuki menatap dalam manik orang tua itu.
"Berikan padaku semua informasi tentang BD, sebarkan fakta permasalahan klan kita sejak awal kepada semua anggota klan masing-masing. Tidak ada balas dendam lagi, tidak ada penyerangan lain, jadikan klan seperti dulu. Saling menghormati dan tidak saling mengganggu urusan masing-masing." Yuki menarik nafas pelan, menekan setiap katanya.
"Kami adalah klan tertua. Jika ada yang menyentuh kami, kami akan menghabisinya tanpa tersisa. Apakah anda lupa siapa kami, Youtaro san?." Youtaro terdiam sebentar.
"Saya menyetujui permintaan anda nona. Maafkan kami yang tergoda hingga mata kami tertutup. Kami telah menerima hukuman kami nona. Klan kita berdamai. Saya akan bekerja sama dengan anda. Musuh kita sama."
Yuki menolak dengan tegas.
"Klanmu membutuhkan perbaikan besar setelah semua penyerangan ini. Terima kasih untuk tawaran anda. Silahkan anda bicarakan masalah kalian sendiri tentang penghianatan klan naga putih, saya hanya perlu informasi dari anda." Ujar Yuki beranjak berdiri.
"Kita bicara lagi di lain waktu Youtaro san. Anak buah anda harus segera di selamatkan. Terima kasih untuk perjanjian damai ini. Senang bertemu dengan anda." Ucap Yuki membungkuk sopan lalu berjalan keluar melewati pintu depan rumah kaca itu.
"Kalian sudah dengar. Lindungi nona dari klan Hachibara, jangan sampai yang lain salah menganggapnya musuh." Titah Youtaro.
"Hai!." Setengah dari anak buahnya berlari menyusul Yuki.
"Semuanya!. Ming." Suara Yuki tertelan oleh seruan-seruan dari belakang.
"MENYINGKIIIRRR ... !!." Yuki tersenyum kecil.
Lumayan menghemat tenaga, batin gadis itu.
Yuki terkejut, tidak lebih dari empat puluh orang anak buah Youtaro yang tersisa. Kakinya berhenti di depan kubu Youtaro, anak buah pilihan Youtaro pun berdiri di kanan dan kiri Yuki agak ke belakang. Menggeram pelan melihat tubuh-tubuh tak bernyawa rekan mereka.
"Sudahku katakan, tidak ada dendam." Ucap Yuki dingin. Memberikan peringatan.
Jauh di depan sana, lima belas orang sedang mengeroyok lima pelindung, mereka sedang dalam pertarungan yang sengit.
Woooozzz.
Sebuah bola melayang di atas kepala mereka. Anak buah Youtaro yang sejak tadi berada di medan tempur mengetahui bola apa itu, mereka segera berlari sejauh mungkin dari sana. Tangan Yuki mengeluarkan bola yang sama, melemparnya ke atas.
DAR!.
DAR!.
Asap ungu pekat tertelan langsung oleh asap putih, menyedotnya hingga menguap menjadi embun pagi. Kumpulan orang-orang di tengah perkelahian terdiam sesaat. Manik mereka menyorot Yuki yang memakai kostum paling berbeda dan, sedikit aneh.
"Kembali, dan lindungi Youtaro san. Aku tidak ingin Youtaro san terluka sedikit pun." Anak buah Youtaro terkejut. Musuh mereka mementingkan pemimpin mereka?.
"Bawa ini, ini adalah penawar asap beracun itu. Perintahkan semuanya untuk mundur." Titah Yuki.
"Terima kasih." Orang itu mengambil tiga botol kaca bundar yang di berikan oleh Yuki.
"Tapi kami juga memiliki harga diri dalam pertarungan." Imbuh orang itu, memberikan kode kepada yang lain untuk mundur menyisakan sepuluh orang bersama Yuki.
Keras kepala, batin gadis itu.
Woooozzzz.
Grep!
Swiiiinnngggg.
Sret!.
Sebuah pisau melayang tepat ke leher anak buah Youtaro untunglah Yuki masih berada di dekatnya, gadis itu menangkap dan memutar sekaligus lalu melemparnya ke arah si pemilik.
Crriiinnnggg!.
Anak kecil itu menangkis pisau yang tiba-tiba mengarah kepadanya begitu cepat.
"Jangan melamun dan mengagumi mereka." Suara Yuki menyadarkan anak buah Youtaro.
"Jika kalian masih tidak ingin pergi. Jangan membunuh dan jangan mati." Ucap Yuki lalu berlari menerjang ke depan.
Yuki mengeluarkan dua benda sekaligus, lima pasang mata langsung mengarah kepadanya, ia merasa seperti seekor kijang kecil di tatap oleh para predator. Pelindung paling kanan hendak memberikan pukulan mematikan ke arah jantung anak buah Youtaro di genggamannya.
Jangan terburu-buru kawan, batin Yuki menembakkan jarumnya.
Bruk!.
Pelindung itu terjatuh.
"Ambil teman kalian, selamatkan dia!." Titah Yuki kepada anak buah Youtaro di belakangnya.
Yuki mengarahkan pistolnya ke depan tanpa memperlambat larinya. Tiba-tiba seseorang terbang dari arah samping Yuki, melayangkan tendangannya.
Sret!.
Yuki menjatuhkan tubuhnya melakukan sleding, tangan kanannya melepaskan tembakan ke depan, secara bersamaan ia melempar tali ke arah kaki si penendang, namun Yuki di buat terkejut oleh anak kecil itu, ia melempar pisau untuk melindungi kakinya menggagalkan rencana Yuki.
Bruk.
Pelindung di depan Yuki terjatuh. Melihat spider woman itu bisa melumpuhkan para musuh anak buah Youtaro ikut menerjang ke depan dengan semangat.
Yuki tidak di berikan waktu untuk berdiri. Anak kecil itu langsung menerjangnya ke depan, mengunci kedua tangannya. Tubuh kecilnya terasa berat di atas tubuh Yuki, tangan kecil itu terasa sangat kuat mencengkeram kedua tangannya, gigi putih kecilnya menggigit erat pegangan pisau yang sudah berlumuran darah. Manik mereka bertemu, manik yang tertutup topeng dan kacamata.
"Mau menusukku?, setelah aku menyelamatkanmu di ruang operasi?." Ucap Yuki datar. Manik itu sedikit terbuka tanpa Yuki sadari.
"Mari kita bersenang-senang di lain waktu little boy." Ucap Yuki setelah itu ia melakukan gerakkan yang sangat cepat hingga Will tak sempat bereaksi.
Yuki meloloskan kedua tangannya dari cengkraman Will, balik mencengkeram anak itu membalikan tubuh mereka, hingga sebuah jarum menancap di leher Will.
Tiga terjatuh, batin Yuki melihat sekitar.
Sepuluh anak buah Youtaro sedang berusaha melumpuhkan kedua pelindung. Yuki berjalan ke depan menghampiri pertempuran yang tersisa.
Tap!. Tap!. Tap!. Tap!. Tap!.
Suara-suara langkah kaki cepat menuju halaman kastil. Yuki melirik ke samping. Ke enam pelindung lainnya sudah datang.
Ini akan merepotkan, batin Yuki.
Melihat ke tiga rekannya tergeletak tak bergerak mereka pikir rekan mereka sudah terbunuh, dengan amarah yang memenuhi diri mereka, langkah lebar, tangkas, dan cepat menerjang semua musuh yang ada di hadapan mereka.
SIAL!, seru Yuki dalam hati.
Enam pelindung langsung berpencar menjadi dua kubu, empat menuju rumah kaca yang di jaga ketat oleh anak buah Youtaro yang tersisa, dua menuju ke arahnya.
Yuki berlari kembali ke arah rumah kaca. Dua pistol teracung ke arahnya.
"Aktifkan sensor mata." Lirih Yuki.
Lensanya berkedip lalu sebuah tampilan hologram terlihat, Yuki bisa melihat arah bidikan, dan waktu pelepasan tembakan. Maniknya sangat fokus melihat ke sebrang sana. Sebuah asap ungu gelap dan putih sudah mewarnai udara. Ia harus cepat.
DOR!.
DOR!.
Mereka menembak udara kosong. Yuki mengeluarkan dua pisaunya. Pelindung segera membidik Yuki lagi.
Hindari pertarungan jarak pendek, aku tidak di untungkan, batinnya. Yuki melemparkan dua pisau dua detik sebelum pelindung melepas tembakan.
Klang!.
Klang!.
Pistol terlempar bersama pisau Yuki, gadis itu semakin mempercepat larinya.
Woooozzzhhh.
DAR!.
Sial!, rutuk Yuki melihat penawar racun ke dua sudah membumbung ke atas. Tepat di dalam rumah kaca.
Salah satu pelindung sudah dekat dengan rumah kaca, gerutu Yuki dalam hati.
Dua pelindung terkejut dengan kecepatan wanita aneh yang tak di prediksi akan berada di sana membantu musuh mereka.
"Diam." Suara serak berat itu sangat lirih tapi entah kenapa di dalam kebisingan pertempuran suara itu terasa sangat dekat di telinga mereka membuat tubuh mereka membeku.
Sret!.
Yuki melewati kedua pelindung. Tangannya mengambil tongkat pendek sepanjang 10 cm dari samping ransel. Menekan tombol kecil pada tongkat.
Zeb!.
Tongkat seketika berubah panjang. Yuki melempar tongkat itu ke arah pelindung yang hendak mencekik anak buah Youtaro.
Zwooosstt.
DAK!.
"Argh!." Tubuh anak buah Youtaro terjatuh dan segera di ambil oleh rekannya menjauh. Yuki mengambil dua tongkat lainnya. Melempar satunya ke arah pisau yang hendak menyayat leher anak buah Youtaro.
Krang!.
DAR!.
Yuki melebarkan matanya. Penawar terakhir!, serunya dalam hati.
Yuki mempercepat larinya, tongkat di tangan kiri ia pegang erat.
***
"Bunuh mereka semua!." Geramnya.
Para pelindung berpencar menyerang secara membabi buta semua musuh yang berdiri di hadapan mereka.
"Satu nyawa kami bernilai sepuluh nyawa kalian." Ucapnya penuh emosi.