
Yuki membuka matanya melirik ke samping, Natsume sudah tidak berada di tempatnya, ia menggeliat meregangkan otot-ototnya lalu duduk seraya mengerjap-ngerjapkan mata.
Rasanya sangat aneh tidur bersama orang lain selain dengan saudara kembarnya, Yuki hampir tidak bisa tidur karena merasa risi tapi ternyata rasa lelah tubuhnya membuat ia jatuh tertidur. Yuki kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang ia masih merasa mengantuk. Namun aroma harum dari arah luar membuatnya membuka mata lebar-lebar.
Yuki meninggalkan keinginannya untuk tidur ia keluar dari kamar setelah merapihkan tempat tidur seperti yang Masamune ajarkan. Yuki melihat Natsume yang sedang sibuk di dapur, Natsume terlihat keren seperti Masamune saat di dapur.
"Ada yang bisa aku bantu?." Tanya Yuki setelah berada di dekat Natsume.
"Kamu sudah bangun." Ucap Natsume tanpa melirik Yuki.
"Tolong potong dadu wortel di sampingmu." Perintah Natsume.
"Ung." Jawab Yuki, ia meraih pisau dan membeku di depan wortel.
Potong dadu seperti apa?, aku tahu itu kotak tapi wortel bentuknya tidak kotak?, apa yang harus aku lakukan?, batin Yuki mempererat genggamannya pada pisau.
BRAK.
DUG.
PLETAK.
Natsume sangat terkejut dengan suara horor di belakangnya, ia membuka mata lebar-lebar melihat talenan miliknya yang sudah tepisah menjadi dua.
"Apa yang kamu lakukan Yu chan?!." Tanya Natsume histeris, Yuki menunjuk pisau di tangannya.
"Memotongnya." Jawab polos gadis itu. Natsume melirik potongan-potongan wortel yang tidak berbentuk tersebar di meja. Natsume menjatuhkan rahangnya.
Yuki mengangkat kembali pisaunya lalu mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
"Stoooopp !!!." Pisau berhenti tepat diatas wortel yang akan menjadi korban Yuki selanjutnya.
"Biar aku yang memotongnya, kamu bisa mengaduk karenya untukku?." Pinta Natsume menunjuk panci hitam di atas kompor.
"Ung."
Jantung Natsume berdetak kencang tangannya memunguti potongan-potongan wortel yang berceceran lalu mengangkat talenannya yang sudah terbelah menjadi dua.
Natsume pikir ia sudah menyelamatkan dapurnya tapi dia salah, suara lain dari belakang tubuhnya membuat ia membeku seketika.
TANG.
TANG.
DUK.
TANG.
TANG.
"Yu chan!, apa kau ingin merusak panciku juga?." Natsume membalikan badannya secepat kilat.
"Pancinya terus bergerak Hazuki." Yuki menunjuk panci di depannya.
"Itu karena," belum selesai Natsume bicara Yuki tiba-tiba memegang telinga panci dengan tangan kosong.
"Akh panas." Lirih Yuki meringis kecil.
Kedua tangan Natsume meraih pundah Yuki menariknya menjauh dari kompor, mendorongnya ke meja makan.
"Kamu tunggu saja di sini." Ucap Natsume mendudukkan Yuki menarik tangan gadis itu mengeceknya sebentar.
"Aku ambil obat dulu." Natsume hendak pergi namun di cegah oleh Yuki.
"Aku saja, dimana obatnya?." Tanya Yuki. Natsume menunjuk kotak kecil yang terletak di atas nakas dekat dapur.
"Itu, kamu bisa sendiri?." Natsume memastikan.
"Ung."
Setelah mendapatkan jawaban dari Yuki Natsume kembali ke dapur, mengatasi kekacauan yang temannya perbuat.
Yuki mengobati lukanya dengan tenang, ia sedikit memperban tiga jarinya.
"Lukanya dalam?." Tanya Natsume meletakan panci hitam yang hampir menjadi korban Yuki di atas meja.
"Sedikit." Yuki mengangkat tiga jarinya yang ia perban.
"Harusnya kamu bilang kalau tidak bisa memasak." Omel Hazuki mengambil nasi dari rice cooker.
"Aku ingin membantumu." Ucap Yuki.
"Aku sangat berterima kasih untuk niat baikmu tapi aku juga tidak mau kamu terluka." Kata Natsume seraya menunjuk Yuki dengan centong nasi di tangannya.
"Gomen (Maaf)."
"Tidak ada manusia yang sempurna tapi kamu tetap terlihat sempurna dimataku Yu chan." Yuki memutar bola matanya dengan malas mendengar kalimat menggelikan dari Natsume.
"Hahahaa .., ayo sarapan." Natsume menyodorkan kepada Yuki satu piring nasi dan kare.
"Maha karyaku yang pertama bagus bukan." Ucap Yuki seraya menunjuk potongan wortelnya yang tidak berbentuk.
"Ung, sangat bagus sampai aku harus rela kehilangan talenan kesayanganku." Sambung Natsume, Yuki tertawa kecil dengan fakta itu.
"Ayo makan." Yuki memasukan kare ke dalam mulutnya. Selain potongan wortel mengerikannya rasa dari kare Natsume juga mengejutkan.
"Hazuki, ini sangat enak." Ucap Yuki menutup mulutnya dengan jari tangan.
"Terima kasih, makan yang banyak Yu chan." Jawab Natsume menikmati sarapannya.
"Bagaimana kamu bisa memasak sendiri." Yuki heran.
"Kalau tidak memasak sendiri pengeluaranku akan semakin banyak." Yuki mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil membuat Natsume terkikik geli.
Setelah tragedi memasak dan menikmati sarapan dengan tenang Yuki sudah mandi dan berkemas, sepuluh menit lagi jam sembilan ia harus segera turun.
Natsume mengantarkan Yuki turun dari apartemen ia kira gadis itu akan pulang menggunakan taksi tapi hal mengejutkan membuatnya tersenyum jail dan membisikan sesuatu di telinga Yuki.
"Apa ini alasanmu mandi di pagi hari?." Bisik Natsume melirik laki-laki di depan sana, berdiri dengan tegap, dua tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket, celana hitam panjang dan jaket hitam pula sepertinya laki-laki itu habis melakukan jogging.
"Aku selalu mandi dua kali sehari." Bahkan kadang lebih dari dua kali, lanjut Yuki dalam hati.
"Tunggu!, bukankah dia kapten tim baseball?." Seru Natsume tertahan.
"Kamu mengenalnya?." Yuki pikir mereka sama-sama anak baru di sekolahnya, bagaimana Natsume bisa mengenal Hajime secepat itu.
"Siapa yang tidak tahu dia, anak-anak banyak yang membicarakannya apa lagi di kelas kita juga ada dua anggota tim baseball." Yuki mengangkat satu alisnya. Sebelum Yuki sempat bertanya Natsume sudah berbicara lagi.
"Dia terkenal kalem, tidak banyak perempuan yang bisa mendekatinya, lihat aura pemimpinnya." Suara Natsume terlihat sangat bersemangat.
"Sudah cepat sana, jangan buat dia menunggu lama." Ucap Natsume seraya mendorong punggung Yuki.
"Haah ..?." Yuki memiringkan tubuhnya menatap Natsume kesal, yang di tatap malah tersenyum cerah dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan." Ucap Natsume lalu beralih menatap Hajime menunduk sekilas dan berlari kembali ke dalam apartemen.
Apa yang dia lakukan?, batin Yuki.
Yuki berjalan perlahan menghampiri Hajime.
"Temanmu sangat aktif." Komentar Hajime setelah Yuki berdiri di depannya.
"Dia lebih aktif dari yang senpai kira." Balas Yuki. Hajime mengulurkan tangannya mengambil alih ransel di punggung Yuki dengan lembut.
"Senpai, kamu merampok tasku?." Ucap Yuki tidak percaya.
"Aku hanya membawakannya sebentar." Jawab Hajime.
"Tiga tas lagi pun aku masih kuat." Yuki hendak meraih ranselnya dari Hajime.
"Aku tahu, karena itu kamu bisa melakukan lemparan seperti kemarin." Yuki akhirnya mengalah ia membiarkan laki-laki itu membawa ranselnya. Hajime berjalan lebih dulu di ikuti Yuki disampingnya agak ke belakang.
Natsume menahan senyumnya setelah mengintip interaksi kedua orang itu. Yuki yang terkenal banyak menolak siswa di sekolah kini berjalan berdua dengan seniornya.
Perjalanan pulang ternyata lumayan jauh, Yuki juga tidak paham dengan jalanan yang sedang mereka lewati.
"Senpai berlari sejauh ini?." Tanya Yuki mengamati sekitar.
"Tidak, apartemen temanmu berlawanan arah dengan arah rumah kita. Aku hanya berlari lurus saja." Yuki mendengarkan dengan baik, sepertinya ia memang berlari ke arah berlawanan dari rumahnya kemarin.
"Yang biasa kamu dan Keiji lewati jalan lurus ke kanan sana." Hajime menunjuk perempatan di depan mereka, Yuki mengingat perempatan itu.
"Ini cukup jauh." Gumam Yuki.
"Ya, kamu pasti sangat bersemangat kemarin." Komentar Hajime.
Apa yang akan dikatakan laki-laki itu kalau tahu Yuki berlari tiga kali lipat lebih jauh dari sana.
"Senpai." Panggil Yuki.
"Ya?."
"Apa Mi chan ada di rumah?." Tanya Yuki, ia masih tidak ingin bertemu dengan pria itu.
"Tidak, apa kamu ingin menemuinya?."
"Tidak."
"Kapan Masamune san kembali?."
"Nanti malam." Jawab Yuki singkat.
"Mau mampir ke rumahku?." Tawar Hajime.
"Tidak terima kasih, aku sudah merepotkan kalian." Tolak Yuki dengan sopan.
"Kalian terlalu baik kepadaku, aku bisa membeli makan siang di minimarket, senpai tidak perlu repot-repot." Ujar Yuki, ia berharap Hajime mengurungkan niatnya.
"Ada bahan makanan di rumah?." Kamu sudah aku tolak senpai, batin Yuki.
"Mungkin." Jawab Yuki sekenanya.
Hajime melirik ke belakang mendapati Yuki yang membuang wajahnya ke samping, raut wajah cemberut gadis itu membuat Hajime menahan senyumnya.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Gguuukk!.
Suara mengerikan itu membuat Yuki reflek menatap ke depan. Keiji dan anjing putihnya berdiri di depan rumah mereka.
Tidak terasa Yuki sudah sampai di rumahnya RALAT, masih kurang beberapa meter lagi.
Gguuukk !!!.
Anjing itu maju ke depan menggonggong kepada Yuki, sontak Yuki langsung bersembunyi di belakang Hajime.
"Berhenti bersembunyi dia tidak akan mengejarmu." Kata Keiji di susul oleh gonggongan anjingnya.
"Tidak ada yang tahu, kalau nanti dia lepas bagaimana." Jawab Yuki dari balik tubuh Hajime.
"Tidak akan, kecuali aku memang sengaja melepaskan talinya." Yuki mengeluarkan sedikit kepalanya, maniknya dan manik Keiji bertemu. Yuki tidak percaya anak itu tidak akan balas dendam kepadanya.
"Keiji." Tegur Hajime.
"Keiji kun ..." Yuki ikut menegur anak smp itu.
"Kembalikan Shiro (nama anjing Keiji) ke rumah." Titah Hajime.
"Ikat dia di rumah. Ingat, jangan sampai lepas." Imbuh Yuki.
"Tunggu di situ, ada banyak yang ingin aku tanyakan." Ujar Keiji kembali ke dalam rumah.
"Aku tidak akan menjawabnya!." Seru Yuki seraya berjalan menuju rumahnya.
Gguuukk !, gguuukk !!!.
Shiro tiba-tiba berlari keluar dari rumah menghampiri Yuki. Talinya lepas!, seru Yuki dalam hati. Secepat kilat gadis itu berlari menghampiri Hajime mencengkeram lengan berotot laki-laki itu bersembunyi di belakangnya.
"Hentikan dia ... Hentikan dia ... Senpaaiii !." Seru Yuki saat Shiro sudah berada di depan mereka.
"Shiirooo!." Panggil Keiji yang langsung menghentikan Shiro.
"Duduk!." Anjing itu mengikuti perintah tuannya.
Yuki pusing, tiba-tiba kepalanya terasa panas hanya karena seekor anjing.
"Aku bisa menyuruh Shiro mendekat kepadamu. Lihat, dia sangat menyukaimu." Kata Keiji menyeringai.
Yuki menelan salivanya, ia melirik ke bawah melihat anjing itu duduk menatap dirinya, lidahnya terus terjulur ke depan, dan ekor itu terus bergerak menunggu Yuki mendekatinya.
"Aku tidak akan pernah mendekatimu, pergilah. Shuu .., shuu ..." Yuki berusaha mengusir Shiro.
"Keiji kun, tangkap dia." Geram Yuki tanpa sengaja ia mencengkeram lengan Hajime lebih kuat.
"Shiro sudah lama ingin mendekatimu, mungkin hari ini sudah saatnya." Jawab anak itu.
Sialan, Keiji benar-benar mengerjainya, batin Yuki. Hajime melangkahkan kakinya ke depan yang di tarik cepat oleh Yuki.
"Mau kemana?." Sergah Yuki.
Hajime menoleh ke belakang menatap Yuki, wajah gadis itu sudah pucat pasi, mata birunya terlihat polos seperti mata Shiro jika Keiji hendak pergi ke sekolah.
"Mau ambil Shiro membawanya ke rumah." Jawabnya, Yuki menggelengkan kepalanya pelan, manik biru itu terus menatap manik Hajime.
"Kalau begitu kamu harus mengalah kepada Keiji."
"Senpai tidak akan membelaku?." Pertanyaan Yuki sangat mirip anak kecil. Yuki tersadar sifat itu bukanlah dirinya cepat-cepat ia memutar otak melepaskan tangannya dari lengan Hajime.
"Keiji kun, kita bicara di rumahku." Ucap Yuki.
Keiji tersenyum lebar, ia menang kali ini.
"Shiro ..!, kemari." Panggil Keiji, anjing itu berlari menghampiri Keiji sesekali masih menengok ke arah Yuki.
"Aku tunggu di rumah." Ujar Yuki berjalan menuju rumahnya setelah memastikan Keiji memegang Shiro. Hajime mengikuti Yuki dari belakang sedangkan Keiji kembali ke rumah bersama Shiro.
Di dalam rumah Hajime sedang melakukan pemanasan, posisi tubuh dan tangannya seperti hendak memukul bola.
"Apa tidak ada hari libur untuk istirahat?." Tanya Yuki saat menuruni tangga ia baru dari kamarnya.
"Musim panas akan datang dengan cepat, kemampuan kami masih belum cukup." Yuki menaikan satu alisnya. Kemampuan memukul tim inti sudah sangat hebat, ditambah catcher menyebalkan itu, mereka akan menang dengan mudah, pikir Yuki.
"Kalian?."
"Kamu tidak menonton pertandingan kami dengan sekolah Midori koukou (Sma Midori) kan." Jawab Hajime masih tetap mengayunkan tangannya.
"Tidak."
"Kemarin Kudo bilang kepadaku, mungkin lemparanmu lebih menakutkan dari pitcher sma midori, dan aku setuju dengan itu." Yuki duduk di sofa depan tv tangannya memegang remot menyalakan benda persegi panjang itu.
"Itu hanya kebetulan." Sanggah Yuki.
"Sma midori adalah musuh bebuyutan kami, bahkan setelah kekalahan di final musim panas kemarin kami masih mengingatnya dengan jelas."
Tumben senpai mau bercerita panjang lebar, batin Yuki.
"Sepertinya kamu sudah bertemu dengan pitcher sma midori." Yuki berjalan ke salah satu lemari yang berada di dapur mengambil beberapa bungkus cemilan dan dua botol air.
"Siapa?." Terlalu banyak orang baru membuat Yuki enggan untuk mengingat mereka semua.
"Laki-laki yang bertengkar dengan Shinichi." Yuki berusaha mengingat, tangannya mengulurkan botol air kepada Hajime.
"Laki-laki dengan rambut pirang?." Yuki mengingat laki-laki berkulit putih dan berambut pirang sore itu sedang bertengkar dengan Inuzuka di dekat lapangan.
"Ya, dia adalah pitcher nomor satu di seluruh sma jepang dan kami harus mengalahkannya di kejuaraan musim panas nanti." Hajime menengguk minumannya.
"Balas dendam?." Tanya Yuki, Hajime menurunkan pandangannya.
"Ya, selain itu untuk bisa melaju ke kejuaraan nasional kami harus mengalahkan sma midori karena kami berada di distrik yang sama." Yuki mengangguk sekilas lalu kembali ke sofa, menepuk sofa di sebelahnya.
"Apa untungnya bertanding di kejuaraan nasional, untuk memuaskan diri?." Raut wajah Hajime berubah datar.
"Apa menurutmu ini hanya sebuah ekstrakulikuler?." Tanya Hajime menghampiri Yuki dan duduk di sebelah gadis itu.
"Ung, bukankah seperti itu?." Yuki membuka bungkus cemilan lalu melahapnya, pembahasan yang menarik dirinya hingga tak sadar ia pun duduk menghadap Hajime.
"Apa yang membuatmu ingin sekali bergabung ke klub karya ilmiah?." Tanya balik Hajime.
Yuki diam sebentar ditanyai seperti itu, alasannya ingin masuk ke klub karya ilmiah sangat pribadi baginya.
"Aku punya tujuan sendiri." Jawab Yuki.
"Begitu juga dengan kami, banyak dari kami yang ingin di promosikan menjadi pemain baseball pro, ingin bermain di lapangan koshien (adalah tempat pertandingan bisbol sma tingkat nasional diadakan, hanya sekolah-sekolah yang mampu mengalahkan sekolah hebat lainnya yang bisa pergi ke koshien dan bertemu dengan sekolah-sekolah juara dan bertanding dengan mereka, menunjukkan sekolah mana yang nomor satu di seantero jepang. Tempat yang banyak para pemain bisbol sma dambakan), dan masih banyak yang lain." Jelas Hajime.
"Bagaimana dengan senpai?, mau menjadi pemain pro?." Tanya Yuki seraya menyodorkan bungkusan cemilannya, Hajime ikut mengambil cemilan dari tangan Yuki dan memakannya.
"Untuk saat ini aku hanya fokus untuk mengalahkan sma midori dan pergi ke koshien bersama mereka (tim)." Jawab Hajime.
"Apa itu tanggung jawab seorang kapten?." Hajime mengambil cemilan lagi.
"Bukan, hanya saja aku ingin menuju puncak bersama mereka. Mereka adalah partner yang menarik Hachibara san." Ujar Hajime tersenyum kecil. Kemarin malam suara tawanya dan sekarang senyum kecil yang terlihat imut terpampang jelas di depan Yuki.
"Yuki." Ucap Yuki tiba-tiba membuat Hajime menatapnya bingung.
"Hm?."
"Panggil aku Yuki, agar tidak terlihat canggung." Jelas Yuki balas tersenyum kepada laki-laki itu. Hajime hanya bisa menatap senyum indah di hadapannya, terlihat sangat tulus dan bermakna.
"Bukankah dia gadis menyebalkan aniki (kakak)." Suara itu menghentikan momen mereka. Yuki dan Hajime beralih menatap Keiji yang berdiri tidak jauh dari sofa.
"Kita sama-sama menyebalkan Keiji kun." Balas Yuki menepuk sofa di belakangnya.
"Aku berubah menyebalkan karenamu Hachibara san." Protes Keiji tidak mau kalah dan duduk di sisi yang kosong, Yuki memberikan bungkusan cemilannya kepada Hajime dan beralih menghadap Keiji.
"Panggil aku senpai." Pinta Yuki.
"Kamu bukan seniorku." Tolak Keiji.
"Tahun depan kita akan di sma yang sama, jadi panggil aku senpai." Pinta Yuki tidak mau menyerah.
"Tidak." Tolak Keiji mentah-mentah. Yuki mengulum bibirnya ke dalam sedangkan tangannya terangkat hendak bergerilya di pipi chuby anak itu.
"Apa ini ... Sejak kapan pipimu tambah mengembang Keiji kun." Celetuk Yuki menarik, mencubit gemas pipi Keiji. Keiji berusaha mengelak dan menghentikan tangan Yuki.
"Hachibara san, lepaskan." Protes Keiji kesal.
"Hm .., tidak akan." Jawab Yuki.
"Argh!." Jerit Keiji.
Seperti biasa, Hajime menonton dua anak itu berperang sambil menikmati cemilan di tangannya. Keiji yang selalu berakhir di tangan Yuki.
"Aku akan mengambilkanmu minum." Ucap Yuki setelah puas bermain dengan pipi Keiji.
Keiji mengusap kedua pipinya perlahan.
"Dia menyebalkan." Gerutu Keiji.
Hajime hanya tersenyum menanggapi keluhan adiknya.