
Yuki menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Menatap Fathur yang menunjukkan wajah kesalnya.
"Kematian sudah menungguku. Bagaimana aku bisa memberikan harapan indah kepada orang yang menyukaiku dengan tulus jika pada akhirnya aku akan meninggalkannya?." Fathur mulai dibuat frustasi lagi oleh gadis bermanik sebiru langit dan sedalam lautan itu.
"Kamu punya jawabannya?." Tanya Yuki.
"Bukankah kamu bilang selalu lolos dari kematian." Ucap Fathur.
"Setiap aku berhasil hidup lagi, itu sangat menyakitkan." Fathur mengacak-acak rambutnya.
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya?." Yuki membuang wajah ke samping.
Hening.
"Aku pulang." Yuki turun dari meja pantry.
"Aku akan mengantarmu."
"Pakai motor?." Tanya Yuki.
"Tidak."
"Kalau begitu tidak perlu." Tolak Yuki berjalan mengambil tas selempangnya.
"Terima kasih untuk makanannya, dan terima kasih untuk saranmu, itu sangat membantu. Aku pulang." Pamit Yuki berjalan ke pintu depan.
"Eva." Yuki menoleh ke belakang.
"Hm?."
"Ini bukan kali terakhir kita bertemu kan?." Yuki mengedikkan bahu, sikap acuh dirinya.
"Jaga baik-baik dirimu, jaga ibu, pak Dani. Aku titip Tiara. Thanks Thur." Yuki membuka pintu dan keluar dari apartemen Fathur.
Gadis itu berjalan ke pinggir jalan raya menaiki taksi kembali ke mall untuk mengambil mobil Mizutani.
Di dalam perjalanan pulang Yuki menyetir seraya memikirkan kembali pembicaraannya dengan Fathur.
Fathur tidak memiliki jawaban untuknya. Tidak ada jawaban untuknya. Bahkan ingatannya tidak mau membantu Yuki.
Yuki meminggirkan mobilnya, membuka kaca mobil.
"Ayo masuk." Hajime melirik Yuki lalu masuk ke dalam mobil.
Mobil kembali berjalan dalam keheningan panjang. Yuki tidak sengaja melihat Hajime berjalan di trotoar seperti sedang mencarinya. Yuki sudah keterlaluan, selesaikan ini secara dewasa. Yuki memutuskan.
"Senpai, maaf meninggalkanmu seperti itu. Aku sudah bertindak keterlaluan." Yuki membuka pembicaraan.
Aku akan menyelesaikannya, batin Yuki.
"Senpai masih mengingat janji itu kan?. Maaf, aku tahu senpai merasa tidak nyaman bertemu lagi denganku." Hajime melirik Yuki.
"Aku sudah memiliki calon tunangan." Yuki menghentikan mobilnya di depan lampu merah.
"Terima kasih untuk semua bantuan dan perhatian yang senpai dan Keiji berikan padaku. Maaf aku hanya menyakiti kalian." Yuki menatap kerumunan pejalan kaki yang menyebrang di depan mobilnya.
"Aku harap senpai bahagia bersama orang lain. Semoga hubungan kalian bisa berjalan dengan baik." Ujar Yuki melajukan lagi mobilnya.
Yuki tidak mendapatkan tanggapan apa pun sampai mobilnya berhenti tepat di depan rumah keluarga Yuuki. Gadis itu melihat ke arah lantai dua sebelah rumah Hajime.
"Sekali lagi aku minta maaf. Senpai," Yuki hendak membungkuk dalam kepada Hajime namun terhenti karena tatapan pemuda itu yang di berikan kepadanya.
"Apa menyakitkan?. Kamu boleh menangis. Jangan menyembunyikannya lagi." Yuki diam lalu tersenyum simpul.
"Aku tidak,"
"Yuki." Mereka kembali terdiam.
"Tidak masalah jika kamu sudah sembuh, aku masih mengingat janjiku." Yuki semakin merasa bersalah.
"Senpai." Yuki menegakkan tubuhnya bersiap mengakui sesuatu agar Hajime mengerti sekaligus menebus rasa bersalahnya.
"Terima kasih sudah mengantar. Kalau perlu sesuatu nomorku masih sama." Ucap Hajime membuka pintu mobil.
Sret.
Yuki menahan pintu lalu menariknya kembali hingga menutup. Gadis itu menarik nafas panjang.
Aku membuatnya sangat kecewa, batin Yuki.
"Tolong dengarkan sebentar." Pinta Yuki kembali duduk di kursinya.
"Maaf jika semua kata-kata yang keluar dari mulutku menyakitimu." Yuki hendak meraih tangan itu tapi ia urungkan. Yuki belajar tentang batasan.
Hajime diam tidak bergerak seakan memberitahu Yuki bahwa dia akan mendengarkan gadis itu.
"Aku gadis yang bodoh, aku menyadari perasaanku, menyadari perasaan aneh yang asing bagiku namun sudah sangat terlambat." Yuki membenarkan posisi duduknya menghadap ke jalanan yang sepi di depan sana. Mengingat kembali tragedi tiga tahun yang lalu.
"Dulu ada seseorang yang menyatakan perasaannya padaku. Aku yang bingung dan bodoh ini tidak mengetahui perasaanku sendiri, memintanya menjemputku di sekolah untuk memberikan jawaban."
"Sebuah tragedi terjadi tepat di waktu yang kami janjikan, dia sekarat di depan mataku dan bodohnya, aku baru sadar kalau aku juga menyukainya. Aku menyatakan perasaanku satu menit sebelum dia pergi. Kenyataan pahit itu masih membekas. Tanpa sadar membuatku takut untuk menyukai orang lain lagi." Yuki pada akhirnya mengakui apa yang di katakan Fathur tentang dirinya.
"Karena itu aku tidak menerima siapa pun, tidak memberikan hatiku pada siapa pun. Aku terlalu takut di tinggalkan lagi." Apa lagi penyebabnya adalah aku, lanjut Yuki dalam hati.
"Itu lah kenapa aku meminta janji aneh itu kepada senpai. Walau pun belum tentu senpai menyukaiku, lebih baik berjaga-jaga agar aku tidak menyakitimu. Tapi ternyata aku salah, aku sudah menyakiti senpai terlalu jauh. Maaf." Yuki merasa lebih lega dengan berkata jujur kepada Hajime.
"Aku mengerti. Kamu tidak perlu meminta maaf lagi. Kamu tidak salah, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Lain kali kalau mau pergi, berikan aku ucapan perpisahan." Yuki mengambil ponselnya, menunjukkan ponsel itu kepada Hajime.
"Penyakitku kambuh saat itu. Aku koma dan di rawat di rumah sakit, tapi tenang saja aku sudah lebih baik sekarang. Penyakitku sudah tidak pernah kambuh lagi." Sergah Yuki cepat sebelum Hajime memasang wajah khawatirnya.
"Ponselku juga baru. Nomor senpai dan yang lainnya hilang, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian." Alasan Yuki, padahal ia bisa meretas jaringan dan mencari nomor mereka.
Hajime meraih ponsel dari tangan Yuki menekan nomor ponselnya.
"Terima kasih sudah jujur." Hajime mengulurkan ponsel mengembalikannya kepada gadis itu.
"Ung. Oh, aku hampir lupa." Yuki mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya.
"Ini sudah terlambat tapi." Yuki memberikan kotak kecil yang di bungkus dengan pita.
"Selamat untuk kelulusan senpai." Ucap Yuki. Hajime melirik kotak hitam itu.
"Aku pikir ini akan cocok dengan senpai." Imbuh Yuki, Hajime menerimanya.
"Ini tidak perlu." Hajime hendak menolak.
"Di sana ada namaku yang lain, jika senpai tidak bisa menemukan Hachibara Yuki, mungkin nama itu berguna." Jelas Yuki membuat Hajime merasa penasaran.
"Terima kasih." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Terima kasih banyak senpai, sudah mencariku." Ujar Yuki membungkuk dalam.
"Sama-sama, lain kali jangan suka kabur." Yuki tertawa lirih.
"Akan aku usahakan." Jawabnya.
"Aku pulang dulu, sampai ketemu lagi." Pamit Hajime.
"Ung sampai ketemu lagi."
Hajime keluar dari dalam mobil berdiri di depan rumahnya, menunggu mobil Yuki pergi sampai berbelok di ujung tikungan.
Mahasiswa universitas tokyo itu masuk ke dalam rumahnya langsung menuju kamar. Membuka pita yang membungkus kotak.
Tsk.
Hajime membukanya. Sebuah jam tangan mewah mengkilap ada memo kecil yang terselip. Hajime mengambil memo itu, tidak banyak yang tertulis tapi mampu membuat Hajime tersenyum.
Hadiah kecil untuk kapten kita, pemukul ke empat yang legendaris. Selamat sudah menjadi mahasiswa di kampus nomor satu.
Ayhner.
Hajime melebarkan matanya. Merk itu adalah merk terkenal, hanya orang-orang tertentu yang dapat membelinya. Saat Hajime hendak meletakan jam itu ke dalam kotak lagi ia tidak sengaja melihat tulisan di belakang jam.
Ia menarik tangannya lagi, membalik jam. Sangat kecil, sebuah nama tertulis menggunakan huruf latin.
Eva Augustin Ayhner.
Hajime mencoba melafalkannya namun lidahnya bergerak tidak sesuai keinginannya. Ia menyerah.
Kenapa August?, ulang tahun Yuki di bulan desember, batin Hajime.
***
Di dalam rumah sakit Yuki menaikan kedua kakinya ke atas sofa kecil. Meletakan dagunya di atas lutut melirik Dazai yang sibuk dengan tumpukan dokumen pasien.
"Ada yang mengganggu pikiran anda?." Dazai menyelesaikan dokumennya.
"Ung."
"Apa yang dapat membuat anda menjadi bingung seperti ini?." Dazai memutar kursinya menghadap Yuki.
"Kenapa sangat sulit berurusan dengan perasaan orang lain?. Terluka, kecewa, sakit, aku pikir itu wajar saja menerimanya. Tapi pada satu titik aku tidak suka menyakiti, membuat orang kecewa, atau melukai mereka. Aku sudah terbiasa menerima semua perasaan itu, tapi tidak yang ke dua. Sejak dulu ternyata aku sudah banyak menyakiti orang." Dazai, orang ke dua yang membuat Yuki merasa nyaman untuk menceritakan masalahnya.
"Karena anda memiliki hati yang lembut dan hangat. Sikap tegas anda adalah pengecualian." Yuki semakin meringkuk.
"Dai chan, apa yang harus aku lakukan?. Fumio Eiji, apa yang harus aku lakukan padanya?." Dazai terkejut. Nona mudanya sedang galau rupanya, perubahan ABG yang cukup terlambat.
"Apa yang anda pikirkan saat melihatnya?."
"Tidak ada." Dazai tersenyum.
"Apa yang anda rasakan saat berada di dekatnya?."
"Kesal, tidak nyaman."
"Apa karena anda mengingat sesuatu?." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan. Aku tidak suka energi yang keluar dari tubuhnya, itu membuatku merasakan keanehan di sini. Aku tidak suka." Yuki menekan dadanya menggunakan jari telunjuk.
"Apa anda ingin melihat ingatanku tentang anda dan Fumio Eiji?." Yuki menggelengkan kepalanya lagi.
"Aku sudah melihatnya. Di video masa kanak-kanak kita." Yuki menatap Dazai.
"Kenapa ada video-video itu?, kenapa tidak di simpan di rumah?." Tanya Yuki.
"Tuan besar menyimpan semua dokumen tentang cucu kembarnya di kediaman Fumio dan kantor kaisar jepang. Menurut tuan besar itu adalah pilihan yang terbaik, menyembunyikannya di sana." Jelas Dazai.
"Apa karena dia calon tunanganku?." Dazai tersenyum simpul.
"Bukan. Itu karena tuan besar lebih mempercayai keluarga Fumio dari semua keluarga atau orang di klan." Jawab Dazai.
"Kita sudah hampir setengah jalan. Sebentar lagi tangan kanan BD akan bergerak. Tapi aku malah sibuk memikirkan hal tidak penting seperti ini." Lirih Yuki.
"Ojou chan." Panggil Dazai.
"Hm?."
"Mungkin ada baiknya anda mencoba terbuka dengan waka (tuan muda). Jika ini di lanjutkan anda maupun waka akan terus saling tersakiti." Yuki menenggelamkan wajahnya di antara kaki dan tubuhnya.
"Untuk Fumio Eiji, anda tidak perlu khawatir, pria itu akan melakukan sesuatu untuk anda. Dia adalah prajurit tangguh." Yuki mendongak menatap manik Dazai lamat-lamat.
"Mungkin itu yang tidak aku inginkan." Balas Yuki.
"Aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi, karena itu aku tidak membiarkan satu orang pun masuk ke dalam area pribadiku. Siapa pun." Imbuh Yuki.
"Ojou chan, rasa sakit luar biasa seperti di dalam neraka itu saja anda bisa menghadapinya. Kenangan pahit anda, juga pasti bisa anda lewati." Ujar Dazai memberikan dukungan kepada Yuki.
"Aku tidak yakin." Lirih gadis itu.
"Kalau belum di coba anda belum tahu ojou chan." Yuki terdiam. Kenapa dia terperangkap di dalam masa lalunya?, sampai tidak sadar sudah menjadi bodoh seperti ini, pikir Yuki.
"Tapi apa itu tidak menghianati dia?." Tanya gadis itu. Dazai mengerutkan keningnya.
"Dai chan, mendekat." Pinta Yuki. Dazai dengan kalemnya beranjak dari kursi kerja duduk di samping Yuki.
Tanpa mengatakan apa pun Yuki memulai hipnotisnya, menunjukkan kepada Dazai ingatan tentang Dimas. Di dalam kerumunan yang jauh, tubuh pemuda tergeletak tak berdaya tanpa ada satu orang pun yang mendekat.
Dazai tidak paham dengan bahasa yang mereka gunakan namun ia dapat dengan jelas melihat perjuangan Yuki menolong si pemuda, sampai pada Yuki yang menangis menggenggam tangan si pemuda, membisikan sesuatu, dan mencium keningnya hingga Yuki terguncang karena kepergian si pemuda. Dazai tersentuh, ia ikut menangis.
Yuki segera menutup ingatannya lagi, menyadarkan Dazai. Bayangan itu menatap sang ketua yang sudah membuang wajahnya ke samping.
"Aku yang membunuhnya. Salah satu anggota yakuza membunuhnya karena aku." Dazai mulai paham.
"Anda merasa kehilangan dia di saat anda sangat menyukainya?. Anda merasa mengkhianatinya jika anda menyukai orang lain?." Tebakan Dazai benar.
"Ojou chan." Ya ampuunn, ojou chan memiliki hati yang lembut, batin Dazai.
"Hm?."
"Pasti laki-laki itu juga mengharapkan kebahagiaan ojou chan. Tidak ada laki-laki yang tulus mencintai pasangannya lalu berharap yang buruk untuk pasangannya. Laki-laki itu pastilah tidak ingin anda terjebak pada kenangan buruk kalian."
"Waktu dan hati ojou chan berhenti pada saat itu." Lanjut Dazai.
"Sekarang Fumio Eiji sudah datang, yang akan menggerakkan waktu dan hati anda." Ucap Dazai penuh keyakinan.
"Kenapa semua orang memihak kepadanya?." Lirih Yuki.
"Karena dia laki-laki yang pantas bersanding dengan anda." Jawab Dazai. Yuki memutar bola matanya.
Seekor burung melayang menghentikan pembicaraan mereka. Je tiba-tiba menampilkan layar hologram, menunjukkan apa yang ia dapat.
"Yuki, FBI tiba di jepang." Dengan malas gadis itu melirik layar hologram.
"Dua wanita satu pria." Lirih Dazai.
"Mereka mengincar obat tidur yang aku buat. Apa kamu sudah membuang semua bekas penelitianku?." Tanya Yuki.
"Ya, aku yakin sudah membereskan semuanya." Jawab Dazai.
"Yuki, BIN (Badan Intelejen Indonesia) berada di bandara yang sama." Yuki melirik layar hologram, memperhatikan salah satu dari ke empat orang itu.
Kak Arga?!, seru Yuki dalam hati.
"Ini akan merepotkan. Je tandai anggota BIN." Titah Yuki.
"Kenapa ojou chan?." Dazai melirik Yuki.
"Salah satu diantara mereka mengenaliku dan Hotaru." Jawab Yuki.
"Terima kasih sudah mendengarkanku Dai chan. Aku kembali ke sekolah dulu." Pamit Yuki.
"Ojou chan, bukankah ini buruk?." Yuki memasukkan Je ke dalam tas.
"Tidak, hanya akan merepotkan. Youtaro san (pemimpin yakuza) tidak pernah melihat wajahku yang asli, orang-orang BIN tidak akan mendapatkan informasi tentangku. Mereka mengincar klan ular berbisa dari china." Jelas Yuki.
"Kenapa mereka mencarinya ke sini?." Dazai sedang mencoba menerka-nerka.
"Mereka habis melakukan pertemuan di tokyo. Klan ular berbisa dan klan naga putih." Jawab Yuki berjalan menuju pintu.
"Bagaimana anda mengetahui semua informasi ini?." Yuki menoleh ke belakang.
"Mendapatkannya tidak mudah Dai chan, aku mengorbankan banyak waktu dan tenaga." Ucap Yuki lalu membuka pintu.
Benar, ayo kita lakukan, batin Yuki.