
"Hotaru..! hiks hikss. Ikanaide! ( Jangan pergi!)."
Keringat bercucuran membasahi bantal berwarna hitam dan seprai yang mengkerut tertarik dengan kuat.
"Ji chaaan.., doko e ikuno?. ( Kakek.., mau pergi kemana?.) Ikanaide!."
Seseorang bergerak gelisah dalam tidurnya.
"Hotaru...!!."
Suara jeritan itu membangunkan pemuda dengan piama biru gelap, terduduk di atas ranjang. Nafasnya memburu, kedua tangan besarnya mencengkeram seprai dan, air mata turun perlahan dari mata indahnya.
"Mimpi."
Tok. Tok. Tok.
"Junger Meister, fruhstuck ist fertig. (Tuan muda, sarapan sudah siap)." Terdengar suara dari luar kamar.
"Ja. (Ya)."
Duk duk duk duk, suara kaki menuruni tangga. Udara hangat terasa dikulit putihnya, pemuda menghirup banyak-banyak udara sejuk ditempat itu.
"Cuaca hari ini sangat bagus." Ucap wanita cantik dengan senyum indah di wajahnya.
"Ya, setelah sarapan aku berniat jalan-jalan sebentar." Ayumi mengangguk tangannya sibuk menyiapkan sarapan untuk putranya.
"Jangan terlalu lama, kamu ada jadwal bertemu dengan miss Karessa nanti." Ayumi mengingatkan.
"Baik bu." Hotaru atau kerap dipanggil Ega mulai memakan sarapannya.
"Om berkas-berkas meeting kemarin tolong letakan dimeja kamarku, aku akan mengeceknya setelah bertemu dengan miss Karessa." Ucap Hotaru.
"Baik tuan muda." Ronggo mengangguk sekilas.
"Apa saja jadwal untuk nanti siang?." Ronggo yang berdiri didekat meja makan hendak menjawab namun berhenti karena mendapat lirikan tajam dari Ayumi.
"Di meja makan tidak boleh membahas pekerjaan, sudah berapa kali ibu katakan kepadamu Hotaru kun?." Ayumi menekan kalimat terakhirnya.
"Maaf," ucap Hotaru seraya tersenyum kaku.
Rerumputan hijau yang dipotong rapih terbentang disepanjang jalan. Kaki panjang Hotaru menelusuri jalanan disamping rumahnya, bola mata coklat terang miliknya dimanjakan oleh pemandangan indah yang sangat asri terpapar disepanjang mata melihat.
Suara gemericik air mengalir dari sungai kecil menenangkan hatinya. Hotaru berjalan mendekati pagar milik tetangga, meletakan kedua tangannya diatas pagar mengamati para sapi yang berkerumun dengan lonceng dileher mereka.
Klining ... Klining ... Klining ...
Angin sejuk menerpa wajah Hotaru membelai surai pendeknya, bibir manis itu tersenyum.
"Aku ingin membawamu kesini suatu saat nanti. Apa kamu sudah baik-baik saja disana? aku sudah lama tidak merasakan sakit lagi, kamu pasti sudah bosan menangis." Hotaru terkekeh kecil.
"Waktu terus berjalan Yuki, kamu pasti bisa menghadapinya." Hotaru tersenyum lebar menatap bayi-bayi sapi kecil yang saling kejar-kejaran.
"Bayi hulkku." Gumam Hotaru.
Zzzz... Zzzz...
"Hallo." Hotaru mengangkat ponselnya.
"Ja, ich werde bald im Krankenhaus sein (Ya, saya akan segera ke rumah sakit)." Hotaru memandang langit biru di atas sana mengingatkannya dengan warna mata saudari kembarnya.
"Ja miss Karessa (Ya nyonya Karessa)." Hotaru memasukan ponselnya kedalam saku dan berlari kecil kembali kerumah.
***
Tokyo 1 April 2015.
"Ojou chan ... Bekalnya sudah saya masukan kedalam tas." Ucap wanita paruh baya tersenyum lebar.
Yuki atau kerap dipanggil Eva mengelap bibirnya dengan sapu tangan lalu meletakannya dipinggir meja, beranjak berdiri meninggalkan kursi yang ia duduki. Rok pendek kotak-kotak 6cm diatas lutut semakin menampakan kaki jenjangnya, seragam yang begitu pas ditubuh Yuki ditambah dengan wajah dan warna matanya membuat gadis itu terlihat bak action figure (figur karakter) dari negeri sakura.
"Waaahh... Kawaii...(Imutnya...)." Seru wanita berusia tiga puluhan itu dengan mata yang berbinar dan kedua tangan menangkup didepan dada.
"Tunggu sebentar." Tangannya bergerak merapihkan letak dasi dikerah seragam Yuki.
"Kanpeki (Sempurna)." Wanita itu tersenyum menyerahkan tas kepada Yuki.
"Ini hari pertama anda, semoga menyenangkan. Nanti langsung pergi ke ruang guru, Mizutani sensei ada disana." Jelas wanita itu, Yuki mendengarkan dalam diam.
"Anda masih ingat dengan Mizutani san yang tinggal selama satu bulan bersama kita kan, ojou chan?." Tanyanya ragu-ragu.
"Hm." Jawab Yuki.
"Anda sudah ingat rute ke sekolah?, kalau tidak biar saya antar." Yuki berjalan ke rak sepatu memakai sepatu hitam mengkilatnya.
"Tidak perlu, bukankah sekolahnya dekat dari sini." Yuki membuka pintu depan.
"Ya, dua puluh menit berjalan kaki dari sini." Sahutnya, Yuki spontan menatap wanita asli jepang yang kini tinggal bersamanya untuk membantu melakukan pekerjaan yang tidak bisa Yuki lakukan.
"Masamune san?." Lirih Yuki.
"Hai? (Ya?)."
"Lupakan." Yuki melangkah keluar.
Suasana berbeda, pemandangan berbeda, membuat Yuki merasa asing disana. Ini pertama kalinya ia menginjakan kaki di negeri sakura setelah sekian lama. Satu bulan lebih tepatnya Yuki sudah tinggal di negeri itu namun, dirinya tidak pernah sekali pun meninggalkan rumahnya atau pun memandang keluar jendela, dan sekarang perasaan rindu akan kampung halaman membuatnya berlama-lama berjalan menuju sekolah barunya.
Beberapa mobil terlihat berjalan melewati Yuki, tidak sedikit sepeda yang berlalu lalang dijalanan pagi itu. Yuki juga banyak bertemu dengan anak-anak yang berangkat ke sekolah seperti dirinya, tangannya sesekali memegang ujung rok merasa risih.
Apa ini tidak terlalu pendek untuk ke sekolah?, batinnya.
Bentuk bangunan dan atap yang berbeda, serta pohon sakura yang mekar berjejer menunjukkan keindahannya, membuat Yuki merasa tenang. Ia benar-benar rindu dengan semua yang ada di negeri kelahirannya.
Yuki menyebrangi jembatan sungai dengan sebuah ukiran dari keramik pada sisinya. Bibir Yuki sedikit terangkat mendengar celotehan anak-anak menggunakan bahasa asli kakeknya, ada sesuatu yang berdesir didalam hati Yuki. Gadis itu menghentikan langkah kakinya menengadah menatap awan putih.
Angin lembut menyapu rambut pendek sebawah bahunya. Setelah ia terbebas dari memori mengerikan di depan lapangan basket dulu, Yuki memutuskan untuk memotong rambutnya dan meminta orang-orang terdekat memanggilnya dengan nama jepang yang diberikan oleh kakeknya.
Aku kembali, aku baik-baik saja, Ega. Ucap Yuki dalam hati.
Setelah melewati pemukiman selama lima belas menit, sebuah gedung besar, luas, dan tinggi, berdiri agak jauh dari keramaian. Di sepanjang jalan menuju gerbang sekolah, terbentang pohon sakura, bak terowongan berwarna merah muda yang sangat indah.
Belum banyak siswa yang ditemui Yuki, karena ia memang memilih berangkat lebih awal. Di tembok samping pintu gerbang utama, tertulis nama sekolah. Yuki berhenti sejenak untuk membaca nama sekolah barunya. Oukami koukou, Yuki mengangkat satu alisnya, membaca ulang.
Sma Serigala, hah? bukannya itu aneh. Sekolahku yang dulu juga di namai dengan nama tumbuhan, mungkin itu hal biasa bagi sekolah, batin Yuki ia melihat seseorang mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan dan hampir saja menabraknya.
"Gomen! (Maaf!)." Teriaknya tanpa menghentikan sepedanya.
Yuki tidak menghiraukan orang itu, ia mulai memasuki halaman sekolah. Yuki terkejut karena sudah ada banyak orang berkumpul disana, mereka berkelompok membawa spanduk seperti orang mau pawai. Mereka juga membawa peralatan masing-masing dan saling berteriak menarik perhatian siswa baru untuk bergabung dengan klub mereka.
"Bergabunglah dengan klub karate!, karate sangat membantu kalian untuk mempertahankan diri dari para preman-preman!." Teriak kelompok dari klub karate.
"Ayo, bergabung dengan kami, klub musik! dijamin kalian akan menyukainya!." Teriak kelompok dari klub musik.
"Yo! junior-junior manisku. Bergabunglah dengan klub sepak bola!, kalian bisa menjadi hebat seperti messi san!." Teriak kelompok dari klub sepak bola, dan masih banyak lagi. Mereka sangat menggebu-gebu, bising disana-sini membuat telinga Yuki serasa mau pecah.
Yuki tidak suka suasana seperti ini, mereka terlalu menyeramkan saat sedang mempromosikan klub masing-masing, apa lagi badan mereka bisa dibilang tinggi-tinggi dan besar. Tinggi tubuh Yuki memang tidak kalah dengan mereka karena beberapa waktu lalu ia bertambah tinggi 2cm tapi, tetap saja, mereka berbeda dengan siswa di indonesia.
Apakah aku akan selamat, batin Yuki berjalan lurus dengan cepat karena mustahil menghindari mereka semua, mereka sangat banyak dan ada dimana-mana.
Dengan usaha besar akhirnya Yuki berhasil melewati perkumpulan itu, ia segera masuk kedalam sekolah yang langsung disuguhi berderet-deret loker sepatu. Yuki terdiam sebentar, di sebelah mana lokernya? nomor berapa? dia tidak tahu.
Ting.
Tepat saat itu, bunyi pesan masuk dari ponselnya. Yuki segera membuka pesan dari Mizutani yang memberi tahunya nomor loker dan rute ke ruang guru. Setelah menemukan lokernya Yuki segera mengganti sepatu luar dengan sepatu dalam ruangan berwarna putih, ia juga bergegas menuju ruang guru.
Di lantai satu ruangan paling ujung, Yuki berdiri didepan pintu. Lantai itu jarang dilewati para siswa karena kebanyakan siswa langsung naik keatas menuju kelas masing-masing, membuat Yuki sedikit tenang.
"Sudah menunggu lama?." Suara berat dan besar itu menarik perhatian Yuki.
"Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), saya baru sampai." Sapa Yuki sopan seraya menundukan bandannya.
"Ayo masuk." Yuki mengikuti Mizutani dari belakang.
"Ini hari pertamamu, mungkin akan terasa sulit." Ujar Mizutani.
"Sangat sulit, untuk masuk ke sini saja membutuhkan banyak usaha." Jawab Yuki datar.
"Hahaha, kamu akan terbiasa nanti." Mizutani tertawa sambil duduk dikursinya.
"Jangan berpikir seperti itu, nikmati saja. Itu karena kamu terlalu lama meninggalkan kampung halaman." Yuki melirik Mizutani dan pria itu tersenyum kecil.
"Aku adalah anak dari teman lama kakekmu, tidak mungkin kan nyonya Lusi menitipkanmu kepada orang yang tidak dikenal." Yuki mengedikan pundaknya acuh, bola matanya menyapu seluruh ruangan.
Sudah banyak guru yang datang, batin Yuki.
"Carilah teman yang banyak, agar kamu cepat beradaptasi disini." Ucap Mizutani, beberapa guru memandangi Yuki.
"Entahlah, mereka selalu menatapku dengan tatapan aneh." Ujar Yuki.
"Aneh?." Ulang Mizutani.
"Hm, seperti guru-guru disana." Yuki mengedikan dagunya sekilas, Mizutani mengikuti arah yang Yuki tunjuk.
"Aah, kamu memang mencolok. Meskipun kamu berdiri diam dan tidak melakukan apa pun kamu tetap menarik perhatian." Jelas Mizutani.
"Karena warna mataku." Lirih Yuki.
"Itu salah satunya, dan sisanya karena itu dirimu. Kamu dilahirkan seperti itu." Yuki tiba-tiba merasa kesal mendengar jawaban Mizutani.
"Sebentar lagi bel, kita harus bersiap-siap. Acara penerimaan siswa baru akan segera dimulai." Mizutani berdiri, beberapa guru juga sudah meninggalkan ruangan.
"Bagaimana denganku?." Tanya Yuki, dia baru masuk hari ini dan tidak mungkin langsung nyelonong masuk begitu saja.
"Ikutlah berbaris dibagian belakang, setelah upacara selesai langsung tunggu aku disini."
Upacara yang diisi sambutan kepala sekolah dan perwakilan murid kelas satu dilangsungkan didalam aula besar dengan panggung tinggi diujung ruangan. Yuki duduk sendirian dikursi paling belakang, memudahkannya untuk langsung kabur ke ruang guru.
Aura orang-orang disana sangat berbeda, membuat Yuki tidak mudah mengacuhkan mereka seperti yang selalu ia lakukan. Ini menyebalkan, menjadi siswa baru benar-benar tidak enak, batin Yuki.
Setelah upacara selesai Yuki langsung kabur ke ruang guru menunggu Mizutani disana. Lima menit Yuki menunggu, akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.
"Kakimu cepat juga, mau mencoba masuk klub lari?." Tanya Mizutani.
"Jangan bercanda." Jawab Yuki datar. Mizutani tertawa pelan.
"Yamanaka sensei, ini murid baru anda, mohon bantuannya." Mizutani membungkuk kepada guru wanita disamping mejanya.
"Mohon bantuannya." Yuki ikut membungkuk sopan.
"Baik, saya adalah wali kelasmu. Yamanaka Ishika, salam kenal." Yamanaka tersenyum menatap Yuki.
"Kalau begitu, kami pergi dulu Mizutani sensei." Lanjut Yamanaka.
"Baik, semoga sukses dengan harimu." Ucap Mizutani mecoba memberi semangat kepada Yuki, namun terdengar seperti ejekan ditelinga gadis itu.
Yamanaka membawa Yuki menaiki tangga seraya menjelaskan tata ruang disekolah itu.
"Lantai satu kebanyakan untuk ruang praktek, ruang klub, ruang guru, dan beberapa ruangan lainnya. Lantai dua untuk kelas satu. Lantai tiga untuk kelas dua. Lantai empat untuk kelas tiga." Yuki menyimak.
"Setiap angkatan ada enam kelas. Karena sekolah kita salah satu sekolah unggulan dan banyak mendapat prestasi di berbagai bidang, banyak siswa mengincar sekolah ini. Sekolah kita juga memberikan beasiswa kepada siswa-siswa yang berbakat dan berprestasi." Jelas Yamanaka tanpa henti hingga mereka sampai dilantai tiga.
"Ini kelasmu." Ucap Yamanaka, Yuki melihat papan diatas pintu yang tertulis 2-1.
"Siswa dimasukan kedalam kelas sesuai dengan kemampuan mereka, angka satu dibelakang menunjukan kelas unggulan hingga seterusnya kamu paham?." Yuki mengangguk sekilas, bukankah itu membuat kelas dengan anak-anak yang kurang pintar merasa terintimidasi. Hmm tidak ada bedanya juga dengan di indonesia, batin Yuki.
"Jangan salah paham, ruang kelas satu sampai tiga memang berisi anak-anak pintar tapi, banyak murid berprestasi berada di ruang kelas empat sampai enam." Jelas Yamanaka. Yuki mengangguk sekilas.
"Ayo kita masuk." Yamanaka hendak membuka pintu.
"Sensei, maaf, bolehkah saya mempersiapkan diri dulu?." Tanya Yuki hati-hati.
Ya ampun, kenapa denganku?, kenapa aku menjadi lemah seperti ini, argh! aku benci memperkenalkan diri, geram Yuki dalam hati.
"Baiklah saya masuk lebih dulu." Pintu berwarna coklat itu menelan Yamanaka ke dalamnya. Yuki mencoba menenangkan diri mencari jati dirinya. Jati diri?, seperti apa sebenarnya jati diriku?, batin Yuki.
Setelah beberapa menit, Yamanaka menyuruh Yuki masuk. Perasaannya berubah tidak enak, ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Perlahan tangannya menggeser pintu hingga terbuka, melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Hening.
Hingga Yuki berdiri didekat Yamanaka pun kelas masih hening. Nenek selamatkan aku, ini lebih buruk dari pada di korea .., jerit Yuki didalam hati. Yuki tidak pernah meminta tolong kepada siapa pun sebelumnya, meskipun hanya didalam hati, dia tidak pernah.
"Perkenalkan dirimu." Titah Yamanaka.
Hening. Yuki membuka mulutnya, ia ingin ini cepat selesai dan segera duduk.
"Hachibara Yuki desu, yoroshiku onegaishimasu (Hachibara Yuki, salam kenal)." Ucap Yuki seraya menunduk sedikit.
Hening.
"Kalau tidak ada yang ber." Kalimat Yamanaka tertelan oleh keributan yang tiba-tiba pecah didalam kelas itu.
"Waah ... Sugoi gaikokujin! (keren orang luar negeri!)."
"Kawaii...! (Imuutt...!)."
"Kireida (Cantik)."
"Lihat matanya. Apakah itu asli?!."
"Tidak mungkin kan itu lensa."
"Mungkin saja, kenapa tidak."
"Memakai lensa berwarna dilarang disekolah, bodoh!."
"Lihat kulitnya, putih sekali."
"Kamu dengar suaranya tadi .., sangat merdu."
"Sensei saya mau tanya!." Seru salah satu siswa.
"Ya, silahkan."
"Apakah matamu asli?." Dia pikir aku memakai bola ping pong hah?, geram Yuki.
"Hm."
"Sensei!." Salah satu dari mereka mengangkat tangannya.
"Kamu berasal dari mana?." Aku benci di interogasi, sudah cukup ayah dan Ega saja, rutuk Yuki.
"Jepang." Jawab Yuki. Tapi lama tinggal di indonesia, imbuh Yuki dalam hati.
"Apakah kamu blasteran?." Tanya yang lain.
"Ya."
"Mana yang asli orang jepang, ayahmu? atau ibumu?." Yuki merasa kesal mendengar pertanyaan itu, ia tidak ingin mengakui Ayumi sebagai ibunya.
"Apa makanan yang kamu sukai?." Seru yang lain.
"Kamu pindahan dari mana?." Srobot yang lain, telinga Yuki sangat sakit mendengar suara yang saling bersahutan itu.
BRAK!.
Suara benturan pintu yang digeser sangat keras membuat perhatian tertuju kepada gadis ditengah-tengah pintu.
"Maaf saya terlambat!." Serunya lalu berjalan dengan percaya diri ke depan kelas.
"Nama saya Natsume Hazuki. Salam kenal!." Gadis itu membungkuk sebentar dan tersenyum ceria.
Yuki terdiam begitu juga dengan para penunggu kelas lainnya. Gadis itu menoleh kesamping menatap Yuki.
"Kita sama-sama anak baru disini, salam kenal ya." Ucapnya yang tiba-tiba tercekat diujung kalimat. Bola matanya melebar menatap manik Yuki, ia mendekatkan wajahnya. Yuki spontan melangkah mundur, gadis bernama Natsume itu semakin mendekatkan wajahnya.
Grep. Natsume memegang kedua lengan Yuki membuatnya tidak bisa mundur lagi. Natsume memiringkan kepalanya semakin mendekat. Yuki memundurkan kepalanya, ia membalas tatapan Natsume yang menatapnya menyelidik.
Ada apa lagi ini?, geram Yuki matanya mengerjap dua kali.
"Waahh... Matamu asli." Ucapnya tanpa dosa. Gadis gila, batin Yuki.
"Lihat, warna kulitmu juga asli..." Natsume menyentuh pipi Yuki dengan ujung jarinya. Gila, seru Yuki dalam hati.
"Mari kita berteman." Gadis itu tiba-tiba mundur dan menjabat tangan Yuki menggerak-gerakkannya naik turun dengan cepat.