
Gym Volly, 05 : 02 p.m.
BRAK!.
"Hachi kun!, kenapa kau melamun?, itu berbahaya!." Teriak kapten voli Nagata.
Hotaru mengusap belakang kepalanya yang tak sengaja mendapatkan spike dari Fumio.
"Gomen gomen (Maaf maaf), tiba-tiba aku teringat hari ini langitnya sangat biru. Senpai aku izin ke toilet sebentar." Ucap Hotaru berlalu pergi setelah mendapatkan cibiran karena alasannya yang tidak masuk akal.
Diam-diam Fumio dan Yamazaki mengikuti pemuda itu ke toilet.
"Langit biru?, apa anda merasakan sesuatu tentang Ojou chan?." Tanya Yamazaki. Hotaru menganggukkan kepala, tangannya memegang dada sebelah kiri.
"Sebentar, sedikit, tidak sakit, hanya seakan sesuatu mengetuknya pelan." Jelas Hotaru menatap Fumio. Yang di tatap mengangguk kecil.
"Kamu benar, dia sedang menahan air matanya." Fumio membenarkan.
"Atau, menahan rasa sedihnya." Imbuh Yamazaki.
"Sudah sangat lama jantungku tidak merasakan kehadiran Yuki, aku sangat merindukan air matanya." Lirih Hotaru.
Hening.
"Bisakah aku minta sesuatu?." Hotaru menatap Yamazaki.
"Apa yang anda inginkan tuan muda?."
"Tolong bujuk Hiro san untuk mengirimkan pesanku kepada nenek." Fumio menggelengkan kepalanya pelan.
"Mustahil tuan muda, setelah kegagalan misi tempo hari Fumihiro semakin ketat menjaga rahasia atau koneksi-koneksi diantara anggota klan. Menghubungi nyonya besar sangat beresiko."
"Aku sudah tidak kuat lagi." Hotaru *******-***** rambutnya.
"Tahan sebentar lagi tuan muda, aku percaya ojou chan tidak akan lama lagi muncul di hadapan kita." Yamazaki meremas pelan pundak Hotaru.
"Setiap hari aku hampir gila memikirkan Yuki, setidaknya dulu aku bisa tenang karena ayah dan ibu bersamanya. Tapi sekarang?, apa dia punya orang lain untuk sekedar bersandar?." Geram Hotaru.
"Eh?!!."
BRUK!.
"Tuan muda!."
"Hotaru!."
Kembaran Yuki menatap kakinya, manik coklat terang itu bergetar hebat, perlahan ia tidak bisa merasakan tubuhnya, ketika tubuhnya ambruk ke samping Fumio dengan cepat menangkapnya.
"Apa yang terjadi?." Sergah Fumio.
Hotaru diam, air matanya jatuh perlahan, susul menyusul. Pikirannya kalut.
"Tuan muda, katakan sesuatu." Desak Yamazaki. Manik coklat terang itu bergerak menatapnya, sorot mata ketakutan yang tak pernah Yamazaki lihat atau ia bayangkan akan ada di manik itu.
"Ketukan di jantungku .., bukan salam perpisahan dari Yuki kan?." Tanya Hotaru dengan suara bergetar.
Hening.
Fumio maupun Yamazaki membeku manik mereka terbuka lebar.
"Jawab aku!. SIALAN!." Hotaru semakin kalut, ia ingin memukul sesuatu namun tubuhnya kebas, ia merasakan lumpuh di seluruh tubuhnya kecuali di leher dan di kepalanya.
Bibir Hotaru bergetar, jantungnya berpacu lebih cepat, pikirannya melayang-layang kemana-mana, mencari saudari kembarnya, seakan-akan dengan cara itu ia bisa menemukan keberadaan Yuki.
"Yuki tidak akan meninggalkanku kan?!, dia tidak akan meninggalkanku sendirian kan?. Aku tahu kamu kuat, kumohon apa pun yang sedang kamu hadapi sekarang, jangan, jangan menyerah. YUUUKKIIII !!!." Tepat ketika ia meneriakan nama kembarannya Hotaru bisa menggerakkan tubuh bagian atas.
Pemuda itu meremas, memukul dadanya tepat di jantung. Berulang kali. Fumio maupun Yamazaki tidak memiliki niat untuk menghentikan pemuda itu. Melihat Hotaru sangat kalut seperti itu, mereka tahu apa artinya.
"Jangan tinggalkan aku, Yuki ..."
Bugh!.
Bugh!.
Bugh!.
Bugh!.
"Maaf. Maaf. Maaf. Aaarrrggghhh ..!!!." Teriak Hotaru, tubuhnya membungkuk ke depan tanpa menghentikan pukulannya, air mata itu terus mengalir jatuh.
Jeritan Hotaru menyayat hati kedua orang itu. Fumio terduduk di lantai, ia tidak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Yamazaki juga sangat kalut melihat Hotaru seperti itu tapi ia berusaha menenangkan diri dan berpikir positif, melakukan sesuatu yang harus ia lakukan sekarang.
Yamazaki pergi ke luar menelpon seseorang, mengerahkan anggota klan untuk mengkondisikan keadaan sekolah. Yamazaki mendengar suara gaduh dari dalam toilet, ia segera kembali lalu mengunci pintu dari dalam.
Betapa terkejutnya ia melihat toilet yang sudah hancur berantakan. Tuan mudanya mengamuk, memukuli bilik-bilik toilet. Fumio yang berusaha menghentikan Hotaru selalu kalah tenaga oleh pemuda itu, sorot mata Fumio pun kosong, pemuda itu juga sangat terpukul melihat dan mengartikan apa yang sedang terjadi dengan saudari kembar Hotaru.
"Aaarrgghh!!!. Ini salahku!. Salahku!." Teriak Hotaru.
BRAK!.
"Tuan muda!." Yamazaki berlari menghampiri Hotaru yang telah menghantamkan kepalanya ke dinding sangat keras.
Sret!.
Hotaru membalikan tubuhnya sangat cepat menatap nyalang manik Yamazaki. Darah mengalir dari dahi Hotaru jatuh ke pangkal hidungnya.
"Pers*tan! dengan misi yang gagal. Aku akan menemui kep*rat! itu." Titah sang pewaris membuat Yamazaki dan Fumio tidak bisa menolak.
Yamazaki membungkuk dalam membiarkan Hotaru berjalan melewatinya.
Kaki itu mengayuh sangat cepat, maniknya menatap tajam jalanan di depan, deru nafas kasar keluar dari hidung dan mulut Hotaru. Seratus meter lagi, pintu gerbang besar menjulang tinggi bagaikan sebuah benteng menunggunya untuk masuk.
Sreeeeettttt ...
BRAK!.
Hotaru melempar sepedanya, berjalan mantap menuju gerbang. Dua orang turun dari atas tempat mereka berjaga dan mengawasi. Dua orang itu menghadang Hotaru, sebelum sempat memberikan larangan masuk, tiba-tiba tubuh mereka sudah tersungkur di tanah.
KRRIIIIEEEETTT.
Hotaru memasuki rumah tempatnya di lahirkan, masih sama seperti dulu namun bukan itu tujuannya, ia berjalan mantap menuju bangunan paling besar diantara bangunan yang lain. Para pelayan terkejut menjerit melihat penyusup memasuki kediaman itu. Para pelindung yang sedang berada di halaman menyerang penyusup tanpa mengenali bahwa penyusup itu adalah sang pewaris klan.
Hanya dalam satu gerakkan Hotaru melumpuhkan para pelindung, tanpa memberikan luka berbahaya. Mereka pun terkejut, hanya para tetua dan tuan besar yang menguasai gerakkan seperti itu. Siapa sebenarnya penyusup ini?, batin mereka.
Hotaru meremas kedua kenop pintu dan dalam sekali hentakkan ia menggeser pintu kuat-kuat.
JEDDAARRR!.
Semua kepala menoleh ke ambang pintu. Judo itu sangat ramai, mereka sedang berlatih dengan master masing-masing. Beberapa pelindung bergerak merangsek ke arah Hotaru namun sebelum mereka sampai setengah jalan Hotaru meneriakkan nama orang yang ia cari.
"TAKEHARA. FUMIHIRO ... !!!." Kaki-kaki itu berhenti seketika, mereka merasakan aura yang sangat familiar dari pemuda yang berdiri mencari pemimpin para pelindung. Setiap manik pelindung yang berpapasan dengan manik coklat terang itu refleks tubuh mereka bergerak menekuk satu kaki ke lantai, bersujud memberikan hormat.
Manik Hotaru menangkap sosok yang ia cari, berjalan tenang dari belakang para pelindung. Penampilannya sedikit berubah namun garis wajah tegas dan keras itu masih sama.
Fumihiro menekuk satu lututnya hendak memberikan hormat, namun laki-laki itu sedang dalam keadaan yang sangat buruk. Kemarahan Hotaru sudah mencapai puncaknya.
BANG!.
Hotaru menghentakkan kakinya menghentikan gerakkan Fumihiro. Udara di dalam dojo berubah sangat panas, membakar setiap partikel oksigen. Para pelayan senior dan pelindung senior yang mengintip dari luar dojo langsung mengenali identitas penyusup itu. Mereka menjatuhkan diri berlutut kepada sang pewaris. Di susul oleh orang-orang yang berada di dalam dojo.
Fumihiro masih mempertahankan posisinya yang hampir berlutut.
TAP!... TAP!... TAP!...
Suara langkah kaki Hotaru menggema memberikan tekanan lebih berat.
"Dimana Yuki?!." Suara berkharisma khas keturunan pemimpin Hachibara menyeruak ke dalam telinga-telinga mereka. Tenang, dalam, penuh intimidasi, mutlak!.
"Saya mohon maaf waka (tuan muda) saya tidak tahu." Jawab Fumihiro.
BUK!.
Tubuh Fumihiro terbang ke belakang, tertangkap oleh pelindung yang sedang berlutut.
"Hubungi nenek sekarang!." Titah Hotaru. Fumihiro membenarkan posisi berlututnya.
"Mohon maaf waka. Saya tidak bisa."
BRAK!.
Fumihiro terlempar ke samping, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Hotaru menarik kakinya. Manik coklat terang itu tak sedetik pun lepas dari sosok Fumihiro.
TAP!. TAP!. TAP!.
"Hubungi. Nenek. Sekarang!." Hotaru berhenti di depan Fumihiro. Laki-laki itu kembali berlutut dan mengatakan hal yang sama.
"Ampuni saya waka, saya tidak bisa."
Hotaru mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mengangkat sebelah kakinya.
BRAK!.
Fumihiro terpental ke belakang, darah segar kembali keluar dari mulutnya. Sang pewaris memang tidak bisa dianggap enteng hanya karena tidak berlatih lebih dari seabad. Hotaru kembali memberikan tendangan di perut samping, menarik baju depan Fumihiro melayangkan bogemannya ke wajah laki-laki itu, mengangkat tubuh yang lebih tinggi darinya.
Tap. Hotaru membuka kakinya ke samping lalu.
Whooossshhh.
BRAAAKKK!!!.
"Ugh!. Hook!." Tubuh Fumihiro menabrak dinding di sebrang Hotaru mulutnya memuntahkan darah. Pemuda itu mengangkat dan melempar tubuh Fumihiro ke dinding yang cukup jauh dari posisinya.
Belum sempat Fumihiro mengatur nafas Hotaru sudah berdiri di depan wajanya.
Buk!.
Brak!.
Tidak ada satu orang pun yang berani melerai atau membantu Fumihiro. Tidak, jika berhubungan dengan sang pewaris yang sedang murka.
Fumihiro benar-benar menjadi samsak Hotaru.
Kenapa semua orang berlutut?, aku mengikuti mereka. Kenapa tidak ada yang membantu master besar?, master bisa mati jika di biarkan terus seperti itu, siapa penyusup aneh itu?, datang-datang mengamuk tidak jelas, batin beberapa pelindung yang lebih muda dari Hotaru, pelindung yang belum pernah bertemu langsung dengan si kembar.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
Fumio dan Yamazaki berhasil menyusul Hotaru, mereka terkejut dengan kondisi Fumihiro yang sangat mengenaskan dan Hotaru yang tak henti-hentinya memberikan pukulan kepada laki-laki itu. Mereka menyibak para pelindung yang sedang berlutut di dekat pintu dojo. Berlari ke arah pemuda itu.
"Hotaru ...!!."
"Tuan muda ...!."
Fumio memegang lengan kanan Hotaru Yamazaki memegang sisi yang lain, mereka menjauhkan Hotaru dari Fumihiro.
"Eiji!. Lepaskan!. Lepaskan aku!." Hotaru berhasil lepas dari cekalan Fumio dan Yamazaki. Pemuda itu langsung berlari ke arah Fumihiro, mengincar pria itu.
Fumio mengejar temannya menarik belakang kaos pemuda itu dan membantingnya ke lantai.
BUKK!.
Semua orang tertegun dengan aksi itu. Benar, selama ini hanya Fumio lah yang bisa menghentikan kemarahan si kembar.
"Kamu bisa membunuhnya!." Teriak Fumio.
Hotaru berdiri, kembali merangsek ke depan. Fumio menghadang memeluk perut Hotaru menahan tubuh pemuda itu. Tenaga Hotaru sangat besar membuat Fumio mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong mundur Hotaru.
"Br*ngsek!. Kep*rat kau Hiro san!!. Dimana kalian menyembunyikan Yuki HAH!." Teriak Hotaru kalap.
"Kep*rat!. Aku akan menghukummu! SIALAN!." Teriakan Hotaru membuat keadaan lebih panas, para pelindung kebingungan dan mulai khawatir.
BRUK!.
Fumio mendorong Hotaru hingga terjatuh telentang, laki-laki itu langsung duduk di atas perut Hotaru mengirimkan pukulan keras yang mengenai lantai, tepat di samping kepala Hotaru.
"Sadar!. BAKA (BODOH)." Teriak Fumio. Hanya laki-laki itu yang berani mengatai Hotaru bodoh.
"Minggir!. Aku harus memberikan hukuman kepada kep*rat itu!." Hotaru menghempaskan tubuh Fumio dari atas tubuhnya.
Srek!.
Ia kembali berjalan ke arah Fumihiro. Fumio beranjak berdiri menatap punggung temannya.
"Kamu yang memaksaku melakukan ini Hotaru." Ucap Fumio berlari melayangkan pukulan.
Hotaru memiringkan tubuhnya menangkis serangan Fumio, kedua sahabat karib itu terlibat perkelahian sengit.
Fumio menangkis pukulan samping Hotaru dengan telapak tangannya.
Brak!.
Kaki mereka saling berbenturan, Hotaru memukul lurus ke depan, Fumio menggeser kepalanya ke samping menghindar, namun bukan itu incaran Hotaru, kepalan tangannya terbuka mencengkeram belakang kaos Fumio menyentakkan tubuh sahabatnya ke samping, Fumio tersenyum kecil mengirimkan pukulan ke dada Hotaru yang terbuka.
Brak.
Buk.
Semua orang tertegun melihat Hotaru melakukan teknik-teknik bela diri klan mereka yang sudah sempurna bahkan sudah sampai teknik tingkat lanjutan. Terlihat jelas Fumio kalah jauh dari Hotaru namun karena kecerdikannya memanfaatkan peluang membuat pemuda itu bisa meladeni sang pewaris.
Buk.
Buk.
Hotaru dan Fumio jatuh terduduk karena pukulan mengenai wajah masing-masing.
"Huh hah huh hah."
"Hah hah hah." Kedua sahabat karib itu berusaha mengatur nafas, perkelahian diantara mereka menguras banyak tenaga, apalagi jarak antara sekolah dan kediaman utama cukup jauh ditambah jalanannya yang menanjak.
"Kepalamu sudah dingin sekarang?." Tanya Fumio meluruskan kakinya.
"Aku belum puas menghajar Hiro san." Jawab Hotaru matanya mencari sosok yang dimaksud.
Ketemu, batin Hotaru hendak menerjang ke depan namun tiba-tiba Fumio sudah berada di hadapannya melayangkan tinjunya ke wajah Hotaru membuat pemuda itu jatuh telentang.
Tubuh Fumio berada di atas Hotaru menarik kuat kaos latihan pemuda itu, menggoyang-goyangkannya ke atas dan ke bawah secara kasar. Manik laki-laki itu menatap kesal manik coklat terang milik Hotaru.
"Jelaskan padanya agar dia paham. Jangan asal main serang!. Kono, baka! (Dasar, bodoh!)." Cerca Fumio menghempaskan kaos Hotaru beserta pemiliknya.
Bruk.
Fumio beranjak dari atas tubuh Hotaru, duduk di samping pemuda itu. Menatap langit-langit dojo. Yamazaki berjalan mendekati Hotaru dengan kotak p3k di tangannya.
"Waka (Tuan muda), saya akan mengobati luka anda." Ucap Yamazaki mengambil tangan kiri Hotaru yang berlumuran darah.
Pemuda itu melukai kedua tangan dan dahinya, lukanya cukup dalam sampai darah segar keluar cukup banyak.
Hening.
Tidak ada yang berani bersuara atau pun bergerak. Yamazaki dengan telaten memperban tangan Hotaru.
Hotaru mengangkat tangan kirinya setelah selesai di perban, meletakkannya di atas kening yang terluka. Fumio menarik nafas panjang mendongak ke atas. Ia mengerti apa yang sedang di pikirkan Hotaru karena ia pun juga memikirkan hal yang sama.
"Jangan katakan apa pun padanya." Lirih Hotaru. Fumio dan Yamazaki melirik pemuda itu.
"Ayo pergi." Kata Hotaru menarik tubuhnya berdiri.
"Tuan muda, biarkan saya mengobati luka di dahi anda l dulu." Pinta Yamazaki, Fumio ikut beranjak berdiri.
"Biarkan saja." Ucap Hotaru berjalan ke arah pintu dojo.
"Kamu sudah menyerah menghajar Fumihiro san?." Celetuk Fumio mensejajari langkah Hotaru.
"Untuk hari ini sudah cukup." Jawaban Hotaru membuat Fumio mendengus seraya membuang wajah ke samping.
Sret!.
"Jika kamu tidak menggangguku aku pasti sudah membuatnya babak belur." Gerutu Hotaru keras.
"Kamu tidak lihat Fumihiro san sudah berantakan seperti itu?!." Sergah Fumio.
"Itu belum cukup." Jawab cepat Hotaru.
Buk.
Fumio menyikut perut Hotaru membuat kunciannya terlepas. Fumio hendak membalas ucapan Hotaru namun beberapa pelindung senior dan anggota keluarga terhormat berdiri menghalangi jalan mereka membuatnya terdiam.
"Sudah sangat lama, waka. Tidakkah anda berkenan beristirahat sebentar?." Ucap sopan pelindung paling senior.
"Terima kasih. Tidak seharusnya aku berada di sini, nenek melarang kalian bukan. Maaf telah membuat kekacauan. Aku pergi sekarang." Balas Hotaru melangkah mantap melewati para pelindung senior dan anggota keluarga terhormat.
Fumio membungkuk empat puluh lima derajat sebelum menyusul Hotaru.
***
Cup. Cup. Cup. Grep.
Dazai mencium tangan Yuki dengan bibir bergetarnya, meremas tangan itu penuh ketakutan.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menolong gadis itu. Tidak ada obat, tidak ada cara, jalan buntu.
Mereka berkabung, gelap, mendung, meski langit masih berwarna di luar sana.
Di saat orang yang terkena hukuman tidak terbatuk saat mengeluarkan darah, ada dua kemungkinan. Pertama, tahapan kedua dari hukuman, tanda kalau kesadaran orang itu hilang untuk selamanya. Semua ingatan lama maupun yang baru akan hilang, kosong bak bayi yang baru lahir namun tak dapat di isi kembali. Bisa dikatakan seperti bunga layu, kering, yang sudah mati, hanya tersisa bentuk fisik tanpa ada kehidupan.
Kedua, tahapan akhir dari hukuman, darah tidak akan berhenti keluar lalu, di susul sebuah kematian.
Keduanya memiliki inti yang sama yaitu, kematian.
Mizutani dan Dazai tidak tahu kemungkinan yang mana yang sedang Yuki hadapi. Dua-duanya buruk. Jikalau Yuki masih hidup, gadis itu tidak akan bisa melakukan apa pun, atau belajar apa pun. Tidak ada garis awal untuk memulai yang baru, kosong, hampa. Dan itu sama saja seperti mereka telah kehilangan pewaris kedua klan, alasan tujuan hidup mereka.
Mata dan hidung kedua pria itu sudah bengkak namun air mata mereka masih terus menetes.
***
Seperti lautan luas tanpa dasar, biru dan dingin. Yuki merasakan dirinya terus turun semakin tenggelam. Sendiri, sunyi. Ia tak keberatan jika selamanya dirinya berada di sana, Yuki terus memejamkan mata merasakan tarikan dari bawah, bibirnya bergerak membentuk senyuman yang indah.
Di saat ia sedang menikmati air dingin dikulitnya, dan gerakkan gelombang air yang lembut, tiba-tiba muncul hantaman keras di dadanya berkali-kali, setiap hantaman semakin menyakitkan. Ia mengabaikan perasaan itu kembali fokus menikmati air dan tarikan ke bawah, jika laut itu memiliki dasar Yuki ingin tinggal di sana.
Mendadak kepalanya tersentak ke belakang, merasakan sebuah benturan sangat keras. Yuki membuka matanya, melihat kegelapan tak berujung. Malam hari, itulah yang ia pikirkan. Tarikan itu terus membawanya turun.
"Maaf." Yuki mencari asal suara.
Tidak ada orang lain hanya dirinya sendiri jadi, milik siapa suara itu?.
"Maaf. Maaf. Maaf." Suara itu lagi.
Apa kau ingin kembali?.
Kembali ke mana?. Yuki mencari perempuan yang berbisik kepadanya.
Bukankah tubuh dan jiwamu sudah tidak kuat menahannya lagi?, kenapa masih mencari orang lain?.
Hm?, aku tidak mencari siapa pun. Jawab Yuki.
Ssssttttt. Desis Yuki mengangkat tangannya yang terasa sakit, kegelapan pekat membuatnya tidak bisa melihat apa pun.
Kau mencarinya lagi. Ketus bisikan itu.
Aku?, tidak.
Kau mencarinya. Asal dari rasa sakit kecil yang kau dapat. Yuki terdiam sebentar.
Biarkan saja, ini tidak penting. Jawab Yuki, tubuhnya semakin tenggelam.
Benar, lupakan mereka. Kau sudah cukup berjuang dan bertahan. Bisik lembut suara itu.
Mereka?, aku tidak memperjuangkan apa pun. Sergah Yuki.
Benar, lupakan mereka. Semakin dalam kamu tenggelam kamu akan terbebas dari semua rasa sakit. Bisikan itu semakin mendekat ke telinga Yuki.
Rasa sakit?. Aku tidak merasakan apa pun?.
Benar, tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa takut. Tenang, kosong, itu yang kamu sukai.
Ung, itu yang aku inginkan. Jawab Yuki menutup kelopak matanya membiarkan tubuhnya tertarik lebih cepat ke bawah.
Ugh!. Wajah Yuki tersentak ke samping.
Agh!. Dada sebelah kanannya terdorong keras.
Ak!. Punggung Yuki seakan membentur sesuatu yang sangat keras.
A apa ini?. Ringis Yuki.
Jangan rasakan, abaikan saja. Ucap bisikan itu.
Meskipun kamu berkata seperti itu, rasa sakit ini tidak mau berhenti. Gerutu Yuki.
Ingat, itu hanyalah rasa sakit kecil.
Yuki mengernyit, tubuhnya berulang kali mendapatkan pukulan, kakinya juga merasakan benturan keras. Yuki kesal.
Sakit!, Hota ...
Jangan ingat namanya!. Srobot cepat bisikan itu tepat di telinga Yuki.
Nama siapa?. Yuki semakin mengernyitkan kening, merasakan sesuatu yang mengusik dirinya.
Bagus. Dia bukan siapa-siapa. Jawab bisikan itu.
Kamu?, siapa namamu?. Tanya Yuki.
Apa kau tahu siapa namamu?. Bisikan itu balik bertanya.
Aku?, siapa namaku?.
Hahaha ... Kau tidak perlu mengingatnya.
Yuki merasa kesal di tertawakan seperti itu, tangannya bergerak ke samping mencengkeram sesuatu yang ia yakini sebuah pundak ramping yang halus.
Yuki menggerakkan tubuhnya menjadi berdiri, berhadapan dengan entah siapa pun itu.
Aku bertanya kepadamu, siapa namamu?. Desis Yuki.
Hee ..?. Apa kau yakin ingin tahu namaku?.
Ya!.
Apa kau tidak akan menyesal?.
Tidak. Mungkin?.
Hahaha, kau sendiri tidak yakin dengan jawabanmu.
Ya, aku sedikit khawatir dengan itu.
Tidak perlu tahu namaku dan aku akan berpihak kepadamu, membantumu mendapatkan yang kau inginkan.
Dan jika aku tetap memaksamu memberitahukan namamu apa yang akan kamu lakukan?. Yuki mulai penasaran.
Hahaha ... Kau tidak akan menyukainya. Percayalah kau sangat membencinya. Yuki tanpa sadar mencengkeram kedua pundak di bawah tangannya.
Baiklah baiklah ... Jika aku menyebutkan namaku, sebagian dari kami akan menyerangmu.
Sebagian dari kami?.
Ya, apa kau pernah membayangkan neraka?. Jika tidak, kamilah definisi dari sedikit rasa sakit neraka. Yuki terdiam.
Apa jawabanmu?.
Apa jika kamu memberitahukan namamu aku masih bisa berada di sini?. Tanya Yuki.
Hahahaha, itu tergantung dirimu. Tapi ... Kami tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan mudah.
Yuki berpikir, perasaan yang mengusiknya membuat ia kesal dan penasaran dengan perempuan di hadapannya. Tubuh mereka masih tertarik ke bawah.
Aku sudah memutuskan.
Hm?, apa itu?. Semoga jawaban yang ingin aku dengar.
Beritahu aku namamu. Tegas Yuki.
Kuharap kau tidak menyesalinya. Bisik sedih bisikan itu.
Bersiaplah. Yuki semakin meremas pundak di bawah tangannya.
Ung.
Namaku. Yuki tanpa sadar menelan salivanya kasar.
Hachibara Yuki.
DEG!.
SPLASH ...
Tiba-tiba kegelapan itu tersedot ke bawah tanpa tersisa, digantikan oleh cahaya terang benderang. Yuki membuka mulutnya lebar-lebar menatap manik biru, sebiru langit dan lautan dimana dirinya berada, mereka mengambang, tarikan itu berhenti. Bibir itu tersenyum sangat manis.
Hai, ini adalah pilihanmu. Suara merdu itu mengalun indah di dalam air. Rambutnya bergerak lembut. Yuki membeku, pikirannya kosong, ia mengagumi peri laut di depannya.
Aku bukan peri laut, aku adalah dirimu. Yuki mengerjapkan mata.
Mereka sudah mulai. Yuki tersadar.
Siapa?.
Lihat tubuhmu.
Yuki mengikuti instruksi wanita yang mengaku sebagai dirinya. Ia melirik tubuhnya sendiri. Yuki terkesiap melihat sebuah rantai berwarna merah melilit tubuhnya, dari ujung kaki sampai ke leher. Ia menarik kedua tangannya dari pundak perempuan itu ingin melepas rantai di tubuhnya.
Kau tidak bisa melepaskannya. Yuki menatap nyalang kepada manik biru itu.
Ini pilihanmu.
Grek!.
Argh!. Jerit Yuki saat tubuhnya di tarik kasar ke bawah oleh rantai merah.
Apa yang terjadi?!. Teriak Yuki, merasakan air laut itu berubah warna semerah darah dan airnya berubah sangat panas, bagaikan air mendidih.
Aaaarrgghh ..!!. Yuki meronta namun rantai ditubuhnya semakin mengencang.
Mereka adalah ingatanmu. Bisik perempuan itu, Yuki mendengarnya samar-samar.
Grek!.
Ssstttt!.
Aaaarrggghh ...!!!.
Tarikan, dan desisan kulit melepuh terdengar sangat mengerikan. Perempuan itu menatap iba dirinya yang lain.
Hen. Ti. Kan. Yuki menangis, rantai yang melilitnya terasa sangat dingin bagaikan es di kutub.
Tidak bisa. Yuki melirik manik biru itu, bibirnya bergetar, ia sangat kesakitan.
Grek!.
Ssstttt!.
Krriiieeett!.
Rantai itu semakin mengerat, menggesek kulit melepuhnya dengan rantai sedingin es membuat daging kenyal itu mencuat, sobek, mengeluarkan darah.
Swiiisshhh.
Perempuan yang mengaku sebagai dirinya bergerak ke depan tepat di depan wajah Yuki. Yuki berusaha menggerakkan tangannya untuk menahan rantai yang melilit di leher namun tangannya tidak bergerak sedikit pun.
Aku adalah dirimu. Bisik perempuan itu, Yuki membalas tatapannya.
Tidak apa-apa, menangislah. Bisiknya mengusap pipi Yuki.
Berjuanglah Yuki, terima aku dan semua ingatanmu. Yuki menatap nanar manik biru itu.
Aku datang. Bisiknya seraya tersenyum.
Yuki berusaha mundur ketika perempuan itu bergerak mendekatinya.
Wuuusshhh.
Perlahan perempuan itu masuk ke dalam tubuh Yuki, menjadi satu dengan aslinya.
AAAAARRRGGGGHHHHH ..... !!!!!!.
GREK!. GREK!. GREK!.
SSSTTTT. SSSTTTT. SSSTTTT.
KRRIIEEETT ... KRRIIIEEETTT ... KRRIIIEETTT ...
AAAAARRRGGGHHHHH ..... !!!!.
Ujung jari-jari Yuki pecah karena mencoba melepas rantai di lehernya, bau amis dari darah yang keluar dari luka-lukanya, tulangnya terasa linu dan panas dalam waktu bersamaan. Tubuhnya tak berbentuk lagi, suaranya sudah tidak bisa keluar karena jeratan rantai di lehernya. Di waktu yang sama saat perempuan yang mirip dirinya masuk ke dalam tubuh Yuki, berbagai ingatan menyeruak memenuhi kepalanya, semakin penting ingatan itu semakin tubuhnya tertarik ke bawah, semakin dingin rantai es, semakin kencang melilitnya, dan semakin panas air laut itu.
Yuki menangis, menangis, dan menangis, akan siksaan tak manusiawi itu.
Tolong aku, ku mohon .., hentikan. Sakiiit, berhenti ...
Maafkan aku, aku tidak kuat lagi ... Bunuh saja aku. Panaaas ..., periihh ... Berhenti ...
Hotaruuu, toloongg ... Ayah, ayah .., Yuki tidak kuat, tolong ...
Sakiitt .., Hotaruu .., ini sangat menyakitkan. Nenek Yurii .., tolong Yuki ...
Perlahan kelopak mata itu terbuka, wajah tegas berlinangan air mata menunduk sangat dalam. Bibir lemahnya berusaha untuk bergerak.
"Tsut-tsunn ..."
DEG!.
Mizutani mendongak menatap manik biru sendu dan kesakitan itu. Dazai menghentikan ciumannya di tangan Yuki menatap manik biru lemah yang sedang berusaha bergerak ke arahnya.
"Da i ... Cchaann ..." Dazai tidak bisa mengeluarkan suaranya, tenggorokannya tercekat, air mata miliknya semakin jatuh bak air terjun.
Manik biru itu bergerak menatap Mizutani, bibirnya bergetar seakan menangis, namun tak ada satu pun air mata yang terjatuh.
"Sa ... Kkiii ... Ttt." Lirih suara itu.
Dazai menangis histeris, menggenggam tangan Yuki semakin erat menempelkannya ke dekat bibir. Mizutani langsung merengkuh tubuh Yuki ke dalam pelukkannya, pelukkan yang sangat erat. Pria itu membisikan sesuatu dengan suara bergetar.
"Maafkan kami Ojou san, kami tidak bisa memindahkan rasa sakitmu." Ucap Mizutani dalam isakkannya.
"Bu nuh .., aku. Tsutsun." Mizutani menggeleng keras. Dazai berteriak histeris.
"Tidak!. Jangan katakan itu Ojou chan!. Bertahanlah, kami mohon." Setelah mengatakan itu tiba-tiba Yuki memuntahkan banyak darah.