Futago

Futago
Mengulang, Lagi.



BRAAAKKK!!.


Tangan keriput itu masih memiliki tenaga kuat untuk memukul meja sampai menghasilkan bunyi nyaring. Menantu dan cucunya duduk diam menghadapi kemarahan Lusi.


"Aku tidak menyangka Ayumi melakukannya pada cucuku. Dan kamu Daren!, kamu menyembunyikannya selama ini!." Geram Lusi.


"Jika aku tahu, aku tidak akan mengirim kembali Yuki ke sini."


"Anak itu ..." Lusi geram mengingat putrinya.


"Hotaru, dimana ibumu sekarang?." Lusi menatap cucunya.


"Aku tidak yakin nek, antara swiss dan italia." Lusi segera memanggil seseorang memberikannya perintah dan menyuruhnya segera pergi.


"Jadi Yuki yang sudah berbicara dengan pimpinan yakuza. Menyelesaikan masalah ini. Kenapa dia melakukannya sendirian?." Lusi memijat dahinya.


"Daren!."


***


Tangannya menyentuh kaca penghalang dirinya dengan tubuh terbaring lemah penuh kabel warna-warni dan alat bantu oksigen. Sudah satu bulan tubuh itu tidak bergerak, selama satu bulan ini juga dirinya, ayahnya, dan neneknya terbuka membagi semua informasi yang mereka miliki.


Mereka kecolongan, bagaimana klan naga putih adalah dalang utama masalah ini, bagaimana bisa mereka menyadari Yuki lah pembuat alat itu, usahanya selama ini seperti sia-sia belaka. Tangannya menggaruk kaca tebal di hadapannya ingin menembus kaca itu.


"Seperti biasa kamu datang pagi sekali."


"Hm."


"Augustin sangat menyayangimu, sampai ia tidak rela satu tetes air mata jatuh dari matanya."


Hotaru percaya. Dia lebih tahu dari pada siapa pun tentang ini. Ia juga merindukan adiknya yang cengeng, tanpa segan menangis lalu meminta maaf kepadanya karena telah membuatnya sakit, setelah itu bertingkah manja meminta perhatian darinya. Hotaru sangat merindukannya.


"Apa saat menjadi trainee Yuki menyukainya?." Manik Hotaru tidak lepas dari tubuh di atas brankar itu.


"Bahasa koreamu meningkat sangat cepat. Tidak, gadis nakal tidak menyukainya." Jun Ho menoleh ke samping untuk melihat kembaran gadis cilik yang selama ini berjuang hidup di sampingnya.


"Alasan halmeoni (nenek) menjadikannya trainee adalah untuk mengalihkan pikirannya dari memori yang membuat penyakitnya terus kambuh. Menyibukkan pikiran gadis itu tanpa jeda, memaksanya berpikir hal yang jauh dari memori itu sampai dia bisa bertahan dan sembuh." Jelas Jun Ho.


"Jika gadis nakal di paksa belajar atau menangani segudang pekerjaan dia masih bisa menyelesaikannya dengan cepat dan itu percuma. Hanya hal yang tidak pernah ia lakukan, lingkungan yang asing baginya, memaksa gadis nakal untuk menyesuaikan diri, bersosialisasi, persaingan ketat." Jun Ho mengingat Yuki saat menolak menjadi seorang trainee perusahaan besar.


"Meskipun begitu gadis nakal tetaplah gadis nakal, dia menolak mentah-mentah keputusan itu sampai halmeoni mempertemukannya dengan sepuluh musisi yang di tugaskan untuk membujuk gadis nakal." Jun Ho kini teringat Jaeha.


"Trainee berusia dua belas tahun mampu membujuk gadis nakal menjadi seorang trainee." Cerita yang cukup panjang, pikir Jun Ho lelah.


"Anak itu pasti sangat menarik." Komentar Hotaru.


"Ya, pertemuan mereka sangat menarik." Jun Ho setuju.


"Yuki menyukai anak-anak di bawah umurnya. Mungkin mengingatkannya akan masa kecil yang kelam setelah kehilangan ingatan dan ingin merubahnya, karena itu dia akan berusaha menjaga mereka."


Jun Ho tertegun, tebakan Hotaru ada benarnya.


"Karena aku pun memiliki perasaan yang sama, tapi lebih ke adikku sendiri." Imbuh Hotaru menjawab pikiran Jun Ho.


"Kalian sangat unik." Celetuk Jun Ho. Hotaru menoleh.


"Terima kasih." Balas pemuda itu. Jun Ho menggeleng pelan menatap ke dalam kamar kaca.


"Tidak, ini sudah tugasku. Aku di bayar sangat mahal untuk ini."


"Sudah mau melindungi dan menjaga Yuki di saat aku tidak ada. Terima kasih banyak." Jun Ho terkejut.


"Keluarga kami berhutang budi padamu." Hotaru membungkuk dalam membuat Jun Ho kelabakan.


"Sudah, tolong berhenti. Kamu selalu berterima kasih dan membungkuk setiap hari selama satu bulan ini padaku, aku tidak melakukan banyak. Tolong jangan seperti ini." Srobot cepat Jun Ho. Hotaru menegakkan tubuhnya.


"Hffftt." Jun Ho menghembuskan nafas lega.


"Aku akan mengingatkanmu lagi. Akulah yang gadis nakal tolong, pil dan cairan-cairan itu gadis nakal juga yang membuatnya, aku hanya menyuntikkan ke tubuhnya saja dan membantu sedikit." Jelas Jun Ho entah sudah yang ke berapa kali.


"Terima kasih." Ulang Hotaru tidak ada habisnya.


Seseorang bergabung dengan mereka membawa keranjang rotan di tangannya.


"Pasti belum sarapan. Makanlah, ajak juga dokter Jun Ho san." Fumio memberikan keranjang penuh makanan itu kepada Hotaru.


"Apa ini buatan bibi?." Hotaru menerima keranjang itu.


"Ung."


"Aku akan makan dengan cepat." Ujar Hotaru mengajak pergi Jun Ho untuk sarapan dengannya.


"Pelan-pelan saja, kamu tidak ingin tersedak Hotaru." Balas Fumio menatap temannya sebelum pergi.


Kepalanya menoleh menatap seseorang di dalam ruang kaca. Ternyata selama ini Yuki menyimpan beban dan penyakit itu sendiri. Sebuah keajaiban besar Yuki bisa bertahan sampai satu tahun lebih.


Rin. Tidak menyangka wanita itu memiliki perasaan lebih kepada dirinya yang jelas-jelas sudah bersama Yuki. Fumio merasa sangat buruk. Ini terjadi karenanya juga. Di saat Fumio ribut dengan pikirannya sendiri, tubuh lemah itu perlahan membuka mata.


Fumio berlari mencari suster untuk memanggil Jun Ho, ia kembali lagi menatap kelopak mata yang bergerak-gerak lemah.


"Siapkan pemeriksaan." Terdengar suara ribut dari luar. Detik berikutnya Jun Ho dan ketiga susternya sudah masuk ke dalam ruang kaca serba putih, Hotaru juga sudah berdiri di sampingnya.


Fumio dan Hotaru memperhatikan orang-orang di dalam sana. Hotaru segera mengirimkan pesan kepada nenek dan ayahnya.


Cukup lama Jun Ho berada di dalam ruang kaca, bahkan ketika Lusi dan Daren sampai di sana Jun Ho dan suster-susternya masih sibuk melakukan tugas mereka.


***


"Apa mereka berhasil?." Dazai menyeruput kopinya.


"Ya, Yuki sudah bangun." Keduanya bernafas lega.


"Semua ini sangat cepat." Ucap Dazai, Mizutani meletakan cangkirnya.


"Ya, begitulah."


***


Sudah tiga hari gadis itu terbangun tapi Jun Ho masih melarang tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruang kaca serba putih itu kecuali ia dan susternya. Hotaru terus menunggu di luar kaca menatap Jun Ho dan suster-susternya yang sedang melepas alat oksigen.


Yuki tidak pernah bergerak, menoleh sedikit pun tidak. Hanya kelopak matanya yang bergerak-gerak naik turun. Fumio menepuk pundak Hotaru pelan mengajaknya untuk makan sebentar.


Setelah mengisi perut Hotaru dan Fumio kembali ke ruang kaca. Seorang suster menghampiri mereka untuk pergi ke ruang kerja Jun Ho yang sementara.


Di dalam ruangan itu sudah ada Daren dan Lusi duduk mendengarkan penjelasan Jun Ho.


"Kalian sudah datang. Saya akan melanjutkannya." Ujar Jun Ho melirik kedua pemuda itu.


"Keadaannya tidak baik dan tidak buruk. Masih belum pasti apakah penyakitnya sudah sembuh atau akan kambuh lagi." Jun Ho melirik hasil pemeriksaan.


"Dia sudah lolos dari masa kritisnya tapi mungkin dia agak berbeda." Kalimat itu membuat Lusi bertambah khawatir.


"Apa maksudnya Jun Ho si?."


"Banyaknya hal-hal yang sudah dia alami membuatnya kini mempertahankan diri lebih ketat lagi. Tadi malam saya mencoba mengecek psikologisnya dengan masuk ke dalam alam bawah sadar Augustin. Di dalam sana Augustin sudah menutup rapat akses untuk masuk, saya hanya bisa masuk sampai di permukaan saja." Jun Ho menatap Daren dan Lusi bergantian.


"Dia kembali ke dua tahun yang lalu, yang sekarang lebih buruk." Lusi menyandarkan punggungnya ke kursi, Hotaru segera memegang pundak neneknya.


Lusi tidak ingin Yuki seperti boneka hidup. Dulu untuk membuat Yuki kembali normal membutuhkan waktu tujuh bulan lamanya, itu sangat lama.


"Tapi ini tergantung orang di sekitarnya." Imbuh Jun Ho.


"Dan Augustin sendiri. Kalian sudah boleh menjenguknya dan besok sudah boleh pulang." Jun Ho mengakhiri laporannya kepada keluarga pasien.


"Terima kasih untuk kerja kerasmu satu bulan lebih ini. Saya sudah menyiapkan jadwal kepulanganmu. Kepala rumah sakit sudah meminta kamu untuk kembali." Daren mengulurkan tangan.


"Sama-sama mr. Daren, silahkan hubungi saya kembali jika ada sesuatu dengan Augustin." Jun Ho membalas tangan Daren.


***


Lusi, Daren, Hotaru, dan Fumio masuk ke dalam ruang kaca. Gadis bermanik biru itu sedang duduk bersandar pada kepala ranjang melakukan sebuah permainan teka-teki dengan salah satu suster.


"Yuki." Panggil Lusi menghampiri gadis itu lalu memeluknya.


Yuki menghentikan kegiatannya melirik wanita tua yang menempel pada tubuhnya. Lusi menghapus air matanya seraya melepas pelukan.


"Besok kita pulang, semua orang sudah menunggu." Ujar Lusi merapikan rambut Yuki. Gadis itu tetap diam menatap wajah neneknya.


"Daren." Lusi mundur memberikan tempat untuk menantunya.


Daren duduk di pinggir ranjang memegang tangan putrinya. Yuki juga diam, mereka saling menatap.


Penyesalan kembali menyelimuti Daren. Andai dia tidak cepat kehabisan tenaga malam itu, mungkin dia bisa melawan Rin yang juga terluka lalu menggagalkan Ayumi. Dia yang tidak biasa melawan lebih dari lima puluh orang dibuat kewalahan dan cepat kehabisan tenaga. Jika malam itu Ayumi mau menceritakan yang sebenarnya saat bersembunyi di dalam kamar dengan Yuki, mungkin dia bisa melakukan sesuatu membuat Ayumi tidak perlu melakukan hukuman pada putrinya. Jika malam itu dia lebih dapat di andalkan semua ini tidak,


Sreeettt.


Satu tangan Yuki menarik Daren mendekat. Yuki memeluk ayahnya, menepuk-nepuk pelan punggung keras dan kokoh ayahnya.


Pasti sangat sulit menjalani hidup seperti ini, menyesal saat melihat putrinya, menyesal tidak bisa melindungi istri dan anak-anaknya, membawa beban berat pelindung bayangan dan segudang pekerjaan di pundaknya, memaksakan diri mendidik putrinya menjadi seperti sekarang meski hati memberontak karena tahu putrinya tidak suka kekerasan, tapi dia tidak memiliki pilihan. Kehilangan putranya, merubah putrinya, padahal dia dulunya hanyalah pria biasa, boneka yang sebenarnya di sini adalah ayahnya. Ayahnya telah menjalankan amanah ayah mertuanya dengan sangat baik, terima kasih sudah bertahan. Pikir Yuki.


Daren merasakan hatinya menghangat, Yukilah yang menyalurkan perasaan itu kepadanya. Satu tangan ikut merengkuh putrinya ke dalam pelukkan lengan besarnya.


"Kapan-kapan kita main golf lagi." Ujar Daren, Yuki menarik tubuhnya menatap Daren.


"Dulu kamu suka bermain golf dengan ayah." Daren melihat jelas tatapan bertanya putrinya.


Daren mencium kening Yuki.


"Kakakmu sepertinya sudah tidak sabar ingin memelukmu." Ujar Daren mengusap lembut kepala putrinya lalu beranjak berdiri.


Grep!.


Daren melirik tangannya yang di remas Yuki, kembali menatap putrinya. Ia melingkarkan lengannya merengkuh putrinya ke dalam pelukkanya lagi.


"Jangan marah terlalu lama, kalian tidak bisa berpisah lama-lama." Kata Daren melepas pelukkannya.


Daren berdiri menatap putranya, menghampiri Hotaru menjelaskan keadaan Yuki. Hotaru tidak terima, ingin protes tapi jika itu keinginan Yuki dia akan bersabar. Alhasil Hotaru hanya duduk di tepi ranjang menatap adiknya, berbicara sendiri, adiknya sepenuhnya mengabaikan dirinya.


***


Beberapa menit yang lalu Jun Ho berpamitan kepada Daren, pria itu akan kembali ke korea. Yuki kecolongan, ia tidak tahu Jun Ho sudah janjian bertemu dengan Daren untuk memeriksa penyakit Yuki yang sudah melewati dua tahun semenjak pertama penyakit itu datang.


"Aku tidur terlalu lama." Ujarnya.


"Dan kamu membuatku hampir gila gadis nakal. Untung saja tubuhmu dapat menerima dengan baik cairan itu." Kesal Jun Ho.


"Sayang sekali kamu tidak jadi gila." Ucap Yuki datar. Jun Ho melirik Yuki sebentar.


"Jadi, jika kamu baik-baik saja kenapa kamu seperti itu kepada mereka?." Jun Ho membereskan pil dan beberapa cairan memasukkannya ke dalam tas kecil.


"Apa yang kamu harapkan dariku." Yuki menengguk hot lemon teanya.


"Tidak, kamu sudah memutuskannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Jun Ho memberikan tas itu kepada Yuki.


"Aku tidak tahu masalah keluarga kalian tapi aku harap semuanya cepat selesai. Aku akan pulang setelah kamu keluar dari rumah sakit."


Yuki terus memandang keluar jendela mobil, musim semi sudah datang. Ia melihat kuncup-kuncup bunga sakura, sebentar lagi bunga berwarna merah muda itu akan mekar.


Mobil berbelok melewati jalan yang terlihat sepi tidak ada perumahan hanya pepohonan yang terbentang di sepanjang jalan, di depan sana dua pagar berdiri menjulang, tembok-tembok tinggi kokoh mengelilingi bangunan-bangunan di dalamnya.


Mobil berhenti sebentar, gerbang kayu terbuka lebar memperlihatkan kemegahan taman dan bangunan tradisional yang tidak tertelan keindahannya oleh era modern. Mobil paling depan sudah berhenti, di susul mobil yang di tumpanginya, barulah mobil terakhir.


Tidak jauh berbeda dengan di tempat lain, para pelayan dan pelindung berdiri berbaris menyambut kedatangannya. Lusi juga terlihat berdiri di tengah-tengah mereka. Daren membukakan pintu untuknya. Yuki menerima uluran tangan Daren.


Kakinya kembali menapak di tanah yang sudah puluhan tahun ia tinggalkan, angin musim semi menerbangkan rambutnya menyentuh kulit-kulitnya seakan ikut senang menyambut dirinya kembali. Semua orang tertegun dengan sosoknya yang berdiri di samping Daren. Mereka seketika berlutut memberikan hormat. Yuki melihat Hotaru dan laki-laki pada malam itu berdiri di belakang Lusi.


Daren menarik pelan tangan Yuki menuntunnya. Lusi langsung memberikan pelukkan erat setelah Yuki sampai di hadapannya.


"Selamat datang di rumah." Ucap Lusi.


Kini Lusi yang menggantikan Daren menuntun Yuki. Gadis itu masih mengabaikan saudara kembarnya. Daren menepuk punggung Hotaru cukup keras menguatkan putranya.


"Ini tempat untuk menerima tamu, melakukan rapat pekerjaan, dan di lorong paling ujung digunakan untuk diskusi para pelindung tingkat atas." Jelas Lusi menjelaskan tiga ruangan luas bangunan paling depan kediaman utama. Mereka berjalan melewati lorong terbuka, lantai kayu yang Yuki injak terlihat sangat mengkilap.


"Kamu lihat bangunan di sebelah kanan itu." Yuki menoleh. Bangunan paling besar.


"Itu adalah dojo, tempat para pelindung berlatih, ada juga barak di sampingnya, untuk pelatihan di luar ruangan." Lusi menunjuk bangunan lain cukup tinggi dengan lantai-lantai bertingkat mirip pagoda.


"Itu adalah tempat kamu dan nenek Yuri suka menghabiskan waktu. Kapan-kapan kamu pergilah ke sana, sekarang kita ke kamarmu." Jelas Lusi.


Yuki melihat ada tujuh bangunan yang terpisah, mereka berbelok ke kanan. Bangunan luas dengan beberapa ruangan.


"Ini kamar Hotaru, ruang lukis kalian." Lusi menunjuk ruangan di samping kamar Hotaru. Tidak ada pintu lain, mereka berbelok ke kananan lalu ke kiri.


Yuki langsung di suguhkan pemandangan taman kecil dan satu pohon sakura yang lebat, kuncup-kuncup itu mengintip ingin terbuka. Bunga tulips putih, merah, dan kuning pun ada, bergerombol di tata dengan rapi.


"Kamarmu ada disebelah sini." Lusi menuntun Yuki berjalan ke pintu geser kamarnya. Dua orang pelayan sudah menunggu berlutut di depan pintu kamar.


"Mereka yang akan membantumu, kalau ada apa-apa minta pada mereka." Ucap Lusi. Yuki menoleh ke belakang, ada dua pelayan lainnya, lalu kembali menatap Lusi.


Ini bukan di jaman kerajaan jaman dahulu bukan, batin Yuki.


"Ayo masuk." Pelayan itu sudah menggeser pintu. Yuki dan Lusi masuk ke dalam kamar yang luas.


Yuki sudah membayangkan futon tradisional jepang dan ia akan tidur di lantai tapi yang ada di depannya adalah ranjang king size berwarna biru tua yang elegan bercampur warna putih. Komputer miliknya di tokyo sudah bertengger di sisi kiri lengkap dengan foto kakek, ada satu tambahan komputer di sampingnya.


Yuki sedikit terkejut, ia mengedarkan matanya ke seluruh sudut kamar, barang-barangnya di tokyo yang tak seberapa berpindah ke sini. Otaknya berpikir cepat.


Lucu sekali, batinnya.


"Kita akan tinggal bersama lagi di sini." Ucap Lusi mengelus pipi Yuki.


"Tiga hari lagi awal masuk sekolah. Kamu akan satu sekolah lagi dengan Hotaru." Lusi tersenyum.


"Nikmati kamarmu, nenek pergi dulu. Jangan banyak bergerak, meskipun kamu sudah sembuh." Lusi memeluk erat Yuki sebentar.


"Tolong buka pintu samping kamar biarkan Yuki melihat pemandangan luar dari kamarnya." Titah Lusi setelah melepas pelukkannya.


"Hai, Lusi sama." Mereka berjalan ke samping kanan kamar, menggeser pintu sekaligus jendela besar, menunjukkan teras luas dan pagar kayu. Kilauan air danau dan bunga teratai berwarna pink dan putih mengambang di atas air.


Lusi mengecup sekilas kening Yuki, gadis itu membungkuk agar Lusi tidak kesusahan karena tinggi mereka yang jauh berbeda.


"Kalau kamu ingin bertemu nenek tanya mereka, mereka tahu di mana nenek." Ujar Lusi lalu pergi, dua pelayan yang mengikuti mereka dari belakang membungkuk dalam kepada Yuki sebelum mengikuti Lusi.


"Ojou sama. Selamat datang kembali." Sapa mereka membungkuk dalam.


Yuki menarik nafas panjang menikmati udara musim semi. Membalas sapaan pelayan sebentar kembali melirik kamarnya.


Dua meja, untuk komputernya dan satu meja kosong untuk belajar. Rak buku tertempel di dinding sebelahnya. Sofa besar tepat di sebelah kiri pintu dengan meja dan tv yang menggantung di dinding. Pintu besar berada di kanan ranjang dan di sebelah kanan pintu di biarkan kosong. Yuki melangkah menuju teras samping, berdiri di pinggir pagar pembatas.


Pemandangan yang indah menurut kedua pelayan, betapa beruntungnya mereka di pilih menjadi pelayan pribadi nona muda. Lihat, nona mudanya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, kecantikannya sangat tidak manusiawi. Pasti akan ada persaingan untuk merebut tempat calon tunangan, pikir mereka.


Di lain sisi Yuki kembali tenggelam ke dalam pikirannya. Tsuttsun dan Dazai tidak bersamanya lagi, ia akan pindah sekolah, lagi. Bertemu orang baru lagi, beradaptasi dengan mereka. Yuki menarik nafas panjang. Selama tiga tahun masa sma nya tiga kali juga ia pindah sekolah.


Bagaimana ekspresi Natsume ketika menyadari ia tidak ada di tokyo. Agh, Yuki tidak bisa bermain dengan pipi Keiji.


Gadis itu tidak berlama-lama memikirkan masalah emosinya, ia meminta kedua pelayan untuk keluar dari kamar lalu menguncinya dari dalam. Yuki duduk di depan komputernya mengotak-atik, takut komputer miliknya sudah di sadap dan di program oleh orang lain. Ketika ia tidak menemukan hal yang mencurigakan Yuki segera mencari sinyal Je. Ia tidak tahu di mana jam tangannya.


Ketemu, yuki melihat ke belakang tepat ke arah pintu lain di kanan ranjang. Yuki berdiri menghampiri pintu itu. Sinyal Je berasal dari sana.


Ceklek.


"Je." Panggilnya.


Pantulan kaca menampakkan sosok burung hantu yang melayang menghampirinya.


"Aku hampir mati Yuki." Gadis itu tersenyum.


"Maaf, aku tidak akan membiarkanmu mati. Mbok Is dan yang lain belum aku beri peringatan. Akan berbahaya jika kalian meledak." Jawab Yuki.


"Ada pesan dari Tsuttsun." Yuki mengangkat satu alisnya.


"Apa?."


"Jam tangan dan semua barang-barang di dalam kotak, ia taruh semuanya di dalam koper besar." Lapor Je.


"Kamu bisa mencarinya untukku?." Je langsung melayang di salah satu pintu lemari.


Yuki membuka pintu itu mengambil koper mencari benda-benda rahasia miliknya. Satu yang hilang, pedang pendeknya.


"Je, apa yang dikatakan Tsuttsun lagi?."


"Tidak ada." Yuki kecewa.


"Baiklah, ayo bekerja Je." Ia beranjak kembali menghadap komputernya, mencari segala informasi klan naga putih.


***


Woooosshh.


Zeb. Zeb!.


Hotaru melepas dua anak panah sekaligus. Fumio mengayunkan pedang kayunya mengakhiri latihan dengan pelindung yang menjadi pasangannya. Berjalan menghampiri Hotaru.


Wiiiinnggg.


Hap.


Lemparan mulus yang Hotaru tangkap dengan baik. Manik coklat terangnya melirik sahabatnya.


"Istirahat. Kamu sudah menghabiskan banyak anak panah." Hotaru mengikuti saran Fumio.


"Yuki belum keluar dari kamarnya?."


"Sepertinya belum. Bagaimana dengan besok?." Mereka berdiri saling menengguk minuman masing-masing. Hotaru melirik dojo.


"Aku tidak yakin Yuki mau berangkat denganku." Jawab Hotaru.


"Pikiran kita sama."


"Bagaimana dengan anak baru?."


"Mau melihatnya?. Mereka tidak buruk."


Hotaru dan Fumio berjalan menuju dojo, melihat dari kejauhan lima anak yang baru bergabung dengan dojo. Tentu saja anak-anak itu anggota dari klan, menuruni orang tua mereka.


Will terlihat sedang serius mengajari pemula. Anak itu satu-satunya yang naik pangkat menjadi pelindung tingkat atas di usia belianya, dan sekarang menjadi guru termuda di dojo.


"Will memiliki saingan." Celetuk Hotaru.


"Apa maksudmu gadis kecil itu?." Siapa lagi, di sana hanya ada satu orang terkecil dari yang lainnya, gendernya juga paling berbeda dengan ke empat anak yang lain.


"Dia lebih tua tiga tahun dari Will." Hotaru menatap tidak percaya gadis kucir kuda itu.


"Tinggi mereka sama." Balas Hotaru.


"Ya, dia juga masuk ke sekolah kita besok." Jelas Fumio yang tahu lebih banyak informasi di sekitar kediaman utama.


"Kelas satu?."


"Hm."


"Aku ragu Yuki mau terbuka dengannya. Akh!, aku harus belajar lebih banyak. Kamu tahu semua yang terjadi di klan dan aku masih begini-begini saja." Gerutu Hotaru.


"Hahaha." Fumio tertawa. Ia menghentikan tawanya kala Hotaru sudah pergi menjauh, wajahnya berubah serius, pikirannya melayang kepada gadis bermanik biru.


Kamar mandi dengan aroma lavender lembut, bathup bundar luas, keramik-keramik batu berwarna-warni, Yuki menenggelamkan dirinya di dalam bathup. Kamar mandinya di isi oleh sabun dan shampoo kesukaannya. Setelah di rasa cukup Yuki keluar dari bathup meninggalkan kamar mandi. Yang langsung di suguhi berderet lemari. Ia mengeringkan tubuh dan rambutnya di sana, mengambil piama tidur seperti biasa.


Ceklek.


"Ojou sama." Yuki melirik pelayan di depannya.


"Anda di tunggu untuk makan malam bersama oleh Daren dono." Yuki mau tidak mau kembali ke dalam ruang ganti, mengganti pakaiannya.


Pelayan itu mengantar Yuki ke bangunan lain yang tidak jauh dari kamarnya. Lagi-lagi sudah ada pelayan di depan pintu membungkuk kepadanya. Yuki memang tidak pernah meninggalkan kamarnya setelah sampai di kediaman utama. Pertama kali ia memasuki kamar, bunga sakura masih kuncup-kuncup dan sekarang mereka sudah mekar sempurna. Indah.


Sreett.


"Silahkan masuk ojou sama." Ucap pelayan itu. Yuki mengangguk kecil lalu melangkah masuk.


Ruang makan yang luas dengan meja panjang dan banyak kursi, padahal anggota keluarga mereka tidaklah sebanyak itu. Kursi paling ujung di duduki oleh Daren, Lusi di sebelah kanan, Hotaru di sebelah kiri. Yuki menghampiri kursi di samping Lusi. Pelayan membantunya duduk.


"Sudah lama kita tidak makan malam bersama." Ucap Lusi tersenyum lembut. Yuki mengangguk sekilas.


Mereka mulai menikmati makanan yang di sajikan. Tidak ada yang bicara, bahkan tidak terdengar dentingan piring dengan sumpit, sendok, garpu, atau pun pisau. Sangat tenang sampai mereka menyelesaikan makan malam.


"Yuki." Panggil Daren.


"Ya, tou san (ayah)." Suara pertama yang Yuki keluarkan setelah berada di kediaman utama selain dengan Je.


"Ayah harus kembali bekerja. Kamu mulailah belajar bela diri klan." Kata Daren.


"Baik."


Hotaru dan Lusi menatap Yuki yang tiba-tiba sangat patuh itu.


"Sekolahmu dengan rumah sangat jauh, kamu juga tidak bisa naik sepeda besok biar seseorang mengantarkanmu." Jelas Daren.


"Baik."


"Setelah ini pergilah ke dojo untuk melihat-lihat. Yamazaki san akan menemanimu."


"Baik."


"Yuki .., kalau kamu tidak mau jangan sungkan untuk menolak." Ucap Lusi.


"Tidak apa-apa, aku memang harus belajar." Kata Yuki.


"Kalian boleh pergi ke dojo, Yamazaki sudah menunggu di luar." Daren melirik Hotaru menganggukkan kepala.


Yuki dan Hotaru membungkuk sebentar sebelum pergi. Pria bernama Yamazaki sudah berdiri menunggu di luar.


"Selamat malam waka, ojou chan." Sapanya. Maniknya melirik dua saudara kembar yang terlihat masih jauh itu.


"Mari." Ucapnya berjalan lebih dulu dan memberi jarak agak jauh membiarkan waktu untuk si kembar yang jarang bertemu.


"Yuki. Maaf." Hotaru membuka mulutnya.


"Jangan seperti ini. Maafkan aku." Hotaru bergerak mencoba meraih tangan Yuki.


Dengan santai Yuki menghindari tangan Hotaru.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau bicara lagi denganku?." Tidak ada jawaban.


"Yuki ak." Hotaru yang menghadap adiknya dan hendak memeluk dari samping itu mendapat serangan tiba-tiba.


Maniknya tidak melihat gerakkan tangan Yuki, sebuah bilah pisau sangat tipis sudah berada di depan lehernya. Hotaru kenal pisau itu, bolpoin pisau milik Yuki. Yamazaki meneguk salivanya, pemandangan itu sangat tidak mengenakan.


"Ehem!. Ojou chan, kita sudah hampir sampai." Yamazaki menginterupsi keduanya agar ketegangan di sana berakhir.


Yuki menarik pisaunya mengembalikan bentuknya menjadi bolpoin. Ia berjalan mendekati Yamazaki.


Yuki memiliki alasan sendiri kenapa sikapnya kepada Hotaru berubah padahal saudara kembarnya tidaklah bersalah. Yuki sudah membulatkan tekad.


"Di sini." Yamazaki berhenti sebentar di depan pintu lalu menggesernya.


Yuki masuk setelah Yamazaki. Ia terkejut melihat banyaknya pelindung yang masih berlatih padahal hari sudah malam. Dress biru tua selututnya berayun setiap kakinya melangkah.


"Maaf, aku tidak ingin mengganggu mereka, bisakah kita tetap berdiri di sini." Pinta Yuki. Yamazaki menghentikan langkahnya.


"Baik ojou chan."


Mereka melihat dari sisi pinggir ruangan. Manik Yuki memindai setiap orang yang berlatih. Mereka sangat bersemangat. Maniknya berhenti pada sosok kecil yang ia lumpuhkan di kyoto. Yamazaki menyadarinya, karena ia juga berada di kyoto ikut menyerang malam itu, Hotaru juga pernah mengatakan mungkin Will akan cocok dengan Yuki.


"Mau pergi ke sana, ojou chan?." Yuki mengangguk kecil tanpa melirik Yamazaki.


Akhirnya mereka berjalan dari pinggiran dinding mendekati Will yang sedang mengajar.


Yuki berhenti, ia melihat wajah asli Will selain wajah pucat yang terbaring di meja operasi. Wajah tegas namun sangat imut, bagaimana Yuki menjabarkannya. Imut dan cantik, tidak tapi keren, tidak tidak. Baby face tapi tidak dengan mata tajam dan aura mengintimidasinya. Yamazaki semakin mendekati Will.


"Maaf, apa kalian ada waktu sebentar." Yuki melirik Yamazaki.


Apa yang akan dia lakukan, batin Yuki.


"Ojou chan, mereka adalah murid baru di dojo. Sudah satu bulan mereka bergabung." Yamazaki menoleh kepada Yuki membuat yang lainnya ikut menatap ke arahnya. Yuki mengangguk kecil.


"Tolong jangan berlutut." Sergah cepat Yamazaki menghentikan niat mereka.


Kerja bagus, batin Yuki yang tidak ingin menarik perhatian yang lain.


"Bagaimana jika kalian melakukan sparring? (latih tanding?)." Yamazaki melirik Will. Anak itu menganggukkan kepala.


Dengan cepat mereka melakukan sparring bergantian, dua pasangan laki-laki berusia lima belas sampai tujuh belas tahun itu sudah melakukan sparring, tersisa satu gadis cilik yang sejak tadi menatap Yuki tidak berkedip.


Yuki yang risi balas menatapnya. Gadis itu memiliki mata bulat yang jarang orang jepang miliki, alis tipis melengkung yang indah, hidung mancung yang tipis, dan bibir mungil. Imut, lebih imut dari anak laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Apalagi tinggi tubuhnya yang kecil.


"Ah, untuk gadis yang imut mau sparring denganku?." Yuki menaikan satu alisnya sangat terkejut dengan kalimat berlebihan dari mulut Yamazaki. Hal itu membuat gadis kecil berbinar cerah menatap Yuki.


"Berhenti berpikir kau akan melakukan sparring dengan ojou sama." Suara ketus berasal dari Will. Seketika gadis itu menyorot jengkel gurunya. Yuki tersenyum dalam hati.


"Kenapa tidak." Ucap Yuki.


Sret. Semua orang di sana menatapnya, gadis kecil tersenyum senang. Will terlihat tidak suka dengan kalimat Yuki.


Ini dia, Yuki semakin ingin menjahili Will.


Yuki berjalan ke tengah lingkaran yang di buat oleh tubuh mereka. Dressnya sangat tidak cocok digunakan untuk sparring. Yamazaki mempersilahkan Yuki.


"Ojou sama, saya adalah orang yang paling beruntung bisa sparring dengan anda." Ucap Gadis kecil membungkuk dalam.


"Apa kamu ingin menggunakan alat?." Tanya Yuki.


"Bolehkah?." Tanyanya girang.


"Tentu." Gadis itu langsung mengeluarkan dua kayu sepanjang siku dengan pegangan di sampingnya.


Melihat Yuki yang tidak bergerak membuatnya bertanya.


"Anda tidak mengambil alat anda ojou sama?." Yuki menggeleng kecil.


"Kalau begitu saya juga tidak." Yuki hanya diam menunggu gadis kecil itu bersiap.


Yamazaki sudah memberikan aba-aba mulai dua detik lalu, tapi masih belum ada yang bergerak. Gadis kecil itu terlihat melamun dengan terus menatap manik Yuki.


"Mau sampai kapan kamu menatapku seperti itu?." Suara Yuki mengejutkannya.


"Cantik!." Seru gadis kecil.


"Aku akan memberikanmu kaca agar kamu bisa lihat ada gadis yang lebih cantik berdiri di depanku." Balas Yuki. Biasanya ia akan memutar matanya jika ada orang yang memujinya cantik tapi gadis di depannya memang sangat menggemaskan.


"Maaf, saya akan mulai." Ucap gadis itu.


"Tentu." Jawab Yuki.


Whoooossshhh.


Tap. Tap. Tap. Tap.


Gadis kecil berlari cepat memutari Yuki. Dan dari arah belakang tiba-tiba pukulan kuat mengarah ke kepala Yuki.


Pak.


Sreeett.


Yuki tidak menangkapnya melainkan membelokkan pukulan itu. Manik gadis kecil terkejut namun terlihat lebih bersemangat. Terlihat jelas gadis kecil itu sudah mempelajari bela diri klan sebelum masuk ke dojo. Yuki melayaninya dengan lembut, seperti teknik terakhir yang ia gunakan saat melawan Fathur dulu. Dia memakai dress tidak mungkin untuk terlalu banyak menggerakkan kaki. Yuki tidak berpindah tempat, ia hanya menggerakkan sedikit kakinya lalu kembali berdiri tenang.


Entah Yuki sadar atau tidak bajunya dan pertarungannya menarik perhatian orang-orang di dalam dojo. Yuki tenggelam ke dalam permainan gadis kecil itu. Meski berkali-kali meleset tapi senyum dan manik berbinarnya tidak luntur sama sekali, ia dengan semangat terus menyerang Yuki melakukan semua gerakkan yang di milikinya. Tiba-tiba Yuki melihat wajah orang lain di dalam kepalanya.


Tendangan melayang ke arah perutnya, Yuki menggeser ke samping lalu menangkisnya. Namun dengan hentakkan keras tubuh gadis itu tiba-tiba menerjang ke depan mengirimkan tinju kecilnya. Manik Yuki turun ke bawah.


Pak.


Grep.


Sret!.


Yuki menangkis lalu menangkap dan memutar tangan itu ke depan membalikan tubuh gadis kecil. Mereka seperti sedang melakukan putaran dansa.


Yuki menundukkan kepalanya membisikan sesuatu dari belakang.


"Apa kamu putrinya Ame san?." Gadis kecil itu melebarkan matanya.


"Sepertinya iya, berjuanglah." Bisik Yuki menegakkan badannya seraya melepas tangan gadis kecil.


Yuki membalikan badannya melihat Will memasang wajah datar.


"Mau sparring denganku?." Will menunduk dalam.


"Saya tidak pantas ojou sama." Jawab Will.


"Sepertinya lain kali." Ujar Yuki berjalan menghampiri Yamazaki.


"Anda sangat lua." Yuki memotong Yamazaki.


"Jangan memujiku, kemampuanku masih jauh di bawah mereka yang sudah belajar bela diri klan." Kalimat tajam Yuki membuat Yamazaki tersenyum.


Ojou chan bukan ojou chan yang dulu, batin Yamazaki.


"Aku akan kembali ke kamar." Kata Yuki.


"Baik, mari." Yamazaki berjalan lebih dulu.


"Ame Sayuri desu!. Arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak)!." Teriakan tiba-tiba itu membuat Yuki menoleh ke belakang.


Sayuri bersemu merah hingga ke telinganya. Yuki mengangguk kecil lalu kembali berjalan pergi.


Aaaakkhh, Sayuri ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang. Putri klan bermanik biru yang selalu ibunya ceritakan akhirnya ia bisa bertemu langsung dengannya. Penjelasan ibunya banyak yang kurang karena aslinya jauh lebih dari bayangannya.