Futago

Futago
Vampir.



Semoga anda bisa menjaga rahasia kita, batin Mizutani saat laki-laki itu sudah pergi.


Pikirannya kembali ke satu bulan pertama tinggal bersama gadis itu, Mizutani mengamatinya dengan sangat hati-hati bahkan ia terus-terusan menjaga jarak, ia tidak boleh gegabah meskipun dengan usaha sempurnanya yang seperti itu Yuki masih bisa mengetahui apa yang ia lakukan.


***


Yuki membuka matanya, diam, ia mengatur nafasnya yang lemah.


"Yuki kamu sudah bangun." Masamune menghampiri ranjang Yuki meletakan tangannya diatas dahi gadis itu.


"Apa kepalamu terasa sakit?." Yuki melirik Natsume hendak membuka mulutnya tapi ia langsung meringis kesakitan.


"Jangan bicara dulu bibirmu terluka parah, maaf sudah bertanya." Srobot Masamune mendengar rintihan Yuki.


Agh, benar. Aku menggigitnya sangat kuat, batin Yuki.


Bibirnya terasa kaku dan perih. Ia merasakan dingin menjalar di permukaan bibirnya. Masamune segera membersihkan darah yang keluar karena gerakan kecil yang Yuki lakukan tadi.


"Jangan di gerakan dulu, lukanya masih baru. Kamu hanya perlu menggeleng dan mengangguk ketika aku bertanya, tunggu. Agh bodohnya aku, kepalamu pasti sakit." Yuki mengamati Masamune yang kebingungan dan khawatir.


"Gerakan saja tanganmu, bentuk tanda ok jika kamu setuju dan lima jari untuk tidak. Ya, seperti itu lebih baik." Yuki langsung membentuk tanda ok dengan tangan kanannya yang bebas dari jarum.


"Ahaha, ini bekerja. Apa kamu bisa membuka mulut?." Tanya Masamune. Yuki mencoba membukanya perlahan. Perih dan nyeri tapi berhasil. Yuki kembali memberikan tanda ok.


"Pelan-pelan saja, kamu harus makan. Aku segera kembali." Masamune berjalan keluar kamar.


Jun Ho si akan marah besar jika tahu aku menggigit bibirku lagi, batin Yuki.


"Aku membuatkanmu bubur spesial, resep turun temurun dari nenek moyang." Kata Masamune meletakan nampan di atas nakas di dekat ranjang Yuki.


Apa dia sedang mencoba menghiburku?, batin Yuki.


"Sepertinya kamu masih sangat lemas, biarkan aku menambah bantal untukmu." Masamune mengambil bantal yang lain mengangkat punggung Yuki sedikit untuk menaruh bantal di bawah lehernya.


"Sudah." Ucap Masamune lalu mengambil mangkuk bubur yang ia bawa menyuapi Yuki dengan hati-hati agar tidak menyentuh bibir bawahnya.


Bubur yang sudah tidak panas dan hampir dingin itu membuat Yuki mudah untuk memakannya, lidah dan tenggorokannya tidak akan terluka karena panas.


Setelah beberapa lama Masamune mendekatkan sedotan ke ujung bibir Yuki yang tidak terluka membiarkan gadis itu menyedotnya. Ia dengan lembut mengelap pinggiran bibir Yuki.


"Apa ada yang kamu butuhkan?." Tanya Masamune. Yuki menunjuk kantung darah yang hampir habis.


"Aku akan mengambilkannya." Masamune keluar dengan nampan meninggalkan gelas tetap berada di atas nakas.


"Aku sudah mengeluarkannya tadi dan meletakannya di dekat rice cooker agar tidak dingin, kamu mau mengeceknya?." Masamune mendekatkan kantung darah ke tangan Yuki. Gadis itu membentuk tanda ok dengan tangannya.


Yuki melirik buku dan bolpoin di meja belajar, menunjuknya dengan ujung jari. Masamune mengikuti arah yang di tunjuk Yuki.


"Apa?, kamu mau bermain komputer?." Yuki mengeluarkan lima jarinya.


"Belajar?." Ya ampuun .., batin Yuki melakukan gerakan menulis.


"Ah!, buku dan bolpoin?." Yuki memberikan tanda ok.


Masamune segera mengambilkan barang yang di minta Yuki. Gadis itu segera menuliskan sesuatu.


Tolong geser tubuhku ke tepi ranjang.


Itu yang di tulis Yuki. Tulisan tidak rapi karena tenaga di jarinya yang masih lemah.


Masamune segera melakukannya, ia menggeser tubuh Yuki ke tepi ranjang.


Tolong ambilkan kantung darah yang di atas dan letakan kantung darah baru di atas perutku.


Masamune segera melakukannya. Yuki menurunkan tangan kirinya ke bawah ranjang, sampai menyentuh lantai. Meski pelan tapi gerakan tangannya sangat terlatih mengganti kantung darah di atas perutnya.


Masamune takjub dengan kelihaian tangan Yuki, pantas saja Mizutani san tidak khawatir meninggalkan Yuki sendirian, pikir Masamune.


Masamune segera menggantungkan kantung darah baru dan mengambil kantung darah lama dari atas perut Yuki.


"Kamu belajar di mana, bisa memasang itu sendiri?." Masamune menatap tangan Yuki yang masih tergeletak menyentuh lantai, ia mengangkatnya kembali ke atas ranjang.


Bagaimana dia bisa punya ide untuk menurunkan tangannya seperti ini, batin Masamune.


Masamune melirik buku Yuki, membacanya.


Di rumah sakit.


"Aku tidak tahu kamu memiliki sakit yang parah, melihat kondisi tubuhmu yang segar bugar, tapi ternyata aku tertipu."


Aku sendiri di tipu oleh penyakit menyebalkan ini, sudah hampir sebelas bulan aku dinyatakan sembuh. Dan sekarang tiba-tiba penyakit ini datang lagi.


"Tidak apa-apa, kamu pasti bisa sembuh, serahkan kepada dokter."


Dokter yang mana?, ayah sudah membawa dokter dari penjuru dunia dan tidak ada satu pun yang berhasil, batin Yuki.


"Sudah sore, aku akan mengambilkan air hangat." Yuki segera menuliskan sesuatu.


Buat apa?.


"Untuk membersihkan tubuhmu." Yuki baru sadar tubuhnya bau amis, ia habis mandi dengan darahnya sendiri.


Tidak, biarkan aku saja yang melakukannya.


"Bagaimana caramu melakukannya hm ..?." Masamune melipat tangannya di depan dada.


Aku akan berusaha, pokoknya biarkan aku sendiri yang melakukannya.


"Jangan keras kepala, mengangkat tangan saja kamu tidak bisa bagaimana kamu mau melepas kancing bajumu?."


Jawaban Logis dari Masamune membuat Yuki bungkam.


"Aku akan segera kembali."


Yuki membuang wajahnya ke samping berusaha menutupi rasa malunya. Masamune dengan telaten mengurus Yuki, Masamune akui ia merasa sangat iri melihat bentuk tubuh Yuki apalagi perutnya, gadis itu memiliki otot perut yang indah.


"Kenapa telingamu merah?." Tanya Masamune.


"Yuki, kamu malu?!." Masamune terkejut, gadis cuek yang sudah beberapa bulan ini bersamanya ternyata masih polos. Yuki mengangkat lemah lima jarinya.


"Baiklah aku tahu kamu sangat malu, aku akan melakukannya dengan cepat." Ujar Masamune tidak menghiraukan tanda lima jari Yuki.


Yuki memutar bola matanya.


"Selesai, sekarang terlihat lebih segar." Kata Masamune selesai mengganti baju rumah sakit dengan baju tidur.


"Apa kamu ingin ke toilet?." Yuki mengangkat lima jarinya. Masamune mengangguk kecil.


"Mizutani san akan datang sebelum jam makan malam nanti." Masamune melirik jam di dinding kamar Yuki.


"Sepertinya sebentar lagi dia datang, aku akan menyiapkan makan malam di dapur, kalau kamu perlu sesuatu gunakan ponselku untuk menelpon telepon rumah. Aku akan segera datang." Jelas Masamune memberikan benda gepeng miliknya. Telepon rumah yang berada di lantai bawah memungkinkan Masamune mendengar panggilan telepon.


Aku menaruh ponsel di dalam tas, batin Yuki mengingat ponselnya.


***


Selesai latihan Mizutani segera mengganti seragamnya dan pergi ke rumah Yuki. Sejak tadi siang ponsel gadis itu terus bergetar. Mizutani memarkirkan mobilnya di garasi depan rumah.


Ceklek.


Mizutani langsung membuka pintu tanpa perlu menekan bel. Masamune melirik sekilas Mizutani yang baru masuk, wanita itu sedang sibuk dengan masakannya.


"Apa Yuki sudah bangun?." Tanya Mizutani.


"Ya, beberapa jam yang lalu."


"Apa dia sudah makan?."


"Ung."


"Aku akan melihatnya." Mizutani melangkah naik ke lantai dua.


Mizutani mengetuk pelan pintu kamar membukanya dengan hati-hati, Yuki masih menutup matanya. Mizutani meletakan tas Yuki diatas meja belajar, ia terkejut dengan foto yang terdapat di meja itu, Mizutani segera menarik kembali tas Yuki meletakannya di kursi, ia lalu membungkuk sangat dalam kepada foto itu.


Melangkah mendekat ke sisi ranjang, matanya melirik sebuah buku dan bolpoin di dekat tangan kanan Yuki, membacanya.


Apa bibirnya tidak bisa di gerakan?, batin Mizutani melirik bibir bawah gadis itu.


Kenapa bisa seburuk ini, lanjut Mizutani dalam hati. Tangannya menaruh ponsel di atas nakas meraih obat yang ia bawa dari rumah sakit.


Dengan sangat pelan Mizutani memberikan obat lagi di bibir gadis itu, gerakan Mizutani terhenti karena Yuki bergerak kecil, setelah Yuki kembali tenang Mizutani menyelesaikan kegiatannya, ia lalu duduk di kursi dekat nakas.


Lama, Mizutani hanya duduk diam menunggu sampai Yuki perlahan membuka matanya.


"Apa yang terjadi?." Tanya Mizutani membuat manik Yuki melihat ke arahnya.


Hening.


Yuki mengangkat sedikit buku miliknya. Mizutani beralih dari wajah gadis itu ke tulisan bercabang di buku.


Mizutani menarik sedikit sudut bibirnya.


"Aku hanya ingin tahu penyebab sakit kepalamu kambuh lagi." Ujar Mizutani.


Benar, apa penyebabnya, batin Yuki mengingat bayangan anak kecil dan seorang wanita.


Yuki sedikit terkejut, anehnya saat ia mengingat kembali bayangan-bayangan dan suara yang menggema di dalam kepalanya ia tidak merasakan sakit lagi, tidak seperti saat ia mengingat memori tentang Hotaru waktu itu.


Kenapa bisa seperti ini?, batin Yuki mencoba mengingat dan berpikir.


Aku juga ingin tahu. Tulis Yuki padahal ia sudah menemukan jawabannya.


"Mau minum?." Tanya Mizutani, mengalihkan pembicaraan.


Tidak.


Kamu dapat dari mana pil itu?.


Mizutani membalas tatapan Yuki.


"Dari doktermu yang dulu, pil itu ada di dalam surat yang kamu berikan." Jawab Mizutani.


Apa ada orang lain yang melihatku di sekolah?.


"Tidak, hanya Kudo kun. Dia laki-laki yang tidak banyak membicarakan orang lain." Yuki paham, Mizutani sedang memberitahunya bahwa Kudo tidak akan bercerita apa yang terjadi dengannya siang tadi.


Aku telah mengotori atap, apa yang akan terjadi?.


Dia tidak melihat ke tiga orang itu?, benar, ia langsung menutup matanya saat aku membawanya turun. Syukurlah .., batin Mizutani.


"Aku sudah membersihkannya, kamu tidak perlu khawatir."


"Waktunya makan malam, kamu juga Yuki." Suara Masamune dari ambang pintu.


Wanita itu membawa nampan di tangannya, Mizutani segera berdiri memberikan ruang untuk Masamune.


Aku sudah makan beberapa jam yang lalu Masa san. Protes Yuki.


"Kamu harus banyak makan agar cepat sembuh, aku membawa bubur, hanya separuh dari yang tadi." Masamune yang melihat Yuki sedang mencoret bukunya segera berbicara kembali.


"Lihat, kantung darahmu sudah tinggal setengah. Apa kamu mau berubah jadi vampir?." Yuki tertawa dalam hati.


Itu terdengar menarik. Tulis Yuki.


Mizutani merasa lebih tenang melihat interaksi kedua perempuan itu.


"Biar aku bantu." Ucap cepat Mizutani yang melihat Masamune berusaha menambah bantal untuk Yuki.


"Terima kasih." Kata Masamune kembali mendekatkan dirinya kepada Yuki.


"Sekarang pelan-pelan buka mulutmu."


Yuki berusaha membuka mulutnya dan lagi-lagi darah segar keluar dari bibirnya, Masamune terkejut, tangannya berusaha meraih tisu, Mizutani dengan cepat menyodorkan kotak tisu membantu Masamune.


"Maafkan aku, seharusnya bibirmu di basahi dulu agar lebih mudah di buka." Ucap Masamune, wajahnya terlihat menyesal.


Dia tidak boleh melihatku saat penyakit menyebalkan itu kambuh lagi, batin Yuki.


Mizutani memberikan gelas kepada Masamune lalu meminta tisu dari tangan wanita itu. Masamune mulai meneteskan air di atas bibir Yuki sedangkan Mizutani dengan sigap mengelap air yang menetes turun dari bibir Yuki.


Perih, tentu saja. Tapi pemandangan di hadapannya membuat rasa sakit itu menghilang. Yuki tertawa getir di dalam hati dan pikirannya. Mizutani dan Masamune terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang mengkhawatirkan anaknya.


Yuki sudah tujuh belas tahun tapi hatinya masih saja merasa sensitif dengan pemandangan yang berbau orang tua.


Ugh, jangan bercada. Tidak akan aku biarkan kamu keluar, batin Yuki menahan panas di matanya karena perasaan yang mulai bercampur aduk di dalam sana.


"Sudah, coba buka mulutmu lagi." Yuki mulai membuka mulutnya.


"Pelan-pelan. Jangan dipaksa." Sergah cepat Masamune menatap lekat-lekat bibir Yuki. Yuki tersenyum dalam hati.


Perlahan bibirnya terbuka, tapi kulit bawah bibirnya menempel di kulit bagian atas bibir.


"Berhenti." Kata Mizutani. Ia lalu mengambil tisu baru, menggulungnya kecil lalu membasahinya.


"Jangan bergerak dulu." Ucap Mizutani menaruh tangannya di sisi kanan tubuh Yuki mencondongkan tubuhnya ke bawah.


Mizutani sangat fokus melepas kulit yang menempel.


Yuki melirik Masamune mereka saling menatap, Yuki menaikan satu alisnya yang di balas Masamune dengan kedua alisnya yang terangkat. Untuk hal ini kedua perempuan itu memiliki pemikiran yang sama. Mereka tidak menyangka sikap tegas dan tubuh yang terlihat garang itu, Mizutani memiliki sikap yang lembut.


"Sudah." Ucap Mizutani menjauhkan tubuhnya.


Masamune segera menyuapi Yuki seperti tadi, berusaha agar tidak menyentuh bibir bawahnya.


Hening.


Hanya ada suara sendok yang beradu dengan mangkuk bubur.


"Oh iya, Mizutani san." Panggil Masamune.


"Hm?."


"Kenapa tidak ada obat untuk Yuki?, maksudku, selain obat oles untuk bibirnya." Mizutani hendak menjawab tapi Yuki lebih dulu mengangkat bukunya.


Aku tidak perlu obat, aku hanya butuh darah dan tidur.


"Hahaha." Masamune tertawa membaca tulisan Yuki. Mizutani ikut tersenyum.


"Vampir tidak perlu tidur Yuki." Balas Masamune.


Hahaha mungkin aku vampir satu-satunya yang butuh tidur.


"Bisa saja kamu, aku dan Mizutani san turun sebentar. Kasihan dia sepertinya langsung ke sini setelah latihan, kalau ada apa-apa telepon saja."


Yuki memberikan ponsel Masamune kembali ke pemiliknya lalu ia melirik ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Apa kamu mau mengambil ponselmu?." Tanya Masamune, Yuki memberikan tanda ok.


"Aku letakan di dekat buku." Masamune meletakan ponsel Yuki di dekat buku.


"Kami turun dulu." Pamit Masamune berjalan keluar kamar bersama Mizutani.


Di dapur Masamune dan Mizutani menikmati makan malamnya, tidak ada yang bertanya maupun bicara. Masamune tentu saja sangat penasaran ingin bertanya semua tentang Yuki kepada Mizutani tapi ia sadar dia hanyalah orang yang dibayar untuk bekerja di rumah itu. Lagi pula Masamune juga baru mengenal Mizutani selama satu bulan saat mereka bertiga tinggal di rumah itu, mereka tidak dekat.


Ting Tong!.


"Biar aku yang membukanya." Ucap cepat Masamune, Mizutani kembali menikmati makan malamnya.


"Selamat malam Masamune san." Suara laki-laki terdengar dari pintu depan.


"Selamat malam, ayo masuk."


Mizutani menoleh mendapati Hajime dan adiknya membungkuk kepadanya.


"Kalian sudah makan?." Tanya Mizutani.


"Kami baru saja makan tadi." Jawab Hajime.


Mizutani memberikan gestur untuk duduk kepada Hajime dan Keiji. Masamune yang paham segera berdiri dari kursi di depan Mizutani, memberikan mereka ruang.


"Lanjutkan makanmu Masamune san." Kata Mizutani seraya menarik kursi di sampingnya. Masamune dengan tenang duduk di sebelah Mizutani begitu juga dengan kakak beradik itu menarik kursi di depan Mizutani.


"Mau menjenguk Yuki?." Tanya Mizutani tanpa basa basi.


"Ya, pelatih." Jawab Hajime. Mizutani kembali memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


"Aku tidak tahu apakah dia mau di jenguk, melihat keadaannya yang sekarang." Mizutani pikir banyak perempuan yang tidak mau memperlihatkan lukanya, mungkin Yuki juga sama dengan perempuan-perempuan itu.


Keiji tanpa sadar menelan salivanya dengan kasar.


"Aku akan menanyakannya." Lanjut Mizutani. Keiji bernafas lega, ia kira Mizutani akan melarang mereka menjenguk Yuki.


Mizutani mengetik dengan cepat di layar ponselnya.


"Sambil menunggu, ayo minum dulu." Entah sejak kapan Masamune meninggalkan kursinya, wanita itu menyuguhkan coklat hangat kepada Hajime dan Keiji.


"Kalau boleh tahu Hachibara san sakit apa Masamune san?." Tanya Keiji. Masamune tersenyum.


"Kalian lebih baik tanya sendiri kepada Yuki." Jawab Masamune, ia juga ingin menghargai privasi gadis itu.


"Yuki memperbolehkan kalian untuk menjenguknya." Celetuk Mizutani setelah mendapatkan balasan pesan dari Yuki.


"Yuuki." Panggil Mizutani seraya menatap manik laki-laki itu.


"Jangan terkejut dengan keadaannya." Ucap Mizutani lalu menyuruh kakak beradik itu naik ke kamar Yuki.