Futago

Futago
B.D.



Yuki melangkah pelan menciptakan keheningan tanpa suara, berhenti di depan pria tua. Darah mulai menggenang di sekitar pria itu.


Pria tua merasakan kehadiran aura yang menekannya sampai ke dasar, ia tersiksa batin dan fisik. Menyesal, itulah kalimat yang berputar-putar di dalam kepalanya sekarang. Ia mengutuk dan menyumpah-serapahi diri sendiri atas tindakannya yang terlalu sombong berpikir akan bisa melumpuhkan wanita penyusup.


Kenapa bisa jadi seperti ini?, rintih pria tua dalam hati. Ia tak berani sedikit pun menggerakkan bola matanya untuk menatap wanita penyusup, maniknya terkunci di paksa melihat bayangan wanita penyusup itu.


"Kesempatan terakhir." Pria tua pasrah, ia tidak mempunyai keberanian apa pun.


Aku akan mati, batinnya.


"Menurut, atau, melawan?."


Dia bukan orang sembarangan, bodohnya aku, hahaha pria tua bodoh!, batinnya lagi.


"Aku akan memberikan informasi apa pun yang ingin kau dengar." Jawabnya di sela-sela tangis dan ringisan kesakitan.


Bayangan itu bergerak menunduk membuat tubuh pria tua semakin tegang.


Inilah waktunya, ucap pria tua dalam hati bersiap untuk kemungkinan apa pun.


Aneh, karena pria penyusup merasakan sebuah tangan berusaha melepas jas miliknya. Ia tak berani menggerakan bola matanya hanya untuk sekedar melihat apa yang terjadi.


Jasnya sudah terlepas, dan sebuah suara kain yang disayat tertangkap oleh telinganya, sebanyak dua kali. Dan, dingin.


Di kedua lengannya yang tertembak terasa dingin, wanita penyusup sedang merawat lukanya. Menyadari hal itu air mata turun semakin deras. Tidak menyangka, bingung, dan rasa terima kasih bercampur jadi satu.


Rasa sakit di kedua lengannya sedikit mereda, kini wanita penyusup itu sedang merawat kakinya.


Keheningan yang panjang. Sampai wanita penyusup itu meraih tangan pria tua memeriksa denyut nadinya dan meletakan telunjuk yang tertutup sarung tangan di bawah hidung.


Kepala orang tua ini tidak bisa mencerna situasi yang terjadi dengan baik, mungkin jika aku tidak melakukan hal bodoh! seperti tadi, aku sudah pergi dari sini tanpa luka, sesal pria tua.


"Dimana kunci mobil?." Suara Yuki menyadarkan pria tua dari lamunannya.


"Ada di dalam saku jas." Jawab lemah pria tua.


"Pergilah ke basemen dan tunggu saya di mobil, jika anda berusaha kabur. Saya akan melakukan lebih dari ini." Ancam Yuki.


"Aku mengerti."


Pria tua bersusah payah berdiri dan melangkah terseok-seok dengan satu kaki, tangannya tak bisa membantu untuk berpegangan kepada dinding.


Melihat pria tua sudah keluar Yuki beralih menghampiri pelindung tanpa masker, menunduk agar pelindung itu bisa dengan mudah melihatnya. Tangan Yuki melepas kacamata yang dipakai pelindung tanpa masker.


Manik hitam, sipit, dengan t*hi lalat di ujung mata sebelah kanan, itulah yang Yuki lihat.


"Aku akan mengambil kacamata ini, dan racunmu, aku tertarik dengan keduanya." Pelindung itu berusaha melihat wajah dibalik topeng spid*rman, berharap mengetahui siapa gerangan orang itu. Kenapa dia tidak membunuh pria tua setelah dia tembak seperti itu, apa yang telah dia lakukan kepada tubuh mereka, apa motif dan tujuannya?. Sebuah pr besar bagi para pelindung.


"Dengar, aku tidak ada urusan dengan kalian, berhenti mengejar pria tua itu. Berhentilah berburu serigala, apa kalian tidak ingin berburu rubah?."


Apa yang dia katakan sebenarnya?, berhenti? jangan berburu serigala?, apa yang dia tahu tentang dendam besar kami, gerutu pelindung itu dalam hati.


"Kamu pemimpin perburuan ini bukan, jaga rekanmu. Kalian bisa bergerak lagi setelah dua jam dari sekarang." Ujar Yuki menusuk kecil pundak pelindung itu dengan jarum yang membuat anggota tubuh mati rasa seperti yang pernah Yuki lakukan kepada Dazai lalu melepas totokannya.


Yuki beralih ke tiga orang lainnya, melakukan hal yang sama. Sebelum meninggalkan mereka Yuki kembali berkata.


"Kalian sudah bisa menggerakkan kepala dan berbicara lagi. Aku sangat berterima kasih jika kalian langsung pulang setelah ini." Ujar Yuki melangkah menuju basemen.


Setelah kepergian Yuki ke empat pelindung itu saling melempar pandangan dan termenung.


"Fumihiro shishou (Master Fumihiro) pasti akan menghukum kita." Celetuk salah satu dari mereka.


"Kita tidak akan diberikan kepercayaannya lagi, kita gagal dalam tugas." Sambung yang lain.


"Padahal ini tugas pertama kita. Cih menyedihkan!. Siapa wanita spid*rman itu?. Kenapa dia mengganggu kita." Geramnya.


Pemimpin mereka hanya diam sibuk dengan pikirannya sendiri.


***


Yuki keluar dari lift dan langsung berjalan cepat meraih lengan pria tua melingkari lehernya. Pria tua terkejut sampai menghentikan langkahnya.


"Mobil yang mana?." Tanya Yuki.


"A agh, yang putih." Jawabnya.


Hanya ada satu mobil berwarna putih dari banyaknya mobil di sana. Yuki dengan hati-hati membantu pria tua berjalan untunglah mobil putih itu terparkir tidak jauh dari tempat mereka.


"Hati-hati." Ujar Yuki membantu pria tua duduk di kursinya dan memasangkan sabuk pengaman.


Mesin mobil menyala, Yuki dengan lihai mengeluarkan mobil dari basemen meninggalkan mansion jauh di belakang mereka.


"Tentang rahasia di dalam rahasia." Pria tua membuka suara tanpa di tanya lebih dulu. Yuki fokus dengan jalanan berkelok perbukitan.


"Aku hanya mendengarnya sedikit, karena aku pengawal tetua saat itu. Tidak banyak yang aku tahu, tapi setidaknya aku pernah melihat dan mendengar julukannya."


"BD, atau Bloody Death." Yuki menaikan satu alisnya.


Kematian berdarah heh!, ejek Yuki dalam hati lalu berubah geram. Mengingat semua cerita tragedi mengerikan dari Mizutani dan Dazai puluhan tahun yang lalu.


"Tubuh kurus tinggi, aku tidak yakin dengan wajahnya. Tapi satu hal yang menarik perhatianku saat itu." Pria tua menarik nafas panjang sebelum melanjutkannya.


"Tangan kanannya tidak memiliki ibu jari dan jari telunjuk. Mereka dibungkus perban." Yuki terkejut beberapa detik.


"Maaf, hanya itu yang aku tahu." Lirih pria tua.


Hening, hanya terdengar suara ban mobil yang berputar dan suara mesin.


"Jangan takut, saya tidak akan melakukan kesalahan, anda akan aman dari kelompok anda jika anda tidak memberitahu mereka tentang pertemuan kita." Pria tua melirik Yuki dari kursinya.


"Ya, sepertinya kau tahu tentang kami. Kami adalah kelompok besar, pendahulu kami juga menghormati kelompok terdahulu, dan mereka sekarang sedang memburu kami seakan mengingatkan kami bahwa merekalah kelompok tertua, dan menagih pertanggung jawaban atas apa yang kami lakukan kepada mereka dulu." Pria tua itu mengerutkan keningnya.


"Aku terlalu banyak berbicara." Jeda sebentar.


"Kenapa kau tidak menanyakannya di kantorku tadi, kenapa repot-repot membawaku pergi."


Hening.


Pria tua yang tidak mendapatkan jawaban akhirnya mengatakan kesimpulannya sendiri.


"Karena kau tahu siapa empat orang-orang tadi. Jika mereka tahu tentang rahasia ini pun tidak menjamin mereka berhenti menyerang kami." Kata pria tua mengatur nafasnya yang pendek-pendek.


Yuki menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, ia meraih ranselnya yang ia letakkan di jok belakang. Mengambil jarum suntik yang sudah terisi cairan penawar racun.


Pria tua melirik Yuki yang sedang menyuntikkan cairan aneh ke tangannya.


"Apa hidupku akan bertambah satu jam lagi?." Yuki menatap wajah pria tua yang sudah mengeluarkan banyak keringat.


"Tidak, ini akan menyembuhkan anda. Hadiah, karena anda mengatakan yang sebenarnya." Jawab Yuki menangkap sebuah senyuman tipis di wajah pria tua.


"Kenapa tidak membiarkan aku mati?, kenapa kau juga tidak ingin melukai mereka?, kenapa kau menyelamatkanku?." Yuki meletakkan ranselnya kembali ke jok belakang.


"Saya hanya membutuhkan informasi tadi. Sebentar lagi sampai di rumah sakit, saya harap setelah ini anda lebih berhati-hati." Ujar Yuki.


Pria tua tertawa kecil.


"Begitulah agen, harus menyimpan informasi yang dimilikinya serapat mungkin dan mencari informasi sebanyak mungkin." Celetuk pria tua.


Yuki diam tidak menanggapi lagi sampai mobil masuk ke dalam rumah sakit.


Yuki menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk rumah sakit, setelah pria tua keluar dari mobil Yuki segera meninggalkan rumah sakit. Untunglah Yuki sudah mempersiapkan segala kemungkinan sejak sore, meretas diam-diam cctv di setiap jalan yang akan ia lalui, tinggal membiarkan Je yang bekerja untuk menghapus rekaman yang ada dirinya di dalam cctv.


***


"Yuki ..!." Gadis yang terbaring itu menggeliat menarik selimutnya keatas menutupi wajah.


"Yuukii ... Kamu tidak mau berangkat sekolah?. Cepat turun!." Teriakan Masamune membuat Yuki membuka matanya perlahan dan dengan sangat berat hati.


Dengan wajah super kusut dan mata yang setengah menutup Yuki berjalan melewati Masamune masuk ke dalam kamar mandi.


Apa tadi malam kita pulang larut?, apa Yuki terlalu lelah mengurusiku yang mabuk?, batin Masamune menatap pintu kamar mandi.


"Ohayou, Masa san." Sapa Yuki duduk dengan manis di kursinya.


"Ohayou. Ayo cepat makan nanti kamu bisa terlambat." Yuki mengangguk patuh memasukkan sarapan ke dalam mulut, dengan gerakan pelan karena rasa kantuk masih menyerangnya.


"Yuki."


"Hmm?."


"Maaf tadi malam aku merepotkanmu, apa kita pulang larut?." Yuki mengibaskan tangannya di depan wajah.


"Tidak terlalu malam kok. Itu juga tidak merepotkan Masa san, aku jadi mempunyai pengalaman bersama orang mabuk." Yuki mengulas senyum tipis.


"Aku begadang dengan komputerku tadi malam." Lanjut Yuki berbohong.


"Terima kasih untuk tadi malam. Sangat indah." Yuki mengangguk setuju.


"Masa san, apa masih ada stok permen di lemari?." Tanya Yuki.


"Sepertinya masih ada, mau berapa?." Masamune beranjak menuju lemari penyimpanan cemilan.


"Yang banyak."


Yuki berjalan menuju sekolahnya dengan permen lolipop tersemat di antara giginya, berkali-kali ia tidak bisa menahan untuk tidak menguap.


Dia sampai rumah jam empat lebih lalu sibuk mengamati kacamata yang ia ambil dari salah satu pelindung klan sampai jam setengah enam pagi barulah ia tertidur itu pun tak sengaja karena tubuhnya yang membutuhkan istirahat.


Apa lagi kemarin dia juga habis kehilangan cukup banyak darah, badannya masih membutuhkan banyak istirahat.


Hmmm .., aku sudah makan pil tadi pagi, aku lupa tidak membawa sapu tangan lebih banyak, semoga saja memori masa lalu tidak muncul lagi hari ini, batin Yuki.


Teringat saat ia mengamati kacamata milik pelindung klan, memori saat ia menggambar rancangan kacamata berputar di kepalanya.


"Ohayou, tumben ke sekolah makan permen biasanya di rumah." Yuki tidak menoleh ke samping untuk melihat siapa pemilik suara.


"Ung, ngantuk. Mataku ingin tertutup terus. Senpai mau?." Yuki menyodorkan permen kepada Hajime.


"Tumben begadang, apa ada yang menarik?." Hajime menerima permen dari Yuki membuka bungkusnya dan langsung hilang diantara gigi-giginya.


"Ung, hari rabu ada pertandingan kan. Aku ingin ikut ke stadion, sudah berkali-kali aku melewatkannya." Kata Yuki jujur.


"Di saat ada pertandingan kamu selalu absen sekolah." Balas Hajime menatap ke bawah, sorot khawatir terpancar dari manik dan wajah tenangnya. Laki-laki itu tahu, setiap gadis bermata biru itu absen sekolah pastilah karena penyakitnya.


"Ung, manajer yang buruk." Celetuk Yuki menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Hahaha." Hajime tertawa kecil.


Karena berangkat bersama Hajime Yuki mengambil jalan lewat gerbang utama, banyak siswa melihat mereka dan mengira yang tidak-tidak. Ya, salah paham.


Yuki merasa ada sepasang mata menyorot tajam kepadanya, dengan menguap kecil ia melirik ke tempat pemilik mata tersebut.


Hm?, jadi ini alasan dia membullyku, batin Yuki membalas tatapan senior perempuannya yang memakai seragam olahraga pendek memegang pom-pom cheerleaders. Tentu saja lengkap dengan dayang-dayangnya.


Hajime yang merasa Yuki berhenti melirik gadis itu dan ikut melihat apa yang menarik perhatiannya.


"Kamu ingin bergabung dengan mereka?." Yuki menaikkan satu alisnya cepat.


"Aku akan bergerak seperti robot." Balas Yuki.


"Sepertinya menarik. Apa ada orang yang kamu kenal?." Hajime menebak, jarang sekali gadis itu tertarik dengan orang lain.


"Senpai kenal ketua cheerleaders?." Hajime langsung melirik orang yang di maksud. Yang di lirik berpura-pura tidak tahu, tetap fokus dengan latihannya.


"Sakai san, dia satu kelas denganku." Yuki menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?." Tanya Hajime.


"Tidak, hanya saja dia gadis yang cantik." Balas Yuki yang tak sadar orang di sebelahnya tersenyum tipis.


Yuki merasakan ada tatapan lain mengarah kepadanya, ia dengan gerakkan pelan mencari sepasang mata itu. Agh!, Ueno dengan teman-teman klubnya ternyata. Yuki melambai kecil kepada gadis itu, Ueno pun membalas lambaian tangan Yuki.


"Senpai."


"Hm?."


"Tidak ada salahnya mengangkat tangan sedikit." Ujar Yuki. Hajime dengan kalem menuruti gadis itu, ia mengangkat satu tangannya sebatas dada tanpa menggoyang-goyangkannya.


Ueno tersenyum malu-malu yang memperlihatkan betapa manisnya gadis itu.


"Bukankah kamu pernah mengatakan tidak akan mencomblangkan aku lagi." Hajime mengingatkan, mereka mulai berjalan lagi.


"Ung, apa memintamu menyapanya juga termasuk mencomblangkan?." Tanya Yuki.


"Sedikit." Jawab Hajime.


Mereka sudah masuk dan menuju loker sepatu masing-masing, menggantinya dengan uwabaki (jenis sandal Jepang yang dipakai di dalam ruangan di rumah, sekolah atau perusahaan tertentu dan bangunan umum, tempat sepatu jalan dilarang dipakai di dalamnya.)


Karena masih mengantuk Yuki menempelkan kepalanya sebentar di pintu lokernya.


"Lanjut tidur di kelas saja." Yuki membuka mata melirik Hajime yang sudah berdiri di sampingnya.


"Senpai, kenapa klub cheerleaders dan klub musik berlatih di luar?." Tanya Yuki yang tidak mengindahkan ucapan laki-laki itu.


"Untuk mendukung klub baseball di stadion nanti." Yuki membuka lokernya dan disambut setumpuk surat seperti biasa. Hajime terkejut dengan ekspresi gadis itu.


Untuk pertama kalinya Hajime melihat Yuki merajuk, dengan bibir tertutup rapat dan kedua alis yang mengkerut, membuat pipinya menggembung sedikit.


"Lihat, ini bukan kotak pos. Kenapa mereka tidak hemat uang saja, sepertinya ayah mereka presiden pabrik kertas." Gerutu Yuki memasukkan semua surat ke dalam tasnya. Hajime menahan senyum.


"Karena kurang tidur kamu jadi aneh seperti ini, Yuki?." Gadis itu menutup loker dan berjalan menuju anak tangga.


"Ung, sepertinya aku jadi sensitif."


Padahal kalau ada tamu setiap bulan ia tidak pernah uring-uringan atau pun sensitif. Dulu ia juga sering tidak tidur, mungkin karena fisik dan otak Yuki sedang kelelahan.


"Sampai nanti." Lirih Hajime melanjutkan menaiki anak tangga ke atas.


"Ung." Jawab Yuki berbelok di lorong.


Mungkin karena minggu ujian sudah usai anak-anak seperti terbebas dari beban, terlihat dari ramainya kelas. Yuki menundukkan kepalanya menghindari sebuah penghapus melayang, ia juga mundur saat siswi perempuan sedang bermain kejar-kejaran.


Yuki berhenti di depan kelas sebentar, menatap pemandangan janggal dari teman cerewetnya yang tiba-tiba jadi pendiam.


Bahkan setelah Yuki berdiri di depan gadis itu Natsume masih tidak menyadarinya. Yuki mendekatkan jarinya ke kening Natsume.


Tuk.


"Argh!." Jerit kecil Natsume, karena memang Yuki hanya menyentil kecil dahi Natsume.


"Apa masalahmu pagi-pag." Suaranya yang kesal terhenti setelah melihat Yuki.


"Yu chan ..!." Protes Natsume.


Yuki tidak menjawab tapi mengulurkan tangannya yang tergenggam. Natsume dengan polosnya mengulurkan tangannya menengadah.


Puk.


Sebuah lolipop jatuh ke tangan Natsume.


"Masih pagi, jangan pasang wajah horor seperti itu Hazuki." Natsume terkejut menengadah untuk melihat Yuki tapi, kosong, tidak ada. Ia langsung menoleh ke samping mendapati gadis bermanik biru sudah meletakkan kepalanya di atas meja.


"Sudah pagi jangan pasang wajah tidurmu Yu chan." Balas Natsume, Yuki hanya mengedikkan bahu acuh.


"Ne Yu chan, kalau nanti nilaiku tertinggi di kelas apa kamu mau mengabulkan satu permintaanku?." Tanya Natsume dengan suara riangnya.


"Hm." Gumam Yuki.


"Yes!." Suara tawa gembira gadis itu tertangkap oleh telinga Yuki.


Jika kamu yang tertinggi Hazuki, batin Yuki.