
Yuki dan Tora sedang melakukan pemanasan sebagai pasangan battery, setelah di rasa cukup gadis itu bersama pemain yang lain berlari menghampiri Tora berkumpul mengerubungi pemuda itu.
"Manajer, aku tidak yakin lemparanku tidak akan terpukul oleh monster seperti mereka." Tora melirik barisan pemukul tim inti yang sudah berotasi ke awal, laki-laki itu bergidik ngeri.
"Itu memang rencananya." Jawab Yuki.
"Eh?."
"Tidak masalah seberapa kalipun mereka memukul, tim kita jadi bisa berlatih pertahanan bukan." Ujar Yuki menyemangati.
"Benar juga, tapi jika mereka membalikan keadaan?. Bukan tidak mungkin monster-monster pemukul itu tidak menghabisi kita." Celetuk yang lain.
"Sebenarnya, aku tidak akan membiarkan mereka merebut lebih dari lima poin dari kita." Yuki menatap Tora.
"Begini, kita akan mengeluarkan Hirogane kun, setelah itu membiarkan Haruno kun masuk base mencetak angka saat Kawazune Ryou san memukul. Selanjutnya pemukul ke empat sang kapten, sudah dipastikan dia akan mendapat home run, dua poin tambahan untuk mereka. Bukankah jalan pertandingan akan terlihat seperti berpihak kepada mereka?." Yang lain mengangguk serempak dan langsung di jawab gelengan kepala oleh Yuki.
"Tidak, itulah rencananya. Pemukul ke lima Kudo kun, aku ingin mengeluarkannya di saat ia akan berlari ke base ke tiga. Setelah itu Nakashima kun, dia juga pemukul yang baik jadi jangan biarkan dia melambungkan bola, paksa dia untuk memukul bola rendah, bukankah itu keahlianmu Tora san, dan keahlian penjaga kita." Kalimat Yuki membuat para pemain bertambah bersemangat.
"Ayo kita tunjukkan hasil latihan tim B selama ini." Yang lain bersorak semangat menjawab ucapan Yuki.
"Hampir saja lupa, penjaga base dua. Siapkan dirimu, jangan sampai lengah." Yuki tersenyum seraya mengepalkan tangan ke depan dan di ikuti pemain yang lain.
Diam-diam Yuki tertawa dalam hati, apa yang mereka lakukan seperti seorang remaja pada umumnya. Agh!, gadis itu lupa kalau dirinya memanglah seorang remaja.
Yuki berbalik berlari ke tempatnya, semua pemain memposisikan diri masing-masing.
"Play!." Seru Mizutani.
Benar saja Yuki tidak meminta lemparan sulit kepada Tora, membiarkan Hirogane masuk begitu saja ke base pertama. Haruno menunduk sopan sebentar, kebiasaan pemuda itu setelah memasuki kotak pemukul.
Manik Yuki tidak perlu melirik ke base pertama untuk melihat gerak-gerik Hirogane karena mata elangnya bekerja dengan sangat baik.
Yuki bersiap dengan kuda-kudanya meminta lemparan lurus cepat ke luar dari zona strike yang tipis. Tora paham dengan tujuan manajer sekaligus catchernya. Sekuat tenaga Tora memberikan lemparan lurusnya meski tidak secepat Nakashima namun lemparan itu buah dari usahanya selama ini.
Woooossshhh.
Tap. Tap. Tap.
Grep!.
Sret!.
Yuki menangkapnya lalu secepat kilat melempar bola itu tepat ke sarung tangan penjaga base kedua yang sudah menunggu bola darinya. Tora terkejut dengan bola peluru yang melayang diatas kepalanya, telat satu detik ia menghindar sudah dipastikan bola itu mendarat di wajahnya.
Apa itu tadi?, batin Hirogane yang terhenti di samping base ke dua.
"Out!." Ucap penjaga base seraya tersenyum lebar.
Hirogane menoleh cepat ke arah si pelempar bola, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa, namun gadis itu tersenyum sambil mengangkat telunjukk ke atas. Di susul teriakan dari tim AB.
"One outo! (One out!)."
"One outo!."
"One outo!."
Hirogane masih tidak percaya dirinya bisa dikalahkan saat mencuri base, keahliannya di patahkan oleh seorang manajer, perempuan?!.
"Strike!." Seru Mizutani sedikit telat.
Haruno sempat mengayunkan pemukulnya, membuat pemuda itu terkena strike.
Yuki meminta Tora melempar bola menukiknya tepat ke zona strike. Sesuai dugaan Haruno dapat memukul bola Tora.
Ryou berjalan masuk ke dalam kotak pemukul seraya tertawa menatap Yuki.
"Manajer, apa lenganmu tidak apa-apa?. Tadi itu seperti peluru, bahkan mataku ini tidak bisa melihatnya. Bagaimana bisa penjaga base itu menangkap lemparanmu?." Ucap Ryou penuh kekaguman.
"Dia memang pemain yang patut di perhitungkan." Balas Yuki.
Ryou bersiap begitu juga dengan Yuki.
"Walaupun aku masih kesal karena tidak bisa memukul lemparanmu, aku akan membalasnya sekarang." Ujar Ryou.
Yuki meminta lemparan ke sudut dalam, memojokkan Ryou, tapi pemain tim inti memanglah sesuai julukkan mereka, monster pemukul. Ryou dengan mudah memukul lemparan Tora setelah berhasil dipojokkan.
Kini giliran sang kapten berjalan kalem memasuki kotak pemukul.
"Kamu dan Kudo jika di satukan memang menyeramkan Yuki." Yuki tersenyum kecil.
"Terima kasih." Balas gadis itu.
"Karenanya, kalian tidak boleh di pasangkan lagi." Yuki terkikik geli mendengar kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu.
"Silahkan, home run anda tuan." Ledek Yuki.
Meskipun gadis itu mengatakannya seakan Tora akan memberikan bola mudah nyatanya tidak, Yuki meminta lemparan tersulit yang dimiliki Tora, ia tidak mau menghancurkan harga diri dan kebanggan seorang pitcher yang berdiri diatas gundukan.
Tang!.
Home run pertama dari tim inti. Yuki berlari ke Tora mengingatkan laki-laki itu agar tidak terlalu memikirkan lemparannya tadi. Hajimelah yang aneh karena bisa memukul bola sesulit itu.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kudo diberikan empat ball (lemparan keluar dari zona strike) dengan sengaja oleh Yuki membuat tim lawan kebingungan. Kudo berlari santai ke base pertama, ia seperti mendapat tiket gratis dari dua pasangan battery itu. Selanjutnya Nakashima bersiap, laki-laki itu terpojokkan oleh Yuki dan Tora, ia dipaksa memukul bola rendah milik Tora. Sampai titik ini rencana mereka berjalan lancar. Kudo berada di base kedua dan Nakashima berada di base pertama. Pemukul ketujuh bersiap di tempat.
Yuki sedikit mempermainkan pemukul ke tujuh seakan-akan ia sedang merencanakan sesuatu, namun tim inti tetaplah tim inti, para pemain yang terpilih dari banyaknya pemain bertalenta. Pemukul ke tujuh dapat memukul bola rendah Tora.
Tang!.
Yuki tersenyum membuka masker (penutup muka) seraya berdiri.
Double play!, seru Yuki dalam hati.
(Double play adalah mematikan 2 pemain lawan sekaligus).
Penjaga infielder menangkap bola yang memantul ke tanah lalu melemparkannya ke penjaga base ke tiga dilanjutkan ke base ke dua.
"Three out!. Game set!." Seru Mizutani.
Para pemain tim AB bersorak sorai senang, Yuki berjalan pelan menuju tengah lapangan dimana para pemain sedang mengerubungi pitcher.
"Kalian sangat keren. Lemparanmu yang terbaik Tora san." Ucap Yuki, tidak ada salahnya sesekali memuji mereka, menambahkan kepercayaan diri para pemain yang tidak terpilih masuk ke tim inti.
"Manajer saaann!." Seru mereka menatap Yuki, gadis itu mengerjapkan mata melangkah mundur. Di tatap seperti itu oleh para pemain berbadan besar dan tinggi-tinggi membuat Yuki sedikit risi.
"Tsukiatte kudasai!. (Jadilah pacarku!.)."
"Tsukiatte kudasai!. (Jadilah pacarku!.)."
"Boku to tsukiatte kudasai!. (Tolong jadilah pacarku!.)."
"Suki desu!. (Aku menyukaimu!.)."
"Suki desu!. (Aku menyukaimu!.)."
"Daisuki desu!. (Aku sangat menyukaimu!.)."
"Kimi no koto suki desu!, manajer san!. (Aku menyukai semua tentangmu!, manajer!.)."
"Kekkon shite kudasaaaiii !!. (Menikahlah dengankuuu !!.)."
Ke delapan pemain membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Yuki. Dikeroyok pernyataan cinta seperti itu membuat tubuh Yuki membeku. Sedangkan diluar lapangan para pemain inti dan pemain yang tidak ikut bermain ketar-ketir takut salah satu teman mereka di terima oleh sang dewi.
"Aku bukan perempuan yang baik, aku juga orang yang keras kepala, aku tidak bisa menjamin kalian bisa bahagia jika denganku. Maaf." Jawab Yuki tenang.
Mereka menegakkan tubuh menatap gadis bermanik biru dalam-dalam. Yuki tersenyum kecil.
"Berusahalah masuk ke tim inti dan bermain di pertandingan resmi." Lanjut Yuki berniat untuk mengurangi rasa kecewa mereka.
"Ya, terima kasih manajer!." Seru mereka serempak. Yuki mengangguk kecil dan berjalan ke bangku cadangan.
"Manajer!, bolehkah kami tahu alasan manajer menolak kami semua?." Seru salah satu pemain.
"Apa manajer sudah memiliki orang yang di sukai?!."
Yuki menoleh memberikan senyum simpul.
"Apa artinya itu?." Celetuk salah satu dari mereka.
"Tidak tahu."
"Aku tidak bisa membaca ekspresinya ..!." Jerit frustasi Tora.
"Aku tidak menyesal telah mengungkapkan perasaanku."
"Aku juga, lega rasanya. Ya .., meski sangat kecewa."
"Sudahlah ayo kembali, kita menang loh dari tim inti dan mendapatkan pujian manajer."
"Tumben kamu bicara benar."
"Sialan."
Sesuai yang di janjikan Yuki menemui Honda di dekat lapangan baseball. Honda memakai seragam olah raga seperti yang Yuki minta. Yuki memberikan ikat rambut kepada Honda meminta gadis itu mengikat rambut panjangnya.
"Kita mau ngapain Hachibara san?." Tanya Honda.
"Lari, bersama mereka." Yuki menunjuk barisan anak klub baseball di belakangnya dengan ibu jari.
"Eh?!." Honda bergerak gelisah di tempatnya.
"Aku ingin tahu apakah kamu benar-benar melakukan semua daftar yang aku kirimkan, salah satunya olah raga. Ayo." Yuki menarik tangan Honda tanpa menunggu persetujuan gadis itu.
Yuki dan Honda berlari di belakang barisan para pemain selama beberapa putaran lalu mereka beristirahat sebentar. Yuki mengajak Honda pergi ke kelas yang sepi mendudukan gadis itu di kursi sedangkan Yuki berdiri di belakang gadis itu memegang sebuah gunting.
Kres!.
Kres!.
Kres!.
Honda tidak pernah protes apa pun yang Yuki katakan, gadis itu selalu menurut dan bersyukur masih ada orang yang peduli kepada gadis menyedihkan sepertinya yang selalu dianggap aib sekolah.
"Selesai." Ucap Yuki berjalan ke depan mengamati hasil karyanya.
"Aku sudah tahu kalau Honda san memiliki wajah yang sangat cantik." Tambah Yuki mengangguk puas.
"Terima kasih." Balas Honda wajahnya bersemu merah.
"Mulai dari sekarang jangan sembunyikan wajah cantikmu lagi. Hari senin nanti kembalilah jadi dirimu sendiri sebelum bertemu dengan teman-teman siluman itu, mengerti?." Honda tertawa lepas mendengar teman-temannya yang dulu di sebut sebagai siluman.
"Ung, terima kasih banyak Hachibara san." Yuki tersenyum lembut.
"Ayo kita pulang."
***
"Eh?!, Keiji dan Hajime mau mengajak Yuki ke festival kembang api ya?." Masamune mempersilahkan kakak beradik itu masuk ke dalam rumah.
"Aku sudah mengajaknya tapi di tolak, coba kamu yang bicara dengannya Keiji." Pinta Masamune.
"Hai, Hachibara san ada dimana?." Tanya Keiji.
"Di kamar, sebentar lagi dia juga turun. Kalian duduk dulu." Kakak beradik itu duduk di sofa depan tv.
Duk. Duk. Duk. Duk.
Suara langkah kaki menuruni tangga, Masamune menutup mulutnya menatap takjub penampilan Yuki.
"Besok aku tidak pulang Masa san, aku juga makan malam di luar." Jelas Yuki membenarkan tali tasnya di pundak.
"Kencan?." Yuki menoleh ke samping menghampiri Keiji dengan senyum menggoda.
"Ung, mau ikut?." Tanya Yuki jarinya bermain di pipi Keiji.
"Tidak akan." Jawab ketus anak itu, Yuki menangkup gemas kedua pipi Keiji mendongakkan kepala anak itu agar menatap dirinya.
"Heee ... Lihat, siapa yang sedang merajuk ini ..." Keiji cemberut, aroma manis lembut menenangkan menyeruak ke dalam indera penciumannya.
Gadis bermanik biru itu memang selalu wangi meskipun berkeringat sekali pun tapi wanginya saat ini lebih kuat, itu menurut Keiji. Apalagi gadis itu juga berdandan, semakin terlihat cantik bak model papan atas.
"Mau aku bawakan oleh-oleh pulang kencan?." Ledek Yuki semakin gencar menggoda Keiji.
"Tidak perlu. Tapi mungkin aniki (kakak) ingin mendengar penjelasanmu." Yuki menaikan satu alis melirik Hajime di samping Keiji.
"Senpai ingin mendengar penjelasanku?." Tanya Yuki jarinya kini berputar-putar di pipi Keiji.
"Kami ke sini ingin mengajakmu pergi ke festival kembang api, tapi sepertinya kamu sedang sibuk." Jelas Hajime tenang tidak menjawab pertanyaan Yuki, laki-laki itu tetap kalem-kalem saja namun siapa yang tahu apa yang hatinya rasakan.
"Maaf, aku ada janji dengan Mi chan." Tolak Yuki.
"Sampai tidak pulang?." Yuki terkejut dengan Keiji yang langsung menyerobotnya.
"Hmmm .., ya ampun lucu banget sih kamu. Ikut saja makannya yuk." Ajak Yuki tangannya semakin bergerilya di pipi Keiji.
"Akwu twidak iwngin mwenggwanggu kawlian." Yuki tertawa geli mendengar kalimat Keiji yang berantakan.
Grep.
Kedua tangan Yuki menangkup pipi Keiji mengunci pandangan pemuda itu dengan matanya, ingatan dengan anak-anak panti berputar di kepala Yuki memunculkan rasa rindu di dada gadis itu.
Cup.
Yuki mengecup singkat kening Keiji lalu menatap kembali manik itu.
"Aku akan menginap di rumah sakit untuk pengecekkan." Ucap Yuki tangannya naik ke atas mengacak-acak rambut pendek Keiji.
"Aku ingin punya adik tiri." Celetuk Yuki yang mendapatkan pelototan dari Masamune dan Keiji.
"Hahahaha ..." Tawa Hajime pecah, ia menutup sebelah wajahnya dengan tangan.
Ting. Tong.
"I itu pasti Mizutani san." Masamune segera membukakan pintu.
"Aku tidak akan merestui ibuku dengan ayahmu Hachibara san." Gerutu Keiji.
"Heh?, kenapa?."
"Tidak akan pernah." Keiji menekan setiap kata.
"Kalau begitu aku akan cari wanita lain. Mungkin, Masa san?."
"Ada apa dengan Masamune san?." Yuki menoleh melihat Mizutani dengan pakaian kasualnya.
"Meminta ayah untuk menikahi Masa san, aku ingin punya adik tiri." Kata Yuki polos tanpa beban. Mizutani menggeleng pelan dengan ide aneh gadis itu.
"Kenapa tidak minta ibumu saja untuk hamil lagi." Ketus Keiji. Mizutani kaget menatap pemuda adik dari anak didiknya itu.
"Tidak mungkin, mereka harus menikah dulu." Jawab Yuki enteng.
"Eh?." Tentu saja ibu Dila, lanjut Yuki dalam hati.
Mereka makan malam di sebuah restoran, membicarakan tentang sebuah potongan ingatan yang mengganggu Yuki.
Setelah selesai makan malam mereka pergi ke rumah sakit. Yuki mengecek keadaan tubuhnya, Dazai menyuntikkan sebuah vitamin kepada Yuki karena tubuh gadis itu terlihat kurang fit dengan banyaknya kegiatan dan otak gadis itu yang terus bekerja keras, kurang istirahat.
Yuki meninggalkan Dazai dan Mizutani di kantor sedangkan ia mengurung diri di laboratorium.
"Apa yang sedang Yuki ciptakan lagi?." Tanya Mizutani.
"Aku tidak tahu, dia melarangku masuk."
"Tsubaki."
"Hm?."
"Kamu benar-benar mengizinkan Ojou chan masuk ke bengkel kakek Ryuu?." Dazai memperhatikan wajah Mizutani.
"Ya, kalau tidak, mungkin Yuki akan menyusul bayangan lain yang sedang bertugas." Jelas Mizutani.
"Apa kamu tidak curiga Ojou chan bergerak diam-diam di belakang kita?." Wajah Dazai sangat serius.
"Kita awasi saja dulu, jangan lupa fakta Ojou san yang mencari dan merebut waka (tuan muda) dari mereka."
"Kamu benar."
***
Minggu, 10 : 00.
Gadis bermanik hitam itu berjalan keluar lab menuju sebuah ruangan.
Ceklek.
"Aku kira anda akan sampai sore di dalam sana." Yuki membuka snelli (jas putih dokter) menggantungkannya di pojok ruangan.
"Ada bahan-bahan yang ingin aku beli, apa kamu bisa mencarikannya untukku?." Tanya Yuki memakan buah dan roti yang Dazai berikan.
"Apa yang ingin anda beli?."
Yuki mengambil memo dan bolpoin menuliskan daftar bahan-bahan yang ia perlukan. Tangan kanannya masih setia memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Ini." Yuki memberikan memo kepada Dazai.
"Coba saya lihat." Dazai membaca daftar yang cukup panjang itu.
"Semuanya?!." Dazai tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ung, jangan sampai ada yang tertinggal."
"Tapi bahan-bahan ini cukup sulit di cari."
"Jika tidak bisa, biarkan aku pergi ke korea selama dua hari." Dazai menunduk, ia berpikir.
"Anda tidak di perbolehkan meninggalkan jepang barang sebentar. Saya akan berusaha mencarinya, kapan bahan-bahan ini diperlukan?." Yuki menengguk air putih di dalam gelas.
"Hari ini."
"Ojou chan, tidak bisa secepat itu mendapatkannya." Yuki menghabiskan roti dan buahnya.
"Kabari aku jika kamu sudah mendapatkan bahan-bahan itu, kalau bisa secepatnya." Pinta Yuki.
"Baik."
"Apa anda mau langsung pulang?." Tanya Dazai. Hari ini adalah jadwal laki-laki itu libur.
"Tidak, tolong antarkan aku ke bengkel kakek Ryuu, Dazai."
"Baik, ojou chan."
Kedua orang itu pergi menuju markas rahasia pelindung bayangan. Melewati beberapa prosedur yang hanya bisa para bayangan lewati. Tibalah Yuki di dalam bengkel kakek Ryuu.
Markas yang sepi membuat Yuki bergerak leluasa tanpa khawatir dengan pemilik markas.
"Kamu bisa istirahat di sini, aku akan masuk, dan. Jangan ganggu aku." Ucap Yuki memperingati Dazai.
"Siap, ojou chan." Balas Dazai merebahkan tubuh di atas sofa besar.
Yuki memasuki bengkel menguncinya dari dalam. Gadis itu langsung bergerak cepat, mencari bahan-bahan yang di perlukan.
Lupa makan lupa minum dan lupa waktu, itulah yang selalu Yuki alami ketika sudah berkutat dengan hobinya. Dazai memasang wajah sangat khawatir ketika Yuki keluar, menarik nafas panjang kala melihat nona mudanya baik-baik saja.
"Aku pikir anda terluka karena ledakan eksperimen atau semacamnya." Ujar Dazai.
"Jam berapa sekarang?." Yuki meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Sebelas malam."
"Eh?!."
"Anda ingin makan dulu atau langsung pulang?."
"Boleh makan di dalam mobil saja?, jarak dari sini ke rumah sangat jauh." Yuki meminta izin.
"Tentu ojou chan, mari."
***
Yuki menenggelamkan dirinya di dalam bathup, maniknya terbuka lebar menatap langit-langit kamar mandi dari dalam air. Pikirannya, kembali mengurai satu persatu hasil pemecahan racun gas yang menguras otaknya tanpa ampun. Untunglah Yuki pernah tinggal di rumah sakit tempat Jun Ho bekerja jadilah ia dapat belajar dan bertanya banyak tentang racun dan penyakit-penyakit yang lain, gadis itu juga mengembangkan keahliannya dalam bidang kedokteran.
Bagaimana Hotaru bisa membuat racun seperti itu?, bagaimana kamu melakukannya?, formula itu sangat diluar kepala, tanya Yuki dalam hati.
Bahkan ketika ia sudah memecahkan rahasia racun gas, tidak akan mudah membuat penawarnya. Ia juga harus menyelesaikan membuat benda-benda yang di butuhkan sebelum awal musim dingin. Selain itu keberadaan BD masih belum diketahui, cctv-cctv itu tidak ada kemajuan. Haruskah Yuki bergerak lebih jauh?. Tidak.
Ia tidak bisa melakukannya meskipun sangat ingin. Posisinya sangat sulit untuk bergerak bebas, atau ia akan menyeret para bayangan, dan lebih parahnya lagi keberadaan dirinya akan terungkap, Yuki sadar para bayangan selalu menjaga identitas dirinya, membuat Yuki membaur dengan masyarakat biasa, Yuki tidak ingin merusak rencana mereka. Daren dan Lusi juga memutus koneksi dengannya, pasti karena suatu alasan yang memaksa mereka melakukannya. Tidak mungkin bagi Daren yang selalu menelphon Yuki setiap empat jam sekali tiba-tiba memutuskan tidak menghubunginya sama sekali kecuali keadaan yang memaksanya.
Ayah over protektif itu, batin Yuki.
Apa yang bisa aku lakukan saat ini?, kecuali bersabar, lanjut Yuki dalam hati.
Yuki mengangkat kepalanya meraup udara banyak-banyak dan kembali menenggelamkan diri, menutup mata.
Kini pikirannya beralih ke potongan-potongan ingatan yang masuk kembali ke dalam kepalanya, menyusun, memasangkan, menjahitnya menjadi satu.
Masih banyak bagian kosong yang perlu di isi untuk menjadi sebuah ingatan yang utuh. Inilah jawaban keanehan yang selama ini Yuki rasakan, ia merasa ada sebuah kekosongan besar di dalam dirinya, seperti berjalan di taman hiburan, sendiri, tersesat di dalam ingatan kosong tak berujung. Sering kali membuat gadis itu frustasi dan stress, kehampaan pekat membuat dadanya sesak, tidak mudah untuk sekedar bernafas, ia terbelenggu oleh ingatan yang memaksanya untuk mengingat ingatan itu, semakin menekannya tidak peduli jika gadis itu kesakitan dan berdarah-darah.
"Eva."
Yuki langsung membuka matanya, bergerak duduk dengan cepat.
"Je, kamu mengagetkanku." Ucap Yuki menyisir rambutnya ke belakang.
"Kamu suka di panggil yang mana?. Eva?, Yuki?." Yuki mendorong Je dengan ujung jarinya.
"Mentang-mentang sudah di berikan dua program namaku kamu bertingkah seperti ini Je." Je kembali terbang mendekat ke wajah Yuki.
"Eva?, Yuki?." Ulang Je.
Aduh, jika kamu bukan robot sudah aku cubit pipimu Je, batin Yuki gemas. Ia beranjak keluar dari bathup.
"Yuki. Aku adalah Hachibara Yuki." Ucap Yuki menatap pantulan dirinya di cermin.
Ya!, aku adalah Hachibara dari klanku, batin Yuki menatap lekat-lekat manik biru di cermin.
***
Seragam olahraga pendek musim panas, ikat kepala warna merah kuning hijau, dan sepatu olahraga. Yuki dan semua siswa di kumpulkan di lapangan, kepala sekolah sma serigala sedang memberikan pidato membuka festival olahraga sekaligus festival budaya.
Panas, keluh Yuki dalam hati.
Perlombaan di mulai, perlombaan siswa laki-laki dan perempuan di pisah. Kelas Yuki masuk final lomba lari estafet, Yuki sudah empat kali mengusap lehernya menyeka keringat yang bercucuran, Natsume terlihat semakin dekat meninggalkan lawannya jauh di belakang.
Hap.
Yuki berlari setelah menerima tongkat estafet dari Natsume, gadis itu sedikit mengerutkan keningnya. Ia heran apa tenggorokkan orang-orang di pinggir lapangan tidak sakit sejak dua puluh menit yang lalu terus berteriak-teriak.
Panas!, berisik!, geram Yuki kakinya melewati garis finish.
"Untukmu." Yuki menerima minuman kesukaannya.
"Terima kasih." Yuki menengguk minumannya hingga tersisa setengah.
"Bagaimana penampilanmu hari ini?." Tanya Yuki seraya berjalan ke arah teman-teman kelasnya.
"Banyak yang tidak mengenaliku, tapi anak-anak di kelas memuji hasil karyamu ini." Jelas Honda. Yuki tertawa kecil.
"Tidak, itu karena kamu memang sudah cantik dari sananya." Sanggah Yuki.
"Apa mereka membullymu lagi setelah perubahan penampilan?." Imbuh Yuki.
"Tidak, atau belum." Mereka sudah dekat dengan Natsume cs.
"Jangan terlalu jauh dari Ueno san atau Hazuki."
Dua hari telah berlalu perlombaan antar kelas masih berlangsung. Dari segala jenis perlombaan, perlombaan raja dan ratulah yang menjadi topik panas seantero sekolah, yang menimbulkan topik panas itu tidak lain dan tidak bukan adalah Honda. Gadis suram, menyedihkan, tiba-tiba berubah menjadi primadona baru di sekolah dan di elu-elukan kaum adam.
Tubuh semampai, bulu mata tebal dan panjang, garis alis yang tegas, hidung kecil yang mancung, bibir tipis, membuat mata sulit berpaling dari pesonanya.
Hari-hari panas Yuki lewati, sore harinya Yuki mengajarkan Honda dan Yoshihara wakil ketua basket, berlatih dansa berpasangan untuk perlombaan akhir raja dan ratu. Sore ini pun sama, Yuki menculik Natsume dari latihan klub band membawa gadis itu ke atap sekolah dimana Honda dan Yoshihara sudah menunggu.
"Yu chan, ini tidak adil. Kamu juga harus membantuku." Keluh Natsume, mereka membuka pintu atap.
"Hm, besok." Jawab Yuki enteng, berjalan menghampiri dua sejoli yang berdiri berjauhan.
"Besok pagi." Tegas Natsume.
"Hai hai (Ya ya)."
"Hachibara san, Natsune san." Panggil Honda ceria.
"Kalian kaku sekali, tidak sedang marahan kan?." Tanya Natsume.
"Tidak." Honda menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Hazuki kemarilah, kita langsung mulai saja." Ujar Yuki yang ingin segera pulang dan pergi ke rumah sakit.
"Ung." Natsume menghampiri Yuki.
"Yoshihara san, pertama-tama kamu pegang tangan Honda san seperti ini." Yuki mempraktekkannya, memegang tangan Natsume dengan sopan bak seorang bangsawan.
"Lalu tanganmu yang lain sedikit ditekuk ke belakang."
Yoshihara mencoba mengikuti, Honda bergerak gelisah.
"Honda san." Tegur Yuki.
"Maaf." Ucap gadis itu segera menguasai dirinya kembali.
"Terus kalian berjalan pelan ke tengah."
Yuki membisikkan sesuatu kepada Natsume menyuruh gadis itu berjalan sesuai keinginannya. Kedua pasangan raja dan ratu mengikuti apa yang mereka lihat.
"Kamu harus menyesuaikan langkah Honda san, jangan kerutkan dahimu. Honda san, tersenyumlah jangan tegang, lakukan seperti biasa. Dan angkat sedikit dagu kalian." Ujar Yuki memberikan arahan.
"Berdiri saling berhadapan, sang raja memberikan hormatnya lebih dulu." Yuki mempraktekkan lagi di ikuti Yoshihara.
"Sang ratu," Yuki belum selesai mengatakannya Natsume dengan senyum lebar membungkuk bak seorang putri kerajaan.
"Hahaha, ya seperti itu Honda san." Ucap Yuki menutup mulutnya. Pelajaran dansa terus berlanjut hingga jam enam sore.
Hari terakhir perlombaan dan besok adalah penghujung acara. Yuki sedang memperhatikan peserta lain melakukan tembakkan busur mereka. Ini pertama kalinya Yuki mencoba Kyudo (Kyudo adalah salah satu seni bela diri yang kurang dikenal di Jepang. Dipraktekan oleh siswa dan guru, kyudo telah dikembangkan oleh prajurit samurai dan biksu zen selama berabad-abad, menghasilkan seni keindahan, keterampilan, dan fokus. Kyudo sekarang dipraktekkan di seluruh dunia dan dianggap sebagai jalan menuju ketenangan spiritual, kebenaran, dan keindahan.).
Ia sangat menikmati suara desingan anak panah yang meluncur membelah angin dan suara anak panah yang menancap di bantalan target. Ada seseorang yang menarik perhatian Yuki, orang itu sangat tenang bagaikan air yang tak bergerak, suara panahnya sangat indah bagaikan harmoni suara alam liar.
Giliran barisan Yuki, gadis itu berjalan sopan seperti yang lain, olah raga Kyudo adalah olahraga yang penuh akan unsur tradisi jepang.
Swiiiinngg ... Tak!.
Swiiiinngg ... Tak!.
Aku baru tahu ada tempat seperti ini di sekolah. Agh, andai aku tahu lebih awal, mungkin aku akan masuk klub Kyudo, batin Yuki.
"Hachibara Yuki, kelas 2-1." Panitia lomba memanggilnya.
Yuki membungkuk sebelum berdiri memposisikan tubuhnya, mengangkat busur tinggi-tinggi menarik panah perlahan, ia membayangkan orang yang telah menarik perhatiannya. Ketenangan, deru nafas teratur, mata yang fokus ke sasaran.
Shhuuuttt.
Swiiiinngg ...
Tak!.
Yuki kembali ke tempatnya, gadis itu tidak puas dengan hasil yang ia peroleh.
Yuki lolos ke babak selanjutnya, lagi-lagi ia tidak puas dengan hasilnya. Suara panah milik gadis itu tidak sesuai dengan keinginan pemiliknya.
"Juara pertama di menangkan oleh Ishida Rey, kelas 1-1. Juara dua Hachibara Yuki, kelas 2-1. Juara ke tiga," Panitia mengumumkan juara perlombaan.
Manik biru itu berjalan kesal menghampiri Hajime yang menonton pertandingan Kyudo sejak tadi.
"Kenapa?." Tanya pemuda itu.
"Minum." Jawab Yuki sepenggal, Hajime tersenyum tipis seraya memberikan kaleng minuman rasa lemon kepada Yuki.
"Kesal karena juara dua?." Hajime menatap manik biru Yuki yang bergerak menatapnya.
"Tidak, ak" Pelatih Kyudo menghampiri mereka dengan seseorang yang menarik perhatian gadis itu.
"Maaf mengganggu sebentar, kamu mau bergabung dengan klub kami Hachibara san?." Yuki ingin tapi Mizutani pasti melarangnya.
"Kamu tidak puas dengan hasil yang kamu peroleh bukan. Senpai?." Yuki melirik pemuda berkulit putih pucat seperti dirinya.
"Menurutmu begitu?." Balas Yuki.
"Kamu meniru gayaku, tentu saja aku tahu." Yuki menarik sedikit salah satu sudut bibirnya.
"Waaah, aku ketahuan. Maaf, ini pertama kalinya untukku, dan gayamu memanah menarik perhatianku." Ucap Yuki jujur.
"Pertama kali?!." Pelatih Kyudo menatap Yuki tak percaya.
"Mau bergabung denga" Pemuda bernama Rey itu menyela pelatihnya.
"Suara panahmu terdengar sangat sedih, mereka menangis."
Hajime menatap Yuki, gadis itu tidak menaikan satu alisnya, apa Yuki membenarkan argumen anak kelas satu itu?, pikir Hajime.
"Kamu tidak puas karena itu." Yuki menatap lurus manik Rey.
"Kamu memiliki pendengaran yang tajam rupanya." Rey mengangguk kecil.
"Terima kasih telah memberi tahuku. Sensei, maaf saya tidak bisa bergabung." Tolak Yuki membungkuk sopan sebentar lalu menarik lengan Hajime pergi.