Futago

Futago
Panggilan Darurat.



Yuki perlahan membuka mata saat Fumio menarik wajahnya menjauh. Mereka terdiam cukup lama. Lalu, Fumio lebih dulu membuka suara.


"Boleh aku menciummu?." Yuki menahan keinginannya untuk tertawa.


Menggeleng seperti anak kecil. Dan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri, Yuki mengulang dialog mereka saat berusia lima tahun. Satu hari sebelum penyerangan mengerikan itu.


"Tidak boleh. Masih kecil. Saat usia kita enam belas tahun nanti kamu baru boleh melakukannya." Jawab Yuki yang langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Hahaha ... " Fumio tertawa lirih meraih Yuki ke dalam pelukkannya. Membiarkan gadis itu bersembunyi di sana.


"Berhenti menertawakanku." Geram Yuki suaranya teredam di dada Fumio.


"Gomen (Maaf). Yuu, aku sangat senang." Fumio perlahan mengeratkan pelukkannya.


"Hmmm ..." Yuki melingkarkan lengannya ke belakang tubuh Fumio.


Gadis itu mengernyitkan dahi kala merasakan betapa lebarnya tubuh Fumio. Ia mengkerut serasa sangat kecil di dalam rengkuhan lengan Fumio.


Yuki mencium bau kayu alami yang memiliki karakteristik unik, aromanya tidak menyengat atau berlebihan, fresh dan alami membuatnya merasa relax. Wajah Yuki tiba-tiba terasa panas. Yuki menyukai aroma itu.


"Yuu."


"Hm?."


"Makan malam kita bagaimana?." Yuki mengerjapkan maniknya beberapa kali.


"Nanti." Jawab Yuki enggan untuk melepaskan Fumio. Ada sesuatu yang menggelitik ujung lidahnya.


Kak Dimas, maafkan aku, batin Yuki.


Hazuki, terima kasih, lanjut gadis itu dalam hati.


Yuki sontak menarik baju Fumio kala merasakan dirinya melayang. Ia menjauhkan wajahnya melirik ke bawah.


"Aku sudah lapar. Ayo kita ke dapur." Yuki segera memberontak sebelum Fumio mulai berjalan.


"Aku mengerti, turunkan aku." Pintanya dengan wajah yang memerah.


Bukannya di turunkan tubuh Yuki malah terangkat lebih tinggi membuat gadis itu beralih memegang pundak Fumio.


"Apa yang kamu." Yuki terdiam saat menoleh dan mendapati wajah Fumio sangat dekat dengannya.


Blush!.


Yuki menelan salivanya kasar mengingat hal GILA yang telah ia lakukan. Fumio menggesekkan hidung mereka lalu menjauh seraya tersenyum jail. Yuki yang sudah kepalang merah padam dan jantung sudah berdisko lebih heboh dari Dj segera memukul pundak Fumio.


"Hahahaha ..." Fumio tertawa lirih menurunkan Yuki dengan hati-hati.


"Sejak kapan kamu berubah jail seperti ini." Rutuk Yuki berdiri membelakangi pemuda itu.


"Aku belajar darimu." Yuki mendorong Fumio yang hendak memeluknya dari belakang.


Fumio yang terkejut terdiam di tempat.


"Yuu, kamu marah?." Yuki langsung membalikan badannya dan.


Cup!.


Wuuuusshhh ...


Fumio yang terdiam semakin membeku di tempat. Ia mengedipkan matanya sekali, menatap punggung Yuki yang berjalan sangat cepat sambil menghentak-hentakkan kaki. Seketika itu Fumio tersadar dan tertawa sangat lirih menegakkan tubuhnya. Ia menyentuh bibirnya dengan jari.


"Aku harus lebih waspada." Gumam Fumio berjalan dengan tenang mengikuti Yuki.


Sedangkan gadis pemilik mata biru itu terus saja merutuki dirinya. Memberikan sumpah serapah kepada diri sendiri.


Aku pasti sudah gila. Ini bukan diriku. Jangan-jangan aku benar-benar memiliki kepribadian ganda?!. Bisa jadi!. Itu mungkin terjadi!. Yang tadi bukanlah diriku. Bukan!. Sudah pasti BUKAN!!!, batinnya terus ribut di dalam sana.


"Nek, ayo. Mereka sudah pergi." Hotaru menuntun Lusi kembali ke ruang makan. Karena kekhawatiran Lusi wanita itu memaksa menyusul Fumio.


"Nenek lega Yuki mau terbuka kembali kepada Fumio kun." Hotaru tersenyum.


"Ung." Manik Hotaru melirik ke belakang menatap punggung ramping adiknya.


Satu hal yang Hotaru dapatkan dari melihat kejadian tadi. Alasan kenapa ia tidak pernah merasakan sakit di jantung dan paru-parunya. Yuki menahan dan menelan bulat-bulat semua perasaan menyakitkan yang di rasakan oleh gadis itu agar air matanya tidak menetes keluar. Bahkan memukuli dadanya hingga seperti itu.


Manik coklat terang Hotaru berkilat di terpa lampu unik lorong. Menyimpan tekad kuat tanpa ada siapa pun yang tahu.


***


Di dalam kamar, Yuki terbaring, berguling, lalu akhirnya menendang kuat selimutnya.


Aku pasti sudah gila ...!!!, serunya dalam hati.


Ingatan saat ia makan malam berdua dengan Fumio terputar kembali. Tidak ada yang istimewa. Mereka makan biasa seperti pada umumnya. Tidak banyak bicara. Dan sangat singkat. Namun perhatian Fumio terus terarah kepadanya.


Yuki harus berobat besok. Benar, besok pagi sebelum pergi ke sekolah Yuki harus mampir ke ruang kesehatan. Sekolah?. Yuki mengulang kata-kata itu beberapa kali sampai menemukan sesuatu yang terlupakan olehnya.


"Je!." Seru Yuki. Ia segera melompat dari atas ranjang.


"Yuki, aku di sini." Je melayang di depan wajah gadis itu.


"Kirimkan pesan kepada para bayangan. Siapa saja yang berada di markas inti?." Titah Yuki.


"Baik. Di konfirmasi." Je mengeluarkan layar hologramnya melaksanakan perintah gadis itu.


Sedangkan Yuki kembali ke ruang ganti mengganti pakaian tidur tipisnya dengan pakaian lebih sopan. Ia langsung berlari ke meja belajar, menarik kasar kursinya dan duduk di sana.


"Hanya ada kakek Ryuu." Je memberikan jawaban.


"Katakan pada mereka. Jika ada yang bisa datang ke sana malam ini juga suruh mereka datang." Wajah yang tadinya bersemu merah dan cerah itu berubah serius dalam sepersekian detik.


"Di konfirmasi."


Jari-jarinya segera menari sangat cepat di atas keyboard komputer. Maniknya menyorot tajam, tidak meloloskan satu huruf bahkan satu titik sekali pun.


"Setengah dari mereka bergerak ke markas." Yuki menganggukkan kepala mendengar laporan Je.


Lima belas menit berkutat dengan kedua komputernya Yuki tiba-tiba mendorong kasar kursi seraya berdiri.


Brak!!.


Sret!.


Yuki membuka kantung baju miliknya.


"Je. Masuk." Burung hantu itu langsung meluncur dan bersembunyi di sana.


Sret!.


Yuki membuka kasar pintu kamar. Ia melirik kedua pelayannya yang belum kembali ke kamar mereka.


"Aku akan tidur di pandora. Kalian bisa istirahat sekarang." Ucap Yuki langsung berlari menuju bangunan tinggi bertingkat-tingkat itu.


Sial!, geram Yuki dalam hati.


Selama ini ia dan Hotaru sedang berdiri di atas pedang tajam. Menunggu sang pemilik pedang itu menggores mereka. Kenapa ia tidak sejak lama bergerak lebih cepat. Yuki sudah membuang-buang waktu berharganya di dalam kediaman utama.


Sial!, sial!, rutuk Yuki dalam hati.


Ia langsung masuk ke dalam pandora. Menatap penuh selidik wajah profesor yang saat itu juga tidak sengaja menoleh ke arah pintu dengan buku-buku di tangan keriputnya. Yuki segera membungkuk lalu berjalan masuk ke dalam lift.


Lift bergerak stabil menuju lantai teratas.


Ting!.


Lift terbuka. Para pelindung di sana segera membungkuk kepada gadis itu. Yuki tersenyum kecil menjaga langkahnya agar tetap anggun. Ia berhenti di salah satu pintu membuka kunci.


Klik!.


Yuki segera masuk dan menutup pintu kembali.


"Buset!. Ketok pintu dulu mbak." Agung yang memegang piring berisi nasi goreng terlonjak kaget.


"Kamu sudah menyiapkan komputernya?." Tanya Yuki. Agung menunjuk komputer yang lebih besar di samping komputer kecil miliknya dengan dagu.


"Tuh. Kenapa sih buru-buru banget." Ujar Agung meletakan nasi gorengnya di meja pantry.


Yuki melirik komputer baru yang ia minta kepada Agung, dan Agung memintanya kepada Lusi.


"Ayo kerja." Sret!.


Yuki menarik tangan kiri Agung membuat pria itu yang sudah menyendok nasi goreng meletakan sendoknya di atas piring.


"Buset. Kalem mbak, kalem." Yuki menarik kursi untuk Agung.


"Makannya nanti lagi, sekarang masuk ke jaringan Russia." Agung membuka mulut lebar-lebar mendengar permintaan gila Yuki.


"Eddaan ... (Gillaaa) ... Itu nggak gampang. Kamu juga paham itu." Protes Agung.


Puk.


Yuki memegang kedua pundak Agung lalu menekannya ke bawah.


Bruk!.


Agung terduduk dengan tidak ekstetik.


"Pleash, jangan bawel." Ucap Yuki segera menarik kursi tambahan di sana.


"Urgen banget ya?." Agung menyalakan komputernya yang baru ia matikan beberapa menit yang lalu.


"Ung." Jawab Yuki mengambil bolpoin di samping tangan Agung sambil menunggu komputernya menyala ia menggelung rambutnya yang terasa mengganggu. Menggunakan bolpoin sebagai penyangganya.


"Seberapa urgen?." Agung sudah bersiap dengan komputernya.


"Hidup dan mati." Jawab Yuki singkat.


Mendengar itu Agung berubah serius. Yuki menarik kursinya semakin mendekati meja. Dua hacker itu segera saja tenggelam ke dalam dunia penuh kode-kode rumit.


Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak.


Suara jari-jari mereka.


"Butuh empat jam menerobos keamanan canggih mereka." Kata Agung.


"Lakukan saja. Yang terpenting jangan sampai mereka mendeteksi jaringanmu." Jawab Yuki.


Gadis itu sedang mengikuti jaringan lain. Setelah villa hancur dan menjadi bulan-bulanan para agen sebuah sinyal kecil menyala diam-diam, merambat melebur dengan sinyal di sekitarnya, namun tiba-tiba muncul lagi di suatu tempat.


Yuki yang sudah melacak kemana perginya para agen sebelum menemui Agung mendapati mereka pun sedang kebingungan mencari jejak selanjutnya. Dan beberapa agen melapor kepada negara masing-masing tentang keberhasilan kecil mereka.


Dua jam berlalu. Yuki menajamkan matanya. Mengejar sinyal klan naga putih.


Bip. Bip. Bip.


Yuki menghentikan kegiatannya.


Agung menggebrak meja membuat Yuki menatapnya kesal.


"Sorry, aku memutusnya di tengah jalan. Mereka menyadariku." Keluh Agung.


"Apa mereka sempat melacakmu?." Agung menggelengkan kepalanya.


"Aku mencopy caramu membuat jaringan palsu. Setelah ini mereka akan mencurigai salah satu negara asal agen-agen itu." Jawab Agung.


"Jahat." Komentar Yuki.


"Eits, tenang. Meski mereka mencurigai negara itu tetap saja mereka tidak akan menemukan bukti." Agung membela diri.


"Itu sudah cukup. Jangan mencoba meretas mereka lagi." Agung melirik Yuki kesal.


"Tidak akan. Jangan menyuruhku lagi." Agung merinding mengingat apa yang telah ia lakukan.


"Kalian sedang main petak umpet dengan negara-negara maju itu?. Apa tidak ada lawan bermain yang lain?." Imbuh Agung. Yuki mematikan komputernya.


"Musuh seluruh negara. Penjahat internasional. Aku sedang memburu mereka. Segitu, bisa paham?." Yuki beranjak berdiri menatap barang-barang Agung.


"Aku keren berarti. Bisa ikut andil untuk kebenaran dunia. Hahaha. Keren kan." Agung menatap Yuki yang terlihat aneh.


"Jangan mati." Celetuk Agung membuat Yuki terkejut.


"Hm ...?." Yuki mengangkat satu alisnya.


"Wajahmu sangat tegang. Apa ada yang bisa aku bantu lagi?." Yuki tersenyum kecil setelah di ingatkan seperti itu oleh orang asing.


"Kamu punya sepatu roda?, atau apa pun yang bisa menggelinding dengan cepat?." Agung berdiri mendekati lemari, merogoh ke sela-sela antara dinding dan lemari itu.


"Skateboard." Ucap Agung mengeluarkan benda itu. Yuki menganggukkan kepalanya.


"Aku pinjam." Agung segera memberikan skateboardnya kepada Yuki.


"Terima kasih. Mulai sekarang jangan meretas apa pun tanpa perintahku. Mengerti?." Tegas Yuki memastikan Agung berjanji sebelum ia pergi dari sana.


Yuki turun tepat ke lantai di bawahnya. Ia segera masuk ke dalam kamarnya di dalam pandora.


Ceklek.


Yuki mengunci semuanya dari dalam. Kakinya mendekati perapian di dalam kamar itu. Dengan kode dan cara yang sudah ia pelajari dari Daren.


Greeekkk ...


Pintu menuju lorong gelap terbuka di belakang kepala ranjang. Yuki segera berlari ke sana dan memakai skateboard Agung untuk lebih cepat sampai.


Lampu-lampu kecil, memiliki sensor itu menggantung di sisi kanan kiri tembok, segera menyala setelah merasakan ada sebuah gerakkan.


Ddeeezzzzz ....


Setelah melewati jarak yang panjang dan menyita waktu, pintu tebal di depan gadis itu berderit terbuka.


Yuki mendorong skateboard Agung, melewati beberapa ruangan dan berhenti di salah satunya. Pintu segera terbuka, ia menginjak ujung skateboard lalu menangkapnya.


"Ojou sama."


Yuki mengedarkan pandangan, melihat siapa saja yang dapat hadir. Kakek Ryuu, Akashi, Hiza, Ogura, Ame, Jojo, dan Chibi. Yuki menyuruh mereka segera duduk.


"Ame san, apa kalian tidak apa-apa langsung datang kemari?." Yuki menarik kursinya yang segera di bantu oleh Akashi.


"Terima kasih." Ucap Yuki meminta pria itu kembali ke kursinya.


"Tidak ada yang lebih penting dari panggilan anda ojou sama." Jawab wanita itu penuh hormat. Yuki tersenyum simpul bersyukur ada Ame di antara bayangan.


"Sekarang sudah jam dua pagi. Aku akan langsung pada intinya." Ucap Yuki masih berdiri, gadis itu tidak berniat untuk duduk.


"Selama ini kita tidak waspada. Sangat. Klan naga putih sudah memasang perangkap untukku dan Hotaru. Sebelumnya, Hiza san apa kamu sudah menceritakan kepada yang lain semua yang terjadi dengan Sawamura san?." Yuki melirik pria itu.


"Ya, kita langsung berbagi informasi setelah mendapatkanya." Yuki melirik Ame sebentar.


"Anak kandungnya berada di tokyo. Satu sekolah denganku. Walaupun Takuya tidak ingin membunuhku tapi aku curiga kalau masih ada mata-mata yang lain." Chibi menatap Yuki, dan gadis itu membiarkannya bertanya.


"Dia tahu indentitas anda?." Yuki menganggukkan kepalanya.


"Dia putra dari salah satu tangan kanan BD. Sempat dilatih untuk membunuhku. Aku bersyukur Takuya membocorkan rahasia besar klan naga putih." Jelas Yuki.


"Masalahnya tidak sampai di situ. Saudara tiri Takuya. Yang berhasil di latih dengan baik oleh ayahnya ternyata."


Ddzzzzzsssstttt ....


Yuki menghentikan kalimatnya segera memutar tubuh ke belakang. Manik biru itu mengerjap beberapa kali.


"Apa saja yang sudah aku lewatkan."


"Ayah?." Yuki membungkuk empat puluh derajat di ikuti oleh para bayangan.


"Bukankah ayah akan pulang dua hari lagi?." Daren berjalan menghampiri Yuki mengusap kepala gadis itu sebentar.


Sret.


Akashi menarik kursi di sebelah kanan gadis itu.


"Silahkan Daren dono." Ucapnya seraya membungkuk kecil.


"Terima kasih Akashi san." Daren menarik tangannya dan duduk dengan tenang, sedangkan Yuki masih menunggu jawaban dari ayahnya.


"Aku tidak sengaja mendengar para bayangan mendapat panggilan darurat darimu. Lanjutkan, kamu tidak punya banyak waktu bukan." Benar, Yuki tidak ada waktu untuk memperpanjang obrolan itu.


"Anak tiri Sawamura san, saudara tiri takuya berada di sekolah yang sama denganku dan Hotaru."


Hening.


Udara tiba-tiba berubah semakin dingin.


"Apa dia sudah berani menyentuh anda?." Desis Ogura.


"Belum." Jawab Yuki.


"Klan naga putih. Mereka memasang perangkap sejak dimulainya semua ini." Yuki membenarkan kakek Ryuu.


"Benar."


"Mereka yakin aku dan Hotaru pasti akan kembali ke sini. Mereka memasang mata-mata yang sulit untuk di sadari lawan dan, mereka berhasil. Aku yang tidak sadar sedang berdiri di depan mulut buaya terlalu sibuk mencari raja buaya. Hanya tinggal menunggu waktu buaya itu memakanku."


"Kita harus segera melenyapkannya." Kata Hiza.


"Ide buruk." Tolak Yuki.


"Ikuti permainan mereka. Biarkan mereka berpikir kalau kita masih mengejar raja buaya. Yang aku curigai, mungkin ada lebih dari satu mata-mata di sekolah. Jika benar, selama ini semua gerak-gerikku dan Hotaru di awasi oleh mereka." Jelas Yuki.


"Benar. Mulai sekarang pergerakkan anda dan waka menjadi terbatas." Lirih Ame.


"Aku akan membicarakannya dengan Hotaru nanti. Selain itu." Yuki membuka sakunya.


"Je." Burung hantu itu melayang keluar.


"Setelah villa berhasil di bekukkan sebuah sinyal aneh tiba-tiba muncul. Seperti sinyal pertanda. Jika salah satu markas mereka hancur, markas yang lain akan mengetahuinya. Je tunjukkan semua markas klan naga putih."


"Di konfirmasi."


Je langsung melakukan tugasnya. Menunjukkan peta dunia, dengan puluhan titik berwarna hijau.


"Itu markas?. Sebanyak itu?." Gumam Jojo.


"Ya, masalahnya sinyal yang aku maksud tidak berhenti di salah satu markas yang ada di sini." Yuki menunjuk satu tempat di dekat titik hijau.


"Di dekat sini adalah lautan. Aku yakin mereka memiliki markas di bawah laut. Sulit untuk melacak lebih jauh jika aku tidak pergi ke sana." Daren menatap putrinya.


Ide gila apa lagi yang akan putrinya lakukan, pikir Daren.


"Markas tersembunyi yang sangat di rahasiakan pastilah markas penting." Yuki membenarkan pernyataan Chibi.


"Jika kita tidak segera bergerak kita akan kecolongan lagi. Dan aku tidak mau itu terjadi." Tegas Yuki.


"Biarkan kami yang mencarinya ke sana." Jojo membuka suara.


"Begini, masih ada yang lain." Semua orang menatap Yuki.


"Klan naga putih merencanakan peledakan pabrik minyak di amerika. Salah satu dari mereka pasti sempat memberitahu markas lain tentang para agen."


"Itu bukan urusan kita ojou sama." Celetuk Chibi.


"Kamu benar Chibi san, tapi kita membutuhkan para agen-agen itu untuk membantu kita. Jika pabrik minyak ini meledak dengan penyebab yang ganjil, aku tebak agen FBI akan di kerahkan. Apa menurutmu tidak akan berpengaruh dengan tiga agen khusus yang mencari BD?. Tentu saja ada. Dengan penyebab yang sangat ganjil dan bukti-bukti palsu yang sengaja di arahkan ke klan naga putih, menurutmu apa tujuan klan naga putih?." Kepala Yuki berputar mencari kalimat yang lebih mudah untuk di jelaskan.


"Mengalihkan perhatian FBI." Yuki melirik Daren.


"Tepat. Seperti aku yang memberikan sinyal palsu klan naga putih untuk membuat mereka bergerak sesuai dengan keinginanku, lalu menggiring mereka ke villa." Yuki menghela nafas sejenak.


"Aku tidak ingin fokus agen FBI teralihkan dari kebusukan BD. Bagaimana bisa, yang menghancurkan pabrik juga klan naga putih itu sendiri?. Jika ada yang berpikiran seperti itu jawabannya salah besar. Jika rencana mereka berhasil, agen FBI akan berpikir BD sudah mulai berani menyerang negara mereka secara terang-terangan. Dan fokus mereka beralih kepada pertahanan negara. Agen yang mencari BD akan di pertanyakan." Jelas Yuki.


"Kita hanya sepuluh. Kita membutuhkan lebih banyak sekutu. Tanpa identitas kita di ketahui oleh orang luar." Ucap Yuki lebih lembut.


"Para pelindung akan bergerak ke afrika. Menyerang markas klan naga putih yang berada di sana. Aku ingin menghancurkan mereka perlahan, secara diam-diam. Lalu aku ingin separuh dari kalian mengatasi pabrik minyak di amerika. Separuhnya lagi dari papua, indonesia." Yuki melirik Daren.


"Katakan." Ucap Daren tanpa kehilangan kharismanya.


"Aku ingin ayah segera bertemu dengan petinggi Russia." Yuki menggigit bibirnya memutar otak.


Siapa yang akan melindungi ayah di sana?. Semua orang sudah di berikan tugas. Aku dan Hotaru tidak mungkin banyak bolos sekolah itu akan menimbulkan kecurigaan pada mata-mata klan naga putih, batin Yuki.


"Bagaimana dengan ibumu?." Kalimat yang tidak pernah terbayangkan oleh Yuki keluar dari bibir Daren.


"Ayah!." Suara gadis itu sangat rendah penuh keterkejutan.


"Semua orang sudah tahu kemampuan ibumu. Dia pemimpin klan. Mewarisi setiap." Yuki menyerobot cepat menghentikan Daren.


"Tidak."


"Yuki."


Daren tahu keterbatasan putrinya. Daren juga tahu kelembutan hati putrinya. Yuki pasti tidak akan mengirimkan orang yang menurutnya tidak akan mampu melawan anggota klan naga putih. Yuki akan meminimalisir luka yang akan di derita oleh klan.


"Tidak iblis itu ayah." Yuki menekankan setiap kalimatnya.


"Yuki." Tegur Daren. Gadis itu membuang wajahnya.


"Aku akan meminta Tsuttsun dan Dai chan untuk menemani ayah." Yuki memberikan keputusan.


"Maaf, apa kalian tidak masalah dengan tugas yang tersisa?." Tanya Yuki khawatir. Artinya ia membagi dua kelompok berisi tiga dan empat anggota.


"Kami adalah pelindung khusus ojou sama. Yang anda lihat di london hanya segelintir kemampuan kami." Jawab kakek Ryuu memercik api para bayangan yang lain.


"Baik. Tolong kembali hidup-hidup." Ucap Yuki membungkukkan badan.