Futago

Futago
Kolam Renang.



"Kenapa kita boleh masuk, kan belum beli tiket?." Natsume melirik penjaga di pintu depan kolam renang.


"Sepertinya hanya ada kita pengunjung di sini." Ueno menyapu seluruh tempat wisata itu. Natsume dan yang lainnya pun melakukan hal yang sama.


Sepi.


Hanya ada mereka bersembilan dan beberapa staff kolam renang. Hajime dan Keiji sudah tidak kaget lagi, mereka berjalan menuju ruang ganti.


"Apa kita datang terlalu cepat?." Tanya Hirogane kepada Kudo, mereka mengikuti sang kapten menuju ruang ganti.


"Sepertinya tidak." Jawab Kudo.


"Apa mungkin Chizuru sialan itu yang melakukan ini khusus untuk Hachibara san?." Kudo mengibas-ngibaskan tangannya.


"Tidak tidak, itu tidak mungkin."


"Benar, itu mustahil."


Yuki mendorong pelan punggung Natsume dan Ueno masuk ke dalam ruang ganti.


"Sudah jangan di pikirkan, lebih baik kalian ganti dan bersenang-senang. Aku mau cari cemilan dulu." Ujar Yuki berlalu meninggalkan mereka.


"Dasar Yu chan, ke sini malah cari cemilan." Gerutu Natsume.


"Hahaha tapi perutnya bisa tetap sekecil itu, aku iri." Ueno tanpa sadar memegang perutnya sendiri.


"Udah, ayo ganti." Natsume menarik tangan Ueno.


Di lain sisi Yuki sedang menunggu es krim coklat vanillanya. Setelah mendapatkan es krim ia berhenti untuk membeli coklat dan es lemon.


Setelah apa yang ia inginkan sudah dibeli Yuki berjalan kembali ke tempat yang sempat Mizutani duduki. Kursi single panjang di dekat kolam.


Yuki melihat anak-anak baseball sudah menceburkan diri ke dalam kolam, Natsume dan Ueno masih belum terlihat, perempuan memang membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap.


"Maaf aku mengajakmu ke kolam renang. Aku dengar dari Ueno kalau kamu trauma dengan kolam renang." Chizuru sudah duduk di depan Yuki memamerkan tubuhnya tanpa kaos yang hanya memakai celana pendek.


Yuki mengalihkan pandangannya ke arah es krim yang sedang ia nikmati.


"Tidak apa-apa, kamu kan tidak tahu. Mau?." Yuki menyodorkan es krimnya kepada Chizuru.


"Boleh?." Tanya Chizuru menahan senyum di wajahnya.


"Tentu."


Chizuru hendak menerima es krim yang di ulurkan kepadanya namun sebuah tangan tak di inginkan menarik tangan Yuki menjauhkan es krim dari laki-laki itu. Chizuru menatap tidak suka pengganggu yang berdiri di dekat Yuki.


"Chizuru bisa beli es krim bersamaku nanti, kamu makan saja itu." Ucap Hirogane membalas tatapan Chizuru tak kalah sengit.


"Mau berlomba siapa yang paling cepat?." Tantang Hirogane.


Chizuru menyeringai lebar menerima tantangan Hirogane.


"Haha, apa kau pikir bisa menang dariku?." Chizuru berdiri menatap tajam Hirogane.


"Kita lihat saja." Balas Hirogane berjalan ke ujung kolam renang.


"Hachibara san, aku tinggal dulu sebentar." Pamit Chizuru seraya memberikan senyuman khasnya.


Yuki mengangguk kecil kembali menikmati es krim, tangannya yang lain sibuk memainkan ponsel, bertukar pesan dengan Jun Ho.


Jun Ho si.


Kamu sudah tahu alasan kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam memorimu lebih jauh, katamu?.


Me.


Ya, selain itu. Bagaimana keadaan anak-anak panti, apa mereka bersekolah dengan benar?.


Jun Ho si.


Ya, sepertinya tahun ini sudah ada yang lulus dan menerima tawaranmu untuk kuliah di aussie.


Me.


Syukurlah.


Jun Ho si.


Aku tahu kamu sangat kaya gadis nakal, tapi apa ini tidak berlebihan?. Uangmu bisa kamu gunakan untuk yang lainnya.


Me.


Aku tidak perlu apa pun, apa kamu pikir aku membantu mereka cuma-cuma?. Jangan bercanda.


Jun Ho si.


Yak. Apa yang kamu rencanakan gadis nakal?.


Me.


Setelah mereka selesai kuliah, mereka harus masuk ke dalam perusahaanku sebagai gantinya.


Jun Ho si.


Apa mereka bekerja tanpa di bayar?.


Me.


Jun Ho si, kamu sudah gila?. Tentu saja aku memberikan hak mereka.


Jun Ho si.


Ck. Itu sama saja!, kamu memberikan sekolah gratis, makan gratis, dan lapangan pekerjaan. Apa yang kamu dapat?. Aku benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiranmu. Kamu tahu berapa banyak yang kamu keluarkan untuk anak-anak itu?!.


Me.


Otak mereka, loyalitas mereka, dan aku yakin mereka semua akan menjadi generasi muda yang berdedikasi tinggi dan pekerja keras. Selain itu, mereka malaikat kecil yang harus di jaga, apa kamu lupa Jun Ho si?. Aku bisa melewati hal buruk itu karena bertemu dengan mereka.


Jun Ho si.


Hm, tidak biasanya kamu mengirim pesan panjang seperti ini.


Augustin.


Me.


Ya?.


Jun Ho si.


Berhati-hatilah, aku akan mengunjungimu tahun depan.


Me.


Sepertinya ada yang mau kabur dari pekerjaannya.


Jun Ho si.


Yak!, gadis nakal. Aku ambil cuti milikku.


Me.


Berhenti berteriak Jun Ho si, carilah pendamping hidup agar kamu tidak mudah marah-marah.


"Siapa?, gebetan?, kamu kelihatan serius sekali Yu chan." Yuki mendongak untuk melihat Natsume yang sudah berdiri di hadapannya.


Ya ampuuun, keluh Yuki dalam hati langsung kembali melihat layar ponselnya.


"Teman lama." Jawab Yuki.


"Hmmmm, ne Yu chan. Lihat, bagaimana menurutmu pakaian kami?." Tanya Natsume semangat.


Apanya yang pakaian, itu tidak layak dikatakan sebagai pakaian, gerutu Yuki dalam hati.


Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini tapi apa daya ia harus berjuang keras.


"Ya, cocok dengan kalian." Jawab Yuki agar Natsume dan Ueno cepat pergi.


"Benarkah?." Ucap Ueno terdengar senang.


"Ung."


"Agh, aku ingin sekali melihat Yu chan pakai bik*ni, pasti bagus." Celetuk Natsume menggoda pemilik mata biru itu.


"Uhukk!, uhuk uhuk ... Uhukk!." Yuki tersedak es lemon yang sedang diminumnya.


"Yu chan!."


"Hachibara san!." Jerit mereka berdua.


"Aduh maafkan Natsume chan ya, dia memang nakal sekali." Kata Ueno mengusap-usap punggung Yuki.


Gila!, Hazuki benar-benar gila!, rutuk Yuki dalam hati.


"Yu chan maafkan aku, minum dulu minum dulu." Natsume menyodorkan kembali es lemon Yuki.


"Sudah tidak apa-apa?." Tanya Ueno yang melihat Yuki berhenti batuk.


"Apa kalian tidak ingin bermain wahana di sini?, wahananya kelihatannya cukup banyak." Usir Yuki secara halus.


"Tapi apa kamu sudah tidak apa-apa?." Natsume memastikan.


"Ung."


"Maaf, malah kami yang bersenang-senang, meninggalkanmu sendiri di sini." Ucap Ueno, Yuki tersenyum kecil.


"Tidak masalah, aku juga senang kalau kalian menikmati disini, karena aku yang mengajak kalian." Natsume tersenyum lebar.


"Kami pergi dulu." Pamit Ueno.


"Ung, selamat bersenang-senang."


Ddrrrtt drrrttt ...


Yuki melirik ponselnya. Nama Dazai tertera di sana, Yuki menempelkan ponselnya ke telinga.


"Moshi-moshi (Halo)."


"Ojou chan, baju anda sudah jadi. Aku menitipkannya kepada Masamune san." Lapor Dazai.


"Terima kasih." Yuki melirik teman-temannya yang masih sibuk berenang, bermain bola air.


"Ojou chan, penyerangan di kanagawa sepertinya memberikan dampak besar untuk musuh. Pergerakan mereka terlihat berhati-hati sekarang."


"Hm."


"Apa anda tidak ingin bertanya rencana kami?."


"Tidak." Terdengar suara helaan nafas dari sebrang.


"Aku juga menitipkan kotak p3k yang berisi jarum suntik dan yang lainnya, aku juga menaruh beberapa kantung darah di kulkas untuk berjaga-jaga." Yuki melirik pergelangan tangan kanannya.


"Kamu mengingat kata-kataku rupanya." Lirih Yuki.


"Ya, aku juga setuju dengan Tsubaki. Kemungkinan penyakit anda akan kambuh lagi."


"Dazai."


"Ya ojou chan?."


"Nanti, bisa ceritakan seperti apa aku dulu?."


Ojou chan pasti terganggu dengan perkataan Jojo kemarin, batin Dazai.


"Baik, apa saya perlu menjemput anda?."


"Ung, maaf merepotkanmu lagi."


"Ung."


Yuki mematikan ponselnya mengumpulkan sampah-sampah makanan berjalan untuk membuangnya.


Di kejauhan Yuki melihat bagaimana Natsume, Ueno dan teman-teman yang lain menikmati permainan air. Tingkah mereka membuat Yuki tak sadar menarik sudut-sudut bibirnya. Apalagi pertengkaran Chizuru dengan Hirogane terlihat sangat lucu, wajah mereka yang merah padam, bola mata mereka yang terus-terusan melotot tak jarang Hajime dan Kudo memisahkan mereka berdua.


Yuki berjalan mendekati kolam renang, melangkah di pinggiran kolam. Ia berjongkok di samping Keiji agak ke belakang.


Anak itu sedang duduk di pinggir kolam dengan kaki yang masih berada di dalam air.


"Tidak bergabung?." Tanya Yuki.


"Istirahat." Jawab singkat anak itu.


"Kenapa wajahmu di tekuk?." Keiji tidak menoleh sedikit pun ke belakang.


Apa dia terpaksa ikut?, pikir Yuki.


"Aku kalah lagi dari aniki (kakak)." Yuki menaikan satu alisnya.


"Hm?."


"Dalam berenang aku selalu kalah dari aniki, tapi untuk baseball aku pasti yang akan menang."


"Dasar maniak baseball." Ujar Yuki menyangga dagunya dengan tangan kanan sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat raut wajah kesal Keiji.


"Musim panas ini pasti." Keiji menggantungkan kalimatnya saat menoleh ke belakang mendapati Yuki yang menatapnya.


Glek!.


Imut, batin Keiji.


Kecipak!.


Kecipak!.


"A!." Yuki terkejut, tangan, kaki, dan wajahnya basah karena cipratan air.


"Hazuki!." Seru Yuki menoleh ke arah tersangka sambil menutupi wajahnya, pasalnya Natsume dan Ueno masih mencipratinya dengan air kolam renang.


"Hahaha ... Apa kamu seekor kucing Yu chan!?." Seru Natsume meledek.


"Hachibara san terima ini!." Ueno ikut berteriak.


Yuki hendak berdiri dan menjauh tapi suara Keiji membuat hal yang tak di inginkan terjadi.


"Ahahaha, kamu jadi basah Hachibara san." Ucap Keiji dengan senyum yang mengembang dan mata yang berair.


Hahaha, kamu jadi basah Yuki!.


Suara asing itu tiba-tiba menyerang kepala Yuki tanpa ampun.


Hahaha, kamu jadi basah Yuki!.


Telinganya berdengung keras.


Hahaha, kamu jadi basah Yuki!.


SIAL!, rutuk Yuki dalam hati.


"Kamu tidak apa-apa Hachibara san?." Yuki mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Keiji yang menatapnya khawatir.


"Ung, aku ke toilet sebentar." Ucap Yuki mengangkat tubuhnya hendak berdiri namun ia terjatuh lagi.


"Hachibara san!." Keiji keluar dari dalam air menghadap dan memegang pundak Yuki.


Ada apa?!, seru yang lain dalam hati lalu berenang ke pinggir kolam.


Yuki tersenyum kecil menatap lembut manik Keiji, tangannya mendarat di pipi gembul anak itu mencubitnya dengan gemas.


"Cuman terpeleset, jangan memasang wajah horor seperti itu Keiji kun." Suara lembut seperti biasa saat berbicara dengannya membuat Keiji menarik nafas lega.


"Kamu mengagetkanku Yu chan!." Protes Natsume yang sudah berada di tepi kolam.


"Maaf, tapi jangan harap kamu lolos Hazuki." Ancam Yuki dengan nada datarnya.


"Aku terima tantanganmu." Balas Natsume tersenyum lebar seperti biasanya.


Yuki mengedarkan pandangannya kepada teman-teman yang lain, setelah dirasa mereka percaya dengan ucapannya Yuki beranjak berdiri.


"Mau aku antar?." Keiji menatap Yuki ikut berdiri.


"Aku bukan balita yang perlu diantar Keiji kun." Yuki mencubit sekali lagi pipi Keiji dan berlalu mengambil tasnya yang ia letakan di kursi yang di dudukinya tadi, berjalan menuju toilet.


"Uhuk!." Yuki menutupi mulutnya, melihat noda merah yang sudah ia hafal.


Sabar, sebentar lagi sampai, batin Yuki yang mempertahankan ketenangannya agar tidak ada yang curiga.


"Uhuk!."


Ceklek.


Klik.


Yuki mengunci pintu toilet, segera mencari kotak permen di dalam tas.


Tangannya sering meleset karena ingatan aneh yang berputar dan rasa sakit yang menyerangnya tanpa ampun.


"Sial, uhuk!." Yuki bergegas menuju wastafel menundukkan wajahnya di sana, bajunya tidak boleh kotor terkena darah. Sedangkan tangannya masih sibuk mengaduk-aduk isi tas.


Hahaha, kamu jadi basah Yuki!.


Udaah .., jangan cemberut lagi.


Bruk!.


Tubuhnya terjatuh di lantai, bibirnya mulai ia gigit menahan dengung, nyeri, berat, panas, dan denyutan keras di dalam kepalanya.


Tidak, ku mohon .., batin Yuki. Dan untungnya tangannya menemukan yang di cari, segera Yuki menggigit pil dan mengunyahnya.


Kedua tangannya mencengkeram wastafel berusaha berdiri dan terbatuk lagi. Ia menyalakan kran membiarkan air menghanyutkan darahnya. Sepuluh detik kemudian batuknya terhenti, rasa sakit di kepalanya pun hilang tapi tidak dengan ingatan yang masih berputar.


Yuki melihat empat anak kecil dan satu anak lebih tinggi dari yang lain berdiri agak jauh. Ke empat anak kecil itu terlihat sedang bermain-main di dekat kolam besar dengan jembatan berwarna merah. Wajah mereka semua buram tidak jelas, seperti sebelumnya Yuki hanya bisa melihat jelas latar tempat kejadian.


Yuki!, coba ke sini.


Tidak mau!.


Apa kamu tidak ingin menangkap ikan?.


Tidak Hotaru!.


Yuki yakin dua diantara ke empat anak itu adalah dirinya dan Hotaru, namun wajah buram mereka membuat Yuki sulit untuk melihat yang mana Hotaru dan dirinya.


Ingatan masa kecil heh, ejek Yuki.


Tangannya mulai membasuh sudut-sudut bibir, menghapus jejak darah.


Yuki menatap pantulannya di cermin merapikan kembali rambutnya. Setelah di rasa cukup dan memori itu berhenti berputar Yuki berjalan keluar toilet.


"Hachibara san." Yuki menoleh mencari siapa yang memanggilnya.


"Chizuru kun?." Ace terbaik tingkat sma itu berjalan menghampiri Yuki dengan baju yang ia pakai saat berangkat.


"Sudah selesai berenang?." Tanya Yuki.


"Ung, kamu mau kemana Hachibara san?."


"Mau beli makanan." Chizuru menggaruk belakang kepalanya salah tingkah.


"Mau kesana bareng?." Ucapnya melirik ke samping menghindari manik Yuki.


"Boleh."


Gila!, aku belum pernah gerogi seperti ini dihadapan perempuan, padahal banyak dari mereka yang mencoba mendekatiku. Banyak wanita cantik dan manis di luar sana tapi Hachibara san berbeda, dia terlihat misterius dan sulit di gapai, daya tariknya terlalu besar, batin Chizuru panjang lebar.


"Mau pilih yang mana?." Chizuru menoleh cepat ke arah Yuki.


"Eh!?, o oh kita sudah sampai ya." Manik Chizuru bertemu dengan manik Yuki.


"A aaku, hot dog. Ya aku akan makan itu." Yuki mengangguk lalu melangkah ke stan yang menjual hot dog.


Chizuru sejak kapan kau payah seperti ini, Chizuru merutuki dirinya sendiri dalam hati.


"Apa kamu menikmati hari ini Chizuru kun?." Tanya Yuki, Chizuru memesan makanannya.


"Ung, pergi ke kolam renang saat musim panas adalah yang paling menyenangkan. Kamu tidak pesan?."


Mereka berdiri bersisihan dengan jarak satu meter.


"Walaupun terus bertengkar?. Tidak, aku ingin membeli yang lain." Chizuru tersenyum kaku.


"Yaaah, kau tahu. Diantara kami tidak ada yang mau mengalah, persaingan di dalam lapangan masih terbawa sampai di luar." Jelas Chizuru.


"Kenapa mereka bisa sedendam itu?." Yuki juga penasaran kenapa Hajime yang kalem dan sabar itu bisa menunjukkan sorot mata seperti kemarin.


"Hm?." Chizuru menoleh sedikit ke arah Yuki lalu menerima pesanannya.


"Karena aku mengalahkan mereka di turnamen musim panas, di final perebutan tiket ke koshien. Selain itu mungkin karena mereka tidak ada yang bisa menyentuh bolaku, Hajime san satu-satunya orang yang bisa memukul bolaku, membuatku kesal." Chizuru menekuk wajahnya ketika mengingat memori itu.


"Ternyata kalian para maniak baseball." Ujar Yuki tersenyum kecil. Chizuru terdiam mengagumi wajah Yuki.


"A ano ... Hachibara san." Yuki mendongak sedikit ke atas, tinggi Chizuru tidak setinggi Hajime, laki-laki itu lebih tinggi beberapa senti dari Yuki.


"Nan desuka? (Ada apa?)." Tanya Yuki sopan.


"Me menurutmu, pria yang suka bermain baseball bagaimana?." Tanya Chizuru mengikuti Yuki yang sudah mulai berjalan ke stan di sebelahnya.


Gadis itu memesan sesuatu.


"Aku tidak terlalu memikirkan itu." Jawab Yuki membuat Chizuru patah semangat.


Agh, tidak menarik ya, batinnya sedih.


"Tapi aku juga seorang manajer baseball, setidaknya aku sedikit mengerti perjuangan keras mereka."


Chizuru melebarkan matanya tersenyum senang tapi senyumnya langsung hilang dengan cepat.


"Tapi Kotaro bilang kamu bukan manajer, waahh aku iri kepada mereka." Celetuk Chizuru cemberut.


Kenapa dia seperti itu?, batin Yuki yang tidak mengerti.


"Kotaro?." Ulang Yuki.


"Ung, Kudo Kotaro." Jelas Chizuru.


"Mungkin saat itu aku belum bergabung menjadi manajer." Jawab Yuki menerima pesanannya.


"Ayo cari kursi." Ajak Yuki berjalan ke tempat yang pernah ia, Mizutani, dan yang lain duduki.


"Yu chaaan!." Natsume memanggilnya dengan tangan di udara. Mereka sudah berkumpul di sana rupanya.


"Jadilah manajer sekolahku." Yuki menghentikan langkahnya menoleh ke samping seraya mengangkat satu alis.


Chizuru yang melihat itu sedikit gelagapan, kalimatnya terhenti di tenggorokan.


Menggemaskan sekali, batinnya.


"Ka kamu bisa pindah ke sekolahku, jadi ka." Yuki memotong kalimat Chizuru.


"Tim mu pasti sudah memiliki banyak manajer, aku hanya akan menjadi beban mereka." Tolak Yuki kembali berjalan.


"Tidak akan menjadi beban, malah aku sangat bersemangat untuk latihan." Gumam Chizuru menatap punggung Yuki.