Futago

Futago
Dongeng.



Je mengambilkan botol cairan pemulih tubuh tepat waktu, Yuki yang baru bangun setelah tidur beberapa jam melihat Dazai yang tertidur di lantai beralaskan futon (jenis perangkat tidur tradisional Jepang). Gadis itu tidak ingin mengganggu tidurnya, Yuki meraih suntikan baru lalu menyuntikan sendiri cairan itu ke tubuhnya. Memejamkan mata sejenak memikirkan keputusan yang telah ia buat.


Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di dekat bantal mengecek notifikasi. Ueno, Natsume, Keiji, Hajime, menumpuk pesan dan panggilan tak terjawab. Yuki mengabaikannya, memikirkan masalah yang terjadi kemarin.


Apakah Tsuttsun sudah mengurus masalah di kolam renang kemarin?, batin Yuki.


"Ojou chan sudah lama bangun?." Yuki melirik ke bawah melihat Dazai yang menguap lebar dengan rambut acak-acakkannya.


"Dai chan." Panggil Yuki.


"Hm?." Dazai menatap Yuki dengan wajah tidurnya.


"Maaf, sudah membuat kalian repot." Sontak pria itu membuka matanya lebar-lebar.


"Apa yang anda katakan, ini tanggung jawab kami." Sergah Dazai.


"Entahlah aku masih ragu. Antara tanggung jawab dan beban yang harus kalian pikul karenaku." Yuki menatap langit-langit kamar.


"Apakah anda menyesal telah terlahir di keluarga utama?." Tanya Dazai ragu-ragu.


Gadis itu tanpa ekspresi entah melihat apa di atas sana.


"Menyesal?, itu tidak penting. Jalan hidupku sudah tergaris sebelum aku dilahirkan. Tidak ada gunanya menyesali yang sejak awal tidak bisa di rubah." Dazai tertegun dengan jawaban dewasa Yuki.


Sungguh gadis itu pikirannya bukan seperti gadis berusia tujuh belas tahun. Rasa sakit yang selalu ditahannya sendiri, menahan air mata yang sebenarnya menyakitinya, memikul beban berat sebagai keturunan keluarga utama. Bibir itu tertarik ke samping, lalu melanjutkan kalimatnya.


"Mungkin, ada satu hal yang aku sesali." Yuki terdiam menutup kelopak matanya, ingatannya kembali kepada wajah Dimas yang menggodanya di cafe depan sekolah.


"Membiarkannya pergi begitu saja." Lirih Yuki namun masih terdengar oleh Dazai.


Waka kah? (Tuan muda kah?), batin Dazai.


"Sepertinya aku harus berangkat lebih pagi, hari ini puncak festival. Aku sangat menantikannya Dai chan. Festival sekolah, apakah akan banyak makanan?." Tanya Yuki membuka matanya menatap Dazai.


Dazai bingung, apa yang harus ia jawab. Ia harus menahan Yuki untuk tidak pergi, gadis itu masih lemah, lihat saja bibirnya yang masih pucat pasi apalagi masih ada empat kantung darah yang harus di habiskannya sampai siang nanti.


"Dai chan." Panggilan lembut itu mengejutkan Dazai.


"O oh ya?, bagaimana ojou chan?. Akh!, itu ..." Jawab Dazai menggaruk leher belakang.


Yuki mengerti, ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang, melepas jarum-jarum yang ada di tangannya.


"Tidak perlu khawatir, kamu tinggal datang ke sekolah untuk menjagaku. Aku memiliki peran sedikit penting di drama yang akan kami lakukan nanti, karena itu aku tidak ingin merusak kerja keras mereka. Kemarin aku pulang lebih awal, tidak bisa membantu persiapan hari ini. Untuk menebusnya aku harus berangkat lebih pagi." Jelas Yuki berjalan pelan ke lemarinya mengambil seragam.


"Saya mengerti, saya akan ambil cuti hari ini. Kapan lagi bisa melihat anda melakukan acting." Yuki tersenyum dan tawa mereka pun pecah membayangkan gadis bermanik biru itu melakukan acting di atas panggung.


Festival budaya yang dibuka untuk umum, biasanya sangat ramai oleh anak-anak sekolah lain, bahkan banyak dari anak-anak smp yang penasaran dengan sekolah yang mungkin akan mereka tuju, bahkan masyarakat umum pun tak kalah antusias untuk berkunjung.


Gadis bermanik biru itu sedang memakai seragamnya, memasang dasi kupu-kupu di leher, lalu mengambil tas kecil berwarna hitam polos, memasukkan dua cairan pemulih tubuh dan dua jarum suntik baru. Untunglah ia sudah mempersiapkan berbagai macam cairan penyokong tubuhnya jika keadaan buruk seperti sekarang ini terjadi padanya. Dua kotak permen ia masukkan ke dalam saku seragam.


"Aku sudah menyiapkan dua kotak bento, yang satu makanan berat dan satunya lagi beberapa buah anggur dan strawberry." Jelas Masamune ketika merasakan kehadiran Yuki di dapur.


"Tidak perlu sebanyak itu Masa san." Jawab Yuki.


"Tidak, kamu harus makan yang banyak Yu," Masamune mengedipkan matanya.


"Ki ..?." Gadis itu tersenyum duduk bersama Mizutani dan Dazai di meja makan.


"Apa terlihat sangat mencolok?." Tanya Yuki. Masamune menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Itu terlihat cocok denganmu, merah muda seperti warna asli bibirmu." Ujar Masamune, menyiapkan sarapan mereka.


"Tsuttsun, yang kemarin." Mizutani mengangguk kecil mengerti apa yang dimaksud Yuki.


"Hiza san sudah menyelesaikannya, dengan ayah dari Momiji san. Semuanya sudah beres." Jelas Mizutani.


"Siapa ayah perempuan itu?."


"Salah satu donatur terbanyak di sekolah."


"Apa Hazuki akan mendapatkan masalah?."


"Tidak, meskipun ayahnya donatur terbanyak diatas langit masih ada langit. Selain itu yang salah adalah mereka."


"Ung, terima kasih."


"Sudah, sarapan dulu, nanti dingin makanannya." Ujar Masamune menghentikan obrolan di meja makan.


Yuki berangkat menggunakan mobil Mizutani, pria itu terlihat sangat fokus dengan kemudinya. Mizutani mengambil jalan belakang dan mereka berpisah di depan asrama klub basket.


"Dazai akan segera menyusul nanti." Ucap Mizutani menatap Yuki penuh rasa khawatir.


"Hm."


"Mungkin kamu tidak bisa sampai acara penutupan nanti malam." Yuki menaikan satu alisnya.


"Baru kemarin kamu mengeluarkan banyak darah, aku khawatir jika penutupan saat kembang api dinyalakan ingatanmu kembali." Jelas Mizutani.


"Ung, aku mengerti." Mizutani bernafas lega.


"Syukurlah, hati-hati." Ucap Mizutani melepas kepergian Yuki menuju gedung utama.


Meriah. Satu kata yang muncul di kepala Yuki saat melihat anak-anak mondar-mandir ke sana kemari, maniknya juga menangkap kesibukan klub band di panggung yang berdiri di dekat lapangan sepak bola, speaker-speaker besar berdiri di sisi kanan kiri panggung. Yuki melihat stan-stan makanan berjejer di depan gedung sekolah saat ia akan mengganti sepatunya dengan uwabaki.


Yuki sedikit kesulitan berjalan ke kelasnya, beberapa kali ia menghindari tabrakan dengan siswa siswi yang lewat di tangga maupun lorong, ia juga melihat kostum aneh di pakai oleh beberapa anak. Padahal ia sudah berangkat pagi sekali tapi masih lebih pagi mereka. Seseorang dengan jas sekolah dan pita besar melingkar di lengan atasnya menghadang jalan Yuki.


"Maaf?." Tanya Yuki mendongak untuk melihat si pelaku.


"Aku hanya ingin mengatakan, terima kasih. Sangat menyedihkan ketua osis sepertiku kalah oleh ancaman adik kelas." Tajime menghindari bertatapan dengan manik Yuki.


"Sama-sama, apa ada yang lain?." Tanya Yuki yang melihat gerak-gerik Tajima.


"Mmm, aku dengar kamu memiliki trauma dengan kolam renang. Apa kamu baik-baik saja?." Tanyanya.


"Ya, aku sudah baik-baik saja."


Kebohonganku sudah tersebar ternyata, batin Yuki.


"Kalau begitu saya pergi dulu senpai." Pamit Yuki, Tajima menggeser tubuhnya ke samping memberikan Yuki jalan.


"Dia sangat keren dan manis, sayang perasaanku di tolak mentah-mentah." Gumam Tajime menatap punggung Yuki yang menjauh.


Srek.


Yuki masuk ke dalam kelas yang penuh kesibukan dengan atribut pendukung drama mereka, Yuki melihat beberapa anak sedang mencoba kostum abad pertengahan. Maniknya menemukan Honda bersama Natsume dan Ueno, gadis suram sudah tidak ada sejak seminggu yang lalu digantikan dengan gadis manis pemalu yang menambah kadar keimutannya. Natsume dan Ueno sedang merias rambut Honda, mengacak-acaknya agar mirip dengan gadis lusuh pada abad pertengahan.


"Ohayou." Sapa Yuki. Ketiganya langsung menoleh ke arahnya, tidak hanya mereka bertiga seisi kelas kini menatap Yuki. Keheningan aneh menyelubungi kelas. Gadis itu menyunggingkan senyum dan mengulangi sapaannya.


"Ohayou, minna (semuanya)." Sapa Yuki. Natsume melempar sisir begitu saja dan menerjang tubuh Yuki.


"Yu!, chaaaannn ...!!." Yuki berjalan mundur menghindar dari Natsume. Karena memang badannya yang lemah ia kehilangan keseimbangan. Yuki melirik ke bawah, sebuah tangan mengambang melingkar di perutnya sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya Yuki dengan cepat menangkap tangan itu menjauhkannya, Yuki menyeimbangkan tubuhnya dengan satu kaki.


Tap.


Gadis itu berhasil berdiri. Yuki menoleh melihat si pelaku yang berani sekali hendak menyentuhnya.


"Kamu tidak apa-apa?." Yuki menaikan satu alis seraya memiringkan kepala.


"Senpai?. Kenapa di sini?. Tersesat?." Pertanyaan Yuki membuat anak-anak menggelengkan kepala mereka.


Dilihat dari mana pun kapten baseball itu sedang mencarimu, batin mereka.


"Jangan lupa balas pesanku, aku hanya ingin mengatakan itu, sampai nanti." Kata Hajime berlalu pergi, meski dengan sangat berat hati.


"Uuwwaaaa!!!."


"Aaarrgghh!!."


"Apa-apa an itu, kapten tim baseball benar-benar sangat keren!."


"Tidak, lebih keren Hachibara san saat menolak menghindari tangan Yuuki senpai!."


"Oh ya ampun ... Apa ini?, apa ini?."


Puk.


Yuki menoleh ke belakang, membalas tatapan Natsume.


"Kamu masih sakit?. Kemarin, kolam renang itu." Yuki menepuk pelan pucuk kepala Natsume.


"Tidak apa-apa, jangan di pikirkan. Selain itu." Yuki menarik tangannya menatap datar Natsume membuat gadis itu terkesiap.


"Kamu sudah ke rumah sakit?." Tanya Yuki.


"Eh?!."


***


"Hirogane!, jangan lupa bawa pitanya." Seru Takamoto sang ketua kelas kepada pemain baseball itu.


"Hm?." Yuki menatap papan yang sudah berpindah tangan. Takamoto tanpa mengatakan apa pun pergi membawa papan berbentuk daun yang di pegang Yuki tadi.


Gadis itu kembali ke kelas mengambil kardus berisi perlengkapan yang lain, ia membalikan badan dan berjalan keluar, tepat di depan pintu Morisaki si sekretaris kelas merebut kardus dari tangan Yuki, pergi tanpa mengatakan apa pun. Ia kembali ke dalam kelas mengambil papan lain, belum juga sempat membalikan badan papan itu sudah di rebut orang lain. Yuki yang kesal menatap dingin si pelaku.


"Tuan putri, anda adalah pahlawan bagi anak-anak tertindas sekarang. Tidak baik jika kami membiarkan anda bekerja." Yuki melebarkan matanya sekaligus mengangkat salah satu alis.


"Lelucon apa yang sedang kalian lakukan?." Ujar Yuki hendak merebut papan dari Kudo, namun laki-laki itu menjauhkan papan dari Yuki.


"Pergilah ke belakang panggung, kamu harus bersiap." Ujar Kudo dengan raut wajah serius dan berlalu meninggalkan Yuki. Gadis itu mengedikkan bahunya dan berjalan ke aula menemui teman-temannya.


Di belakang aula banyak sekali anak-anak dari kelas lain berkelompok melakukan kesibukan masing-masing. Manik Yuki menangkap klub cheerleaders yang sedang bersiap hendak tampil dengan kostum beserta pom-pom pink mereka. Ia terus berjalan hingga sampai di gerombolan kelasnya. Bibir itu tertarik ke atas kala melihat kostum Honda untuk lomba dansa nanti malam.


"Terima kasih." Yuki menggeleng pelang masih menatap dress biru tua dengan pernak-pernik membentuk sebuah pola bunga dan garis yang indah.


"Sebelum kejadian di toilet, aku sudah tahu. Kamulah yang selama ini menolongku dari mereka, dan sengaja memilihku menjadi perwakilan ratu, mengajariku yang tidak mungkin bisa melakukannya menjadi bisa melakukannya, kata-katamu bagaikan sihir yang mewujudkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin." Yuki menoleh ke samping, menghentikan kekagumannya pada dress itu. Honda meremas tangannya sambil menunduk.


"Honda san," kalimat Yuki dipotong gadis itu.


"Karena itu!." Yuki sedikit terkejut dengan suara Honda yang naik beberapa oktaf.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik untuk diriku, untuk usahamu, Hachibara san. Aku akan tunjukan kepadamu siapa Honda yang sebenarnya." Ucap Honda mengangkat wajahnya menatap Yuki penuh tekad.


Wow, Honda san sedang berjuang keras, batin teman-teman yang lain.


Yuki tersenyum lembut kepada gadis itu. Honda membeku, tubuhnya seakan tersedot ke dalam manik biru yang sedang menatapnya dalam, berenang di dalamnya.


Nyaman, itulah yang di rasakan Honda. Hanya di tatap seperti itu hatinya sudah meleleh.


Jika aku laki-laki, aku pastilah sangat beruntung, batin Honda. Suara Yuki membuatnya tersadar.


"Ung, jadilah dirimu sendiri." Honda tersenyum senang. Betapa beruntungnya hidupnya di pertemukan dengan malaikat seperti Yuki.


Sret.


"Tunda dulu adegan dramatis kalian, sebentar lagi kita tampil dan kamu, Yu chan. Tinggal kamu yang belum mempersiapkan diri." Natsume menarik tangan Yuki.


Gadis bermanik biru itu pasrah di dandani oleh teman-temannya, mengganti seragamnya dengan kostum seorang ksatria perempuan. Celana putih, kemeja hitam yang di masukkan, dan rompi berwarna merah gelap dengan hiasan emas di kancing-kancingnya, dan terakhir, sepatu boots tinggi sampai ke betis. Ueno kini sedang memasangkan wig panjang bergelombang dengan poni depan sampai ke alis, berwarna biru sesuai dengan warna mata Yuki.


"Selesai, kamu sangat cantik Hachibara san. Tidak, maksudnya. Kamu setiap hari cantik tapi yang sekarang, kamu seperti aktris di dalam animasi. Seperti boneka hidup." Lirih Ueno pada akhir kalimat menatap setiap inci wajah Yuki dari pantulan cermin.


Yuki tertawa lirih seraya mengangkat satu alisnya.


"Boneka hidup?, haruskah aku membawa pisau dapur juga?." Ledek Yuki menggoda Ueno. Gadis itu ikut tertawa menanggapi Yuki.


"Bukan boneka horor seperti itu, kamu benar-benar sangat cantik. Kecantikanmu terlihat tidak nyata." Lanjut Ueno masih mengagumi betapa indahnya karya seni di sampingnya itu.


Yuki menahan senyum melihat dari cermin wajah Ueno yang menatap dirinya dari samping dengan bola mata yang membulat sempurna, dan bibir berisi yang imut itu terbuka.


"Jangan melihatku seperti itu, takut nanti ada yang salah paham. Pffttt!." Yuki merasa aneh dengan ucapannya dan ia tak bisa menahan tawanya. Ueno bengong dengan apa yang ia dengar, setelah beberapa detik barulah ia paham. Ueno menutupi wajah malunya yang tertangkap basah oleh Yuki dengan tangan.


"Ueno san." Yuki menghadap gadis itu.


"Maaf soal senpai tadi pagi. Aku belum membalas pesannya setelah pingsan dirumah kemarin. Mungkin karena itu senpai jadi nekat ke kelas." Yuki memutuskan menjelaskannya kepada Ueno sedikit apa yang terjadi kemarin, ia tidak ingin temannya itu merasakan sakit hati tanpa mendapatkan penjelasan.


"Astaga, Hachibara san. Kemarin kamu pingsan?." Ueno menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Tolong jangan beritahu Hazuki dan Honda san." Yuki meletakkan telunjuknya di depan jari.


"Rahasia." Imbuhnya, Ueno mengangguk paham.


"Jangan pikirkan perasaanku, aku tidak apa-apa aku mengerti. Yang penting bagaimana keadaanmu sekarang?." Yuki tersenyum simpul.


"Jauh lebih baik." Jawab Yuki.


Yah, lebih baik setelah selamat dari kematian, batin Yuki.


"Yu chan, cepat keluar. Sebentar lagi giliran kelas kita." Suara Natsume menginterupsi mereka.


"Ayo, mereka pasti sangat terkejut melihatmu." Ujar Ueno membuka gorden ruang ganti membiarkan Yuki keluar lebih dulu.


"Itu sangat merepotkan Ueno san." Gerutu Yuki yang di balas senyuman oleh Ueno.


Seperti yang dikatakan Ueno, Yuki kembali menjadi perhatian seluruh kelas yang tersisa di belakang panggung. Gadis itu acuh mengabaikan semua pasang mata yang menatapnya dan berjalan mengambil atribut pedang miliknya, menyematkan pedang di samping pinggang rampingnya. Natsume berjalan pelan mendekati Yuki, raut wajahnya sama persis seperti Ueno beberapa menit lalu. Yuki memutar bola matanya malas.


"Apa yang akan kamu lakukan Hazuki?." Tanya Yuki malas. Semoga saja kegilaan Hazuki tidak kumat sekarang, batin Yuki.


"Ayo ambil foto bersama." Ujar Natsume langsung menempel di lengan Yuki mengangkat ponselnya ke atas memposisikan angle kamera.


Gadis bermanik biru itu membuang wajahnya ke samping. Natsume mengerucutkan bibirnya kesal, ia melingkarkan lengannya di lengan Yuki memaksa gadis itu melihat ke arah kamera. Namun usaha Natsume selalu gagal.


"Yu chan, jangan malu-malu begitu. Lihat kamera sebentar saja ih!." Yuki memutar bola matanya menoleh ke samping menatap Natsume sama kesalnya. Seketika itu Natsume tersenyum lebar dan mengambil foto.


"Bersiap!, giliran kelas kita. Ayo semuanya berkumpul." Takamoto berseru.


Pandangan semua orang beralih ke urusan masing-masing.


Drama kelas 2-1 dimulai, Yuki melirik ke luar melihat banyak sekali audiens memenuhi kursi penonton, bahkan tidak ada satu kursi pun yang kosong. Ternyata sekolahnya memang terkenal, membuat para pengunjung dari berbagai kalangan berada di sana, seragam-seragam asing pun tertangkap oleh manik Yuki. Anak-anak klub fotografi sejak satu minggu ini masih antusias mengambil dokumentasi dengan kamera mereka.


Huft, aku benar-benar akan tampil di depan mereka?, yang benar saja, batin Yuki sebenarnya enggan.


Meskipun gadis bermanik biru itu bukanlah tokoh utama namun aura yang dimilikinya menarik perhatian semua orang, bahkan di belakang panggung sekali pun, masih banyak yang mencuri pandang ke arahnya, entah dari kelas yang sama maupun kelas lain.


Salah satu siswi membacakan Narasi pembuka di sambung seorang siswa kelas Yuki, suara keduanya sangat cocok menghayati jalan cerita. Honda yang berpakaian lusuh masuk ke atas panggung, gadis itu mengejutkan para penonton dan teman-temannya yang berada di belakang panggung dengan acting sempurnanya. Yuki tersenyum senang dalam hati.


Di ikuti oleh Natsume dan gadis lain yang berperan sebagai penjual di pasar menatap iba Honda karena kemiskinannya. Para pemain keluar masuk panggung silih berganti.


Aktor lain masuk menjadi penjahat yang merendahkan mimpi Honda, merampas uang hasil jerih payah Honda selama bertahun-tahun yang akan digunakannya untuk membeli sebuah baju ballet impiannya. Honda sedang berekting menangis di atas panggung, air mata Honda dan isak tangisnya tersampaikan ke para penonton, penghayatan yang sangat sempurna menyentuh emosi penonton yang tak sedikit ikut menangis.


Ini saatnya giliran Yuki masuk, gadis itu berjalan pelan menaiki panggung masuk ke dalam acting Honda. Penonton tertegun dengan kehadiran sosok berambut biru yang sangat elegan.


"Agh, ojou chan kami memang sangat memukau sejak dulu." Gumam Dazai tersenyum menatap Yuki.


Gadis itu berlutut dengan satu kaki di depan Honda.


"Apa yang membuatmu menangis, wahai anak muda?." Tanya Yuki yang berperan menjadi ksatria perempuan dewasa. Suara gadis itu sangat merdu, tenang, dan tegas, sangat cocok dengan perannya.


"Aku, kehilangan uangku dan mimpiku. Hiks!." Jawab Honda.


"Berapa yang kamu butuhkan?." Honda mengangkat wajahnya menatap manik Yuki, isak tangis masih keluar dari bibirnya.


"Tidak hiks!, orang seperti saya tidak pantas hiks!, mendapatkan bantuan dari anda." Honda kembali menundukkan wajahnya.


Bruk.


Yuki meletakkan sekantong uang di depan Honda seraya berdiri.


"Kejar mimpimu, dan kembalikan uang itu setelah kau berhasil meraih mimpimu." Ujar Yuki berjalan ke balik panggung.


Di belakang sana Honda menangis lagi.


Adegan berganti, Honda yang berhasil mendapatkan baju balletnya tertawa riang di pinggir jalanan pasar, mendengar alunan musik Honda terjun ke tengah jalan menari di depan pemusik itu di ikuti oleh para pedagang dan orang-orang sekitar. Yuki hampir tertawa melihat Natsume yang memutar tubuhnya sangat cepat, bersemangat dengan senyum lebar di wajah cantiknya. Penonton bahkan ikut bertepuk tangan mengikuti iringan musik.


Adegan kembali berganti, Honda sedang bersiap dengan perlombaan tari ballet yang di hadiri kalangan bangsawan, bahkan raja dari negeri sebrang pun ikut hadir, dan di situlah seorang pangeran terpukau dan jatuh hati kepada keindahan tarian Honda. Bukan hanya di narasai, di kenyataan pun banyak yang memuji tarian Honda. Gadis itu berbalut baju putih bergerak harmonis dengan musik yang diputar, bak seekor angsa putih di negeri dongeng yang berubah menjadi gadis cantik.


Latar berganti, Yoshihara dan Honda sedang bercengkrama di bawah langit sore. Yoshihara mengungkapkan isi hatinya dengan cara romantis, bermodalkan seikat bunga putih dan rayuan ala-ala seorang pangeran. Yuki kembali masuk ke dalam adegan.


"Pangeran mana yang merayu seorang gadis dengan bunga murahan seperti itu." Ucap tajam Yuki. Gadis penolong tiba-tiba berubah kejam.


"Anda?!." Honda terkejut menatap Yuki.


"Siapa kau!, lancang sekali mulutmu." Balas Yoshihara.


"Hamba hanyalah pengelana yang memiliki urusan dengan anak muda ini." Balas Yuki menunduk sopan. Masih dalam posisinya Yuki melirik Honda dengan ekor matanya.


"Anak muda, kau harus ikut denganku." Ucap Yuki.


Mendengar itu Yoshihara mencabut pedang mengayunkannya kepada Yuki.


Ceklik.


Set.


Trang!.


Yuki pun mencabut pedangnya menyambut pedang Yoshihara.


"Kau tidak akan membawanya kemana pun, nyonya pengelana." Yuki tersenyum miring.


"Dia memiliki hutang kepada hamba pangeran, sudah sewajarnya saya menagihnya."


Perkelahian terjadi dan dimenangkan oleh sang pangeran, pangeran itu mengembalikan uang si pengelana tiga kali lipat menggagalkan cintanya di bawa pergi oleh orang lain. Seperti pada cerita dongeng pada umumnya sang pangeran mendapatkan gadis yang ia cintai dan sang gadis hidup bahagia bersama kekasih hatinya. Tamat.