Futago

Futago
Pembully & Yuki.



Bahkan aku tidak bisa mengartikan suara panahku sendiri, menangis?, sedih?, panahku terlalu jujur rupanya, batin Yuki mengejek dirinya sendiri.


"Yuki." Panggil Hajime menatap belakang kepala gadis itu.


"Hm?."


"Temanmu sepertinya sedang bertengkar." Yuki menghentikan langkah kakinya berbalik menatap Hajime.


"Siapa?." Tanya Yuki.


"Di sana." Hajime menunjuk kolam renang out door.


Yuki tidak sadar kakinya sudah berjalan sejauh ini. Ia menoleh ke arah yang di tunjuk Hajime, gadis itu diam melihat kejadian menarik di pinggir kolam renang.


Lomba berenang sepertinya belum usai, banyak siswa yang masih berkerumun di sana. Natsume melindungi Honda dari ke empat teman smp gadis itu, si pembully. Mereka sedang cek-cok mendebatkan sesuatu, Yuki tidak bisa mendengarkan perdebatan mereka dari jarak sejauh ini. Tajima selaku ketua osis dan teman-teman osis lainnya berusaha menghentikan perdebatan siswi-siswi itu namun hasilnya nihil.


Seperti orang kesurupan ke empat pembully langsung menerjang Natsume, menjambak rambut gadis itu, ada yang menendang tulang keringnya, mereka juga mendorong-dorong pundak Natsume secara kasar menarik Honda menjauh dari gadis itu.


Byuurrr!.


Natsume terjatuh ke kolam renang. Mereka berempat tertawa keras, tidak ada satu pun yang berusaha membantu Natsume keluar dari dalam kolam. Gadis periang itu tiba-tiba berhenti berenang ke tepi kolam, seluruh tubuhnya tertelan air.


Hazuki!, teriak Yuki dalam hati.


Ia berlari cepat meninggalkan Hajime. Jarak yang cukup jauh membuat Yuki mengutuk sekolahannya yang terlalu luas. Gadis itu menghitung waktu terakhir sebelum Natsume tenggelam.


Satu menit, batin Yuki berlari melewati para siswa tak dikenal.


Dua menit, bertahanlah Hazuki. Semoga sudah ada yang menolongnya, batin Yuki melihat pintu masuk area kolam renang di depan sana.


Dua menit empat puluh lima detik, ucap Yuki dalam hati.


Saat Yuki memasuki pintu masuk pertama samar-samar terdengar suara teriakkan dari area kolam renang.


"Siapa yang berani menolongnya!, aku akan keluarkan kalian dari sekolah!."


"Sekalipun kau!, ketua osis!." Yuki kalut ia semakin mempercepat larinya.


Hazuki, Hazuki, panggil gadis itu dalam hati. Jantungnya mulai berpacu cepat, rasa khawatir, rasa takut menghantuinya.


BRAAKK!!.


Yuki membuka pintu terakhir dengan sangat kasar, maniknya hanya tertuju ke dalam kolam. Di sana, tubuh Natsume terbaring di dasar kolam. Yuki melebarkan matanya.


BYUUURR!!!.


Hazuki, Hazuki, bertahanlah, batin Yuki menggerakkan tubuhnya berenang bagaikan hiu yang mengejar mangsanya.


Yuki meraup tubuh Natsume, menjejakkan kakinya ke lantai, ia semakin cepat berenang ke atas. Mencengkeram pinggang gadis itu kuat-kuat.


Pyak!.


Yuki menyembulkan kepalanya menarik Natsume ke pinggir kolam. Hirogane membantu menarik Natsume lalu Kudo mengangkat kaki gadis itu membaringkannya di tempat yang kering. Yuki yang kalap langsung mengeluarkan dirinya dari dalam air berlutut di samping Natsume.


"Ha hachi bara san." Panggil Honda di sela tangisnya.


Yuki tidak memperdulikan orang lain, ia hanya fokus dengan Natsume. Yuki memberikan pertolongan pertama pada korban tenggelam, mendekatkan telinganya ke hidung gadis itu. Yuki terkesiap ketika ia tidak merasakan udara menyentuh pipinya atau pun dada Natsume yang tidak bergerak. Gadis itu tidak bernafas. Yuki segera menjauhkan kepalanya meraih tangan kanan Natsume, memeriksa denyut nadi.


Yuki mengerutkan kening, kekalutan di hatinya bertambah banyak.


Tidak ada, denyut nadinya tidak ada, gumam Yuki sangat kalut. Tangannya beralih melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation). Yuki saling menumpuk tangannya menempatkan jari-jarinya saling bertautan lalu memompa dada gadis itu.


Hazuki bangun. Bangun!, teriak Yuki tertahan. Yuki sangat fokus melakukan resusitasi jantung paru. Tidak ada tanda-tanda, namun Yuki tidak menyerah dia terus menekan dada Natsume.


Kumohon, bangunlah .., Hazuki. Sial!, teriak Yuki dalam hati.


"Lakukan nafas buatan." Titah Yuki menarik tangan Hirogane.


"T tapi." Yuki mendongak menatap dalam manik pemuda itu.


"Sekarang, tolong." Lirih Yuki di akhir kalimat.


"Tck." Hirogane mendecih lalu melakukan yang diminta gadis itu.


Yuki kembali menekan dada Natsume, bayangan Dimas yang meninggalkannya pergi terputar kembali.


Tidak, jangan!. Kumohon jangan lagi. Jangan ambil orang yang aku sayangi, DASAR DEWA KEMATIAN SIALAN ..!!. Yuki menjerit dalam batinnya.


Sekuat tenaga ia menahan tubuhnya agar tidak gemetar, ia tidak boleh menangis, tidak boleh. Tahan, harus menahannya.


Kenapa kamu tidak bangun-bangun heh!, HAZUKI ..., Yuki semakin kalut maniknya bergetar, nafasnya juga memburu tak beraturan.


Takut, gadis itu sangat takut. Ketakutan akan kehilangan seseorang yang dekat dengannya.


Semua saksi mata melihatnya, melihat betapa kalutnya gadis bermanik biru, sang dewi mereka yang tak tersentuh.


Jika kau mengambil Hazuki dariku, geram Yuki dalam hati.


Aku yang akan membunuhmu!, DEWA KEMATIAN, lanjut Yuki bersungguh-sungguh dengan sumpah tak terucapnya.


Hirogane melirik Yuki yang menunduk, terus menekan-nekan dada Natsume. Hirogane ingin menyerah melihat gadis yang terbaring itu tidak memiliki tanda-tanda akan siuman namun, tatapan Yuki, ekspresi Yuki, membuat Hirogane mengenyahkan isi pikirannya.


Aku akan melakukannya!, kalau perlu sampai bibirku bengkak dan kehabisan nafas, ucap Hirogane dalam hati. Pemuda itu semakin gencar mengirimkan nafas buatan.


Suara isakkan Honda terdengar sampai ke telinga Yuki membuat gadis itu mengingat memori orang-orang yang hanya bisa menangis melihat Dimas tergeletak tanpa niat membantunya. Yuki menggertakkan gigi, mengeraskan rahangnya, mata biru itu mulai panas.


Tidak!, jangan menangis. Kau tidak boleh keluar! AIR MATA SIALAN!!!, tubuh gadis itu menegang, isi kepalanya dipenuhi gambaran Dimas yang ia peluk, tangan besarnya yang ia genggam, pipi yang semakin dingin ia usap lembut, pernyataan cintanya di telinga laki-laki itu, dan kecupan terakhir yang Yuki berikan. Dadanya mulai sesak, Yuki mengigit bibir bawahnya keras-keras menahan gejolak menyakitkan.


UHHUUKK!!!.


Yuki melebarkan matanya, ia terdiam.


UHHUK!. UHHUUKK!.


Tubuh di bawah tangannya bergerak naik.


Kamu bernafas, kamu bernafas, Hazuki. Lirih Yuki dalam hati. Tubuhnya terduduk lemas, kedua tangannya terangkat menutupi wajah.


Natsume beranjak duduk dibantu oleh Hirogane, laki-laki itu menopang punggung lemah Natsume.


"Yu chan ..." Panggil Natsume lirih, melihat keadaan Yuki seperti itu membuat hatinya sakit.


Apa Yu chan menangis?, tanya Natsume dalam hati.


"Maaf, tadi kakiku kram." Natsume memberikan penjelasan, namun Yuki masih menutupi wajahnya. Ia melihat dengan jelas gadis bermanik biru itu sedang mengatur nafas tak beraturannya.


"Yu chan, katakan sesuatu, hiks." Natsume tidak tahan melihat gadis cuek itu seperti ini, ia meloloskan air matanya padahal ia sudah berjanji kepada diri sendiri tidak akan menangis setelah meninggalkan kampung halaman.


"Aku ... Yu chan, aku hiks!, aku" suara Natsume terhenti oleh jari panjang lentik nan dingin yang mengusap air matanya.


Natsume menatap manik biru yang menatapnya dengan lembut, bibir itu tersenyum sangat manis, memberikan kehangatan di hatinya. Gadis basah kuyup sama seperti dirinya bergerak ke samping kaki kirinya yang terkena tendangan, menyentuhnya dengan hati-hati dan melakukan sesuatu di sana, seperti saat mereka ditangga waktu itu.


Natsume meremas tangannya, ia ingin memeluk Yuki dan menangis sepuasnya di pundak gadis itu.


Yuki berhenti dari kegiatannya, ia terlihat menarik nafas panjang. Natsume yang sejak tadi memperhatikan Yuki menyadari sorot mata gadis itu telah berubah, ekspresi lembutnya pun berubah, dingin.


Yuki mengangkat tubuhnya beranjak berdiri, ia menggerakkan kakinya mendekati pembully yang menahan tangan Honda.


"Apa kau tidak dengar gadis j*lang!, jika kau menyentuhku Momiji chan akan mengeluarkanmu dari sekolah!." Koar gadis pembully itu.


"J*lang bukan seorang gadis, bodoh." Kata-kata dingin itu keluar dari bibir sang dewi.


Yuki mengulurkan tangannya ke arah tangan si pembully yang mencengkeram tangan Honda, pembully yang ketakutan segera melepaskan tangan gadis itu dan berlari melewati Yuki berniat berkumpul dengan kawanannya. Namun sayang, Yuki dalam mode siap tempur.


Yuki mencekal pergelangan tangan pembully mengangkatnya ke atas lalu memaksa pembully berputar layaknya penari ballet, pergerakan tangan Yuki yang cepat membuat pembully semakin mempercepat putarannya dan.


BYUR!.


"Kurang ajar!. Berani-beraninya kau!." Teriak kawanan pembully.


Salah satu dari mereka menerjang Yuki dengan pukulan karate, Yuki menepisnya lalu menangkap kaki yang mengincar lehernya.


"Lepaskan!. Brengsek!." Cicit pembully.


Yuki mendorong kaki itu ke tepi kolam tanpa menurunkannya. Pembully melirik kolam takut-takut, ia melayangkan kedua tangannya ke depan berniat meraih Yuki.


BYUUURR!!.


Yuki mendorong kaki itu.


"Apa yang kau lakukan!." Yuki menggeser tubuhnya menghadap pembully yang berlari ke arahnya.


Hanya dengan satu hempasan tangan pembully ke tiga tercebur ke dalam kolam bergabung dengan kawanannya.


BYUURR!!.


Yuki melirik sang pemimpin. Gadis bernama momiji dengan baju renangnya berkacak pinggang menantang Yuki.


Gadis itu berjalan pelan menghampiri pembully terakhir.


"Apa kau senang setelah menyiksa orang?." Semua orang terkesiap mendengar pertanyaan Yuki.


"Mereka pantas mendapatkannya. Dan aku bersenang-senang dengan mereka." Orang-orang terkejut dengan jawaban gadis pembully.


"Kau mencari kesenangan dengan menjadi pembully?." Momiji menatap tajam kepada Yuki.


"Apa pembully seperti kalian pernah berpikir berapa banyak rasa sakit yang di dapatkan korban kalian?." Momiji mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Tentu saja tidak! karena aku tidak akan pernah menjadi target pembullyan siapa pun!." Teriak Momiji.


Yuki yang sejak tadi menatap Momiji tanpa minat kini menarik kelopak matanya ke atas.


Momiji tertegun melihat tatapan dingin dari manik biru itu.


Momiji bergerak mundur, ketika Yuki sudah sangat dekat dengannya.


"Apa kau menikmati ekspresi ketakutan mereka?."


"Ya!." Meskipun gadis itu ketakutan dan berjalan mundur tapi suaranya tetap lantang menjawab Yuki.


"Apa selama ini kau juga menikmati saat-saat menyiksa Honda san?. Momiji." Yuki memanggil nama gadis itu tanpa embel-embel lagi di belakang nama gadis itu.


"Hahaha, ya!. Gadis itu terlalu sombong dengan kecantikannya, seperti dirimu J*LANG!." Kaki Yuki berhenti memberikan jarak dua langkah dengan Momiji.


"Lihat saja. Aku akan mengeluarkan kalian dari sekolah setelah ini." Ancamnya.


"Dan ak!." Momiji berhenti, ia merasakan udara dingin dikulitnya, perlahan dengan takut-takut menggerakkan bola matanya menatap manik biru yang sedang memberikan tatapan tajam kepadanya. Sangat tajam, membuat kakinya lemas, bahkan ia sangat takut untuk bergerak, tatapan itu seakan mengiris-iris tubuhnya.


"Menunduk!." Momiji menunduk dengan cepat, refleks tubuhnya bahkan lebih cepat dari otaknya.


"Pembully sepertimu tidak akan pernah mengerti betapa berharganya jiwa seseorang." Tubuh Momiji bergetar ketakutan.


"Jangan dekati teman-temanku lagi. Atau aku yang akan mengeluarkanmu dari sekolah."


"Kau tidak bisa melakukannya," desis Momiji.


"Aku akan mengambil kesombonganmu."


Tap.


Yuki berjalan satu langkah ke depan, membuat Momiji mundur beberapa langkah.


"Karena aku, Hachibara Yuki." Setelah mengatakan itu Yuki mengangkat kakinya hendak melangkah ke depan, namun baru sedikit kakinya terangkat Momiji sudah bergerak mundur dan tercebur ke kolam.


BYUURR!.


"Semoga setelah ini, para pembully yang lain tidak akan melakukan aksi," Yuki menggantung kalimatnya menoleh ke gerombalan anak cheerleaders, tepat di manik Sakai sang ketua klub.


"Pembullyan yang lain." Ucapan yang seakan di tujukan kepada klub cheerleaders itu menimbulkan banyak pertanyaan siswa siswi di area kolam renang.


"Dasar j*l," sebelum Momiji menyelesaikan kalimatnya Yuki sudah mengangkat kakinya hendak melempar sepatu ke wajah gadis itu.


Puk.


Sebuah jersey menggantung di pundak Yuki bersamaan dengan sepasang tangan besar mendarat tenang di sana.


"Biarkan Tajima yang mengurus mereka." Kata Hajime menuntun Yuki meninggalkan kolam renang.


***


Mizutani setelah mendengar laporan ketua osis di kantor kepada guru pembimbing mereka langsung berlari ke uks.


"Apa yang terjadi?." Tanya Mizutani kepada Hirogane, Natsume, dan yang lain.


"Dimana Yuki?." Lanjutnya.


"Yuuki senpai membawa Yu chan pulang." Jawab Natsume.


"Bisakah kalian menjelaskannya kepadaku?."


***


Yuki berjalan dalam diam bersama Hajime, baju olahraganya sudah ia ganti tapi tidak dengan baju dalamnya, alhasil baju seragamnya pun mulai ikut basah.


Hajime melihat Yuki mengeluarkan kotak permen, memakan permen gepeng berwarna oren yang bundar itu.


"Maaf, jaket senpai ikut basah."


"Hm."


Hening.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?." Hajime menangkap raut lelah di wajah itu.


"Bukan hal penting." Jawab Yuki.


"Mau aku gendong?."


Gendong.


Gendong.


Gendong.


Yuki menarik nafas kecil. Memori itu mulai menyerangnya.


"Tidak, terima kasih."


Hajime berjalan lebih cepat lalu berjongkok di depan Yuki. Gadis itu menaikan satu alisnya, mengingat kejadian yang sama.


Lalu ia berdiri di samping Hajime ikut berjongkok seperti laki-laki itu.


"Apa ada pasukan semut yang lewat, senpai?." Yuki mencari-cari sesuatu di aspal jalanan.


"Boleh aku minta sesuatu?." Tanya Hajime, Yuki mendongak menatap laki-laki itu.


"Ung, apa?."


"Tidak jadi, ayo pulang." Ucap Hajime kembali berdiri mengulurkan tangannya membantu Yuki.


"Senpai yakin tidak jadi?."


"Ung. Ayo cepat pulang sebelum kamu masuk angin."


Di tengah jalan Yuki kembali sibuk dengan pikirannya. Wajah asing yang selalu bersama Yuki dan Hotaru perlahan berubah jelas, namun setiap Yuki dan Hotaru memanggil nama anak itu sebuah suara asing menghalangi Yuki seakan ia tidak boleh mendengar namanya.


Mereka sampai di depan rumah Yuki, Hajime mengatakan akan pergi berkunjung setelah laki-laki itu membersihkan diri. Yuki mengangguk kecil dan tersenyum sebelum ia masuk ke dalam rumah.


Waktu yang cukup awal untuk pulang, Masamune yang curiga segera menanyakan ini itu kepada Yuki. Setelah menjawab semua pertanyaan Masamune gadis itu pergi ke kamar mandi dengan kotak permen di tangannya. Memori di dalam kepalanya masih berputar, dan Yuki tidak mau jauh-jauh dari kotak permennya lagi.


Benar saja setelah Yuki keluar dari dalam bathup efek pil yang pertama habis, gadis itu langsung merasakan rasa sakit menyerang kepalanya membuka kotak permen menggigit pil ke dua.


Yuki membiarkan darahnya mengalir bersama air shower.


Gadis itu menghitung sudah empat puluh menit ia di dalam kamar mandi, kakinya yang sudah tidak kuat menopang tubuh duduk di lantai bersandar pada bathup.


Genangan darah menggenangi kamar mandi itu, suara shower sedikit meredam suara batuknya. Yuki terengah, kenangan menyebalkan itu terlihat sangat rumit. Gambaran yang terputar.


Pria sangat tua. Iblis itu yang berteriak kepada kakeknya, nenek Yuri yang menggenggam tangan kecilnya dengan sangat erat. Hotaru yang terbaring lemah di balik selimut tebal, suara aneh, teriakan, dingin, salju, petir. Apa yang sebenarnya terjadi?, tidak biasanya Yuki mengingat memori acak seperti itu. Tidak biasanya juga ia mengeluarkan darah sebanyak ini setelah memakan pil ke dua.


Yuki menghitung kira-kira waktu yang sudah berlalu setelah memakan pil ke dua. Efek pil sebentar lagi habis dan dia masih di dalam kamar mandi dalam keadaan tal*njang.


Ini sangat buruk. Berhentilah, aku bisa berakhir membeku di sini, batin Yuki menarik rambutnya kuat-kuat.


Seakan dunia sedang berpihak kepada gadis itu, memori yang memaksa otaknya bekerja mengingat yang pernah ia lupakan berangsur mereda. Yuki mengatur nafasnya berusaha berdiri.


Gadis itu kembali membasuh tubuhnya dengan sabun, mencuci kembali rambutnya.


Yuki berusaha memakai baju dengan benar, ia juga berusaha mengeringkan rambutnya dengan kedua tangan yang kebas juga keriput. Kakinya terasa lemah seperti agar-agar. Ia berjalan menempel ke dinding, tangannya berusaha meraih kenop pintu.


Ceklek.


"Kamu akhirnya keluar juga, aku hampir mendobrak pintu jika satu menit lagi kamu tidak keluar." Yuki tersenyum kaku.


Baru kali ini ia melihat ekspresi lain dari Hajime. Pemuda itu terlihat sangat khawatir, serius, dan berkharisma dalam satu waktu.


Yuki mengerjapkan matanya pelan, sepertinya ia sudah gila. Melihat wajah Dimas di hadapannya.


"Yuki." Panggil Hajime.


Tangan gadis itu terulur ke wajah Hajime namun belum sempat tangan itu sampai di pipi Hajime tubuh Yuki tiba-tiba ambruk. Tangan kekarnya menangkap tubuh dingin Yuki menggendongnya ke lantai dua.


***


"Dimas?, tidak. Sudah aku katakan tidak Yuki." Tegas Hotaru.


"Fitri, biar ayah yang membunuh penyusup ular itu." Daren memasukkan pistol ke balik jas kerjanya.


"Apa kamu mau berjanji kepada kakek Yuki?. Jangan tinggalkan saudara kembarmu apa pun yang terjadi, jangan terlalu lama menyimpan dendam."


"Cucu cantik nenek kapan dewasanya kalau terus manja seperti ini?."


"Aku terpaksa, agar kita berdua bisa hidup. Karena dunia ini tidak mengizinkan kita bahagia. Aku, atau kamu. Cepat, atau lambat, salah satu diantara kita harus mati." Yuki semakin bergerak gelisah.


"Eva. Aku juga merindukanmu, malaikatku." Suara Dimas membuat Yuki membuka mata.


Gadis itu berkeringat, pemandangan langit-langit kamar yang pertama kali tertangkap oleh matanya. Yuki merasakan kehadiran orang lain di dalam kamar, ia menggerakkan bola matanya ke samping.


Hajime duduk di pinggir ranjang membelakangi tubuhnya.


"Senpai masih di sini?." Tanya Yuki beranjak duduk.


"Kamu sudah bangun?." Yuki mengangguk kecil, Hajime membantunya duduk.


"Mimpi buruk?." Yuki melirik seniornya tersenyum lemah.


"Mimpi lama yang terulang kembali." Jawab Yuki jujur.


Ting!.


Hajime kembali memunggungi Yuki, fokus dengan ponsel miliknya.


Buk.


Hajime terkejut, sepersekian detik nafasnya terhenti. Yuki menyandarkan tubuhnya ke punggung lebar pemuda itu.