Futago

Futago
Penolong.



Apa ini, piket?!, kenyataan baru yang tidak bisa aku terima. Sekolah ini adalah salah satu sekolah unggulan bukan, aku yakin mereka mempunyai banyak uang untuk membayar orang kebersihan, di indonesia saja sekolah unggulan yang aku masuki seperti itu, mereka tidak membolehkan siswanya untuk melakukan PIKET, batin Yuki menatap horor sapu dihadapannya.


Ayolah Yuki berhenti membanding-bandingkan, sudah jelas jawabannya sangat berbeda. Yang terpenting sekarang bagaimana caramu menggunakan benda ini, kata Yuki dalam hati, ia berpikir keras.


Haruskah aku mendorongnya? atau menariknya?, pikir Yuki melipatkan tangannya diatas perut. Jika aku tarik bukankah nantinya aku berjalan mundur? terlihat agak aneh. Aku hanya pernah sekali melihat Masa san menggunakan vacuum cleaner mungkin caranya sama, batin Yuki mengangguk mantap.


Yuki meraih sapu menggenggamnya erat, dan mulai mendorong sapu lalu menariknya. Ini bekerja!, seru Yuki dalam hati. Ia terus mengulang gerakan itu seraya maju perlahan, meskipun gerakannya sangat kaku dan terasa tidak nyaman tapi Yuki tetap melakukannya dengan sungguh-sungguh.


"Hachibara san, kamu sedang ngapain?." Yuki menghentikan kegiatannya menegakkan tubuh menoleh menatap Takamoto ketua kelas yang kebetulan jadwal piketnya sama dengan Yuki.


Yuki melihat wajah bengong Takamoto yang menatap tepat ke arahnya.


"Seperti yang kamu lihat, menyapu." Yuki kembali melakukan gerakannya, mendorong lalu menarik, dorong lagi dan tarik seraya melangkah ke depan.


"Ahahaha!." Takamoto tertawa keras membungkuk menahan perutnya, Yuki yang mendapat respon seperti itu kebingungan.


Sepertinya ada yang salah, batin Yuki.


"Maaf Hachibara san aku tidak bermaksud menertawakanmu tapi ahahaa." Takamoto kembali tertawa, jujur saja Yuki kesal melihatnya.


"Maaf. Aku baru melihat ada orang menyapu seperti itu." Ucap Takamoto menutup mulutnya dengan tangan berusaha agar tidak tertawa lagi.


"Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini?." Gumam Yuki, Takamoto mengambil sapu dari lemari dipojok kelas, ia berjalan menghampiri Yuki.


"Tentu saja kamu harus menggerakannya." Jawab Takamoto ikut membantu Yuki namun seseorang memanggilnya.


"Inchou! (Ketua kelas!), guru memanggilmu untuk segera ke kantor."


"Baiklah aku akan segera kesana." Jawab Takamoto melangkah mendekati laki-laki yang memanggilnya.


"Hirogane kun yang lain sudah selesai membersihkan kaca jadi mereka sudah pulang, aku juga sudah membawa semua buku latihan kita ke ruang guru." Jelas Takamoto.


"Sepertinya tinggal menyapu dan mengepel, bolehkah aku meminta bantuanmu?, ah! buang sampah juga." Lanjut Takamoto. Laki-laki yang dipanggil Hirogane itu melirik ke arah Yuki.


"Baiklah." Jawabnya. Takamoto tersenyum lalu memberikan sapu ditangannya kepada Hirogane.


"Terima kasih banyak, aku sangat terbantu." Ucap Takamoto dan berlalu pergi.


Yuki berdiri menatap laki-laki dengan kulit hitam itu, bentuk mata yang sedikit sipit dan tajam berjalan kearahnya. Hirogane menyandarkan sapunya ke salah satu meja, ia menggulung lengan seragamnya keatas. Dan mulai menyapu.


Yuki meletakan tangannya diujung gagang sapu menempelkan dagunya diatas tangan, mata birunya terus memperhatikan Hirogane yang mengayunkan sapu secara teratur mengumpulkan debu-debu dilantai.


Aku sekarang pasti bisa, batin Yuki setelah puas memperhatikan Hirogane. Yuki meniru cara Hirogane menggenggam sapu sampai cara mengayunkan sapunya pun sama. Yang membuat berbeda adalah gerakan tubuh mereka. Hirogane dengan luwes menyapu karena hal itu sudah biasa bagi dirinya sedangkan Yuki bergerak kaku seperti robot.


Hirogane melirik Yuki dan hampir saja ia tertawa kalau tidak cepat-cepat ia tahan. Laki-laki itu menghampiri Yuki membantunya menyapu lantai disekitar gadis itu karena hanya lantai itu yang belum selesai disapu.


Setelah dirasa bersih Hirogane mengembalikan sapu kedalam lemari yang diikuti oleh Yuki dari belakang. Hirogane mengambil ember lalu pergi keluar kelas, Yuki senantiasa terus mengikutinya dalam diam.


Hirogane mengambil air dari kran didepan kelas 2-2 sebelah kelas mereka, disana ada tempat khusus untuk cuci tangan dan mengambil air untuk keperluan bersih-bersih seperti saat ini. Hirogane sejujurnya merasa sangat risih diikuti dan terus dilihat seperti itu oleh Yuki.


Ia membawa ember ke dalam kelas mengambil sebuah pel lalu mulai mengepel lantai. Yuki ikut mengambil pel namun Hirogane memintanya mengembalikan kembali pel ke dalam lemari peralatan.


"Kamu boleh pulang." Kata Hirogane menatap Yuki sebentar lalu dengan cepat membuang wajahnya.


Tentu saja Yuki tidak menurut begitu saja, gadis itu keluar dari kelas berdiri di ambang pintu memperhatikan Hirogane sampai laki-laki itu selesai. Yuki sadar, disini ia harus bisa bersih-bersih paling tidak, bisa menyapu. Yuki sangat fokus mengamati bagaimana cara Hirogane mengepel.


Setelah Hirogane selesai membersihkan pel yang sudah kotor, ia kembali ke dalam kelas mengangkat tempat sampah membawanya turun ke lantai bawah. Yuki segera mengikutinya dari belakang.


"Kamu juga piket hari ini?." Tanya Yuki.


"Tidak." Jawab laki-laki itu singkat.


"Tapi kenapa kamu mau melakukan semuanya tadi."


Mereka berjalan ke luar gedung.


"Karena sepertinya ketua kelas butuh bantuan."


Hirogane menuangkan semua sampah ke dalam tong sampah yang lebih besar lalu mengecek tempat sampah miliknya, jika ada sampah yang tertinggal. Hirogane berbalik hendak kembali ke kelas namun ia berhenti karena Yuki berdiri tepat dibelakangnya.


"Maaf telah menyusahkanmu, ano ... (anu...)?." Yuki berpikir sebentar, Takamoto tadi memanggilnya apa ya?, pikir Yuki.


"Hirogane Yuzu." Ucapnya.


"Maaf merepotkanmu Hirogane kun." Hirogane diam sebentar dan kembali membuang wajahnya kesamping.


"Tidak masalah." Jawab laki-laki itu.


Mereka kembali ke kelas untuk mengembalikan tempat sampah dan mengambil tas mereka. Hirogane menutup pintu kelas setelah megecek semuanya sudah beres. Masih dalam keheningan mereka berdua berjalan menuju loker sepatu.


Hirogane sudah mengganti sepatunya dengan sepatu luar ia bergegas meninggalkan loker.


"Hirogane kun!." Seru Yuki membuat laki-laki itu membalikan badan menatapnya.


"Terima kasih." Yuki tersenyum kecil lalu membungkukan badan sebentar.


Wajah Hirogane mulai berubah merah ia menggaruk hidungnya yang tidak gatal.


"Jya mata ashita (Sampai jumpa besok)." Ucap Hirogane berlalu pergi.


Apa yang aku lakukan tadi .., sampai jumpa besok? besok kan hari libur, bodohnya aku, batin Hirogane merutuki kelakuannya.


***


Zzzz... zzzz...


"Moshi-moshi? (Halo?)."


"Kamu sudah pulang?." Tanya Mizutani.


"Belum, ada apa Mi chan?." Yuki mengurungkan tangannya membuka loker sepatu.


"Syukurlah, tolong kamu ke ruanganku sekarang."


"Hai'."


Yuki mematikan sambungan telepon berjalan kembali ke dalam sekolah.


Ditengah jalan ada sekelompok nyamuk sedang berkerumun menatapnya tajam.


Mereka sepertinya tidak puas dengan aksi mereka dua hari yang lalu, batin Yuki.


"Lihat siapa cewek menjijikan ini?." Ucap salah satu dari mereka.


Enam orang itu memakai baju olah raga pendek khusus musim panas dan masing-masing tangan mereka memegang pom berwarna merah muda berjalan mengelilingi Yuki.


Cheerleader, batin Yuki.


"Ada bau busuk berasal dari sini." Celetuk yang lain.


"Lihat dia diam saja sejak tadi, sepertinya dia bisu, ahaha." Mereka tertawa bersama.


"Kamu tidak boleh mengatainya seperti itu, dia bukan bisu tapi tuli. Hahaha." Lanjut mereka.


Ugh, buang-buang waktu, batin Yuki.


"Ataau ... Dia takut pada kita, hahaha."


Disela-sela tawa mereka seseorang yang berada dibelakang Yuki melayangkan kakinya ke depan mengincar sebelah kaki Yuki, dengan santainya Yuki melangkahkan kaki yang diincar kedepan berpura-pura ingin pergi.


"Sial." Yuki bisa mendengar itu dengan jelas.


Melihat kegagalan temannya mereka bersama-sama merangsek ke depan memojokan Yuki ditengah.


"Mau mencoba menghindar heh, wanita penggoda." Ketua mereka dengan rambut khas panjang bergelombangnya tersenyum mengejek. Yuki hanya berdiri diam tidak berniat meladeni.


"Kenapa tidak main-main dulu dengan kami seperti saat kamu bermain-main di kolam renang, tebar pesona menggoda anak laki-laki." Lanjut gadis itu tangannya terulur dengan cepat ingin menarik rambut Yuki diikuti oleh yang lain.


Gerakan berhenti tiba-tiba dari sang ketua membuat dayang-dayangnya ikut berhenti.


"Senpai kenapa berhenti?." Protes gadis yang berada dibelakang Yuki.


Ke empat gadis itu termasuk sang ketua melebarkan matanya kaget, Yuki dengan tenangnya menodongkan ujung ponselnya dengan layar menghadap ke atas ke leher sang ketua.


"Senpai aku akan menyerangnya." Seru dua gadis dibelakang Yuki mengulurkan tangan mereka.


Yuki semakin mendorong ponselnya ke leher sang ketua.


"Tungg." Sebelum sang ketua menyelesaikan kalimatnya jari Yuki lebih dulu menekan layar ponselnya.


Kedua gadis dibelakang Yuki berhenti dengan tangan diudara. Suara gaduh dari ponsel, suara yang tidak asing bagi mereka terdengar sangat keras, disusul dengan suara dari ke enam orang yang berbeda. Sang ketua berusaha melirik kebawah untuk memastikan, ia melihatnya sekilas.


"Bisakah kalian mundur?." Tanya Yuki datar.


Melihat mangsa mereka memiliki senjata, ke enam perempuan itu bergerak mundur dengan wajah kesal.


Wajah mereka berubah kaku, tubuh mereka juga berubah tegang.


"Tenang saja aku tidak akan menyebarkan video ini." Yuki memasukan ponselnya ke dalam saku bajunya.


"Jangan pernah berpikir untuk mencuri ponselku hanya untuk menghapus video ini, karena itu percuma. Aku memiliki banyak salinannya dirumah." Kalimat Yuki menohok mereka.


Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan, batin ke enam gadis itu.


Dak dak dak dak.


Sekelabat bayangan misterius melewati mereka dengan cepat membuat ke tujuh perempuan itu menatap horor bayangan yang kini tiba-tiba berhenti.


"Senpai!." Teriak Inuzuka. Laki-laki itu berlari kembali mendekati Yuki.


"Senpai bergabung dengan klub cheerleader?. Kenapa?." Tanya nya dengan raut wajah sedih.


"Are?, Eiko san Kaori san?." Inuzuka menatap gadis dibelakang Yuki bergantian.


"Kamu kenal mereka?." Tanya Yuki berjalan menghampiri Inuzuka lalu beralih menatap kedua gadis itu.


"Ung, mereka teman satu kelasku." Jawab Inuzuka.


"Eeh .., begitu ya. Ternyata anak kelas satu." Ucap Yuki dengan nada datar dan raut wajah misterius.


"Kamu bukannya anak kelas sebelah?." Inuzuka menunjuk salah satu gadis yang berdiri disamping sang ketua.


"Ehehe." Gadis itu tersenyum canggung, rona wajahnya berubah merah.


Hmm, tiga anak kelas satu, dua orang satu angkatan dan satu-satunya kelas tiga adalah sang ketua, hatersku lumayan juga. Eh, apa itu?, batin Yuki yang menangkap sorot mata tidak suka dari salah satu diantara mereka.


"Maaf kita harus pergi." Pamit Yuki yang ditatap wajah bingung Inuzuka.


"Dan dia, kami kebetulan berteman." Ucap Yuki menunjuk Inuzuka seraya menatap gadis yang wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.


"Inuzuka ayo kita pergi." Ajak Yuki berjalan meninggalkan kumpulan cheerleader itu.


"Apa maksudnya itu, aku tidak paham apa yang dia bicarakan." Celetuk anggota kelas dua. Tapi tidak dengan yang bersangkutan, gadis itu diam-diam merasa lega.


"Apa kamu pikir dia sedang mengancam kita?." Tanya anggota kelas dua yang lain.


"Tidak." Jawab sang ketua.


"Sakai senpai?." Lirih gadis itu.


"Dia ..." Sakai sang ketua menggantungkan kalimatnya, ia berpikir menerawang menilai orang seperti apa sebenarnya Hachibara Yuki itu.


"Untuk sementara jangan ganggu dia dulu." Titahnya.


"Hai." Jawab junior-junior sakai serempak.


Dilain sisi ada orang yang sejak awal melihat kejadian itu dari tempat tersembunyi.


***


"Senpai, kenapa senpai tidak pergi bersama mereka?." Tanya Inuzuka melirik ke belakang.


"Kenapa aku harus ikut mereka?." Tanya balik Yuki.


"Senpai anggota cheerleader sekarang kan." Sergah Inuzuka melirik senior yang berjalan disampingnya.


"Tidak." Jawab Yuki singkat.


"Eh?! tidak?." Ulang Inuzuka terkejut.


"Tidak." Jawab Yuki menegaskan.


"Tidak?." Ulang Inuzuka lagi, raut wajahnya sedikit berubah cerah.


"Tidak." Sahut Yuki menutup mulutnya dengan tangan menahan senyum.


"Tidak ya." Ucap Inuzuka dengan senyum lebarnya, langkahnya ringan dan sedikit melompat-lompat kecil.


"Senpai tidak akan masuk klub cheerleader .., senpai akan menjadi manajer kami kan." Kata Inuzuka menoleh menatap Yuki dengan wajah k*nyol dan senyum mengembangnya.


"Masih aku pikirkan." Jawab Yuki menghilangkan senyum diwajah Inuzuka. Laki-laki itu menoleh kedepan menatap lurus jalan disana.


"Tidak masalah, aku akan tetap menunggu senpai menjadi manajer kami." Ucapnya optimis.


Yuki tersenyum tulus menatap punggung Inuzuka yang sedikit berada didepannya.


"Inuzuka kun tadi sepertinya kamu buru-buru sekali, ada apa?." Tanya Yuki yang mengingat betapa cepatnya juniornya berlari sampai-sampai hanya terlihat bayangannya saja.


"Ah! tadi aku ada piket kelas dan selesai paling terakhir, jadi aku harus buru-buru agar tidak telat latihan." Jawab Inuzuka dengan polosnya.


"Harus buru-buru." Ulang Yuki mengingatkan, Inuzuka berhenti sejenak menatap seniornya itu.


"Buru-buru?." Ulang Inuzuka.


"Ung, buru-buru." Yuki mengangguk mantap menatap juniornya yang berubah panik.


"Yabaii (Gawat)!, sampai nanti senpai!." Ucap Inuzuka berlari pergi.


"Hahaha, lucu." Yuki tertawa kecil menatap kepergian Inuzuka.


***


Tok tok tok.


Ceklek.


"Maaf, permisi." Ucap Yuki. Kok berasa masuk rumah hantu, batin Yuki menahan senyumnya. Gara-gara bertemu Inuzuka pikiranku jadi ikut nggak jelas, imbuhnya.


"Selamat siang Suzune san." Sapa Yuki, hanya ada Suzune didalam ruangan itu.


"Siang Hachibara san. Kantoku (Pelatih) sudah berada di lapangan sekarang, kamu mau menunggu sebentar?." Tanya Suzune.


"Atau kita ke lapangan saja?." Lanjutnya.


"Mungkin langsung ke lapangan saja Suzune san." Jawab Yuki.


"Baiklah, tunggu sebentar." Yuki menunggu Suzune merapihkan mejanya.


"Ayo kita pergi." Ucap Suzune dengan senyum menawan.


Mereka berdua berjalan masuk ke pinggir lapangan berdiri menunggu Mizutani menghampiri seraya melihat latihan anak-anak baseball.


"Suzune san apakah akan ada pertandingan?." Tanya Yuki. Suzune melirik Yuki sebentar.


"Ya. Sebentar lagi musim panas, sebelum camp pelatihan kami akan mengadakan banyak latih tanding dengan sekolah lain." Jelas Suzune.


"Sepertinya akan menarik." Ucap Yuki.


"Tentu saja, apa kamu sudah tertarik menjadi manajer tim kami?." Suzune menatap Yuki berharap.


"Tidak." Jawab gadis itu cepat. Begitu ya, batin Suzune.


Mizutani melihat Yuki dan Suzune yang berdiri dipinggir lapangan, mereka terlihat asik mengobrol berdua. Mizutani langsung memberi arahan kepada murid-muridnya dan menyerahkan kepemimpinan kepada kapten tim. Ia berjalan menghampiri kedua wanita itu.


"Yuki." Panggil Mizutani.


"Selamat siang Mi chan." Sapa Yuki, Mizutani berkacak pinggang menatap Yuki.


"Sen-sei." Mizutani menekan kalimatnya, Yuki yang baru sadar mereka berada ditempat yang ramai buru-buru membenarkan ucapannya.


"Selamat siang sensei." Koreksi Yuki.


"Baiklah, aku mau minta tolong kepadamu." Ucap Mizutani menurunkan kedua tangannya.


"Hari ini kamu menginap di asrama." Yuki sontak menaikan satu alisnya, tidak paham.


"Di sini ada asrama kecil yang terpisah, dan itu ditinggali Suzune san." Yuki masih menunggu penjelasan lengkap Mizutani.


"Meskipun kecil tapi ada dua tempat tidur kok." Imbuh Suzune.


"Kamu menginaplah bersama Suzune san." Pinta Mizutani.


"Lalu?." Tanya Yuki, itu pasti bukan permintaan yang sebenarnya bukan, batin Yuki.


"Hari ini Suzune akan pergi ke smp di tochigi aku ingin kamu menemaninya, selain itu ada yang ingin aku bicarakan denganmu nanti malam." Jelas Mizutani.


"Aku mengerti." Jawab Yuki.