
Semoga Yamazaki san tidak menyadari keberadaan Yuki, batin Dazai gugup. Dazai tidak tahu siapa dua orang lainnya, ia terlalu sibuk berpikir mencemaskan Yuki.
"Ada apa denganmu?, aku bisa melakukannya sendiri." Kata Yuki lalu melepas baju operasinya.
Dazai bergerak mundur seraya menelan salivanya dengan kasar. Laki-laki itu baru sadar apa yang telah ia lakukan.
"Maaf ojou chan." Tidak ada jawaban membuat Dazai bergerak kaku melepas baju operasinya.
Bagaimana ini, aku harus bagaimana?, gerutu Dazai dalam hati masih mengkhawatirkan Yuki dan Yamazaki.
"Ayo." Ajak Yuki, ia sudah sangat lapar.
"Mm, ayo." Keringat dingin mulai bercucuran.
Ini adalah antara hidup dan mati. Jika Yamazaki mengenali Yuki sudah di jamin tamatlah riwayat Dazai, Mizutani dan Daren akan membunuhnya saat itu juga.
Ooh, kenapa semua ini terjadi secara tiba-tiba.
Dazai berusaha untuk terlihat tetap tenang, Yuki berjalan cuek di sampingnya.
Tenang, tenang, tenang, gumam Dazai dalam hati.
Klik.
Pintu terbuka, Yamazaki segera berdiri menatap manik Dazai sedangkan dua orang yang tadi bersama pria itu sudah tidak ada. Sebelum Dazai semakin dekat berjalan menghampiri Yamazaki suara pintu di buka terdengar dari arah belakang tubuhnya.
Yuki berjalan diantara rombongan para suster yang kebetulan juga meninggalkan ruang operasi, Dazai melirik sebentar lalu menghembuskan nafas lega, ia bersyukur.
"Dazai, bagaimana operasinya?." Sergah Yamazaki setelah Dazai berdiri di hadapannya. Dazai menatap manik Yamazaki.
"Operasinya berhasil, sebentar lagi pasien di pindahkan ke ruang rawat." Jawab Dazai.
"Syukurlah, apa kita bisa bicara sebentar?." Pinta Yamazaki.
"Tentu, mari ikut saya." Jawab Dazai melirik ke sebrang sana. Yuki sudah berbelok ke lorong lain.
Dazai sudah bisa tersenyum sekarang, setidaknya kekhawatirannya sudah hilang.
***
Dazai berjalan cepat menuju kantornya, ia ingin memastikan bahwa Yuki masih ada di sana.
Dazai tidak mengobrol banyak dengan Yamazaki, hanya obrolan ringan. Ia sudah lama meninggalkan kediaman utama tidak ada yang banyak bisa di bicarakan, dan yang masih menjadi rahasia dari semua orang adalah tentang pelindung bayangan. Hachibara Ko kakek si kembar membuatnya secara diam-diam tujuannya adalah untuk diwariskan ke cucu perempuannya dan kini Daren ayah dari cucu perempuannya yang mengambil alih.
Ceklek.
Dazai langsung menerobos masuk, ia menarik nafas lega, gadis yang ia khawatirkan sedang menatap dirinya dengan satu alis terangkat, apalagi mulutnya penuh dengan roti yang belum sempat ia gigit.
Dazai tersenyum, nona mudanya masih sama seperti dulu saat makan, menggemaskan. Dazai melangkah menghampiri mejanya yang penuh cemilan dan roti, ia duduk lalu membuka satu bungkus roti.
"Apa kamu ingin menyembunyikannya?." Dazai melirik Yuki sekilas lalu menggigit rotinya.
"Menyembunyikan apa ojou chan?." Yuki memasukan kembali roti ke dalam mulut.
"Jika kamu mengira aku bisa di bodohi, kamu salah besar Dazai." Dazai tersenyum miring.
"Ojou chan, anda yang terbaik." Dazai kembali memakan rotinya sampai habis.
"Tapi saya tidak bisa mengatakannya." Lanjut Dazai.
"Hm, apa orang itu mengenalku?."
"Uhuk!, uhuk!." Dazai yang sedang minum tersedak memukul-mukul pelan dadanya.
"Dari responmu sepertinya dia sangat mengenalku."
"Uhuk!. Uhuk!!." Dazai semakin keras terbatuk.
Yuki menyangga dagunya dengan tangan, menunjuk Dazai dengan roti di tangan gadis itu.
"Hm, aku tahu kamu tidak ingin aku bertemu dengannya bukan." Dazai mengelap mulutnya dengan tisu di meja.
"Baiklah aku tidak akan bertemu dengannya." Ujar Yuki seraya menggerak-gerakkan roti naik turun.
"Ojou chan." Panggil Dazai.
"Hm?." Dazai menatap wajah datar Yuki yang kembali mengunyah roti.
"Sungguh aku tidak bisa membiarkan kalian bertemu." Yuki membuka kaleng minuman soda.
"Aku tahu, hanya melihat matamu dan mata Mi chan sudah cukup bagiku untuk menilai kalian." Dazai terkejut, apa maksud dari kalimat Yuki?.
"Sesuatu yang besar dan penting sedang terjadi di luar sana, tidak mungkin hanya kecelakaan membuat anak kecil tertembak di waktu dini hari. Kau tahu." Yuki menggantungkan kalimatnya, meletakan minuman soda kembali ke atas meja, Yuki mengurungkan niatnya untuk minum lebih tertarik dengan apa yang akan ia lakukan.
Yuki mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Dazai segera mundur ke belakang namun tangan Yuki lebih cepat menangkap kerah jas dokternya. Dazai menunduk sopan, sesuai posisinya. Tata krama yang selalu diajarkan sejak ia kecil.
Yuki menyentuh leher Dazai dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu turun sampai ke dadanya. Dazai tidak tahu apa yang sedang Yuki lakukan tapi ia juga tidak sopan jika menolak alhasil Dazai hanya diam menunggu.
Hanya beberapa detik tangan Yuki menyentuh Dazai, gadis itu menarik tangannya secara perlahan.
"Irama pernafasan kalian sama." Kata Yuki mendekatkan kaleng soda ke bibir.
"Aku sangat tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang bela diri yang bisa membuat pernafasan kalian seperti itu tapi aku tidak memiliki banyak waktu." Lanjut Yuki kini mencoba meminum soda di tangannya, ia penasaran dengan rasa minuman itu, belum pernah sekali pun Yuki mencoba minuman bersoda, dan hasilnya ia mengerang kaget.
"Aaarrgghh ... Tidak enak. Pahit!." Yuki menekuk wajahnya sedemikian rupa, bahkan tubuhnya merinding horor.
"Aku tidak akan mendekati minuman seperti ini lagi!." Geram Yuki menjauhkan kaleng soda dari hadapannya.
Dazai yang masih terkejut dengan kalimat Yuki sebelumnya kini tersenyum melihat adegan langka itu.
Dazai membuka minuman yang di bungkus dengan kertas tebal berbentuk kotak mengulurkannya kepada gadis itu.
"Minum ini ojou chan." Yuki mengangkat satu alisnya menatap minuman yang Dazai berikan.
"Aku tidak minum susu." Dazai ingin tertawa tapi ia tahan.
"Anda mau minum apa?." Tanya Dazai.
"Lemon tea." Jawab Yuki.
"Tidak ada ojou chan, yang lain saja."
"Lemon hangat."
"Tidak ada."
"Es lemon."
"Tidak ada ojou chan." Yuki menatap kesal Dazai.
"Honey mint lemonade."
"Tidak ada."
"Lemon ginger honey."
"Tidak ada." Yuki mendengus kesal.
"Air putih."
"Baik tunggu sebentar." Jawab Dazai beranjak dari duduknya, Yuki memutar bola matanya kesal. Kalau seperti itu kenapa Dazai menawari dirinya.
"Silahkan air putihnya ojou chan." Ucap Dazai meletakan gelas berisi air putih di depan Yuki.
"Terima kasih, dan jangan coba-coba menawariku lagi." Yuki memberikan tatapan peringatan kepada laki-laki itu.
Sepertinya aku sudah terlalu membuat ojou chan kesal, batin Dazai.
"Ekhem, ojou chan." Dazai melirik kecil.
"Hm?." Yuki kembali memakan cemilan yang lain.
"Bagaimana anda tahu tentang bela diri dan pernafasan itu?." Akhirnya pertanyaan itu keluar juga, Dazai ingin menanyakannya sejak tadi.
"Hanya kebetulan. Jadi, katakan padaku siapa orang tadi?." Dazai menarik nafas panjang.
"Dia adalah salah satu orang yang tinggal di kediaman utama." Yuki mengangguk sekilas.
"Dan dulu aku dekat dengannya?."
"Ya, cukup dekat."
"Dia adalah." Yuki memotong kalimat Dazai.
"Baik itu sudah cukup, terima kasih." Yuki membereskan kekacauan di atas meja.
"Aku harus lanjut, sebentar lagi pagi. Mi chan akan curiga jika aku berangkat telat." Ujar Yuki berlalu meninggalkan kantor Dazai.
Ojou chan, batin Dazai menatap kepergian Yuki.
Setelah percakapan itu Yuki seperti biasanya tinggal sampai jam lima subuh di laboratorium, ia menyelinap pulang diantar oleh Dazai.
***
Hari sabtu tidak ada pembelajaran tapi Yuki tetap berangkat dengan sedikit lesu, ia sudah beberapa kali menguap karena tidak tidur semalaman. Sedangkan Dazai, laki-laki itu sedang tertidur di kamar Mizutani.
"Ohayou Gozaimasu senpai!." Yuki melirik ke samping, mengangguk kecil.
Sakura terlihat sangat bersemangat pagi ini.
"Tidak sabar menunggu hari besok, besok semua tim akan berlatih di pantai yey!." Kata Sakura tersenyum senang.
"Aku tidak mendengar apa pun, kenapa aku baru tahu?." Ujar Yuki, kembali menguap.
"Eh?!, bukankah pelatih sudah mengatakannya saat briefing kemarin." Jawab Sakura menatap Yuki bingung.
"Hm ..?, benarkah."
Sepertinya aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, batin Yuki.
"Jadi, apa besok kita juga tidak libur?." Tanya Yuki.
"Ya, minggu ini kita tidak mendapatkan libur senpai."
Haruskah aku bolos, ada sesuatu yang harus aku kerjakan, batin Yuki.
Setelah mengganti pakaiannya Yuki berjalan ke lapangan B, seperti biasa melihat para pemain yang sedang pemanasan, menilai dan mengamati. Tugas yang diberikan kepadanya setelah berdebat dengan Mizutani.
Selang tidak lama Hajime mengumpulkan semua pemain menyampaikan tugas yang diberikan oleh pelatih.
Yuki pergi menyiapkan minuman, handuk, dan lainnya. Setelah di rasa sudah semuanya Yuki berjalan menuju bullpen (tempat para pitcher berlatih melempar).
"Senpai!." Suara sambutan yang cukup keras. Yuki mengangguk sekilas kepada Inuzuka.
"Senpai, apa kamu mau berlatih bersamaku?." Kini suara pelan menghampirinya. Nakamura berdiri di hadapan Yuki menunduk menatap gadis itu.
"Tidak." Jawab Yuki lalu berjalan melewati laki-laki super tinggi itu.
"Tiga puluh." Jawabnya, Yuki melirik perlengkapan pelindung untuk catcher diatas kursi panjang, tidak ada yang memakainya.
"Boleh aku pinjam itu?." Yuki menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Eh?, untuk apa?." Tanya Kurokawa.
"Aku akan membantunya melempar." Yuki berjalan mengambil perlengkapan, Kurokawa dan pitcher tim B saling melempar tatap untuk sesaat lalu segera menghampiri Yuki.
"Ini berbeda dengan melempar Hachibara san, tanganmu bisa terluka." Ujar Kurokawa.
"Benar, itu sangat berbahaya." Tambah pitcher tak dikenali namanya.
Yuki mengacuhkan dua orang itu mengangkat perlengkapan di depan tubuhnya lalu melirik Kurokawa.
Melihat bagaimana perlengkapan itu terpasang di tubuh.
Yuki memasang perlahan ke tubuhnya, tanpa di sangka Kurokawa yang menentangnya tadi malah kini membantunya memasang semua perlengkapan.
"Sudah." Ucap Kurokawa.
"Terima kasih." Kata Yuki lalu menatap pitcher yang tak di kenal.
"Aku akan menemanimu selama dua jam, mohon kerjasamanya." Ujar Yuki lalu melenggang ke sebrang bersiap di posisinya.
Yuki menguap beberapa kali berusaha mengusir rasa kantuknya.
"Ayo mulai." Ujar Yuki berjongkok memasang kuda-kuda.
Dan selama dua jam itu Yuki menangkap lemparan demi lemparan, terkadang memberikan masukan.
"Senpai!, giliranku!." Seru Inuzuka berlari mendekat.
"Senpai milikku jadi aku yang akan berlatih dengannya."
"Wah, lupa minum obat nih anak." Sahut Inuzuka.
"Senpai!, ayo." Seru Inuzuka lagi.
Yuki menguap menatap pertengkaran kedua pemuda itu. Ia berdiri melepas perlengkapan meletakkannya ke tempat semula.
"Terima kasih." Ucap pitcher tak dikenal.
"Ung, lanjutkan dengan Kurokawa san ya." Yuki berjalan melewati dua orang yang masih sibuk bertengkar.
"SENPAI!." Yuki yang sedang menguap pun terkejut dengan panggilan itu.
"Kudo kun, apa kamu tidak berniat melerai mereka?." Tanya Yuki melirik Kudo yang berdiri mematung di sana.
Laki-laki itu menarik nafas panjang.
"Senpai, ayo berlatih bersamaku." Inuzuka sudah berdiri di depan Yuki.
"Tidak, senpai milikku." Tambah Nakamura.
"Dasar gila, senpai pilih aku kan." Inizuka menatap Yuki penuh harap.
"Sudah aku katakan senpai milikku!."
Plak!.
"Berhenti atau aku tidak akan menangkap lemparan kalian." Kata Kudo dengan nada rendah.
Yuki memanfaatkan momen itu untuk pergi dari sana.
***
Hari yang melelahkan, Yuki sedang berjalan pulang dengan Hajime, ia tidak bisa berhenti menguap langkahnya pun terasa berat.
"Mau aku gendong?." Tawar Hajime yang memperhatikan Yuki sejak tadi.
"Hm?."
"Sepertinya kamu akan tumbang sebentar lagi."
"Ung." Jawab Yuki mengangguk lemah.
"Ayo naik ke punggungku."
Yuki malah terkekeh kecil.
"Rumah kita sudah dekat, tinggal melewati satu rumah lagi sudah sampai." Hajime baru sadar, ia pun ikut tertawa kecil.
"Aku terlambat sepertinya. Lain kali aku akan menawarkan lebih cepat." Ujar Hajime.
Yuki masuk ke dalam rumah, ia tidak langsung masuk ke kamar, ia langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tengah.
Masamune yang melihat tidak biasanya Yuki tertidur di sofa merasa heran, gadis itu selalu mandi setelah pulang latihan. Masamune mendekati Yuki menatap wajah kelelahan gadis itu yang tertidur dengan pulas.
Aroma wangi makanan membuat Yuki membuka matanya, ia meregangkan tubuhnya seraya beranjak duduk.
Tangannya mengusap mata beberapa kali.
Dengan langkah gontai Yuki berjalan menuju tempat asal aroma itu.
"Masa sa .., n." Panggil Yuki dengan suara khas bangun tidur yang terdengar manja di telinga Masamune.
Masamune tersenyum melihat Yuki yang setengah membuka mata duduk di kursi meja makan.
"Kamu sudah bangun." Ucap Masamune, Yuki menaruh kepalanya di atas meja.
"Ung. Lapar." Jawab Yuki lirih.
"Hahahaha, sebentar lagi ya." Masamune kembali sibuk dengan masakannya.
"Hm ..."
"Makanannya sudah siap ayo makan." Masamune menata makan malam mereka seperti biasa, Yuki perlahan mengangkat kepalanya.
"Masa san." Panggil Yuki.
"Hm?." Masamune menarik kursi di sebrang Yuki.
"Boleh pinjam mobilnya?." Masamune menatap Yuki sejenak.
"Apa kamu bisa menyetir?." Yuki menganggukkan kepala, bersiap mengisi perutnya.
"Aku punya sim tapi sim untuk di luar negeri, sim jepang belum punya." Ujar Yuki.
"Mau buat sim jepang?." Yuki mengangguk lagi.
"Aku harus minta izin dulu pada Mi chan." Masamune tersenyum menatap Yuki dengan rambut berantakan dan wajah kusut.
"Kamu terlihat kelelahan Yuki."
"Tidak, aku hanya kurang tidur." Yuki tiba-tiba teringat sesuatu.
"Besok klub akan pergi ke pantai, apa yang harus aku bawa untuk kesana?. Aku belum pernah ke pantai." Tanya Yuki panjang lebar.
"Kamu?. Belum pernah ke pantai?." Masamune menekan setiap kalimatnya.
"Ung." Jawab Yuki mantap.
"Bik*ni."
"Hah!?." Seru Yuki menatap horor wajah Masamune.
"Kamu harus bawa bik*ni kalau pergi ke pantai."
Gila!, seru Yuki dalam hati.
***
Ceklek.
Yuki mengunci kamarnya setelah melakukan rutinitas berendam di kamar mandi. Gadis itu menarik kursi dan menghempaskan pantatnya di sana.
Jari-jari Yuki langsung bergerak tanpa mau diam, seperti biasa ia akan mengecek kegiatan para target. Bagaimana bisa?!, tentu saja dengan menyadap ponsel dan komputer mereka. Je si burung hantu membantu Yuki melakukan serangan penyadapan besar-besaran itu.
"Malam Eva." Je melayang di samping kepala Yuki.
"Malam Je." Yuki sangat fokus melihat ratusan titik-titik merah bergerak-gerak. Titik merah itu adalah musuh yang tersebar di seluruh jepang. Seperti sebuah sinyal.
Yuki mengerutkan keningnya, kejadian besar pasti telah terjadi sampai membuat Yuki mengerutkan kening.
Gadis itu langsung memperbesar sebuah wilayah, menggeser memperbesar lagi lalu menggeser lagi.
"Je mereka sudah mati." Lirih Yuki menatap datar layar komputer.
"Ya Eva, tidak ada titik merah tersisa." Jawab Je.
Yuki sangat terkejut tiba-tiba banyak titik merah yang padam di daerah saitama bahkan titik merah besar yang Yuki tandai sebagai pemimpin musuh pun hilang. Yuki merasa ada kejanggalan, ia langsung memperbesar wilayah osaka, disana juga banyak titik merah yang padam. Yuki menggeser daerah Tokyo, lagi-lagi banyak titik yang padam.
Yuki menatap titik-titik merah tersisa.
"Perburuan." Yuki mengembalikan layar seperti semula. Menatap lamat-lamat peta dan titik merah berkedip-kedip.
"Ada yang mendahului kita Je."
"Kamu tidak suka Eva?."
"Apa yang mereka incar?. Ini aneh, kenapa hanya pemimpin di saitama yang mati. Mereka menyerang Osaka tapi tidak membunuh pemimpin di sana."
"Apa yang mereka rencanakan?." Gumam Yuki otaknya langsung bekerja.
"Je, ini menarik." Ucap Yuki tersenyum miring, jarinya kembali bekerja.
"Apa itu Eva?."
Cetak!.
Yuki menekan tombol enter. Sebuah garis rumit bermunculan di layar. Berhenti di satu titik lalu saling menyambung ke titik lain.
"Hahaha ... Je!, pemburu ini jenius!." Yuki tertawa senang jarinya bermain dengan burung hantu melayang itu.
"Aku tidak pernah melihat yang seperti ini!. Hahaha." Yuki menghentikan tawanya.
"Pemburu ini melakukannya dengan sangat sempurna." Ucap Yuki nada suaranya penuh kekaguman.
"Garis-garis ini." Telunjuknya menyentuh layar Komputer.
"Bukan garis biasa. Jika di lihat, hanyalah seperti garis tidak penting, garis aneh, garis buruk. Tapi Je!." Yuki mengalihkan pandangannya menatap burung hantu itu.
"Garis ini sangat menakjubkan, tidak akan ada yang bisa memecahkan misteri garis ini!. Tentu saja, kecuali aku."