
Mai dengan telaten menjelaskan dan memberikan contoh kepada Yuki cara mengolah chi di dalam tubuh. Meskipun tergolong rumit tapi gadis itu bisa mengikutinya dengan baik.
Jam sepuluh malam, Mai menutup latihan hari ini. Wanita dengan potongan rambut mirip laki-laki itu membungkuk dalam kepada Yuki.
"Mai chan, pandora tutup jam berapa?." Mai menegakkan tubuhnya.
"Sebelas ojou sama." Jawab Mai. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu di berikan akhiran 'chan' oleh Yuki.
"Kalau aku ingin sampai pagi berada di sana apa tidak masalah?." Tanya Yuki.
"Tentu, di sana ada kamar khusus untuk keluarga utama. Tuan besar dulu sering tidak sempat kembali ke kamar pribadinya jika sedang sibuk bekerja. Jarak pandora cukup jauh." Jelas Mai. Yuki setuju, bangunan kamarnya dengan pandora cukuplah jauh.
"Terima kasih Mai chan." Ucap Yuki.
Mengganti baju latihannya dengan gaun tidur tertutup berwarna hitam. Kakinya melangkah memasuki pintu megah pandora.
"Maaf ojou sama." Yuki membalikan badan menatap kedua pelayannya yang masih berdiri beberapa langkah diluar pintu.
"Hanya kepala pelayan dan pelindung yang terpilih bisa memasuki pandora. Pelayan biasa seperti kami di larang memasukinya." Yuki merasa sedikit aneh tapi ia mengerti.
"Baik. Sekarang kembalilah ke kamar kalian, aku akan menginap di sini." Jelas Yuki.
"Kami mengerti ojou sama. Selamat malam." Ucap mereka membungkuk hormat lalu mundur beberapa langkah menunggu Yuki untuk masuk ke dalam pandora lebih dulu barulah mereka pergi.
Yuki di hadapkan dengan aula yang sangat luas dengan keramik bercorak aneh dan tak asing. Kepalanya mendongak ke atas, lampu besar berbentuk bunga es tergentung di langit-langit super tinggi. Balkon-balkon perlantai melingkar indah. Sebelas lantai.
Yuki terkesima dengan kemegahan pandora, maniknya menyapu lantai satu. Banyak kursi sofa tertata rapi, meja pantry panjang dilengkapi mesin jual otomatis, dari minuman hingga berbagai makanan. Seseorang berjalan ke arahnya.
"Selamat datang ojou sama." Yuki melirik kakek tua dengan kaca mata bulat kecil di atas hidungnya.
"Maaf, aku sedang buru-buru tolong bisa tunjukan dimana perpustakaan berada?." Kakek tua itu berjalan menuju salah satu lift.
"Silahkan masuk ojou sama." Yuki memasuki lift melirik jari keriput itu menekan angka empat. Lift berjalan naik.
"Sudah sangat lama, pandora sangat merindukan anda." Ucap kakek tua.
"Benar sekali tuan. Sudah sangat lama sampai banyak yang aku lupakan." Balas Yuki.
"Panggilan anda kepada saya sepertinya juga terlupakan." Yuki membungkuk kecil.
"Maaf. Bisa anda memberitahu saya?." Kakek tua itu tersenyum bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
"Silahkan nikmati waktu anda ojou sama. Jika anda membutuhkan bantuan tinggal hubungi lantai satu menggunakan telefon duduk di atas meja informasi. Saya akan segera datang." Ucap kakek tua membungkuk hormat lalu menutup kembali pintu lift meninggalkan Yuki sendiri.
Bagus, dia mengerti maksudku, batin Yuki yang ingin segera sendirian.
Mengikuti ingatannya Yuki berjalan ke salah satu lorong rak buku raksasa. Sungguh lantai empat ini penuh dengan barisan buku-buku, Yuki menyebrang aula lewat balkon yang melingkar menuju sisi sebrang. Kakinya menuntunnya menuju peta dunia yang tergambar di atas kertas kuno yang sangat langka. Yuki mengamati sebentar, peta itu sama dengan peta dunia pada umumnya. Entah apa yang membuat Yuki enggan berpaling dari peta itu.
Yuki membaca nama-nama kota dan negara di mulai dari benua australia, naik ke atas. Bahkan aliran sungai besar hingga terkecil tak luput dari penglihatannya.
Hampir saja Yuki lupa waktu karena peta dunia itu.
"Je. Lumpuhkan semua penghuni pandora." Lirih Yuki mengalihkan pandangannya dari peta.
"Di konfirmasi." Burung hantu itu melesat pergi.
Yuki berjalan menuju lift. Kakek tua muncul dari balik pintu lift menyambut Yuki dengan senyuman hangat.
"Apa ojou sama ingin menginap di pandora?." Tanya kakek tua.
"Ya, aku ingin beristirahat sekarang." Jawab Yuki berjalan masuk ke dalam lift.
"Kalau begitu lantai sebelas menunggu anda." Kakek tua menekan angka sebelas.
Pintu tertutup, lift itu melesat membawa mereka ke lantai tertinggi.
"Sebenarnya pandora memiliki dua belas lantai." Yuki menoleh ke samping.
"Lantai dua belas adalah salah satu tempat para pelindung berjaga. Sepertinya ojou sama juga melupakan itu." Yuki mengangguk kecil.
Ting!.
Pintu lift terbuka. Kakek tua menuntun Yuki melewati lorong mewah dengan jendela kaca sepanjang sisi pandora. Kakinya berhenti sejenak menatap ke luar kaca.
Yuki dapat melihat bangunan-bangunan lain dari atas sana, ke lima bangunan. Dua bangunan yang tersisa mungkin berada di belakang pandora, Yuki juga dapat melihat batas tanah milik leluhurnya. Sangat luas. Sampai ia berpikir itu tidak adil untuk rakyat jepang lainnya.
Berapa besar pajak yang harus keluarganya tanggung?, pikir Yuki.
"Ojou sama, sebelah sini." Yuki menoleh ke depan.
"Ung."
Yuki melewati dua pintu besar. Mereka berhenti di pintu ke tiga. Kakek tua membuka dua daun pintu secara bersamaan, mempersilahkan Yuki untuk masuk.
"Apa semua orang boleh masuk ke sini?." Tanya Yuki.
"Tidak ojou sama. Hanya keluarga utama yang dapat pergi ke lantai sebelas." Yuki mengangguk sekilas.
Perlahan ia masuk ke dalam kamar yang lebih megah dari kamar pribadinya. Pintu tertutup, Yuki membalikan badan menatap pintu dengan ukiran aneh itu sampai.
Gedebum!.
Suara debuman cukup keras dari luar pintu. Yuki kembali membuka pintu melirik Je yang melayang-layang di depan wajahnya.
"Apa sudah semua?."
"Ya."
"Kemari. Kamu tidak boleh melayang-layang di belakangku." Ucap Yuki membuka tali hitam di pinggangnya, mengikat Je di perutnya.
"Ok. Kamu aman sekarang, ayo kita pergi." Yuki tersenyum menepuk-nepuk perutnya yang terdapat benjolan.
Di sisi lain. Keresahan menyelimuti hati pemuda itu, mengiringinya dalam perjalanan pulang.
Kalimat Yuki terus terngiang di dalam kepala Fumio. Fakta bahwa pujaan hatinya melupakan semua kenangan mereka sudah membuat Fumio jatuh ke dalam jurang gelap, di tambah dengan gadis itu memiliki orang baru di hatinya membuat Fumio seakan jatuh ke dalam jurang tak berdasar.
Tidak ada jaminan memang jika Yuki tidak jatuh hati kepada orang lain karena jarak dan waktu yang tidak sebentar untuk mereka. Tapi!, hey!. Fumio juga laki-laki biasa yang tidak bisa menahan rindu puluhan tahun TIDAK!, BELASAN TAHUN. Fumio tidak pernah menyerah atau pun lelah menjaga dan merawat cinta mereka selama ini. Dia adalah tipe laki-laki setia. Tidak ada wanita lain selain kekasihnya, tidak pernah!.
Ini adalah cobaan terberat selain bersaing dengan para putra keluarga terhormat yang lain, masih ada Takehara Fumihiro yang sekarang mampu naik menjadi calon tunangan Yuki. Apa lagi gadis itu sekarang sulit untuk di tebak, tidak bisa mendekatinya secara sembarangan. Kalimat itu kembali berputar di kepala Fumio.
"Hatiku sudah milik orang lain."
Kenapa Hotaru tidak pernah menceritakan tentang ini kepadanya?. Sahabatnya itu benar-benar tidak setia kawan. Fumio menenangkan dirinya dengan cara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap pintu di hadapannya.
"Aku pulang." Ucap Fumio.
"Eiji. Besok ibu ada pertemuan dengan ibu-ibu bangsawan yang lain. Mungkin sampai siang. Bisa antar dan jemput ibu?." Fumio menghampiri ibunya yang baru keluar dari arah dapur.
"Ung. Tou san? (Ayah?)." Fumio melirik adiknya yang tertidur di gendongan sang ayah.
"Eiji, baru pulang. Adikmu begadang karena besok hari libur katanya." Fumio tersenyum hangat khas seorang kakak, mengusap pelan pucuk kepala adiknya.
"Ayah antarkan adikmu ke kamar dulu." Pamitnya berlalu pergi.
"Eiji." Ada nada khawatir dari suara ibunya.
"Hm?." Fumio menoleh dengan senyum khas yang selalu berhasil membuat ibunya lebih tenang.
"Kamu tahu apa yang akan di bahas di pertemuan besok?." Tanyanya hati-hati.
"Ya, aku tahu." Jawab Fumio kalem.
"Apa kamu baik-baik saja?." Tangan lembut dan hangat itu mengusap sayang kepala putranya.
"Maaf, tentu saja kamu tidak baik-baik saja. Ibu akan memperjuangkan posisi putra ibu sebagai calon tunangan hime chan, tidak ada yang boleh merebutnya." Fumio mengambil tangan ibunya yang berada di atas kepala, menangkupnya dengan kedua tangan.
"Terima kasih. Aku tidak akan menyerah bu, bahkan jika harus melawan seribu musuh sekalipun." Wanita itu tersenyum bangga.
"Kamu benar-benar sangat mirip dengan ayahmu. Ibu jadi ingat betapa gagahnya ayahmu saat menghadapi kakek nenekmu dulu yang menentang hubungan kami. Kamu pantas mendapatkan hime chan Eiji." Pelukkan hangat Fumio dapatkan dari sang ibu.
"Bagaimana hime chan yang sekarang?. Dia pasti tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, periang, cerdas. Ibu merindukan senyuman calon mantu ibu." Fumio tersenyum kecil.
Senyum, ulang Fumio dalam hati. Pasalnya gadis bermanik biru itu kini sangat sulit tersenyum seperti dulu.
"Sejak kapan hime chan kembali ke sini?. Kenapa kamu tidak langsung membawanya pulang?." Wanita itu menguraikan pelukkannya, menatap sang putra.
"Kamu tidak melakukan hal-hal aneh kan kepada hime chan?." Hardiknya.
"Ibu, aku bukan laki-laki yang tidak sopan." Jawab Fumio.
"Syukurlah, takutnya karena rindu kalian yang tidak bisa di kontrol lagi selama belasan tahun ini terpendam, kamu melakukan hal aneh." Fumio mengulas senyum.
"Bu, aku ke kamar dulu." Pamit Fumio memutus pembicaraan mereka. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan ibunya, Fumio tidak ingin berbohong.
"Ung, istirahatlah."
***
Siapa yang bisa membayangkan di balik hutan kecil ini ada pohon-pohon bambu menjulang tinggi, dan siapa yang menyangka di ujung jalan pohon bambu ada empat jalan setapak bercabang. Batu-batu itu memiliki warna yang berbeda, Yuki harus mengambil jalan dengan batu berwarna hitam.
Takut?, tidak. Yuki sudah terbiasa. Ia menikmati perjalanannya. Di ujung jalan setapak ada sebuah bayangan di sinari cahaya bulan, angin malam menerbangkan bunga-bunga sakura dan melewati wajah Yuki.
Akashi yang melihat sosok Yuki segera berlutut memberi hormat. Padahal Yuki tidak sering berinteraksi dengan pria dengan luka gores panjang di wajahnya tapi Yuki merasa senang bisa bertemu kembali dengan pria itu.
"Berdirilah Akashi san."
Suara khas milik nona mudanya membelah keheningan malam. Akashi mendongakkan kepalanya sebelum berdiri.
Sosok Yuki perlahan keluar dari dalam pepohonan. Cahaya bulan memperjelas sosok gadis itu.
Ojou sama!, teriak Akashi dalam hati.
Selama ini ia dan ke enam bayangan lain tidak pernah melihat wajah asli nona muda mereka. Ojou samanya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, kecantikannya sama persis seperti yang di gambarkan oleh buku tua di dalam perpustakaan kediaman utama. Kecantikan sang permaisuri kaisar. Satu yang berbeda, sepasang mata birunya.
"Ojou sama, anda mewarnai rambut anda?." Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut Akashi.
"Apa terlihat buruk?."
"Tidak, itu sangat cocok dengan anda." Yuki semakin mendekat, ia mengedarkan pandangan ke tanah lapang di depannya.
"Tempat ini selalu memberikanku kejutan." Lirih Yuki.
"Ini memang pertama kalinya anda ke sini. Karena jalan batu hitam sangatlah tabu di lewati. Tuan besar melarang siapa pun masuk ke dalamnya." Jelas Akashi.
"Hmmm." Gumam Yuki.
"Mari ojou sama, semua orang sudah menunggu." Akashi mengulurkan satu tangannya ke depan.
"Apa kita akan berlari?." Tanya Yuki seraya menyambut uluran tangan Akashi.
"Saya tidak masalah jika itu keinginan anda." Yuki menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita berlari."
Akashi menyeimbangkan langkah larinya dengan Yuki, tangannya tidak melepas tangan gadis itu, untuk menuntun jalan di malam yang gelap.
Yuki tidak heran jika mereka kembali memasuki hutan, ia tidak tahu mau di bawa kemana tapi sekarang mereka sedang menuruni bukit. Jalanannya sangat terjal, tidak ada lampu, sangat jauh dari pemukiman. Akashi berhenti di bibir tebing.
"Kita akan terjun ojou sama." Yuki menjulurkan lehernya untuk melihat ke bawah.
Tebingnya sangat tinggi, air di bawah juga sangat deras, banyak bebatuan runcing. Di sebrang tebing terdapat air terjun besar. Yuki lebih mengamati dinding tebing.
"Apa ini semacam film hollywood?." Tanya Yuki. Benar juga, jalan hidupnya mirip dengan film dari amerika itu.
"Tuan besar yang membuatnya, ilmuan geografi tidak main-main dalam segala pembuatan." Jelas Akashi.
"Maukah anda naik ke punggung saya?." Yuki melirik sekilas Akashi.
"Jika aku melompat sendiri sudah di pastikan bebatuan dan arus yang mengamuk di bawah sana menyambutku dengan tangan terbuka." Akashi tertawa kecil dengan candaan Yuki.
"Kalau begitu mari. Saya akan mengantar anda dengan selamat."
Yuki menaiki punggung Akashi melingkarkan lengannya di leher pria itu, menjapit pinggang Akashi dengan kedua kakinya. Yuki bisa menebak Akashi akan membawanya melompat ke bawah dan Yuki tidak ingin terlepas dari gendongan Akashi karena masih sayang nyawa.
Dengan santai Akashi berlari dua langkah ke depan dan, melompat!. Yuki merasakan dinginnya angin serta suara gemuruh dari air terjun. Akashi benar-benar membawanya terjun bebas.
Grep!.
Tangan kirinya berpegang pada batu yang menonjol. Ini kesempatan Yuki untuk mengamati tebing itu. Maniknya bergerak cepat di setiap sela-sela bebatuan. Tubuh Akashi bergelantungan.
"Wow jebakan." Akashi tersenyum lebar.
"Anda memang sangat jenius ojou sama. Tuan besar menyiapkan banyak jebakan di tebing ini. Bahkan di dalam air terjun di belakang kita." Yuki tertarik ingin mempelajari jebakan seperti apa yang di buat oleh kakeknya.
"Hanya ada tiga pegangan yang benar di setiap lima meternya." Yuki mengamati pegangan yang Akashi cengkeram.
Tidak berbeda jauh, batin Yuki lalu menemukan sebuah tanda aneh di samping batu itu. Tandanya tidak jelas karena di sela-sela bebatuan menjorok ke dalam.
Wooosshh.
Akashi melepaskan tangannya. Yuki melihat kumpulan jebakan yang di tanam acak dalam waktu singkat itu.
Grep!.
"Apa ada hewan aneh di sungai itu?." Yuki penasaran. Akan menarik jika ada buaya di bawah sana.
"Para ular." Yuki melirik wajah Akashi.
"Tuan besar memelihara mereka setelah selesai memasang jebakan." Jelas Akashi.
"Kenapa bukan buaya?." Yuki jarang sekali protes sekalinya protes malah tentang dua predator itu.
"Hahaha, ojou sama kalau buaya akan repot jika mereka berkembang biak semakin banyak. Selain itu mereka juga butuh berjemur, lebih berbahaya jika mereka berjemur di ujung sungai." Yuki tidak setuju dengan gagasan Akashi.
"Lebih mudah ular ojou sama. Tempat tinggal mereka hanya ada dua lubang, mereka tidak bisa mencari tempat tinggal lain. Tunggu sebentar." Ucap Akashi lalu melepas lagi tangannya.
Wooosshh.
Grep!.
"Anda lihat tebing di sisi kanan kita?, jauh di bawah." Ucap Akashi setelah kembali mencengkeram batu ke tiga.
Yuki mengikuti jari telunjuk Akashi. Pria itu sejak tadi turun hanya menggunakan satu tangan. Apa Yuki terlalu ringan untuk Akashi?.
"Listrik ... Tenaga air." Lirih Yuki pada akhir kalimat.
"Benar. Ular-ular itu tidak kuat dengan listrik. Jika mereka mencoba kabur dari sungai melewati pembatas itu listrik tegangan tinggi akan menyetrum mereka sampai gosong." Yuki segera menoleh ke kiri, di sana ia melihatnya juga.
"Jika mereka merambat naik, mereka akan di cincang kecil-kecil." Yuki merasa jijik.
"Di tebing sebrang kita juga banyak jebakan, hanya saja jebakan di air terjun itu berbeda."
"Jika ada orang yang tidak sengaja jatuh ke bawah sana dan masih hidup. Mereka akan menjadi santapan ular atau tersetrum." Yuki menyimpulkan.
"Ya dan tidak." Jawab Akashi.
"Hm?."
"Kalau orang itu bisa lolos dari ular-ular ia akan hanyut di bawa arus. Listrik itu hanya di buat khusus untuk ular."
"Bukankah masalah juga jika mereka berkembang biak semakin banyak."
"Ular di bawah sana kanibal ojou sama. Mereka dapat memakan sesama spesies. Dengan pasokan makanan yang langka mereka akan saling membunuh." Yuki kembali di buat jijik.
"Untuk keamanan markas bayangan."
"Eh?!." Yuki terkejut dan saat itu Akashi melompat ke bawah sedikit miring.
Wooosshh.
Grep.
Bruk!.
Akashi memegang bibir atas lubang batu sempit dan melontarkan tubuhnya ke samping. Yuki terperangah, baru kali ini ada yang bisa membuatnya setakjub dan sekagum sekarang. Akashi melangkah ke depan sedikit, menurunkan Yuki di tempat yang aman.
"Ojou sama?." Akashi menahan senyum melihat wajah bengong Yuki.
Apa ini apa ini apa ini?!, jerit Yuki dalam hati. Dua puluh meter di bawah tebing, pegangan terakhir tidak lurus dengan gua, mereka miring!. Gua ada di jarak empat puluh senti di samping pegangan, jika orang mengira mereka di jalan yang benar dan terjun tanpa pikir panjang mereka hanya akan melewati pintu gua. Tidak tidak tidak, pintu gua lah yang menakjubkan. Dia menghadap ke samping!, bukan ke depan seperti gua pada umumnya. Dari tebing sebrang tidak akan terlihat ada gua di sini, apalagi hanya dapat di lewati oleh satu orang. Oh ya ampuuunn, kakek!. Kenapa tidak mengajariku!, Yuki heboh sendiri di dalam pikirannya.
Gadis itu terdiam karena kalimat terakhir. Ia tidak pernah bersama kakeknya, mungkin. Di dalam ingatannya sekarang.
"Ojou sama?." Ulang Akashi.
"Kakek sangat luar biasa." Komentar Yuki.
"Dan itu menurun kepada anda dan waka." Tambah Akashi.
"Jadi?, kemana lagi kita?." Tanya Yuki sangat antusias.
"Kita masuk ke dalam ojou sama."
Yuki mengekori Akashi. Di sekitar pintu gua sangatlah gelap sampai mereka berbelok ke kiri ke dalam dinding tebing. Lampu berbentuk nyala obor menyala di sepanjang jalan.
"Aku berasa sedang masuk ke dalam markas penyihir di dalam film-film." Akashi lagi-lagi tertawa mendengar lelucon Yuki.
"Ojou sama, berapa banyak film yang anda tonton?." Yuki menjawab dengan cepat.
"Tiga."
"Sedikit, anda tidak suka menonton film?." Tanya Akashi mengambil jalan ke kanan.
"Tidak ada waktu." Singkat, padat, menohok Akashi. Padahal nona mudanya masihlah remaja.
Akashi berbelok ke kiri melewati lorong di depannya. Mereka semakin masuk ke dalam jantung gua. Yuki kira akan menemukan pintu batu seperti di film kuno yang pernah ia tonton ternyata bukan. Kakeknya menggunakan pintu baja. Akashi melakukan serangkaian sandi tanpa menggunakan tato klan di tangannya.
Ddzzzsssttt.
Pintu terbelah dua, lampu terang langsung menerjang manik Yuki.
"OJOU SAMA!." Teriakan familiar menyambut meriah Yuki. Gadis itu sedang menyesuaikan matanya dengan cahaya.
Akashi melangkah masuk lebih dulu membalikan badan menghadap Yuki.
"Ojou sama." Panggil Akashi lalu bersujud menundukkan kepalanya.
Yuki sudah berhasil melihat dengan jelas. Di dalam aula tidak terlalu besar yang mewah itu ke sembilan bayangan berlutut kepadanya. Sosok tinggi, tegap, yang sangat tegas berdiri tersenyum kepadanya.
"Selamat datang di markas asli bayangan. Yuki." Sambut Daren dengan wibawa dan kharismanya.
"Apa ayah melompat dari tebing sendiri?." Daren terkejut dengan pertanyaan acak dari putrinya.
"Ya." Yuki berjalan menghampiri Daren melihat dari atas ke bawah secara sengaja.
"Dengan pakaian seperti ini?." Tanya Yuki, pasalnya Daren memakai baju kebanggaannya, apalagi kalau bukan. Kemeja, celana bahan, jas, dan dasi yang selalu melekat di lehernya.
"Ya. Ayah tidak sempat mengganti baju." Yuki menatap manik biru Daren yang lebih gelap darinya.
"Bukankah kakek sangat jenius. Kakek mampu membuat ini semua. Itu sangat gila!." Ucap Yuki dengan nada riang dan wajah berbinar, dan senyum indah merekah, manik birunya terlihat menyala.
Daren dan Mizutani serta Dazai, bahagia bisa melihat raut wajah yang dulu setiap harinya menghiasi wajah Yuki dan sejak puluhan tahun lalu sempat menghilang, mereka baru melihatnya lagi sekarang.
"Kamu menyukainya?." Tanya Daren.
"Ung!. Sangat." Jawab Yuki mantap.
"Kamu boleh melihat-lihat setelah tujuan kita selesai." Kata Daren. Yuki menaikan satu alis dan menoleh kepada para bayangan.
"Baiklah, sepertinya ini akan serius." Daren memberikan kode untuk para bayangan berdiri.
"Senang bisa bertemu dengan kalian lagi." Sapa Yuki.
"Senang anda dalam keadaan sehat-sehat saja." Balas Mizutani. Yuki tersenyum, ia juga menoleh kepada Dazai.
"Baik. Kita mulai rapatnya." Setelah mendengar perkataan Daren seluruh bayangan mengambil tempat masing-masing. Mizutani menarik kursi seraya membungkuk, Yuki paham di sanalah tempatnya.
Ia berjalan melewati Daren dan duduk di kursi sebelah kanan. Daren dengan kharismanya duduk di kursi kebesaran tempat ketua para bayangan berada. Suara Daren menggema membuat Yuki kembali mengakui bahwa ia terpesona dengan kharisma dan wibawa ayahnya, meski dulu ia membencinya. Bagaimana dengan sekarang?, kebencian itu terpangkas setelah ia mengetahui kebenaran yang terjadi.
"Yang pertama, saya akan membuka rahasia yang selama ini saya simpan." Semua orang mendengarkan dengan khidmat.
"Hachibara Yuki mendapatkan hukuman dari Hachibara Ayumi." Yuki melebarkan matanya, ia tidak menyangka ayahnya akan memberitahukan kepada mereka semua.
Suara terkesiap dan terkejut lolos dari mulut para bayangan yang tidak mengetahuinya. Geraman aneh samar-samar terdengar dari para bayangan namun ada satu orang yang dengan jelas dan lantang menyuarakan kemarahannya.
"Kaaauu ... Bocah. Apa yang kalian lakukan kepada putri kalian sendiri!. Daren ..!. Kau tidak lupa kami di buat untuk ojou sama bukan. Ayah mertuamu menitipkan cucunya kepadamu!, baj*ngan!." Kejadian sangat cepat sampai Yuki tidak bisa berkutik karena terkejut.
SRUUUUAAAKK!!.
BRUUUAAKKK!!!.
Keadaan ruangan itu sangat kacau. Mizutani menahan tubuh kakek Ryuu yang menerjang ke depan, Dazai menahan Akashi, sedangkan Daren menahan Hiza di sebelah kirinya dan Ame di sebelah kanannya. Chibi bergerak cepat di lantai dari sisi kiri meliuk-liuk melewati kursi yang berserakan, Ogura bergerak bagaikan angin, mereka mengincar satu orang. Daren!.
"Je!. Lumpuhkan. Shoot!." Mizutani dan Dazai yang paham kepada siapa perintah itu ditujukan mencuri pandang ke arah Yuki yang masih duduk di tempatnya.
ZEB!.
ZEB!.
BRUK!.
BRUK!.
Semua orang terkejut, tiba-tiba dua rekan mereka jatuh ke lantai, diam tidak bergerak. Sebuah mainan melayang di tengah meja menghadap satu-satunya orang yang berdiri diam.
"Apa kau juga ingin menyerang ayah?." Nada suara Yuki dingin. Jojo bingung melihat mainan itu.
"Hiza san, jauhkan pisaumu. Ame san." Teguran dari Yuki menghentikan sedetik gerakan keduanya namun tidak dengan niat mereka.
"Je, mode tempur. Shoot."
Je bertransformasi sangat cepat, tidak membutuhkan waktu satu detik untuk berubah.
Dor!.
Dor!.
Dak!.
Dak!.
Peluru meluncur cepat di samping telinga Hiza dan Ame, menabrak pintu baja di balik punggung Daren. Semua orang terkejut kecuali Mizutani dan Dazai. Daren menatap serius putrinya yang menatap ke arah lain.
"Jika ada satu bayangan saja yang bergerak. Peluruku akan menembus kalian." Yuki masih menggunakan nada dinginnya.
Yuki menoleh ke ujung meja di sebrangnya, menatap lurus manik kakek Ryuu.
"Mereka bergerak karena anda bergerak. Bahkan mereka tidak repot-repot menatap Tsuttsun yang jelas-jelas pemimpin bayangan di sini. Betapa mereka sangat menghormati anda, kakek Ryuu." Udara berubah dingin.
"Yuki. Yang sopan. Maaf Ryuu san, Yuki tidak mengingat anda." Setelah Daren menegur Yuki ia meminta maaf kepada kakek Ryuu.
"Ayah," kalimat Yuki di potong oleh Daren.
"Jauhkan mainanmu itu." Titah Daren.
"Tidak, mereka masih tersulut emosi mana mungkin aku menarik Je."
"Haruskah aku menembak kepala mereka, Yuki?."
Benda itu bisa berbicara!, seru para bayangan. Daren menatap Je tidak suka.
"Para bayangan tidak akan mencoba menyerangku lagi. Jauhkan dia." Yuki menggerakkan telunjuknya menyuruh Je mendekat.
"Tetap waspada di sampingku Je." Daren menghela nafas melepaskan kunciannya pada Hiza dan Ame.
"Kakek Ryuu, anda lihat sendiri. Ojou sama tidak main-main selama ini." Lirih Mizutani menarik perhatian orang tua itu dari burung hantu Yuki kepadanya.
"Ojou sama membuat alat mengerikan lagi?." Tanya kakek Ryuu tidak kalah lirihnya.
"Ya, saya harap anda mendengarkan penjelasan Daren dono dengan tenang." Kakek Ryuu diam-diam menghapus air matanya di sudut mata dan kembali duduk.
Melihat kakek Ryuu yang duduk bayangan yang lainnya pun kembali ikut duduk dan membungkuk sangat dalam kepada Daren sebelumnya.
"Maaf, saya tahu kalian sangat kecewa kepada saya. Tapi saya tidak ada alasan untuk menyangkal betapa saya tidak becus menjaga Yuki." Mendengar penjelasan itu dan melihat ayahnya yang membungkuk sembilan puluh derajat membuat Yuki tidak rela.
"Ayah!, ini bukan salahmu. Berhenti membungkuk." Ucap Yuki sarkas.
"Tidak Yuki, semua ini salah ayah karena tidak bisa menghentikan ibumu." Yuki mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Berhenti menyalahkan dirimu. Yang salah di sini adalah aku." Daren terkejut, ia menegakkan tubuhnya menatap Yuki. Pandangan gadis itu lurus ke depan.
"Yuki sangat marah, Yuki kesal, Yuki sedih. Ayo kita pergi dari sini, tinggalkan orang jahat yang menyakitimu." Celotehan Je melunturkan emosi Yuki, gadis itu menarik nafas panjang mendorong kepala burung hantu Je, gemas.
"Aku pastikan akan menghapus fitur pembaca raut wajah milikmu Je." Lirih Yuki. Je kembali melayang mendekat.
"Tidak. Jangan. Tidak." Yuki kembali mendorong Je.
"Kembali ke mode normal."
"Di konfirmasi." Je kembali menjadi bentuk burung hantu mini biasa.
"Ayah."
"Yuki."
Mereka saling memanggil bersamaan.
"Aku ingat semua penyerangan ke dua. Jadi tolong, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting aku masih hidup sekarang, untuk membalas dendam kepada BD." Yuki berdiri menarik kursi kebesaran Daren lalu membungkuk sopan.
"Kita sedang rapat." Yuki mengingatkan dengan senyum tulus di wajahnya.
Sampai kapan pun ayah tidak akan menang menyerang iblis itu, ayah hanya orang biasa yang berlatih di dojo, batin Yuki.
Daren berjalan mendekat, mengecup singkat pucuk kepala Yuki.
"Terima kasih putri ayah." Bisik Daren lalu mendaratkan dirinya duduk di atas kursi. Yuki kembali ke kursinya sendiri.
"Je, tembakan penawar." Tiga detik kemudian Chibi dan Ogura bisa bergerak dan ikut duduk, kembali ke kursi mereka.
"Setelah Ayumi dan saya memutuskan meninggalkan kediaman utama karena merasa sudah tidak aman, kami tinggal di tokyo selama enam bulan. Para bayangan selalu menjaga jarak dengan Ayumi setelah di bentuk bukan, menghindari kecurigaan Ayumi, jadi kalian tidak ada di tempat penyerangan ke dua malam itu." Daren mulai menjelaskan.
"Penyerangan malam itu sangat besar sampai pelindung yang kami bawa gugur semua. Rin, adik Fumihiro yang lolos dari sekapan yakuza menemukan kami dan membantuku menyerang musuh. Ayumi melindungi Yuki agar tetap berada di dalam kamar." Daren menoleh untuk menatap putrinya.
"Di saat musuh hendak menebas leherku Ayumi datang dengan katananya. Ia membereskan semua musuh yang tersisa. Aku pikir dari sanalah Ayumi hilang akal dan menghukum Yuki yang keluar dari kamar. Tapi aku salah." Daren menarik nafas panjang.
"Kamu mengingatnya?." Tanya Daren, Yuki mengangguk lemah.
"Apa kamu masih membenci ibumu?." Yuki membuang wajahnya memutus kontak mata dengan Daren. Daren kembali menatap para bayangan.
"Ayumi menceritakan alasannya melakukan itu setelah kami pindah ke indonesia." Daren menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Malam itu pemimpin klan naga putih sedang mengawasi gerak-gerik Yuki lewat jendela di kamar. Sebenarnya dia tidak tahu siapa pembuat alat itu, skenario ayah sudah benar, tapi karena anak laki-laki yang dia cari sudah menghilang dia tidak sengaja melihat Yuki sedang bersama Ayumi dan aku. Mengikuti kami, sambil meyakinkan yakuza untuk menyerang besar-besaran lagi. Malam itu hanya anggota yakuza yang menyerang kami sedangkan BD, mengamati dari luar. Dia menyadap telepon duduk di dalam kamar untuk menguping pembicaraan Ayumi."
"Yuki mengatakan hal yang seharusnya di sembunyikan, Ayumi berusaha menenangkannya bahwa aku dan yang lain tidak akan terluka. Tapi Yuki yang dulu paling tidak suka dengan kekerasan, dan trauma dengan luka sayatan sangat ketakutan dan terus meracau untuk menggunakan alat yang ia buat. Hal itu di dengar oleh BD." Daren tidak suka menceritakan ini.
"BD menelfon telfon di dalam kamar itu. Dia tertawa keras dan memberitahukan keberadaannya kepada Ayumi. Mereka bertengkar hingga sebuah kesepakatan terjadi." Daren diam sebentar.
"BD yang sudah siap menyerang dan merebut Yuki di halangi oleh Ayumi dengan mengunci jendela dari dalam. Tapi BD dengan licik merayu Yuki dengan alat penyadap berbentuk korek dan pisau lipat dengan bermacam-macam bentuk. Yuki yang tertarik di cegah oleh Ayumi. BD sudah memutuskan akan menyerang saat itu juga dan saat itulah Ayumi mengajukan kesepakatan. BD harus menahan tidak menyerang Yuki sampai ia menghabisi orang-orang di luar. Setelah itu Ayumi dengan senang hati akan melawan BD."
"Tepat ketika orang terakhir yang ditebas oleh Ayumi telah tewas Yuki keluar dari dalam kamar. Ayumi yang menyadari BD sudah menyuruh anak buahnya. Dua penembak jarak jauh." Daren melirik Yuki.
"Yang di arahkan kepadaku dan Ayumi. Ayumi memutuskan untuk menghapus ingatan Yuki. Ayumi tidak ingin ingatan mengerikan malam itu dan kenangan-kenangan yang berkaitan dengan klan memicu kenangan malam mengerikan bagi Yuki, jadilah ia menghapus semuanya kecuali saat ia bermain di taman kanak-kanak dengan teman barunya."
Yuki jadi mengingat Tiara.
"BD yang tidak tahu tentang hukuman masih belum memberikan perintah menembak, untungnya dia juga tidak menyadap telephon yang lain jadi dia tidak bisa mendengar percakapan kami." Daren menegakkan punggungnya. Menatap satu persatu para bayangan.
"Setelah proses eksekusi hukuman selesai Ayumi dengan cepat menembak BD, dan menendangku keluar dari bidikan. BD terluka di jantungnya, dia memerintah anak buahnya untuk menahan tembakan karena Ayumi sudah mengunci kepalanya. Satu gerakkan saja peluru Ayumi bisa menembus kepala BD."
"Namun BD bertanya kepada Ayumi apa yang terjadi dengan Yuki. Ayumi menjawab dengan jujur. Hal itu membuat BD tidak bisa lagi mengincar Yuki. Sebelum Ayumi sempat melepas pelurunya anak buah BD sudah membawa kabur pemimpin mereka." Daren kembali menoleh menatap putrinya. Yuki tahu, tanpa Daren menceritakannya pun Yuki sudah ingat. Itulah yang sering membuatnya stress berkepanjangan.
"Yuki."
"Hm." Gadis itu enggan membalas tatapan ayahnya yang ingin membela Ayumi meski itu benar, tapi Yuki masih belum bisa memaafkan Ayumi.
"Karena alasan itulah ibumu merubah sikapnya kepadamu. Dia takut jika tidak melakukannya akan memancing hukuman itu bereaksi. Yuki, Ayumi juga tersiksa. Aku sudah mencoba membujuknya untuk tidak mengkhawatirkan itu, hukumanmu tidak akan aktif hanya karena sikap hangatnya kepadamu, tapi Ayumi sangat keras kepala. Ibumu selama ini menyesal, Yuki ib,"
"Ayah!." Yuki menghentikan Daren.
"Para bayangan yang kakek banggakan sedang menangis. Ayah hibur mereka dulu." Ucap Yuki. Daren mengalihkan perhatiannya.
Benar saja. Mereka menangis dalam diam. Tubuh mereka bergetar.
"Ini bukan salah kalian. Kalian melakukan tugas dengan benar." Ucap Daren.
Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk. Bruk.
Semua orang meninggalkan kursi mereka dan bersujud kepada Daren meminta ampun telah lancang menyerangnya, bahkan Mizutani dan Daren yang baru mendengar cerita lengkapnya pun merasa bersalah karena telah membenci Ayumi.
"Kalian tidak perlu melakukannya. Berdiri, ingat tujuan kita malam ini." Titah Daren. Tidak ada yang berani menyangkal atau pun berbicara. Semuanya diam.
"Bagaimana dengan Rin?." Tanya Yuki yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama.
"Apa maksudmu?."
"Kenapa ayah mempekerjakannya di paviliun?." Daren paham.
"Saat Ayumi menendang ayah untuk menjauh dari bidikan Rin juga menarik ayah. Ayah memberikan kesempatan kedua untuknya." Jawab Daren. Tangannya mengusap kepala Yuki.
"Apa kamu membenci Rin karena dia menyukai Eiji?." Yuki memutar bola matanya.
"Aku tidak mengingatnya, tidak ada hubungan dengan orang itu." Jawab Yuki ketus.
"Baiklah ayah mengerti." Ucap Daren menarik tangannya, kembali ke topik pembahasan.
"Yuki sudah melewati hukuman tingkat ke tiga, dan sekarang dia tidak mudah mengingat seperti sebelumnya." Raut haru dan bersyukur terlihat jelas di wajah para bayangan kecuali Mizutani dan Dazai yang sudah mengetahui hal ini.
"Tidak pernah ada yang melewati tahap ke dua hukuman bahkan nenek Yuri dan kakek Go juga mengatakannya. Yuki bisa bertahan sampai sekarang adalah keajaiban."
Hening.
"Sekarang kalian sudah tahu kondisi Yuki. Kita langsung ke inti rapat." Semuanya mengangguk serempak.
"Seharusnya di usiamu yang ketujuh belas ayah melakukannya. Yuki, penobatanmu sebagai ketua bayangan akan di lakukan sekarang."
Note : Maaf ya buat para readers, autor lagi drop sejak beberapa hari yang lalu. Author sebenarnya gampang drop nggak kayak orang-orang😅. Maaf kalau mengecewakan lagi, ini author cuman bisa up satu bab tapi lebih dari 4800 kata kok. Maaf ya, terima kasih yang masih mau baca karya author.