
Brak!.
Yuki menoleh ke arah Hotaru setelah saudara kembarnya itu membanting komputer yang sedang ia gunakan.
"Wah sudah gila. Aku susah-susah merenovasi komputer ini sesuai keinginanku malah di banting." Agung duduk di lantai meratapi komputernya.
Hotaru membalas tatapan Yuki dengan berbagai emosi yang ia pendam.
"Jangan bermain komputer lagi, berhenti membuat dirimu dalam bahaya. Kamu mengerti tidak sih apa yang aku katakan?." Geram Hotaru khawatir, takut, kesal, bercampur aduk menjadi satu.
Yuki diam menatap saudara kembarnya.
"Kalian bertengkar?." Tanya Agung santai setelah komputernya di hancurkan.
"Hotaru tenangkan dirimu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan." Fumio berdiri menutupi Yuki dari pandangan Hotaru.
"Aku tahu kamu sudah menahan diri selama ini, tahanlah sebentar lagi. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Fumio mencoba menenangkan Hotaru.
Fumio tentu saja tahu, Hotaru selalu keras kepada dirinya sendiri, bersabar menjalankan semua beban berat itu demi saudari kembarnya, rela menukar nyawanya demi sang adik. Tapi sikap Yuki yang sangat sulit di luluhkan membuat Fumio tidak menyalahkan jika Hotaru frustasi dan kadang ingin melepaskan jiwa pewarisnya untuk membuat Yuki mengerti. Perkelahian di ruang rapat pun Hotaru tidak benar-benar mengincar Yuki.
"Kamu butuh istirahat, kita kembali." Ujar Fumio. Hotaru mengusap kasar wajahnya.
Tanpa mereka sadari gadis di belakang sana sudah berdiri lalu berjongkok di samping Agung. Sepersekian detik pria itu tersungkur di lantai, kedua matanya tertutup.
Yamazaki dan Fumihiro berjalan cepat hendak menghalangi Yuki namun gadis itu beranjak berdiri seraya menoleh kepada kedua pria itu memberikan tatapan dingin yang tenang, membekukan kedua pria itu sampai tidak berani bergerak.
Puk.
Fumio yang merasakan tepukan di pundaknya menoleh ke belakang mendapati raut wajah Yuki yang lebih dingin dari saat gadis itu melawan Rin. Fumio bergerak pelan ke samping karena di dorongan oleh Yuki.
Hotaru melihatnya, raut wajah yang tidak ia suka terpasang di wajah saudari kembarnya. Yuki tidak menatap manik Hotaru, gadis itu menatap lurus dada pemuda itu.
Lusi bergerak gelisah, apa yang akan di lakukan kedua cucunya.
"Yuki, nak. Maafkan saudara kembarmu, benar kata Fumio kun, kita butuh istirahat. Ayo kita keluar dari sini." Bujuk Lusi.
"Kita selesaikan disini Hotaru. Apa yang kamu inginkan dariku?." Suara datar sedingin es itu memenuhi ruangan.
"Jangan ikut campur masalah BD." Jawab Hotaru tanpa ragu.
"Dan membiarkanmu menjadi incaran mereka lagi lalu mati?." Balasan Yuki sangat tajam dan pedas.
"Aku tidak akan mati." Hotaru menahan gejolak ingin mengintimidasi Yuki.
Fumihiro segera menghampiri Lusi yang hendak ambruk ke belakang, menuntun wanita tua itu duduk di sofa.
"Kamu melarangku ikut campur, berapa nyawa yang akan kamu tumbalkan untuk melindungiku?." Tanya Yuki.
"Tidak ada, karena para pelindung sudah berlatih lebih keras dari pelindung-pelindung sebelumnya." Jawab Hotaru.
"Kalau begitu selama aku koma sampai sekarang, apa saja yang sudah kamu dapatkan tentang klan naga putih?." Tantang Yuki, Hotaru hanya bisa menatap bulu mata lebat Yuki dari atas.
"Lokasi markas mereka seperti yang kamu lihat di peta. Kami juga sedang mengerahkan semua orang termasuk merekrut hackers profesional untuk bekerja kepada kami." Jawab Hotaru.
"Tidak cukup. Buat aku percaya dan yakin untuk menyerahkan kasus BD ini, setelah itu aku akan menuruti semua yang kamu mau." Sergah Yuki.
"Tunggu saja, aku pasti akan melakukannya." Hotaru berniat menggerakkan tangannya menyentuh kepala Yuki namun urung mendengar balasan saudari kembarnya.
"Menunggu?. Itu terlalu lama. Seingatku kakek buyut akan bergerak cepat jika ada yang terjadi pada klan." Semua orang memilih mendengarkan perdebatan serius keduanya.
"Kamu mengingatnya?." Tanya Hotaru.
"Aku tidak akan menunggu untuk masalah ini." Srobot Yuki. Kepalanya bergerak ke atas menatap mata coklat yang berbagi rasa sakit dengannya.
"Aku sudah memiliki semuanya. Apa yang kamu janjikan tidak sebanding dengan apa yang aku miliki." Hotaru bisa melihatnya. Keteguhan, kejujuran, keberanian dari sorot mata biru itu.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?, apa yang membuatmu sangat keras kepala?." Lirih Hotaru, ia kalah dengan Yuki, ia tidak bisa tegas kepada saudari kembarnya. Ia tidak bisa melukai belahan jiwanya sendiri.
"Karena aku lah yang membuat semua masalah ini."
Lusi mengatur nafasnya yang mulai sesak mendengar percakapan keduanya.
"Aku lah yang membunuh para pelindung, aku yang membunuh ayahnya." Yuki menunjuk tepat ke arah Fumio tanpa melepaskan pandangannya dari manik Hotaru.
"Aku yang mendorongmu berkorban atas kesalahan yang tidak kamu lakukan, aku yang membunuh kakek, aku yang membunuh kak Dimas, aku yang menghancurkan hati ayah, aku membuat nenek menangani klan, bekerja tanpa istirahat. Kebodohanku yang memaksa iblis itu menanamkan hukuman klan pada tubuhku, aku juga yang membunuh Rin meski tahu fakta yang sebenarnya. Keluarga ini berantakan karena, AKU. Aku menghancurkan klan ini. Dan buruknya lagi, kamu yang membereskan semua kehancuran yang telah aku buat." Hotaru memegang lengan Yuki berharap Yuki berhenti.
Gadis itu ikut mengangkat tangannya meremas lengan Hotaru.
"Aku juga memiliki hati, perasaan yang sama denganmu. Aku tidak ingin kamu terluka lagi, aku tidak ingin ada yang terluka karenaku lagi. Apa kamu mengerti?. Hotaru?. Aku hanya ingin menebus kesalahanku yang tidak akan pernah bisa merubah kehancuran yang sudah terjadi. Aku tidak bisa menghidupkan mereka yang sudah pergi, aku tidak bisa mengobati hati yang tersakiti karena kebodohanku." Yuki akhirnya mengatakan apa yang selama ini ia pendam sendiri.
"Yuki." Panggil lembut Hotaru.
"Bahkan kata maaf tidak ada artinya lagi, aku tidak pantas di ampuni."
GREP!.
Hotaru memeluk Yuki sangat erat, memegang kepala gadis itu untuk bersembunyi di dadanya, seakan Hotaru mengatakan 'aku ada di sini, aku akan melindungimu'. Yuki menggaruk punggung Hotaru mencengkeram baju belakangnya.
"Aku tidak akan membiarkan iblis itu mati di tangan BD untuk menebus kesalahannya kepadaku." Hotaru membeku. Ia jelas-jelas mendengar kalimat Yuki, suara saudari kembarnya sangat lah jelas.
Hotaru mengendurkan pelukkannya untuk menatap wajah lesu Yuki.
"Apa maksudmu?."
"Ya, aku tahu tujuan iblis itu. Aku tahu apa yang iblis itu bicarakan dengan om Ronggo. Di antara aku dan iblis itu, harus ada yang mati, jika ingin semua ini berakhir. Dan aku tidak akan membiarkan dia pergi kepada BD untuk bunuh diri. Iblis itu milikku, aku yang akan membunuhnya." Ucap Yuki.
Hotaru bisa merasakan perasaan Yuki yang sebenarnya dari kalimat itu, ia tentu saja terkejut tapi saat ini saudari kembarnya membutuhkan dirinya. Hotaru menangkup wajah Yuki, menatap mata yang sangat kesakitan itu tanpa bisa mengeluarkan air mata. Hotaru rindu Yuki yang tidak ragu menangis dan berlari ke arahnya.
Hotaru mengecup kening Yuki menghentikan kalimat-kalimat yang akan keluar dari bibir adiknya. Mengecup kedua kelopak matanya, kedua pipinya, dengan perasaan berkecambuk menyakitkan di dalam sana. Ia menempelkan dahi dan hidung mereka.
"Untuk melakukannya ada dua hal yang aku perlukan." Yuki menggerakkan tangannya naik, merambat ke leher Hotaru dan berhenti di pipi sebelah kanan.
"Ajari aku membaca garis-garis itu." Hotaru menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku akan membantumu dalam kasus ini, aku akan membiarkanmu menjadi pemimpinnya, tapi tidak dengan garis-garis itu." Tolak Hotaru.
"Aku sangat menyayangimu sungguh, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku, kita berbagi tempat dan makanan sejak di dalam perut. Jadi, aku akan melindungimu seperti aku melindungi nyawaku. Selain itu, semua ini bukan karena kesalahanmu. Kamu hanya anak balita empat tahun, yang suka bermain di laboratorium kakek. BD lah penjahat yang sebenarnya di sini." Hotaru kembali memeluk Yuki erat-erat.
"Kamu benar-benar tidak akan mengajariku?." Tanya Yuki lagi.
"Tidak." Jawab Hotaru tegas.
"Kalau begitu biarkan aku melihat ingatanmu." Hotaru mengerutkan dahinya.
Lusi sedang menghapus air matanya dan terhenti karena kalimat yang di ucapkan Yuki.
Apa Yuki akan melakukan sesuatu seperti yang Jun Ho lakukan?, batin Lusi langsung mengingat pria korea itu.
"Fumio kun. Hentikan Yuki sekarang." Titah Lusi dengan nada rendah.
Setelah perintah itu di berikan Fumio langsung bergerak cepat menuju kedua saudara kembar yang masih berpelukan. Tanpa mengurangi kekuatan tenaganya ia mendorong Hotaru ke samping hingga terlempar menabrak dinding menghentikan kontak mata Yuki yang terasa janggal.
Grep.
Fumio menangkap tangan gadis itu yang berada di udara, tangan yang hendak melakukan sesuatu kepada Hotaru.
"Eiji!. Apa yang kamu lakukan?!." Jerit Hotaru. Bagaimana bisa orang yang selalu memperhatikan Hotaru agar tidak terluka tiba-tiba melukainya.
Apa yang Eiji pikirkan?, batin Hotaru beranjak berdiri.
"Yuu." Yuki melebarkan matanya.
Panggilan itu selalu membuat Yuki merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya, dan Yuki tidak suka.
"Lihat ingatanku." Suara berat yang tidak kasar juga tidak terlalu lembut terdengar maskulin seperti pemiliknya. Yuki menarik kasar tangannya. Gadis itu melirik tangan mereka.
Cekalan Fumio tidak kasar dan tidak kuat tapi kenapa Yuki tidak bisa melepasnya.
"Yuu." Panggilan itu refleks membuat Yuki menoleh mencari sepasang mata besar dengan iris berwarna hitam kecoklatan.
Yuki berhenti memberontak. Manik itu tidak mengunci maniknya, tapi kenapa manik Yuki enggan untuk melepaskan pandangannya. Seperti air kolam, tenang, sejuk, hampa udara, yang mampu membuat seluruh kulitnya merasakan air itu.
"Lihat ingatanku." Ulang Fumio.
Yuki mengerutkan kening. Isi di dalam kepalanya kembali meraung memaksanya mengingat sesuatu.
"Ayahku gugur dengan terhormat dan penuh kebanggaan. Kami para pelindung merasa bangga jika nyawa kami berguna untuk membantu keluarga utama. Pikiran yang kolot memang, karena kita hidup bukan di jaman pemberontakan." Yuki tiba-tiba berubah jadi anak kucing yang penurut.
"Aku akan membujuk Hotaru, tapi kamu juga harus menjelaskan kepadanya kenapa kamu memerlukan untuk bisa membaca garis-garis rahasia sang pewaris." Fumio melepaskan tangan Yuki perlahan.
"Kalian harus mulai terbuka lagi, tanpa ada yang di sembunyikan. Untuk kesuksesan kasus ini." Fumio menekan lembut pada kalimat terakhirnya.
"Laki-laki yang selalu dapat diandalkan. Aku heran bagaimana caramu mengambil hati Yuki sampai saudari kembarku selalu mendengarkanmu." Ujar Hotaru berjalan menghampiri Fumio memukul punggung pemuda itu cukup keras.
Bugh.
Fumio terdorong sedikit ke depan.
"Arigatou." Lanjut Hotaru setelah paham apa yang di lakukan Fumio untuknya.
"Maaf, aku tidak menahan tenagaku tadi." Ucap Fumio.
"Ya, hampir saja tulang-tulangku remuk." Balas Hotaru memegang siku lalu penggungnya.
"Uhuk!."
Hotaru dan Fumio melebarkan matanya langsung menatap Yuki yang sudah menutup mulut dengan tangan. Darah merembes di sela-sela jari gadis itu.
"Apa yang kamu ingat?. Jangan mengingatnya, pikirkan hal lain." Srobot Hotaru memegangi pundak Yuki.
"Hanya batuk biasa." Ujar Yuki sekenanya, ia mengelap darah di bibir dengan punggung tangan, dan menjauhkan tangan Hotaru darinya.
"Yuki, nak." Yuki menoleh kepada Lusi yang berjalan tertatih-tatih ke arahnya.
Yuki memberikan senyum manis menghampiri Lusi menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Lihat, batukku berhenti. Hanya batuk biasa nek, jangan memasang wajah sedih seperti itu." Yuki memeluk sekilas Lusi.
"Apa yang kamu ingat?." Tanya Lusi khawatir.
"Pertemuan keluarga yang aneh, di tempat terbuka. Hanya itu. Sekarang sudah tidak mengingatnya lagi." Jawab Yuki tidak sepenuhnya jujur.
"Benar?." Yuki menganggukkan kepalanya.
"Ayo turun, tinggalkan orang aneh itu. Dia akan bangun besok siang." Ajak Yuki kepada Lusi.
"Kamu ini." Lusi membiarkan Yuki menuntunnya keluar dari kamar.
***
Pelayannya mengantarkan makan siang ke kamar satu menit yang lalu. Yuki sedang merangkai sandi baru yang terakhir, gara-gara si Agung Yuki langsung menyusun ulang sandi-sandi keamanan jaringan miliknya, menyesuaikannya pada Je.
Cetak.
Selesai!, Yuki beranjak dari dua buah komputernya menikmati makan siang, lalu berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri setelah begadang.
Yuki mengeringkan rambutnya, waktu membacanya berkurang banyak hari ini. Gadis itu mengerutkan kening, lagi-lagi ia melewatkan sesuatu. Tangannya segera menyisir rambut dengan cepat mengambil asal sepatu di lemari memakainya sambil berlari kecil.
Sret.
"Ojou sama, hati-hati." Pekik terkejut dua pelayan Yuki mendapati nona mudanya berlari seraya kesulitan memakai sepatu.
"Ojou sama." Keduanya ikut berlari mengejar gadis itu.
Yuki berlari menuju dojo, mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Yang ia dapatkan adalah Sayuri bersama teman-teman satu angkatannya. Yuki beralih menuju barak. Gadis itu langsung memelankan langkahnya menatap ke sekeliling.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?." Tanya Yuki.
Kedua pelayannya mendekat dengan nafas memburu.
"Beberapa keluarga terhormat yang tinggal jauh dari kediaman utama pagi tadi sudah sampai. Mereka akan ikut serta dalam pesta pembukaan calon pemilihan tunangan baru anda ojou sama." Yuki diam, mencerna penjelasan pelayannya.
"Kapan pesta pembukaan diadakan?." Yuki melihat wajah-wajah asing berada di barak, kakinya berjalan pelan mencari seseorang.
"Dua hari lagi."
"Tolong jelaskan bagaimana pemilihan calon tunangan berjalan?." Tanya Yuki yang tidak tahu menahu soal ini, seharusnya Lusi memberitahunya lebih dulu jika acaranya di percepat menjadi dua hari lagi.
"Di pesta pembukaan, para calon tunangan akan memperkenalkan diri kepada ojou sama. Hari berikutnya ada penilaian bela diri dan penilaian kecakapan mengolah bisnis. Malam harinya akan ada penilaian dari Lusi sama dan waka. Hari ke dua calon yang lolos dari penilaian tadi malam berhak menghabiskan waktu dengan anda dari pagi sampai sore hari." Penjelasan yang panjang.
Aku hidup di zaman apa?, batin Yuki.
"Bagaimana kalau yang lolos lebih dari satu orang?." Tanya Yuki berjalan semakin dalam ke barak.
"Anda yang menentukan waktunya, dan seberapa lama, semuanya terserah anda ojou sama." Jawab pelayannya.
"Ojou sama, apa anda mencari waka?. Beliau ada di sisi utara barak." Yuki menoleh ke kanan.
"Para tamu akan tidur di mana?." Yuki penasaran.
"Di bangunan paling selatan adalah tempat khusus untuk menjamu tamu yang ingin menginap. Tapi banyak yang memilih menginap di hotel dekat sini ojou sama." Yuki melirik Will yang sedang menemani seseorang berpedang.
"Berapa banyak keluarga terhormat yang tinggal jauh dari sini?."
"Tiga kepala rumah tangga ojou sama. Tiga dari mereka karena menikah dengan orang asing."
Pantas saja laki-laki yang berbincang dengan Hotaru memiliki rambut pirang terang, batin Yuki.
"Aku tidak mencari Hotaru, di mana orang," Yuki menggantungkan kalimatnya kala manik biru itu menemukan orang yang ia cari.
Kedua pelayan Yuki merasa aneh karena nona muda mereka menggantung kalimatnya. Mereka saling melempar tatap lalu bersamaan mengikuti arah pandang nonanya.
Apakah ojou sama cemburu?, batin keduanya.
Mereka mendapati pemandangan Fumio yang sedang berbicara ramah dengan gadis berambut pirang panjang bergelombang bak putri bangsawan eropa. Kulit putih, hidung yang sangat mancung, bibir tipis, dan pipi yang tirus bak pahatan seniman. Usianya terlihat lebih muda dari nona mudanya.
Mereka terlihat sesekali tertawa, gadis itu akan sedikit menunduk seraya menutup mulutnya dengan tangan yang tergenggam anggun. Pekikan kecil terdengar kompak dari lantai dua, mereka saling melempar tatap kala melihat nona mudanya menengadah ke atas. Kedua pelayan itu mengangguk kecil ikut mencuri-curi pandang ke lantai dua.
Tiga perempuan yang usianya terpaut tidak berjauhan sedang berkasak-kusuk menatap ke arah Fumio lalu ke arah tuan muda mereka dan beralih kepada Morioka yang sedang berlatih.
"Siapa mereka?." Tanya Yuki membuat keduanya mengakhiri aksi mereka.
"Mereka adalah putri-putri dari ke tiga keluarga terhomat yang datang pagi tadi, ojou sama." Jawabnya.
Trang!.
Wush!.
Set!.
Grep!.
Yuki menggerakkan kecil tubuhnya menghindar untuk menangkap pedang yang terlempar ke arahnya. Pekikan terdengar dari gadis-gadis di lantai dua dan dari belakang Yuki.
"Ojou sama, anda baik-baik saja?." Tanya pelayan Yuki terkejut.
"Agh maaf!, apa kamu baik-baik saja?." Seru seseorang berlari ke arah mereka, melihat itu kedua pelayan Yuki mengambil dua langkah mundur.
"Tangkapan yang bagus. Maafkan kesalahanku, apa kamu terluka?." Suaranya terdengar sangat ramah dengan aksen barat.
Si pelaku menunggu respon gadis yang hampir ia lukai karena terlalu fokus adu pedang dengan si kecil Will. Gadis itu masih membelakanginya, memegang pedang yang ia gunakan tadi.
Tanpa mengatakan apa pun gadis itu membalikan separuh tubuhnya memberikan pedang itu dengan wajah datar yang terlihat angkuh namun anggun tidak!, tapi penuh pesona, ugh! bagaimana dia menafsirkannya.
"Yuki!." Si pelaku terkejut dengan teriakan sang pewaris yang sudah kembali sejak satu tahun lalu.
"Waka, maaf apa gadis ini saudari kembar anda?." Tanyanya setelah Hotaru sampai di hadapannya.
"Ya, Sam. Dia Yuki kembaranku." Jawab Hotaru.
"Akh. Maaf, saya sempat tidak mengenali anda. Perkenalkan saya Kumori Sam, putra dari Kumori Todo." Sam langsung memperkenalkan dirinya, siapa yang menyangka pertemuannya dengan putri klan seromantis ini.
Akhirnya gadis itu membalikan badan dengan sempurna, menghadap ke arahnya membungkuk kecil. Setiap gerakkan dari gadis itu terlihat sangat anggun. Seperti terbang ke atas langit namun tiba-tiba di jatuhkan. Putri klan tidak membalas perkenalannya atau pun menegur kesalahannya, gadis itu langsung menghadap ke arah Hotaru mengabaikan dirinya.
Yuki berjinjit kecil, Hotaru yang mengerti segera menurunkan tubuh tingginya.
"Aku pinjam temanmu sebentar." Ucap Yuki lalu mengecup singkat pipi Hotaru.
"Aku pulang malam." Pamit Yuki setelah itu menghampiri kedua pelayannya tanpa menunggu jawaban Hotaru.
"Tolong katakan kepada Fumio san aku menunggunya di halaman depan." Pelayannya langsung membungkuk mengerti.
"Tolong siapkan mobil sekarang." Titah Yuki kepada pelayan satunya. Mereka membungkuk dan langsung bergegas.
Yuki berjalan santai meninggalkan barak tanpa melirik ke kanan dan kiri. Seratus persen mengabaikan tamu-tamu yang berada di sana.
Seorang pelindung sudah berdiri di samping mobil menunggu nonanya masuk.
"Berikan kuncinya padaku, aku akan membawanya sendiri." Pinta Yuki mengulurkan tangan.
"Tapi ojou sama, saya."
"Tidak apa, aku yang menyetir." Srobot suara dari belakang Yuki.
"Baik tuan, silahkan." Pelindung itu memberikan kuncinya kepada Fumio lalu berlari kecil membukakan pintu di samping kemudi untuk Yuki.
Tanpa mengatakan apa pun Yuki berjalan memasuki mobil. Fumio menatap Yuki sekilas lalu ikut masuk ke dalam mobil.
Mobil hitam mewah itu bergerak meninggalkan kediaman utama. Fumio memecah kesunyian diantara mereka.
"Mau kemana?." Tanyanya.
"Rumahmu." Jawab Yuki membuat Fumio terkejut dalam ketenangannya dan membuat keributan di jantungnya.
"Dokumen penting tentangku dan keluarga utama aku ingin melihatnya." Lanjut Yuki setelah jeda cukup lama.
"Baik ojou sama." Yuki tertegun sebentar.
Apa-apaan orang ini, kadang memanggilnya formal, kadang penggilan kecilnya, Yuki sempat di buat berpikir sebentar namun gadis itu segera mengenyahkannya. Ada yang lebih penting untuk di pikirkan.
Rumah yang pernah tidak sengaja ia datangi kini Yuki kembali ke sana. Fumio berjalan memutar hendak membukakan pintu mobil namun Yuki tolak dengan mengangkat satu tangannya.
Yuki keluar dari mobil mengikuti Fumio masuk ke dalam rumah besar itu. Fumio berjalan ke lantai dua membuka salah satu pintu berwarna putih. Yuki berhenti, ia ragu untuk masuk.
"Ruang kerjaku ada di dalam kamar." Ujar Fumio yang melihat Yuki berhenti di depan pintu.
Tanpa menjawab apa pun Yuki masuk ke dalam kamar. Kamar yang sangat besar, tiga kali lipat dari ukuran kamarnya. Televisi besar tergantung di dinding samping ranjang king size, lemari tinggi panjang menempel di sisi lain dinding, jendela kamar juga menjulang tinggi, sofa lembut ukuran jumbo berada di tengah-tengah sebagai pembatas antara ranjang dan ruang kerja yang menarik perhatian Yuki. Rak-rak buku yang tertata rapi, ada meja kerja besar mirip dengan milik Daren dan sebuah laptop dan telepon duduk.
Fumio sudah menghilang entah kemana tanpa Yuki sadari, kakinya berjalan menuju salah satu rak, membaca judul-judul buku.
"Anda tertarik, ingin membacanya?." Suara itu membuat Yuki menoleh ke samping.
"Saya sudah meletakan dokumennya di atas meja." Lanjut Fumio karena Yuki tak kunjung menjawab.
Gadis itu berlalu ke meja kerja, melihat lima tumpukan dokumen. Tangannya segera mencari dokumen yang ia cari lewat judul buku.
Fumio sedikit terkejut kala Yuki mengabaikan dokumen tentang gadis itu dan memilih dokumen garis keturunan keluarga Hachibara.
"Nona!, jangan lari. Berbahaya!." Jeritan histeris tiba-tiba terdengar dari luar kamar.
"Onii chaaaann, Ai tidak mau makan. Hiks!." Kaki kecilnya terus berlari masuk ke dalam kamar yang tidak tertutup namun seorang pelayan menangkapnya dari belakang.
"Lepaskan!, onii chan. Ai tidak mau makan wortel. Icchan memaksa Ai." Adu gadis cilik itu meronta-ronta di gendongan pelayan.
"Nona, jangan ganggu tuan. Tuan sedang ada tamu." Pelayan itu berusaha membuat Ai mendengarkannya.
Ai membulatkan mata kala melihat gadis yang berdiri di belakang meja kerja kakaknya.
"Onee chaaan ..!, tolong Ai. Wortel itu mengerikan." Adu gadis itu kepada Yuki.
"Turunkan Ai, aku sedang tidak sibuk." Pelayan yang mendengar perintah Fumio segera menurunkan gadis cilik penuh energi itu.
"Onee chaan!." Bukannya berlari menghampiri Fumio Ai malah berlari menghampiri Yuki.
Hup.
Dalam sekali hentakan Ai sudah berada di dalam gendongan Yuki. Melihat itu pelayan menundukkan kepalanya.
"Bawakan makan siang Ai ke sini." Titah Fumio.
"Baik tuan." Pelayan keluar dari kamar.
Yuki menarik kursi kerja Fumio, duduk di sana sambil memangku Ai di atas pahanya.
"Onee chan sedang bekerja?." Tanya Ai melihat Yuki membuka buku biru tebal.
"Onee chan sedang membaca, tidak bekerja Ai chan." Yuki mengusap pelan kepala Ai.
Gadis itu dengan nyamannya sudah bersandar di dada Yuki sesekali mendongak untuk mencuri pandang ke arahnya.
"Kenapa Onee chan sangat mirip dengan anak kecil di video?." Yuki meladeni Ai tanpa kehilangan fokus dari dokumen yang ia baca.
Jika hanya meladeni gadis cilik itu waktunya akan terbuang sia-sia. Kalau bisa keduanya kenapa harus memilih salah satu.
"Karena anak kecil itu adalah kakak." Jawab Yuki.
Membuka halaman selanjutnya, terpampang jelas nama kaisar pertama di paling atas, di bawahnya nama sang permaisuri, lalu ada garis cabang lain dan itulah nama selir kaisar. Tidak ada garis lagi, benar-benar hanya nama sang selir tanpa keturunan.
Yuki melirik empat buku yang lain. Pasti ada kisah tentang sang selir yang di tinggalkan bukan, pikir Yuki.
"Onee chan, adalah Yuu?." Suara Ai kembali terdengar setelah terjeda cukup lama.
"Ung. Ai chan, pernah mendengar dongeng penyihir dan gadis cilik yatim piatu?." Tanya Yuki yang tidak berselera membahas masa kecilnya.
"Belum." Jawab polos gadis cilik itu.
"Mau kakak ceritakan?." Tawar Yuki.
"Ung!." Jawab semangat Ai.
"Kalau begitu, sambil mendengarkan Ai chan harus makan." Ucap Yuki melihat pelayan itu kembali ke kamar.
"Ung!." Yuki tersenyum kecil mengusap pucuk kepala Ai lembut lalu beralih kepada pelayan itu.
"Tolong letakan makanan Ai chan di sini." Pinta Yuki sopan.
"B baik." Pelayan itu dengan rasa gugup yang melanda menaruh makan siang Ai di dekat dokumen tanpa melirik dokumen tersebut karena itu sangat tidak sopan.
"Terima kasih." Ucap Yuki yang membuat pelayan Ai salah tingkah.
"S saya undur diri nona." Pamit pelayan berjalan keluar dari kamar.
Yuki mengambil makanan Ai meletakkannya di sisi meja sebelah kanan, tangan kirinya meraih dokumen lain.
"Jadi .., di jaman dahulu saat para naga masih hidup, berdirilah tiga kerajaan yang saling bersiteru karena perebutan wilayah." Yuki mulai menceritakan dongeng yang pernah ia baca dari sebuah buku yang pernah ia ceritakan kepada anak-anak panti.
Tangan kanan Yuki mulai mengambil nasi mendekatkannya ke mulut mungil Ai. Gadis itu dengan patuh membuka mulutnya padahal ada wortel di dalam nasi itu namun sepertinya Ai tidak protes lagi.
Yuki melirikkan matanya membaca garis keturunan keluarga selir kaisar. Mulut Yuki terus bercerita, kedua tangannya berjalan tidak sinkron mengerjakan pekerjaan masing-masing, maniknya sesekali melirik bibir mungil Ai lalu beralih ke dokumen.
"Biar aku saja." Yuki melirik tangan Fumio yang sudah memegang mangkuk Ai.
"Ai, buka mulutnya." Fumio menyuapi adik tirinya itu.
Yuki tidak mempermasalahkan Fumio yang duduk di sampingnya dengan kursi yang entah dari mana. Ia memfokuskan untuk bercerita dan membaca.
"Anak yatim piatu itu menangis keras melihat seekor naga berwarna putih berdiri gagah tepat di hadapannya." Yuki mengernyitkan kening kala melihat nama kakak dari selir kaisar.
Aku pernah membaca nama ini, batin Yuki.
"Penyihir jahat membujuk penyihir baik untuk membunuh sang raja naga, mengambil kekuatan tak terbatas dari naga yang tidak lain adalah naga putih yang sudah berteman dengan anak yatim piatu."
Fumio tersenyum melihat Yuki yang terus bercerita namun fokusnya tertuju kepada dokumen, adiknya juga terlihat senang dengan cerita itu sampai tidak sadar makanannya sudah habis. Fumio memberikan minum kepada Ai.
Apakah kelak mereka akan menjadi keluarga harmonis seperti yang terjadi sekarang?, batin Fumio membersihkan sudut-sudut bibir Ai.
"Dengan bantuan dari penyihir baik, anak yatim piatu itu melindungi raja naga dari penyihir jahat." Yuki membalik kertas.
"Ojou sama, Ai sudah tidur." Ucap Fumio.
Yuki menghentikan ceritanya menunduk ke bawah untuk melihat wajah malaikat kecil yang tertidur di atas pangkuannya.
"Maaf, biarkan saya memindahkannya ke ranjang." Yuki mengangguk kecil. Melihat itu Fumio mengambil tubuh Ai secara perlahan dan hati-hati dari Yuki.
Yuki melihat bagaimana luwesnya Fumio menggendong dan meletakan adik tirinya di atas ranjang. Untuk sejenak kepalanya kembali terasa aneh namun Yuki cepat-cepat fokus ke isi dokumen, mengabaikan sesuatu yang mengganggunya.
"Apa anda menemukan sesuatu?." Tanya Fumio.
"Tidak banyak yang bisa aku temukan di sini." Jawab Yuki jujur.
"Anda mencari tahu silsilah selir kaisar?." Yuki mengangguk kecil.
"Tidak banyak informasi tentang selir kaisar. Di sana hanya tertulis nama ayah, ibu, dan dua saudara selir." Kata Fumio.
Yuki menutup semua dokumen, ia tidak berniat membaca dokumen yang lain. Saat ini pikirannya ada di perpustakaan.
"Keluarga terhormat yang tinggal di luar negeri, kenapa mereka tidak berlatih di dojo?." Yuki menanyakan pertanyaan acak kepada pemuda itu.
"Karena mereka bukan pelindung, mereka hanyalah keluarga terhormat yang membantu mengatasi urusan klan dari luar. Meski begitu mereka juga belajar jenis bela diri klan dari kepala rumah tangga masing-masing." Jawab Fumio.
"Terima kasih, aku sudah selesai. Permisi." Ucap Yuki berjalan begitu saja keluar dari kamar Fumio setelah membungkuk sopan kepada pemuda itu.