
Setelah kembali dari stadion Yuki di seret ke kantin asrama oleh Mizutani, tentu saja gadis itu menolak, ia berkelit seperti seekor belut di dalam air. Bahkan Mizutani dipaksanya menggunakan bela diri agar bisa menangkap Yuki, untunglah adegan itu tidak ada yang melihatnya. Setelah memeras keringat, otak, dan tenaga akhirnya pria itu berhasil menangkap Yuki. Perjuangan yang panjang.
Semua anggota klub baseball berkumpul di kantin, memperhatikan Mizutani, Suzune, dan seorang senior kelas tiga sebagai juru bicara mengulas pertandingan mereka tadi sampai ke hal terkecil. Yuki yang terjebak di samping Mizutani tak bisa berbuat apa-apa, padahal para manajer berdiri di pinggir pintu kenapa dirinya malah disana.
"Kalian tahu kesalahan kalian hari ini?, jika kalian sudah tahu itu sudah cukup. Perbaiki lagi kesalahan kalian dan jangan berpuas diri dengan hasil hari ini. Mengerti?." Pidato penutupan Mizutani mengakhiri meeting itu.
"Hai! (Ya!)." Seru mereka serempak.
Yuki diam-diam melangkahkan kakinya menuju pintu keluar namun sangat di sayangkan baru dua langkah dehaman keras membuatnya terdiam. Yuki berdiri tegap membalikan tubuhnya seraya tersenyum manis, senyum yang ia buat-buat.
"Pelatih, meetingnya sudah selesai bukan. Saya ada janji lain, permisi." Ujar Yuki, baru saja ia setengah membalikan badan suara Mizutani membuatnya kembali berbalik.
"Yuki."
"Hm?." Yuki mengangkat satu alisnya dengan senyum yang sama.
"Kembali." Apakah rayuan gadis itu tidak mempan?.
"Baik." Jawab Yuki, bukannya berjalan ke depan ia malah berjalan ke belakang.
Tangannya terulur memegang handle pintu. Saat ia hendak membukanya Mizutani menyilangkan tangan di depan dada tanpa melepas tatapannya dari gadis itu.
Yuki sedikit memiringkan kepala seakan mengirimkan kata bujukan agar ia boleh pergi dan Mizutani melirikkan maniknya ke kumpulan anak-anak klub seraya mengedikkan kepala ke samping.
Yang benar saja?, gerutu Yuki dalam hati.
Gadis itu untuk pertama kalinya setelah kepergian Hotaru mengernyit kesal yang di balas Mizutani dengan mengangkat kedua alis pria itu. Yuki melepas handle pintu lalu memutar bola matanya malas, ia berjalan kembali ke tempatnya.
Baiklah, kamu menang Mi chan. Selamat, gerutu Yuki dalam hati yang terpancar dari matanya. Mizutani tersenyum puas.
Tak disangka Ryou menahan keinginannya untuk tertawa keras melihat tingkah manajer dan pelatih mereka. Tidak hanya Ryou semua pemain berpikiran yang sama.
"Baik, karena manajer yang suka kabur ini sudah kembali. Saya akan menjelaskan rencana hari sabtu nanti." Kikikan kecil terdengar dari arah barisan manajer.
"Menu hari sabtu nanti simulasi pertandingan. Akan ada pertandingan antara tim inti dan tim A gabungan tim B, untuk catcher tim inti saya akan memilih Sato dan tim AB Kudo sebagai catchernya." Mizutani melirik dua pemain yang ia sebutkan.
"Semua pitcher tim inti akan dimainkan jadi kalian bersiap-siaplah. Yuki akan menjadi pitcher full set grup AB, untuk pemain grup AB aku serahkan kepadamu untuk memilihnya."
Anak-anak saling lirik dan terkejut. Full set, dan seorang perempuan, apa pelatih mereka sudah gila?, pikir mereka terkejut. Namun tidak dengan para pemain inti yang sudah mendengar negosiasi itu.
"Apa aku boleh mengalahkan mereka?." Lirih Yuki kepada Mizutani yang terdengar oleh senior juru bicara yang entah siapa namanya.
"Hm." Mendengar jawaban Mizutani manik elang Yuki bergerak cepat mencari pemain dibawah pengawasannya selama ini. Lalu menambah beberap orang dari tim A.
Yuki mulai memanggil nama-nama orang yang ia pilih.
"Inuzuka!." Panggil Mizutani. Yang dipanggil langsung berdiri.
"Siap!." Teriak Inuzuka.
"Aku titipkan Yuki untuk bergabung makan dengan para manajer dan kalian. Pastikan dia tidak kabur." Titah Mizutani. Yuki melebarkan matanya mendongak menatap manik Mizutani.
"Mi chan!." Protesnya.
"Eh?, Mi chan?."
"Mi chan?."
"Ya ampun, dia memanggil pelatih seperti itu?!." Mizutani menarik nafas panjang menunduk ke bawah membalas tatapan Yuki.
"Siap pelatih, serahkan saja kepadaku!." Seru Inuzuka.
"Nikmati waktumu di sini." Hanya kalimat itu yang Mizutani katakan sebelum pergi. Yang di jabarkan oleh Yuki sebagai 'nikmati waktumu di sini, jangan terlalu memikirkan hal yang lain, dan jangan terlalu memaksakan diri, bermainlah dengan mereka', seperti itu.
Inuzuka dengan riang menghampiri Yuki mengajak gadis itu mengantri makanan bersamanya. Sakura dan para manajer mengikuti Yuki dari belakang.
Berkali-kali Inuzuka menoleh ke belakang memastikan Yuki masih ada di sana.
"Inuzuka kun, aku tidak akan kabur." Ucap Yuki yang mendapatkan gelengan cepat.
"Ini tugasku senpai." Jawabnya.
Yuki lelah, ia lelah hari ini, ingin menghubungi Natsume meminta bantuan gadis itu untuk kabur namun sayangnya ponselnya ada di dalam loker.
Yuki selesai mengantri ia mengikuti Inuzuka ke meja paling ujung agak jauh dari pemain lain agar para manajer lebih nyaman duduk di sana.
Yuki meletakan nampan dan menggeser kursi namun sebuah tangan ikut menggeser kursi di sebelahnya.
Bruk.
Nakashima sudah duduk manis di sana. Inuzuka yang berada di sebelah kanan Yuki hendak melayangkan protes namun di hentikan oleh gadis itu. Sudah cukup, dia ingin tenang. Yuki duduk di kursinya sedangkan para manajer berada di kursi sebrang.
Suasan kantin asrama berubah ramai dengan celotehan anak-anak yang mengobrol, para manajer juga bercerita tentang pertandingan tadi. Ryou dan yang lain ikut bergabung di meja mereka.
Tidak bisa tenang, Yuki tidak bisa tenang.
Sakura mengajak Inuzuka bercerita membahas sesuatu di luar pertandingan, hanya Nakashima yang makan dalam diam.
"Dia perempuan." Jawab Inuzuka, Sakura di sebrang sana terlihat antusias.
"Pacarmu?." Yuki menengguk habis minumannya.
"Bu bukan, hanya teman kecil." Jawab cepat Inuzuka.
Teman kecil.
Suara itu menggema kembali di dalam kepala Yuki. Gadis itu menoleh menatap Inuzuka.
"Teman kecil?." Ulang Yuki, pemuda itu terkejut karena manajer di sebelahnya yang sejak tadi tidak terlibat percakapan tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Y ya, hanya teman kecil. Sejak dari balita kita bersama, bermain bersama, sekolah bersama, tapi hanya sebatas itu tidak lebih." Jelas cepat Inuzuka menggerakkan tangannya ke sana kemari, ciri khasnya jika sedang gugup. Yuki terdiam.
Teman kecil.
Suara itu kembali berdengung.
Ung, teman kecil dan teman hidup.
Teman hidup?.
Ayo pergi.
Yuri obaa sama, aku pergi dulu.
"Senpai?." Panggil Inuzuka.
Jangan lupa pulang sebelum senja Yuu.
Ung!, dadah.
"Senpai, kamu kenapa?." Yuki mengerjapkan mata beberapa kali mendapati wajah Inuzuka yang kebingungan.
"Dia hanya temanku, sebatas itu." Ulang Inuzuka.
Sial, obatnya ada di loker, batin Yuki segera membereskan nampannya.
"Aku sudah selesai makan Inuzuka kun, aku boleh pergi kan." Kata Yuki namun ia tidak menunggu pemuda itu menjawab, ia sudah berjalan cepat sebelum kakinya lemas, menuju meja pengembalian nampan.
"Terima kasih makanannya." Ucap Yuki kepada juru masak di dapur. Ia ingin cepat pergi dari sana.
"Senpai tunggu!." Yuki mengabaikan suara Nakashima ia membuka pintu kantin.
Benar saja baru tiga langkah ia berjalan tubuhnya menegang dan kakinya lemas, Yuki limbung.
Sial!, geram Yuki. Ingatan itu kembali menyerbu tanpa ampun begitu pula rasa sakit yang seakan menyerangnya bersama-sama. Yuki berusaha menjaga kewarasannya agar tidak tenggelam kedalam gumpalan rasa sakit miliknya.
Sebuah tangan besar melingkar di pinggang Yuki sebelum Yuki sempat terjatuh.
Gadis itu tidak sempat melirik siapa pemilik lengan itu, ia sedang mati-matian bertahan.
"Mau kemana?." Suara ini?, Kudo, batin Yuki.
"Loker." Lirihnya.
Kudo langsung mengangkat tubuh Yuki dan berlari ke arah loker perempuan. Yuki merasakan cairan dingin keluar dari hidungnya cepat-cepat ia tutup dengan tangan.
Ceklek.
Kudo mendudukan Yuki di kursi depan loker lalu ia keluar memberikan privasi kepada gadis itu. Yuki segera membuka lokernya setelah Kudo keluar, mengambil kotak permen dan memakannya.
"Uhuk!." Darah mengotori kaos olah raganya, Yuki segera mengganti kaos dengan seragam sekolah, ia bersiap untuk keluar dari loker sebelum manajer lain kembali untuk mengganti baju mereka.
"Uhuk. Uhuk." Yuki menutup mulutnya, keluar dari loker.
"Tuan putri kamu," Yuki mengangkat tangannya menghentikan Kudo.
"Terima kasih lagi, aku sudah tidak apa-apa." Ucap Yuki berlari menuju toilet terdekat dengan tas di tangannya.
"Apanya yang tidak apa-apa." Gumam Kudo menatap punggung Yuki yang menjauh.
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
"Ada apa Kudo?." Tanya Mizutani yang sedang mengancingkan kemejanya setelah mengganti seragam baseball.
"Hachibara san mimisan, di."
Woooossshhh.
Brak!.
Belum sempat Kudo menyelesaikan kalimatnya Mizutani sudah berlari keluar seraya menutup pintu dengan keras. Kudo menatap kepergian pelatihnya.
"Jika dia sakit parah sampai pelatih sekhawatir ini, kenapa pelatih memintanya membantu kami berlatih?." Lirih Kudo.
Insting Mizutani membawanya ke toilet dekat perpustakaan, ia mencoba membukanya dan, terkunci. Instingnya benar, Yuki pasti ada di dalam.
Tok. Tok. Tok.
"Yuki, buka." Perintah Mizutani.
"Apa kamu ingin masuk berita pelecehan kepada seorang murid Mi chan?." Yuki menyahuti dari dalam.
"Jangan balas dendam kepadaku Yuki, buka." Mizutani kembali mengetuk pintu.
"Tidak akan sampai lebih dari empat puluh menit Mi chan, tenang saja." Mizutani menarik nafas dalam menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu toilet.
"Jika lebih, panggil aku." Ucap Mizutani.
"Ung!."
Suara kran air bercampur suara batuk terdengar sampai ke luar toilet.
Tiga puluh enam menit kemudian, Yuki keluar dari toilet.
"Wajahmu pucat, pulanglah." Titah Mizutani.
"Tidak, aku ada latihan dengan teman-teman sampai nanti sore." Kata Yuki berjalan menuju kelasnya.
"Kamu butuh istirahat." Yuki mengibaskan tangannya.
"Aku bisa menjaga tubuhku, jangan khawatir. Tidak apa-apa."
Mizutani membiarkan Yuki menaiki tangga menuju kelas gadis itu.
Ojou san, sudah bukan Ojou san kecil lagi. Aku sadar sejak pertama kali melihatnya di bandara tapi, dia tidak pantas mendapatkan semua ini. Tuan besar, bagaimana caraku menyembuhkan hatinya?, batin Mizutani.
Yuki menggeser pintu. Kelas sudah berubah bentuk. Kursi-kursi dan meja berpindah ke sisi-sisi dinding membuat ruang kosong di tengah kelas. Teman-temannya sedang sibuk berdiskusi, ada juga yang sedang menghafal narasi, dan beberapa sedang berlatih dialog beserta adegan di drama.
Jam siang yang sudah lewat membuat semua siswa bebas menggunakan kelas. Yuki mendekati Honda, gadis itu berdiri di belakang Natsume cs yang sedang mendiskusikan sesuatu.
"Kenapa tidak bergabung?." Honda menoleh ke asal suara.
"I it." Yuki langsung mengangkat tangan menghentikan Honda.
"Sudah tertulis di daftar bukan, jangan gugup saat bicara dengan orang lain. Tarik nafas, tenangkan dirimu." Ucap Yuki menekan dasi yang di pakai gadis itu saat menarik nafas membantunya untuk menenangkan diri.
Honda tersenyum kecil, senyum malu-malu miliknya lalu membuka mulut untuk berbicara.
"Mereka sedang membahas kostum, gerakkan tari ballet, dan musiknya. Aku bingung dan sangat gugup jadi." Yuki mengangguk paham ketika Honda menggantungkan kalimatnya.
Yuki menepuk pundak Natsume dan dalam sekejap saja ia sudah bergabung ke dalam diskusi. Ada lima gadis di sana yang sedang mendengarkan saran Yuki.
"Hazuki, bagaimana jika dibagian ini musiknya lebih ringan dan ceria. Musik yang membuat semua orang yang mendengarnya ingin ikut menari, bukankah adegan di sini para orang-orang di jalanan juga ikut menari bersama Honda san?." Natsume menganggukkan kepala, lalu mengambil kertas dari tangan Yuki ikut menuliskan sesuatu di sana.
"Dan di bagian akhirnya musik yang lembut, seperti suara tetesan air yang tenang, dan kelembutan malam hari. Bagaimana?." Yang lain setuju dengan diskusi tentang musik.
"Tunggu, bolehkah aku yang membuat efek suara dan musik pengiringnya?." Tanya Natsume.
"Tentu." Natsume tersenyum senang.
"Sekarang bagaimana dengan kostumnya?, aku sudah membuat banyak contoh tapi aku tidak yakin ini sudah bagus." Kata siswi yang Yuki tidak tahu namanya.
"Boleh aku lihat?." Siswi itu memberikan buku sketsanya.
Gambar-gambar itu sangat bagus namun masih ada yang kurang, Yuki menoleh ke belakang menatap Honda yang masih berdiri di tempatnya.
"Honda san, bisa berputar sebentar?." Tanya Yuki.
"Eh!?, seperti ini?." Tanyanya, lalu berputar dengan gerakkan kaku. Yuki menaikan satu alisnya.
"Tolong hadap kanan." Pinta Yuki. Honda pun mengikuti perintah gadis bermanik biru itu.
"Hadap Kiri. Belakang, terima kasih." Ucap Yuki tangannya mulai bergerak di atas kertas polos itu.
"Bagaimana dengan ini?." Yuki meletakan buku sketsa di tengah meja.
"Aku hanya memberikan sedikit sentuhan di dua gambar yang sudah jadi." Jelas Yuki.
"Ya ampuun kenapa aku melupakan detailnya, karena kostum ini akan di pakai Honda san lebih bagus jika menyesuaikan dengan modelnya langsung. Terima kasih Hachibara san, aku dan yang lain akan segera menggarap kostumnya."
"Apa semua persiapan sudah diatur Hazuki?." Ueno menggeleng pelan. Sedangkan yang di tanya menatap Honda bingung.
"Tidak ada yang pernah menari ballet, tidak ada yang bisa dimintai tolong, inilah masalah terbesarnya." Keluh Natsume.
"Heeehh, bukannya kamu yang mengusulkan ini Hazuki." Ucap Yuki dengan nada meledek. Gadis itu cemberut, melirik Yuki.
"Itu karena aku memilihmu, kamu pasti bisa belajar sendiri dengan cepat Yu chan." Balas Natsume diakhiri dengan mencibir Yuki yang telah merusak tujuannya.
"Kalau begitu pikirkan sendiri." Celetuk Yuki beranjak keluar dari lingkaran.
"Yu chan!." Panggil Natsume kesal. Yuki berbalik seraya mengangkat satu alisnya.
"Sudah kubilang berhenti mengangkat alismu!." Teriak Natsume, Yuki berpura-pura ketakutan dan berlindung di belakang Honda.
Gadis bermanik biru itu mengangkat satu alisnya lagi dan mengeluarkan lidahnya seraya melebarkan mata semakin meledek Natsume.
"Kau!." Geram Natsume berjalan kesal berusaha meraih Yuki yang berlindung di belakang Honda, Yuki selalu menjauh dari tangan Natsume yang terus berusaha meraihnya.
"Honda san, lihat. Wajah Hazuki lucu bukan." Ucap Yuki memiringkan kepalanya menatap Natsume.
Natsume terdiam kala Honda tertawa kecil setuju dengan Yuki. Sifat jahil Yuki terbangun. Gadis itu mengedipkan satu matanya kepada Natsume lalu menutup mulut rapat-rapat menahan tawa yang akan keluar.
"Yuuu. Chaaann ..!." Teriakan menggelegar Natsume membuat Yuki meringis menutup rapat kelopak matanya.
"Wakatta (Aku paham), aku akan berhenti." Ucap Yuki, Natsume membuang wajahnya pura-pura marah.
"Tapi bohong!." Lanjut Yuki langsung berlari menuju Ueno berlindung di belakang gadis itu. Karena Ueno lah yang bisa menenangkan Natsume jadilah Yuki berlindung kepada gadis itu.
Manik Yuki menangkap Honda sedang tertawa tanpa malu-malu.
"Natsume chan, sudah sudah." Ucap Ueno seraya menepuk pelan pundak Natsume.
"Hachibara san juga, baru datang sudah menggoda Natsume san." Yuki terkejut, ia mengedipkan matanya beberapa kali.
"Ueno san." Lirih Yuki, yang di panggil langsung berbalik menatap Yuki.
"Benar kok, Hachibara san tidak boleh begitu." Kata Ueno seraya menunjuk Yuki dengan jari gadis itu yang bergerak ke atas dan ke bawah.
"Maksudku bukan seperti itu." Sergah Yuki.
"Eh?!." Ueno kaget.
"Hmm?." Natsume bingung.
"Aku rasa ini pertama kalinya aku dimarahi seperti ini." Ujar Yuki. Entah ekspresi seperti apa yang ia tunjukkan, sungguh ini pertama kalinya ada yang memarahinya karena masalah kecil dengan cara manis seperti itu, itu membuat hati Yuki merasakan perasaan yang aneh. Senang, tersentuh, sedih.
Gadis itu tertawa dalam hati.
Jangan katakan kamu masih mendambakan kasih sayang orang tua Yuki, lucu sekali, batin gadis itu.
Astaga!, lucunyaaaa, batin Natsume.
Hachibara san sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang baru dimarahi, batin Ueno.
Waaaahh, dia bukan dewi biasa, batin Honda.
"Aaggh!!, Yu chan, aku akan mencubitmu. Pokoknya aku harus harus mencubit pipimu itu ..." Seru Natsume berlari menyerang Yuki.
"Hazuki, menjauh dariku!." Yuki berlari menghindari Natsume.
Yuki merampas gulungan kertas dari tangan orang lain yang ia lewati lalu berhenti menghadap Natsume dengan meja sebagai pembatas diantara mereka. Yuki mengacungkan gulungan kertas ke arah Natsume, memberikan peringatan kepada gadis itu agar tidak bertingkah lebih gila lagi.
Ya ampuuun, aku lupa jika Hazuki adalah gadis gila!, batin Yuki.
Natsume hendak berbicara namun di potong oleh Yuki.
"Aku yang akan mengajari Honda san menari ballet, aku yang bertanggung jawab penuh atas dirinya, di festival ini." Yuki menekankan kalimat terakhirnya.
Setelah mengatakan itu tiba-tiba Takamoto menghampiri Yuki menunjuk gulungan kertas yang di pegang gadis itu.
"Kamu sudah mendapatkan naskahmu, silahkan baca dan hafalkan bagianmu, Hachibara san." Setelah mengatakan itu Takamoto berlalu pergi.
"Apa dia masih marah padaku?." Tanya Yuki.
"Mungkin, banyak yang tidak setuju Honda san menjadi perwakilan ratu." Jawab Natsume lirih agar sang empu tidak mendengar.
"Kenapa?."
"Yu chan, Honda san terkenal sebagai gadis suram." Bisik Natsume. Yuki mengangguk paham, ia membuka kertas naskah mencari bagiannya.
Setelah di rasa sudah mengcopy yang di perlukan ke dalam kepalanya Yuki menutup naskah mencari Honda.
"Baiklah sekarang waktunya bekerja." Ujar Yuki berjalan menghampiri Honda.
"Apa aku boleh mengerjakan bagianku Yu chan?." Yuki mengangguk kecil.
"Ung, ayo berjuang." Ucap Yuki.
"Ok, besok melodinya akan selesai, sekarang aku pergi dulu."
Yuki dan Natsume berpisah.
Honda melihat Yuki mendekat ke arahnya, gadis itu dan Ueno sedang membicarakan sesuatu.
"Apa ada masalah?." Tanya Yuki.
"Daftar perlombaan untuk kandidat ratu baru dibagikan oleh anggota osis." Jelas Ueno memberikan selembar kertas kepada Yuki.
Gadis itu membacanya dengan cepat lalu melirik Honda.
"Sudah baca?." Honda mengangguk kecil.
"Hari sabtu jam satu, tunggu aku di dekat lapangan baseball. Langsung pakai seragam olah raga," Yuki melirik Ueno sebentar.
"Kapan bagian kami latihan?." Tanya Yuki menunjuk anak-anak yang sedang berlatih drama di belakang mereka.
"Ooh, nanti sekitar jam empat mungkin." Jawab Ueno.
"Boleh pinjam Honda san sebentar?." Ijin Yuki.
"Tentu." Jawab Ueno.
"Terima kasih, nanti kami kembali lagi." Ujar Yuki meraih tangan Honda dan berjalan keluar kelas. Namun di ambang pintu Natsume meneriakkan hal gila lagi yang membuat Yuki meledek gadis itu.
"Yu chan!, tanganku saja tidak pernah kamu genggam seperti itu!." Teriak Natsume, Yuki mengangkat tangan Honda seraya berucap.
"Nanti orang-orang kira kamu belok, Hazuki." Ucap Yuki berlalu pergi.
Natsume cemberut menatap Ueno merengek atas perlakuan temannya itu.
Honda dan Yuki berlatih kembali di atap, Yuki mengecek keadaan kulit gadis berponi panjang itu. Bagaimana pun caranya Yuki sangat bertekad membuat Honda berubah seratus delapan puluh derajat, Yuki tentu saja tidak bisa merubah bentuk wajah atau bagian tubuh lainnya, gadis itu hanya menanamkan kembali kepercayaan diri dan memoles sedikit penampilan Honda yang bertahun-tahun gadis itu abaikan.
"Kamu pernah belajar ballet sebelumnya?." Tanya Yuki.
"Ung, saat sd aku pernah belajar." Yuki menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu tidak akan sulit, kita mulai dari sini."
Hari itu setelah latihan sampai jam enam sore Yuki pulang hanya untuk mandi dan makan malam, selanjutnya ia pergi ke rumah sakit membawa botol kecil berisi racun gas milik pelindung klan. Malam Yuki dihabiskan dengan meneliti racun itu, sendiri. Barulah ketika jarum jam menunjukkan angka tiga, ia keluar
meninggalkan lab.
Jarak tempuh antara rumah sakit dan rumahnya memerlukan waktu satu jam, pukul empat pagi gadis itu sampai di rumahnya. Yuki langsung pergi mandi untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih karena meneliti racun gas rumit itu, setelah rutinitas mandinya Yuki mengambil dua kantung darah sekaligus dari tempat penyimpanan, membawanya ke kamar.
"Je, apa hari ini ada rekaman yang menangkap keberadaan BD?." Yuki menyuntikkan jarum ke tangannya.
"Tidak." Yuki telah memasukkan data ciri-ciri tentang BD yang terbatas kepada Je untuk membantunya memeriksa rekaman cctv.
"Baiklah, good night Je." Ucap Yuki setelah menggantungkan kantung darahnya.
"Good morning, Yuki." Yuki tersenyum mendengar jawaban burung hantu mini itu.
***
Kamis, Yuki masih sibuk dengan urusan festival sekolah, berlatih dengan Honda, menjadi manajer, pulang, pergi ke rumah sakit, pulang, mengecek komputernya, menyuntikkan jarum ke tangan, dan tidur.
Jumat, Yuki mendapatkan serangan dari fans wakil ketua basket. Mereka mengetahui informasi tentang Honda gadis suram, berpenampilan mirip hantu yang menjadi perwakilan ratu berpasangan dengan wakil basket yang menjadi perwakilan raja disebabkan karenanya yang menolak menjadi perwakilan ratu.
Dengan seribu ide yang dimiliki Yuki ia dengan mudah menghadapi para fans menyeramkan wakil ketua basket. Bahkan Yuki sendiri tidak tahu menahu wakil ketua basket berada di dalam satu kelas dengannya.
Hari itu Yuki memergoki tingkah Natsume yang aneh lagi, gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, hal yang tidak biasa untuk Natsume. Yuki tidak akan memaksa Natsume untuk berbicara tentang masalahnya sampai gadis itu sendiri yang menceritakannya kepada Yuki.
Rutinitas yang sama telah Yuki lewati, bahkan kini di pastikan setiap harinya ia mengkonsumsi satu pil. Meski kesibukannya sangat melelahkan gadis itu sangat berhati-hati menjaga kondisi tubuhnya.
Sabtu, waktunya pertandingan.
Tim inti di pimpin oleh Suzune sedangkan tim AB di pimpin oleh Yuki. Mizutani?, pria itu menjadi wasit.
Yuki sudah lengkap memakai seragam putih pagi itu, ia berlari dua putaran untuk pemanasan, dan di bantu oleh Kudo untuk memanaskan lengannya.
Tepat pukul 09 : 00, Yuki berhadapan dengan Hajime kapten tim inti untuk melakukan suit menentukan siapa yang akan memukul lebih dulu, dan dimenangkan oleh Hajime. Laki-laki itu menyulut atmosfir pertandingan dengan membisikan sesuatu kepada Yuki.
"Aku sudah tidak sabar ingin memukul bolamu, dan kami adalah pemenangnya." Yuki mendongak membalas tatapan Hajime seraya tersenyum kecil.
"Jangan terlalu keras kepadaku senpai." Balas Yuki ringan namun berubah di kalimat selanjutnya.
"Kita lihat apakah tim inti benar-benar sekuat itu?." Ucap Yuki seraya mengedikkan salah satu alisnya, dan berlenggang pergi meninggalkan Hajime yang tersenyum.
"Kita bertahan." Ujar Yuki setelah sampai di bangku cadangan timnya.
"Heeh, keberuntunganmu sangat buruk." Celetuk Kudo yang langsung bersiap dengan perlengkapan miliknya.
"Tinggal aku buat sendiri keberuntungan baikku." Balas Yuki memakai sarung tangan sebelah kanan.
Gadis itu akan melempar kidal persis seperti Chizuru dari sma midori agar para pemain inti bisa membayangkan mereka sedang melawan laki-laki pirang itu.
Para pemain tertegun sebentar lalu tersenyum senang.
"Kalau sang dewi yang mengatakannya, terasa seperti benar-benar akan terjadi." Celetuk salah satu dari mereka.
"Benar, aku setuju." Balas yang lain.
Yuki menaikan satu alisnya menatap para pemain.
"Sang dewi?, siapa?." Tanya Gadis itu celingukkan mencari orang yang mereka maksud dan berhenti pada Sakura yang sedang duduk manis memegang buku skornya. Kudo menghela nafas kasar seraya beranjak berdiri.
"Itu kamu, tuan putri." Jelasnya, berjalan ke tengah lapangan.
Yuki tidak ambil pusing ia mengikuti Kudo ke tengah lapangan. Tim AB melakukan pemanasan sebentar di lapangan lalu suara peluit panjang menandakan pertandingan dimulai.
Hirogane seperti biasa menjadi pemukul pertama karena memiliki kaki yang super cepat untuk mencuri base.
Kudo tidak main-main dalam memberikan perintah kepada Yuki untuk melempar jenis lemparan dan sudut lemparan yang laki-laki itu inginkan. Tidak membiarkan pemukul tim inti menyentuh bola sedikit pun.
Laki-laki itu serius rupanya, batin Yuki.
Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya menatap Kudo setelah mengOUTkan Hirogane seakan mengatakan.
Kamu ingin menguji timmu sendiri heh?.
Kudo membalas dengan senyuman miring dan mata yang jail seakan membalas perkataan Yuki.
Kenapa tidak, aku juga penasaran bagaimana cara mereka melawan kita sebagai pasangan battery, bukankah ini menarik tuan putri?.
Yuki menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir, ia menemukan maniak baseball lainnya.
Haruno, laki-laki dengan tinggi 160 cm, dengan wajah malu-malunya berdiri di kotak pemukul.
Tiga lemparan, dan OUT. Ryou, kakak Haruno berteriak menantang Yuki setelah adiknya dikalahkan.
Tiga lemparan, Out. Ryou mencibir Yuki kesal.
Mereka berganti posisi, saatnya tim AB menyerang.
"Usahakan masuk ke dalam base." Ujar Yuki kepada para pemain.
"Siap!." Yuki mengangguk kecil.
Pukulan demi pukulan dilakukan oleh tim AB, mereka sudah mendapatkan satu out setelah pengorbanan dari salah satu pemain.
Tidak buruk, sudah ada dua pemain di dalam base. Baiklah ayo dapatkan tiga poin, riang Yuki dalam hati. Kesibukannya akhir-akhir ini membuat Yuki ingin melepas sebentar beban pikirannya dengan menikmati pertandingan ini.
"Aku akan menyusulmu mendapatkan home run." Celetuk Kudo sebelum Yuki berjalan menjauh dari bangku cadangan.
"Heeeh?, aku menantikannya." Balas Yuki dengan nada meledek.
Yuki bersiap memukul, menatap Inuzuka yang balas menatapnya sengit.
"Aku tidak akan kalah lagi darimu senpai!." Seru laki-laki itu. Yuki mengangguk kecil.
"Ung."
Tepat saat Inuzuka melepaskan bolanya, sebuah angin musim panas yang jarang datang itu menerpa wajah Yuki menerbangkan sedikit rambutnya yang terurai.
Tang!.
Lemparan pertama, home run pertama. Yuki berlari kecil mengitari lapangan.
Tiga poin berhasil, batinnya berjalan kembali ke bangku cadangan tanpa menghiraukan wajah bengong Inuzuka.
Yuki menatap Kudo dari jauh menantang laki-laki itu.
Tang!.
Kudo berhasil berlari sampai base ke dua.
Di babak pertama tim AB mendapatkan tiga poin dan sekarang mereka bersiap berganti posisi lagi.
"Home runmu sangat bagus, berhasil sampai di base dua." Celetuk Yuki, Kudo yang merasa tersindir menekuk wajahnya.
"Aku akan melakukannya nanti." Sergah Kudo cepat.
"Ya ya terserah kamu saja." Balas Yuki mengikat rambutnya ke belakang.
"Senpai, tidak biasanya kamu mengikat rambutmu?." Tanya Sakura yang memperhatikan Yuki.
"Pemukul selanjutnya bukan pemukul biasa aku tidak boleh lengah." Ujar Yuki memasang topi diatas kepalanya.
"Ung, semangat senpai!." Seruan Sakura mengantarkan para pemain memasuki lapangan.
Suara yang dihasilkan sarung tangan Kudo sangat indah dan keren kala menangkap lemparan Yuki membuat gadis itu nyaman melempar ke sarung tangan sang catcher. Empat lemparan Yuki lakukan untuk mengalahkan Hajime.
Di babak ke tujuh sudah dua kali tim inti mengganti pitcher mereka, dari Inuzuka lalu berganti ke pitcher kelas tiga, dan di babak ke delapan saat ini Nakashima menggantikan pitcher kelas tiga untuk melempar. Laki-laki itu menatap dalam Yuki, semburat merah muncul di bawah matanya.
Empat home run tercetak oleh gadis itu, dapatkan Yuki mendapatkan home run dari Nakashima. Lemparan laki-laki itu sudah berkembang jauh dan semakin cepat.
Nakashima bersiap melempar, Yuki menguatkan pegangannya pada batt (pemukul).
Wuuuuussshhh.
Set.
Yuki menghentikan ayunan pemukulnya di tengah jalan menatap takjub ke bawah, pada sarung tangan catcher. Betapa cepatnya lemparan Nakashima tadi, mungkin mencapai 153km/jam.
"Strike!."
Pergelangan tanganku bisa terkilir kalau tidak hati-hati, batin Yuki.
"Oi!. Nakashima!, kau mau melukai senpai hah!." Teriak Inuzuka.
"Heh bocah sialan!, lihat-lihat dulu kamu melempar kepada siapa?. Dia manajer loh. Ma na jer!." Seru Ryou.
"Ngajak gelud nih bocah belagu!." Hirogane berusaha menerjang Nakashima tapi kedua tangannya di tahan anggota tim inti lain.
Nakashima sontak menatap Yuki yang masih tertegun dengan lemparannya, rasa bersalah menyelimuti dirinya.
Yuki menoleh cepat ke tengah lapangan, manik mereka bertemu.
Nakashima membeku di tempat, ia tersihir oleh mata biru yang berbinar cerah di awal musim panas sama persis dengan warna langit di atas mereka, sudut bibir menawan dan seksi itu tertarik menampakkan gigi-gigi putih dan rapih.
Milikku .., cantik. Batin Nakashima.
Mizutani terkekeh kecil melihat respon Yuki.
"Kamu terlihat tertarik Yuki." Gadis itu bersiap kembali dengan pemukulnya.
"Tentu saja, Mi chan." Jawabnya.
Nakashima yang mendapatkan respon positif dari Yuki kembali melempar dengan kecepatan yang sama.
Tang!.
Bola melambung rendah di antara kaki penjaga infielder (penjaga lapangan dalam). Yuki langsung berlari cepat menuju base satu seraya melirik bola yang gagal di tangkap, gadis itu tidak berhenti di base pertama ia menerobos menuju base kedua, penjaga out fielder (lapangan luar) yang melihat Yuki mengincar base kedua langsung saja melempar bola sekuat-kuatnya.
Para pemain tegang, gadis itu terlalu memaksakan diri padahal timnya sudah unggul.
Tidak akan sampai!, seru Ryou penjaga out fielder sayap kiri setelah melihat kecepatan lemparan rekannya.
"Senpai ..!, hati-hati. Jangan paksakan dirimu!." Teriak Inuzuka.
Nakashima bergerak gelisah ke kanan lalu ke kiri begitu terus sambil menatap Yuki.
Hirogane penjaga base kedua sudah bersiap di atas bantalan base menunggu bola sampai. Ketika bola sudah semakin dekat Yuki melakukan sleding.
Sial, bolanya agak tinggi, batin Hirogane melompat untuk menangkap bola.
Hap!.
Wooossshh.
Grep.
Kaki Gadis itu menginjak base ketika Hirogane melompat. Yuki langsung beranjak berdiri bersamaan dengan kaki Hirogane yang menginjak tanah.
Jarak diantara mereka sangatlah dekat, sangat, sangat dekat. Yuki menyunggingkan senyum.
"Safe." Ucap gadis itu menyadarkan Hirogane dari lamunan.
"A aah!, ya." Hirogane langsung bergerak mundur menyembunyikan wajah merah padamnya.
"Senpai milikku!." Seru Nakashima ditujukan untuk Hirogane.
"Diam!, bocah belagu!." Teriak Hirogane seraya melempar bola kembali pada pitcher.
Di sisi lain Mizutani melihat betapa Yuki menikmati permainannya, gadis itu terlihat sangat antusias, bahkan wajahnya meskipun hanya sedikit, kembali terlihat seperti gadis kecil ceria dan penuh rasa ingin tahu yang ia sangat kenal. Senyuman di wajah itu juga sering berkali-kali terukir, tanpa sadar setetes cairan bening jatuh dari matanya.
Aku ingin mengutuk dunia, betapa kejamnya dunia kepada si kembar baik, manis, dan jenius seperti Ojou san dan waka (tuan muda). Mereka hanya salah satu anak ajaib yang terlahir di dunia, batin Mizutani.
Kudo bersiap di kotak pemukul, Yuki mencoba mengecoh Nakashima dan catcher kelas tiga dengan gerakkan kecil dan tatapan palsu yang seakan-akan ia hendak mencuri base ke tiga. Beberapa kali mereka terkecoh dengan melemparkan bola kepada Hirogane di base ke dua.
Sial, dia mau lari atau tidak sih, batin Sato.
Sato memutuskan untuk mengabaikan Yuki dan fokus menyuruh Nakashima melempar ke sarung tangannya. Tepat ketika mereka mencoba fokus, Yuki berlari mencuri base ke tiga.
Hajime yang menjaga base pertama di sebrang sana tertawa melihat Yuki.
Dia tidak terlihat seperti pemula, lebih mirip seperti seorang maniak, batin Hajime.
Tim Yuki terus mencetak poin memperlebar jarak poinnya dengan tim inti. 15-0, tim AB bertahan. Babak terakhir, tim AB yang sudah bersiap di posisi masing-masing dikejutkan oleh Yuki yang berteriak.
"Pergantian pemain!." Seru gadis itu membuat tanda tanya besar para pemain tak terkecuali Mizutani dan Suzune.
"Pergantian pitcher, Tora san akan menggantikanku." Pitcher tim B, kelas dua yang dipanggil pun terkejut.
"Lalu pergantian catcher." Kudo melebarkan matanya, Yuki menunjuk laki-laki itu tanpa ragu.
"Kudo kun akan digantikan olehku, dan aku kembalikan Kudo kun ke tim inti."
Hening.
Hening.
Sampai ...
"Hahahaha!, apa kamu ingin bertanding sebagai catcher dengan Kudo manajer!?." Teriak Ryou memegangi perutnya. Yuki menoleh kepada laki-laki itu tersenyum lalu mengangguk mantap.
"Huufftt, sepertinya dia masih dendam kepadaku karena kalah waktu itu." Lirih Kudo yang terdengar oleh Mizutani.
"Sepertinya kamu salah Kudo."
"Eh?!." Kudo menatap pelatihnya.
"Yuki penasaran, dia sangat penasaran bagaimana caramu mengecoh pikiran lawan, strategi di kepalamu membuatnya sangat tertarik untuk belajar lebih dalam. Terima kasih Kudo." Kudo merasa sedikit aneh dengan sikap pelatihnya namun laki-laki itu tidak ambil pusing.
Dia tertarik kepada hal lain, di luar lab, bengkel, dan komputernya, lanjut Mizutani dalam hati tersenyum senang.