
Kenapa dengan pil ketiga?, kenapa Tsubaki bersikeras tidak memberikannya?, batin Dazai.
Hotaru dan kedua laki-laki lain ikut khawatir dan tegang mendengar pembicaraan serius antara Yuki dan Mizutani. Apa itu pil ke tiga?, batin para pelindung dan sang pewaris.
"Jika kamu tidak mau menyerahkannya menyingkirlah. Aku tidak akan melepaskan wanita ini." Fokus Yuki kembali kepada Rin.
Dazai dan Mizutani melipir ke pinggir ruangan. Yuki dan Rin saling menyerang. Yuki melihatnya, tatapan tersembunyi di balik mata tenang misterius yang selama ini tidak pernah Yuki lihat. Yuki menunduk menghindari tendangan Rin, kakinya memutar menendang kaki Rin. Wanita itu melakukan salto ke belakang seraya menendang dagu Yuki.
Dug!.
"Agh." Yuki tersungkur ke belakang.
Tap.
Zreeettt.
Yuki menyilangkan tangan di depan dada menahan pukulan keras Rin.
Brak!.
"Uhuk!."
Yuki membentur pinggiran meja, mulutnya memuntahkan darah.
"Sejak kapan kau menyukai Hotaru?." Tanya Yuki tajam, beranjak berdiri. Rin tetap mempertahankan wajah tenang datarnya.
"Apa kau menyesal telah mengajariku membaca pikiran?."
Rin menerjang ke depan, Yuki menjatuhkan tubuhnya melakukan sleding, tangannya menangkap kaki Rin menariknya kuat hingga tubuh wanita itu terjatuh.
Tap!.
Rin berhasil menahan tubuhnya dengan satu tangan menumpu di lantai, ia memutar pinggangnya melayangkan tendangan dengan kaki yang lain ke arah kepala Yuki.
Dak!.
Yuki menangkapnya, mencengkeram kaki Rin menghempaskannya kuat-kuat namun di saat ia menghempaskan tubuh Rin tenaganya melemah karena batuk dan darah yang keluar, alhasil Rin menyeimbangkan tubuhnya kembali. Di saat Yuki mengelap darahnya sebuah tendangan keras mulus mendarat di perutnya.
Dak.
Buk.
Yuki tersungkur di lantai. Mizutani sudah tidak kuat menahan dirinya, Dazai sudah seperti cacing kepanasan ingin menghajar Rin. Yamazaki apa lagi, pria itu langsung ingin membunuh Rin, mungkin ini alasan wanita itu dilarang masuk ke dalam kediaman utama, dan namanya pun di tandai. Perasaan Fumio campur aduk, gadis yang ia cintai sedang kesulitan dan kesakitan tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hotaru sibuk dengan pikirannya, menyaring informasi yang sepenggal ia dengar, perasaannya hancur, kakak mana yang hatinya tidak hancur melihat adik sekaligus saudara kembarnya sedang sekarat dan di pukuli pula di depan matanya sendiri. Menyedihkannya lagi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan teriakan-teriakannya tidak didengarkan sama sekali.
"Kamu lihat Tsuttsun, aku akan di pukulinya terus. Jadi berikan aku pil ke tiga." Lirih Yuki mengatur nafasnya.
"Sekarang, atau hukuman ke tiga akan di mulai." Dazai menatap Mizutani penuh harap. Yamazaki membeku, tenaganya tiba-tiba menguap meninggalkan tubuhnya.
Bugh!.
Yuki membentur dinding di belakangnya.
"Jawab aku Rin. Sebegitunya kamu menyukai Hotaru lalu membenciku, dan melampiaskan kekesalanmu dengan membantu iblis itu?." Yuki tertatih-tatih berdiri.
"Anda salah." Yuki menaikan satu alisnya.
"Aku menyukai calon tunangan anda." Yuki mengerutkan kening menoleh menatap Mizutani meminta penjelasan.
Swiiiinngg.
Rin memanfaatkan kelengahan Yuki dengan menendang leher samping gadis itu.
Buk.
Yuki terjatuh namun belum sampai di situ Rin menendang perut Yuki hingga gadis itu terlempar melayang ke sebrang ruangan menabrak televisi.
BRAK!.
GEDEBUG!.
Yuki jatuh di atas meja, tv besar itu jatuh menimpa tubuhnya.
"Yuki!... RIN!. Aku akan membunuhmu!." Jerit Hotaru.
"PIL NYA!!!." Teriak Yuki marah.
Tangannya menyingkirkan televisi dari atas tubuh, beranjak duduk dengan mata yang menatap tajam mantan masternya.
Mizutani mencengkeram kuat kotak permen di dalam genggamannya.
"Kau membantu iblis itu hanya karena masalah sepele seperti itu RIN." Yuki marah sungguh, ia membiarkan emosinya menyelimuti tubuhnya.
"Apa kamu anggap hukuman ini sebagai lelucon?."
Mizutani sudah memutuskan, ia melempar kotak permen ke tiga kepada Yuki.
Hap.
Yuki menangkapnya dengan mulus.
"Bagaimana rasanya darahku mengotorimu Rin?. Apa kau tahu betapa hukuman ini sangat menyakitkan?." Yuki membuka kotak permen mengeluarkan separuh pil menggigitnya.
Rin yang melihat itu langsung menerjang Yuki memberikan pukulan mengarah pada dada gadis itu.
Drep.
Yuki menangkap tinju Rin, bibirnya tersenyum di sela-sela gigitan pada pil.
"Sabarlah sebentar, aku akan melayanimu." Ucap Yuki lalu mulutnya terbuka membuat pil masuk ke dalam mulut.
Rin mencengkeram bagian depan sweater Yuki menghempaskan tubuh gadis itu.
Bruk.
Dazai menangkap tubuh Yuki yang terlempar ke arahnya. Tangannya bergerak mengelap darah di sekitar mulut gadis itu. Hal itu membuat Fumio dan Hotaru meradang panas.
"Terima kasih." Ucap Yuki.
Dazai membantu menegakkan tubuh Yuki. Rin menatap Yuki tanpa berkedip.
"Dai chan, aku pernah berjanji padamu akan menunjukkan efek pil ke tiga bukan." Yuki melirik Dazai, pria itu mengangguk kecil.
"Lihat baik-baik." Ucap Yuki berdiri tegak. Dazai sedikit mundur.
"Jangan terburu-buru Rin, tinggal lima detik lagi." Ujar Yuki melepas tas selempangnya melempar tas itu kepada Dazai.
"Telfon Jun Ho setelah tiga puluh menit. Katakan padanya pil ke tiga, dia sudah aku ajari bahasa jepang kalimat itu Jun Ho pasti paham." Titah Yuki melakukan peregangan.
"Baiklah, Rin. Tiga." Yuki mulai menghitung mundur.
"Dua." Wajahnya berubah dingin.
"Satu."
Tepat setelah Yuki selesai menghitung otot-otot di dalam tubuhnya pulih seketika, tenaganya bagaikan baru di charge ulang, darah juga langsung berhenti keluar.
Swoooosshh
Woooosshh.
Putri klan dan pelayannya, murid dan gurunya, teman, itu hanya cerita masa lalu. Kini keduanya saling menerjang melayangkan pukulan tendangan sabetan tusukan mengincar tubuh lawan masing-masing.
Gerakkan cepat keduanya sangat sulit di ikuti oleh mata. Hotaru baru kali ini melihat Yuki bertarung dengan serius, ia sudah melihat kehebatan adiknya di kyoto namun itu hanya secuil dari kehebatan Yuki karena ia di bantu oleh jarum dan alat-alat aneh milik gadis itu.
Fumio dan Yamazaki dibuat tak percaya dengan kemampuan bela diri putri klan yang dulunya sangat membenci kekerasan, putri cilik yang ramah dan lembut, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Di hadapan mereka adalah wanita tangguh, Yamazaki jadi teringat Ayumi saat masih remaja. Perempuan itu sangat lihai memainkan pedangnya, tangkas, dan cantik, Yuki menuruni kepiawaian ibunya dalam bela diri.
Grep.
Yuki menangkap lengan Rin. Dengan cepat kakinya terangkat tertekuk ke dalam, pergelangan kakinya sebagai tumpuan ia putar ke arah luar, pinggangnya berputar dan.
BUUUUGGGGHHHKK!.
BRAAAKKK!.
Dinding kayu ruang tengah hancur. Suara benturan yang sangat luar biasa. Dazai tidak sadar mengulas senyum senang. Tubuh Rin tergeletak, darah merembes dari sudut bibirnya.
"Shishou. Aku tidak akan membunuhmu, kematian terlalu indah, jadi tenanglah aku tidak akan membunuhmu." Ucap Yuki dingin.
"Cuuiihh." Rin meludahkan darah dari dalam mulutnya. Wanita itu beranjak berdiri.
"Bagi anda yang mendapatkan segalanya anda tidak akan paham dengan perasaan ini." Yuki terdiam, ia ingin melahap habis-habis wanita yang membuatnya sangat menderita.
Jika saja Rin tidak membantu iblis itu, Daren pasti bisa menolongnya dari iblis sialan.
"Siapa yang dulu menceramahiku dan mengejek perasaanku saat kehilangan seseorang yang aku sayangi!." Geram Yuki. Mengingat hukuman Rin saat ia larut dalam kesedihan sepeninggal Dimas. Wanita itu menghajarnya tanpa ampun.
"Perasaan anda hanya sementara, anda tidak benar-benar menyukainya." Jawaban Rin membuat Yuki dongkol, perasaannya kepada Dimas di hina, sama saja melukai laki-laki itu sendiri.
Rin menerjang Yuki, gadis itu menyambutnya. Yuki mengangkat tinggi kakinya lalu memutar. Rin segera menekuk tangannya hendak menahan tendangan menyamping Yuki, tapi salah. Gadis itu menghentikan gerakkannya di tangah-tengah, melihat itu Rin melayangkan pukulan di dada sebelah kiri Yuki.
Yuki memutar separuh tubuhnya menghindar, kakinya yang masih berada di atas langsung ia hantamkan ke punggung Rin membuat wanita itu terjatuh keras, tidak sampai di situ Yuki membungkuk menendang tubuh Rin hingga melayang ke sebrang ruangan.
Wooosshh.
Yuki meluncur ke depan mengejar tubuh Rin menangkap salah satu tangannya lalu menarik cepat dan membantingnya kuat.
BUAAGHK!.
"Argh!."
"Apa yang kau tahu tentang perasaanku hah!. Apa kau tahu betapa mengerikannya hukuman itu. Kau tidak akan pernah bisa membayangkan siksaannya!. RIN!," Yuki menatap wanita di bawah kakinya. Yuki mencoba bernafas dengan benar.
"Dan alasanmu sangat konyol sampai kau melakukan ini padaku. Bagaimana?, setelah perasaanmu dihina seperti itu." Yuki menginjak tangan Rin yang hendak melayangkan sabetan pisau ke kakinya.
"Anda tidak tahu betapa tersiksanya aku melihat kalian selalu bersama." Sergah wanita itu.
"Aku sudah mencoba membunuh perasaan menyebalkan ini tapi tidak bisa!. Aku sudah terlanjur menyukai calon tunangan anda!."
Yuki menunduk merebut pisau di tangan Rin.
"Aku tidak tahu siapa yang kamu bicarakan. Jika kamu sangat menyukainya kenapa tidak merebutnya dariku!. Kenapa harus membantu iblis itu!." Ucap Yuki sarkas.
Ia akan berpikir rasional, dirinya yang dulu juga akan melakukan itu, Yuki yakin.
Rin beranjak duduk.
Fumio menatap nanar Yuki, gadis itu tidak mengingatnya. Selama puluhan tahun ini ia menanti, Yuki tidak mengingatnya. Hukuman macam apa itu sebenarnya?, Fumio hanya pernah melihat efek hukuman, itu pun tidak sengaja, ia tidak tahu apa yang di rasakan orang yang terkena hukuman.
"Apa anda yakin?. Anda telah melukai hati calon tunangan anda." Sergah Rin.
"Apa kau tahu rasanya berada di dalam neraka?." Balas Yuki tajam. Rin gentar melihat Yuki.
Dazai yang mengingat memori Yuki di dalam lautan mengerikan itu jatuh terduduk, ia kembali merasakan sensasi mengerikan itu.
"Jika dengan melepasnya aku tidak merasakan hukuman itu dengan senang hati aku melepasnya." Ujar Yuki, padahal ia tidak tahu siapa dan seperti apa memori masa lalunya bersama orang itu.
"Anda bohong!. Anda tidak akan pernah melepasnya barang sehari pun!." Jerit Rin marah.
Perasaan Yuki sudah bercampur tidak karuan, ia bahkan tidak bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Emosi?, sedih?, kecewa?, yang jelas Yuki ingin mengakhiri ini dan menghukum Rin. Yuki tidak akan melepaskan Rin dengan mudah.
"Terserah apa pun yang kamu katakan. Aku tidak memaafkanmu Rin." Setelah mengatakan itu pertarungan mereka berlanjut.
Yuki melayangkan totokan yang di tangkis oleh Rin, keduanya mengerahkan segala kemampuan. Mau di lihat dari mana pun Yuki unggul, berkali-kali Rin membentur tembok dan dinding kaca, kepalanya mengeluarkan darah dan di beberapa tempat lainnya.
Mizutani menelfon Jun Ho dengan ponsel Yuki sesuai perintah gadis itu. Tapi anehnya, ia malah mendapatkan bentakan aneh dari sebrang.
"Pil ke tiga." Ucap Mizutani membuat orang di sebrang sana diam seketika.
"Pabo! (Bodoh!)."
Tuutt!!.
Mizutani langsung menghubungi bayangan lain untuk mempersiapkan rumah sakit dan ambulance beserta tiga dokter profesional. Jika tulisan di surat itu benar, Yuki tidak akan baik-baik saja setelah efek pil ke tiga habis.
Sret.
Brak!.
Dug!.
Wooosshhh.
Yuki memutar tubuhnya menghantam kepala Rin dengan kaki.
Brak!.
Yuki seperti orang kesetanan, ia terus menggempur Rin, menunjukkan tempatnya bahwa ia adalah putri klan, dan Rin telah melakukan kesalahan tak termaafkan sebagai pelindung.
Rin terengah-engah dengan banyak luka di tubuhnya. Ia mengeluarkan katana yang ia simpan di balik lukisan yang menggantung di dinding. Wanita itu menarik katana dari sarungnya. Mizutani dan Dazai yang melihat itu segera bergerak.
"Dia milikku." Kalimat lirih dari Yuki menghentikan mereka.
Dengan santai Yuki mengangkat samping roknya mengambil pedang pendek yang tersemat kencang di pahanya. Semua mata terbelalak.
Sarung merah, gagang hitam, ukiran emas yang sangat khas dan satu-satunya di dunia.
Sreeeeettt.
Yuki mengeluarkan bilah bercabang itu. Tidak salah lagi, pedang pendek itu adalah warisan turun temurun dari kaisar pertama. Bagaimana gadis itu memilikinya?!.
Woooosshhh.
Woooosshhh.
Swiiingg!.
Traaangg!.
Katana panjang dan pedang pendek, Yuki di rugikan. Tapi dengan segala jenis bela diri yang ia punya Yuki dapat melayangkan serangan.
Berkelit, menghindar, menusuk, menghindar, menyerang, keduanya sangat lihai namun, di menit ke tiga puluh tujuh Yuki benar-benar melumpuhkan Rin. Wanita itu babak belur, untuk mengangkat katananya saja ia tidak mampu. Nafas keduanya terengah, pertarungan mereka tidaklah mudah. Rumah itu juga sudah porak poranda.
Yuki melayangkan pukulan-pukulannya ke wajah Rin, setiap pukulan mengingatkannya kepada saat-saat ia hampir meregang nyawa, berkali-kali. Sampai dimana ia menyerah dan ingin mati.
Bugh.
Brak!.
Yuki melempar tubuh Rin menabrak dinding yang sudah retak. Yuki berdiri, waktunya hampir habis tapi masih ada yang harus ia lakukan.
Yuki menutup matanya, menarik nafas panjang, mengendurkan otot-ototnya. Merubah udara di sekitar ruangan berpindah ke dalam genggamannya. Ia mengikuti apa yang pernah ia lihat di dalam ingatan itu.
Rin yang pernah melihat sesuatu yang sama persis menggigil ketakutan, ia mencoba melarikan diri dengan keadaannya yang seperti itu namun mata biru Yuki terbuka menatapnya. Rin membeku, nafasnya tercekat, maniknya tidak bisa di gerakkan. Ia tidak bisa menghindar dari tatapan Yuki.
Rin bagaikan melihat mata raksasa, mata biru itu terlihat sangat besar memenuhi ruangan, dan menatap lurus ke arahnya, memperangkapnya.
Seakan waktu terhenti, di mata Rin hanya ada Yuki yang melangkah pelan menghampirinya, ia tidak bisa mendengar suara apa pun telinganya kebas, hanya suara dari mulut Yuki yang mengisi gendang telinganya. Suara mutlak.
Aneh. Rin bisa melihat embun panjang berwarna ungu gelap keluar dari mulut Yuki mendekatinya, berputar mengelilingi kepalanya.
Mizutani, Dazai, dan Yamazaki tidak bisa bergerak atau mengatakan apa pun. Bukan pertama kalinya mereka melihat eksekusi penanaman hukuman, tapi mereka sangat tidak suka melihat pemandangan proses eksekusi itu.
Nona muda mereka sudah di pastikan belum pernah diwarisi ajaran melakukan eksekusi hukuman, dan ajaibnya gadis itu sedang melakukannya sekarang. Udara berubah hampa, sunyi, bahkan serangga pun tidak berani bersuara.
Yuki menatap manik Rin memerangkapnya, kakinya berjalan menghampiri gadis itu, mulutnya mulai mengucapkan kalimat sakral.
"Takehara Rin." Suara Yuki bagaikan guntur membelah langit. Tubuh Rin mematung, seiring panggilan namanya manik Rin berubah kosong.
"Sunyi, kegelapan, suci," tulisan yang pernah Yuki kecil baca di buku tua milik Yuri yang di sembunyikan. Pelan-pelan Yuki mengangkat satu tangannya mengarah ke dahi Rin.
"Rahasia leluhur," Hotaru dan Fumio membuka matanya lebar-lebar. Seperti ada gumpalan hitam dari perut mereka naik ke tenggorokan.
"Terjerat dalam sulur hitam," Telunjuk Yuki sudah menempel di dahi Rin. Gadis itu berdiri anggun bak malaikat.
"Kau!," Yuki menekan kalimatnya, menahan emosi.
"TAKEHARA RIN ... " Ada jeda cukup panjang hingga Yuki mengucapkan kata terakhir.
"KOSONG ..."
"AAAAAAAAAAAARRRRRGGGGGHHHHH ....... !!!!!!!!!!." Mulut Rin terbuka penuh melepaskan jeritan yang tidak manusiawi.
Yuki sedikit bergetar mengingat mulut kecilnya pernah mengeluarkan teriakan yang sama menantang guntur dan hujan malam itu, mengingat embun gelap merasuk ke dalam kepalanya mengambil apa yang ia miliki.
Yuki bisa melihat semua ingatan Rin, ia tidak menyangka bisa mengendalikan embun gelap itu, memilih menghapus ingatan mana yang ia inginkan, namun waktu Yuki tidak tersisa banyak. Gadis itu memutuskan mengambil semua ingatan Rin. Yuki menekan telunjuknya semakin dalam, embun gelap langsung merespon bergerak cepat menyentuh ingatan-ingatan itu.
"AAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHH ........ !!!!!!!!!!!!!!!."
Yamazaki, Mizutani, dan Dazai menundukkan kepalanya sebagai penghormatan terakhir untuk mantan pelindung yang sudah tersesat. Setidaknya untuk pengorbanan dan pengabdian yang pernah dilakukan wanita itu.
Hotaru dan Fumio terguncang dengan jeritan menyiksa dari Rin, jiwa mereka ikut bergetar, nafas mereka berubah berat. Bagi orang yang pertama kali melihat eksekusi hukuman sangat rentan melukai jiwa mereka sendiri, jika mereka tidak kuat menahannya berakhirlah sudah.
Bola mata Rin menonjol ke luar, kelopak mata dan mulutnya terbuka lebar, bahkan mulutnya meneteskan air liur karena rasa sakit yang luar biasa. Sama!, sama seperti Yuki kecil dulu.
Proses terakhir adalah darah yang keluar dari kedua mata menggantikan cairan bening. Rin sudah mengeluarkannya. Yuki melangkah mundur sedikit sempoyongan, telunjuknya menjauh dari dahi Rin.
BRUK!.
Tubuh mantan masternya tersungkur jatuh. Mata dan mulutnya sudah menutup. Yuki menatap wajah damai Rin lamat-lamat. Ia sudah mengambil keputusan yang benar, batin Yuki menguatkan dirinya. Setelah ini Rin tidak akan mengingat apa pun.
Yuki membalik tangannya, menatap tangan itu. Kakinya bergerak mundur, matanya bergetar. Ia terguncang, untuk kedua kalinya Yuki terguncang setelah penyiksaan Ayumi yang mengurungnya di dalam gudang dua belas tahun lalu.
Yuki membalikan tubuhnya mencari Mizutani namun betapa terkejutnya ia mendapati sosok yang sudah satu tahun ini tidak bertemu dengannya.
Lusi berdiri di ambang pintu ruang tengah, menangis tersenyum kepadanya. Ada banyak orang yang berdiri di belakang Lusi, Yuki tidak mengenal mereka. Bibir Yuki bergetar, ia mati-matian menahan air mata yang menggedor-gedor ingin keluar.
Bibir merahnya terbuka, suara lirih dan serak karena lelah mengalun menuju Lusi.
"Nenek." Yuki sekuat tenaga menelan salivanya, kaki limbungnya tertatih berusaha melangkah.
"Aku, melakukannya pada Rin." Lirih Yuki menunjukkan tangannya yang berlumuran darah kepada Lusi.
"Ung. Kamu sudah benar melakukannya." Ucap Lusi berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin meski ia juga terguncang melihat kondisi Yuki yang sangat mengerikan. Tubuh cucunya di penuhi darah.
Lusi merentangkan tangannya menyambut Yuki. Ia tidak bisa melangkah menghampiri gadis itu, kakinya bagaikan di lem perekat kuat ke lantai.
Manik Yuki tidak berhenti bergetar, ia melangkah sedikit demi sedikit, ia ingin menghambur ke dalam pelukkan hangat Lusi, ia merindukan sebuah pelukkan. Langkah gontai itu berhenti di tengah jalan. Yuki terkejut.
Apa harus sekarang?, setidaknya biarkan aku memeluk nenek, batinnya miris.
Yuki menatap dalam manik Lusi dengan sangat lembut, senyum lebar terukir di bibirnya. Lusi membalas senyuman itu, maniknya terus meneteskan air mata.
"Maaf nek, Yuki tidak bisa ke sana." Kalimat yang mengejutkan merubah raut wajah Lusi. Bingung dan khawatir.
Tangan Yuki bergerak meremas sweater di depan dadanya.
"Aku sangat menyayangimu. Maafkan Yuki." Lanjut gadis itu.
"Apa yang kamu katakan nak?. Jangan seperti itu, kemarilah. Nenek sangat ingin memelukmu." Sergah Lusi mengulas senyumnya lebih lebar. Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Hotaru, maaf." Lirih Yuki tanpa melihat ke arah kembarannya.
Hotaru semakin takut dengan sikap Yuki yang seperti itu. Ia kembali menangis setelah sempat berhenti karena pertarungan hebat adiknya dengan mantan pelindung.
"Maafkan aku Yuki, maaf. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Lepaskan aku Yuki, biarkan aku memelukmu." Rintih Hotaru.
Yuki semakin merasakan dampak pil ke tiga, paru-parunya menyempit, nadinya terasa panas, jantungnya berdegup sangat kuat sampai terasa akan melompat keluar dari tempatnya. Di saat itu suara gaduh dari arah pintu depan terdengar semakin mendekat.
"Augustin!!!." Yuki menoleh mendapati wajah Jun Ho yang pucat pasi menatap ke arahnya. Ia juga melihat sosok sang ayah di samping Jun Ho. Orang-orang yang tadi berada di belakang Lusi sudah menyingkir memberikan tempat untuk ke dua orang itu.
Yuki menatap sedih manik Jun Ho, hanya kepada pria itulah Yuki menunjukkan tatapan itu. Bibirnya bergerak kecil.
"Mian (Maaf)." Lirihnya bagai bisikan.
Seketika itu darah merembes keluar dari kedua telinga Yuki, tubuhnya jatuh ke lantai, meringkuk. Tangannya menarik rambut sekuat tenaga seraya menjerit kesakitan.
GEDEBUM!.
"AAAAAAAARRRRRGGGGHHHH!."
Woooooosshhh.
Woooooosshhh.
Mizutani dan Dazai melesat ke tempat masing-masing. Mizutani di sisi kanan Yuki, menahan tangan sebelah kanan gadis itu sedangkan Dazai di sisi lainnya. Yuki telentang meronta kesetanan, kakinya menendang-nendang ke segala arah. Tubuhnya menggeliat ke samping, menekuk, memutar, berusah melepas kekangan di tangannya, tangannya secara naluri ingin menarik sekuat tenaga setiap helai rambutnya.
Darah membludak keluar seperti air dalam bendungan yang hancur. Mata biru itu melotot.
"Tidaak." Lirih Lusi tubuhnya limbung ke belakang.
Grep. Daren menangkap ibu mertuanya.
"Ibu." Daren menopang ibu mertuanya.
"Bawakan semua alatnya kemari!." Teriak Jun Ho kepada beberapa suster yang dulu ikut menangani gadis itu. Jun Ho berlari ke samping kanan Yuki berlutut lalu tangannya tanpa ba bi bu langsung merobek kuat sweater coklat Yuki.
BREEETTT!.
Semua orang terkejut dengan aksi dadakan Jun Ho, mereka menundukkan kepala kecuali Daren dan Lusi, tapi tidak dengan Hotaru. Pemuda itu terus menatap wajah adiknya yang tersiksa tanpa berkedip. Suaranya habis untuk berteriak dan menangis, ia hanya membiarkan air matanya terus keluar.
Tiga perawat datang membawa alat cukup besar dan dua tas kotak yang cukup berat. Jun Ho segera melakukan tugasnya, memasang kabel-kabel aneh di sekitar dada Yuki, pria itu sedikit menarik ke samping tan top hitam gadis itu.
"Tahan kakinya!." Seru Jun Ho, dua perawat langsung bergerak menahan masing-masing kaki Yuki.
"Aaaaaaarrrggghhhhpppp!." Jun Ho yang tangannya sibuk dengan jarum dan botol kaca langsung melotot.
"Jangan biarkan dia menggigit bibirnya!. Dia akan memutuskan bibir itu!." Tidak ada yang paham dengan bahasa Jun Ho. Suster yang tidak menahan kaki Yuki sedang sibuk menekan dada gadis itu.
Daren memberikan Lusi kepada Fumihiro dan berlari, tangannya melepas dasi dengan kasar, menggulungnya cepat-cepat.
Daren berlutut di atas kepala Yuki mengangkat kepala putrinya meletakan di atas pahanya lalu membuka mulut Yuki dengan paksa. Gigitan Yuki pada bibirnya sangat kuat memaksa Daren membukanya secara paksa dan menyelipkan dasinya di antara gigi-gigi Yuki. Tangan Daren menahan kedua pundak putrinya.
Jun Ho yang melihat gadis itu sudah di tangani segera menyuntik lengan kanan Yuki. Menggantikan tangan suster yang menekan dada gadis itu dengan jarum-jarum. Dazai mengagumi Jun Ho dalam menangani Yuki, tangan Jun Ho sangat cepat dan cekatan. Sudah dua kali Jun Ho menyuntik Yuki tapi keadaan gadis itu tidak berubah.
Tiba-tiba wajah Jun Ho berubah kaku, menyadari pil ke tiga yang sekarang tidak seperti sebelumnya, ada sesuatu yang mempengaruhi pil ke tiga atau memang pil ke tiga tidak mempan menahan serangan di dalam kepala gadis itu.
"Dokter, denyut nadinya melemah." Daren melirik suster.
"Tambah tekanan." Titah Jun Ho. Suster melakukan sesuatu dengan alat kotak panjang itu.
Jun Ho melirik jarum suntik yang sudah berisi cairan berwarna agak kekuningan. Cairan terakhir yang Yuki buat sebelum meninggalkan korea, Jun Ho tidak suka dengan gagasan Yuki tentang cairan itu, Jun Ho tidak akan menyuntikannya kepada Yuki.
"Dokter!." Jun Ho kembali fokus, maniknya terbelalak melihat Yuki yang tidak meronta lagi.
Kelopak matanya terbuka setengah, darah masih terus keluar. Ini gawat!.
"Jun Ho si!." Daren menatap tajam Jun Ho.
"Tidak. Augustin!." Jun Ho pun kalang kabut, ia memompa jantung gadis itu.
Lusi menangis tak berdaya. Begitu pun yang lain.
"Ayah." Panggil Hotaru menatap sendu Daren.
"Tidak apa-apa. Adikmu pasti bisa bertahan." Ucap Daren yakin, ya!. Untuk meyakinkan putranya dan dirinya sendiri.
Kedua perawat melepaskan pegangannya pada kaki Yuki ikut bergabung membantu Jun Ho. Ke empat orang itu sibuk dengan peralatan mereka lalu kembali pada Yuki begitu seterusnya.
Daren menarik dasinya ke luar dari mulut Yuki, menghapus darah di telinga dan sekitar pipi putrinya.
"Apa ini tahapan ke dua hukuman?." Mizutani dan Dazai melirik Daren yang masih menatap putrinya seraya menghapus darah yang terus ke luar.
"Bukan, ini tahap ke tiga, Daren dono." Daren sempat menghentikan tangannya.
"Yuki berhasil melewati tahap ke dua. Dia akan baik-baik saja." Ujar Daren mengusap pelan pipi Yuki.
Tes.
Daren mengelap air mata berwarna merah putrinya.
"Tou ... San (Ay ... Yah)." Lirih Hotaru.
"Yuki tidak akan meninggalkanku bukan." Dazai meneteskan air matanya.
"Tidak Hotaru."
"Sial, aku ingin ke sana. Bergeraklah!." Geram Hotaru mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Yuki." Manik Hotaru tidak sedetik pun meninggalkan adiknya.
"Dokter!."
Jun Ho tahu, mata Yuki semakin menutup, detak jantungnya perlahan terus melemah, deru nafasnya hilang timbul, tapi apakah ia harus menyuntikkan itu. Di saat Jun Ho dan ketiga susternya terus berjuang Hotaru perlahan merasakan tangannya lagi.
Ia menyeret tubuhnya dengan tangan, Dazai yang sadar segera membantu Hotaru meletakan pemuda itu di samping kiri Yuki menyangga tubuh pemuda itu.
"Yuki." Akhirnya ia bisa menyentuh adiknya.
"Berjuanglah. Jangan pergi." Hotaru berusaha menunduk dengan bantuan tangannya yang berangsur-angsur kembali normal.
Cup.
Hotaru mengecup pipi amis Yuki.
Cup.
Hotaru mengecup dahi Yuki.
Cup. Cup.
Hotaru mengecup kelopak mata yang hampir tertutup itu. Wajah Yuki di basahi oleh air mata Hotaru.
"Ayah ..." Hotaru menatap adiknya lamat-lamat.
"Tidak Hotaru. Yuki akan baik-baik saja, percayalah padanya."
Hotaru mencium pucuk hidung Yuki.
Cup.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu pergi."
Pemandangan menyedihkan macam apa ini. Semua orang sibuk dengan emosi masing-masing. Tanpa ada satu orang pun yang tahu, burung hantu mini sudah tidak melayang lagi. Burung itu diam tidak bergerak. Sejak tadi Je sudah memperingatkan kondisi Yuki yang berangsur-angsur melemah, melaporkan setiap kondisi Yuki secara spesifik namun, penciptanya yang telah memerintahkan mode silent membuat suara Je tidak terdengar.
Tiba-tiba teriakan salah satu suster terdengar sangat melengking.
"DOKTER!." Jun Ho sudah terdesak. Dia tidak memiliki pilihan lain.
Sret!.
Jun Ho mengambil jarum suntik itu mengarahkannya pada dada sebelah kiri Yuki. Jarinya yang lain mencari titik yang pernah Yuki ajarkan. Ketemu!. Tapi tiba-tiba keraguan menyelimutinya.
"Lakukan. Jika Yuki menyuruhmu melakukannya, jangan ragu. Lakukanlah." Ucap Daren. Jun Ho menelan salivanya kasar.
Maafkan aku, Ucap Jun Ho dalam hati. Tangannya mengayun ke bawah.
ZEB!.
Seeeettt.
Cairan di dalam jarum suntik kini berpindah ke dalam tubuh Yuki.
"Yuki." Panggil Hotaru yang melihat kedua mata adiknya menutup sempurna.
"Ayah!."