Futago

Futago
Tidak ada Esok atau Lain Kali.



"Mulai!." Seru wasit menandakan pertandingan kembali dimulai.


Nakamura bersiap-siap dikotak pemukul menatap Yuki dengan rona merah di pipinya, yang ditatap melirik tajam ke arah wasit dibelakang Sato.


Mi chan, aku sempat berpikir siapa yang bersikap ke kanak-kanakan, aku, atau kamu, batin Yuki melangkahkan kaki kirinya ke belakang.


Aku sudah memikirkan ini setiap hari selama berbulan-bulan, sekeras apa pun aku membuang kejadian di masa lalu mereka akan kembali lagi ke padaku. Penelitianku belum selesai, aku akan memulainya lagi, batin Yuki mengangkat kakinya.


Kuda-kuda yang berbeda dengan saat ia pemanasan, ia memindahkan berat tubuhnya ke tubuh bagian bawah, menghentakan kaki cukup keras dan lebar, mengayunkan lengannya cepat dan kuat.


Shuuuttt.


BUM!.


Hening.


Kurokawa menelan salivanya kasar. Ini lebih cepat dari pada saat bersamaku, bukankah dia siswa pindahan yang terkenal itu. Sang dewi, batin Kurokawa.


"Strike!." Suara Mizutani memecah keheningan. Namun setelah itu tidak ada suara yang terdengar lagi sampai Yuki mendapat tiga strike berturut-turut dan mendapatkan out yang pertama.


Hirogane kun, batin Yuki melihat Hirogane yang bersiap di kotak pemukul, pancaran matanya seakan menyiratkan apa yang sedang Yuki lakukan disana. Tanpa menunggu lama Yuki mendapatkan out kedua.


Yuki tersenyum melihat laki-laki kecil imut dan cantik yang ia temui tadi malam sedang fokus bersiap dikotak pemukul namun, fokusnya seketika luntur melihat senyuman Yuki. Haruno bergerak salah tingkah, melihat itu Yuki segera menghapus senyuman diwajahnya.


Meskipun kamu anggota terkecil tapi aku tidak bisa mengalah karena ke imutanmu Haruno kun, batin Yuki memberikan lemparan cepatnya.


BUM!.


BUM!.


BUM!.


Out ketiga Yuki dapatkan barulah para pemain didalam lapangan maupun diluar lapangan menyadari apa yang terjadi sejak tadi. Para pemain mengerubungi Yuki tapi mulut mereka tertutup rapat, kaku, sulit untuk digerakan. Dan tiba-tiba wajah mereka mulai memerah, Yuki bingung, dia harus tetap fokus.


"Waktunya serangan balasan." Lirih Yuki.


"A a aagghh benar, ayo kembali-kembali, waktunya kita menyerang." Ucap mereka berlari kecil kembali ke bangku cadangan.


Yuki melirik Sato yang sudah berlari di belakangnya.


"Senpai, tanganmu tidak apa-apa?." Tanya Yuki melirik tangan dibalik sarung tangan besar itu.


"Ya." Jawabnya singkat dan beranjak duduk.


"Silahkan." Seorang gadis menyodorkan gelas kecil berisi air kepada Yuki.


"Terima kasih." Ucap Yuki menerimanya. Gadis itu tersenyum malu lalu kembali duduk dikursinya.


Aku tidak menyadari ada perempuan selain aku dan Suzune san, dia manajer. Apa yang sedang dia tulis, batin Yuki menengguk minumannya.


"Apa yang kamu tulis?." Akhirnya Yuki kalah oleh rasa penasarannya.


"Ini buku skor, kami mencatat jumlah lemparan pitcher, jenis lemparan, dan sudut lemparan." Jelas gadis itu.


"Hm..." Gumam Yuki.


"Kamu mengejutkan semua orang." Celetuk Suzune membuat Yuki melirik ke arahnya.


"Baiklah teman-teman, karena Ha Hacc Hachi. Giliran kita melakukan sesuatu." Seru salah satu pemain berjalan kaku menuju kotak pemukul.


"Apa yang ingin kamu katakan dasar bodoh!." Balas yang lainnya.


"Badanmu persis robot, kamu tidak bisa memukul dengan badan seperti itu!." Imbuh yang lainnya.


"Jangan permalukan kaum laki-laki!." Sergah entah siapa.


"Pukul yang keras!!." Waah, ada yang benar menyemangati dia, batin Yuki.


"Suzune san, aku tidak ingin kalah. Mi chan menyadarinya sejak aku masuk ke dalam ruangannya. Aku harus masuk klub karya ilmiah." Lirih Yuki.


"Karena itu, aku melakukan semua ini." Lanjutnya.


Sejauh apa pun ayah menyembunyikanku, pasti akan ada waktunya hari itu datang, batin Yuki.


"Aku ingin tahu, gadis seperti apa sebenarnya dirimu?." Balas Suzune.


"Hanya siswi yang keras kepala." Jawab Yuki menoleh menatap ke lapangan.


Suara gemuruh menggema karena pukulan yang dilakukan tim B. Yuki melirik Inuzuka menggantikan Nakamura untuk melempar.


"Hachibara san, bersiap-siaplah sebentar lagi giliranmu." Perintah Suzune.


Yuki memakai sarung tangan khusus untuk memukul, ia juga memakai peralatan pelindung siku, lutut dan helm. Menarik batt (pemukul) dari tempatnya.


Yuki mencoba menggenggam pegangan pemukul ditangannya. Seperti ini ya, batinnya.


"Satu out dan satu pemain berada di base, apa yang akan kamu lakukan Hachibara san?." Tanya Suzune membuat perhatian terarah pada Yuki.


"Jika satu pemain lagi masuk base sebelum out ke tiga, kita akan mendapat tiga angka, tapi jika tiga pemain masuk base, base akan penuh dan kita bisa seri." Ujar Yuki melirik Suzune.


"Karena aku akan melakukan home run." Lanjutnya tersenyum manis meninggalkan bangku cadangan.


Sang dewi, dia dewi, sangat cantik, penyelamat, cool, batin para pemain.


Yuki berjongkok menunggu gilirannya, pemain sebelumnya terkena out jadi sekarang sudah dua out dan jika pemain di kotak pemukul mendapatkan out lagi tidak ada giliran Yuki untuk memukul ia harus menunggu inning ke lima, itu berbahaya. Harus ada pemain di depan Yuki agar ia bisa melakukan home run dan mendapatkan banyak angka sekaligus.


Selisih angka mereka adalah empat, dan sekarang ada satu pemain di base dan satu dikotak pemukul, kesempatan Yuki untuk mendapatkan angka seri sudah pupus, setidaknya ia ingin memperkecil jarak angka mereka.


Gerakan pemain di kotak pemukul terlihat kaku, dia gerogi. Ara .., kumohon pukulah bolanya, batin Yuki. Pemain itu tiba-tiba menoleh ke belakang menatap Yuki membuat gadis itu bingung untuk sesaat, lalu ia segera tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


Wajah pemain itu bersemu merah, ia mencoba kembali fokus. Hah..?, apa yang aku lakukan, hari ini aku terlalu banyak tersenyum, apa jangan-jangan gosip itu benar?, apa seperti ini bisa dibilang merayu? tebar pesona?, begitu buruknya aku, batin Yuki merutuki diri sendiri.


Bang!.


Pemain itu berhasil memukul bolanya dan berlari menuju base pertama. Syukurlah, bukan waktunya memikirkan hal yang tidak penting, batin Yuki berdiri memasuki kotak pemukul.


"Mi chan, apa yang kamu dapat setelah mengamatiku selama satu bulan?." Tanya Yuki lirih bersiap di kotak pemukul.


"Fakta yang mengejutkan." Jawab Mizutani. Yuki kembali mengecek pegangannya pada pemukul.


Tunggu, seperti ini? bukan, haruskah aku melakukannya seperti ini?, batin Yuki.


"Bagaimana bisa kamu tidak belajar memegang pemukul yang benar. Tidak juga, itu akan menguntungkanku." Gumam Mizutani yang didengar oleh Yuki.


"Mari kita coba, apa yang akan terjadi." Balas Yuki bersiap menatap tepat ke arah Inuzuka.


Senpai, apa yang sebenarnya kamu pikirkan, batin Inuzuka melempar bola pelan ke sudut luar.


"Ball !.(Lemparan yang mengarah ke zona luar dan tidak menyentuh garis strike)." Seru Mizutani.


Apa-apa an lemparan itu, apa dia yang menyuruh Inuzuka kun untuk sengaja melakukannya?, batin Yuki melirik Kudo yang duduk di bawah.


Inuzuka kembali bersiap melempar, sekarang lebih cepat tapi terlihat sangat payah, Yuki tidak menggerakan pemukulnya.


Lemparan ketiga, lurus kedepan dengan putaran pelan. Yuki mengayunkan pemukulnya sengaja membuat foul (bola yang jatuh di luar lapangan dan pemukul tidak boleh berlari ke base pertama \= pengertiannya masih lebih panjang ini untuk sederhananya saja).


"Inuzuka kun, apa kamu sedang mengasihaniku?!." Seru Yuki agar terdengar oleh kohainya (junior).


"Bukan begitu maksudku, bola ini terlalu keras untuk di pukul!." Jawab Inuzuka tidak kalah seru.


"Bukankah aku sudah memukulnya tadi!." Sergah Yuki, Inuzuka terdiam.


"Dia tidak ingin melukaimu." Yuki terkejut melirik laki-laki berpengaman lengkap dibawah sana.


"Jangan membuatku tertawa, suruh dia melempar dengan benar." Kata Yuki datar.


Sejak tadi aku juga memintanya seperti itu, batin Kudo.


Kudo memberikan arahannya kepada Inuzuka, dan laki-laki itu kembali memberikan bola pelannya.


"Strike!." Seru Mizutani, Yuki tidak mengayunkan pemukulnya sama sekali.


"Ball!." Seru Mizutani lagi.


"Apa dia ingin memberikanku four ball? (pemukul dibolehkan masuk base cuma-cuma, pemain di base pertama pun dibolehkan maju ke base berikutnya, begitu seterusnya)." Tanya Yuki.


"Mungkin." Jawab Kudo.


"Anak ini." Geram Yuki memukul jauh bola namun ia arahkan ke luar lapangan.


Semua orang tertegun.


"Inuzuka kun! kau melihatnya?, apa kamu masih ingin mengasihaniku karena aku perempuan?!." Seru Yuki, dia tidak akan bisa melakukan home run jika putaran bolanya pelan seperti itu.


"Senpai ...!" Inuzuka menatap Yuki.


"Apa?!." Yuki kesal.


"Aku akan memberikanmu four ball jadi kamu tidak perlu memukulnya!." Ucap Inuzuka dengan wajah polosnya.


"Are?, dasar bodoh." Lirih Kudo.


"Aku ingin mencubit pipinya, akan aku lakukan setelah pertandingan ini selesai." Geram Yuki.


"Inuzuka kun!." Panggil Yuki dengan suara yang lebih tenang.


"Bukankah akhirnya kamu masuk tim inti, bagaimana jika kamu memperlihatkanku lemparan yang membuatmu masuk ke dalam tim inti?." Tanya Yuki memancing Inuzuka.


Raut wajah Inuzuka berubah, ia mulai serius. Yuki diam-diam tersenyum kecil umpannya berhasil, ia bersiap dengan pemukulnya.


"Sebaiknya kamu memberikan arahan yang benar." Lirih Yuki. Kudo yang merasa tertantang pun tersenyum dibalik topeng pengamannya.


"Jangan terlalu keras kepadaku, tapi akan aku lakukan sesuai keinginanmu." Balas Kudo.


Inuzuka melakukan kuda-kuda tingginya, sorot matanya tajam menatap ke arah sarung tangan catcher.


Wuuusshhh ...


Berbelok, batin Yuki yang menyadari lemparan ke arah dalam ke arah lutut pemukul. Dengan ayunan yang kuat Yuki menerbangkan bola jauh menabrak pagar pembatas lapangan.


BRAK!.


"Waaaahhh!."


"Ho home ruuunn!."


"Dia benar-benar melakukannya!."


"Keerreenn!."


"Tiga angka!."


Yuki berlari kecil melewati base pertama dan saat ia menginjak base kedua matanya bertemu dengan manik Inuzuka. Yuki tersenyum seraya menggumamkan sesuatu.


"Arigatou."


"Hm?." Mereka terlihat gugup, rona bahagia terlihat jelas di wajah mereka.


"Aku juga senang, tapi kita masih ketinggalan satu angka." Kata Yuki membuat semangat mereka kembali menyala.


"Kau harus memukulnya ..!." Seru anggota lain kepada pemukul berikutnya.


"Aku juga akan melakukan home run!." Balas laki-laki itu.


"Ya, pukul yang keras!."


Yuki mengalihkan pandangannya.


"Mereka sangat bersemangat." Lirih Yuki melepas helm dan pelindungnya.


"Kami tidak menyangka kamu benar-benar membiarkan bola lemah Inuzuka dan mengincar bola sulit miliknya." Ucap Suzune.


"Kami juga tidak menyangka kamu benar-benar melakukan home run." Sato bergabung ke dalam obrolan mereka.


"Aku juga sempat bingung kenapa kamu protes saat diberi bola yang mudah dan membuangnya begitu saja." Imbuh Sato. Yuki melirik tangan seniornya.


"Apa sudah tidak apa-apa?." Tanya Yuki.


"Kau sendiri?." Sato balik bertanya.


"Aku baru mau mulai, selanjutnya pemukul ketiga bukan." Ucap Yuki.


"Ya, dan ini akan sulit." Jawab Sato.


"Senpai sering menangkap lemparan Inuzuka?." Tanya Yuki.


"Tidak terlalu sering, meskipun dia banyak memiliki breaking ball tapi lemparannya masih tidak konsisten." Jelas Sato.


"Aku akan banyak melakukan breaking ball, tapi senpai." Yuki melirik Sato.


"Aku tidak tahu tentang kode seorang catcher." Ucap Yuki.


"Apa yang ingin kamu lakukan?." Tanya Sato.


Yuki menjelaskan rencananya kepada catcher kelas tiga itu. Tepat saat Yuki selesai menjelaskan mereka terkena tiga out tanpa mendapatkan poin. Para pemain bersiap-siap melakukan pertahanan begitu juga Yuki.


"Inning kelima kita harus menjaganya!." Seru salah satu dari mereka yang dibalas teriakan setuju.


"Hachibara san, semoga berhasil." Ucap Suzune.


"Terima kasih." Balas Yuki berlari menuju ke lapangan.


Yuki menaikan satu alisnya melihat laki-laki berkacamata berdiri di kotak pemukul sebelah kiri. Dia pemukul kidal?, batin Yuki. Melirik Sato yang dibalas anggukan oleh laki-laki itu.


Yuki menatap sarung tangannya yang sudah berganti dari kiri, sekarang berada di sebelah kanan. Ia akan melempar dengan tangan kirinya.


Heh, kejutan apa lagi ini, batin Kudo.


"Mulai!." Seru Mizutani.


Yuki melakukan lemparan pertamanya Fork ball (lemparan bola yang tiba-tiba jatuh didepan pemukul sebelum sampai ke sarung tangan catcher).


Aku sekarang mengerti apa yang dipikirkan pelatih, membaca buku dalam semalam saja hasilnya seperti ini, menarik, batin Kudo.


"Strike!."


Kudo sangat fokus , membuat adrenalin Yuki meningkat, bulu kuduknya merinding. Ini lebih menegangkan, batin Yuki. Bersiap melakukan lemparan kedua.


Change up (Bola bergerak sangat pelan namun sangat efektif mengecoh pemukul karena bola tiba-tiba saja menjadi pelan dan berbelok ketika akan dipukul \= salah satu jenis lemparan yang sulit dikuasai jika tidak memiliki kontrol bola yang bagus).


"Cha change up ...!?." Seru penonton.


Hahaha, apa dia monster?. Bola cepatnya saja seimbang dengan milik Nakamura membuat tim kami tidak berkutik, sekarang dia melempar dengan tangan kiri ditambah semua bolanya menukik tajam!, batin Kudo.


"Strike!."


Tanpa disadari Kudo ia sudah terkena strike out, dan bola ketiga adalah slider (lemparan pitch terkencang ke tiga di dunia baseball, yang melambung sedikit tinggi lalu jatuh ke bawah pada sudut yang tajam).


Apa kita seharusnya takut dengannya bukan dengan Chizuru?, batin Kudo meninggalkan lapangan.


"Pukul bolanya kapten!, kita tidak boleh kalah oleh perempuan!." Seru seseorang dari bangku cadangan tim A.


Yuki melirik siapa kapten tim inti yang berjalan santai namun tegas, aura laki-laki itu berbeda. Hajime, laki-laki itu berdiri dikotak pemukul menatap Yuki dengan matanya yang sedikit sipit dan meneduhkan. Yuki membalas senyuman Hajime lalu ia memberikan kode kepada Sato untuk meminta time out. Seniornya itu segera berlari menghampiri Yuki.


"Ada apa?." Tanyanya.


"Sepertinya dia berbahaya." Ujar Yuki.


"Kamu benar, dia yang paling berbahaya di tim, dia juga sangat mudah memukul bola cepat milik Nakamura." Jawab Sato.


"Eeh ..?." Yuki melirik Hajime yang sedang menatapnya.


"Aku akan memakai change up di lemparan pertama, lalu curve (bola lengkung, bola menukik jatuh saat mendekati home base), dan yang terakhir knuckle (bola bergerak menuju dua arah yang berbeda dan berubah arah secara tiba-tiba menukik tajam di tengah jalan membuat pergerakan bola sulit di tebak dan di pukul)." Jelas Yuki.


Hening.


"Senpai?." Yuki melirik sedikit ke bawah karena seniornya itu lebih pendek beberapa senti.


"Apa kamu benar-benar belum pernah bermain baseball sebelumnya?." Tanya Sato.


"Tidak, aku tidak suka melakukan sesuatu yang berregu." Jawab Yuki.


"Terserah padamu, kita lakukan sesuai rencana." Balas Sato kembali ke posisinya.


Yuki bersiap.


Sedikit aneh rasanya mata yang teduh dan tegas itu sedang fokus menatap Yuki.


Wuuusshh...


Lemparan pertama berhasil.


"Strike!."


Lemparan ke dua pun berhasil. Yuki sedikit terkejut melihat Hajime yang semakin fokus.


Heee? senpai tidak ingin membantuku menang?, batin Yuki bersiap melemparkan bola terakhir. Suasana lapangan terasa menegangkan.


Saat bola sudah berada diujung jarinya sebuah suara membuat Yuki terkejut alhasil ia sedikit menggeser jarinya.


"Yuuu! chaaaaann!!!."


Sial!, batin Yuki.


"Apa?! knuckle!." Seru para pemain lain.


Yuki sontak menoleh ke samping memberikan tatapan mautnya kepada Natsume.


Bang!.


Hajime berhasil memukul knuckle yang gagal itu, ia segera berlari ke base pertama.


Buk!.


Yuki melompat tinggi menangkap bola yang melambung di atasnya.


"Out!." Teriak Mizutani.


Hajime menatap Yuki tersenyum kecil.


Tidak akan aku biarkan begitu saja senpai, batin Yuki kembali memberikan tatapan tajam kepada penonton tak diundang itu.


"Apa yang kamu lakukan disana?!, kenapa kamu memakai seragam baseball?!, cepat berhenti! mereka akan melukaimu!." Srobot Natsume.


Kenapa dia harus muncul sekarang, batin Yuki. Seseorang menghampiri Natsume menjelaskan situasi lapangan sekarang, sebuah keajaiban Natsume mengerti dan berdiri tenang menonton pertandingan.


"Senpai!, apa tanganmu tidak apa-apa?!." Yuki mengalihkan pandangannya menatap ke depan, Inuzuka berdiri di kotak pemukul sebelah kiri, tentu saja dia kan kidal.


"Ung, terima kasih sudah mengkhawatirkanku!." Seru Yuki.


Tanpa basa-basi lagi Yuki menstrike out Inuzuka membuatnya keluar lapangan.


Saatnya giliran mereka menyerang, ini kesempatan terakhir untuk membalikan keadaan.


Yuki menunggu duduk dibangku cadangan, kini ia hanya bisa berharap kepada anggota lain yang bermain.


"Kudo memberikan arahan yang lebih berani di inning ini." Kata Suzune.


"Benar, pemain kita sampai tidak bisa menyentuh bola Inuzuka." Yuki menyetujui perkataan Suzune.


"Dia tidak akan membiarkan kita mengembalikan keadaan." Ucap Suzune yang melihat pemainnya sudah mendapat dua out.


Deg.


Yuki mencengkeram pinggiran kursi, ia tidak boleh kalah ia harus menang. Bukankah orang itu ada di ruangan Mizutani tadi malam, apa dia berpihak kepada Mizutani. Yuki geram, kesal.


"Suzune san time out, tolong panggil pemukul itu." Sergah Yuki cepat.


Suzune mengabulkan keinginan Yuki, pemain itu berlari kembali ke bangku cadangan.


"Maaf aku yang meminta Suzune san untuk memanggilmu." Ujar Yuki.


"O oh tidak apa-apa." Jawabnya terbata-bata.


"Aku ingin memberi saran, mungkin catcher itu akan meminta breaking ball setelah ini, lalu bola lurus ke arah dalam untuk lemparan terakhirnya." Jelas Yuki melirik Kudo.


"Apa kamu bisa memukul salah satunya?." Tanya Yuki sedikit berharap.


"Akan aku usahakan."


"Terima kasih."


"Baiklah ayo kembali, semoga berhasil." Titah Suzune.


Benar saja, tebakan Yuki tepat sasaran tapi tebakan terakhirnya meleset, bukan lemparan ke arah dalam tapi sebaliknya Kudo meminta Inuzuka untuk melempar ke arah luar namun masih masuk kedalam zona strike.


Yuki terdiam.


"Tim inti memiliki Kudo sebagai otak mereka, sangat sulit melawannya." Celetuk seseorang.


"Padahal kurang dua angka lagi kita mengalahkan mereka." Balas yang lain.


"Besok pasti kita yang menang!." Seru salah satu dari mereka.


"Tentu saja, lain kali aku akan melakukan home run." Sahut yang lainnya.


Bagiku tidak ada besok atau pun lain kali, batin Yuki.


"Hachibara san, kamu tidak apa-apa?."