
JEDDEEEERRR !!!.
Yuki dan pengunjung lain terkejut dengan suara guntur di siang bolong, perlahan awan-awan putih itu bergerak cepat tertiup angin. Dazai segera menarik Yuki keluar dari kebun binatang, mereka masih harus mengunjungi dua tempat lagi.
"Dai chan, terasa aneh mendengar suara guntur seperti itu di jepang." Celetuk Yuki di dalam mobil.
"Heee ..?, tidak juga ojou chan. Itu sering terjadi ketika akan pergantian musim, tidak setiap pergantian musim suara gunturnya sekeras tadi hanya beberapa kali dalam satu tahun." Jelas Dazai melajukan mobil meninggalkan area kebun binatang.
"Brengs*k!. Argh!. Apa aku salah orang?." Lirih Hotaru pada kalimat terakhirnya. Ia kehilangan jejak.
Puk!.
"Kamu mengenal perempuan itu?." Fumio menepuk pelan pundak Hotaru setelah berhasil mengejarnya.
"Tidak yakin, jika suara guntur sialan itu tidak mengganggu mungkin perempuan itu bisa mendengarkan teriakanku dan itu bisa meyakinkan dia benar-benar Yuki atau bukan." Keluh Hotaru.
"Kamu bilang dia sudah?. Tapi mata perempuan itu berwarna hitam." Srobot Fumio.
Ini membingungkan, batin Fumio.
"Jangan remehkan Yuki, dia bisa jadi siapa pun. Aku mendengar dari ayah langsung, Yuki sangat pandai menyamar, dia juga bisa memanipulasi suaranya sendiri." Fumio menelan salivanya kasar.
"Aku sudah berusaha berpikir positif, tapi perasaan yang aku rasakan mengatakan sebaliknya. Sudah hampir dua minggu lebih setelah perasaan itu datang tapi nenek atau pun Hiro san masih tidak bergerak. Itu artinya, mungkin, Yuki baik-baik saja." Fumio menepuk pelan pundak Hotaru.
"Ya, kita harap seperti itu. Kamu juga sudah berusaha melacaknya, kita tidak bisa mengerahkan banyak orang untuk mencari Yuki, karena tujuan awal memang menyembunyikan keberadaannya." Hotaru menghela nafas panjang.
Ini melelahkan, sampai kapan kita harus bermain kucing-kucingan?, batin Hotaru.
***
"Mau yang ini." Tunjuk Yuki.
Mata bulat berwarna biru muda itu terus menatap Yuki.
"Saya pilih yang itu pak." Ucap Dazai kepada si pemilik toko.
"Boleh aku mengangkatnya?." Dazai tersenyum lalu menganggukkan kepala.
Yuki mengulurkan tangannya untuk di endus dan di jilat sebentar, sensasi aneh menggelitik kulitnya.
Kucing British Shorthair, ras kucing yang memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar dengan berat badan sekitar 4–8 kg, mempunyai bentuk kepala bulat disertai dengan pipi yang berisi penuh. Di samping itu, jenis kucing ini memiliki ciri khas bulu pendek yang sangat lebat. Kucing itu berwarna abu-abu bercampur biru pada bagian punggungnya dan putih bersih pada bagian bawah dan lehernya. Yuki mengangkat kucing itu ke dalam pelukkannya.
"Dia sudah resmi jadi milik anda." Ucap Dazai setelah membayar.
"Ung, ini singa mini yang kamu janjikan Dai chan?." Lirik Yuki.
"Hahaha, ya. Kita juga harus mencari keperluan untuk singa mini ini." Yuki mengangguk.
Yuki membeli banyak barang untuk kucing barunya, bahkan rumah bermain kucing pun ia beli. Yuki berniat menaruhnya di ruang tengah, masih banyak ruang kosong di belakang sofa. Hujan turun sangat lebat ketika mereka keluar dari mall. Dazai melirik Yuki yang duduk di sampingnya.
"Dai chan, terima kasih banyak untuk hari ini. Maaf merepotkanmu lagi."
"Tidak ojou chan, hari ini saya juga sedang libur. Soal di kyoto." Dazai melirik sebentar ke samping.
"Saya sudah memberitahukan kepada Tsubaki kronologis kejadian, Ogura san akan menjadi pengacara temanmu, dan saya yang akan mewakili anda."
"Ogura san?." Ulang Yuki.
"Ya, tenang saja. Dia memang seorang pengacara, kemampuannya lumayan tidak memalukan." Dazai meringis membayangkan Ogura mendengarkan apa yang ia telah katakan tentang pria itu.
"Terima kasih."
"Apa anak muda baik-baik saja?. Beritanya sudah menyebar tentang pertandingan kemarin." Tanya Dazai.
"Ya, dia akan baik-baik saja."
Hujan deras tidak berhenti hingga sore hari. Dazai sudah satu jam berkecimpung dengan rumah kucing sekaligus taman bermainnya, Yuki di sofa masih bermain-main dengan si kucing, Masamune sibuk menyiapkan makan malam.
"Dai chan." Panggil Yuki menaruh dagunya di punggung sofa menatap Dazai yang membelakanginya.
"Ada apa ojou chan?."
"Menurutmu, sampai kapan aku bisa bertahan?."
"Eh!?."
"Ya, kau tahu. Sebelum aku meninggal?."
Dazai memutar tubuhnya melihat wajah kucing dan pemiliknya sejajar di atas punggung sofa. Kedua pasang mata biru itu menatapnya dalam, menunggu sesuatu. Dazai menyunggingkan senyum.
"Apa semua ini sangat menyakitkan?, anda ingin pergi?. Saya bisa membawa anda pergi jauh dari sini. Jadi, anda tidak perlu khawatir tentang penyakit anda." Ucap Dazai menatap lembut manik Yuki.
Gadis itu memiringkan kepalanya, menempelkan pipi pada empuknya busa di dalam sofa, tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Hahaha, aku tidak mengkhawatirkan penyakit ini Dai chan." Dazai mencoba menilai arti raut wajah, serta suara Yuki.
"Untuk apa khawatir, karena banyak yang menungguku di alam sana. Nenek Yuri, kakek Go, kakek, dan," Yuki menahan senyum mengingat satu nama istimewa di relung hatinya. Yuki menangkap Dazai mengepalkan tangan.
"Hei .., bukan berarti aku berniat mati secepat itu." Seperti mengerti pembicaraan kedua manusia itu, kucing dua warna milik Yuki menggesekkan kepalanya pada dagu gadis itu.
"Meeeoooowww ..." Yuki mengecup singkat kepala kucingnya.
"Dai chan, setidaknya aku harus mempersiapkannya. Keberadaanku seperti hantu, datang dan menghilang. Dimanapun itu pasti akan sama. Indonesia, korea, jepang. Aku adalah angin musim semi pada bulan agustus, angin musim panas pada bulan november. Kehadiran yang sangat singkat namun mereka akan selalu mengingat keberadaanku, menungguku datang kembali yang tidak mungkin akan terjadi." Yuki mengalihkan perhatiannya dari manik biru yang hampir mirip sepertinya menatap manik hitam di sebrang sana.
"Aku ingin meninggalkan mereka dalam kehangatan dan kesejukan. Agar mereka tidak terlalu larut saat aku pergi."
"Apa yang anda bicarakan, jangan bercanda seperti ini ojou chan."
Mereka saling menatap dengan sorot mata masing-masing.
"Masa san, maaf. Bisakah masuk ke kamar dulu?." Ucap Yuki tanpa bergeser dari tempatnya. Masamune yang hendak memanggil mereka untuk makan malam terhenti dengan suara Yuki, melihat raut wajah Dazai yang tidak bersahabat membuat Masamune sedikit mengerti dengan situasi di sana. Masamune melirik sebentar punggung Yuki.
"Ung, kalau kalian sudah selesai panggil aku." Kata Masamune masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek.
Hening.
"Setelah kejadian terakhir Tsuttsun sangat takut jika penyakit itu kambuh lagi. Dia melarangku melihat kembang api tapi aku sudah berjanji melihatnya bersama senpai."
Deg!.
Dazai mencoba untuk tenang.
"Jika Tsuttsun sudah melarang pasti ia tahu sesuatu. Jadi mungkin dua pil tidak akan cukup." Yuki sudah memutuskan untuk memberitahu Dazai dan Mizutani rencananya dengan Hajime agar mereka berdua lebih siap.
"Dai chan, kalian berdua mengatakan kalau belum ada yang pernah lolos dari tahap kedua hukuman ini." Sontak Dazai melebarkan matanya.
Bagaimana ojou chan tahu hal itu?, batin Dazai.
"Kalian membicarakannya di bawah atap yang sama denganku, itu kesalahan kalian." Dazai mengacak-acak rambutnya.
"Anda mendengar semuanya?." Dazai menatap khawatir Yuki.
"Ya."
"Sial!." Geram Dazai.
"Dai chan, apa yang terjadi jika penyakit itu kambuh lagi setelah melewati tahap kedua?. Kamu bisa memprediksinya?." Dazai terdiam.
"Maaf ojou chan, saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hukuman itu sudah seperti bayangan malaikat pencabut nyawa itu sendiri." Yuki merasakan bulu-bulu halus di pipinya. Kucing imut itu sedang mengendus hidung Yuki.
"Ya, sepertinya aku pernah melihatnya." Jawab Yuki mengingat perempuan yang sama persis seperti dirinya di dalam laut merah alam bawah sadarnya.
"Apa yang anda lihat?, bagaimana anda bisa kembali?. Maksudku tahap kedua adalah." Dazai tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Ya, kamu benar. Mungkin karena Hotaru. Je." Panggil lirih Yuki. Burung hantu itu turun dari lantai dua.
"Apa maksudnya ojou chan?." Yuki tersenyum sekilas, isyarat Dazai untuk menunggu.
"Berikan jarum bius kepada Masa san dari balik pintu." Titah Yuki.
"Baik di konfirmasi." Kucing Yuki melompat ketika melihat Je melayang-layang hendak menangkap burung hantu itu.
"Meeeoonngg!."
Hap.
Yuki menangkap kucingnya tepat waktu sebelum terjun bebas dari punggung sofa.
"Nakal. Hmmm." Lirih Yuki mengetuk lembut hidung si kucing.
Je terbang dan turun di depan pintu Masamune mengeluarkan moncong kecil ke dalam sela-sela di bawah pintu.
Bruk!.
Suara orang jatuh dari dalam kamar.
"Sekarang tidak akan ada orang yang berniat menguping." Ujar Yuki lirih.
"Yuki. Kucing." Gadis itu tertawa lirih mendengar komentar Je.
"Kembalilah ke kamar Je." Burung hantu itu langsung terbang ke lantai dua.
"Meeeooonngg!!!." Kucing itu protes melihat mainannya pergi.
"Jika saat itu aku tidak mendengar suara Hotaru dan merasakan lukanya mungkin aku sudah berakhir seperti orang-orang yang menerima hukuman sebelum aku." Dazai merasa bersyukur dan berterima kasih kepada tuan mudanya.
"Apa yang anda lihat ojou chan?." Ulang Dazai. Yuki meletakan kucingnya di sofa lalu berdiri dan membelakangi sofa bersandar seraya menatap dalam manik Dazai.
"Apa kamu yakin ingin tahu?." Tanya Yuki suaranya berubah datar dan serius, menggetarkan nyali Dazai.
"Ya."
"Sebaiknya jangan." Peringat Yuki.
"Saya ingin tahu." Yuki menggelengkan kepalanya pelan. Mengingat betapa mengerikannya kejadian itu.
"Saya ingin tahu apa yang anda rasakan ojou chan. Kumohon, jangan menyembunyikannya sendiri." Ini peluang untuk Dazai lebih tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan nona mudanya. Sangat sulit untuk membuat Yuki terbuka.
"Belum terlambat untuk berubah pikiran Dai chan." Yuki melihat kesungguhan dan tekad di manik pria itu. Yuki menarik nafas panjang berjalan menghampiri Dazai yang duduk bersila.
"Akan lebih sulit untuk mengatakan apa yang aku rasakan jadi, aku akan membiarkanmu melihat ke dalam ingatanku." Ujar Yuki berhenti di depan Dazai.
"Eh?!. Memang bisa?."
"Ya, aku mempelajarinya dari dokter psikologi di korea. Dia suka sekali menyusup ke dalam ingatanku." Jawab Yuki.
Hening.
Baiklah hanya sedikit, batin Yuki.
"Aku tidak bisa menunjukan banyak, untuk kebaikan mentalmu. Walaupun kamu jauh lebih dewasa dariku tapi dalam kasus ini kita sangat berbeda." Ujar Yuki, namun sebelum Dazai protes tangannya sudah berada di dahi dan dada pria itu meguncinya dalam satu detik.
"Dai chan, tarik nafas perlahan. Rilekskan otot-otot tubuhmu. Benar begitu, bayangkan padang rumput hijau. Kamu lihat ada sebuah pohon besar berdaun lebat di sebelah kananmu?." Yuki masih mengunci manik Dazai.
"Ya." Jawab lirih Dazai.
"Pergi dan duduklah di bawah pohon." Yuki menunggu sebentar.
"Kamu mengantuk bukan, tidak apa. Tidurlah." Ucap Yuki perlahan menutup kelopak mata Dazai dengan tangannya. Gadis itu menarik nafas panjang sebelum menutup matanya juga. Jari telunjuknya menekan dahi Dazai.
Kita mulai, batin Yuki fokus dengan ingatannya.
Menarik kesadaran alam bawah sadar Dazai, membuka benteng kokoh berlapis-lapis di dalam kepalanya sendiri. Yuki langsung membuka keadaan dirinya mengambang di dalam lautan hening, gelap, terjerat kehampaan yang tak berujung. Tubuh yang terus tertarik ke bawah sampai ia merasakan rasa sakit tak diketahui asal muasalnya. Percakapannya dengan suara asing.
Tubuh Dazai mulai menegang, isakkan terdengar oleh telinga Yuki. Hingga pada perubahan gelap ke terang, penampakan jelas pemilik suara aneh dan percakapan yang terus berlangsung. Dazai memekik kesakitan seakan merasakan apa yang terjadi di sana. Yuki menghentikannya sebelum perempuan lain yang adalah dirinya sendiri masuk ke dalam tubuh aslinya, ia langsung menutup ingatannya mengembalikan kesadaran alam bawah sadar Dazai kembali.
Gedebug!.
Dazai langsung tersungkur kesamping, tubuhnya menggigil hebat, nafasnya terengah-engah dengan mulut yang terbuka, matanya bergetar ketakutan dengan air mata deras, keringatnya membanjiri seluruh tubuh. Yuki segera mendorong tubuh Dazai hingga telentang, ia harus cepat menenangkan pria itu sebelum menjadi gila.
Yuki menaiki tubuh Dazai duduk diatas perutnya menangkup kedua pipi pria itu mengarahkan maniknya secara paksa untuk menatap manik biru miliknya.
"Lihat aku, Dai chan!." Seru Yuki membuka matanya lebar-lebar memaksa pria itu untuk menatapnya. Manik Dazai terus bergetar ketakutan sesuatu menghalanginya, membuat ia tidak bisa melihat wajah Yuki yang sudah berada tepat di depan wajahnya. Gadis itu langsung menekan dada Dazai dengan tangan kiri, menusuk lumayan dalam hingga manik mereka bertemu. Segera Yuki mengunci pandangan Dazai.
"Lihat aku!." Jerit Yuki melembutkan tatapannya.
"Dai chan. Kelembutan tangan ibu melindungimu dari kejahatan sang nestapa," Yuki mulai mengalunkan lagu sebagai sugesti ketenangan melalui suara dan liriknya. Lagu yang ia buat sendiri untuk anak-anak panti.
"Suara merdunya bagai candu indah sang jiwa. Tenanglah, tenang. Mimpi buruk telah pergi. Pohon rindang, dan padang rumput hijau menunggumu." Yuki berhenti bernyanyi. Usahanya berhasil, Dazai mulai tenang.
"Dai chan, tarik nafas perlahan. Kamu merasakan hembusan angin sejuk?." Yuki perlahan menutup kelopak mata Dazai.
"Ung." Gumam Dazai.
"Buka matamu dan lihat padang rumput di hadapanmu." Yuki turun dari tubuh Dazai, menjauhkan tangannya.
"Suara jentikkan jari akan membuatmu tersadar." Ucap Yuki duduk di samping tubuh pria itu. Lalu Yuki membunyikan jarinya di dekat telinga Dazai.
Jetik!.
Dazai membuka matanya melirik ke samping. Dalam satu kali gerakkan pria itu sudah duduk dan memeluk erat Yuki.
"Jangan katakan apa pun. Tidak apa-apa." Ucap Yuki menepuk-nepuk pelan punggung Dazai. Pria itu semakin membawa kepala Yuki ke dalam dekapannya.
"Ayo kita pergi dari sini ojou chan. Kita dan para bayangan."
Hanya sedikit yang aku tunjukkan padamu, dan kamu hampir gila Dai chan, batin Yuki.
"Pergi tidak akan menyelesaikan masalah. Aku sudah terlalu lama bersembunyi Dai chan." Jawab Yuki.
"Tidak apa-apa. Kita lupakan semua ini, tinggalkan jepang," Yuki mendorong tubuh Dazai menatap wajahnya yang kini sudah banjir air mata.
"Ya?, kita pergi." Bujuk pria itu. Yuki menarik nafas panjang.
"Semua ini bisa menjadi mudah jika aku masuk ke dalam ingatanmu. Tapi aku tidak ingin menjadi seorang pencuri. Kamu paham dengan semua yang aku katakan?." Tegas Yuki.
"Tapi hukuman itu tidak manusiawi, itu." Dazai menelan salivanya kasar.
"Maaf Dai chan aku tidak bisa menghapus ingatanmu tentang itu." Ujar Yuki.
"Tidak, aku yang memaksa anda. Padahal anda sudah memperingati saya. Saya tidak menyesal sudah melihatnya ojou chan." Dazai menghapus kasar air matanya.
"Apa rencana anda?." Yuki menaikan satu alis melihat Dazai yang tiba-tiba berubah serius dan bersemangat.
"Hahaha. Rencanaku pergi ke festival kembang api dan menguji hukuman itu akan aktif sampai titik mana." Jelas Yuki melihat pria berusia matang itu dengan wajah yang berubah-ubah.
"Anda tidak sebaiknya bermain dengan nyawa anda ojou chan." Tegas Dazai.
"Hei, Dai chan." Yuki menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kamu pikir membuat pil itu tidak mempertaruhkan nyawaku. Bermain-main dengan kematian, berulang kali koma, yang hanya berhasil membuat satu pil. Bahkan efek sempurna di dapat pada pil pertama yang masuk ke perut, pil kedua tergolong gagal, pil ketiga," Yuki menghentikan kalimatnya tersenyum meledek ke arah Dazai.
"Lain kali aku akan menunjukkan bagaimana pil ke tiga bekerja." Gurau Yuki meninggalkan pria itu di ruang tengah.
***
Yuki sudah berdandan di bantu oleh Masamune. Wanita itu terus tersenyum mengulang satu kata yang tidak ada habisnya. Cantik, hanya itu. Dazai beberapa kali menghapus air mata yang terjatuh. Mizutani menatapnya tanpa ekspresi.
"Ayolah, aku bukan pergi ke pelaminan kalian juga bukan wali sahku tidak perlu bersedih seperti akan melepaskan anak perempuan kalian untuk orang lain." Gerutu Yuki kesal.
"Ojou chan. Saya akan menjadi tameng pertama anda jika anak muda itu melakukan yang aneh-aneh." Balas Dazai, Yuki memutar bola matanya.
"Senpai tidak akan melakukannya. Aku pergi dulu." Pamit Yuki.
"Kamu tidak melupakan pilnya?." Sergah Dazai.
"Ung, ada di dalam sini." Jawab Yuki mengangkat tas kecil berwarna merah bunga-bunga.
"Hati-hati. Bersenang-senanglah." Masamune mengantarkan Yuki ke depan rumah.
"Aku berangkat Masa san." Ujar Yuki berjalan pelan menghampiri seseorang yang berdiri membelakanginya.
"Senpai?." Yuki melihat dari atas ke bawah sosok Hajime yang berbalut Yukata hitam bergaris abu-abu. Geta (sandal tradisional jepang) yang di pakainya terlihat kecil di kaki lebar pemuda itu.
Hajime memperhatikan gadis bermanik biru yang bertransformasi menjadi gadis manis jepang. Hiasan bunga merah dan tiga daun kecil-kecil menjuntai ke bawah menyangga sanggulan rambut hitam legamnya, yukata merah dan hitam sebatas setengah betis ke bawah dengan motiv bunga dan dedaunan membungkus tubuh rampingnya, geta berwarna hitam memperlihatkan kaki putih pucat itu, riasan tipis dan lembut membuatnya semakin terlihat menawan dan anggun. Aura gadis bermanik biru itu memancarkan aura yang berbeda dari biasanya. Mungkin ini yang dikatakan buku-buku sebagai perwujudan seorang putri kerajaan.
"Agak aneh memakainya, tapi terlihat cocok dengan senpai." Celetuk Yuki. Hajime mengulas senyum tipis.
"Kamu lebih suka melihatku pakai yukata atau hoody?." Tanya Hajime.
"Hoody." Jawab tegas Yuki, paten.
"Baiklah, aku pulang sebentar untuk menggantinya." Ujar Hajime berpura-pura berjalan pulang. Yuki segera menahan lengan Hajime mendongak menatap pemuda itu.
"Besok saja pakai hoodynya, sekarang ayo berangkat." Ucap cepat Yuki, Hajime menatap kalem gadis itu lalu kembali melangkah ke arah rumahnya. Sekali-kali mengerjai Yuki, membalaskan dendam adiknya, pikir Hajime tertawa pelan.
"Senpai ..?." Lirih Yuki masih menahan lengan Hajime, pemuda itu terlihat tidak terpengaruh alhasil Yuki mendaratkan cubitannya pada lengan kekar Hajime dengan susah payah. Otot yang kencang membuatnya sulit dicubit.
"Agh." Lirih Hajime melirik Yuki yang sudah cemberut.
Cekrek!.
Suara horor itu membuat Yuki menoleh ke asal suara.
"Y Yuuki san?." Panggil Yuki lirih.
"Ahahaha, kalian terlihat serasi." Ucap ibu Hajime menatap layar kameranya.
"Sudah aku katakan jangan terlalu dekat bu nanti ketahuan." Yuki melirik Keiji yang muncul dari belakang ibunya.
"Maaf Keiji, ibu sangat bersemangat."
"Ano .., Yuuki san, bisa foto kami juga?." Masamune tiba-tiba sudah berdiri di samping Yuki.
"Eh?!." Gadis itu tiba-tiba di kelilingi oleh kedua bayangan, Masamune, Keiji, dan Hajime. Bibi Yuuki dengan cekatan memotret mereka.
"Hajime!, buat Hachibara chan menikmati festival kembang api pertamanya." Seru bibi Yuuki melambaikan tangan dengan semangat.
"Maaf ya, lain kali kita pergi bersama." Ujar Yuki mencubit gemas Keiji.
"Jangan jauh-jauh dari aniki (kakak), nanti tersesat." Balas Keiji berlalu pergi.
"Dia marah?." Yuki melirik Hajime.
"Tidak, ayo berangkat." Jawab Hajime.
Mereka mulai berjalan beriringan. Yuki yang sibuk dengan ponselnya dan Hajime yang melirik tidak suka kepada laki-laki lain yang menatap Yuki terlalu lama.
"Moshi-moshi." Hajime melirik Yuki.
"Apa semua baik-baik saja?."
"Ya, Hazuki sudah jauh lebih baik setelah kedua baj*ngan itu di tahan."
"Bagaimana dengan ibunya?." Terdengar suara helaan nafas panjang.
"Ibunya meminta Hazuki untuk kembali bersekolah di sini tapi dia menolaknya. Mereka sempat bertengkar. Tapi budak cinta itu sudah mengurusnya."
"Terima kasih."
"Tidak, kamilah yang sangat berterima kasih kepadamu yang sudah mengurus semuanya."
"Kamu bilang apa sama Yu chan!?, Seiya??." Terdengar suara Natsume di sebrang sana.
"Maklampir sudah datang, aku tutup dulu Hachibara san."
"Ung."
"Yu!." Tuuutt!.
Yuki menatap layar ponsel menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Natsume tidak sempat memanggilnya karena Seiya lebih dulu memutuskan sambungan.
"Siapa?."
"Hm?. Teman." Jawab Yuki memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil.
"Perempuan?." Yuki menaikan satu alis menoleh ke atas.
"Perempuan?." Ulang Hajime. Yuki terdiam menatap laki-laki itu.
"Sejak tadi gadis-gadis manis itu terus melirik senpai, apa seharusnya aku memberikan waktu kepada mereka?." Balas Yuki mengejutkan Hajime.
Bukankah Yuki sangat fokus dengan ponselnya sejak tadi, bagaimana dia bisa?, batin Hajime.
"Aah ... Baiklah, aku akan memberikan waktu kepada mereka." Celetuk Yuki berjalan mendahului Hajime yang masih terdiam.
Grep.
"Apa yang bisa diharapkan dari maniak baseball sepertiku." Balas Hajime menahan tangan Yuki, menggenggamnya, menarik lembut ke tujuan mereka yang sudah tidak jauh lagi. Yuki tersenyum sangat tipis.
Kena kamu, balas dendam buat yang tadi, batin Yuki tertawa dalam hati.