
"Aku, Tajima Kenta 3-1 ketua osis." Ucap laki-laki teladan.
"Aku, Yamashita Ko 3-1 kapten basket." Ucap laki-laki rambut nyentrik.
Yuki diam menunggu.
"Jadilah kekasihku!." Seru mereka bersama-sama lalu membungkukan badan serentak.
Yuki mengedipkan kedua matanya, dua kali. Aneh, batin Yuki.
"Senpai, aku sangat berterima kasih senpai mau menyukai gadis sepertiku tapi ... Maaf, aku tidak bisa menerima kalian." Tolak Yuki untuk yang ketiga kalinya dihari yang sama.
Kedua laki-laki itu menegakkan badannya perlahan. Yuki bisa melihat kemarahan dan kecewa dari raut wajah mereka meskipun kedua orang itu berusaha menyembunyikannya.
"Kamu tidak bisa seperti ini Hachibara san." Ucap laki-laki rambut nyentrik menatap Yuki.
"Ko sudah, kita ditolak, ayo pergi." Ucap ketua osis Tajima.
"Kenta, kalau salah satu dari kita ditolak itu tidak masalah buatku tapi, dia menolak kita berdua." Geram Yamashita mendekati Yuki.
"Ko apa yang ingin kamu lakukan?." Seru Tajima yang tidak didengarkan oleh sahabatnya.
Brak.
Yamashita Ko mencengkeram pagar pembatas dibelakang Yuki menimbulkan suara yang cukup keras, mengurung gadis bermata biru itu dihadapannya.
"Ko kembali." Seru Tajima kini dengan suara tegas.
"Kenta! kau diam saja disana." Jawab Yamashita tidak kalah serunya menatap tajam Yuki yang terlihat tetap tenang didalam kurungannya.
"Apa yang kurang dari kami heh." Kata Yamashita dengan suara rendahnya semakin mendekat kepada Yuki menghimpit gadis itu.
Tindakannya mengintimidasi gadis itu membuat Yamashita terkejut, laki-laki itu sangat yakin jika gadis yang ia pojokan sedari tadi tidak bergerak sedikit pun tetapi sejak kapan gadis itu menodongkan ujung pensil tepat diperutnya, membuat pergerakan Yamashita terhenti.
"Senpai, aku tidak suka ada yang terlalu dekat denganku bisakah kamu mundur?." Tanya Yuki suaranya berubah tenang namun mutlak membuat kaki Yamashita bergerak mundur dengan sendirinya.
"Ko?." Panggil Tajima.
"Senpai!." Panggil Yuki sedikit meninggikan suaranya membuat kedua laki-laki itu fokus kepadanya.
"Kalian orang yang baik, aku juga mengerti alasan Yamashita senpai melakukan ini kepadaku. Ia tidak terima hati sahabatnya terluka membuat Yamashita senpai marah." Ucap Yuki, Tajima tertegun menatap sahabatnya.
"Aku gadis yang jahat telah melukai banyak hati orang, aku tidak pantas menerima perasaan kalian." Lanjut Yuki.
"Apa lagi kalian memiliki seseorang yang menyukai kalian dengan tulus," Yuki melirik pintu diseberang sana.
Kedua laki-laki itu memiliki respon yang cepat, mereka memahami kode Yuki dan langsung menoleh kebelakang mendapati sebuah bayangan perempuan berdiri dibalik pintu.
"Aku tidak mungkin menerima salah satu dari kalian dan melukai hati orang yang tulus menyukai kalian." Yuki tersenyum diakhir kalimat yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Tajima yang paling dekat dengan pintu langsung berlari dan membuka pintu dengan cepat, mendapati seseorang berlari menuruni tangga.
"Ko! aku akan mengejarnya." Seru Tajima.
"O ouh (Y ya) ." Jawab Yamashita terbata-bata. Tajima segera mengejar bayangan orang itu.
"Maaf telah kasar kepadamu." Yamashita melirik Yuki.
"Hai', aku juga." Ucap Yuki seraya mengangkat pensil ditangannya dan memutar-mutar pensil, memainkannya seraya berjalan melewati Yamashita.
Yamashita menarik-narik rambutnya sendiri melirik Yuki yang hilang dari pandangannya.
"Kamu membuatku semakin ingin mengenalmu lebih jauh. Argh! Ko sadar. Kamu sudah ditolak." Seru laki-laki itu kepada dirinya sendiri.
Yuki kembali ke kelasnya dan langsung menghempaskan diri ke bangku meletakan kepalanya diatas meja. Aku butuh menyepi, apakah laki-laki disini bar-bar semua?, batin Yuki frustasi.
"Yu chan, tadi ada yang mencarimu." Kata Natsume sedikit mengurangi volume suaranya.
Yuki cemberut menoleh kesamping tanpa mengangkat kepalanya.
Natsume yang mendapat respon dari Yuki segera melanjutkan kalimatnya sebelum gadis itu mengabaikan dirinya, lagi.
"Ketua klub fotografi, katanya dia ingin mengajakmu masuk ke dalam klubnya." Yuki diam tidak merespon.
Ketua klub fotografi laki-laki atau perempuan ya?, tanya Yuki dalam hati.
"Kamu belum memutuskan mau masuk klub mana?." Tanya Natsume.
Kenapa sekolah seribet ini sih, kenapa mereka terus datang, tidak bisakah membiarkanku sendirian, batin Yuki kesal ia sulit mengontrol ekspresinya sekarang.
Yuki menggembungkan kedua pipinya menggeleng pelan, kebiasaan saat ia kesal dan merajuk kepada saudara kembarnya.
Natsume terpaku lalu tertawa kecil.
"Mau bergabung dengan klub ku?." Tawar Natsume, Yuki memutar bola matanya malas sebagai jawaban.
"Hahaha, kamu punya ekspresi lucu juga Yu chan." Ucap Natsume menarik perhatian beberapa anak.
Yuki langsung kembali menyembunyikan wajahnya diatas meja. Ia butuh menyelam bermeditasi didalam air menenangkan pikirannya yang bagaikan pecahan puzzle, itulah yang dibutuhkan Yuki saat ini.
Di pelajaran berikutnya Yuki berusaha fokus mencatat pelajaran dan mengenyampingkan isi kepalanya yang saling berkecambuk.
Akhirnya waktu istirahat siang. Guru yang mengajar juga sudah meninggalkan kelas. Yuki mengambil kotak bekalnya dari dalam tas hendak meninggalkan kelas namun Ueno tiba-tiba mendorong pundaknya dari belakang menuntun Yuki untuk duduk dibangku depan Natsume menghadap gadis itu sedangkan Ueno sendiri duduk disamping meja Natsume.
"Hachibara san, mari kita makan siang bersama." Ucap Ueno dengan senyum lembut diwajahnya.
"Dari pada kamu makan sendirian lebih baik makan bersama kami." Imbuh Natsume mengeluarkan kotak bekalnya.
Gerakan Natsume terhenti melihat wajah datar Yuki dengan satu alis yang terangkat. Natsume tahu dalam hitunga detik gadis itu pasti akan berdiri meninggalkan mereka karena itu, ia buru-buru melanjutkan kalimatnya.
"Yu chan! aku ingin mengembalikan ini kepadamu." Sergah cepat Natsume, membuat Yuki kembali duduk tenang.
Natsume mengeluarkan kotak bekal lainnya dari dalam laci meja, mengembalikan kotak bekal itu kepada Yuki seraya membuka tutup kotak bekal menunjukan isinya.
"Terima kasih untuk makanan yang kamu berikan waktu itu, aku membuatkan mochi strawberry sebagai tanda terima kasih." Jelas Natsume.
Hidung tajam Yuki tidak pernah salah menilai makanan hanya dengan mencium aromanya, Yuki terpaku dengan benda bulat berwarna merah muda yang diselimuti dengan tepung berwarna putih.
Natsume dan Ueno terkejut dengan ekspresi gadis yang sangat sulit diajak bicara itu, mereka tidak tahu jika Yuki bisa memasang ekspresi yang sangat menggemaskan.
Bola mata Yuki seketika berbinar cerah menatap mochi didalam kotak bekal itu, bibir menawan yang terlihat seksi miliknya terkunci rapat seakan tidak sabar ingin menyantap makanan dihadapannya berbanding terbalik dengan ekspresi yang biasa gadis itu tunjukan.
Natsume dan Ueno saling pandang sesaat lalu mereka berdua tersenyum kecil.
"Silahkan dicoba, semoga kamu suka." Ucap Natsume seraya mendorong kotak bekal ke arah Yuki.
Mata biru Yuki mengerjap dua kali, pandangannya tidak lepas dari mochi merah muda itu.
Imutnya ... Dia seperti boneka hidup, aku ingin mencubit pipinya karena gemas, batin Natsume.
Jantungku berdetak cepat melihat betapa menggemaskannya dia, Hachibara san sangat sempurna, batin Ueno.
"Arigatou, ittadakimasu (Terima kasih, selamat makan)." Ucap Yuki pelan, tangannya mengambil mochi dari dalam kotak bekal.
Waaah, baru dipegang saja terasa lembut dan tidak lengket, harum lagi, batin Yuki senang. Yuki membuka mulutnya memasukan mochi ke dalam mulut dan menggigit kecil mochi merah muda itu.
Yuki terkejut dengan rasa mochi yang manis dan sangat lembut didalam mulutnya, ditambah dengan isian buah strawberry utuh didalam mochi menambah rasa segar buah yang menyatu sempurna dengan adonan yang lain.
Mochi itu merubah mood Yuki seketika, gadis itu sudah jatuh cinta dengan makanan berwarna merah muda itu.
"Oishii? (Enak?)." Tanya Natsume.
"Ung." Gumam Yuki yang sibuk menyantap mochi.
"Hachibara san ada tepung disudut bibirmu." Kata Ueno memberitahu namun gadis itu hanya menaikan satu alisnya dan tetap menyantap mochi tanpa menghiraukan yang lain.
"Ahahahaa." Natsume dan Ueno tertawa melihat Yuki.
"Hachibara san sangat fokus dengan mochinya." Celetuk Ueno.
"Hm." Gumam Yuki.
"Kamu tidak bisa berpaling dari mochi itu ya Hachibara san?." Ledek Ueno.
"Hm." Gumam Yuki lagi.
"Ahahaha, imutnya." Ucap Natsume dan Ueno bersama-sama.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya Yu chan." Lirih Natsume.
"Ueno chan, aku membawa mochi banyak, silahkan dicoba." Natsume menyodorkan kotak bekal berukuran kecil miliknya yang berisi mochi merah muda kepada Ueno.
"Waah, terima kasih. Selamat makan." Ueno memasukan mochi itu kedalam mulutnya lalu kedua matanya terbuka lebar, terkejut.
"Natsume chan, oishii .., pantas saja Hachibara san menyukainya. Ini sangat enak." Komentar Ueno.
"Benarkah?." Natsume tersipu malu.
"Ung, enak sekali."
"Kenyang." Ucap Yuki membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.
"Hachibara san kamu makannya banyak juga." Celetuk Ueno.
"Ung, tergantung keadaan." Jawab gadis itu.
"Ada makanan yang kamu hindari?." Tanya Natsume.
"Tidak, aku memakan apa pun makanan yang aku inginkan." Yuki merapihkan kotak bekalnya.
"Bagaimana kamu mendapatkan tubuh seperti itu?." Tanya Ueno yang penasaran.
"Hm?." Yuki mengangkat satu alisnya.
"Natsume chan!." Seorang wanita cantik berlari kecil menghampiri Natsume.
"Ada apa senpai?." Tanya Natsume kepada gadis yang berdiri disamping kursinya.
"Nanti sepulang sekolah klub mengadakan meeting untuk rencana kita dihari rabu nanti. Apa kamu bisa ikut?." Senior cantik itu melirik kaki Natsume.
"Jangan khawatir, aku pasti datang." Srobot Natsume membuat seniornya tersenyum senang.
"Sampai jumpa nanti diruang klub Natsume chan." Ucap senior itu berlalu pergi.
"Cantik." Lirih Yuki yang terdengar oleh Natsume dan Ueno.
"Hah?." Seru dua orang itu membuat Yuki mengalihkan pandangannya dari pintu masuk kelas.
"Apa hanya aku yang melihat senpai tadi sangat cantik?." Tanya Yuki.
"Ah menurutku-juga begitu." Sahut Ueno kaku.
"Terdengar aneh kalau kamu yang mengatakannya." Tambah Natsume. Yuki mengedikan bahu tidak ingin memperpanjangnya.
"Natsume chan, apa yang kalian rencanakan dihari rabu nanti?." Tanya Ueno penasaran, Natsume tersenyum lebar menatap Ueno.
"Kami akan menggemparkan seisi sekolah." Jawab gadis itu bersemangat.
Jam pulang sekolah sudah beberapa menit yang lalu. Yuki berjalan meninggalkan kelas menuju tangga namun bola matanya menangkap sosok yang sedang kesulitan menaiki tangga, Yuki mengabaikannya dan menuruni tangga untuk pulang namun suara dentuman keras tertangkap oleh telinganya.
Yuki berhenti sebentar menarik nafas panjang lalu memutar badannya melangkah kembali menaiki tangga.
Natsume duduk ditengah-tengah anak tangga memijat-mijat kakinya sebentar, setelah dirasa cukup tangannya bergerak mencari pegangan untuknya berdiri namun sebuah tangan memegang pelan pergelangan kakinya menghentikan niat Natsume untuk berdiri.
"Yu chan?." Natsume terkejut melihat Yuki yang sudah duduk disalah satu anak tangga dibawahnya.
Yuki tidak menjawab Natsume tangannya bergerak menekan titik tertentu pada pergelangan kaki gadis ceria itu, sesekali ia juga memijatnya.
"Argh! sakit. Apa yang kamu lakukan?." Geram Natsume menahan rasa sakit dipergelangan kakinya.
"Diamkan sebentar." Kata Yuki menjauhkan tangannya dari kaki Nastume.
"Kamu melihatku jatuh?." Tanya Natsume. Yuki berdiri menyenderkan tubuhnya di tembok pembatas tangga.
"Tidak, aku mendengarnya. Suara yang cukup keras dari lantai atas." Jawab Yuki, Natsume tertawa kecil.
"Ne Yu chan." Natsume mendongak menatap Yuki yang berdiri didepannya sedang sibuk memainkan ponsel.
"Maaf atas sikapku yang kemarin-kemarin, aku sangat ingin menjadi temanmu sampai-sampai tidak menghiraukan kamu yang merasa terganggu karenaku." Kata Natsume tulus.
"Apa sakit dikakimu berpindah ke kepalamu?." Tanya Yuki yang merasa aneh dengan tingkah tiba-tiba gadis gila itu.
"Aku serius. Maaf." Natsume menundukan wajahnya.
"Aku terlalu memaksamu." Lanjut Natsume dengan suara lirih.
Yuki memasukan ponselnya ke dalam tas, ia menatap dinding didepannya.
"Aku pindahan dari luar negeri, banyak hal yang tidak aku ketahui disini, karena itu mohon bantuannya, Hazuki." Ucap Yuki.
Natsume sontak menatap Yuki terkejut, gadis itu terdiam sesaat memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. Setelah beberapa saat Natsume menarik kedua sudut bibirnya.
"Ung, serahkan kepadaku." Jawab Natsume dengan senyum cerianya.
"Ja mata ashita ( Sampai jumpa besok)." Kata Yuki membalas tatapan Natsume sebentar lalu pergi meninggalkan gadis itu.
"Aku tidak bermimpi? Yu chan memanggil nama belakangku?!." Gumam Natsume senang.
"Ya ampun! aku harus pergi sekarang."
Natsume berusaha berdiri dan pada saat itu, hal yang lebih mengejutkan baru ia sadari. Kakinya tidak sesakit tadi. Natsume mencoba menggerak-gerakan kakinya. Aneh, batin Natsume mencoba berjalan seperti biasa.
"Apa yang dilakukan Yu chan tadi?." Natsume menatap tangga menuju kebawah.
"Terima kasih, Yu chan." Natsume tersenyum.
***
Sinar rembulan menyusup masuk kedalam kamar gelap dan sunyi. Pemilik kamar mematikan seluruh jenis penerangan tidak membiarkan setitik cahaya pun masuk kedalam kamar itu.
Suara gesekan seprai karena tertarik membaur dengan deru nafas berat dan terputus-putus. Pemilik kamar bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya, tidak sedikit keringat yang ia keluarkan.
Pemilik kamar terbangun mengatur nafas tidak beraturannya. Kakinya turun dari ranjang melangkah tanpa suara menuju cahaya bulan yang mengintip masuk dari luar, tangannya menyibakan gorden lalu membuka jendela menatap bulan purnama diatas sana.
Tanpa rasa takut pemilik kamar duduk dijendela lantai dua mengangkat kakinya menekuk, menyenderkan punggungnya ke pinggir jendela. Angin malam memain-mainkan rambut sebawah bahu miliknya.
Tidak ada tujuan, sebenarnya apa yang sedang aku lakukan disini?, benarkah aku sudah tidak peduli, haruskah aku menentang ayah dan nenek, batin Yuki mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, meneliti pergelangan tangan yang tidak terdapat bekas apa pun.
Gadis itu tetap dalam posisinya sampai pagi tiba. Segaris cahaya muncul dikejauhan, perlahan cahaya merebut kegelapan malam yang tenang. Akatsuki ga kirei (Fajar yang indah), batin Yuki turun dari jendela, ia keluar dari kamarnya menuju kamar mandi.
Masih terbilang sangat pagi untuk membersihkan diri namun Yuki tidak menghiraukannya. Tangannya memutar kran mengisi bathub, sambil menunggu terisi penuh Yuki menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajah kusut, rambut kusut, batinnya. Yuki menggosok gigi dengan telaten, mencuci wajah, dan beralih menuju shower.
Hari ini Yuki menggunakan sabun favoritnya lebih banyak, ia juga memakai shampo dan conditioner lebih banyak dari pada hari-hari biasa. Yuki memasuki bathub menenggelamkan seluruh tubuhnya. Aroma wangi dari sabun dan shamponya menguar didalam air.
Yuki berusaha menata pikirannya lagi. Aku ingin masuk ke kolam renang, batinnya.
Ceklek.
Yuki keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah rapih. Hampir dua jam Yuki berendam di dalam bathub.
Yuki kembali menatap pantulan dirinya di cermin saat mengeringkan rambut dan sedikit menatanya. Rambutnya sekarang lebih cepat ditata membiarkannya tergerai begitu saja, Yuki tidak perlu menyanggul atau pun mengikat rambutnya seperti dulu. Yuki merasa sedikit berbeda dengan rambut pendeknya.
"Hmmm .., meskipun kamu jauh aku masih bisa mencium dengan jelas wangi sabunmu, Yuki." Seru Masamune dari arah dapur. Yuki yang sedang menjemur handuknya disamping rumah mendengar suara Masamune dengan jelas.
Yuki berjalan ke arah dapur.
"Ohayou." Sapa Masamune tersenyum lembut.
"Ohayou gozaimasu." Sapa balik Yuki. Gadis itu memilih duduk dimeja makan menunggu sarapannya.
"Masa san, hari ini aku berangkat lebih awal." Ucap Yuki, Masamune yang sedang sibuk dengan teflonnya melirik sekilas Yuki yang duduk dengan tenang.
"Kamu sudah ikut klub?." Tanya Masamune.
"Belum, aku hanya ingin berangkat lebih awal." Jawab Yuki.
***
Jam setengah delapan Yuki sudah sampai disekolahnya, ternyata tidak sedikit siswa yang sudah berada disekolah terutama siswa-siswa yang memiliki ekskul, mereka juga berlatih dipagi hari sebelum jam pelajaran dimulai.
Tok tok tok.
Yuki masuk setelah mendapat jawaban dari dalam.
"Ohayou gozaimasu." Sapa Yuki sopan.
"Ung, ohayou." Jawab Mizutani, Yuki mengeluarkan kotak bekal meletakannya diatas meja.
"Masa san menitipkan ini." Ucap Yuki beranjak pergi.
"Sudah mau pergi?." Yuki mengangguk.
"Hai', sebelum mereka kembali ke asrama." Jawab Yuki keluar dari ruangan Mizutani.
Yuki berjalan menuju perpus setelah menaruh tasnya di kelas. Rupanya Yuki adalah pengunjung pertama pagi itu. Yuki mengambil beberapa buku sekaligus, membawanya ke meja yang sudah tersedia.
Keheningan dipagi hari membuat Yuki lebih tenang untuk membaca, tanpa Yuki sadari seseorang sejak tadi memperhatikan dirinya dari balik meja petugas perpus.
Yuki dengan cepat menyelesaikan membaca buku-buku yang ia ambil, matanya melirik jam dinding di perpus. Lima menit lagi pelajaran akan dimulai.
Yuki segera mengembalikan buku-buku pada tempatnya lalu berjalan kembali ke kelas.
Dipertengahan jalan Yuki menangkap keributan dari lorong belakang ruang musik, ia ingin mengabaikannya namun hati kecilnya berkata lain. Akhirnya Yuki mendekati sumber suara, berdiri dititik buta agar mereka tidak bisa melihatnya.
"Oi ...! mata empat."