Futago

Futago
Angkatan 1/Angkatan 3.



Sepulangnya Yuki dari rumah sakit gadis itu langsung di bawa pergi oleh ke tiga temannya, alhasil Yuki kembali masuk ke dalam mobil dan pergi ke cafe bersama Natsume cs.


Yuki di brondong banyak pertanyaan, dengan kepiawaiannya Yuki mengemas jawabannya sedemikian rupa sampai membuat ketiga temannya percaya.


Setelah selesai dengan setumpuk pertanyaan dan jawaban, gadis-gadis itu mulai makan malam di cafe. Yuki melirik ponselnya melihat puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan. Hotaru mencarinya.


Setelah mendapatkan ponsel baru dari Lusi Yuki segera menghapus gpsnya agar tidak ada yang bisa melacak dirinya.


"Ceritakan tentang saudara kembarmu Hachibara san." Perhatian Yuki teralihkan dari layar ponsel.


"Hm, apa ya?." Yuki berpikir.


"Hotaru sudah bercerita padaku." Celetuk Natsume membuat yang lain menatapnya kaget.


"Bagaimana bisa?." Srobot Honda.


"Kamu mengancamnya Natsume chan?." Imbuh Ueno menatap curiga gadis cantik itu.


"Ung!." Jawab Natsume semangat.


"Aku mengancam akan mencakar wajahnya, lalu menampar lagi pipinya, kalau dia tidak menjawab pertanyaanku." Honda dan Ueno melebarkan mata mereka lalu menggelengkan kepala tidak habis pikir. Mereka memiliki teman yang sangat bar-bar.


Yuki malah membayangkan Natsume mengejar-ngejar Hotaru, kemana pun, di mana pun, melompat-lompat berusaha mencakar wajah Hotaru.


"Apa yang kamu dapatkan dari mengancam Hotaru?." Tanya Yuki. Ueno tiba-tiba histeris menatap Natsume.


"Natsume chan!, kenapa kamu memanggil nama saudara kembar Hachibara san dengan nama kecilnya?." Honda baru tersadar dan ikut memaksa Natsume menjawab.


"Dia yang memintanya, katanya karena aku memanggil nama kecil Yu chan jadi dia menyuruhku untuk memanggil nama kecilnya juga." Jelas Natsume.


"Jadi, apa yang kalian bicarakan?." Honda sangat penasaran.


"Kenapa Hotaru dan Yu chan tidak bersekolah di tokyo sejak awal jika Hotaru juga berada di jepang." Ulang Natsume mengingat pembicaraannya siang tadi.


"Lalu, apa jawabannya?." Tanya Ueno.


"Yu chan di tokyo sedangkan Hotaru sebelumnya ada di swiss untuk berobat. Kalian mempunyai penyakit yang berbeda, Hotaru bilang sekarang sudah tidak apa-apa, bagaimana denganmu, Yu chan?." Yuki menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah sembuh." Jawab Yuki. Mungkin, imbuhnya dalam hati.


"Syukurlah." Natsume menghela nafas lega.


"Apa kamu tidak bisa kembali saja ke tokyo Hachibara san?." Tanya Ueno.


"Sepertinya tidak. Nenek tidak akan mengizinkanku." Honda menyeruput minumannya, sedangkan Natsume cemberut.


"Dua minggu ya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi dua minggu ini?." Gumam Natsume berpikir.


"Kamu benar Natsume san, kita jangan mensia-siakan waktu kebersamaan kita." Sambung Honda.


"Bagaimana kalau ke pantai?." Ide Ueno.


"Ah, benar!. Ayo kita ke pantai hari minggu nanti." Srobot Natsume semangat.


"Kedengarannya akan menyenangkan." Tambah Honda.


"Tidak ikut, panas." Celetuk Yuki membuat ketiganya kecewa.


"Yu chan!." Protes Natsume.


Diskusi itu terus berlanjut dipenuhi dengan protes dan suara melengking milik Natsume yang kesal karena idenya selalu di tolak oleh Yuki. Sampai pada akhirnya mereka pulang tanpa menemukan titik kesepakatan.


Yuki berjalan menuju asrama perempuan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Sesosok tubuh tinggi berdiri bersandar pada dinding melipat kedua tangannya di depan dada. Hotaru melirik penampilan Yuki dari atas sampai bawah, maniknya berhenti pada pundak adiknya.


Yuki yang tidak ingin meladeni Hotaru mengangkat panggilan sang ayah.


"Hm?." Hotaru bisa menebak dari raut wajah Yuki, panggilan itu pastilah dari ayahnya.


"Tidak." Ujar Yuki berjalan melewati Hotaru.


"Mungkin, apa ayah mau pulang lagi?." Tanya Yuki, pasalnya semenjak Yuki kembali ke kediaman utama Daren sering pulang ke rumah.


"Itu rencanaku, ayah tidak perlu ikut campur." Gumam Yuki. Hotaru diam-diam berjalan mengikuti dari belakang.


"Ung. Boleh?, kalau begitu aku boleh sering izin pergi?." Yuki menghentikan langkahnya di depan pintu asrama.


"Teman-teman mengajakku pergi." Hotaru hendak menghampiri Yuki namun di cegah oleh anak-anak tim baseball.


"Tolong bilang ke Takkecchan aku bakal sering izin." Ucap Yuki melirik ke belakang, melihat Hotaru yang di giring menjauh.


"Ung, terima kasih." Yuki mematikan sambungan berlalu masuk ke dalam asrama.


***


Setiap hari memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendekati Yuki, memikirkan bagaimana bisa berbicara dengannya. Hari ini pun masih sama, Yuki menghindari Hotaru di saat Hotaru mulai mendekat ke arahnya.


Pelatih mengumpulkan para pemain dan manajer. Aoki, junior yang membuat masalah dengan adiknya sedang membacakan hasil latihan empat hari mereka. Menarik nafas panjang Hotaru mencoba mencari ide untuk berbicara lagi dengan Yuki, istirahat kali ini, harus. Yamazaki mengumumkan waktu istirahat mereka, dan berlalu pergi bersama para guru dan pelatih dari sekolah lain.


Manajer mulai memberikan botol minum dan handuk, Hotaru berniat menghampiri saudari kembarnya namun suara melengking yang selalu datang di waktu istirahat itu menghentikan niatnya.


"Yu chaaaann!." Gadis ceria penuh energi itu berjalan ke arah Yuki.


Jelas sekali wajah Yuki menunjukkan ke engganan tapi Yuki tidak menghindar seperti kebiasaannya kepada orang lain. Hotaru mengamati adik dan teman adiknya itu.


"Nanti malam aku dan grup band mengadakan pertemuan kamu mau ikut?, para alumni juga datang." Ajak gadis ceria yang memperkenalkan diri bernama Natsume dua hari yang lalu.


"Aku tidak ikut." Jawab Yuki tegas berlalu membereskan botol dan handuk yang tidak terpakai. Natsume terus membuntuti Yuki mengganggu adiknya memaksa dengan berbagai ide.


"Yu chan ayolaaah, ikut ya. Tidak menyenangkan kalau kamu tidak ikut." Rengek Natsume.


"Tidak." Tegas Yuki. Hotaru di tempatnya berdiri mengulas senyum tipis.


"Yu chaaann!." Natsume menghentakkan kakinya pada lantai gym.


Tingkah kedua gadis itu yang tidak pernah memikirkan tempat dan waktu selalu menjadi tontonan yang menarik bagi para pemain voli. Saudari kembarnya dengan Natsume seperti kucing dan panda. Natsume yang selalu lincah dan tidak mau diam sedangkan Yuki yang selalu mengabaikan dan menjawab sekenanya. Perbedaan antara Hotaru dan Natsume adalah Yuki yang tidak pernah menghindari gadis lincah itu seperti Yuki menghindarinya.


Fumio menepuk punggung Hotaru dari belakang.


"Baiklah ayo kita bertaruh." Ucap Natsume seraya berkacak pinggang menatap tegas manik adiknya.


Yuki dengan santai menoleh dan mengangkat satu alis yang membuat Natsume kembali heboh.


"Sudah berapa kali aku katakan jangan mengangkat alismu Yu chan ..!." Jerit frustasi Natsume.


Tuk.


"Argh." Natsume memegang kepalanya yang mendapat pukulan karate pelan oleh Yuki.


"Apa yang kamu inginkan?." Tanya Yuki.


"Ayo kita bertanding basket. Siapa yang paling cepat mendapatkan lima poin pertama dia yang menang. Dan kalau aku yang menang, nanti malam kamu harus ikut." Jelas Natsume.


Hening.


Hotaru mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat para pemain voli yang masih berada di gym terlihat tertarik dengan pertandingan itu.


Apakah adiknya tidak sadar sejak hari pertama banyak pemain voli sekolah lain yang tertarik kepadanya. Hotaru menarik nafas panjang lagi.


"Aku mengerti." Jawaban dari Yuki membuat Natsume melompat senang lalu menarik adiknya pergi meninggalkan gym.


"Mau mengikuti mereka?." Tanya Fumio.


"Hm. Aku punya ide." Jawab Hotaru berjalan keluar gym. Tanpa sadar beberapa pemain voli juga melakukan hal yang sama.


Sekolah yang sangat bagus, bahkan gym basket juga sangat luas. Hotaru pikir bakal sepi di gym basket karena sedang waktu istirahat, namun ia salah besar. Terlihat masih banyak para pemain yang duduk di tribun menikmati waktu istirahat mereka dan kumpulan siswi-siswi yang berteriak histeris berkasak-kusuk menggosipkan pemain-pemain basket.


Kedatangan kedua gadis itu menyita perhatian, menghentikan kasak-kusuk, bahkan ada pemain basket yang menjatuhkan botol minumnya menatap bergeming saudari kembar Hotaru.


"Yo Yoshihara kun!. Boleh pinjam lapangannya sebentar?." Natsume menghampiri salah satu pemain yang menjatuhkan botol.


"Ung." Jawabnya.


Dua gadis teman Yuki yang lain datang bergabung dengan Natsume. Gadis yang bernama Honda menghampiri pemain bernama Yoshihara itu, berdiri di sampingnya.


"Gosip itu benar?." Tanya Yoshihara.


"Ung. Hachibara san terlihat semakin tidak manusiawi dengan penampilannya yang sekarang bukan." Jawab Honda.


Yuki terlihat mengangkat satu alis menoleh menatap gadis bernama Ueno.


"Gosip tentang kamu yang sedang berada di sekolah ini, sudah menjadi siswi sekolah lain." Ueno menjelaskan maksud Yoshihara.


Yuki menurunkan alisnya beralih menatap Natsume yang berjalan ke tengah lapangan membawa bola basket.


"Yu chan, ayo." Seru Natsume.


Yuki menepuk sekilas pundak Ueno berjalan menghampiri Natsume. Honda yang tadinya berdiri di samping Yoshihara berpindah ke samping Ueno.


"Peraturannya adalah lima poin pertama." Ulang Natsume mengingatkan.


Yuki melirik rok yang di pakai temannya.


"Apa tidak apa-apa memakai itu?." Tanya Yuki menunjuk rok pendek Natsume.


"Ung. Aku memakai celana pendek di dalamnya." Jawab Natsume, Yuki mengangguk paham.


"Kamu sendiri tidak susah memakai jaket jersey sekolahmu?. Agh aku jadi kesal mengingat kamu yang sudah pindah." Gerutu Natsume.


"Ayo mulai." Ucap Yuki.


Mereka berdiri di tengah lapangan melakukan suit menentukan siapa yang memegang bola pertama.


Natsume dengan senyum cerahnya mendribble bola melewati Yuki dengan lincah, melakukan shoot dua poin. Natsume dengan senyum senangnya menoleh ke belakang, mendapati Yuki tidak bergerak sama sekali.


"Apa ini artinya kamu mengalah Yu chan?." Tanya Natsume kembali mendribble bola di depan Yuki. Saudari kembarnya tiba-tiba menunjukkan wajah jahil dengan senyum tipis di bibir.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu Hazuki?." Ucap Yuki lalu dengan gerakkan cepat dan halusnya merebut bola dari tangan Natsume, melangkah mundur satu kali dan melompat seraya melakukan shoot dari tengah lapangan.


Bugh. Bugh. Bugh.


Bola masuk ke dalam ring, tiga poin untuk Yuki. Natsume terkejut, penonton juga sama terkejutnya. Yuki mengambil bola berjalan ke tengah lapangan.


"Jangan melamun." Tegur Yuki.


"T tapi kamu di pelajaran basket tidak terlalu bagus Yu chan." Protes Natsume.


"Benarkah?. Akh, sepertinya benar." Jawab Yuki berpura-pura mengingat dan meletakan telunjuknya di bawah dagu dan tersenyum jail seraya mengangkat satu alisnya menggoda Natsume.


"Yu chaaan ..!!. Tidak adil!." Natsume kepanasan melihat fakta di depan matanya. Taruhan yang ia sarankan sendiri terancam gagal.


Yuki mulai mendribble bola di tempat. Natsume sangat serius ingin merebut bola, ia mencondongkan tubuhnya ke depan.


Sret.


Natsume menerobos ke kanan, Yuki melindungi bolanya memutar tubuh. Yuki melakukan gerakkan tipuan dan diam-diam melempar bola dalam posisi membelakangi ring dari tengah lapangan. Natsume yang tidak menyadari itu masih mengejar tangan Yuki.


"Eh?!." Jerit Natsume yang baru melihat tangan gadis itu kosong.


Bugh. Bugh. Bugh.


Suara bola jatuh dari sebrang lapangan. Natsume menjulurkan kepalanya ke balik pundak Yuki. Melebarkan matanya lalu beralih menatap gadis itu.


"Apa yang kamu lihat?." Ledek Yuki dengan senyum jahil.


"Enam dua, kamu kalah Hazuki." Lanjut Yuki yang belum mendapatkan respon.


"Yu chaaaaannn ...." Teriak Natsume wajahnya merah padam menahan emosi.


"Kamu menipu kami selama ini!." Tangan Natsume mencoba meraih Yuki, saudari kembarnya segera mengelak berlari ke balik punggung kedua temannya yang berdiri di pinggir lapangan, bersembunyi. Tubuhnya yang tinggi membuat Yuki menekuk lutut.


"Hazuki, terima saja kalau kamu kalah." Ujar Yuki. Natsume semakin kepanasan.


"Sini kamu. Berani-beraninya berbohong."


Natsume menerjang ke depan dan di cegah oleh Ueno. Yuki yang mendapatkan perlindungan berdiri tegap seraya menaikan satu alisnya mengejek Natsume.


"Natsume chan sudah, mungkin saat itu Hachibara san sedang tidak enak badan." Yuki menganggukkan kepalanya sambil tersenyum jail.


"Tidak mungkin di setiap pelajaran olah raga Yu chan tidak enak badan kan." Natsume masih tidak terima.


Wush.


Yuki yang melihat Natsume melewati Ueno segera menjauhkan diri dari Natsume sambil menenangkan gadis itu. Hingga tiba-tiba seseorang berdiri di antara keduanya. Natsume yang tidak siap pun menabrak punggung orang itu.


Dugh.


"Awh. Siapa sih?." Natsume mendongak kesal melihat warna rambut dark brown membuat kepalanya segera memunculkan satu nama. Raiden, Raiden Zenjirou. Anak baru dari keluarga konglomerat yang angkuhnya minta ampun.


Hotaru tidak suka melihat pemandangan itu. Pemain basket tiba-tiba berdiri di depan Yuki menatap dalam manik adiknya. Terlihat jelas pemain itu memiliki sifat buruk, angkuh, sombong, tidak kalah dinginnya dengan Yuki.


Keduanya saling menatap, perang dingin tiba-tiba terjadi.


"Yu chan ayo pergi." Natsume berjalan melewati pemain basket itu menarik tangan Yuki menjauh.


"Kenapa buru-buru?." Tanya Raiden, Yuki menghentikan langkahnya.


"Yu chan tidak perlu berurusan denganya. Ayo." Ucap Natsume kembali menarik tangan Yuki, gadis itu tetap bergeming di tempat.


"Siapa?." Tidak biasanya Yuki menanyakan orang lain, Natsume menarik nafas berat membalikan badan menghadap temannya.


"Raiden Zenjirou, kelas satu kapten tim basket." Sontak Yuki langsung menaikan satu alisnya.


Bukankah Yoshihara yang seharusnya menduduki posisi kapten menggantikan kapten terdahulu?, pikir Yuki.


"Kenapa bukan Yoshihara san?, dia wakil kapten tahun lalu." Natsume terlihat malas menjelaskan.


"Yoshihara kun tetap menjadi wakil kapten. Kamu tahu Yu chan, terkadang menjadi orang hebat dan kaya bisa mendapatkan apa pun." Yuki tidak setuju dengan ucapan Natsume.


"Apa kalian sudah selesai membicarakanku?. Boleh aku mengatakannya sekarang?." Tiba-tiba Raiden berdiri di samping mereka.


Yuki merasakan cengkeraman Natsume semakin erat pada tangannya. Yuki menepuk dua kali tangan Natsume menenangkan gadis itu lalu menarik lepas tangannya perlahan.


"Katakan." Ucap Yuki.


"Yu chan, tidak perlu. Urusi urusanmu jangan ganggu kami." Kata Natsume tajam yang di arahkan kepada Raiden.


"Urusanku dengan gadis bermata biru ini. Apa kamu bisa meninggalkan kami?." Balas Raiden tak kalah tajam.


Yuki tersenyum miring tanpa orang tahu kecuali oleh Hotaru dan Fumio.


"Katakan, atau aku pergi." Suara dingin Yuki mengalahkan kalimat tajam Raiden.


Laki-laki itu menoleh seraya tersenyum sinis kepada Yuki.


"Kucing galak harus di jinakan. Lawan aku one on one, sepuluh poin. Yang kalah harus mengikuti perintah yang menang." Yuki tertawa dalam hati.


Permainan klasik, batinnya.


"Aku tidak suka berkeringat di musim panas. Lima poin atau lupakan." Yuki mendongak sedikit untuk menatap Raiden. Tinggi laki-laki itu yang tidak terpaut jauh darinya membuat Yuki tidak perlu repot-repot menggerakkan lehernya.


"Deal." Ucap Raiden.


Mereka berjalan ke tengah lapangan. Yoshihara terlihat ragu-ragu menghentikan pertandingan itu. Yuki juga menyadari para pemain basket bergerak gelisah, sedangkan para siswi-siswi yang berkumpul di gym basket mulai meneriakan nama laki-laki itu.


Raiden dengan sombongnya memberikan bola kepada Yuki meminta gadis itu memulai lebih dulu. Yuki menarik kedua lengan jerseynya sampai ke siku.


"Hm?. Kamu baru mulai serius bermain." Ujar Raiden yang melihat Yuki menaikan lengan jerseynya.


Gadis itu mengabaikan dan mulai mendribble bola di tempat.


"Apa kamu tidak tahu siapa aku?." Yuki mengabaikan ocehan Raiden dan mulai berjalan menghampiri pemuda itu dengan bola di tangannya.


"Ucapanku adalah mutlak, keinginanku adalah mutlak. Tidak ada yang bisa menolaknya." Yuki tetap diam dan tiba-tiba mengoper bola ke Raiden.


Grep.


Raiden menatap Yuki terkejut. Gadis yang menyita perhatiannya dan yang membuatnya ingin menundukkan gadis itu di bawah kuasanya sedang berdiri tenang menatap lurus matanya.


"Tunjukan." Satu kalimat yang membuat Raiden merasa tertantang.


"As your wish (Sesuai keinginanmu)." Setelah mengatakan itu Raiden mendribble bola.


Raiden dengan sikap angkuhnya mendribble bola dengan santai, maniknya berubah dingin, menatap Yuki menunjukkan tingkat kedudukannya.


Raiden semakin dekat dengan Yuki dan tiba-tiba merubah kecepatan dribblenya melakukan ankle break (momen dimana pemain bertahan kehilangan keseimbangan atau kehilangan momentum untuk merebut bola. Biasanya pemain bertahan yang kehilangan keseimbangannya akan terjatuh dan memberikan jarak yang cukup luas untuk pemain menyerang melakukan berbagai gerakkan serangan).


Namun betapa terkejutnya Raiden kala mendapati Yuki berpura-pura kehilangan keseimbangan dan berpura-pura akan terjatuh ke belakang. Dengan cepat merebut bola dari tangannya. Raiden membalikan tubuh menatap punggung Yuki yang berlari pelan menuju area tree point, mencetak angka dengan sempurna.


Bugh. Bugh. Bugh.


Jerit tertahan keluar dari banyak penggemar Raiden. Banyak suara terkesiap berasal dari tribun pemain. Yuki kembali dengan bola di tangannya.


"Apa kamu ingin aku menunjukkan ankle break yang sebenarnya?." Lirih Yuki.


Di tribun pemain. Yoshihara dan rekan-rekannya terkejut melihat ankle break mematikan Raiden di patahkan dengan mudahnya oleh seorang perempuan?!.


Hotaru, Fumio, dan pemain voli yang lain menikmati tontonan mereka.


"Aku terlalu meremehkanmu." Ujar Raiden.


"Berhenti mengumbar kemutlakan di depanku, anak kecil." Balas Yuki langsung mendribble bola berlari ke arah Raiden.


Pemuda itu langsung bersiap menundukkan tubuhnya mengincar bola. Yuki semakin cepat mendribble bola merangsek ke depan.


Sruak. Set.


Bukh.


Yuki melakukan ankle break membuat Raiden terjatuh ke lantai lalu melakukan tembakan dari tengah lapangan. Semua orang terdiam.


"Yu chaaaannn ... Ini baru Yu chanku!." Natsume berlari menerjang Yuki.


Dengan refleks cepatnya Yuki menghindar membiarkan Natsume memeluk udara kosong.


"Gila." Lirih Yuki.


"Hahaha, jangan malu-malu begitu. Sini-sini." Yuki memutar bola matanya jengah. Natsume kembali tertawa senang, akhirnya ada yang memberikan tuan muda angkuh itu pelajaran.


"Jadi, apa yang kamu minta?." Natsume sudah tenang dan bertanya kepada Yuki. Manik birunya melirik Raiden yang sudah berdiri dengan wajah yang semakin dingin.


"Tinggalkan posisimu dan berikan kepada Yoshihara." Raiden melebarkan matanya lalu menatap tajam Yuki.


"Siapa kamu berani memerintahku." Yuki menatap malas Raiden.


"Semua orang mendengar kesepakatan kita. Apa kamu mau menjadi seorang pengecut yang tidak menepati janji, tuan muda Raiden?." Raiden mengepalkan tangannya menatap Yuki. Natsume dengan senyum lebar mengangguk-anggukkan kepalanya di samping Yuki.


"Aku tidak akan mengingkari janjiku." Geram Raiden.


"Bagus kalau begitu." Balas Yuki.


Raiden berjalan melewati Natsume dan Yuki kembali ke kumpulan anak-anak basket. Natsume melompat senang, gadis itu melupakan kekesalannya beberapa menit lalu.


"Ayo ke kantin." Natsume mengajak Yuki berjalan lebih dulu namun ia terkejut dengan kehadiran Hotaru yang tiba-tiba.


"Eh?." Hotaru tersenyum sekilas kepada Natsume membuat gadis itu membeku.


"Sekarang bertanding denganku. Kalau aku menang mari kita bicara, kalau aku kalah aku tidak akan mengganggumu selama dua hari ke depan." Ucap Hotaru. Yuki mengabaikannya dan berjalan melewati Natsume.


Grep!.


Yuki menoleh cepat menatap Natsume dingin. Gadis itu terkejut mendapatkan tatapan dingin dari manik biru yang tidak pernah sekali pun menatapnya seperti itu.


"Yu chan." Lirih Natsume lembut, menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan lari." Dua kata dari Natsume menohok Yuki.


Natsume yang merasakan tarikan pada genggamannya semakin mengeratkan tangannya, menahan Yuki.


"Yu chan menerimanya." Ucap Natsume beralih menatap Hotaru mengabaikan tatapan Yuki. Kembaran Yuki itu tersenyum hangat kepadanya.


"Dua lawan dua, kamu mau masuk ke timku?." Senyum Hotaru menular kepada Natsume, gadis itu menjawab dengan semangat.


"Kalau boleh, aku menawarkan satu teman." Ucap Hotaru menggeser tubuhnya, menunjukkan sosok Fumio.


Natsume yang baru melihat kedua sosok itu dari dekat tanpa sadar membuka mulutnya. Ia pikir sedang berada di negeri dongeng dan melihat sosok putra mahkota dengan pangeran yang selalu di gadang-gadang ketampanan dan kegagahannya.


"Apa boleh?." Tanya Hotaru menyadarkan Natsume.


"A aakh, boleh boleh." Jawab cepat Natsume. Kalimat yang keluar dari mulut Yuki membuat Natsume terpukul.


"Ingat pacar di rumah."


"Pfffttt." Honda dan Ueno menutup mulut mereka dengan tangan.


"Yu chan!." Jerit Natsume menahan malu.


"Pergilah ke lapangan dulu." Pinta Yuki.


"Tidak, nanti kamu kabur." Jawab cepat Natsume. Yuki memutar bola matanya.


"Tidak akan, pergilah dulu." Ucap Yuki meyakinkan.


"Benar?. Kamu tidak sedang membohongiku kan?." Yuki tersenyum kecil menganggukkan kepalanya, barulah Natsume percaya. Senyum Yuki kepadanya tidak pernah bohong.


Natsume beserta Honda dan Fumio berjalan ke tengah lapangan. Sedangkan Yuki menghampiri Honda dan Ueno.


"Hachibara san selalu mengalah kepada Natsume san ya." Ujar Honda, Yuki tersenyum seraya melepas jerseynya menyisakan kaos pendek berwarna putih.


"Tidak juga." Jawab Yuki.


"Sini biar aku bawa." Ueno langsung menyerobot jaket jersey Yuki.


"Tidak perlu, aku kemari untuk meminjam ikat rambut." Ucap Yuki.


Keduanya langsung paham. Gadis bermanik biru itu akan mengikat rambutnya jika sudah serius dengan apa yang akan di lakukan.


"Kamu tidak ingin kalah?." Tanya Ueno.


"Ung." Honda memberikan ikat rambutnya kepada Yuki.


"Terima kasih."


"Hmm." Honda menatap Yuki lekat-lekat. Ueno tetap mengambil jersey Yuki.


"Kami setuju dengan Natsume chan, jangan terus menghindar Hachibara san." Kata Ueno.


"Benar, kami mendukung yang terbaik untukmu." Imbuh Honda. Yuki tersenyum simpul.


"Terima kasih. Aku pergi dulu."


Yuki membalikan tubuh berjalan ke tengah lapangan seraya mengikat rambutnya.


"Waw!. Apa ini?, kamu baru mulai serius Yu chan?. Kamu berniat menang?, kamu tidak mau bicara dengan kembaranmu?." Srobot Natsume bertubi-tubi.


Yuki tidak menjawab melainkan berlutut dengan satu kaki mulai melipat celana trainingnya setinggi tiga senti ke atas. Lalu berganti ke kaki satunya melakukan hal yang sama.


"Yu chan, kamu benar-benar,"


Tuk!.


Yuki berdiri dan menyentil dahi Natsume menghentikan ocehan gadis itu.


"Peraturannya?." Tanya Yuki menatap Natsume.


"Eh?." Natsume melirik Hotaru.


"Sepuluh poin." Ucap Hotaru. Natsume beralih melirik Yuki mengulang perkataan Hotaru.


"Sepuluh poin." Yuki mengangguk paham, langsung memposisikan diri di lapangan sebelah kanan.


Fumio dan Hotaru langsung bergerak ke posisi masing-masing.


"Yoshihara kun!. Tolong jadi wasit kita sebentar." Seru Yuki. Pacar Honda itu berlari kecil menuju ke tengah lapangan.


"Tolong ya." Ucap Natsume memberikan bola kepada Yoshihara.


"Baik."


Hotaru berdiri berhadapan dengan Fumio, Natsume berada di samping Hotaru agak ke belakang begitu juga dengan Yuki di samping Fumio.


Yuki membuka kakinya, menekuk lutut bersiap. Yoshihara dan Natsume terkejut. Yuki merubah posisinya!, gadis itu tidak main-main. Menghadapi Raiden pemain paling ditakuti dalam dunia basket saja Yuki tidak menekuk lutut, kenapa sekarang?. Apa yang terjadi?.


Keheranan itu tidak hanya terasa oleh Natsume dan Yoshihara melainkan para siswa oukami yang mengenal Yuki.


"Bersiap." Yoshihara memberi aba-aba.


Dua detik kemudian Yoshihara melambungkan bola ke atas. Dalam sekejap saja Hotaru dan Fumio sudah melompat. Lompatan keduanya mengejutkan para pemain basket.


Jika Fumio tidak mendapatkan bola, sudah bisa di pastikan laki-laki itu memihak Hotaru dan menjadi musuhnya, pikir Yuki.


Sret!.


Bola terlempar ke arah Yuki, Fumio mendapatkan bolanya.


Grep.


Yuki menangkap bola itu. Sekarang ia bisa berpikir kalau ini pertandingan yang sehat dan jujur tanpa ada rencana terselubung di baliknya.


Satu detik kemudian semua penonton dibuat terkejut oleh kecepatan Yuki, apa lagi Raiden yang duduk di bangku pinggir lapangan.


Yuki menjejak kakinya meluncur melewati Natsume yang terdiam membeku menuju ring lawan.


Woooosshh ...


Zwoooosshh ...


Hotaru langsung menyusul Yuki setelah kakinya menyentuh tanah. Ia sudah menebak ini akan terjadi. Hotaru melompat menggagalkan tembakan Yuki.


Brak!.


Hotaru melirik wajah Yuki yang penuh ketenangan, ia tidak ingin kehilangan bola. Dengan cepat Hotaru berlari mengejar bola, melihat Fumio yang berdiri di depannya akan melakukan pertahanan, man to man defense.


Hotaru segera berkelit memanfaatkan kemampuan bela dirinya yang berada di atas Fumio untuk dapat lolos.


Zruk. Sret.


Hotaru merasakan kehadiran Yuki di belakangnya. Ia memutuskan untuk melakukan slam dunk (memasukan bola langsung ke dalam ring).


Dunk yang kuat hingga menggetarkan tiang ring. Orang-orang berpikir kenapa Hotaru tega tidak mau mengalah kepada perempuan?, dan ia tidak peduli. Ia tidak akan mengalah sekarang atau kesempatannya akan hilang.


Hotaru mulai menyerang lagi, Yuki tidak membiarkan kembarannya mencetak angka kedua. Yuki menghadang Hotaru bergerak menyesuaikan kecepatan kembarannya. Memanfaatkan tangan lincahnya untuk merebut bola. Yuki berhasil!, merebut bola dan berlari cepat, lalu melompat.


Hotaru tiba-tiba sudah melompat di depan Yuki, Yuki menarik tangan memindahkan posisi bola dan melakukan one hand shot.


Bugh. Bugh. Bugh.


Satu sama. Mereka segera memulai kembali pertandingannya.


Kecepatan yang tidak manusiawi, tidak ada yang terlihat mau mengalah, bahkan Natsume tidak berani bergerak hanya untuk berpindah. Gadis itu merasakan kesiur angin kencang saat kedua saudara kembar itu melewati dirinya, jarak waktu yang sangat sedikit dari sisi lapangan satu ke sisi lapangan yang lain, lalu dari sisi lapangan lain ke sisi lapangan satunya.


Fumio juga hanya diam membiarkan kedua saudara itu menyelesaikan masalah mereka.


Enam sama. Yuki melakukan lay up untuk menyamakan kedudukan. Wasit bingung, ia tiba-tiba mendapati bola masuk ke dalam ring. Sejak tadi yang Yoshihara lihat hanya saat bola jatuh tepat di bawah ring kedua kubu.


Yuki dan Hotaru mulai berkeringat. Di sanalah Natsume dapat melihat kemiripan kedua orang itu. Mereka memiliki tulang pipi yang sama dengan garis wajah yang sedikit berbeda, garis alis yang sama dengan ketebalan yang berbeda, bentuk hidung mancung yang sama dengan ukuran yang berbeda.


Ya ampuunn, mereka kembar sungguhan!, jerit Natsume dalam hati.


Woooosshh.


Woooosshh.


Natsume terdorong ke belakang merasakan kesiur angin yang menabraknya. Bugh. Bugh.


Bola menggelinding di bawah kaki Natsume, gadis itu membungkuk mengambilnya.


Sruak.


Wooosshh.


Natsume terkejut kala sedang menegakkan tubuh, bayangan Hotaru yang mengangkat tangan berkelebat melewatinya dan tiba-tiba Yuki berlari cepat ke arahnya. Natsume merasa takut dan bingung.


"Natsume san!." Panggilan Hotaru membuat tangan Natsume refleks mengoper bola kepada pemuda itu.


Hotaru melakukan jump shot. Memasukkan bola ke dalam ring. Natsume tersenyum, hanya sebentar, karena ia tidak sengaja melihat wajah Yuki yang bercucuran keringat di sampingnya.


Apa seperti ini jika Yu chan bermain serius?, mereka seperti monster, ini tidak benar, batin Natsume. Yuki melengos begitu saja tanpa melirik ke arah Natsume.


Permainan kembali berlanjut. Saudara kembar itu tanpa henti berlari ke kedua ring, menggagalkan tembakan, berlari lagi ke ring, menggagalkan tembakan lagi, Yuki melompat ke belakang tiang menghindari jangkauan tangan Hotaru yang hendak menggagalkan shootnya. Gadis itu melakukan tembakan dari belakang tiang ring mengorbankan punggungnya membentur lantai.


Bugh. Bugh. Bugh.


Yuki berdiri melihat bolanya telah masuk. Sekarang tujuh sama.


Tanpa ke empat orang yang berada di dalam lapangan sadari, banyak para pemain basket berdiri menelan salivanya masing-masing. Kemampuan dua orang itu jauh di atas bayangan mereka. Pantas saja jika Raiden yang di takuti banyak sekolah lain dipermalukan dengan sangat mudah.


Hotaru melakukan hook shot memimpin poin menjadi sembilan delapan, hanya butuh satu lagi agar dia bisa menang.


Yuki tidak membiarkannya begitu saja, adiknya bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Hotaru pun memanfaatkan postur tinggi dan besar tubuhnya untuk meraih bola. Yuki melompat mencoba menghalangi tembakan Hotaru, membuat Hotaru memindahkan tangannya ke belakang. Sepersekian detik itu Hotaru lakukan untuk mendorong bola, melakukan shoot dengan jarinya.


Tap.


Kaki mereka menyentuh lantai lapangan.


Bugh. Bugh. Bugh.


Sepuluh delapan. Mereka saling menatap sambil mengatur nafas pendek-pendek mereka.


Kondisi gym sangat hening. Penonton bahkan banyak yang tidak sadar apa yang telah terjadi, apakah permainan sudah selesai?, melihat keduanya diam di salah satu sisi lapangan. Siapa yang menang?.


Yoshihara meniup peluitnya terbata-bata, mengumumkan poin yang di dapat keduanya.


Yuki tidak sengaja melihat sepasang mata yang menarik perhatiannya ketika ia hendak berjalan menghampiri Natsume.


Tanpa pikir panjang Yuki berjalan mendekati sepasang mata itu.


"Eh?!. Yu chan?!." Natsume menyusul Yuki yang melengos tidak jadi menghampirinya.


Hotaru melihat adiknya yang mendekati salah satu pemain basket yang sedang duduk di tribun paling bawah bersama pemain lain.


Yuki mengedipkan matanya dua kali mencoba membaca pikiran siswa itu, ia membungkukkan badan agar dapat melihat jelas wajah dan manik si siswa.


Hal itu membuat pemain lain terkesiap di hadapkan dengan wajah sempurna Yuki, poni tipis basahnya, manik biru, dan keindahan lainnya di tambah keringat yang mengucur menambah kesan seksi, tanpa sadar mereka menahan nafas. Aroma wangi menyeruak ke dalam hidung mereka, dengan tubuh bersimbah keringat sebanyak itu gadis itu masih wangi, sabun apa yang ia gunakan sebenarnya?.


"Maaf mungkin ini mendadak, boleh tahu namamu?." Yuki membuka suaranya. Menghentikan waktu sesaat.


"Y Yu Yu chan?." Natsume menatap temannya yang terlihat tertarik dengan salah satu pemain basket.


"Sawamura Takuya, angkatan ke tiga." Yuki mengangguk paham. Kenapa ia tidak pernah melihatnya?, orang ini satu angkatan dengan dirinya. Benar, Yuki tidak pernah memperhatikan orang lain.


"Aku Hachibara Yuki, salam kenal." Ucap Yuki. Natsume menghela nafas pelan mengulurkan handuk kecil kepada Yuki.


"Aku sudah tahu." Jawab Takuya.


Yuki menganggukkan kembali kepalanya menerima handuk dari Natsume seraya menegakkan tubuh.


"Eh?, kelas berapa?. Kenapa aku tidak pernah melihatmu?." Tanya Natsume.


"Tiga-dua, aku sudah biasa tidak terlihat oleh orang lain." Jawabnya.


Hantu ya, batin Natsume.


Yuki mengamati wajah Takuya seraya mengelap keringat di leher.


"Hari minggu besok ada acara?." Tanya Yuki.


"EH?!!." Bukannya Takuya yang terkejut melainkan Natsume.


"Tidak." Jawab Takuya.


"Haaahh ..?." Natsume menatap wajah tanpa ekspresi teman satu angkatannya itu.


"Mau pergi ke cafe bersama?." Ajak Yuki. Natsume memelototkan matanya hingga hampir keluar.


"Yu chan!, kamu mengajaknya kencan?!." Jerit Natsume. Gadis bermanik biru itu malah memiringkan kepala seraya mengangkat satu alis.


"Kencan?, tidak. Aku hanya mengajaknya pergi ke cafe." Jawab Yuki polos.


"Itu sama saja!." Srobot Natsume.


"Apanya?." Pertanyaan Yuki membuat Natsume frustasi.


Pak!.


"Ya ampuuun ... Aku lupa kamu sangat polos dengan masalah seperti ini." Gerutu Natsume menepuk dahinya sendiri.


"Mengajak orang ke cafe berarti kencan?. Kita berempat selama ini ternyata sering berkencan." Yuki menyimpulkan.


Hotaru tertawa melihat wajah Yuki yang polos, Natsume merasakan rasa frustasi yang sama seperti dirinya saat menghadapi Yuki dalam masalah seperti ini. Hotaru tidak sengaja melirik Fumio yang menunjukkan wajah terkejut yang super bingung mendapati calon tunangannya ternyata masih polos. Hotaru di buat semakin tertawa oleh kedua pasangan itu.


Bahkan para pemain basket sangat terkejut dan hampir ada yang tidak bisa menahan tawanya.


"Yu chan!, itu berbeda." Yuki yang merasa di permalukan memutar bola matanya malas.


"Terserah apa katamu Hazuki." Yuki ngambek. Natsume dibuat gemas oleh raut wajah temannya itu.


"Dengar baik-baik. Jika laki-laki atau perempuan mengajak lawan jenis untuk pergi berdua, menghabiskan waktu bersama, itu namanya. Ken can." Natsume menekan kata terakhir.


Sontak Yuki berpikir cepat. Wajah seriusnya terlihat jelas. Manik biru itu bergulir menatap Takuya.


"Apa kamu sudah punya pacar?." Pertanyaan mengejutkan dari Yuki mencambuk setiap pasang telinga.


Apa ini, apa ini?. Takuya mati saja kau sana. Sialan!, umpat anak-anak basket.


Sret.


"Yu chan!. Kamu sudah gila?!." Natsume menarik lengan Yuki untuk menghadap ke arahnya.


Tak!.


Yuki menyentil dahi Natsume pelan. Tangannya yang lain mengelap keringat yang jatuh ke rahangnya.


"Kalau yang dikatakan kamu tadi benar akan jadi masalah kalau aku mengajak orang yang sudah memiliki pacar kan?. Selain itu kamu juga ikut, kalau tiga orang tidak jadi yang namanya kencan bukan?." Jawaban Yuki membuat Natsume stress. Bahkan kepalanya serasa mengeluarkan asap karena terlalu panas.


"Bagaimana?." Tanya Yuki, Natsume mengacak-acak rambutnya.


"Hazuki kamu sudah benar-benar gila?." Natsume menatap nyalang Yuki.


"Kamu yang sudah gila di sini Yu chan. Oh ya ampuuunn, Ueno san tolong aku." Lirih Natsume mencari temannya itu.


"Hachibara san." Oh syukurlah, Ueno sudah menghampiri mereka tanpa di minta.


"Ueno san. Aku mengajak Hazuki, apa kamu juga mau ikut?." Kalimat Yuki di potong oleh Natsume.


"Aku tidak mau." Yuki menatap Natsume datar.


"Hm?." Gadis itu mengangkat alisnya.


"Aku tidak mau jadi satpam kalian. Yu chan, kamu menyukainya?." Yuki sontak mengerutkan kening.


"Tidak. Apa harus suka dulu untuk mengajaknya bicara?." Jawab Yuki.


"Kamu tidak mengenalnya. Tiba-tiba kamu mengajaknya kencan, Yu chan kalau tidak suka lalu apa?." Yuki mengedipkan beberapa kali matanya mendapatkan serangan Natsume.


"Natsume chan, biarkan aku saja." Ueno menengahi.


"Tolong Ueno san." Ucap Natsume lelah.


"Jadi ..?." Ujar Yuki menunggu pencerahan.


"Hachibara san ingin bicara dengan Sawamura san?, lalu tidak ingin berkencan dengannya?." Yuki pusing.


"Jelaskan padaku dengan mudah." Pinta Yuki.


"Kalau Hachibara san hanya ingin bicara dan tidak ingin pergi ke tempat lain itu namanya bukan kencan. Hanya bertemu." Yuki mengangguk paham.


"Tidak, itu kencan!." Srobot Natsume.


"Natsume chan, memang kenapa kalau Hachibara san berkencan. Toh Hachibara san belum pernah berkencan sebelumnya, biarkan dia berkencan dengan orang lain." Sergah Ueno tegas membela Yuki.


"Aku sudah pernah berkencan sebelumnya." Celetuk Yuki, sontak membuat kedua temannya menatap gadis itu.


"Kapan?. Dimana?. Dengan siapa?." Yuki menutup matanya sejenak mendapat rentetan pertanyaan Natsume.


"Tidak penting. Maaf Takuya kun, kamu belum menjawab pertanyaanku." Natsume hampir pingsan di tempat.


Takuya?. Kun?!, jerit Natsume dan yang lain dalam hati.


Mati saja kau Takuya!. Mati!!!, umpat anak-anak tim basket.


Yuki dengan mudahnya langsung memanggil siswa yang baru di kenalnya dengan nama kecil siswa itu?!.


"Aku tidak punya pacar." Jawab Takuya santai.


Apa lagi siswa itu seperti tidak memiliki emosi sama sekali. Ini Hachibara Yuki loh yang mengajaknya pergi. Hachibara Yuki! yang selalu menolak semua siswa laki-laki di sekolah ini.


"Kalau begitu sampai jumpa di hari minggu."


"Ung." Jawab Takuya kalem. Yuki berpikir sebentar.


"Aku perlu tahu nomormu untuk menentukan waktunya. Bisa sebutkan nomormu?." Pinta Yuki.


Takuya dengan pelan menyebutkan nomornya, secepat kilat Yuki langsung menghafal deretan nomor itu.


"Terima kasih." Ucap Yuki mengulas senyum kecil dan berlalu pergi.


"Yu chan!. Siapa?!." Natsume menghadang Yuki.


"Hm ..?. Kamu penasaran, Hazuki?." Tingkah jail Yuki kembali. Gadis itu tersenyum menggoda seraya mengangkat satu alisnya menghindari Natsume.


"Cepat katakan. Siapa yang pernah berkencan denganmu?, bagaimana orangnya?." Srobot Natsume.


"Mmm ..?, bagaimana ya?, kapan ya?." Jawab Yuki mengedipkan satu matanya kepada Natsume lalu mengambil langkah seribu, kabur dari gadis itu sambil tertawa terbahak-bahak.


"YU CHAAAAN ...." Teriak frustasi Natsume.


"Hahahaha, Hazuki nanti bisa darah tinggi loh." Ledek Yuki. Wajah frustasi, kesal Natsume tidak pernah bosan membuat Yuki semakin ingin menggodanya.


Lucu, batin Yuki.


"Honda san!. Cegah Yu chan!." Teriak Natsume.


Honda segera menghalangi jalan Yuki. Sret, dengan mudahnya gadis itu memutar tubuh menghindar seraya mengambil jerseynya yang sudah berpindah ke tangan Honda.


Honda yang terkejut menoleh ke arah Yuki gadis itu sedang mengangkat satu alisnya seraya menjulurkan lidah sedikit, mengejek Natsume. Dan tertawa kabur.


"Aku mungkin terkena darah tinggi sekarang." Keluh Natsume.


"Tapi kita bisa mendengar suara tawanya lagi." Ucap Ueno menepuk pundak Natsume.


"Kamu benar, Yu chan tadi tertawa." Natsume menatap pintu gym.


"Itu berkat Natsume chan."


Ketiga teman Yuki saling melempar tatap secara bergantian dan tersenyum satu sama lain lalu tawa mereka pecah seraya pergi meninggalkan gym.


"Aku akan menangkapmu besok. Yu chaaaannn ..!." Seru Natsume semangat.


"Ide kita pasti berhasil." Lirih Ueno.